A/N: Seneng banget, ternyata masih ada yang inget fic gila ini awawaw :') Semoga The NEWS dan segala kekoplakannya bisa menghibur kalian terus, yaaak! :"D Dan maafkeun sikap tak bertanggung-jawab saya karena benda ini baru bisa selesai setelah fenomena hujan meteor, gerhana bulan, bahkan sampe gerhana matahari di Kutub Utara sekali pun (cry).

DAN SAYA MASIH KAGET DONG KENAPA INDO BISA OFFICIAL SETELAH FIC CHAP 5 RILIS WOIIII. MANA BABANG INDO CAKEP WOILAH. KAPAL OLENG, KAPTEN~ AAARRGH Kan saya jadi jadi ga sempat ngebucin secara nasionalis di kolom fic huweeee. POKOKNYA SELAMAT DATANG DI GONJANG-GANJING DUNIA NATION YANG AWESOME, ABANG QQAQQ Serasa ingin menggelar syukuran tujuh hari tujuh malam (nanges) Dan kapan Indonesia masuk list karakter Hetalia di FFN woi

Btw, chapter kali ini setengah serius yaa, karena saya harus menjelaskan banyak puzzle yang masih menjadi teka-teki beberapa chapter kemaren, ehe. Mudahan setelah ini udah bisa full eksyen tembak-tembakan jder-jder, pokoknya atraksi 20 tahun ke atas, deh. Oh, dan eniwei, akan ada kehadiran Norway dan Sweden jugaaa, yay.

(Chapter ini adalah Part 1 dari Chapter 6 yang panjangnya nggak ngotak :"))

Disclaimer: Segala karakter dan personifikasi Indonesia adalah milik Himaruya Hidekazu dan saya sama sekali tidak mengambil keuntungan materiil atas kisah absurd dari kelima reporter ini. Ah, eniwei, sekarang saya udah nggak bisa nge-klaim Bang Indo lagi di fic saya lagi :"))) HE BELONGS TO OUR LORD HIMA NOW


Sinopsis: Ketika segala problematika pelik yang terjadi, kenyataannya hanyalah sebuah skenario kecil dari rangkaian strategi besar yang sedang menanti. The NEWS berusaha menyusun puzzle yang mengembara dan mencari keping terakhir. Airlangga perlahan mendapatkan ingatannya kembali. Berbekal kamera dan keberanian, mereka semua siap terjun langsung dalam perlawanan dan aksi.


The NEWS Crew

.

Gilbert Beilschmidt (leader)

Natalia Arlovskaya (reporter)

Antonio Fernandez Carriedo (camera-man)

Francis Bonnefoy (driver)

Airlangga Putra Brawijaya (script-writer)

.


Monaco Heliport, Fontvieille, Monaco

Airlangga perlahan-lahan mendapatkan kembali kesadarannya dengan disertai perasaan super nyeri di kepala.

Di kala itu, matanya masih sulit terbuka.

Ingatan-ingatan yang datang hanya sekadar silih-berganti, mencabut ingatannya sementara, lalu datang lagi. Rasanya masih banyak puzzle yang belum terlengkapi. Ia yakin masih banyak memori yang tertinggal di balik bilik ingatannya yang mati suri. Dan hanya butuh momen yang tepat untuk membangkitkannya kembali.

Masih berusaha berpikir dalam kegelapan, tiba-tiba telinganya terganggu oleh suara-suara bising lainnya.

"Mathias, a-aku tidak mau terlibat dengan masalah apapun yang sedang kau alami. B-bisakah kau membawaku pulang saja?"

"Elizaveta akan menembak kepalamu, Raivis. Kau mau mati?"

Terdengar seruan tinggi yang menyedihkan. "B-bagaimana mungkin? Aku, kan, tidak bersalah!"

"Ya, benar. Kau memang tidak bersalah, Raivis. Tapi, Elizaveta tetap akan menembak kepalamu. Kau sudah terlanjur ikut denganku."

Kini terdengar suara isak tangis.

"B-bagaimana mungkin? Kau yang melibatkanku kemari, Mathias. Berbuatlah sesuatu!"

Terdengar suara desis panjang, isyarat dari pria satunya untuk membujuk lawan bicaranya agar tenang.

"Kau akan baik-baik saja. Ingat? Keselamatanmu ada di tangan kami."

"Kau bahkan baru di Interpol selama 3 bulan! Dieva dēļ (Demi Tuhan), kok mereka berani menugaskanmu di sini? K-kau yakin ini bukan misi bunuh diri?"

"Oke, sekarang kau membuatku juga tidak tenang, Raivis. Jangan membuatku ikutan panik."

"L-lalu kita harus bagaimana, Mathias?"

Tangis si anak kecil terdengar semakin nyaring.

Airlangga membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya masih linglung dari reaksi turbulensi dahsyat yang gila. Gelora sensasi pening yang menggelegar parah. Rasa lapar yang membara. Dan perut mual akibat dibawa berkeliling Monte Carlo dengan kecepatan tinggi ke antah-berantah. Semuanya bersatu menjadi perasaan kesal sampai ke ubun-ubun kepala.

Mathias kini memandang Raivis dengan tatapan menyalahkan. "Lihat, kan? Sekarang kau membuatnya terbangun."

Raivis yang terlihat masih sedang menangis, menyikut bahu pria Denmark itu. "Kau yang mulai duluan!"

Disaksikannya dua pria yang tadi bertengkar di depan muka, satunya pria berbadan tegap dengan rambut jabrik yang entah mengapa membuatnya trauma, dan satu lagi pemuda seumurannya yang memandang sedih dengan sisa air mata di wajah.

Tampaknya mereka, lah, sumber segala keributan yang didengar Airlangga kala masih di alam bawah sadarnya.

"Demi apa, kalian ribut sekali ..." ujarnya lirih sambil memijat kepala dari sisa rasa pening yang ada. Airlangga kontan memandangi sekitarnya dengan teliti. Punggungnya tiba-tiba menegak saat ia tersadar. "Hei, di mana aku?"

"Helikopter." desis Mathias ketus.

Di sana ada Mathias Kohler, salah satu staf Interpol yang saat ini tengah bekerja di bagian investigasi Satgas Kepolisian Eropa dan ditugaskan untuk menjaga nyawa seorang buronan—tidak, lebih tepatnya korban—dan kini ditambah tanggung jawab lain untuk membawanya ke Arkansas dengan kondisi sehat walafiat, baik dari segi fisik maupun mental, dengan situasi di mana kini orang tersebut juga menjadi incaran dua kubu mafia besar.

