Halo semuanya, ini pertama kalinya aku menulis fanfiction di fandom Kimetsu no Yaiba ^^
Sebenarnya, dari semua pairing yang para fans Kimetsu no Yaiba buat, aku hanya menyukai pairing Zenitsu x Nezuko, karena Zenitsu so sweet banget, mengorbankan dirinya terluka untuk melindungi Nezuko, padahal dia udah tahu dari awal kalau Nezuko itu iblis ~
Dah ya, langsung baca aja, semoga suka, review sangat diperlukan untuk perkembangan cerita ^^
.
.
Kimetsu no Yaiba
Credit: Koyoharu Gotouge
Rate : Semua Umur
.
.
Selama ini, jumlah wanita yang kuminta untuk menikah denganku sudah tidak terhitung banyaknya lagi. Namun, semua itu hanyalah karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya menikah dengan seseorang sebelum tubuhku menjadi santapan para iblis, bukan karena cinta. Aku ingin seandainya nyawaku tidak selamat selama menjalankan misi yang lebih dari kata berbahaya itu, setidaknya ada seseorang yang merasa kehilangan diriku.
Mungkin kalian pikir aku adalah orang yang aneh, menikahi seorang wanita hanya karena ingin ditangisi kepergiannya dari dunia ini. Apa boleh buat, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, keluargaku menelantarkanku, mantan hashira yang dengan baik hati mau melunaskan semua utangku dan menjadikanku sebagai salah satu penerusnya meninggal karena bunuh diri, akibat seseorang yang dulunya aku menaruh rasa hormat padanya.
Dendam? Tentu saja. Rasa hormat yang kutorehkan pada Kaigaku hilang begitu saja saat menerima surat yang memberitahukan bahwa Jii-chan membunuh dirinya sendiri beserta penyebab Jii-chan melakukan hal yang sangat mengerikan itu.
Perasaanku campur aduk ketika membaca surat itu. Sedih, marah, kesal, kaget, serta dendam bercampur menjadi satu, terutama saat Kaigaku mengatakan alasannya memutuskan untuk menjadi iblis.
Pertemuanku dengan Tanjirou mengubah segalanya, aku yang dulunya penakut, cengeng, menyebalkan, dan juga menyedihkan, perlahan kubuang seluruh sifat itu, karena pemburu iblis tidak memiliki semua sifat negatif itu.
Masih jelas dalam ingatanku, nyawaku seakan hampir lepas ketika melawan mantan rekanku, Yushirou yang mengobatiku memberikan kata-kata yang menyemangatiku, bahwa aku tidak boleh mati.
Ngomong-ngomong soal mati, dulu aku selalu berpikir bahwa kematian lebih baik untukku, aku tidak sanggup menanggung beban ujian hidup yang begitu berat, apalagi ketika Jii-chan melatihku memegang katana dengan pernafasan petir.
'Jii-chan...' Air mataku mengalir deras, bayang-bayang seseorang yang sangat berjasa dalam hidupku muncul dalam otakku.
'Maafkan aku...' Aku mengepalkan kedua tanganku dengan erat. Haha, sepertinya sifat cengengku kembali.
Lima tahun telah berlalu sejak kami berhasil memusnahkan Muzan, kehidupan damai yang sempat hancur pada ratusan tahun yang lalu telah kembali, kami sangat senang, akhirnya setelah banyak orang yang mengorbankan dirinya (terutama Rengoku-san, Tokitou-san, dan Shinobu-san) kami berhasil meraih apa yang menjadi tujuan kami, menumpas para iblis hingga ke akar-akarnya.
Sejak itu jugalah aku tidak tahu bagaimana kabar teman-teman seperjuanganku sekarang, aku hanya bisa mengira-ngira kalau para wanita di kediaman kupu-kupu itu meneruskan klinik yang dibangun oleh keluarga pemilik aslinya. Inosuke? Apalagi. Ia menghilang begitu saja seperti tertiup angin.
Kudengar, Tanjirou pindah ke kota setelah adiknya, Nezuko, berhasil kembali menjadi manusia, namun aku tidak pernah berhasil menemukan alamat mereka yang sekarang.
