A/N: Yes, ini saya publish sekaligus dua chapter ya, Kawan. Dan ini adalah Chapter 7 yang aslinya adalah Part 2 dari Chapter 6. Kayaknya masih pada langsung loncat ke Chap 7 dulu sebelum baca chap 6 ;;; When I said panjang Chapter 6 nggak ngotak, maka memang panjangnya nggak ngotak. Lololol. Semoga sukaaa~

Warn: Debut Argentina dan Falkland Island yang super eksklusif. BERSIAPLAH, KAWAN. Aksi tembak-tembakan berdarah is coming. Siapkan rompi anti peluru kalian, karena kita akan menyaksikan perseteruan epik kembali.

Disclaimer: Segala karakter dan personifikasi Indonesia adalah milik Lord Himaruya Hidekazu dan saya sama sekali tidak mengambil keuntungan materiil atas kisah petualangan reporter jedag-jedug ini.

PS: Eniwei, kalau mau curcol-curcol, bisa mampir ke Twitter saya, ya, di raputopu. Ulala. Kadang saya nge-gambar, kadang saya nge-fangirl. Ya, pokoknya beragam deh aktifitasnya (plak)


.

The NEWS Crew

.

Gilbert Beilschmidt (leader)

Natalia Arlovskaya (reporter)

Antonio Fernandez Carriedo (camera-man)

Francis Bonnefoy (driver)

Airlangga Putra Brawijaya (script-writer)

.


Restoran Petit & Keet, Little Rock, Arkansas

"Selamat bersenang-senang, Kawan!"

Sembari Sadiq dan Heracles pergi berkendara ke tempat persembunyian mereka untuk beristirahat dari hari yang melelahkan ini, Ned terpaksa harus melayani keempat kru reporter ini dengan jamuan makan sore dengan perasaan berat.

Untuk mengatasi kedongkolannya, Ned memilih Petit & Keet sebagai alternatif untuk terapinya. Karena dari seluruh tempat tandus, panas, dan kering dari Arkansas, di sinilah salah satu area yang bisa memberikannya atmosfer ketenangan yang selaras dengan energinya, selain pegunungan dan hutan lebat Little Rock. Beruntung ia menemukannya dari salah satu ulasan turis yang terunggah di sebuah website perjalanan.

Dimulai dari Sauvignon Blanc, sampai Red Wine Marinated Denver Leg 8oz, sebagian besar menu-menu di sini mengingatkannya kembali akan masakan-masakan Eropa dan kampung halaman.

Andai saja ia tidak harus memperlakukan mereka seperti manusia normal sesuai dengan perintah Interpol, pasti Ned sudah menikmati marijuananya malam ini ditemani tembakau satu pak dan sepaket musik Louis Armstrong.

Tapi lain cerita kalau di sana ada kru The NEWS. Menenangkan satu saja seperti Airlangga, sudah berat bukan main. Apalagi kali ini harus mengurus empat sekaligus. Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya.

Kondisi Restoran Petit & Keet yang seharusnya tenang, hangat, dan menenangkan sanubari para koboi-koboi kepanasan dan pengemudi van penjelajah yang butuh naungan bernuansa alam dengan interior kayu sejuk ini, kini menjadi semerbak oleh jeritan sejumlah orang asing yang nampaknya berasal dari Eropa, dengan keberisikan yang sudah tidak bisa dianulir lagi oleh telinga orang normal mana pun di dunia.

Salahkan keempat kru reporter itu yang membuat suasana Petit & Keet kali ini menjadi sangat berbeda dengan nuansa ambient yang ditawarkannya pada iklan. Bukannya tenang dan aura tenang yang ia dapatkan, melainkan kerusuhan seperti suasana menjinakkan hewan liar yang lepas dari kandang. Jujur saja, mereka sulit dikendalikan seperti kera-kera di Madagascar.

Oh, terlebih lagi karena mereka sedang marah besar sekarang.

Semua ini disebabkan karena Ned memberitahu alasan mengapa Airlangga dibawa pergi.

"Coba ulangi kembali perkataanmu—DAN DENGARKAN BETAPA KONYOLNYA ITU!" Teriakan Gilbert yang berada tepat di sebelah telinganya, seakan-akan menulikan gendang telinga dan membuat sel-sel otaknya terbakar sebagian.

"Apa kau benar-benar gila? Apa kau sudah bosan hidup? Kau ingin cepat bertemu Tuhan?" Kali ini giliran Natalia—dengan nada lebih tenang—bermain dengan mengacungkan pisau tepat di hidung dengan jarak yang teramat dekat. Tangannya yang luwes mengayun-ayunkan besi tajam mengkilat itu tepat di depan wajahnya, seperti tongkat peri yang akan mengubah kondisi wajahnya menjadi buruk. "Mau kucongkel yang mana duluan? Mata? Hidung? Lidah?"

