Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

Teratai putih

.

Mempersembahkan

.

Namamu adalah Mimpiku

.

Pair: Yamanaka Inoichi X Haruno Sakura

Genre: Romance dan Hurt/comfort

Rate: T/M

WARNING : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s)

Summary: Inoichi telah memberikan bunga Gardenia padanya. Pria itu bertanya padanya dengan tulus. Sekarang, Sang Gadis Musim Semi telah memegang bunga Gerbera sebagai jawaban. Sakura tidak akan meninggalkannya kecuali maut memanggil mereka.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

"Inooo!"

Inoichi mendongak dari pekerjaannya. Mendengar suara keras yang baru di dengarnya. Pria itu berdiri dengan perlahan, dan melihat siapa gerangan yang datang. Yang pasti bukan pelanggan, karena pelanggan tidak akan datang dengan berteriak memanggil nama putrinya.

Seorang gadis kecil. Inoichi menebak gadis itu seumuran dengan putrinya. Gadis yang cukup unik dengan rambut berwarna merah muda lembut. Seperti warna permen kapas yang biasa dia beli di festival.

"Halo," Inoichi melepas sarung tangan yang dikenakannya.

Gadis itu langsung berpaling. Mata hijau cerah itu memandangnya dengan keraguan.

"Tampaknya kau mencari Ino, apa kau temannya?" Tanyanya ramah.

Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Iya, Tuan," Gadis itu terdiam. "Nama saya Haruno Sakura."

Inoichi tidak kehilangan pendengarannya. Pria itu mendengar ada nada keraguan dan ketakutan pada suara Gadis Sakura ini.

"Sakura, ya. Nama yang indah. Sesuai denganmu," Ujarnya sambil tersenyum. "Ino ada di dalam. Tunggulah di sini, aku akan memanggilnya."

Dengan itu, Inoichi meninggalkan si Gadis Merah Muda sendirian. Inoichi menemukan putrinya sedang di dapur dan memasak dengan ibunya.

"Ino, temanmu yang bernama Sakura sedang mencarimu di toko." Ujarnya.

Senyum lebar terbentuk di wajah cantik putrinya. Gadis itu langsung melompat dan berlari ke luar dari dapur menuju toko bunga mereka. Istrinya hanya memandang geli pada pemandangan itu. Inoichi membalas senyum sang istri dengan senyuman sebelum kembali ke tokonya.

Pemimpin klan Yamanaka itu menemukan dua gadis sebaya tengah bercengkrama berdua dengan ceria. Senang dia menemukan anaknya memiliki teman perempuan yang sebaya, dan tidak hanya bermain dengan Shikamaru dan Chouji. Tidak masalah sebenarnya. Hanya saja, Inoichi ingin anaknya juga berperilaku seperti seorang gadis. Jika Ino terus bermain dengan dua pemuda itu, bisa-bisa putrinya akan kehilangan sisi feminimnya.

"Ayah, aku akan keluar dengan Sakura." Ujar Ino ketika menghampirinya yang masih berdiri di ambang pintu.

"Pulanglah sebelum makan malam atau Ibumu akan berubah menjadi Jorogumo."

Ino hanya menanggapinya dengan tertawa. Inoichi dapat menangkap wajah kebingungan dari Gadis Sakura itu. Putrinya berbalik dan langsung menyeret tangan Sakura bersamanya. Inoichi kembali tersenyum. Pria itu kembali kepada pekerjaannya yang tadi tertunda. Senang dengan senyuman manis dari putrinya.

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Inoichi menjadi sering bertemu dengan si Gadis Sakura. Ino tampaknya menjadi sangat dekat dengan Sakura. Gadis itu menjadi sering datang ke rumah mereka. Terkadang sambil menunggu Ino pulang dari latihannya, Gadis itu akan duduk melihatnya melakukannya pekerjaan di toko bunga. Atau terkadang, Gadis Sakura akan membantu pekerjaannya.

Sakura cukup terampil. Dia menanam bunga dengan rajin dan rapi. Yang mana itu mengejutkannya. Ino bahkan tidak sesabar itu dalam menangani tanaman bunga yang mereka miliki. Gadis itu pemalu. Hanya sedikit bicara, itupun Inoichi harus memancingnya dulu. Meskipun, gadis itu akan berbicara dengan panjang lebar begitu dia menemukan topik yang ia suka dan minati.

Dari sana, Inoichi tahu dimana Sakura berdiri. Gadis itu seorang warga sipil. Itu menjelaskan waktunya yang lebih longgar dan memiliki ekspresi keheranan ketika tahu Ino sedang dalam latihan bersama para Yamanaka lainnya atau bahkan bersama dengan Shikamaru dan Chouji. Sakura juga menjelaskan asal mula dia berteman dengan putrinya.

Tidak dapat dipungkiri, muncul rasa bangga pada Ino begitu mendengar alasan mengapa mereka berteman. Putrinya telah tumbuh menjadi gadis yang peduli, dan dia bangga akan itu.

Inoichi tidak keberatan dengan adanya Sakura di sekitarnya. Apapun itu, dia telah menumbuhkan rasa sayang pada Gadis Musim Semi seperti rasa sayangnya pada Ino. Sakura telah memiliki tempat di hatinya.

"AYAH!" Suara Putrinya menghancurkan lamunannya tentang Sakura.

