Memoir

By Lyreinata-chan

Naruto by Masashi Kishimoto

Don't Like Don't Read

.

.

.

.

.

.

Hinata mengingat-ingat saat dimana ia membeli sebuah kacamata ketika SMP. Kacamatanya yang lama perlu diganti karena kacanya yang pecah terinjak. Saat kacamatanya sudah berupa barang rusak, ia langsung menatap ke depan, dimana kerumunan yang tadi telah menginjak barang berharganya. Pusat kerumunan ada di sana tentunya, hanya diam meladeni kata-kata dari gadis seantero sekolah yang sudah terbiasa menempel padanya. Hinata kesal bukan main, memperhatikan bagaimana kerumunan tersebut beranjak setelah menginjak kacamatanya, tidak ada kata maaf atau apapun yang mereka tinggalkan untuk Hinata.

Hinata menggigit bibir bawahnya, ia meyakinkan diri bahwa semua ini memang salahnya, tidak seharusnya ia tersandung ketika buru-buru menyingkir saat gerombolan Sasuke akan lewat. Semua ini salahnya, dan ia tidak berhak membatin kesal karena siapapun itu, karena di sini yang salah adalah dirinya. Ia membungkus kacamatanya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa, dan di sana ia pergi tanpa menoleh kepada gerombolan Sasuke, atau bahkan siapapun di sana. Hinata hanya ingin pergi, secepatnya dan menangis sepuasnya karena barang pemberian mendiang ibunya yang tak bisa ia jaga.

Teringat akan kejadian tersebut, sudah pasti walaupun sudah sekian tahun berlalu akan terasa canggung jika langsung berhadapan dengan Sasuke sang pusat gerombolan gadis-gadis di sekolahnya dulu. Dalam kejadian tak terduga mereka bertemu kembali, dan Hinata rasa bukan hal yang baik jika ia menyapa lebih dahulu. Sasuke memang sudah tidak dikelilingi gadis-gadis yang bertingkah manja yang suka mencari perhatian. Sasuke yang sekarang selalu bersama kelompoknya, yang Hinata taksir mungkin mereka berkenalan sejak SMA karena waktu SMP para siswa laki-laki terlihat begitu membenci Sasuke walaupun sebenarnya mereka kagum padanya. Pesona Sasuke sebagai ketua OSIS tidak mudah untuk ditolak.

Hinata berjalan canggung, kantin kampus begitu ramai. Ia kebetulan memang diajak oleh teman-temannya untuk berganti suasana dengan mencoba makan di kantin fakultas Kedokteran, seingatnya Sasuke mengambil jurusan Teknik Industri, sehingga keterkejutan yang ia miliki berpusat pada kata-kata 'kenapa ia ada di sini?'. Nampan berisi paket makan siang yang terkenal enak di kantin terasa tidak menggoda lagi bagi Hinata. Yang ia pikirkan hanyalah lari dari Sasuke. Hinata merutuk, kenapa meja yang ditempati Sasuke merupakan satu-satunya jalan yang bisa ia lewati, karena meja Hinata dan teman-temannya tepat di sebelah meja mereka.

Sasuke ada di sana, menatapnya dengan tatapan mata tajam yang ia miliki. Hinata balas menatap namun hanya sedetik dan kemudian menunduk. Ia berjalan dengan cepat, ingin lekas pergi dari tatapan Sasuke. Ia sudah akan mencapai mejanya ketika sebuah tangan menarik pelan kaos berkerah yang ia pakai di bagian punggung. Hinata tak ingin menoleh, namun yang dilakukannya malah berkebalikan. Ia menoleh, memasang senyum kaku pada Sasuke yang memandangnya datar.

"Oh… Hai Sasuke," cicitnya ragu.

.

.

.

.

"Bagaimana kabarmu?" suara rendah dan seksi (menurut teman-teman Hinata) menyapa pendengarannya.

"A- aku baik Sasuke-kun, Sasuke-kun sendiri bagaimana kabarnya?" ini yang dibilang manis bibir. Hinata terlalu sering menanggapi pertanyaan basa-basi hingga ia bisa lancar berbicara seperti itu pada Sasuke.

Hinata merasa tak nyaman di kursinya, setelah tadi Sasuke menariknya, dengan cepat Sasuke membawa Hinata ke meja kosong diiringi suara siul-siul dari teman-teman entah itu Sasuke maupun Hinata. Ia tak nyaman diperhatikan, ia sudah merasa bahwa pesona Sasuke tidak luntur walaupun di bangku kuliah, Hinata merasakan banyak sekali pandangan yang ditujukan padanya ketika ia duduk dengan Sasuke seperti ini.