Sementara seorang pria berkulit eksotis lain yang duduk di sebelah sang gadis gila, duduk meremas kepalanya dengan kondisi mental breakdown akut sambil menatap nanar meja yang kosong. "Kau benar-benar menculik Airlangga dan membawanya kepada Elizaveta? Apa kau tahu seberapa berbahayanya itu untuk keselamatannya? Kau adalah pacarnya, Ned. A-apa yang sudah kau lakukan?" Wajahnya yang semula sedih dan dirundung perasaan duka, kini mendadak menjadi bara menyala penuh amarah. "Minta maaf, lah, di depan kamera! SEKARANG! Katakan kau menyesal!" Antonio menunjuk sadis ke arah kameranya.

"Astaga. Perasaan apa ini?" Francis meremat dadanya dengan dramatis. "Mengapa tiba-tiba hatiku mendidih dan rasanya ingin memukul orang?" katanya memandang langit-langit. "Kalau bukan karena kau tampan, sudah pasti kupukul wajahmu sekarang, mon ami." Francis memijati buku-buku jarinya sendiri dalam kepalan tangan. "Allez au diable (Sialan). Aku benar-benar ingin memukulmu sekarang!" Kursi berderit dan Francis nyaris saja melompat dari kursi untuk menghajarnya, beruntung segera ditahan oleh Gilbert, sang leader bijaksana, yang sebenarnya sama-sama sesat pula.

"H-hei. Kita tidak akan menghajarnya di sini, oke? Kita akan memukulnya beramai-ramai di toilet, menceburkannya ke lubang kloset dan meninggalkannya di sana nanti sampai dia mati sendiri. Ide bagus?" Gilbert mengacungkan OK dengan jari-jarinya.

"Oke." balas Francis gantian memasang simbol OK di tangannya.

Ned menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan kekacauan, sebelum mereka mengangkat kursi dan melemparnya ke udara. "Oke. Kalian boleh memukulku, melemparku ke sungai, mendorongku dari tebing, menenggelamkanku hidup-hidup, ata apa pun itu, aku tidak peduli. Tapi, biarkan aku menyelesaikan ceritaku terlebih dahulu. Kalian berhak mengetahui kebenarannya."

Keempat kru The NEWS memicingkan mata dengan curiga akan aura-aura penipuan yang kentara.

Francis mengangguk-angguk dengan tatapan mengintimidasi dari iris birunya. "Ooh, ada yang mau belas kasihan, rupanya. Bagaimana, Gil? Mau dihabisi sekarang atau kita dengarkan dulu dongengnya?"

Gilbert yang sebenarnya galau karena penasaran, namun sebenarnya masih dirundung perasaan kesal yang sama, akhirnya lebih memilih untuk mengalah pada kebenaran.

Mungkin saja cerita dari orang yang dipilih Airlangga sebagai teman hidupnya ini bisa membuka mata mereka dan memberinya perspektif baru tentang dunia yang sedang mereka hadapi sekarang. Apa pun itu, mereka harus mengetahuinya saat ini juga. "Baiklah, go ahead. Waktu dan tempat dipersilakan. Tapi, asal tahu saja, kami harap ini bukan karena konspirasi elit global." Gilbert melipat tangan dan meluruskan sandaran, menatap Ned dalam-dalam.

Ned mengangguk-angguk pelan dengan tatapan kosong ke atas meja. Nampak beban hidup yang kentara karena dikelilingi orang-orang ini.

"Aku mengutus Airlangga ke sana, justru karena ingin menyelamatkannya." Tangannya meremat-remat gelisah merasa tak nyaman. Ia dikelilingi oleh empat orang yang memandanginya intimidatif dan memperlakukannya seperti terdakwa kasus pemerkosaan.

Hening. Tentu saja tidak akan ada yang percaya.

Ned buru-buru menambahkan. "Dia tidak pergi sendirian, tentu saja. Mereka mengirimkan satu anggota kepolisian lain untuk menyamar dan melindunginya. Airlangga akan segera dibawa pergi dari tempat tersebut, sesaat setelah Elizaveta sudah melapor pada Kirkland. Tugas Airlangga sudah selesai sampai di sana."

Ned memandangi wajah keempat orang tersebut untuk melihat reaksi mereka.

"Tapi, bagaimana jika lenyapnya Airlangga akan dicurigai oleh Elizaveta?" tanya Francis sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat. "Kirkland akan segera mengetahuinya dan mereka kembali bersembunyi. Selain itu, nyawa Airlangga akan menjadi jauh lebih terancam dari yang sebelumnya."

Sang mafia Belanda memotong dengan kedua tangan terangkat di udara berusaha menenangkan. "Airlangga sudah berada di tangan yang tepat. Aku yakin dia bisa dilindungi sampai semua ini kembali normal." katanya optimis. "Dan untuk soal Elizaveta, kepolisian Interpol sudah mengatasinya. Mereka akan segera melakukan penyergapan di saat Airlangga berhasil dibawa pergi."