Putri Pirangnya berlari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam toko. Sakura mengikuti di belakangnya dengan terengah-engah. Inoichi maklum, Sakura tidak pernah mendapat pelatihan shinobi seperti halnya putrinya.

"Kenapa kau berlari seperti itu? Dan kenapa kau memasang wajah secerah itu?" Tanyanya sembari menghentikan kegiatan merangkai bunganya.

Ino tersenyum cerah padanya. "Sakura memutuskan masuk akademi shinobi."

Inoichi membuat wajah kebingungan. Pria itu beralih ke arah Sakura yang masih terengah-engah. "Benarkah itu?"

Sakura menegakkan tubuhnya. "Iya, Tuan." Senyumnya secerah musim semi yang akan tiba sebentar lagi.

Inoichi tersenyum senang. "Wah aku senang mendengarnya. Kau bisa menjadi teman Ino di sana."

Sakura mengangguk dengan semangat. Inoichi tertawa geli. Pria itu mengambil setangkai anyelir berwarna ungu yang cantik dan menyerahkannya pada Sakura. Gadis itu memandang bingung pada tangan yang terulur di depannya.

Ino memandang dengan bingung. "Anyelir ungu. Ketidakteraturan. Kenapa Ayah memberi Sakura bunga anyelir ungu?" Tanya Ino.

Inoichi tertawa masih menyodorkan bunga anyelir pada Sakura. "Kau sudah mulai menghafalnya ternyata," Inoichi memandang lurus pada mata Sakura. "Itu artinya aku percaya kau bisa beradaptasi di segala tempat meskipun kau akan menemui banyak ketidakteraturan di sekitarmu."

Sakura tersenyum senang. Tangannya meraih bunga anyelir dari tangan Inoichi. "Terima kasih, Tuan Yamanaka."

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Itu adalah hari yang cerah. Ino berlari sendirian dengan sangat kencang menuju toko. Tidak biasanya putrinya sendirian. Inoichi selalu tahu, Sakura akan bersama Ino. Maka dari itu, dia bingung mengapa Ino begitu suram.

Tanpa aba-aba, Ino langsung datang memeluk tubuhnya. Inoichi bingung dengan apa yang telah terjadi. Dia tidak memiliki petunjuk apapun.

"Ada apa, Ino?"

Gadis pirangnya sesenggukan. "Sakura... Sakura, Ayah."

Inoichi memeluk kembali pelukan Ino. "Ada apa dengan Sakura?"

"Dia ... Dia membuangku untuk Sasuke-kun. Padahal... pada... padahal dia tahu aku ak-u menyukai Sa-Sasu-ke.."

Inoichi tidak bisa berkata apa-apa. Cinta bukan keahliannya. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah memeluk tubuh putrinya yang sedang gemetaran.

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Sejak saat itu, Inoichi tidak lagi melihat Sakura di toko mereka. Tidak bisa dipungkiri, dia agak merindukan si Gadis musim semi. Putrinya menjadi lebih murung daripada biasanya. Inoichi tidak pernah tahu apapun tentang para gadis, jadi Istrinya mengambil alih perawatan Ino.

Suatu ketika, dia menemukan Ino hanya memegang gunting bunga dengan terbalik. Inoichi mengernyit dengan heran.

"Ino." Panggilnya.

Ino tersentak dan memperhatikan Ayahnya.

"Ayo kita keluar," Ujarnya seraya melepaskan celemek dan sarung tangan. "Yui, aku akan keluar dengan Ino." Teriak Inoichi pada Istrinya yang dibalas dengan teriakan 'ya' dari Istrinya.

"Kita akan kemana, Ayah?"

Inoichi meraih tangan putrinya. "Ayo kita makan sesuatu."

Mereka berhenti untuk membeli es krim dan duduk di kursi depan toko es krim. Inoichi menepuk kepala putrinya dengan sayang.

"Kau tahu, Ayah selalu bisa menjadi temanmu." Ujar Inoichi.

Ino memandang Ayahnya. Matanya mulai berkaca-kaca dan menganggukkan kepalanya penuh pemahaman.

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Sakura termenung di jalanan. Dia sedang dalam perjalanan pulang jembatan tempat timnya akan bertemu. Impiannya untuk satu tim dengan Sasuke menjadi kenyataan. Dia bahkan sempat menjulurkan lidahnya kepada Yamanaka Ino yang duduk berjauhan dengannya.

Pertemanan bukan hal yang mudah bagi Sakura. Menjalin pertemanan tanpa Ino benar-benar sulit. Bahkan timnya sekarang juga sangat sulit diajak berteman. Naruto dan Sasuke terus-menerus bertengkar. Bahkan dengan misi terakhir mereka yang menemui masalah besar dengan bertemu Zabuza tidak membuat timnya menjadi lebih solid. Naruto dan Sasuke masih melempar api kepada satu sama lain tanpa henti.

Sakura merindukan Ino. Sudah bertahun-tahun dia tidak bicara dengan Ino. Jujur saja bukan niatnya untuk menyulut perang dengan sahabat masa kecilnya. Sakura hanya tidak tahu bagaimana perasaannya ketika datang ke pertengkaran dengan Ino. Dia mulai merindukan saat mereka berbelanja bersama, berlari bersama, makan bersama, bahkan mandi bersama.

