Light On My Darkness

Chapter 1

.

.

Author : Clou3elf

Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others

Pairing : KookV slight!YoonV

Genre : Drama, Hurt & Comfort

Rate : T-M (sesuai kebutuhan)

Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll

A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD

.

.

Hope U Like

.

.

Happy Reading

.

.

Busan, musim panas, 2014

.

.

"KAU KIRA AKU TAK TAU KELAKUANMU HAH?! APA SULITNYA MENGAKU?!" teriak seorang yeoja.

"APA?! KAU MAU AKU MENGAKU?! YA! AKU MEMANG BERNIAT MENIKAHINYA-"

Suara-suara teriakan itu terus bersahutan. Meninggalkan seorang remaja berusia 17 tahun yang meringkuk di sudut ruangan sembari memeluk lututnya. Wajahnya terlihat datar dengan sorot mata yang sulit diartikan. Telinganya rasanya kebal setiap hari disuguhi suara-suara seperti itu. Dia sudah biasa sungguh.

Dia melihat sang ayah yang menatap bengis ke arahnya dan sang ibu. Pria itu membawa senapan laras panjang yang entah didapat darimana karena seingatnya keluarganya tak pernah menyimpan senjata apapun. Namja itu semakin merapatkan tubuhnya di dinding begitu sang ayah mulai menarik pelatuknya dan menembak ibunya.

'Bunuh'

'Bunuh'

'Bunuh'

"Siapa yang harus kubunuh?" lirih Jungkook.

'Bunuh'

Suara itu datang lagi. Suara yang selalu datang bersamaan dengan bayangan-bayangan itu sejak seminggu yang lalu. Menghantui namja bernama Jeon Jungkook itu. Membuatnya nyaris melakukan sesuatu kepada orang-orang terdekatnya. Bahkan kepada dirinya sendiri.

Jungkook mencengkeram rambutnya kuat-kuat sampai rambut itu rontok beberapa di tangannya. Tangannya juga mencakari lengannya sendiri. Membuat luka baru. Tak terhitung berapa banyak luka yang terdapat dalam tubuhnya. Jungkook tak merasakan apapun, sungguh.

PRANG!

Jungkook langsung bangkit begitu mendengar suara barang pecah. Langkahnya terburu-buru. Bola mata hitamnya menatap tajam sekaligus datar pada kedua orang tuanya. Banyak pecahan vas bunga terhambur di lantai.

Dengan langkah pelan yang membahayakan, Jungkook berjalan melewati pecahan vas bunga itu. Berjalan bagaikan singa yang sedang mengintai mangsanya. Perlahan dan berbahaya. Tak diperdulikannya kakinya yang tergores bahkan beberapa ada yang menancap. Jungkook terus berjalan kemudian menunduk untuk mengambil pecahan paling besar.

Jungkook berjalan mendekati sang ayah yang masih menatapnya tajam. Sejak satu tahun yang lalu, Jeon Jungkook tak mengenal lagi anggota keluarganya. Ayahnya menjadi lebih sering berbuat kasar pada sang ibu. Ibunya yang jarang memperhatikannya. Kakaknya yang ketus padanya. Jungkook tak tau apa salahnya hingga keluarganya seperti itu.

Namja bungsu itu memandang sang ayah tajam. Tangannya menggenggam erat pecahan vas bunga itu hingga liquit kental berwarna merah mengalir deras. Telapak tangannya pasti hancur. Sekali lagi, Jungkook tak merasakan apapun.

Ibu Jungkook menatap putranya ngeri. "Ju-Jungkookie..apa yang-AH!"

CRASH!

Jungkook menusukkan bagian tertajam itu pada jantung sang ayah. Membuat ibunya menjerit histeris. Jungkook melakukannya secara bertubi-tubi dan dalam. Kemudian tusukannya berpindah ke kepala sang ayah.

Pria itu hanya bisa berteriak kencang. Ibunya tak bisa berbuat apa-apa melihat Jungkook yang terlanjur 'kambuh'.

Brak!

Ayah Jungkook mendorong putranya menjauh. Dengan langkah tertatih dia berjalan menuju pintu. Tapi sayang dia kurang cepat, Jungkook menjegalnya hingga tersungkur. Sekali lagi ibunya berteriak.

Ayahnya mati. Kehabisan darah. Ibunya benar-benar shock. Jungkook berbalik menatap ibunya. Pecahan vas bunga yang berlumuran darah itu dilempar menuju ibunya. Berhasil melukai kepala sang ibu. Jungkook hanya menyeringai.