Gilbert memicingkan mata. "Aah~ Percaya diri sekali kalian." desisnya sarkastik. "Lantas, bagaimana jika berita itu sampai ke Kirkland duluan sebelum kepolisian datang? Mereka akan sempat kabur. Maka tugas Airlangga di sana sia-sia."

Ned menyesap kopinya lamat-lamat. Terlihat berat mengatakan ini. "Tenang saja. Kirkland akan tetap datang." tegasnya. "Untuk membunuhku."

Suasana hening. Kamera Antonio masih menyala.

Ned menghela napas sambil memandangi pantulan wajahnya di cangkir kopi. "Aku pernah menambak kepala saudaranya. Akan ada selalu kemungkinan bahwa mereka akan muncul untuk balas dendam."

"Ya, aku juga ingin membunuhmu." sergah Natalia memecahkan suasana. "Tapi, tidak sungguhan, kau tahu. Hanya keinginan."

Gilbert menepuk pundak lebar Ned untuk memberinya dukungan moral, seperti seorang kakak yang menyemangati adiknya yang kalah dalam pertandingan bola.

"Kau pasti bisa melewati ini, Kawan. Kami juga ingin membunuhmu, tapi, sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang intinya bagaimana caramu menyelesaikan urusan ini dengan Kirkland, memastikan Airlangga selamat, dan membantu kami mendapatkan liputan untuk membersihkan nama kami di luar sana."

Sebaliknya, Antonio terlihat bertopang dagu dengan wajah berpikir. Sama sekali lupa dengan Airlangga. "Hei. Bagaimana bisa polisi tersebut masuk ke dalam organisasi Elizaveta tanpa ketahuan?" tanyanya heran.

"Dia kebetulan merupakan mantan anak buah Elizaveta, tapi sekarang telah bergabung dengan kepolisian karena skill dan potensinya yang menjanjikan."

Natalia memicingkan mata, seperti mengenal dengan ciri-ciri yang disebutkan.

"Dari mana kau tahu bahwa dia tidak akan berkhianat pada kita?" tanya Francis, lagi-lagi masih merasa curiga dengan misi ini.

"Mereka mengirimkan dua personil lain untuk melakukan pengawasan jarak jauh terhadap anggota ini. Keduanya sama-sama merupakan senior di kepolisian Internasional. Kami yakin mereka bekerja secara profesional."

Antonio menghela napas sambil memijati pelipisnya. "Ah, maaf, kami terlalu keras. Tapi, jujur saja, ini adalah masalah paling berat yang pernah kami temui sepanjang karir kami."

"Ah, kita seperti orang ketiga di antara pertikaian dua kekasih saja. Kepolisian Interpol dan Kirkland. Aku tidak percaya ini." cibir Natalia.

Francis mengangguk-angguk setuju. "Benar, dari semua pengejaran berita, ini pertama kalinya kami terlibat pada sesuatu yang berada di luar keinginan. Dan rasanya seperti ... tercebur ke dalam lumpur hisap, sehingga satu-satunya jalan keluar dari sana adalah mencari sulur batang pohon dan berusaha keluar sendiri dari perangkap itu."

"Aku, lah, batang pohon kalian." Ned mengangguk percaya diri.

"Ew, tidakkah itu terdengar vulgar?"

Gilbert segera memotong pembicaraan sambil menghentakkan tangannya di tengah meja. "Oke, bagaimana jika kita habiskan dulu makanan dan bir kita, sebelum membantu Ned menyelesaikan misinya?" serunya dengan nada bersemangat dan optimis. "Ingat. Kita di sini demi membersihkan nama baik kita, menyelamatkan Airlangga, dan menangkap sekelompok buronan yang lihai seperti kecoak. Kita tidak bisa beraksi dengan perut lapar. Terutama karena Natalia sedikit kanibal." katanya sambil menunjuk sang wanita Belarusia.

"Ya, selesaikan semua ini agar aku bisa kembali tidur sia—"

Ucapan Natalia terhenti oleh suara gebrakan nyaring dari pintu restoran yang terdobrak keras.

Sepertinya kayu ulin raksasa itu barusan seperti ditabrak oleh sesuatu yang besar, atau dalam kasus ini, ditendang dengan amat keras oleh seseorang.

Seluruh penghuni restoran menghentikan kegiatan makan dan percakapannya sambil memandangi pintu. Seluruh mata tertuju pada keberadaan dua orang di mulut pintu dengan engsel yang kini menggantung-gantung nyaris terlepas dari posisinya.

Seorang pria berambut pirang bermata hijau dengan senjata laras panjang bertipe rifle di tangannya. Ia tersenyum cerah ke arah penghuni restoran, terlihat senang memandangi reaksi kaget orang-orang yang tengah memandanginya sekarang. Ia mengenakan kemaja putih lengan panjang dengan kain biru yang terikat melingkari bahunya.