Teringat masa-masa dia masih bersama dengan Ino membuat hatinya kembali mendung. Jalannya menjadi berhenti. Tidak sadar jika dia telah berhenti tepat di tengah jalan sampai sebuah tangan menepuk kepalanya dengan lembut. Sontak Sakura mendongak untuk melihat siapa yang telah menepuk kepalanya.

Tuan Yamanaka tengah tersenyum cerah kepadanya. Matanya terbelalak karena kejutan. Sakura langsung mundur dan ber-ojigi.

"Selamat sore, Tuan Yamanaka."

Tuan Yamanaka terkekeh melihatnya. Membuat Sakura menegakkan tubuhnya.

"Selamat sore, Sakura. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Yamanaka dengan ramah padanya. Pertanyaan Tuan Yamanaka membuat hatinya yang mendung menjadi berbadai.

Sakura menarik napasnya. Mencoba tersenyum. "Saya baik-baik, Tuan. Bagaimana Tuan sendiri?"

Tuan Yamanaka tampak skeptis dengan jawabannya. "Aku baik-baik saja. Baru saja pulang dari kerja."

Sakura menatap pakaian kerja Tuan Yamanaka. Dia tidak tahu itu dari divisi apa. Itu bukan seragam yang biasa dipakai Kakashi-sensei. Tapi Sakura kembali mengangguk. Tidak bisa berkata apapun. Dia cukup malu untuk berbicara dengan ayah temannya setelah apa yang dilakukannya pada Ino. Sakura terheran-heran dengan perilaku Tuan Yamanaka.

Mengapa Tuan Yamanaka masih baik padanya setelah apa yang dilakukannya pada Ino? Kenapa dia tidak marah karena Sakura begitu pengecut dengan perilakunya yang seolah-olah membuang Ino? Apa Tuan Yamanaka tidak tahu apa yang terjadi?

"Apa kau baru saja bertemu timmu?" Tanya Tuan Yamanaka.

Sakura mendongak. "Ya, Tuan."

"Siapa gurumu?"

"Hatake Kakashi, Tuan."

Tuan Yamanaka menjadi termenung kembali. "Kakashi, ya? Apa dia baik pada kalian?"

Sakura memiringkan kepalanya bingung. "Kakashi-sensei baik, Tuan. Hanya saja, dia hobi sekali terlambat, alasannya juga suka tidak masuk akal."

Tuan Yamanaka tertawa mendengar pengakuan Sakura. "Kakashi tidak pernah berubah, ya." Tawa Tuan Yamanaka menular padanya. "Apa lagi yang dilakukan Kakashi?"

Sakura menyilangkan tangan di depan dadanya. "Kakashi-sensei mengatakan kami akan ikut ujian chuunin bulan depan."

Tuan Yamanaka memandang Sakura dalam diam. Itu membuat Sakura agak salah tingkah. "Begitukah?" Sakura hanya menganggukkan kepalanya lagi. Tuan Yamanaka tersenyum kembali kepadanya, tangan besar Tuan Yamanaka menyentuh kepalanya lagi. "Kalau begitu kau harus bekerja keras, aku yakin kau akan bisa lulus dengan baik."

Tangan Tuan Yamanaka membuatnya mengingat Ino. Hal itu membuat hatinya kembali turun. Dia kembali bimbang dengan hubungannya dan Ino. Wajahnya turun, menatap jalanan yang dari tadi di lewati banyak orang. Tangan Tuan Yamanaka turun dari kepalanya, meraih tangannya yang mungil. Menariknya untuk minggir ke tepi jalan.

Sakura bahkan tidak sadar dia masih di tengah jalan. Jika bukan karena Tuan Yamanaka, seorang pria bertubuh besar akan menabraknya. Sakura masih menundukkan wajahnya. Hampir tidak peduli ketika Tuan Yamanaka telah menyeretnya ke tepi jalan. Mendudukkan mereka ke bangku di tepi jalan. Tepat di sebelah bunga matahari yang sedang condong ke arah matahari terbenam.

Wajah Tuan Yamanaka tiba-tiba saja menjadi sejajar dengan wajahnya. Mengejutkan Sakura yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya dengan Ino.

"Kenapa wajahmu begitu murung?"

Sakura menjadi bimbang dengan pertanyaan Tuan Yamanaka. "Ino..."

Tuan Yamanaka masih bersabar menunggunya. Lidah Sakura menjadi kaku dan sangat sulit untuk mengatakan permasalahannya pada Tuan Yamanaka. Bagaimana jika Tuan Yamanaka marah padanya?

Namun, dia menarik napasnya lebih dalam. Dia tidak tahu harus bercerita pada siapa. Tentu dia telah menceritakannya pada Ibunya. Namun, dia masih terasa berat.

"Saya... Saya merindukan Ino, Tuan." Ujarnya seraya menunduk.

Dia merasakan tatapan Tuan Yamanaka melembut. Meskipun dia tidak mengatakan apapun, entah kenapa Sakura tahu Tuan Yamanaka sedang tersenyum lembut padanya.

"Lalu, kenapa kau tidak menemuinya?"

"Kami bertengkar." Masih menundukkan wajahnya.

"Kenapa kalian bertengkar?" Pertanyaan Tuan Yamanaka membuatnya ingin menangis.

"Saya mengatakan hal buruk pada Ino. Saya rasa Ino tidak akan bisa memaafkan saya." Air mata sudah mulai menggenang di matanya.