"Ibu..kepalamu berdarah"

.

.

Daegu, at same time,

.

.

"Yoongi-sshi..waktunya makan siang" seorang perawat di sebuah rumah sakit jiwa di Daegu mencoba mendekati seorang namja yang hanya berdiam diri di atas ranjangnya.

Namja berkulit putih itu terduduk dengan wajah datar yang menyeramkan. Terdapat ikatan kuat di kedua tangannya yang tersambung dengan pinggiran tempat tidur. Mata sipitnya mengawasi perawat manis yang sudah 1 tahun ini merawatnya.

"Kau harus makan" dengan senyuman yang lebar, namja bername tag Kim Taehyung itu menyodorkan sesendok makanan pada namja yang dia panggil Yoongi itu.

Yoongi menerimanya dalam diam. Matanya tetap mengawasi Kim Taehyung yang sesekali menatapnya. Kaki kecil Yoongi terbuka kemudian menarik Taehyung untuk semakin dekat padanya. Taehyung sedikit terkejut karena ini adalah pertama kalinya Yoongi melakukan hal itu.

"Kim. Taehyung" panggil Yoongi.

Taehyung melebarkan matanya mendengar Yoongi memanggil namanya dengan suara yang rendah. Membuat bulu kuduknya seketika berdiri. Sungguh Taehyung takut dengan tatapan Yoongi yang seolah menelanjanginya itu. Taehyung punya firasat buruk tentang ini.

Tangan kurus Yoongi terangkat. Walaupun tangannya diikat, tapi tali pengikatnya masih cukup untuk membuat tangan Yoongi dapat menggapai wajah Taehyung yang kini menampilkan gurat cemas. Taehyung tak tau apa yang akan dilakukan namja yang dia ketahui berusia 3 tahun diatasnya itu.

Dengan cepat tangan Yoongi menarik pipi Taehyung sehingga namja itu condong ke arahnya. Bibirnya menggapai bibir Taehyung. Melumatnya kasar. Taehyung yang terkejut sontak berontak. Dan berhasil.

"Kau..aku akan segera kembali" ucap Taehyung gugup kemudian berlari keluar setelah meletakkan makanan Yoongi di samping pemuda itu.

Yoongi menyeringai, "Kau. Milikku Kim Taehyung"

.

.

Light On My Darkness

.

.

Daegu, 2015

.

.

"Taehyung-sshi" seseorang memanggil Taehyung yang sedang menyuapi Min Yoongi.

"Ne?"

"Bisa ikut aku sebentar?" ucap seorang pria tua dengan jas berwarna putih bersih. Dia adalah kepala rumah sakit jiwa ini.

Taehyung mengangguk, "Tapi bisakah aku menyelesaikan ini dulu? Tinggal 2 suapan lagi" ucapnya meminta ijin.

"Baiklah. Aku tunggu di ruanganku"

"Ne Dokter Kang"

Setelah kepala rumah sakit itu pergi, Taehyung kembali menatap Yoongi yang masih setia memandangnya. Taehyung sudah terbiasa dengan pandangan itu. Sudah setahun berlalu sejak Yoongi pertama kali melakukan hal itu. Tentu saja Taehyung terbiasa. Walau tingkat kewaspadaannya tetap tinggi.

"Ada apa Yoongi-sshi?" Tanya Taehyung bingung.

Yoongi hanya menggeleng kemudian terdiam. Menerima suapan terakhir dari Taehyung. Setelah makan, Taehyung membaringkan Yoongi dengan perlahan. Tangan Yoongi memegangi lengannya. Tatapannya mengunci hazel milik Taehyung.

"Bisa lepaskan aku Yoongi-shi? Aku harus segera menemui dokter Kang. Kau istirahatlah dulu"

Yoongi melepas tangannya dari lengan Taehyung. Taehyung tersenyum sekilas sebelum keluar dari ruangan Yoongi sambil membawa bekas makanan pemuda berkulit pucat itu.

.

room

.

Taehyung memasuki ruangan sang kepala setelah sebelumnya dia mengetuk pintu. Dengan sedikit gugup dia mendudukkan dirinya.

"Kulihat perkembangan mental Min Yoongi membaik. Dia sudah jarang mengamuk dan melukai seseorang lagi. Bahkan ikatan tangannya pun sudah berani dilepas" mulai dokter Kang.

"Ne, saya rasa Min Yoongi tidak terlalu bahaya lagi seperti beberapa waktu lalu. Tapi kita tetap tak bisa melepasnya tanpa pengawasan" ujar Taehyung.