"Hhh..." Aku hanya bisa mendesah panjang, harapan untuk bertemu kembali dengan seorang wanita yang benar-benar kucintai tampaknya sia-sia.
Langkahku terhenti di depan sebuah toko tradisional yang menjual aneka macam bunga. 'Nezuko-chan, ia suka bunga apa ya?' Dadaku tiba-tiba terasa sesak, bahkan untuk bernapas saja rasanya sulit.
"Hei, apa kau tidak lihat hah?! Apa matamu buta hingga tidak melihatku yang berjalan di depanmu?!" Gertakan seseorang sontak membuat perhatianku terpusat padanya.
"Sa-saya benar-benar minta maaf..." Terdengar suara ketakutan dari gadis yang kulihat terduduk dengan barang belanjaannya yang berantakan di sekitarnya.
Aku terdiam, rasanya ingin sekali menolong gadis itu, tapi entah kenapa kakiku terasa kaku untuk digerakkan.
"Hah? Maaf saja tidak cukup tahu! Kau harus mengganti biaya untuk mengobati kaki dan tanganku yang terluka gara-gara kau tadi!" Kalimat itu membuat amarahku langsung memuncak, masa' hanya karena ditabrak seorang wanita tidak berdaya sampai segitunya?
"Ta-Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi!" Pria besar yang menjadi biang kerok itu mengayunkan tinjunya, hendak memukul gadis itu hingga babak belur hanya dengan sekali pukul.
"HENTIKAN!" teriakku, kakiku yang akhirnya bisa digerakkan langsung mengantar tubuhku untuk melindungi gadis itu.
"Kau menuntutnya hanya karena ia menabrakmu? Apa kau sudah gila?!" bentakku dengan kedua tangan kurentangkan untuk menghalau pria sialan itu memukul seorang gadis.
"Siapa kau? Main ikut campur saja..." Tatapan seramnya tidak berpengaruh untukku, karena aku sudah biasa mendapat tatapan tajam penuh hasrat membunuh dari para iblis.
"Seharusnya kau menjawab pertanyaanku, bukannya malah balik bertanya!" balasku dengan penuh keberanian. Tampaknya aku harus berterima kasih pada Tanjirou karena telah membuatku menjadi orang yang pemberani.
"K-kau..." Dari suaranya, aku tahu ia marah besar, walaupun ia seorang yakuza sekalipun, seharusnya ia bisa menahan rasa egonya yang sangat besar itu.
Matanya yang berapi-api dan aura gelap yang mengisi sekitarnya tidak membuatku goyah untuk melindungi gadis yang di belakang punggungku ini, aku tahu aku lemah, tapi lebih baik aku yang dihajar olehnya.
Setelah beberapa menit kami saling melemparkan tatapan, tiba-tiba ia melarikan diri begitu saja, "Tunggu saja kau! Lain kali aku akan menyeretmu ke liang lahat!" teriaknya mengancamku.
Saat melihat sekitar, aku baru mengerti kalau beberapa orang polisi dipanggil oleh warga yang melihat kejadian barusan. Para polisi segera mengejar pria tadi, sedangkan para warga membantu kami dan menanyakan apakah kami baik-baik saja.
Setelah kejadian itu, aku khawatir pada gadis itu hingga memutuskan untuk mengantarnya pulang, aku takut kalau ia pulang sendirian, kejadian seperti tadi atau bahkan lebih parah lagi bisa saja menimpanya.
"Terima kasih..." Selama perjalanan kami, baru sekarang aku mendengar suaranya dari jarak yang dekat, itupun karena kami sudah sampai di depan rumah tempatnya tinggal.
Saat mendengar suaranya, rasanya seperti tidak asing, aku yakin aku pernah mendengar suara ini sebelumnya, tapi... di mana? dan... kapan?
"Terima kasih, Zenitsu-san... kamu memang orang yang baik," tambahnya, yang membuatku melongo mendengarnya.
"Aku memang tidak ingat, tapi aku bisa merasakan bagaimana kamu sangat melindungiku dari bahaya beberapa tahun yang lalu." Kedua mataku melebar, wajah manis ini... aku... aku ingat siapa wanita yang tengah berdiri di hadapanku ini.
Jantungku berdetak tidak karuan, kelopak bunga yang sempat rontok dalam hatiku bermekaran kembali, tangisanku tumpah begitu saja.