Tangan besar Tuan Yamanaka mengusap air mata yang turun dari matanya. "Ino juga merindukanmu," Tuan Yamanakan kembali berujar. "Kau bisa mengajaknya berbicara jika kau benar-benar merindukannya."

Sakura mengangkat wajahnya untuk memandang Tuan Yamanaka. Tuan Yamanaka sama sekali tidak bertanya apapun padanya. Dia tidak menanyakan kalimat apa yang telah diucapkannya pada Ino. Tidak seperti orang lain yang dia ajak bicara.

"Bagaimana jika Ino tidak mau bicara dengan saya?"

Tuan Yamanaka kembali tersenyum. "Maka kau harus memaksanya mendengarkanmu. Kalian saling merindukan, hanya saja tidak ada dari kalian yang berniat mengambil inisiatif. Aku yakin kalian akan kembali akur."

"Benarkah?"

Tuan Yamanaka menjauh darinya dan memetik bunga matahari di sebelah bangku mereka. Pria itu memotong tangkainya menggunakan kunai agar potongan tangkainya menjadi halus. Dia menyodorkan bunga matahari yang sedang kuncup itu padanya. Sakura mengambil bunga itu perlahan. Menatap bunga kuning yang seperti cerahnya matahari.

"Karena persahabatan yang kuat tidak akan mudah hancur oleh masalah apapun. Terutama jika persahabatan itu diisi dengan pengertian dan rendah hati. Kalian hanya perlu berbicara dan mencoba saling mengerti," Air mata Sakura masih saja menetes. "Lagipula..." Tangan Tuan Yamanaka kembali menghapus air matanya. "Meminta maaf itu bukan berarti kau kalah, namun itu berarti kau memiliki hati yang besar untuk mengakui kesalahanmu. Tidak semua orang bisa melakukannya."

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Siapa sangka, ujian chuunin akan menjadi kekacauan besar. Inoichi memang mendengar beberapa kabar burung yang simpang siur. Namun, tidak ada kecurigaan bahwa Sunagakure berniat melepas ekor satu. Beruntung hal itu tidak terjadi.

Banyak korban berjatuhan, bukan hanya shinobi namun juga warga sipil. Tuan Hokage telah jatuh. Tidak ada lagi pimpinan yang memiliki senyum hangat. Tidak ada lagi pimpinan yang akan memberi nasihat pada shinobi-shinobi muda.

Kerusakan terjadi dimana-mana. Perlu waktu untuk memulihkan desa menjadi seperti semula. Apalagi dengan kosongnya kursi kepemimpinan, Desa Konoha bisa dikatakan rentan. Meskipun, tidak dipungkiri beberapa hal baik telah terjadi. Seperti pulihnya hubungan keluarga Hyuuga yang awalnya sangat dingin dan hambar. Atau bahkan, hubungan Desa Suna dan Desa Konoha yang semakin erat setelah sadar bahwa mereka telah dipermainkan oleh Orochimaru.

Ada hal baik ada hal buruk. Inoichi paham. Bahkan dia dapat kembali bersama formasi Ino-Shika-Cho bersama rekan-rekannya dulu. Itu cukup membuatnya bahagia.

Namun dia sadar. Kebahagiaan itu tidak mampu menaikkan kembali perasaannya kembali ke kebahagiaan dulu.

Istrinya. Yamanaka Yui. Telah pergi ke dunia yang berbeda. Perempuan yang telah menemaninya selama 14 tahun telah meninggalkan sisinya selamanya. Meninggalkan dia beserta putri mereka yang cantik berdua di dunia ini.

Inoichi hancur.

Ino bahkan tidak bisa berhenti menangis di hadapan jasad Ibunya yang berbaring kaku di atas ranjang otopsi. Inoichi hanya mampu memandang nanar pada tubuh Istri tercintanya. Ketika orang lain bersedih karena kematian Tuan Hokage, keluarganya meratapi sosok Ibu di rumah mereka.

Pemakaman warga yang jatuh dilakukan sebelum pemakaman Tuan Hokage. Itu berarti termasuk Istrinya. Pemakaman Istrinya hanya dihadiri teman dekat dan saudara. Ino mewarisi penampilannya. Rambut pirang dan mata biru itu sangat kontras dengan baju hitam legam yang dikenakan putrinya. Mata biru putrinya tidak lagi bercahaya. Bahkan redup dan hampir tidak memiliki kehidupan.

Inoichi ingin hancur melihat putrinya seperti itu, tapi dia tidak boleh ikut hancur. Jika dia hancur, siapa yang akan menguatkan putrinya. Inoichi mencoba kuat untuk apa yang ia sayangi. Gadis kecilnya tidak akan memiliki sosok Ibu lagi.

Pada saat mereka akan mengantar tubuh Istrinya ke pemakaman, matanya menangkap warna merah muda terang di antara warna suram hitam yang mengelilinginya. Gadis Musim Semi yang ia kenal datang dan segera memeluk Ino ke dalam rengkuhannya. Rambut merah mudah gadis itu telah berubah menjadi lebih pendek. Inoichi tertegun. Setidaknya Ino masih memiliki sahabat perempuan yang dulu pernah berpisah.

