DANCE

Levi x Mikasa

Kolaborasi antara Andromeda (Cineraria) feat Arianadez (Jogag Busang)

Shingeki no Kyojin © Isame Hajiyama

Kami tidak mengambil keuntungan material dari karya transformatif ini

.

[]

Chapter 0: Intro

Sembilan Tahun yang Lalu

[]

.

Senja adalah sebuah keadaan di mana kaki langit membentangkan semburat kemerahan, matahari yang hampir tenggelam di balik celah pegunungan, meninggalkan serpihan awan-awan eksotis, sedikit menyilaukan mata yang memandang—hanya sedikit—dan berlangsung cukup singkat. Kata sebuah buku begitu. Katanya. Levi juga pernah mendengar ceracauan semacam itu dari mulut orang, tapi ia jelas tidak bisa menelan cerita tersebut bulat-bulat. Tentu saja, sebenarnya Levi sendiri belum pernah melihat langsung pemandangan yang disebut senja. Hanya saja, Levi memberi jawaban semacam itu tatkala Isabel bertanya apa yang sedang ia gambar.

"Kalau begitu, untuk mengecek apakah hasil gambaran senjamu nanti benar atau salah, ayo kita lihat pemandangan itu bersama-sama, Kak Levi," ujar seorang anak perempuan yang tengah berdiri dengan bersemangat. Warna rambutnya terlihat hitam kemerahan sebab tertimpa cahaya dari lampu penerangan.

Levi yang sedang duduk sambil sibuk mencoret-coreti kertas kemudian menoleh. Tatapannya sarat dengan pandangan gamang. "Jangan melakukan sesuatu yang konyol, Isabel."

Isabel nyaris menggembungkan pipi dengan lucunya, cemberut dengan tanggapan dingin Levi. "Ah, Kak Levi selalu begitu kalau diajak bermain-main. Kak Levi tidak asik."

"Ide Isabel tidak ada salahnya, Levi."

Farlan muncul di muka pintu ruangan dengan membawa dua botol air minum. Setelah meletakkan dua botol tadi di atas meja, ia mengambil tempat duduk di sebrang Levi.

"Untuk minuman besok pagi. Satu lagi untuk Paman Kenny," ucapnya tanpa ada yang bertanya.

Melihat botol di hadapannya, Levi mendesis kesal. "Kau baik sekali sampai mau menyiapkan air minum untuk lelaki tukang mabuk itu, Farlan."

"Bukan masalah besar bagiku. Dan satu lagi. Levi, biar bagaimana pun juga, dia itu tetaplah pamanmu, orang yang sudah merawatmu dari bayi. Jadi diamlah sebentar dan jangan mengeluh." Farlan mengangkat tangan untuk menghentikan Levi yang hendak menginterupsi, seperti tidak berminat untuk berdebat lebih jauh.

Farlan ganti memandang Isabel yang sekarang memasang wajah ceria menyambut kedatangannya. "Lagipula, menurut kalender resmi negara, malam ini akan ada perayaan tahunan di kota atas."

Persis ketika Farlan mengatakan kalimat 'di kota atas', Levi secara otomatis menengadahkan wajah, seakan bisa menyaksikan keadaan huru-hara tak kasat mata lewat langit-langit ruangan, hanya sebentar, sebelum kemudian kembali memainkan pulpen kesayangannya.

Farlan melanjutkan, "Saat aku berjalan ke sini tadi, tiba-tiba aku memikirkan sebuah rencana baru agar kita bisa melihat perayaan itu. Dan rencanaku akan semakin sempurna jika kalian berdua ikut. Kita bisa bekerja sama."

Isabel mengangkat telunjuknya setara dengan kepala. "Perayaan tahunan … apakah itu semacam festival?"

Farlan mengangguk cepat. "Benar sekali."

"Kak Levi, tidakkah kau tertarik dengan usulan Farlan?" tanya Isabel sambil membungkukkan badannya agar bisa melihat wajah Levi lebih jelas, bermaksud meminta pendapat.

"Usulan apa?" Levi balik bertanya, lebih memokuskan perhatiannya kepada sketsa yang hampir rampung. Gerakan tangannya semakin halus ketika memberi arsiran untuk membentuk proporsi yang tepat sebagai bentuk gelap terang pada sketsa.

