Angin terus berhembus di balik jendela dan menerpa tirai putih didepannya. Namun hal itu belum mampu membuat laki laki bernama Kai itu bergerak. Ia masih diam di dalam selimut hangat miliknya dengan mata merah lebam dan tatapan kosong. Bahkan cuaca cerah hari ini seperti mengejeknya karena menjadi seorang laki laki kejam dengan selera bajingan. Ahh mungkin itu terlalu berlebihan untuk laki laki menyedihkan seperti dirinya. Apa ia bajingan? Apa ia korban? Apa ia baik? Semua itu memutar di otaknya, ia bingung dengan keadaannya sendiri, apa dia benar benar semenyedihkan itu?
''Kai, sampai kapan kamu terus menangis. Kamu itu sudah besar, kapan kamu bisa belajar bersikap dewasa?''
''sejak kapan ibu mengerti tentang bersikap dewasa? Apa ibu sudah dewasa?!''
Pertanyaan itu mampu membuat ibunya terdiam. Wanita itu tak punya pembelaan untuk menjawab pertanyaan semacam ini dan Kai tau betul akan hal itu. Ia sengaja menyentuh garis bawah ibunya untuk membuat wanita itu bungkam. Lagipula apa yang telah diberi wanita itu untuknya? Kai tidak memiliki kewajiban untuk menjaga perasaannya.
Saat ini suasana hatinya begitu buruk, hingga mulutnya tak memiliki simpati untuk menjaga perasaan orang lain. Apapun akan ia lakukan untuk membuat suasana hatinya lebih tenang. Bahkan jika itu harus menyodok perasaan ibunya.
Ibunya mengakui bahwa Kai benar, dan ia tidak dapat membantah akan hal itu. Kai adalah hasil dari ketidakdewasaannya saat SMA hingga ia terpaksa mengandung Kai diusia belia. Bahkan setelah melahirkan, tak ada rasa bersalah dihatinya pada saat itu. Ia merasa masih muda dan berhak bahagia, ia pergi kemanapun dia suka tanpa memikirkan Kai yang kesepian tanpa sosok seorang ayah. Sekarang beginilah nasibnya, anak semata wayang miliknya harus memiliki hubungan terlarang dengan seorang laki laki dan tidak tertarik pada seorang perempuan.
''setidaknya, kamu makan,'' ucapnya lirih.
Bahkan suara lembut itu diabaikan oleh Kai. Ia tak punya waktu untuk mengurus perutnya yang mulai perih. Ia hanya ingin sendiri dan menangis sebanyak mungkin. Mengeluarkan semua keluh kesahnya dan berharap perasaan sedih itu akan berkurang setelahnya.
Suara pintu tertutup masuk ketelinganya. Wanita itu telah menyerah dan membiarkannya seorang diri. Kai langsung menangis lebih keras. Ia meraung dan berteriak untuk mengurangi beban dihatinya. Perlahan ia mengingat kembali kenangannya bersama Chanyeol selama mereka masih berhubungan dulu. Namun ia kembali menenggelamkan wajahnya pada selimut hangat miliknya, karena harus teringat juga pada kejadian itu.
flashback
Kai masih menatap wajah laki laki tampan itu, wajah itu yang selalu membuatnya merasa nyaman. Laki laki tampan itu tak lain adalah Chanyeol, seorang pengusaha muda yang diincar oleh banyak wanita. Tubuhnya tegak dan beberapa cm lebih tinggi darinya.
Dimata orang-orang mereka hanyalah rekan kerja yang kebetulan memiliki hubungan yang cukup dekat. Namun, berbeda dengan yang orang lain lihat. Dua pengusaha muda ini lebih dari sekedar rekan kerja, mereka saling mengisi kekosongan masing masing dengan hal yang mereka sebut dengan cinta.
Wajah tampan dan tegas serta senyuman manis dan ramah yang dimiliki Chanyeol adalah senjata utama yang membuat Kai sampai berpaling padanya tanpa menoleh sedikitpun pada wanita lain. Namun ada yang berbeda hari ini, Chanyeol terlihat gelisah. Bahkan kopi yang ia buatkan belum diminumnya sejak tadi.
''apa ada masalah?'' ucapnya khawatir, sambil mengeratkan selimut berantakan hasil perbuatan mereka semalam suntuk.
Chanyeol diam sejenak dan berbalik menatap Kai lebih intens dan dalam. Hal itu membuat Kai sedikit gugup namun ada ekspresi khawatir didalamnya. Namun hal itu tidak membuat Chanyeol menghentikan ucapannya.
''aku akan menikah minggu depan.''
Suara itu terdengar berat dan serak, namun hal itu tidak membuat hati Kai bergetar bahagia seperti sebelumnya.
''sudahlah, berhenti bercanda. Candaanmu sama sekali tidak lucu,'' dengan nada santai. Ia berusaha menutupi kegelisahan didalamnya.