Sementara, di sebelahnya nampak wanita berambut pirang dengan rambut tebal yang terkepang panjang. Ia mengenakan blazer biru, kemeja berkerah putih, rok hitam pendek, kaus kaki setinggi lutut dan sepatu slip hitam. Meski nampak manis dengan outfit Britania yang menggemaskan, namun di tangannya terdapat senjata laras panjang yang serupa. Jari-jarinya yang tengah memposisikan senjata nampak tertutupi kaus tangan hitam.

Sang pria mengokang senjata apinya dengan semangat.

"Selamat siang, warga Arkansas!" ucapnya bersemangat. Energinya menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Namun, sapaan itu dibalas dengan tatapan horor dan raut ketakutan dari penghuni restoran yang lain.

"Oh, sedang makan siang, Ned?" Wanita di sebelahnya mengokang senjatanya. "Maaf, menganggu."

Sebelum para kru The NEWS sempat bereaksi dan berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, Ned tiba-tiba bangkit berdiri dan mendorong meja makan mereka dari bawah, menggebraknya dengan begitu keras sehingga meja itu terbalik, sampai segala sesuatu yang berada di atasnya terlempar ke segala arah dan menabrak ke lantai seperti hujan porselen. Bunyi lusinan piring yang terbanting terbenam oleh suara Ned yang menggeram.

"TUNDUK!"

Ned menarik tangan Gilbert dan Natalia, disusul dengan mereka yang masing-masing menarik tangan Francis dan Antonio.

Nyaris saja terlambat, tepat setelah satu milik detik mereka merundukkan badan ke dalam meja, rentetan bunyi desingan peluru merebak dan menghancurkan seisi furnitur di dalam ruangan tersebut dalam hujanan puluhan peluru yang menghambur liar.


Arr-Kansas © Raputopu

Chapter VII

.

Hetalia: Axis Powers © Himaruya Hidekaz


Hotel Swissôtel Métropole, Geneva, Switzerland

Lukas sedang mengeringkan rambut emasnya dengan pengering rambut milik hotel, ketika Airlangga yang sedang duduk di sofa meja rias, tiba-tiba memasang wajah tegang dan memandang kejauhan.

Di pahanya terdapat buku jurnal hitam yang terbuka lebar.

"Sepertinya aku mulai mengingat sesuatu." Wajahnya terlihat seperti sedang terhipnotis.

"Ah, akhirnya peranmu mulai berguna. Apa yang kau pelajari dari buku hitam tersebut?"

Airlangga membuka lebar telapak tangannya, memandangi benda berkilauan yang selama beberapa bulan terakhir ini, bergantung di lehernya dan melihatnya dari dari berbagai sisi. Dia kira selama ini ia mengenakan kalung itu karena sebagai aksesoris saja, ternyata ada kisah dramatis di baliknya.

Airlangga melepaskan cincin itu dari kaitan kalungnya dan mengenakannya kembali ke jari manisnya.

"Ya, sepertinya aku mulai ingat beberapa hal penting."

Sementara Mathias, Berwarld, dan Raivis bermain poker di tempat tidur untuk mengusir ketegangan, Airlangga berjalan menghampiri Lukas yang sudah selesai mengeringkan rambut.

"Kau bilang bisa membuat wajahku terpampang di seluruh billboard seluruh dunia, termasuk ponsel, televisi, media sosial, dan kanal berita mana pun, kan?" Airlangga memandang matanya dengan kerlingan penuh semangat.

Lukas memicingkan mata curiga menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari percakapan ini. "Tunggu sebentar. Hal gila apa yang sedang kau rencanakan? Jangan melakukan sesuatu di luar rencana kami. "

"Tidak." Airlangga menggeleng. Namun, tak lama, ia tersenyum. "Tapi, kurasa ini bisa meluruskan semua kesalahpahaman yang ada sekarang."

.

.

Restoran Petit & Keet, Little Rock, Arkansas

Sementara itu di belahan dunia yang lain, teman-teman dan kekasihnya sedang berusaha menyambung hidup dengan menyelamatkan diri dari terjangan peluru yang menyerang seluruh lini restoran.

Terdengar bunyi tembakan dan barang-barang yang pecah akibat gelontoran belasan peluru yang memborbardir tempat tersebut seperti gemuruh kembang api mesiu. Kilatan-kilatan ledakan senapan membuat pemandangan di ruangan sempit itu berangsur-angsur berkabut. Orang-orang menjerit panik dan segera berlarian keluar menyelamatkan diri sambil berteriak, entah dengan menerjang jendela, bersembunyi di toilet, berlari tunggang-langgang ke pintu belakang, atau berlindung dan tengkurap di bawah lantai, sambil menutup telinga.

Sementara di balik meja bar panjang berbahan kayu tebal, nampak lima orang yang saling berdiskusi dengan tatapan tegang yang tak bisa disembunyikan. Mereka bisa menyembunyikan tubuh, tapi tidak dengan ekspresi mereka.

"Hei! Fans dari mana lagi ini?" hardik Gilbert marah sambil menyikut lengan Ned.