Farlan merengut secepat kilat. "Kau benar-benar tidak mendengarku bicara tadi?"

"Tidak."

Jawaban Levi begitu singkat dan datar, membuat Farlan memejamkan mata, seakan berusaha sabar menghadapi tingkah Levi yang cenderung tidak pedulian. "Apa sebelumnya kau sudah tahu tentang festival tahunan yang kumaksud?"

"Entahlah," Levi bergumam tak acuh. Ia bolak-balik memiringkan kepala, memeriksa hasil gambarannya dari berbagai angle. "Kurasa aku pernah mendengar orang di sekitar sini membicarakannya. Entah kapan dan di mana, aku lupa."

. "Dasar kau ini." Farlan berdecak gemas. "Isabel?"

Isabel resmi geregetan, paham maksud akan panggilan dari Farlan. Ia menarik kertas dari tangan Levi. "Kita harus pergi ke atas, Kak," ucapnya penuh desakan.

Sadar dengan perbuatan Isabel, barulah Levi menatap lekat kedua anak di hadapannya tersebut. "Sebenarnya, apa maksud kalian?"

"Ayo kita pergi ke kota atas, Levi," ajak Farlan dengan raut antusias yang kentara. "Kalau kau ikut, akan kupastikan kita akan selamat."

Dahi berkerut dalam. "Kalian yakin bisa melewati Pasukan Penjaga?"

"Bukankah Paman Kenny masih memiliki persediaan manuver 3D di gudang, Kak?" Mata Isabel berkilat penuh kemenangan, agak terkejut dengan ide brilian yang muncul tiba-tiba di dalam kepalanya. "Kita akan mengadakan pertunjukan di depan para Pasukan Penjaga itu nanti."

Levi terdiam sambil terus mengamati Farlan yang masih saja memasang senyum yakin, serta Isabel yang masih setia menunggu dengan matanya yang berbinar.

Levi akhirnya mendesah panjang. "Baiklah, baiklah." Ia kemudian berdiri. "Aku akan ikut dengan kalian."

[]

Isabel-lah yang kali pertama mendobrak pintu gudang. Jangan salahkan kekuatannya yang niscaya mampu meruntuhkan gedung. Engsel pintu saja nyaris terlepas dari kusen. Mungkin akibat dari bahan pintu yang sudah lapuk, atau mungkin hasil dari tendangan Isabel yang keterlaluan bersemangatnya.

Ketiga anak itu kemudian memandang ke dalam gudang dari luar pintu.

"Agak buruk, ya?" Isabel berkomentar setelah melihat seekor tikus berlari ke luar gudang tepat ketika pintu terbuka.

"Terakhir kali kita ke sini, kurasa sudah satu bulan yang lalu. Bahkan bisa jadi lebih," ujar Farlan setelah terbatuk sebab tak sengaja menghirup debu.

Dilihat dari sisi manapun, gudang itu memanglah berantakan. Sarang laba-laba yang terlihat di setiap sudut sudah cukup menjadi tanda bahwa gudang tersebut lama tidak disambangi. Atap seng berlubang yang tidak pernah sudi ditambal membuat lantai gudang terkena tempias.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Levi masuk lebih dulu ke dalam gudang.

Mata menjelajah ke sepenjuru, menyapu dari ujung ruangan gudang yang penuh dengan tumpukan kursi antik yang sudah lepas sandarannya (kata Paman Kenny, ini adalah harta berharga peninggalan dari ibu Levi), kaleng bekas cat berbagai warna (apakah dulu ibu Levi suka sekali mengecat dinding dan menggantinya dengan warna baru setiap tahun? Entahlah), karung-karung goni yang berisi berjubel pakaian lawas (sebagian besar adalah pakaian yang sudah sobek dan tidak bisa dipakai; Levi pernah membongkarnya setelah ia dipaksa Isabel yang terus merengek), perkakas pertukangan (mungkinkah dulunya Paman Kenny menggunakannya untuk bekerja?), beberapa kanvas lusuh dan penyangga yang sudah rusak (ini dia, barang kesukaan ibu Levi); hingga ke sebrang ruangan yang membuat almari besar dua pintu berpelitur hitam.