Mereka semua berjalan dalam suasana suram dan mencekam. Bahkan Konoha tetap mendung sejak kejadian naas yang menimpa desa mereka. Inoichi menatap peti mati yang memuat tubuh Istrinya dengan perasaan kacau. Dia tidak akan lagi menikmati senyum indahnya. Tidak akan lagi ada yang memarahinya karena terlalu banyak minum. Tidak akan ada yang memasakkan makanan enak setiap hari. Dan yang pasti tidak akan ada lagi sosok yang akan menemaninya di malam hari.

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Malam ini hujan turun dengan sangat deras. Inoichi memandang air yang turun dari dalam berapa lama Konoha sesuram ini. Tampaknya efek kematian Tuan Hokage masih membekas di hati penduduk desa. Bahkan hatinya masih terasa kosong.

Konoha mulai pulih dengan adanya Hokage yang baru. Nyonya Tsunade mengendalikan Konoha dengan baik. Cucu dari Hokage pertama itu telah memberikan dukungan dan memimpin desa menuju ke tempat yang lebih baik. Inoichi terkadang masih memandang rumahnya dengan pandangan sedih. Dia tidak serta-merta melupakan sosok Yui yang biasanya berkeliaraan di sekitar rumahnya.

Ino telah mulai pulih. Gadis itu bisa tersenyum sekarang. Meskipun terkadang, Inoichi dapat mendengar ratapan tangis yang merembes dari dinding kamarnya. Mereka berdua bangkit bersama-sama. Mungkin...

Mungkin Inoichi hanya perlu lebih terbuka. Dia hanya butuh waktu lebih. Belahan jiwanya telah pergi.

Pintu tokonya terbuka. Inoichi mengalihkan fokusnya dari hujan ke arah pintu yang terbuka. Dia menemukan di ambang pintu, Sakura berdiri di sana dengan air sudah membasahi sekujur tubuhnya.

Inoichi langsung menghampiri Sakura. "Sakura, apa yang terjadi?" Inoichi meraih pundak Sakura.

Sakura menangis dalam sedih. "Tuan. Di-di-dimana I-In-No?"

"Ino sedang di kamarnya." Sakura tidak menjawab. Tapi wajahnya tampak sangat sedih. "Masuklah."

Sakura menurut. Inoichi membawanya masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu toko. Dia meninggalkan Sakura untuk duduk di ruang tamu. Inoichi mengambilkan handuk dulu untuk Sakura, baru kemudian dia memanggil putrinya. Tidak lupa, Inoichi menyuruh Ino membawa baju ganti, karena Sakura benar-benar basah kuyup.

"Sakura! Apa yang terjadi?!"

Inoichi melihat Sakura berdiri, dia langsung menerjang Ino dan membasahi baju putrinya. Ino memandang Ayahnya, meminta ijin. Inoichi mengangguk paham. Ino langsung membawa Sakura ke dalam kamar.

Dia tidak ingin mengganggu kedua gadis itu, jadi dia hanya kembali duduk di sofa ruang tamu dan mengambil laporan introgasi hari ini yang tadi dia tinggalkan untuk melihat hujan di toko. Samar-samar, dia mendengar pembicaraan Putri dan temannya. Bukannya dia berniat menguping, tapi kemampuan shinobinya tidak bisa dia buang begitu saja.

Tak lama kemudian, Ino keluar dan duduk di sebelahnya. Inoichi meletakkan laporan di tangannya.

"Ayah, bisakah Sakura tinggal di sini malam ini?" Tanya Ino.

"Bagaimana dengan orang tuanya?"

Bagaimanapun juga, Sakura masih warga sipil. Mereka memiliki nilai moral yang berbeda dengan shinobi.

"Ayah dan Ibunya sedang pergi ke rumah nenek Sakura sejak 3 hari yang lalu," Ino berhenti. "Biarkan Sakura tinggal di sini sampai orang tuanya kembali, Ayah."

Inoichi menghela napas. "Baiklah. Tapi, kau mengantar Sakura pulang begitu dia membaik."

Ino memeluk Inoichi begitu mendengar jawaban Ayahnya. "Terima kasih, Ayah."

Inoichi menepuk punggung putrinya. "Ambilkan Sakura susu hangat. Kurasa dia membutuhkannya." Yang disambut anggukkan semangat oleh Ino.

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Keesokan harinya, barulah Inoichi paham apa yang terjadi pada si Gadis Musim Semi. Bocah Uchiha telah membelot dan telah meninggalkan desa. Shikaku mendatanginya bersama Genma, memberitahu bahwa anaknya yang baru dipromosikan menjadi chuunin harus berangkat dan memimpin sebuah tim kecil untuk membawa Uchiha Sasuke kembali.

Karena kematian Istrinya, Inoichi tidak terlalu mengikuti apa yang terjadi di desanya. Uchiha terakhir mendapatkan tanda kutukan dari Orochimaru.

"Dimana Kakashi?"

"Tampaknya kau benat-benar baru keluar dari goa ya?" Genma menyahut dari seberang meja. "Kakashi sedang koma karena jutsu Uchiha Itachi."

Itu cukup mengejutkannya. Bangsal Konoha telah ditembus. Shikaku juga menduga bahwa bocah itu pergi untuk mencari kekuatan karena ingin mengejar Kakaknya dan membalaskan dendam keluarganya. Shikaku juga memberitahunya bahwa bocah itu pergi untuk mencari kekuatan, entah darimana Shikaku tahu info itu.