"Martín Hernandez dan Victoria Kirkland." desah Ned malas. "Hati-hati dengan yang wanita. Akurasinya menembak cukup lihai dan berbahaya. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Dia adalah salah satu sepupu Kirkland yang terkenal mahir dalam menggunakan senjata laras panjang."

"... dia cantik." Francis mendesah.

Natalia langsung menyentil telinganya. "Fokus, Francis. Kita ini sedang di medan perang, bukan Disneyland. Bukan saatnya mencari pasangan hidup."

"Ya." Francis meringis. "Aku baru mau mengajaknya berkencan, ketika ia tidak mengacungkan senjata api ke arah kepalaku."

Antonio segera mendekatkan tubuhnya ke lingkaran diskusi. "Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang, amigo? Gil, bagaimana ini?"

"Menyelamatkan diri." jawab Ned.

Gilbert langsung menegakkan punggung. "Kau dan pemikiran sederhanamu. Tentu saja ini waktunya untuk meliput!" Wajahnya langsung mengeluarkan semburat merah dan aura semangat yang meruak meriah. Dipandanginya wajah rekan-rekan reporternya satu per satu dengan tatapan menyala."Apa kalian sudah siap melakukan liputan paling berbahaya dan tidak boleh ditiru di rumah, teman-teman?"

Ned memicingkan mata bingung. Apa mereka sama sekali tidak memikirkan nyawa?

Antonio langsung memotong pembicaraan. "Percayalah, kami sudah terbiasa. Ketika kami menandatangani kontrak, siap mati adalah poin nomor satu." kata pria Spanyol itu berusaha menenangkan Ned, meski sebenarnya hal tersebut semakin membuat Ned yakin bahwa mereka tidak waras.

"Baiklah. Hal gila apa pun itu aku siap terlibat." Ned mengeluarkan senapan api revolver dari saku celananya dan merogoh beberapa butir peluru dari kantung sebelahnya. "Sembari aku akan mempersiapkan ini, bisakah kalian mengalihkan perhatiannya untuk mempermudah tugasku?"

Natalia mendelik. "Eh? Pertama-tama, kau menggunakan Airlangga sebagai umpan, lalu kami? Uh, kau akan sulit mendapatkan restu dari kami, Bung."

Namun, Francis sama sekali tidak melakukan aksi protes. Sebaliknya, pemuda berdarah Prancis itu langsung mengintip dari balik meja dan bersiul. "Hai, cantik. Perkenalkan, namaku Francis—"

DOR! Bar tempat perlindungan mereka bergetar hebat dan memekikkan telinga. Wajah Francis nyaris menjadi bulan-bulanan selongsong peluru panas yang ditembakkan tepat di lokasi kepalanya mengintip tadi. Nyaris saja wajah genit Francis tertembak di jidat andaikan Natalia tidak segera menariknya dari lokasi peluru maut tadi.

"Jangan mati dulu, Francis. Siapa nanti yang akan mengendari van rongsokan kita lagi? Cuma kau yang bisa mengendalikannya." sergah Natalia sambil berusaha menunjukkan kepedulian, meski konteksnya sama sekali tidak terdengar peduli.

Sementara Francis, bukannya merasa trauma akibat pengalaman nyaris mati atas peristiwa barusan, melainkan wajahnya langsung merekah dan seperti mendapatkan pencerahan dari Dewi Cinta. "Ah, sepertinya aku telah tertembak ... di hati."

Wajahnya yang seperti orang dimabuk asmara, membuat keempat orang di sekitar memandanginya dengan tatapan heran, menduga jangan-jangan pagi ini dia salah minum obat.

"Jangan jatuh cinta dengan penjahat, Francis. Cukup Airlangga saja." Gilbert buru-buru menengahi. "Sekarang bantu aku mengalihkan perhatiannya."

Natalia memicingkan mata curiga. "Bukankah kau juga jatuh cinta dengan penjahat, Gil? Apa Elizaveta bukan penjahat?"

"Ah, lalu Mathias memangnya tidak pernah menjadi penjahat?"

DOR!

"Jeez!" Gilbert langsung menutup telinga.

Kilatan api disusul desingan peluru yang meledakkan meja bar, menghujam keras tepat di atas kepala Gilbert. Sontak kelimanya tiarap melindungi diri, sambil menutup telinga kuat-kuat, menghindari desibel suara ledakan yang menulikan telinga. Bar tempat mereka bersembunyi bergetar hebat seperti tersambar petir. Sementara itu, hasil dari ledakan tadi membuat lemari minuman bir di hadapan mereka pecah terburai dan meninggalkan bekas gosong berbentuk bulat, sisa tembakan akibat peluru yang baru saja mendesing menembus tembok.

Setelah merasakan keheningan, Ned buru-buru menegakkan punggung dan mendekatkan diri ke pinggir meja sambil mengacungkan senjata yang sudah siap dengan posisi siaga. "Kalian, pergilah." bisiknya tanpa menoleh.