Pilihan Levi jatuh untuk menghampiri almari tersebut.

Pintu almari berdecit dan agak susah tatkala dibuka. Bau besi berkarat menyerbu hidung. Ada empat sekat di setiap sisi almari. Levi mengerutkan kening ketika matanya menumbuk berbagai mesin yang kesemuanya nyaris hancur.

Menyipitkan mata, Levi memilih berjongkok dan mengaduk-aduk sisi kanan almari di bagian paling bawah.

"Tidak ada," ujar Levi dengan tangan yang memegang tali-temali dan beberapa barang yang bisa dikeluarkan.

"Benarkah?"

Farlan turun tangan, ikut berjongkok di samping Levi, lantas memeriksa bagian bawah dari almari, tapi di sisi kiri.

"Tidak ada juga di sini," Farlan mengeluh.

"Kira-kira, di mana Paman Kenny biasa menyembunyikannya, Kak?" Isabel bertanya, setelah beberapa menit hanya menunggu dalam diam.

"Biasanya memang di dalam gudang, terakhir aku melihatnya disembunyikan di dalam almari." Levi mengerutkan dahi. "Tapi mungkin lelaki tukang ngamuk itu sudah memindahkannya entah ke mana."

"Pasti masih ada di dalam gudang," ucap Farlan begitu yakin. "Ayo, kita cari lebih teliti," ajaknya. Ia kemudian buru-buru berdiri.

Levi mendecih tak suka tapi ia segera ikut meluruskan tubuh.

Mereka bertiga kembali melakukan pencarian secara menyeluruh di setiap sudut di dalam gudang. Farlan dan Isabel mencari di bagian kanan gudang hingga ke ujung, sementara Levi menyisir ke bagian kiri, mengendusi setiap pojok, membongkar barang-barang bekas yang tak dipakai.

Tepat ketika Levi hendak beranjak dari pojok gudang karena tak menemukan apapun, ia mendengar suara berdebum dari lantai yang baru saja ia injak.

Levi melihat ke bawah.

Sebuah paku besar melingkar pada lantai menarik perhatiannya. Ia mencoba menggerak-gerakkan paku tersebut, lantas menariknya kuat. Mungkin itu adalah pegangan, semacam tutup. Namun, lantai itu tidak juga terbuka. Barulah ketika Levi menjajal menggerakkan paku ke samping, lantai itu bisa tergeser.

"Kau menemukan sesuatu, Levi?"

Farlan bergegas menghampiri Levi, diikuti oleh Isabel.

"Kurasa ada sesuatu di bawah gudang ini. Semacam ruang bawah tanah mungkin?"

Levi menggeser lantai lagi, maka tampaklah lubang persegi pada lantai seukuran setengah meter. Ia mencoba mengintip ke bawah lubang. Hanya kegelapan tak berdasar.

"Apakah kita perlu masuk ke dalam, Kak?"

"Sepertinya begitu."

Levi sudah hampir terjun ketika mendadak lengannya dicekal oleh Farlan. "Kau yakin, Levi? Kita sama sekali tidak tahu-menahu tentang apa yang ada di bawah sana. Bagaimana jika nanti ada hewas buas? Ular berbisa misalnya? Atau sebuah genangan air? Kita tidak boleh bertindak sembarangan. Kita tidak bisa terjun bersama."

Levi menurunkan tangan Farlan. "Kau benar, Farlan. Kita memang tidak bisa terjun bersama. Aku yang akan ke sana lebih dulu. Setelah aku memastikan keadaan aman, kalian baru boleh turun."

"Kak?"

"Kau mencemaskanku, Isabel?"

Isabel menggigit tepian bibirnya. "Kau selalu begini kan, Kak? Kau selalu saja berada di depanku dan Farlan. Aku tidak suka."

Levi tersenyum. "Tenang saja. Aku akan baik-baik saja."

Ia kemudian mengambil sebuah kaki kursi yang sudah patah, lalu melemparkannya ke dalam lubang. Terdengar bunyi duk cukup keras.

Levi menyeringai. "Lumayan. Tidak terlalu buruk."