Tapi, di sampingnya, juga ada Raivis Galente. Bellboy muda yang masih sangat belia dan tidak mau terlibat di dalam kondisi mafia apa pun, meski diketahui yang bersangkutan sudah bekerja di Hotel Du Paris—sekaligus sarang gembong mafia terbesar se-Eropa—selama beberapa tahun terakhir, dengan iming-iming jobdesk pekerjaan ringan, seperti patroli di lorong hotel atau menunjukkan tamu ke nomor kamar yang sudah jelas mudah ditemukan, dengan imbalan gaji hampir setara biaya uang semester kuliahnya.

Namun, untuk kali ini, Raivis sungguh menyesal sudah terlibat dalam semua ini.

Kedua-duanya jelas punya latar belakang berbeda, namun entah mengapa seperti terjebak di satu spektrum lingkungan yang sama.

Airlangga tiba-tiba mendelik, sesaat setelah lambat-laun mulai mengenali lingkungan di sekitarnya. "T-tunggu. Apa ini di Monaco Heliport?" tanyanya histeris dengan tubuh menggelosor jauh ke belakang. Jauh di dalam memorinya, ia merasa pernah pergi beberapa kali ke tempat ini dan melihat situasi yang sama persis. Tidak salah lagi. Tempat ini tidak lagi dan tidak bukan adalah bandara helikopter yang dimiliki Monaco untuk jalur penerbangannya.

"Ya. Tepat seperti yang kau lihat."

"Kenapa aku bisa berada di sini? Kalian berdua mau membawaku ke mana lagi?"

Raivis langsung segera menunjuk ke arah Mathias takut-takut saat Airlangga turut memarahainya. "Ta-tanyakan pada orang ini."

Pemuda Denmark itu lantas berusaha mengambil alih pembicaraan, sebelum semua ini menjadi semakin kacau.

"Pertama-tama, kau harus mempelajari beberapa hal di sini." Mathias menarik napas dalam-dalam dengan khidmat. "Oke. Pertama, aku bukan Ned. Kedua, aku akan menyelamatkanmu. Dan ketiga, jangan memberontak. Kau paham?"

Raivis menepuk jidat.

Suasana yang hening ditambah tatapan muak dari Airlangga pertanda bahwa jawaban Mathias tidak berujung baik.

Airlangga mengernyitkan dahi dalam-dalam.

Raivis yang masih belum pulih betul dari rasa cemasnya, tiba-tiba menjerit saat pemuda buron itu langsung bangkit berdiri dan menerjang Mathias di sebelah kursinya dengan seluruh tenaga yang ia memiliki.

"Kutanya sekali lagi, bilang apa kau barusan!?"

Mathias terdorong beberapa jengkal ke dalam jok kursi, sementara tubuh Airlangga yang menindih tubuhnya membuat Mathias tidak dapat bergerak dan terkunci.

Terlebih dengan banyaknya tangan dan kaki yang berusaha menerjang tubuhnya membuat Mathias sedikit kesulitan untuk menyingkirkan pemuda Indonesia yang memberontak liar di dalam helikopter yang sempit ini.

Dan masalah utamanya adalah, ia tidak boleh menyakiti orang ini.

"H-hei, tenanglah!" Mathias nyari kehilangan pasokan oksigen.

Tapi, mengapa justru di situasi seperti ini, nampaknya ia sendiri yang harus menjaga nyawanya?

"Dengar, siapa pun kau!" Airlangga menghardik. Mathias terseret jauh ke sandaran kursinya, sementara di satu sisi, lehernya tercekik oleh dua tangan yang berusaha mematahkan lehernya mentah-mentah.

Raivis memekik ketakutan.

Mathias memandangi wajah yang mengerikan di depan matanya.

"Aku sudah berkali-kali mengalami kejadian penculikan, brengsek. Di Monte Carlo, London, Brussels, dan sekarang di sini!" teriaknya tepat di depan wajah Mathias. "Dan jangan kira aku akan mengalah kali ini. Jangan kira aku akan diam saja dan membiarkan teman-temanku khawatir. Aku tidak membuat mereka menyusulku dan mempertaruhkan nyawa mereka kembali!"

"K-kau salah paham! Biar aku jelaskan d-dulu."

"Bawa aku pulang!" sentak Airlangga dan semakin menekan leher Mathias ke sandaran jok.

Mathias yang hampir kehabisan napas memberi kode pada Raivis untuk segera memberikan 'benda itu'.

Tiba-tiba Raivis tersadar. Ia terenyak ketika kembali teringat benda keramat yang sudah dibawanya sejak mereka meninggalkan Hotel du Paris. Pasti ada cara mengembalikan situasi yang runyam ini kembali seperti sedia kala.

Dengan terburu-buru dan tangan gemetar, ia merogoh kantung seragam hotelnya secepat kilat.

Meski di satu ia ingin melihat Mathias tetap dicekik dan mati saja, tapi di satu sisi ia juga tidak mau menjadi korban selanjutnya. Toh, tadi saja sudah merupakan pertunjukkan bagus baginya.

Di tengah emosi yang membludak dan kepanikan yang tak kunjung reda, tepukan pelan di pundaknya membuat Airlangga seketika menoleh cepat seperti hewan buas.

"APA?!"

"P-permisi." Raivis memberanikan diri. "A-apa ini milik Anda?"

Wajah Raivis yang polos dan ketakutan di sebelahnya, tanpa sadar membuat Airlangga sedikit mengendurkan tangan dari leher Mathias.

Pemuda Indonesia itu memandangi buku agenda hitam di tangan sang bellboy selama beberapa detik. Alisnya mengernyit.

Aneh. Sepertinya ia pernah melihatnya. Buku hitam lusuh dengan merk murahan di sampulnya. Kulit yang sedikit sobek dan sisa tumpahan kopi di pojok kanan bawah. Besi pinggirannya yang sudah berkarat. Dan terlebih, judul agenda yang ditulis dengan tulisan tangan latin seperti miliknya seperti yang sering diejek Rayan.

"Jurnal Perjalanan Keren The NEWS"

Meski dari judul sampulnya saja sudah norak, tetapi Airlangga merasa sepertinya ia memiliki keterikatan batin yang kuat dengan buku ini. Entah mengapa, ia merasa pernah memilikinya.

"Buku ini tertinggal di hari Ned menyekapmu di lantai bawah. Dan," Raivis menegak ludah. "I-ini tertinggal di dalam sana. J-jadi, sesuai kebijakan hotel, aku harus menjaga barang-barang tamu yang tertinggal ..."