''aku bersungguh-sungguh.'' Wajah tampan itu mengisyaratkan bahwa kali ini ia bersungguh sungguh.
Kata kata yang diucapkan Chanyeol penuh penekanan tanpa ada kalimat untuk berbasa basi, itu memang sifat khasnya. karena Kai tau betul seperti apa Chanyeol ketika berbohong. Dan kali ini, dia yakin kalau Chanyeol sedang mencoba untuk jujur padanya.
''bagaimana bisa?!''
''bisa.''
Chanyeol semakin mantap dengan setiap ucapan yang ia keluarkan. Suara itu terdengar jelas dan itu membuat perasaan Kai semakin tertekan.
''tapi kenapa?!!'' Kai sudah tak mampu mengotrol emosinya. Ia berbicara keras untuk meluapkan kekecewaanya.
''kenapa? kenapa katamu?!'' Chanyeol meluapkan emosi yang sama.
''ini gila. Kau tau artinya? kita gila karena melakukan hal bejat seperti ini. Kita laki laki Kai, kita laki laki!''
''bejat? bejat katamu? kamu menikmati hal bejat ini selama 2 tahun. Lalu baru sekarang kamu sadar kita bejat?!''
Chanyeol kembali menunduk. Ia tau betul yang diucapkan Kai itu benar. Bukan tanpa alasan tapi karena memang ia menikmati waktu bersama Kai selama ini. Tapi itu tak bisa menutupi kenyataan bahwa mereka berdua adalah laki-laki.
''aku akan menikah dengan wanita.'' ucapnya lirih.
Kalimat itu benar benar pukulan telak bagi Kai saat ini. Seandainya ada pilihan ia akan memilih untuk mencintai seorang wanita atau kalau bisa ia ingin terlahir sebagai seorang wanita. Ia ingin mendampingi Chanyeol bahkan jika itu berarti harus merubah kodratnya.
''kenapa?'' ucapnya pasrah. Hanya kalimat itu yang mampu Kai keluarkan. Suara itu sangat lirih dan terdengar menyakitkan.
''kalau aku tidak menikah, semua warisan yang aku miliki akan disumbangkan kepada yayasan dan mungkin aku akan kehilangan keluargaku. Aku telah dijodohkan dengan seorang gadis dari keluarga terpandang.''
''kalau memang itu yang kamu susahkan. Aku memiliki perusahaan yang jauh lebih besar dari perusahaan mu, keluargaku jauh lebih mapan dari keluargamu. Kalau masalah keluarga yang akan meninggalkanmu kita akan usahakan nanti. Semua pasti berjalan dengan baik,'' ucapnya lembut namun terdengar putus asa.
''dengarkan aku Kai!'' ucapnya lantang. "Aku selalu bermimpi mendapatkan keluarga yang bahagia dengan pendapatan yang cukup serta menggendong anak di pangkuanku, sambil melihat istriku memasak untukku. Dan itu bisa terwujud kalau aku bersama seorang wanita bukan laki laki!''
flashback off*
Kata kata itu masih setia menemaninya hingga saat ini. Kata-kata yang membuat Kai menangis dan meraung karena sakit hati. Apa salah jika ia menyukai laki laki? Kalau memang salah, apa Tuhan terlalu membencinya sehingga memberikan anugerah seperti ini? Ahh ia lupa ini bukan anugerah seperti yang mereka katakan, ini hanyalah sebuah kutukan.
Cinta yang diberikan Tuhan padanya adalah sebuah kutukan.
Kai menangis lebih keras, ia ingin menghabiskan semua energi yang tersisa dan melupakannya lebih cepat. Suara itu terdengar hingga keluar kamarnya. Hal itu membuat sang ibu menekan dada karena sakit hati.
Lisa merasa tertekan mendengar anaknya terus meraung dan menangis. Ia sadar bahwa ia ikut andil dalam kesedihan anaknya. Jika ia memperhatikan Kai sejak lama, mungkin anaknya tak akan menyimpang seperti ini.
Sambil melihat dirinya di cermin, terlihat keriput mulai muncul di wajah cantiknya. Namun ia tau betul itu bukan tanda dari seseorang yang akan menua, namun wajah keriput itu lebih tepat dikatakan sebagai tanda bahwa ia sudah terlalu lelah. Lelah memikirkan anak semata wayangnya, namun ia belum mau menyerah untuk keadaan ini. Dibalik telpon genggam miliknya ia menyimpan banyak rencana serta solusi untuk masalahnya ini, yang akan membuatnya lebih tenang dan menjadi penonton yang baik.
''hallo?'' dengan wajah antusias wanita itu pun segera menyingkirkan wajah kusutnya. ''Kirimkan semuanya lewat e-mail. Aku menginginkan informasi sedetail mungkin, tak perlu khawatir soal bayaran. Aku mampu membayarmu berapapun."
Yuri segera menutup telpon sambil membayangkan rencana yang telah ia susun rapi untuk menghancurkan Chanyeol.