"Kim Taehyung-sshi, apa kau tak keberatan jika dipindah tugaskan ke Busan?" kepala rumah sakit itu menatap Taehyung serius.

Taehyung mengerjap pelan, "Hah?"

"Di Busan ada seorang remaja pengidap Skizofrenia. Dia sering kumat dan mengamuk dalam ruangannya. Perlu sekitar 2-3 perawat untuk menenangkannya. Itu pun mereka pasti akan keluar dengan membawa luka-luka. Mereka membutuhkan perawat tambahan" jelas dokter Kang.

"Skizofrenia? Bukankah penyakit itu cukup serius?"

"Kau tau sendiri bagaimana bahayanya penyakit itu jika tak ditangani dengan baik"

Taehyung terdiam. Pindah tugas ke Busan? Itu artinya dia akan meninggalkan pekerjaannya disini. Kembali beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit jiwa yang baru. Belajar mempelajari karakter pasien di Busan. Dan berusaha 'merebut kepercayaan' pasiennya nanti.

"Haruskah saya uisanim? Bukankah ada banyak perawat yang kompeten?" Taehyung bertanya ragu.

"Memang banyak yang kompeten. Tapi mereka meminta tolong padaku dan aku mempercayaimu. Bukankah kau pernah bilang jika orang-orang yang ada dalam sebuah rumah sakit jiwa itu membutuhkan perhatian yang tulus?"

Taehyung mengusap tengkuknya canggung. Tak menyangka kepala rumah sakit ini mengingat ucapannya beberapa tahun lalu.

"Lagipula kau sudah membuktikan padaku. Jika mereka, yang dirawat di rumah sakit jiwa ini, juga adalah seorang manusia. Manusia yang juga harus diperlakukan dengan baik. Seperti perlakuanmu pada Min Yoongi. Kelembutan dan ketekunanmu dalam merawatnya membuatnya sedikit demi sedikit menjadi tenang. Min Yoongi mempercayaimu" penjelasan Dokter Kang membuat Taehyung menunduk.

Mungkin dia masih bisa merawat Min Yoongi dengan penuh ketelatenan dan kelembutan. Tapi tak dipungkiri terkadang dia takut.

"Baiklah. Saya bersedia dipindah tugas ke Busan" ucap Taehyung mantap setelah terdiam cukup lama.

Dokter Kang tersenyum puas, "Terima kasih. Kau bersiaplah. Seminggu kemudian kau akan berangkat"

Taehyung tampak memikirkan sesuatu, "Tapi uisanim, bagaimana dengan Min Yoongi? Maksudku..siapa yang akan merawatnya?"

"Kita memiliki banyak perawat Taehyung-sshi. Kim Minjae juga bisa mengambil alih tugasmu. Selama Min Yoongi tenang seperti ini, itu takkan menyulitkan"

Taehyung mengangguk patuh. Cukup lega juga mendengar ucapan sang kepala rumah sakit itu. Setelah dirasa tak ada yang perlu dibicarakan, Taehyung pamit kembali ke ruangannya.

Kalau boleh jujur, sudah sejak lama Taehyung ingin pindah tugas. Tak perlu ke rumah sakit lain, cukup ganti pasien. Semakin lama dia semakin takut dengan Min Yoongi. Taehyung bukan orang bodoh yang tak tau jika Yoongi sering memperhatikannya. Tatapan Yoongi padanya seperti tatapan penuh obsesi.

Min Yoongi, psikopat ulung itu terobsesi padanya. Pada Kim Taehyung.

.

.

Dan hari itu akhirnya tiba. Taehyung dengan membawa koper besar beserta tas ranselnya menyempatkan diri mampir di rumah sakit jiwa tempatnya bekerja selama ini. Sekedar memberikan laporan kerjanya dan berpamitan pada teman-temannya.

"Kau benar-benar pindah hyung? Ah tidak seru"

"Hey! Kau kira kita berada di jaman batu? Teknologi sudah canggih, man. Kau bisa menghubungiku sesekali" ucap Taehyung.

"Baik-baik lah kau disana Taehyung-ah. Dan...bawa kabar baik untuk kami"

"Kabar baik? Apa maksudnya noona?"

"Bawa kekasih atau calon pendampingmu. Aku mendengar wanita-wanita Busan sangat cantik"

Taehyung tertawa mendengar gurauan rekan-rekannya yang sudah menemaninya selama 3 tahun disini. Setelahnya namja itu berpamitan kemudian berjalan menuju kantor dokter Kang. Dia melewati kamar Yoongi dan melihat namja itu masih tertidur.

