Todoroki Mirai hampir berumur dua tahun. Di tahun-tahun ini Shouto akan sangat sibuk, belum lagi program baru pemerintah yang sering mengirim beberapa hero muda ke berbagai negara sebagai bentuk kerja sama di berbagai bidang, sebagai pro muda dengan penilaian publik yang bagus ditambah peringkat yang cepat dan kini menduduki nomor 12, Shouto termasuk sering dipilih menjalankan misi pemerintah. Kali ini dia memimpin satu regu yang terdiri 10 pro yang dikirim ke negara-negara dalam misi peningkatan daya kualitas seorang pahlawan.
Momo sendiri juga pro muda yang karirnya cukup baik, kemampuan diplomasi yang bagus dan muda berbaur di berbagai kalangan. Kini statusnya sekarang adalah istri dari Todoroki Shouto, masih punya satu anak perempuan berambut putih salju seperti neneknya Rei.
Rencananya perjalanan kali ini, Momo akan ikut. Meski tidak tergabung dalam regu, dia masih bisa membantu sekaligus berniat untuk liburan. Tujuan negaranya cukup banyak, Indonesia, Myanmar, India, Perancis dan terakhir Jerman dalam waktu enam bulan.
Shouto dan Momo sudah membuat rencana, mereka akan bersama-sama menuju Indonesia, sesuai jadwal mereka akan tinggal sebulan, lalu berpisah, Shouto dan regunya akan bertolak ke Myanmar sesuai rencana sedangkan Momo pergi ke Singapura dan menaiki kapal Van der Wijk menuju Abu Dhabi dan mereka akan bertemu di Perancis nantinya.
Momo tidak keberatan bila mengadakan perjalanan seorang diri. tetapi cara perpisahan Shouto yang menghindar darinya yang tidak disetujui olehnya.
Hubungan rumah tangga mereka sedang dalam masa panas. Momo tahu, Shouto memiliki masa lalu berat dari ayahnya akibat pemaksaan dini penggunaan Quirk hanya untuk menandingi All Might, Momo berusaha untuk menjadi istri sekaligus teman hidup dan yakin betul dia bisa mengurus Shouto. Awalnya lancar, waktu pacaran selama lima tahun dijalani cukup baik, bahkan baik dari keluarga Yaoyarozu dan Todoroki sendiri, semua diterima lapang dada. Duo pahlawan pro dengan tingkat penilaian publik yang baik, seperti pasangan dalam novel-novel roman.
Setelah pernikahan, Shoto tidak langsung menginginkan anak. Momo menyadari dan secara pelan-pelan memahaminya. Dia melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik, sampai ketika malam itu keduanya memutuskan untuk meneruskan garis darah. Awalnya berjalan lancar, kehamilan Momo baik, meski terlambat dibanding teman-teman perempuannya, Momo menjalani masa sembilan bulan dengan suka cita sampai anak berjenis kelamin perempuan itu lahir.
Semua masih tetap normal.
Namun ketika rambut putih mulai muncul, dan tanda-tanda genetika yang tampak Momo menyadari Shouto mulai berubah. Memang ada pepatah jika anak yang mengalami kekerasan di masa kecil cenderung melakukan hal serupa sebagai bentuk penyaluran. Momo tahu itu dan berusaha untuk menjaga hal itu tidak akan terjadi di rumah tangganya, Todoroki Mirai akan dibesarkan sebagai anak yang bahagia dan menjalani masa kecilnya dengan rasa cinta dari kedua orang tuannya. Shouto tidak menunjukkan tanda-tanda seperti ayahnya di masa lalu, tapi dia melakukan hal lain, kadang mereka sering bertengkar karena masalah sepele, dia jarang pulang, seakan seperti berusaha menghindari keluarganya.
Momo berusaha untuk memperbaiki, dia sudah melakukan segala cara. Tapi laki-laki ber-Quirk Api dan Es itu benar-benar keras kepala.
Setidaknya tidak ada media atau bahkan kerabat (pengecualian Rei) yang tahu jika rumah tangga mereka memburuk. Setidaknya baik Momo dan Shouto bisa menjaga wajah kepalsuan itu. tapi sampai kapan mereka bisa melakukan itu semua.
"Kita bicarakan ini lain kali saja."
Itu jawaban yang selalu Shouto keluarkan jika Momo berusaha untuk membicarakan masalah mereka baik-baik.
"Lalu bagaimana dengan Mirai? Mukin media begitu bodoh dan Cuma melihat drama keluarga kita. Tapi anak kita selalu ada di sekitar kita. Dia mungkin masih kecil, tapi balita pun masih bisa merasakan sekitarnya. Shoto aku tahu kamu berusaha menghindari kami berdua, tapi kali ini aku tak bisa membiarkan ini begini terus. Aku dan Mirai akan ikut ke India."
Karena badai, pesawat mengalami delay dan penerbangan ke Nyanmar terpaksa di tunda dan kini keduanya berada di hotel dekat bandara Chang i sambil menunggu badai mereda. Awal malam itu baik, mereka makan malam bersama rekan-rekan sebelum kembali ke kamar, Momo dan Shouto sempat bertukar canda, tapi dengan cepat suhu memanas. Momo bukan tipe yang bisa menunda jika masalah belum selesai benar.