Airlangga mulai lupa pada Mathias yang tercekik di tangannya dan menyambar buku tersebut langsung dari tangan Raivis. Matanya tertuju kuat pada agenda usang di tangannya dengan kondisi sampul yang sudah bergelombang. Sepertinya benda ini pernah ditumpuk bersama buku-buku tebal lainnya selama ia pergi.

"D-di sana banyak tercatat kejadian-kejadian yang kau alami selama di Hotel du Paris." Raivis menambahkan. "M-maaf, aku lancang membacanya tanpa seizinmu! H-hanya saja aku mau memastikan bahwa ini bukan semacam catatan terorisme atau sandi nuklir yang membahayakan Eropa." Remaja Latvia berambut cokelat itu tersenyum canggung.

Seperti terhipnotis, Airlangga membuka halaman agenda lusuh dari Raivis dan memandangi isinya lamat-lamat.

"Kenapa tidak kau berikan dari awal?" Mathias memberi kode marah dari balik punggung Airlangga.

Raivis angkat bahu. "M-mana aku tahu! Dia terlihat seperti akan memakanku!"

Di tengah situasi yang mulai berangsur tenang, brak!, suara pintu helikopter yang menggebrak tiba-tiba membuat ketiga orang di dalam situ berjengit kaget bersamaan.

Lukas Bondevik dan Berwald Oxenstierna hadir di kedua sisi pesawat.

Pemuda bermata sedingin salju dan berekspresi datar memandangi Mathias dengan tatapan dingin. Sekilas Raivis dan Airlangga mengira ia perempuan karena potongan rambutnya yang manis dan jepit rambut emas yang menawan di pinggirnya, namun tidak lagi saat ia berbicara kepada Mathias. "Kau yakin sanderanya tidak mau ditaruh di tengah, sialan?"

Mathias menoleh ke arah Airlangga yang sedang duduk di sebelahnya, lalu gantian menatap Lukas dengan bingung. "Dia sudah di tengah."

"Oh, maaf. Aku tidak bisa membedakannya. Dia terlihat lebih seram dari kalian."


Arr-Kansas © Raputopu

Chapter VI

.

Hetalia: Axis Powers © Himaruya Hidekaz


Little Rock, Arkansas

Perjalanan menuju Market Street

"Bisa, kah, kalian berhenti menatapku seperti itu?" Ned memandang risih dari kaca spionnya. Sang mantan mafia membenarkan spionnya agar berganti posisi menjadi sejajar dengan jalan raya di belakang mobil mereka. Tepatnya menunjukkan pemandangan Heracles dan Sadiq dari balik kaca belakang mobil yang sedang merokok ria di bak belakang, tenggelam dalam pemandangan beberapa buntalan raksasa jerami yang menyembunyikan tubuh mereka dari pandangan pengendara jalan lainnya.

Di saat yang sama, ia berusaha menyingkirkan tatapan Natalia, Francis dan Antonio yang memicingkan mata dari jok belakang, seperti bersiap melakukan serangan tiba-tiba dan mematikan.

Belum lagi kamera Antonio yang menyebalkan itu selalu menyala, mengarahkan lensa tepat ke arah wajah gelisahnya melalui pantulan kaca spion tengah. Rasanya seperti dihantui paparazi tingkat tinggi.

Dengan suara mendesis, kali ini giliran Gilbert yang duduk di sebelahnya membuka suara. "Coba luruskan lagi tentang apa yang sedang terjadi sekarang dan mengapa kami dilibatkan dalam semua ini."

Meski tak melihat wajahnya langsung, Ned yakin albino gila itu sedang memasang tampang serius sekarang.

Gilbert yang sesungguhnya masih dilanda hangover tipis-tipis dan migrain ringan setelah penyerangan mendadak di Bill-Hillary Clinton Airport, tidak sabar untuk menggali lebih jauh petunjuk yang masih menjadi misteri. Salahkan naluri jurnalistiknya yang sulit dikendalikan dan sudah mendarah daging di seluruh nadi tubuhnya. "Dan gunakan bahasa yang mudah dipahami, singkat, padat, dan jelas, serta bisa dimengerti—bahkan oleh manusia seperti Natalia sekali pun."

Natalia memainkan pisaunya di udara, menyahut dari jok belakang. "Aku belum makan siang dan aku bisa memakan siapa pun kalau mau." katanya cuek sambil membuang pandangan ke arah gurun tandus dan kering di sebelahnya.

Ned melirik arlojinya. "Sepertinya aku sudah menceritakan segala kronologinya. Bagian mana yang masih belum kalian pahami?"

"Segala hal!" jerit mereka bersemaan.

Ned mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah. Kita mulai dari awal." Ia menarik napas dalam-dalam. "Semua ini bermula dari kekacauan yang kalian buat beberapa tahun yang lalu—"

Gilbert segera memotong. "Ya, ya, cukup. Teman kami diculik, mantan reporter kami menjadi bos pengedar senjata ilegal, kami nyaris dipecat, kami menyaksikan Kirkland bunuh diri, melihat Kirkland dan Elizaveta berperang, Elizaveta dan Kirkland tertangkap, kau menemukan Airlangga, Mathias bertemu Natalia, Gupta berhasil bebas, kami pulang dengan selamat. Semuanya bahagia."

"Ya. Tapi, kau melupakan satu orang."

Gilbert mengernyitkan kening.

"Connor Kirkland." sahut Francis dari jok belakang. "Bukankah Ludwig sudah beberapa kali mengingatkanmu tentang Connor, Gil?"

Gilbert mendorong tubuhnya ke belakang dan berbicara kepada Francis. "Memang. Tapi aku tidak menyangka dia akan epic comeback seperti sekarang."

"Benar. Dan ada satu lagi masalah." Ned menambahkan. "Ternyata, masih ada satu anggota Kirkland lain yang masih hidup."

"Oh, Tuhan, tidak lagi." desis Antonio.

"Arthur Kirkland."

Nama itu langsung membuat Natalia berjengit dari tempat duduknya. "Hei! Bukankah dia sudah mati? Aku melihatnya meledak dengan mata kepalaku sendiri!"

Ned menggeleng. "Tidak, Nona. Itu hanya tipuan. Mereka sering menggunakan trik itu untuk mengelabui musuh. Mereka akan memasang bom palsu pada tubuh mereka, kemudian meletakkan bom yang asli di salah satu tempat terdekat atau—dalam hal ini—bisa juga orang, kemudian meledakkan mereka saat ia sudah terdesak dan tidak bisa kabur. Biasanya hal ini akan membuat lawan mereka yakin bahwa Kirkland cukup bodoh untuk melakukan bom bunuh diri. Tapi, itu salah besar. Malah itu justru membuat Kirkland selangkah lebih maju."