Gilbert buru-buru memukul bahunya sambil menggurutu. "Jangan, sok pahlawan! Kalau kau mati masalahnya akan menjadi lebih rumit."

Pemuda Jerman itu kemudian menujuk kamera Antonio yang masih menyala. "Pemirsa di rumah tidak mau melihat mayat lebih banyak lagi di tayangan kami. Jadi, kau juga tidak boleh mati. Kami tidak mau itu terjadi." desis Gilbert.

"Keluar, lah! Kalian tidak mungkin bersembunyi sampai malam di sana, bukan?" Suara seorang wanita sensual terdengar dari balik meja bar, tampaknya dari sang penembak.

"Aku menunggumu kemari, Sayang." balas Francis genit.

"Jika memang itu yang kau harapkan." Terdengar suara desis mencemooh dari sang wanita.

Keempat orang tersebut langsung menoleh ke arah Francis dengan tatapan melotot seolah berkata 'Lihat apa yang sudah kau perbuat?'.

Suara langkah sepatu boot terdengar semakin mendekat.

"Saat aku mengalihkan perhatiannya, kalian harus segera menyelamatkan diri. Meja ini bukan tempat yang aman untuk bersembunyi."

"Tunggu, apa maksudmu—"

Perkataan Gilbert terpotong saat Ned berlari meloncat dari persembunyian dan bergegas berlari menuju dinding terdekat sambil menundukkan badan dan mengatur arah tembakan ke arah tengah-tengah ruangan. Pria Belanda tersebut mengeluarkan tembakan-tembakan sporadis yang memburu target di tengah ruangan.

DOR! DOR! DOR!

Desing-desing peluru beradu dari dua sisi, Ned dan penembak misterius melancarkan gema ledakan-ledakan memekik yang menggetarkan seisi restoran.

Seluruh orang sudah melarikan diri, atau pada dasarnya memang dibiarkan lepas oleh kedua orang penembak gila tersebut, menyisakan hanya ada Ned dan kru The NEWS di dalam sana.

"Dasar gila!" pekik Gilbert. Mau Airlangga, mau Ned, dua-duanya sama-sama sakit jiwa.

Menyadari bahwa di situasi ini dirinya tidak boleh panik, reporter berdarah Jerman tersebut menarik napas panjang-panjang, sambil mengayunkan tangan mengikuti pola sirkulasi udara yang keluar dan masuk. "Oke, tenang, tenang, tenang."

Tak butuh waktu lama, selang beberapa detik kemudian, seperti menambahkan ide dari Dewa Perang Yunani, Gilbert langsung menjentikkan jarinya. "Ah! Antonio, aku mau kau pergi ke dinding sebelah sana dan diam! Pastikan kau bisa mengambil gambar dari sudut terbaik dari sana. Ini adalah kesempatan emas yang bisa menaikkan level liputan kita!" jerit Gilbert dengan reaksi menggebu dan mata menyala kegirangan.

Natalia memicingkan mata. "Gil. Antonio bisa mati tertembak."

Gilbert langsung menepis perkataan itu jauh-jauh dan tetap berfokus pada sahabat Latinnya. "Dia adalah kameramen." jeritnya bersemangat. "Dan di tayangan mana pun, juru kamera selalu selamat! Aku yakin kau adalah orang yang awesome, jadi, aku percaya padamu!"

"Itu adalah ucapan semangat terbodoh yang pernah kudengar seumur hidupku."

Terdengar erangan Ned dari kejauhan. Pria Belanda itu nampak memegangi lengannya dengan ekspresi kesakitan. Di lengan bajunya, terlihat cetakan warna merah yang merembes semakin luas di sepanjang kemejanya.

Sementara Ned masih berusaha mengalihkan perhatian dengan terus menembakkan sisa butiran peluru yang tersisa, Gilbert memberi komando pada Antonio.

"Sekarang, Antonio!"

Antonio berlari keluar dari persembunyian menyelinap di antara meja-meja dan kursi sambil menundukkan kepala. Dipegangnya kamera di tangannya dengan erat. Menyadari seorang lagi baru saja keluar dari tempat persembunyian, fokus kedua penembak itu segera pindah ke Antonio. Senapan langsung terbidik ke arah sang kameramen Spanyol tersebut.

Francis dan Gilbert langsung buru-buru mengambil botol-botol bir yang berserakkan di lantai dan melemparkan botol-botol kaca tersebut ke udara, tepat di arahkan ke titik tempat kedua penembak itu berdiri. Sambil terus berusaha menyembunyikan tubuh dari balik meja bar, kedua kru The NEWS tersebut berusaha mengambil apa pun benda yang berada di sekliling mereka untuk dilemparkan.

Melihat botol-botol bir beraneka bentuk melayang ke udara, sontak mengalihkan perhatian kedua penembak itu seketika.

Dan tak hanya botol bir, kini disusul dengan terbangnya sejumlah piring, gelas, bahkan sampai asbak rokok ke arah mereka.