Inoichi menyimpan informasi itu di dalam kepalanya. Inoichi menyadari, Sakura menyukai si Pewaris Uchiha. Bahkan Putrinya juga menyukai Uchiha. Namun, tampaknya Ino sudah mulai melupakan si Uchiha setelah ujian chuunin berakhir. Hanya saja, Sakura tampak masih sangat menyukai pemuda itu.

Dia sampai rumah dengan membawa makan malam untuk mereka bertiga. Inoichi menemukan TV sedang menyala dan sosok Sakura yang tengah tertidur di sofa. Dia mencari Putrinya di penjuru rumah, dan tidak menemukan sosok Ino. Dia hanya menemukan catatan pendek di lemari es bertuliskan Ino sedang pergi keluar untuk mengantarkan pesanan bunga. Meninggalkan Sakura sendirian di rumah dan tertidur.

Melihat Sakura yang tertidur, Inoichi berinisiatif untuk mengambil selimut. Dia menutupi tubuh kecil Sakura yang tampak agak kedinginan. Inoichi kembali ke dapur. Mulai mengeluarkan makan malam mereka, memanaskannya sambil menunggu Ino pulang dan Sakura bangun. Barulah dia masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Ketika dia keluar, dia telah menemukan Ino sedang membangunkan Sakura.

Sakura tinggal di rumah mereka selama tiga hari berikutnya. Serta, dua hari kemudian, dia menerima kabar, tim Shikamaru pulang dengan tangan kosong. Hampir seluruh anggota tim terluka parah dan mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Satu bulan berikutnya, Si Bocah Rubah memutuskan keluar dari desa dan mengikuti Petapa Jiraiya untuk berlatih.

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

"Selamat pagi, Tuan Yamanaka."

Hari Minggu, Inoichi tidak menyangka akan bertemu dengan Sakura. Gadis itu menjadi lebih sering ke tokonya setelah kepergian Uzumaki ke luar desa.

"Selamat pagi, Sakura," Inoichi mendongak dari pohon camelia yang sedang dipindahkan. "Kau tidak latihan?"

Sakura duduk di salah satu kursi. Mengambil gunting dan mulai memotong tangkai bunga peony berwarna peach yang cantik.

"Tidak, Tuan. Hari ini Tsunade-shisou sedang rapat dan saya sudah menyelesaikan tahap kelima latihan kemarin." Gadis itu tersenyum cerah memandang bunga peony di tangannya.

Inoichi tidak mengatakan apa-apa lagi. Sudah setahun semenjak tim Kakashi terpecah. Meninggalkan Sakura sendirian di Konoha. Gadis itu mulai bergerak maju dan mendatangi Nyonya Hokage agar menjadikannya murid. Meskipun tidak banyak terlihat, Inoichi tahu Sakura telah banyak berubah.

Jika tidak ada kegiatan, Sakura akan kemari. Terkadang untuk mengobrol dengan Ino, atau hanya untuk membantunya di toko bunga seperti sekarang. Padahal, Gadis itu sudah mulai tahap magang di rumah sakit, tapi setiap dia libur, Sakura akan tetap kemari.

"Tuan, kapan Ino akan kembali?"

"Jika lancar, dia akan pulang lusa. Kenapa kau bertanya?"

Gadis itu terdiam. Masih memotong tangkai bunga peony. "Saya ingin bertanya padanya, ujian chuunin akan diadakan kembali. Saya rasa, saya ingin bergabung dengan timnya. Mengingat saya tidak punya tim dan Shikamaru sudah menjadi chuunin."

Inoichi mengangkat wajahnya. "Itu ide yang bagus."

"Tsunade-shisou yang memberikan ide itu kepada saya pagi ini." Ujarnya sambil tersenyum.

Inoichi bangkit setelah menyingkirkan pot berisi bunga camelia ke pinggir. Dia melepas sarung tangannya dan duduk di kursi depan Sakura.

Inoichi mulai mengambil pot bunga, siap merangkai bunga untuk pesanan buket pernikahan. Bunga peony yang telah dibersihkan oleh Sakura mulai dirangkainya. Inoichi bukan yang terbaik dalam merangkai bunga. Dia tetap tidak sebagus Yui. Bahkan rang...

"Rangkaian bunga yang anda buat sangat indah, Tuan." Komentar Sakura tiba-tiba masuk ke dalam telinganya.

"Apa?"

Sakura memandangnya. "Rangkaian bunga anda sangat indah." Mengulangi kalimatnya yang tadi.

Inoichi terkekeh. "Aku tidaklah sehebat itu. Kurasa kau perlu memeriksakan matamu, Sakura."

Sakura memandangnya cemberut. Dia menurunkan pandangannya dan mulai memotong bunga baby's breath.

"Padahal aku serius." Gumamnya kesal.

Inoichi tidak bisa menahan tawanya. Tawanya dibalas dengan pandangan kesal dari si Gadis. Inoichi membutuhkan waktu untuk berhenti dari tawanya. Terhibur dengan wajah cemberut dari Sakura.

"Ngomong-ngomong, apa kau membawa buku tentang bahasa dan arti bunga?" Tanya Inoichi mengalihkan pembicaraan.

Sakura tidak langsung menjawab. Tampaknya masih agak kesal padanya. Setahun bolak-balik tokonya membuat Sakura mulai akrab dengannya. Bahkan Gadis itu sudah mulai berani mengabaikannya. Inoichi tersenyum geli.