Antonio menambahkan. "Hei, ngomong-ngomong betul juga. Kita tidak melihat tubuhnya secara langsung saat ia meledak, kan?"

"Memang. Kalian, kan, langsung lari tunggang-langgang. Bahkan lebih cepat daripada aku." serobot Natalia.

"Ya, berlari panik sambil memohon ampun pada Tuhan." tambah Francis.

"Masalahnya, ketika Arthur meledak—atau dalam hal ini—kabur melalui ledakan, ia dilaporkan tidak pernah muncul lagi. Dan inilah yang dikhawatirkan oleh para kepolisian, karena pada akhirnya mereka memiliki dua kemungkinan. Pertama, dia bisa saja memang sudah mati atau kedua: menjadi orang di balik layar."

Selama Ned berbicara panjang lebar, Antonio berusaha mengatur letak kamera dan posisi fokusnya agar bisa mengambil sudut gambar yang jernih dari wajah Ned. Begitu pula Gilbert yang diam-diam mendekatkan mikrofonnya yang menyala ke sumber suara Ned yang berbicara tidak terlalu jelas. Benar-benar terlihat seperti profesional, meskipun tetap tak luput dari pandangan dari Ned juga.

"Lalu, seberapa berbahayanya orang ini? Maksudku, mengapa tiba-tiba Kirkland naik daun?" tanya Gilbert, berusaha memancing pertanyaan lebih jauh. "Bukannya mereka sudah ditangkap?"

Ned menarik napas dalam-dalam. Matanya masih tertuju pada jalanan lurus dan sepi, namun, pikirannya dijejali banyak masalah. "Setelah Kirkland dan Elizaveta tertangkap, gara-gara kalian—" Gilbert memberi ekspresi mana-ku-tahu. "Para kepolisian mencari sisa emas sitaan Kirkland. Kalian tahu mereka pernah dilaporkan menyimpan emas-emas milik Gupta Hasan, bukan?"

Keempat orang di sekitarnya mengangguk.

"Ya, anak dari saudagar emas Mesir itu." tambah Gilbert.

"Benar. Masalahnya adalah para kepolisian tidak pernah sungguh-sungguh menemukan seluruh emas-emas Gupta yang tersembunyi. Scott mengaku jika ia sudah menjual seluruh emas-emasnya untuk kebutuhan bisnis dan bersedia untuk mencicil ganti ruginya, namun, kepolisian tidak percaya. Sampai pada akhirnya, emas-emas itu ditemukan."

Mata Gilbert membulat takjub, disusul suara riuh semangat dari jok belakang.

"Awesome!" jerit Gilbert penuh semangat. "Hei, apakah itu kasus yang dikerjakan Feliciano sepanjang dua tahun lalu sampai-sampai Ludwig menghabiskan satu drum beer, karena galau tidak bisa merayakan anniversary mereka yang ke-lima?"

Ned sedikit mendelikkan mata dan merasa aneh dengan pertanyaan tersebut.

Tiba-tiba otak Antonio menangkap satu hal ganjil. "Eh? Lantas kenapa mereka ke mari?"

"Karena para kepolisian sudah memindahkan emas tersebut ke mari, dengan tujuan untuk memancing Kirkland. Medan Arkansas yang ekstrem dan tidak diketahui oleh mayoritas publik, membuat Arkansas menjadi lokasi strategis untuk memudahkan polisi dan menyulitkan Kirkland dalam beraksi. Namun, di luar dugaan, Connor dan Arthur tidak hanya keluar dari persembunyian, tapi juga berhasil membebaskan Scott dan Dylan. Alhasil, keempatnya kembali menjadi buronan."

Keempat orang itu mengangguk-angguk, mulai paham dengan semua ini.

Gilbert memicingkan mata curiga setelah menatap lama Ned dengan tatapan menyelidik dan mengintai gerak-geriknya. "Tapi, emas-emasnya tidak berada di sini, bukan? Maksudku, segila apa kepolisian mau menyebarkan berita beresiko seperti itu?"

Ned mengerutkan kening. "Kau bicara apa? Kau sedang menatap emasnya sekarang."

Ketika mereka berempat mulai menyadari bahwa yang Ned maksudkan 'emas' adalah dirinya sendiri, mereka semua langsung mengeluarkan reaksi mual yang kompak dan memutar bola mata."Oh, ayolah!"

"Tentu saja aku tidak bisa memberitahu kalian." tambah Ned akhirnya.

Gilbert melipat tangan. "Tapi, aku yakin emasnya memang sedang disembunyikan. Buktinya untuk apa Kirkland sampai repot-repot menjebol penjara dan terbang jauh-jauh ke Arkansas kalau bukan karena itu?"

"Ya. Kalau aku jadi mereka, lebih baik aku menikmati hari tuaku sambil memandangi perkebunan teh, melihat domba, dan bermain dengan kucing, daripada berurusan kembali dengan polisi. Bisa-bisa tekanan darahku naik." timpal Natalia masa bodoh.

"Masuk akal. Emas itu pasti hilang dari tempat yang seharusnya. Sehingga berita apapun tentang emas dalam jumlah besar di luar sana, pasti akan memancing mereka keluar." tambah Francis, kini mulai ikut-ikut berpikir.

"Oh. Dan untuk jaga-jaga, makanya mereka membawa seluruh anggota keluarga yang ada untuk saling memberi bantuan saat sedang dalam misi. Karena ini adalah urusan mengenai harta bersama, maka akhirnya menjadi kewajiban bersama juga. Benar begitu?"

Kesimpulan terakhir yang diberikan Antonio membuat Ned mengangguk-angguk dengan perasaan kagum.

"Yap. Kalian berhasil menjawabnya sendiri."

Tiba-tiba Francis memajukan badannya, hingga berada sejajar tepat di antara Ned dan Gilbert. "Sst. Hei, tapi ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, di mana letak emasnya? Maksudku, yang sebelumnya. Kami sangat penasaran."

Gilbert ikut membelalakkan bola mata. "Benar!" Ia menjetikkan tangan. "Kira-kira di mana dulu Kirkland meletakkan emas-emas sebanyak itu?

Natalia turut menimpali pertanyaan Francis, ikut memanas-manasi. "Ayolah, Tuan Flying Dutchman. Kau sendiri yang bilang kalau emasnya sudah dipindahkan. Maka, lokasi sebelumnya bukanlah rahasia lagi. Lagipula, jangan kira kami bisa curi."

Ned meremat-remat setirnya, menimbang-nimbag apakah ini saat yang tepat untuk menceritakannya. Tapi, ia yakin inilah saat yang tepat.