Martín dan Victoria sibuk menyelamatkan diri dari terjangan benda-benda kaca yang berterbangan seperti hujan meteor dari angkasa. Sementara bom-bom kaca yang berterbangan itu mengalihkan perhatian mereka sesaat, Natalia keluar dari tempat persembunyian.

Wanita itu berlari gesit ke arah salah satu meja terdekat, mengambil sejumlah bilah pisau yang tergeletak begitu saja di lantai dan menderap laju menuju meja terbalik lainnya yang terletak tak jauh dari mereka.

Di saat Martín dan Victoria sibuk melindungi dan menyelamatkan diri dari terjangan botol dan kaca, Natalia semakin menambah kekacauan dengan melemparkan pisau-pisau dan garpunya di saat kedua penembak itu lengah. Tak ayal benda-benda tajam lain seperti pisau steak dan garpu makan pun turut menjadi senjata tambahan bagi mereka untuk menyelamatkan diri dari serangan senapan.

Sementara itu, di tengah kekacauan yang tengah berlangsung, Antonio yang pada saat itu berdiri merapat di balik pilar persembunyiannya, merekam seluruh adegan kerusuhan itu dengan terpana.

Martín dan Victoria memaki dengan kasar sebelum berangsur-angsur berjalan mundur dan ikut mencari tempat persembunyian akibat serangan besar-besaran yang dilancarkan. Kedua penembak tersebut terpaksa merapatkan tubuh ke dinding terdekat, guna menghindari area hujanan perangkat makan yang berterbangan.

"Sudah lelah?" tanya Gilbert dari balik bar.

Martín tertawa setengah mendengus. "Mimpi saja kau!"

"Cepat atau lambat kalian akan kehabisan bahan!" sahut Victoria, kembali mengokang senjatanya untuk aksi babak kedua.

Francis tersenyum mendengar kata-kata tersebut.

Sang pengemudi The NEWS tersebut mengeluarkan pemantik rokok dari sakunya. Gilbert mendelik heran saat melihat Francis menyalakan pemantik apinya dan mengatur tekanan gas agar menyala pada intensitas api paling tinggi.

"Apa yang kau lakukan, Francis?"

"Hal terkeren yang akan kau saksikan. Aku terinspirasi ini dari keluarga mereka. Jadi, yah, anggap saja aku murid yang berbakat." Francis menggedikan bahu dengan cuek, sambil sesekali melirik ke balik meja bar. Mata birunya melihat ke arah genangan alkohol yang menyebar di area lantai yang luas, hasil sisa-sisa botol bir yang pecah berserakan.

"Jangan bilang kau akan ... "

"Tepat seperti yang kau pikirkan." Ia menyeringai.

Francis melempar pemantiknya ke arah genangan bir yang luas dan penuh, kontan menimbulkan reaksi kimia antara alkohol dan api yang langsung menyebabkan erupsi ledakan kecil dan menggetarkan lantai, hingga menimbulkan piramida api yang tinggi hingga ke langit-langit. Rantai api yang tercipta menimbulkan kobaran api rendah yang menjalar ke seluruh area genangan alkohol yang tersisa. Dalam waktu singkat, gemuruh api yang membara seketika membentuk sekat di antara mereka dan para penembak.

Kini, baik kelompok The NEWS maupun bagi para penembak senapan laras panjang tersebut, sama-sama kesulitan untuk melihat atau pun menjangkau satu sama lain. Dan hal ini memberi keuntungan sementara bagi para kelompok reporter yang terjebak di dalam sana.

Menyadari kalau mereka berada dalam kondisi terjepit sekarang dan kesulitan untuk melancarkan aksinya, Martín dan Victoria mendecih kesal.

Gilbert buru-buru menarik Ned dari tempat persembunyiannya dan membantu pria Belanda tersebut untuk berdiri.

"Lihat, kan, kami adalah grup reporter terbaik!"

Ned mengangguk-angguk malas. "Ya, ya. Sekarang bawa aku pergi dari sini. Tapi, ngomong-ngomong, kurasa kita harus mengganti kerugian di restoran ini." ujarnya lirih memandang kekacauan di sekitar.

"Ah, tentu saja. Kau punya banyak uang, kan, Tuan Flying Dutchman?"

"Kenapa aku?"

"Anggap saja itu seserahan untuk Airlangga."

Antonio dan Natalia berlari keluar dari tempat persembunyian dan bergabung dengan Gilbert, setelah memastikan mereka aman dari serangan.

Tak berapa lama Francis keluar dari balik persembunyiannya dan berjalan mendekat ke arah kobaran api sambil merentangkan kedua tangannya.

"Lihat, lah." Di antara gerilya kobaran tarian api yang menggila dan meliar di tengah-tengah ruangan, nampak siluet Francis yang tengah merentangkan tangan dengan senyum cerah. "Ini api cintaku, Victoria."