Dia menusuk Sakura menggunakan ujung tangkai yang tajam. Sakura sontak memekik. Matanya langsung menatap tajam pada pria yang lebih tua. Dia tetap tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.

"Bunga peony melambangkan cinta, kemakmuran dan kehormatan," Sakura mengangkat bunga baby's breath di tangannya. "Baby's breath melambangkan kemurnian dan cinta yang abadi."

Inoichi menganggukkan kepalanya. Melanjutkan kegiatan merangkai bunga. "Tampaknya, aku harus mulai membayarmu. Kau sering sekali membantu di sini. Bahkan sekarang mulai menghapal bahasa bunga." Ujarnya bercanda.

Sakura kembali memandang Inoichi. "Tuan, anda bercanda lagi. Tapi, tidak. Saya kemari karena saya ingin, dan hanya kemari ketika saya memiliki waktu luang. Ini bukan hal besar."

"Tetap saja kau banyak membantu. Apa kau tidak lelah?"

"Apa anda tidak lelah, Tuan?" Tanya Sakura balik.

"Apa?" Inoichi memandang Sakura bingung.

"Bukankah anda ketua divisi analisis? Yang saya tahu, itu juga melelahkan. Selain itu, anda juga harus bekerja di toko. Tidakkah anda lelah?" tanya Sakura lagi.

Inoichi tertegun. Darimana Sakura mendapat ide ini. Dia gatal untuk membaca pikiran Sakura, tapi dia itu pelanggaran privasi. Sakura bukan musuh yang harus dia obrak-abrik pikirannya.

"Bagaimana mungkin aku lelah, jika kau terus membantuku?" Dia membalas.

Sakura cemberut. "Anda hanya mengelak."

Inoichi tertawa. Dia mengambil salah satu bunga yang ada di atas meja. Bunga yang tidak akan dia masukkan ke dalam karangan bunga pernikahan. Kembali menyodorkan bunga itu kepada Sakura yang masih memasang wajah kesal dan cemberut.

"Untuk ujian chuuninmu. Kau tahu artinya, kan?"

Sakura terdiam. Meletakkan gunting di atas meja dan meraih bunga berwarna kuning itu. "Poppy kuning. Semoga berhasil."

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Inoichi sedang berjalan menuju kantor divisi analisis. Pagi ini ketika dia sedang sarapan, seorang ANBU datang dan memintanya datang untuk memeriksa salah seorang tersangka yang tidak bisa diajak bekerja sama.

"Oh hai, Ibiki." Sapanya begitu masuk ke dalam ruangan.

Ibiki tidak menjawabnya. Pria hanya menganggukkan kepalanya untuk menunjukkan dia tahu Inoichi ada di sana.

"Jadi, apa yang kita punya?"

"Dia ditemukan di daerah perbatasan. Sampai sekarang, dia tidak mau menjawab apapun. Aku yakin dia shinobi Suara. Sampai pagi ini, dia sudah berusaha bunuh diri sebanyak 5 kali."

Inoichi memandang pemuda itu skeptis. "Kau benar-benar bosan hidup, ya?"

Tidak ada gangguan selama mereka melakukan proses analisis. Barulah ketika dia selesai, Shikaku dan Chouza telah menunggunya di kantor. Kedua sahabatnya mengajaknya makan bersama. Mereka masih sering berkumpul, terutama ketika dia keluar dari toko. Contohnya adalah untuk melakukan tugas dari divisi analisis seperti ini.

"Aku penasaran dengan hasil ujian chuunin kali ini." Ujar Chouza memulai.

Inoichi sedang mengambil gyoza. "Shikamaru menjadi penguji, kan?"

"Ya. Dan dia sudah mulai kacau satu bulan sebelum pelaksanaan ujian."

Chouza tertawa. Tidak bisa dipungkiri bahwa pria itu sedang merasa geli dengan keadaan Shikamaru. Mereka jelas paham dengan benar, Shikamaru paling benci memiliki pekerjaan. Pemuda itu lebih suka tidur menghitung awan yang sedang bergerak daripada harus berjalan keluar dari gerbang utama dan menjalankan misi.

"Kuharap Ino baik-baik saja."

"Ah, iya. Bukankah murid Nyonya Hokage ikut ke dalam tim Asuma?"

"Ya, Sakura ikut tim Asuma. Kau tahu, dengan absennya Shikamaru dan rekan satu tim Sakura yang... yah kau tahu apa yang terjadi pada tim Kakashi."

Shikaku mengangguk paham. Mengambil gyoza lain. "Tim Kakashi sungguh terpecah-pecah sekarang. Entah kapan mereka akan berkumpul kembali."

"Ah iya, Gadis itu, siapa namanya?" Tanya Chouza mencoba mengingat nama.

"Sakura." Jawab Inoichi.

"Ah iya, Sakura. Bukankah Sakura sering ke tokomu, kan?"

"Ya. Dia sering ke tokoku setahun belakangan ini. Mungkin dia membutuhkan teman. Ino satu-satunya teman yang cukup dekat dengannya."

Shikaku mengambil teh di depannya. "Kasihan dia. Seluruh anggota timnya pergi keluar desa. Hanya dia yang tertinggal."

"Dia tidak selemah itu, Shikaku. Dia semakin kuat sekarang. Itu pilihannya untuk tinggal dan berlatih dengan Nyonya Tsunade." Inoichi memutar gelas tehnya. Sedikit melamun.