"Kalian yang menemukannya." Ned menyeringai tipis. "Emas itu terletak di Kastil Edinburgh, Skotlandia."

Keempat reporter itu menjerit bersamaan. "BAGAIMANA BISA?"

"Ya, sesungguhnya ketika kubilang kalian yang menemukannya, maknanya bisa ya, bisa tidak. Tapi, sesungguhnya, bisa kukatakan kalian memang membantu kepolisian dalam memecahkan kasus ini."

"T-tunggu sebentar! Apa maksudnya? Kami sama sekali tidak melihat emas di sana!" pekik Gilbert.

"Tapi, kalian ingat pernah menginap di salah satu bangsal pemakaman tua untuk menginap semalaman, kan? Atau ... apa istilah yang digunakan Airlangga? Uji nyali?"

"Astaga!" Gilbert langsung balik badan, memandangi wajah temannya satu per satu dengan wajah horor. "Bukankah itu tempat yang Francis hampir kencing sembarangan?"

"Oh, benar." Natalia mengangguk setelah mengingat-ingat cukup lama. "Yang Airlangga kerasukan arwah Ratu Mary, bukan? Dia hampir menggigit tanganku."

"Wah, benar. Itu kenangan yang sangat mengerikan." tambah Antonio dengan suara lirih ikut menimpali. "Bukankah kita hampir tidak bisa keluar semalaman karena mendadak terkunci dari dalam? Sudah kuduga langkah kaki misterius itu bukan suara sepatu boot militer Natalia."

Francis menghembuskan napas berat ke udara. "Wah, momen tak terlupakan. Mobil mogok, terkunci di kastil berhantu, dan teman kita kerasukan. Bukankah itu malam paling indah di Skotlandia?"

Keempat sahabat itu menarik napas panjang, mengingat momen-momen kelam tersebut dalam lamunan.

"Ketika Feliciano secara tidak sengaja menonton video liputan kalian yang di sana—untuk hiburan, katanya—dia tak sengaja menemukan hal janggal di dinding-dinding kastil tersebut. Dia tak pernah mengingat ada dinding itu sebelumnya. Dan dari perbedaaan kedalaman warna, posisi batu-bata yang mencurigakan, serta tekstur dinding yang nampak berbeda dari segi umur dengan dinding-dinding lain di sekitarnya, membuat Feliciano langsung curiga pada saat itu juga—"

"Tunggu sebentar! M-maksudmu video yang di mana kita berusaha menenangkan Airlangga yang kerasukan?" Raut muka Gilbert langsung pucat pasi dengan alis terangkat dan mata membulat ketakutan.

"Ya." tandas Ned tajam. Kali ini menatap mantap ke arah mata Gilbert. "Video di mana Airlangga membantingmu ke tanah."

Gilbert menjerit ke udara dan meremas rambutnya. "MEIN GOTT!"

Francis langsung menutup mulut Gilbert dengan tangannya dan menyerbot pembicaraan. "Jadi, setelah melihat video hina tersebut, Feliciano dan teman-teman polisinya yang keren itu langsung mengecek ke sana dan mereka sungguhan ... menemukan emas?"

Ned mengangguk.

Keempat orang itu langsung menarik napas terkejut bersamaan. "KAU BERCANDA!"

Ned menggeleng. "Itu sungguhan terjadi."

Menyadari bahwa lagi-lagi mereka melewatkan satu malam spektakuler yang sebenarnya bisa menjadi berita besar abad ini, membuat keempat reporter itu terduduk lesu di kursinya sambil memandangi langit-langit.

Natalia mendenguskan napas dalam-dalam. "Astaga, tak kusangka kita pernah menginap bersama tumpukan emas yang menjadi incaran seluruh dunia."

"Ya. Bayangkan jika kita yang menerbitkan liputannya pertama kali." desah Gilbert.

"Kita pasti sudah tidak di sini, Gil. Kita akan liburan hingga sampai ke ujung Amerika." kilah Francis sambil melamun dan membayangkan deburan ombak pesisir Pantai Miami, warna-warni bikini, papan seluncur trendi, dan cekikik wanita-wanita seksi.

"Apa ini maksudnya kita berjasa untuk kepolisian?" tanya Antonio penuh harap, mengingat kekasihnya, Lovino, pun berada di organisasi kepolisian yang sama.

Ned mengangguk. "Sepertinya begitu. Tapi, mereka belum berani memberitahu kalian karena resikonya terlalu besar."

Belum sempat merasakan kelegaan, Antonio kembali mengajukan pertanyaan. "Lalu, mengapa kami dilibatkan kembali? Mengapa kau membawa teman-temanmu untuk memaksa kami ke sini?"

"Setelah Kirkland tahu bahwa yang membuat Feliciano menemukan tempat persembunyian emasnya adalah kalian, kalianlah yang menjadi target selanjutnya."

Seluruh tubuh para kru The NEWS terdiam dan saling berpandangan.

"Ya. Dan aku sedang menyelamatkan kalian sekarang." kata Ned tanpa ekspresi. "Sama-sama. Terima kasih kembali."

Ngomong-ngomong, mereka memang pernah berhadapan dengan penjahat, adu tembak dengan kelompok bersenjata, kejar-kejaran dengan pembunuh bayaran, bahkan, berhadapan satu lawan satu dengan seorang pemimpin mafia, namun, tidak pernah sekali pun dalam hidup mereka, langsung dipilih secara langsung dan eksklusif untuk menjadi target penyerangan selanjutnya. Itu sama saja seperti mereka sudah dikenal baik oleh pemburunya.

Keempat orang polos itu akhirnya sadar bahwa mereka telah masuk ke dunia kejahatan yang sesungguhnya.

"T-tapi bagaimana dengan Ludwig?" tanya Gilbert khawatir.

"Feliciano sudah mengamankannya. Dia akan berada di tempat paling aman yang bahkan kalian sendiri tidak tahu selama Kirkland masih berkeliaran."

Gilbert menghembuskan napas lega.

"Lalu, Airlangga?" tanya Francis.

Mendengar nama itu disebutkan, pandangan Ned terlihat sedikit tidak fokus dan ia nampak menegak ludah.

"Itu cerita lain. Masalahnya kompleks." Ned meremat-remat stir kemudi dengan gerak-gerik gelisah. "Aku akan menjelaskannya sambil makan untuk membuat ketegangan sedikit mereda."

Bukannya tenang, keempat orang itu justru menjadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi.

"Apa dia sungguhan menembak orang?" tanya Antonio hati-hati.

Butuh beberapa detik bagi Ned untuk membuka suara dan mengangguk perlahan. "Ya. Tapi, orang itu tidak mati." Ned membuka sebagian kancing bajunya dan menyibak kain penutup dari luka perban di perut sebelah kirinya, memperlihatkan lukanya dengan nyata.