Taehyung terdiam cukup lama disana. Dia ragu. Taehyung takut jika kepergiannya ini membuat Min Yoongi mengamuk. Taehyung punya firasat buruk akan hal ini.

Taehyung melanjutkan langkahnya menuju ruangan kepala rumah sakit. Mengetuk pintu sebelum membukanya perlahan.

"Dokter Kang.."

"Oh? Kemarilah Taehyung-sshi. Apa kau sudah siap?" tanya dokter Kang.

Taehyung mengangguk lalu tersenyum, "Ah! Ini laporan saya dokter Kang"

"Ah ye. Bekerjalah dengan baik disana. Aku benar-benar mengharapkanmu"

Taehyung tersenyum, "Saya akan berusaha sebaik mungkin dokter"

"Hati-hati di jalan"

Taehyung kembali mengangguk kemudian membungkukkan badannya. Dia siap pergi sekarang.

.

.

Busan

.

.

Jeon Jungkook hanya memandang luar jendela dengan tatapan datar. Dia baru saja membuat seorang perawat terluka saat akan memandikannya. Perawat itu adalah perawat yang kesekian kalinya terluka karena Jungkook.

Jungkook adalah pasien yang sulit. Dia datang setahun yang lalu setelah tetangganya menelpon rumah sakit jiwa Busan. Jungkook sudah membuat ayahnya meninggal dan ibunya sekarat. Tapi polisi masih menangguhkan kasusnya karena sang tersangka masih terganggu jiwanya. Walau begitu beberapa polisi masih berjaga-jaga di sekitar kamar Jungkook.

Jungkook sangat tidak menyukai orang lain memasuki teritorinya, dalam artian kamarnya. Dia sering berontak saat beberapa perawat memasuki kamarnya. Hingga akhirnya kepala rumah sakit memutuskan untuk mengikat tangan dan kakinya agar tak menyakiti perawat lagi.

Jungkook sering berhalusinasi. Dalam halusinasinya itu dia mendengar suara yang mengatakan jika orang-orang itu berniat jahat padanya. Suara itu juga menyuruhnya untuk melawan. Maka dari itu Jungkook sering sekali berontak dengan hebat.

Dokter yang menanganinya saja hampir menyerah. Dokter itu merasa kesulitan saat memeriksa Jungkook. Tentu saja namja itu berontak. Makanya perlu 2-3 perawat untuk membantu dokter itu menenangkan Jungkook.

"Kudengar ada perawat baru yang akan didatangkan dari Daegu"

"Benarkah? Berapa orang?"

"Hanya satu"

"Aku berharap dia ditugaskan untuk merawat pasien Skizofrenia itu"

"Benar. Aku sudah tak sanggup rasanya"

"Berdoa saja semoga seperti itu. Siang ini dia akan datang"

Jungkook hanya mendengarnya tanpa minat. Mungkin mereka mengira dia kelainan tapi sebenarnya tidak. Jungkook itu seperti orang normal jika tidak sedang kambuh.

Well, Jungkook diam-diam tak sabar melihat perawat baru itu.

.

.

Light On My Darkness

.

.

Sekitar pukul dua siang, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan halaman rumah sakit. Jungkook bisa melihatnya karena memang kamarnya menghadap langsung ke halaman rumah sakit.

Jungkook bisa melihat seorang pria berumur sekitar 40 tahunan turun dari mobil. Kemudian disusul oleh seorang namja manis yang cukup tinggi. Namja itu tersenyum sambil membungkukkan tubuhnya pada kepala rumah sakit jiwa disini.

Sayangnya Jungkook tak terlalu bisa melihat dengan jelas paras namja itu. Dia hanya memprediksikan saja bahwa namja itu manis.

Setelah mengeluarkan koper besarnya, namja itu segera berjalan memasuki rumah sakit jiwa. Barulah secara perlahan Jungkook bisa melihat bagaimana rupa namja itu. Perkiraan Jungkook tak meleset.

Namja itu memang manis. Cantik bahkan.

Dan rasanya Jeon Jungkook baru menyadari jika sedari tadi matanya tak pernah lepas memandangi namja manis itu.

.

.

Taehyung dengan perasaan gembira langsung memasuki rumah sakit jiwa di Busan. Dia selalu suka dengan suasana baru. Itu membuatnya merasakan banyak pengalaman baru juga. Walau mungkin sedikit susah diawal nanti.

"Kajja. Dokter Jung sudah menunggu di ruangannya" ucap seorang dokter muda.