"Levi!" Farlan berteriak, bersamaan dengan Levi yang mulai meluncur turun.

Levi mendarat dengan posisi yang sedikit salah. Bukannya menjadikan ujung kaki dan tangan sebagai tumpuan, ia mencapai dasar dengan punggungnya yang mencium lantai lebih dahulu. Sedikit meringis kesakitan, Levi yakin jika tulang belakangnya ada yang bergeser.

"Kak?" panggil Isabel was-was dari atas. "Kau baik-baik saja?"

"Kalian bisa turun sekarang!" Levi membalas berseru.

Serta-merta, Farlan dan Isabel saling tersenyum dan bertukar pandang sebelum turun.

"Jadi ini ruang bawah tanah?" tanya Isabel sesudah mendarat. "Aku baru tahu jika ada tempat seperti ini di rumah kita, Kak."

Levi mengibaskan celananya yang kotor. "Siapa juga yang tahu jika lelaki tua bangka itu selama ini menyimpan senjata manuver 3D?"

"Dan kita berkesempatan mencicipinya berkali-kali," Farlan balas menyambung dengan penuh sindiran, lalu ia tertawa.

"Hanya saja," Levi menimpali, "mungkin dia sadar jika ada orang lain yang memakainya, jadi dia memindahkan penyimpanannya. Gas yang berkurang itu penyebabnya."

"Tapi pamanmu tidak pernah melarang kita, kan?"

Levi bersiul. "Itu sisi positifnya."

Farlan bergabung. "Ayo kita cari."

Mereka bertiga menyebar. Meraba-raba dalam kegelapan. Membuka satu kotak dan kotak lainnya. Lima menit mereka menghabiskan waktu menjelajahi ruang bawah tanah.

Levi membuka laci pada sebuah almari berbahan plastik. Ketika ia melongokkan kepala untuk melihat apa isinya, mendadak matanya berkilat bersinar.

"Aku sudah menemukannya!" Farlan bersorak dari kejauhan, membuat Levi membatalkan niatnya untuk mengambil isi laci tadi, malah cepat-cepat menutupnya.

Terlihat Isabel yang sudah memegang enam persediaan gas berbentuk kotak panjang, yang disambung dengan tali-temali dan pengendali gas.

"Kerja bagus kita! Ayo kita kembali ke atas dan menyelusup ke kota Mitras!" Farlan memberi pengumuman dengan penuh semangat.

Mereka bertiga mendirikan tangga untuk kembali ke atas. Sebelum naik, Levi sempat melirik ke arah almari yang tadi ia buka lacinya. Dalam hati Levi berjanji bahwa ia akan kembali mengunjungi ruang bawah tanah tersebut, sebab di dalam laci, tersimpan benda paling menakjubkan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.

Lukisan ibunya.

[]

Wilayah luas dengan tangga besi yang meliuk memanjang itu oleh penduduk bawah tanah dinamakan Vietato. Dasarnya adalah tanah lembab dan kerikil, sebagian besar becek karena tersiram air hujan atau pun air comberan berwarna cokelat kehitaman yang mengalir dari selokan di kota atas. Hampir menyerupai goa, yang, sama-sama berpenerang redup, tetapi lebih landai serta bebatuan yang menjorok masuk tidak sampai menembus ke lorong yang jauh, seperti tempat bermalam bagi pekemah.

Di tengah-tengah Vietato, mengalirlah sungai dengan airnya yang jernih. Di sisi sungai, terdapat terowongan yang jika diturut, akan menembus ke dalam kota Interzio.

Secara sederhana, Vietato adalah sebuah batas antara kota bawah tanah, Interzio, dengan kota megah di atasnya, Mitras. Sebagai konsekuensi agar tidak ada penduduk Interzio yang bermigrasi dan begitu pula sebaliknya (tapi yang terakhir ini jelas meragukan), pihak kerajaan membentuk Pasukan Penjaga. Sesuai dengan sebutannya, mereka bertugas menjaga gerbang besar—satu-satunya jalan masuk dan keluar bagi penduduk Interzio, mencegah perdagangan bebas antara kedua belah penduduk, serta mencegah kerusuhan apabila ada gejala pemberontakan.