"Kau sedang melihat orang yang ditembak itu sekarang."

Hening.

Visual dari perban yang sedang membungkus sesuatu di daerah perutnya itu seakan menurunkan energi dan euforia semangat mereka yang awalnya membumbung tinggi dan penuh harapan. Segala ekspetasi mereka tentang kebaikan dan penyangkalan terhadap kasus Airlangga, kini terbanting ke tanah. Airlangga benar-benar melakukannya. Airlangga benar-benar menembak seseorang. Meski orang itu Ned, tentu saja.

Mata hijau Ned yang sedari tadi menghindari kontak mata, kali ini akhirnya memandangi mata para kru reporter di sekitarnya satu per satu, setelah menyadari suasana hati para kru reporter ini menjadi tidak baik. "Tapi, ini terjadi murni karena kesalahanku dan tidak ada hubungannya dengan kasus yang sedang kita hadapi sekarang. Jadi, berhentilah untuk mengkhawatirkan siapa yang dibunuh Airlangga. Sekali pun jika dia memang ingin membunuh seorang, maka aku adalah orang pertama yang ingin dibunuhnya. Dan aku layak mendapatkannya. Itu sudah jelas."

Gilbert adalah orang yang pertama kali membuka suara setelah keheningan panjang. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di hubungan kalian dan tidak mau tahu juga, tapi sekarang aku mengerti mengapa kau terlihat biasa saja saat kukatakan Airlangga dilaporkan menembak orang."

Ned mendengus. "Ya, berita soal penembakan itu sebenarnya tidak penting. Tapi, yang menjadi masalahnya adalah: siapa orang yang merekam dan menyebarkannya. Karena, asal kalian tahu saja, kejadian di baliknya sama sekali tidak seperti apa yang ditampilkan di berita."

.

.

Monaco Heliport, Fontvieille, Monaco

Yang Airlangga ketahui, di sini tidak ada landasan penerbangan komersil. Ya. Di Monaco.

Tidak ada pesawat. Tidak ada bandara. Tidak ada transportasi jarak jauh lain yang bisa membawa para penduduk keluar masuk, selain sarana transportasi udara berupa helikopter.

Di Monaco hanya ada satu-satunya landasan helikopter yang bisa membawa siapa pun, mulai dari Presiden, pejabat tinggi negara, turis mancanegara, pedagang buah, bahkan korban penculikan seperti dirinya untuk diselundupkan masuk atau keluar dari negara ini.

Airlangga pernah mempelajari fakta bahwa Monaco Heliport adalah landasan helikopter besar yang terletak di pucuk kecil negara Monaco, tepatnya di dalam kota Fontvieille. Terletak tepat di pinggir dermaga, menghadap langsung ke lautan lepas. Penerbangan-penerbangan yang terjadi akan selalu melintasi laut sebelum bertolak ke negara tujuan.

Francis, sahabatnya, pernah mengatakan bahwa Fontvieille berbeda dengan kota-kota lainnya di Monaco, yang sebut saja Monaco-Ville, Monte Carlo atau La Condamine. Fontvieille adalah hasil pengendapan tanah artifisial yang kemudian disulap menjadi ruang geografis tambahan untuk Negara Monaco yang pada waktu itu masih sangat muda. Ia dibangun dan didesain oleh seorang insinyur Italia bernama Gianfranco Gilardini dengan proyek reklamasi. Dengan kata lain, kota itu tidak pernah ada sebelumnya.

Airlangga sedikit kesal karena fakta bahwa ia masih mengingat semua trivia perihal sejarah, lokasi geografis, dan konstruksi kota ini, ketimbang mengingat nama kucingnya sendiri di rumah.

Di sini, di bandara paling eksotis di seluruh dunia, sedang terjadi polemik besar antara dirinya yang sedang naik pitam, seorang remaja Latvia penakut, polisi Denmark yang amatir, pengendara helikopter dari Swedia yang pendiam, dan seorang hacker bertampang dingin kelahiran Norwegia.

Namun, tampaknya sang hacker sama sekali tidak peduli dengan rentetan pertanyaan yang ia ajukan sedari tadi.

"Berita buruk. Sepertinya orang-orang di Hotel du Paris mulai mengikutimu." tanpa menoleh, Lukas menyampaikan informasi genting dengan nada sedatar lapisan es kutub utara.

Mathias mendecih. "Gawat. Berarti mereka sudah tahu." Bibirnya menggerutu.

"Tenanglah. Mereka tidak akan tahu kau pergi ke mana." ucapnya santai, sembari menyeruput kopi Starbuck-nya.

"Bisa kau perkirakan ada berapa orang yang mengikuti kita, Lukas?" Mathias menyerukkan tubuhnya sedikit ke depan. "Dan kira-kira apakah mereka bisa dihentikan untuk sementara?"

Lukas menaikkan kedua alis dengan rasa terpana akan pertanyaan itu. "Untuk alasan itulah mengapa aku ditempatkan di sini, Kohler." ujarnya sarkas.

Pemuda Norwegia itu kemudian terlihat mengetikkan sesuatu di layar laptopnya. Beberapa baris kode, akses sandi masuk, deteksi keberadaan musuh, peretasan jaringan, lalu masuk ke momen yang paling ia suka, berbaur bersama musuh. "Kalau yang berhasil kudeteksi, hmm, lima belas." katanya sambil menghitung titik-titik hijau pada radar di layar laptopnya. "Tiga ratus meter dari sini. Bergerak dengan kecepatan 80 km/jam. Tinggal menunggu waktu sampai—penguncian akses komunikasi." Jarinya mengetik tuts dengan keras. "Dengan begini mereka akan kesulitan berkoordinasi dan akan terpencar seperti serigala es yang kehilangan pemimpinnya." Mulutnya kembali menyeruput kopi dengan santai, namun tetap mengeluarkan tatapan dingin.

"Kau luar biasa seperti biasa, Lukas." Mathias memandang Lukas dengan tatapan takjub.

Lukas menggedikan bahunya tidak peduli. "Ya. Bisa apa kau tanpa aku?"

Mathias memicingkan mata.

"Ah, ngomong-ngomogn, berapa menit lagi helikopternya siap berangkat, Berwarld?"

"Tiga menit." Berwarld membenarkan kacamatanya.

Lukas membuang napas dengan nada malas dan mencemooh. "Bersabarlah sedikit, Kohler. Kau tahu, kan, mengapa kami berdua ditempatkan pada misi ini?" Usai olahraga peregangan tangan, pemuda dingin dari Norwegia itu berbisik sembari menoleh sedikit dari kursi depan. "Untuk membantumu yang kurang berpengalaman."