"India bukan tempat yang bagus. Kamu tahu sendiri sedang ada penyebaran epidemik yang membahayakan. Mirai akan jatuh sakit kalau diajak ke sana," kata Shoto. "Kalian berdua tetap naik kapal, aku akan ke India bersama rombongan seperti seharusnya."
"Tapi sejak awal kamu sama sekali tidak ingin kami berdua ikut bukan?"
Shouto diam.
Dengan sedih Momo memandang ke luar. Seberapa usaha dia mencoba bersikap sabar. Rasanya hari itu hati Momo benar-benar sudah menyerah.
"Meski kita sudah menyiapkan ini dan itu, rupanya kamu masih tetap tidak mau mempercayaiku. Kalau itu yang kamu mau dan kamu memang ingin sendirian, aku dan Mirai akan pergi ke rumah ibuku di Kyoto sampai kamu puas. Lalu kalau kamu masih tetap tidak nyaman dengan semua ini, kita bisa mengakhiri semuanya dan kau boleh saja ambil hak asuh Mirai. Aku bosan dengan drama konyol ini, aku bukan wanita yang bisa diperlakukan semena-mena seperti itu Shouto. Aku juga ingin menjalani hidup secara normal. Kalau memang Mirai benar-benar membuatmu takut, kurasa Kak Fuyumi mengerti, dia bisa merawatnya, dia suka anak kecil dan Quirk Es-nya akan lebih berkembang di keluarga Todoroki dibanding bersamaku."
Sebentar dia tidak bersuara seolah tidak mengerti apa maksud ucapan Momo.
"Bagaimana?" akhirnya dia bertanya.
"Kalu kau sudah muak dengan rumah tangga kita, aku siap berpisah. Bahkan selama ini aku sudah berpikir-pikir sampai kapan semua ini bertahan."
"Kau tidak bersungguh-sungguh. Kau gila!" serunya. Matanya melotot ke Momo.
"Aku mangatakan, apa yang kupikir."
"Aku tidak percaya!" dia merendahkan suaranya. "Kau seorang ibu! Hanya darimulah Mirai mendapatkan cintanya. Kau tidak bisa membuangnya begitu saja."
"Aku tidak membuangnya, itu jalan yang terbaik. Dia punya masa depan cerah dan aku tahu dia akan jadi lebih baik bersama dengan keluarga Todoroki. Fuyumi tidak bodoh, dia tahu kalau kau dan aku sedang bersih tegang, dia menawarkan untuk merawat Mirai jika keadaannya memburuk. Aku akan tetap mengunjungi Mirai jika kau masih mengijinkannya, tapi jika tidak, aku percaya semuanya pada Fuyumi. Aku membutuhkan waktu sendiri setelah semua ini, dan aku merasa tidak akan bisa membesarkan Mirai dengan baik."
Shouto keheranan. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi semua hanya bisu. Shoto ingin marah, tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia terduduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tidak. Aku tidak percaya, kau tidak bisa sedingin ini Momo. Kenapa kau berubah seperti ini?" setengah berbisik, tapi masih kedengar telinga Momo.
"Kau juga berubah. Kau cuma takut dengan bayangan ayahmu dan tidak mau menceritakan pada siapapun. Kau kembali seperti masa di SMA, anak dingin yang tidak mau bergabung dengan siapapun. Aku sendiri tidak tahu bagaimana Aizawa-sensei bisa tahan mengajarimu. Kamu dan Bakugo sama buruknya dalam menerima orang lain, tapi setidaknya Bakugo membuka dirinya untuk Kirishima dan beberapa orang, dia masih mau mendengar. Pantas sekarang dia ada di peringkat 7 meski kau dan dia sama-sama lulus di tahun sama, pahlawan nomor 12."
Dan momo meninggalkan Shouto dengan segala pemikirannya. Kalau saja dia mau sedikit berubah, kalau saja dia tidak begitu keras kepala dan membiarkan hantu ayahnya lenyap. Kalau saja ada orang yang mampu merubah hati beku Shouto, mungkin Shoto yang sekarang tidak akan seburuk ini.
Cinta Momo semakin lama semakin meredup, dan mungkin hari ini nyalannya akan benar-benar mati.
()
Setelah malam itu, sampai keberangkatan Momo dan Mirai, sang ibu membisu.
Pagi itu begitu cerah, seakan badai kemarin tidak pernah ada. Jika semuanya baik-baik saja Momo mungkin bisa menikmatinnya dengan sempurna.
Kapal Van der Wijk yang ramai dibicarakan sudah merapat di pelabuhan, barang-barang Momo sudah aman di bagasi. Shouto mencium kening Momo mengucapkan selamat tinggal.
"Secepatnya kita akan bertemu di Perancis."
Momo ingin diam sebenarnya, tapi dia perlu menjawab tapi dengan maksud untuk menyakiti hatinya. "Lama-lama juga tidak masalah. Bersenang-senanglah dengan teman pro-mu itu."
"Mengapa kau jadi sejahat ini?" tanyanya.
Bibir Momo menipis dia ingin segera naik kapal pesiar.
"Malam kemarin kita terlalu lelah, setelah kita berpisah sejenak, kita bisa bicara baik-baik. Perancis akan jadi romantisme indah untuk memperbaikinya."
"Lama juga tidak masalah, justru mungkin itu yang paling baik untuk kita berdua." ulangnya kembali.
Dia tertegun seperti hendak mengatakan sesuatu. Tetapi Momo diam menghindarinya.
bersambung...