Victoria Kirkland langsung mendelik ketika menyaksikan pemandangan itu dengan reaksi ingin muntah.

"Kau kenal orang Eropa gila itu?" tanya Martín mengerling.

"Tidak." Victoria menggeleng. "Dan tidak ingin kenal."

Menyadari bahwa mereka mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri, Gilbert langsung mengambil ketiga temannya dan menyeret Ned berlari ke luar ruangan. "Terima kasih untuk harinya!"

"Je t'aime, ma belle. (I love you, beautiful.) " Francis yang melemparkan kedipan dan ciuman jarak jauh ke arah Victoria, sebelum mereka menghilang dari balik jendela.

.

.

Hotel Swissôtel Métropole, Geneva, Switzerland

Setelah memenuhi permintaan Airlangga, Lukas mematikan kamera, menghela napas, melemparkan punggung ke sandaran dengan lelah, kemudian duduk selonjoran sambil melipat tangan. Matanya yang dingin menatap Airlangga dengan tatapan memicing.

Airlangga yang duduk tak jauh tempatnya melemparkan tatapan memicing yang sama.

Lukas bangkit berdiri.

"Aku harus minta kenaikan gaji setelah ini." gerutunya letih sebelum meninggalkan kursi dan berjalan dengan tubuh lunglai menuju tempat tidur.

"Kau gila." kata Mathias Kohler kepada Airlangga yang duduk tak jauh darinya. Ia memandangi sang remaja Asia dengan heran setelah sesi rekaman mereka berlangsung.

"Aku telah hidup dengan dikelilingi orang gila." kata Airlangga Putra Brawijaya. "Wajar, lah, jika aku menjadi gila."

"Terserah, lah." Mathias mengibaskan tangan. "Tapi, asal kau tahu saja. Kami tidak akan menerbitkan video ini sampai Kirkland ditemukan." Penekan kata per kata dituturkan.

"Ya. Aku tahu itu." Airlangga memutar bola mata dengan malas. "Aku harus diam di sini dan berusaha untuk tidak terbunuh. Persis seperti komandamu."

"Benar. Kau semakin pintar." Ia menepuk tangannya. "Nah, sekarang, tugas tambahanmu adalah memastikan cincin tunangan mengerikanmu itu agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Nyawamu sekarang setara dengan benda itu." desisnya menunjuk benda mungil yang melingkar di jari manisnya.

Airlangga tersenyum miris sambil memandangi benda berkilauan yang sudah menemaninya selama beberapa bulan terakhir ini. "Miris. Aku tadi sungguh benar-benar berniat akan membuangnya saat mulai mengingat segalanya, terutama gara-gara impersonasimu yang gagal itu." balasnya ketus. "Yah, tapi kurasa aku masih harus terjebak dengan orang itu untuk beberapa waktu lagi."

Mathias mengerti maksud pemuda itu. "Ya. Setelah semua ini berakhir, kau boleh melakukan apa pun dengan cincin itumau pun dengan hubungan kalian berdua. Tapi, untuk sekarang, kau tidak punya pilihan lain selain bersikap kooperatif dengan kami."

Airlangga mengangguk-angguk tidak fokus, sambil menuliskan sesuatu pada buku agendanya.

Sang agen rahasia dari Denmark itu memicingkan matanya curiga saat menyadari si pemuda Indonesia tidak lagi memerhatikannya. "Apa yang sedang kau tulis?"

"Kau, Ned, cincin tunangan kami, dan semua peristiwa gila yang sedang kualami sekarang." Mendengus setengah tertawa dengan nada santai. "Aku adalah seorang jurnalis. Sudah menjadi tugas dan tanggung-jawabku untuk mencatat informasi-informasi yang ada."

"Naif." Lukas menyahut ujung dari tempat tidurnya. "Kau akan mendapatkan berita yang terbaik saat di Arkansas, bukan di sini. Tapi, ngomong-ngomong, kau bisa bertemu dengan teman-temanmu beberapa jam lagi. Kudengar mereka berhasil menumbangkan sejumlah kru Kirkland di sana."

.

.

to be continued


A/N: Yees, saya excited banget masukin Argentina dan Falkland Island karena appearance-nya sangat-sangat memanjakan mata uwu Dan YES France memang ada hubungan dengan Falkland Island. Di sekitar abad ke-18, Falkland Island sempat diklaim sama France dan masalah itu baru kelar di tahun 1770-an. Jadi, bucinnya France bukan tidak beralasan di sini, lol. Dan setelah masalah akuisisi itu selesai, di tahun 1990-an Argentine pun ikut berjuang untuk perebutan Falkland. Wowow.

Argentine: Martin Hernandez (FYI, ternyata Argentine sempat muncul di anime-nya lho)

Falkland Island: Victoria Kirkland (Ini namanya saya dapat dari web fanmade Hetalia, hoho, jadi jangan gigit saya)

Ditunggu reviewnyaa!

Sign,

Rapuh