Mathias merengutkan bibirnya mendengar cemoohan tersebut. "Kau selalu saja seperti itu. Tapi, well, itu ada benarnya."

Ya. Dengan keberadaan dua agen rahasia lain dari Interpol ini, membuat Mathias merasa bebannya sedikit berkurang, karena setidaknya dia tidak harus bekerja sendirian kali ini. Ditambah lagi dengan keahlian Lukas di bidang peretasan sistem dan Berwarld yang ahli menembak, membuat Mathias merasa dia masih punya banyak rencana cadangan apabila misinya kali ini gagal.

Dan terlebih lagi, mereka sudah bersahabat sejak kecil.

"Ngomong-ngomong, para penumpang sudah siap? Kenapa kalian diam saja?" Lukas berbalik, lalu menatap Airlangga dan Raivis yang sedari tadi diam saja.

Ada Airlangga yang memasang wajah kaku dan masih memperhatikan sekitar, lalu Raivis yang duduk gemetar di kursi dan entah sudah berapa galon air mata yang mengucur dari matanya.

"Mau ke mana kita?"

"Geneva, Switzerland. Kita tidak bisa berangkat ke Bandara Nice, karena Paris masih terlalu dekat dengan Monaco. Satu-satunya jarak terjauh adalah Switzerland. Suka atau tidak suka, kau tetap harus setuju. Ada pertanyaan?"

Airlangga mengernyitkan kening. "Kenapa aku berada di sini?"

Lukas menarik napas panjang dan berusaha sabar karena sedari tadi Airlangga menanyakan pertanyaan bernada sama yang menyebalkan. "Aku sedang berusaha membawa ke teman-temanmu, bodoh. Bukan kami yang melibatkanmu, tapi kau yang melibatkan kami. Kau pikir bagaimana kau dan teman-temanmu bisa lolos keamanan bandara untuk berpindah negara? Kau pikir bagaimana bisa kau mendapatkan akses eksklusif ke Bandara Monaco tanpa ditahan petugas karena wajahmu sedang buron? Apa kau ingin aku menyalakan kembali sensor deteksi dan membuatmu tertangkap kamera? Membuat wajahmu terpampang di seluruh billboard dunia dan menunjukkan lokasimu? Aku tidak peduli, anak muda. Silakan saja kalau mau mati lebih cepat."

Hening. Airlangga dan Mathias saling berpandangan. Airlangga berbisik tanpa suara. 'Aku hanya bertanya.'

Jika ada satu orang yang bisa menahan laju mulut pedas Airlangga, maka Lukas adalah orangnya. Syukurlah. Dalam perjalanan kali ini ada orang lain yang bisa menjadi rival sepadan untuknya. Untuk Mathias, mungkin ia memang tidak diizinkan menyakiti Airlangga secara fisik, tapi setidaknya sekarang ada Lukas yang bisa menyakitinya secara mental.

"Dan, ya. Kau terlibat dengan semua ini." Lukas menambahkan dengan tegas. "Karena dua hal. Pertama, karena kau dekat dengan Ned. Orang yang memiliki paling banyak musuh dari sebagian besar komplotan penjahat se-Eropa. Kedua, karena cincin tunangan kalian menuliskan kombinasi kode brankas emas dan Ned membutuhkannya. Aku tidak tahu fetish kalian sampai menuliskan kode di cincin tunangan, tapi yang jelas, karena dua alasan tersebut, kau sudah selayaknya berada di sini dan harus diselamatkan. Kuharap semuanya sudah jelas, jadi, jangan bertanya apapun lagi sampai kita tiba di Switzerland. Aku bukan customer service."

Airlangga terdiam selama beberapa detik karena tidak familiar dengan istilah cincin tunangan, sampai akhirnya ia menyadari bahwa kalung bermata emas bulat yang tergantung di lehernya selama beberapa bulan terakhir ini adalah cincin yang tunangan yang dimaksud.

.

.

flashback

Trevi Fountain, Roma, Italia

Tepat perayaan satu tahun setelah pertemuan yang sangat berkesan dan penuh darah di Monte Carlo, Ned menawarkan liburan khusus super singkat pada seseorang yang dia anggap sangat berarti di hidupnya. Orang itu boleh memilih tempat mana pun, asalkan itu adalah negara dengan luas wilayah di bawah 50.000 km persegi, suhu rata-rata di bawah 22 derajat Celcius, memiliki banyak jalur kanal dan ratusan taman bunga, dan yang terpenting, harus wilayah Eropa Barat—karena selebihnya, dia takut diburu Interpol.

Memang syaratnya tidak banyak, kok. Sama sekali tidak sulit dan terlalu menuntut.

Ned sesungguhnya sudah mengirimkan sinyal agar mereka pergi ke Amsterdam, kota kelahirannya sendiri. Selain bebas biaya, dia bahkan bisa menekan anggaran pengeluaran seminimal mungkin. Ned tidak perlu lagi beradaptasi dengan segala hal, karena dia sudah hidup di jalan-jalan Amsterdam sejak kecil dan sangat paham dengan situasi di sana. Intinya tidak perlu lagi ada riset dadakan mengenai kriminalitas di kota tersebut, mau pun teknik bela diri apa yang harus digunakan untuk menjaga diri.

Di samping itu, Ned bisa memperkenalkan Airlangga ke orang tuanya.

Tapi ajakan super romantis dari pria yang paling tidak romantis di dunia itu pun tidak digubris oleh sang pasangan yang sibuk melihat gambar-gambar di Pinterest. "Rasanya aku ingin ke sini."

Memang dasar Airlangga tidak tahu diri dan sama sekali tidak peka.

Tapi, ya sudah. Tempat mana pun sama saja, asalkan Ned bisa terlepas dari suara kru reporter menyebalkan yang berisik, ajakan minum bir dari teman-teman penjahatnya yang juga sama-sama lagi buron, mau pun hujatan adik dari sang pasangan yang tidak pernah merestui hubungan mereka berdua dengan ikhlas.

Ned mengangguk malas. "Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan."

Lalu, di sinilah mereka sekarang. Trevi Fountain. Roma. Italia.

Di antara serbuan ribuan turis dari berbagai manca-negara, terik udara panas yang membludak, cahaya-cahaya menyilaukan dari marmer yang menyala, suara berisik puluhan dialog bahasa dari berbagai dunia, dan suasana ramai dari pemandangan indah air mancur Trevi yang menjadi destinasi andalan para turis saat berkunjung ke Roma.