"Nezuko... chan?" Kusebut namanya di tengah isakanku.
Nezuko, wanita nomor satu di hatiku, yang sempat menghilang dari kehidupanku kini memunculkan dirinya tepat di depanku, memasang wajah senyuman yang paling indah di dunia.
Aku hanya bisa mengusap air mata yang terus keluar dengan kedua tanganku, rasanya aku malu untuk melakukan sesuatu tepat di depan kedua matanya.
"Nezuko? Kamu sudah kembali?" Suara ini... suara yang sangat kukenal, suara yang terdengar lebih lembut dari apapun.
"Zenitsu-san, ayo masuk..." Aku tidak percaya ini, Nezuko menggandeng tanganku? Apa yang terjadi? Seharusnya ia tidak mengenalku kan? Aku hanyalah orang yang muncul di kehidupannya saat ingatannya tengah terhapus karena virus iblis itu.
"Zenitsu?" Tanjirou memunculkan kepalanya, entah karena ia mendengar adiknya menyebut namaku atau ia yang mencium aromaku dengan hidungnya yang tajam itu.
"HUAAAA! TANJIROU!" Aku langsung menghambur memeluk sahabat lamaku, betapa rindunya aku pada sosok yang satu ini.
"Zenitsu, akhirnya kita bisa bertemu lagi." ucap Tanjirou dengan nada senang dan juga terharu.
"TANJIROUUU!" Aku memeluknya lebih erat sama seperti dulu ketika aku memeluk kotak berisi Nezuko yang dibawa olehnya dari belakang.
Setelah sesi yang mengharubirukan itu, Tanjirou mengajakku untuk berbincang, dari situlah aku tahu bahwa sebelum Tanjirou menceritakan tentangku pada Nezuko, ia sudah tahu lebih dulu, ia bilang bahwa ia merasakan sesuatu berharga muncul di dalam hatinya sewaktu aku melindunginya dulu.
"Zenitsu, Nezuko pernah bilang padaku bahwa ia menyukaimu," ucap Tanjirou saat sang adik pergi ke dapur untuk menyiapkan teh.
"EEH?!" Wajahku seketika memerah, tidak mungkin Nezuko menyukaiku!
"Kau bohong, Tanjirou! Nezuko-chan tidak mungkin menyukaiku, lagipula ini pertemuan pertama kali sejak ia kembali jadi manusia!" bantahku.
"Zenitsu, kamu punya telinga yang bagus, kamu bisa tahu aku berbohong atau tidak kan?"
Aku terbungkam, benar katanya, aku bisa tahu ucapan Tanjirou barusan tidak bohong sama sekali.
"Oh iya, ia juga bilang kalau menikah, ia maunya menikah denganmu."
Orang ini... ia tahu betul caranya untuk membuat wajahku memanas dan memerah seperti tomat masak.
"Ada apa sih?"
Jantungku hampir saja meloncat keluar karena kemunculan Nezuko yang tiba-tiba.
"Zenitsu-san, apa kamu sakit? Wajahmu sangat merah," tanyanya dengan nada polos.
"Ti-tidak, a-aku b-baik-baik s-saja, k-kok," ucapku menyembunyikan rasa gugupku.
Aku hanya bisa berteriak kesal dalam hati saat melihat wajah teduh Tanjirou yang tersenyum padaku, seolah ingin menggodaku. Walau begitu, sekarang aku bahagia karena sisi kehidupanku yang terasa kosong kembali terisi karena berhasil bertemu kembali dengan mereka berdua, mungkin suatu saat nanti, kami bisa bertemu kembali dengan Inosuke beserta teman-teman seperjuangan kami lainnya seperti dulu.
おわり
Bagaimana ceritanya nih? :))
Sebenarnya aku mau buat yang lebih panjang lagi, tapi entah kenapa nulisnya jadi dikit.
Mungkin ada yang mau cerita ini dilanjutin? Ehehe :D
Tapi sayangnya sepertinya cerita ini aku jadiin satu chapter aja berhubung baru pertama kali menyelam ke fandom Kimetsu no Yaiba ^^
Terima kasih sudah membaca ^^
Akhir kata, sampai ketemu lagi ~