"Kabarku? Aku baik-baik saja," ucap Sasuke dan Hinata hanya bisa mengangguk seadanya.

"Ahh seperti itu, baiklah." Hinata mencoba mengakhiri percakapan singkat ini.

Sasuke diam, mengarahkan tangannya pada bibir Hinata yang tertutup lipstick hasil makeover Sakura tadi pagi. Ia mengusap pelan, dan menghapusnya dengan lembut. Hinata memejamkan mata, merasakan tekstur jari kasar Sasuke mengusap lembut bibirnya. Ini adalah tanda non-verbal dari Sasuke bahwa ia tak suka Hinata memakai lipstick seperti ini.

"Hei Hinata, aku masih menunggu jawabanmu."

.

.

.

.

.

Hinata memperhatikan bibir dosen akuntansinya yang mengajar di jam siang. Ia memperhatikan bagaimana sang dosen mengolok-olok mahasiswa yang walaupun sudah melewati pelajaran pengantar akuntansi masih tidak bisa membedakan debet dan kredit. Mata bulannya memperhatikan tapi tidak dengan otaknya yang masih terus memikirkan ucapan pangeran kampus (kata Ino) di kantin tempo hari. Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa sang maha Sasuke yang tampan menunggu jawaban darinya.

Jawaban apa?

"Bisa dibilang, dulu Sasuke menyatakan perasaan padaku.. emm mungkin? Aku tidak terlalu yakin." Ucap Hinata ketika diinterogasi oleh Ino dan Tenten perihal pertanyaan Sasuke di kantin. For your information, Sasuke saat itu tidak repot mengecilkan suara ketika berbicara perihal privasi (menurut Hinata) tersebut sehingga otomatis meja di sebelah mereka bisa mendengar pembicaraan mereka, terlebih yang memang sedari awal memiliki niat untuk mencuri dengar pembicaraan mereka seperti Ino dan Tenten teman satu jurusannya ini dan juga teman-teman Sasuke yang reflek langsung bersuit kencang setelah mendengar ucapan privasi (menurut Hinata) tersebut.

Sedari awal Hinata sudah mengakui bahwa Sasuke bukan salah satu pilihan untuknya, apa yang ingin Hinata hindari selalu ada pada diri Sasuke, dan Hinata benci mengakui bahwa ia tidak bisa berkata bahwa ia tak menyukai pemuda itu.

Hinata mendesah lelah, dan berhenti memperhatikan dosen tersebut, disebelahnya Ino diam-diam mengirim text entah kepada siapa, sungguh lihai jemarinya dibawah meja sedangkan wajah dan matanya masih menatap ke arah dosen. Hinata mengakui bahwa skill seperti ini yang sampai sekarang tidak bisa ia kuasai

"Ino hebat," batin Hinata tulus.

.

.

.

.

.

.

"Kau menghindariku?" suara itu membuat Hinata mempercepat langkah. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan Hanabi untuk membahas Music Video dari idol kesayangannya. Membahas pemuda tampan yang secara gamblang tidak bisa ia miliki lebih menyenangkan, daripada membahas sesuatu dengan pemuda tampan yang melemparkan dirinya untuk dimiliki. Otak Hinata sudah mampet, terlalu rumit apa yang ia pikirkan hingga membuatnya memegang kepala karena pusing.

"Kau tidak apa-apa?" suara itu berkicau lagi.

'Terus berjalan Hinata, jangan hiraukan.'

"Kenapa menghindariku?"

"…."

"Kalau kau pusing, biarkan aku mengantarmu. Bagaimana kalau kau pingsan dijalan?"

"…"

"Kau kan berat, bagaimana jika tidak ada yang menggendongmu pulang?"

"…"

"Begini-begini aku kuat menggendongmu, iya kan?"

"…"

"Bahkan ketika kita melakukannya dengan posisi aku menggendongmu aku kuat, iya kan?"

"APA SIH?"

Sasuke kenapa sih? Banyak tanya deh hari ini. Wajah Hinata memerah geram, menahan malu dan menahan perasaan lain yang tercampur baur.

Sasuke diam dengan wajahnya yang lempeng dan menatap Hinata yang kehilangan kendali.

.

.

.

.

"Jadi, mau kan kuantar pulang?"

.

.

.

.

.

TBC