Di antara ratusan turis yang berkumpul di satu titik, di sana ada visual Airlangga yang kegirangan dan Ned yang menatap kosong pemandangan di hadapannya dengan gelagat ingin segera angkat kaki dan tidur siang.

Airlangga mengeluarkan koin-koin dari sakunya dengan semangat.

Ned mengeryitkan dahi. "Buat apa?"

"Untuk dilemparkan ke dalam kolam, tentu saja. Itu, kan, tradisi saat turis berkunjung ke sini."

Ned tanpa sadar semakin mengerutkan dahi, sampai garis-garis kerut penuaannya semakin ketara. "Apa kau sungguh-sungguh percaya takhayul itu?" Tidak dia sangka stereotip orang Indonesia yang percaya mitos-mitos aneh memang benar adanya.

"Itu bukan takhayul, Ned. Tapi, sistem kepercayaan. Mungkin saja jika kau fokus pada keinginannmu dengan sungguh-sungguh, maka kau bisa mendapatkannya suatu saat nanti." ujar Airlangga tetap optimis.

"Jika kau memang ingin mencapai cita-citamu, kau harus bekerja keras, Bodoh." Lalu, ia memandang penuh sangsi ke arah kolam yang berkilauan. "Bukan dengan melempar koin ke dalam kolam tua bekas sistem sanitasi berumur 200 tahun."

Airlangga mengeluh. "Ini bukan perkara hanya melempar koin, Ned. Tapi, ini adalah doa yang bisa memberi harapan ke banyak orang."

Ned sesungguhnya malas mendengarkan cerita dongeng seperti ini, tapi karena dia sudah mempelajari teknik mempertahankan hubungan dari buku mencurigakan yang diberikan Sadiq, maka dengan sangat berat hati ia terpaksa mempraktikannya sekarang juga.

Poin utama adalah: rela mendengarkan pendapat pasangan, meski seaneh apapun jalan ceritanya.

"Oke, lalu?"

Airlangga menjelaskan dengan tatapan berbinar-binar, serta pergerakan tangan yang sibuk menggambarkan isi kepalanya. "Kabarnya, satu koin adalah tanda bahwa kau bisa kembali ke Roma. Dua koin, tandanya adalah kau akan jatuh cinta dengan Roma. Dan tiga koin ... untuk sebuah lonceng pernikahan di Roma." Senyum cerah tercetak di wajahnya yang bersinar.

Ya. Karena pantulan sinar matahari. Karena demi Tuhan, di sini sangat panas.

"Jadi, tidak ada salahnya mencoba, kan? Kapan lagi kita akan ke Roma?"

Si pria berambut pirang menggaruk tengkuknya. Lagipula memang tidak ada salahnya mereka ikut berpartisipasi dalam ritual ini. "Ya, sudah, kalau kau memang mau begitu." Ned berusaha mencuri-curi pandang ke arah koin dalam genggaman Airlangga. "Tapi, ngomong-ngomong, kau mau lempar berapa?"

Dasar Ned. Katanya tidak percaya, tapi masih penasaran juga.

Bukannya menjawab, Airlangga langsung memicingkan mata ke sesuatu di balik punggungnya. "Eh, apakah itu kepolisian Italia?" katanya menunjuk.

Disinyalir adanya ancaman, Ned langsung balik badan sigap. Ketika disadari bahwa ia tidak melihat satu pun tanda bahaya, Ned mengumpat. "Mana?"

Menyadari ketika mendengar suara koin tercemplung dan fakta bahwa ia ditipu dengan trik murahan, Ned kembali berbalik ke arahnya dan mendengus frustasi. "Kau mau ikut kubuang ke kolam, hah?" Ia tidak percaya sampai harus diisengi cuma gara-gara ini.

"Hehehe. Maaf. Karena jumlah koinnya rahasia."

Pria Eropa itu menggedikkan kedua bahu dengan cuek. "Terserah kau saja."

Melihat gelagat mengalah dan penurut dari pria paling arogan dan egois yang pernah Airlangga kenal seumur hidupnya, sang pemuda Indonesia akhirnya tak tahan untuk menahan senyum.

"Mau makan gelato di pinggir jalan?" bujuknya.

"Oh, ide bagus. Aku sudah seperti sauna berjalan di sini." Ned jelas seperti sedang es yang menguap di bawah sinar matahari.

Airlangga menggelayutkan kedua tangannya memeluk lengan besar Ned dan menggiring pria itu menjauh dari kerumunan. "Ayo kita beli es krim di Galetaria Fortana."

Setelah berusaha keras mengalihkan perhatian Ned dan memastikan pria itu tidak akan balik badan, diam-diam sekarang gantian Airlangga yang berbalik badan dan melihat wujud kolom legendaris Trevi Fountain dari kejauhan untuk terakhir kalinya.

Seiring mereka berjalan menjauh, riak kolam pun berangsur-angsur tenang. Seolah-olah turut memberi isyarat bahwa harapannya kelak akan baik-baik saja.

Jika memang mitos itu benar, maka tiga koin untuk lonceng pernikahan akan menunggunya di masa depan.

.

.

to be continued

.

.


A/N: Maafkan, saya membuat Lukas menjadi sassy prince dengan mulut sepedas lava Krakatau, tapi penampilannya memang sangat mendukung (duagh). Yes, Airlangga pernah bucin. Yes, The NEWS masih menjadi protektif siblings. Dan, iya, saya tahu strategi kepolisian dan Ned buat jadiin Airlangga umpan itu sangat-sangat tidak bermoral huahaha. Apalagi si anak dalam keadaan hilang ingatan dan sangat sensitip dengan kehadiran orang-orang baru. Tapi, kabar baiknya Mathias and the gank berhasil menyelamatkannya dan sekarang Airlangga dapat temen-temen (rival) baruuu, yay!

Syfa-chan: Iyaaaaa :")) Yess, semenjak Papa Hima bilang mau comeback, saya kepikiran pengen ikutan epic comeback, lol. Dan syukurlah kesampaian (nari Samba). Hahaha. Semoga The NEWS menghibur teruus. Makasih, ya, reviewnya!

Naida Michaelis: Thank youu :"D Yes! Kaget banget juga pas denger kabar Indo jadi official. Penantian seisi fandom selama dekade akhirnya terbayar, Kawaan. Bener banget, di sini Airlangga masih bocah tempramen :') Semoga bisa terhibur dengan aksi-aksi The NEWS XD Terima kasih, reviewnya~

0o0: Looll. I knoww. Setelah sekian purnama akhirnya bangkit dari mati suri (cry) Semoga terhibur :)) Makasih, ya, reviewnya!

Sign,

Rapuh