"Ah! Ne" Taehyung mengikuti dokter itu.

Selama perjalanan menuju ruangan sang kepala rumah sakit, Taehyung mengamati setiap orang yang terkurung di ruangan itu. Ruangan kepala rumah sakit memang harus melewati beberapa koridor kamar pasien.

Sesekali Taehyung berhenti untuk mengamati lebih detail atau sekedar menyapa. Ada beberapa yang parah. Dan ada beberapa juga yang tidak.

Hingga akhirnya pandangan Taehyung bertemu pandang dengan sepasang manik hitam pekat itu. Taehyung berhenti tepat di depan sel Jungkook. Dia merasa ada yang aneh.

"A~ chogi..apa namja itu juga bermasalah?" tanya Taehyung. Entah kenapa dia menanyakan hal itu.

"Yeah! Jangan tertipu. Kelihatannya saja dia baik-baik saja tapi sebenarnya dia menakutkan. Dia terkena Skizofrenia"

"Skizofrenia? Bukankah itu termasuk penyakit kejiwaan yang berbahaya?"

"Maka dari itu,.sudah banyak perawat yang terluka karenanya"

Taehyung masih memandangi Jungkook. Begitu pun Jungkook. Dia menatap Taehyung tajam. Tak ada kata atau sapaan.

"Boleh...eum-boleh saya mendekatinya?" lagi-lagi Taehyung tak tau apa yang dia lakukan. Dia penasaran.

"Hati-hati Taehyung-sshi"

Taehyung perlahan mendekati pintu kamar Jungkook. Hanya di depan pintu. Karena menurut dokter muda itu, Jungkook tak suka seseorang memasuki kamarnya.

"Hai.." suara Taehyung terdengar sangat gugup. Hell, siapa yang tak gugup saat dipandang setajam itu.

Mereka kembali terlibat eyecontact. Taehyung memberikan segaris senyum manis pada Jungkook. Dari apa yang dia pelajari selama di sekolah perawat, penderita Skizofrenia harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Itu yang dilakukan Taehyung sekarang.

Jungkook hanya memandangnya datar. Tangan kanannya menyentuh lengan kirinya dan mulai menarik-narik kulit pucat itu dengan keras. Menimbulkan bekas merah. Memperbanyak jumlah luka yang berada di tubuhnya.

Taehyung melebarkan matanya. Dengan segera Taehyung menggenggam tangan kanan Jungkook. Melarang namja itu semakin menyakiti dirinya sendiri dengan lembut. Namja manis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

"Kau tak boleh melakukan itu lagi tuan. Jangan menyakiti dirimu lagi" ucap Taehyung lembut.

Jungkook memandang Taehyung dengan tatapan yang sulit diartikan. Percayalah. Tatapan Jungkook yang ini entah mengapa membuat Taehyung gugup. Dia segera melepas genggamannya pada Jungkook.

"Kajja Taehyung-sshi" suara dokter muda itu mengejutkan Taehyung.

"Ah! Ne!" Taehyung langsung mengikuti dokter muda itu.

Begitu Taehyung dan dokter muda itu pergi, Jungkook menyeringai. Matanya yang sedari tadi menatap Taehyung.

"Taehyung" gumamnya. Jungkook menatap tangan kanannya yang baru saja digenggam Taehyung. Merasakan kehangatan dari getaran tangan yang memiliki jari lentik itu.

Begitu Taehyung menghilang dari pandangannya, Jungkook kembali menatap ke arah halaman rumah sakit. Segaris senyum tipis akhirnya muncul di wajah tampan Jungkook.

"Taehyung"

.

.

End/TBC?

Maafkan~

Saya tau ini pendek banget u,u

Anggap aja ini prolog atau pembuka atau apapun lah terserah. Saya ngga bisa mikir apa-apa xD

Maafkan saya klo misalnya ini mengecewakan dan tak sesuai harapan dan ekspetasi kalian. Saya takut mengecewakan kalian yang rasanya antusias sekali sama cerita satu. Mian~

Kotak saran dan kritik selalu terbuka lebar. Karena saya masih perlu belajar jadi saya berharap banget masukannya. Silahkan beri masukan, saran atau koreksi jika ada kekeliruan yang saya lakukan xD

Satu lagi! Kalian bisa ingatkan saya kalau ini belum diupdate satu bulan karena saya sebenernya pelupa xD

Makasih banyak buat yang udah review di semua ff saya. Makasih juga buat yang udah nunggu ini. Maaf mengecewakan u,u

Terakhir, berkenan memberi saya review?

Big love, clou3elf