Dia tidak salah. Sakura telah menjadi semakin kuat.

.

.

Namamu adalah Mimpiku

.

.

Toko bunga mereka sedang mendapat banyak pesanan karangan bunga ketika Sakura masuk ke tokonya dan langsung memeluk Ino. Inoichi sudah mendengar kabar. Mereka lulus ujian chuunin seperti yang dia sudah duga. Tidak sulit menduga bahwa mereka akan lulus.

Wajah kedua gadis itu menjadi secerah mentari. Di tangan kiri Sakura, tergantung keranjang yang tertutupi kain. Sakura meletakkan keranjang itu di meja dimana dia sedang mengerjakan karangan bunganya.

"Apa yang kau bawa, Sakura?"

"Saya membawa sakuramochi, Tuan. Namun, saya tidak tahu apakah ini enak atau tidak. Saya baru belajar membuatnya." Ujarnya dengan malu.

Ino membuka keranjang makanan yang dibawa Sakura. "Bukankah kau tidak bisa memasak?"

Ino memandang curiga pada sakuramochi yang tergeletak tidak berdaya di dalam keranjang. Itu seperti Ino sedang memandang brokoli yang dibencinya.

"Aku belajar, Buta. Ibuku mengajari."

"Kenapa repot-repot? Kau bisa membelinya," Tanya Ino sambil mengambil satu potong sakuraboshi. "Eh, bentuknya bagus." Ujarnya menilai.

Sakura tersenyum senang. "Aku ingin berterima kasih padamu dan Chouji, karena itu aku ingin membuat sesuatu untuk kalian dengan usahaku. Aku sudah memberikan satu kotak untuk Chouji tadi. Lagipula...," Pandangan Sakura beralih pada Inoichi. "Tuan Inoichi juga memberiku nasihat yang bagus."

Inoichi terkekeh. "Aku hanya memberimu bunga Poppy, Sakura. Itu bahkan bukan nasihat."

Wajah Sakura memerah. "Itu semangat yang berarti untuk saya, Tuan."

"Mengejutkan!" Ino memiliki mata membulat. Wajahnya menunjukkan kekaguman. "Ini enak. Benarkah kau yang membuat ini?"

Sakura memukul lengan Ino. "Tentu saja aku membuatnya sendiri. Kau benar-benar menghinaku."

Ino mengelus lengannya. Tampaknya akan memar mengingat kekuatan Sakura sekarang lebih besar. "Habis, ini tidak tampak sepertimu. Kau sama sekali tidak bisa memasak."

Inoichi mengambil sepotong sakuramochi dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Menikmati dan mencoba menilai rasa dari makanan yang dibawa Sakura. Rasanya pas. Tidak ada yang namanya kelebihan bahan hingga menjadi terlalu kenyal atau terlalu keras. Terlalu asin atau terlalu manis. Ini benar-benar pas dan sesuai dengan seleranya.

"Ini enak. Sungguh enak," Inoichi memuji Sakura. "Kurasa kau harus sering-sering membuatkanku makanan, Sakura. Aku jadi ingin memakan makananmu yang lain."

"AYAH! Jangan! Aku tidak ingin kehilanganmu karena keracunan makanan!"

Sakura mengambil batang bunga yang telah dibuang Inoichi dan melemparkannya kepada Ino. Ino secara reflek melindungi tubuhnya dari guyuran batang bunga. Sakura mengalihkan pandangannya pada Inoichi.

"Tuan, saya baru belajar memasak. Rasa masakan saya pastilah tidak seenak itu. Saya tidak yakin dengan kemampuan memasak saya." Ujarnya.

Inoichi menepuk kepala Sakura. Dipikirannya Sakura sungguh menggemaskan. "Aku mau saja menjadi kelinci percobaanmu. Aku tidak keberatan," Ujarnya percaya diri. "Asal kau tidak dengan sengaja menaruh racun di dalamnya." Diikuti tawanya dan Ino.

Sakura juga mengikuti tawa mereka. Pipi Gadis itu memerah dengan lembut.

.

.

To be Continued

.

.

A/n:

Sedang kepikiran, kok aku merasa capek ya. Ternyata malah salah tidur. Punggung rasanya pegel banget hahaha

Anyway, aku agak produktif nulis belakangan ini hahahahaa

Untuk chapter satu ini bener2 cepet ya rasanya. Aku agak kesusahan karena disini ibunya Ino masih hidup. Dan Sakura masih anak2. Sebenarnya aku ragu, gimana cara dan kapan waktu 'membunuh' ibu Ino.

Maafkan aku, aku merasa cerita ini akan banyak hal2 manis. Apalagi Sakura sudah 14 tahun, sudah mengenal cinta (meskipun dia masih ngira dia suka Sasuke di awal cerita, yang akan hilang juga) dan Inoichi sudah duda. Di usia segitu, kurasa banyak anak-anak perempuan yang suka sama pria dewasa kayak Inoichi (pengalaman pribadi). Semoga tetep manis deh.

Okey, udah segitu aja.

Untuk semuanya, terima kasih untuk para pembaca, siapapun yang nantinya memberikan tombol favorite dan mengikuti. Kalian harus tahu, aku sayang kalian...

Arigatou, minna-san…

Sign,

Teratai putih