Tiga ratus empat puluh lima meter dari posisi pemukiman penduduk, tiga anak yang mengenakan mantel cokelat panjang terlihat sedang mengendap-endap menuju goa. Tidak seperti Farlan dan Isabel yang berhati-hati mengekor di belakangnya, Levi justru berjalan dengan tenang dan mantap mendekati wilayah Vietato. Ada bunyi air berkecipak, mengiri setiap langkah. Bisa dipastikan, sepatu bulukan yang mereka kenakan akan kotor ketika sudah mencapai tangga besi.

Lima ekor kawanan kelelawar mendadak berkelebat, melintas secepat kilat di hadapan ketiga anak tersebut, membuat mereka berhenti mendadak dengan tegang. Kelelawar itu berceruit ribut, melakukan perebutan entah apa; barangkali buah-buahan ranum yang baru saja kelelawar itu ambil dari salah satu pohon di hutan bawah tanah. Sesudah kawanan kelelawar tadi terbang menjauh, Isabel tertawa lepas—menertawakan kebodohan mereka sebab sempat-sempatnya merasa takut—membuat Farlan dan Levi tidak tahan untuk tidak mengulum senyum.

Ternyata hanya kelelawar. Entah mengapa, dengan melihatnya sekilas membuat Levi berpikir, bahkan para hewan yang terpaksa hidup di Interzio pun juga menderita kelaparan dan harus berusaha keras untuk mendapatkan rempah makanan, apalagi penduduknya. Levi tiba-tiba ingin tertawa menanggapi semua kenyataan memuakkan ini, rasanya seperti sebuah lelucon. Manusia dan hewan yang tinggal di bawah tanah seolah memiliki derajat yang sama. Sungguh suatu ironi.

Levi naik lebih dahulu, memeriksa anak tangga pertama dengan menghentak-hentakkan kaki kanannya, apakah aman atau tidak untuk diundaki. Begitu pula dengan anak tangga kedua dan kelima. Sesudah Levi memastikan bahwa tidak ada satu pun yang rapuh, ia mengacungkan jempolnya kepada Farlan dan Isabel. Dua anak itu kemudian mulai memanjat tangga.

"Apakah kita harus membuat penjaganya nanti pingsan, Levi?" Farlan bertanya setelah mereka mencapai seperempat tangga.

"Gunakan itu sebagai langkah terakhir. Aku tidak mau terkena risiko diborgol atau ditahan di kantor Pasukan Penjaga dan menjadi makanan vampir ganas."

Dan Farlan jelas tahu bahwa Levi hanya sedang bercanda. Memang seperti itulah gaya humornya; sadis dan sarkas.

Bahkan seandainya mereka tertangkap pun, Levi mengaku lebih suka dipenjara di kantor pemeriksaan kota atas ketimbang dikembalikan ke bawah tanah. Paling tidak, penjara Mitras memiliki udara yang lebih hangat dibandingkan dengan lorong-lorong gelap Interzio.

Seratus undakan lagi dan mereka akan sampai di depan gerbang besar yang memisahkan kedua kota. Dari tempatnya berdiri sekarang, Levi bisa melihat empat kepala lelaki dewasa menyembul di balik tangga dengan gerbang tinggi besar setinggi sembilan meter sebagai latar belakang mereka.

"Siap memulai rencana pertama?" tanya Farlan.

Levi dan Isabel mengangguk cepat.

Beginilah mereka bertiga bekerja: Farlan dan Isabel berjalan terang-terangan ke arah gerbang perbatasan tanpa memakai manuver 3D, sementara Levi bersembunyi di tangga besi. Ia bertugas menjadi pengawas. Apabila pendekatan secara baik-baik terbukti gagal, ia akan segera melempar manuver 3D kepada Farlan dan Isabel. Mereka bertiga akan terbang melalui atas gerbang.

Levi duduk pada undakan tangga. Menunggu. Ia membayangkan keempat Pasukan Penjaga yang mengenakan pakaian militer dengan lambang dua bunga mawar merah di punggung seragam mereka, sedang mengawasi keadaan dengan raut garang. Sepertinya Farlan dan Isabel sudah memulai konfrontasi. Berkali-kali ia mendengar suara Farlan yang berkhotbah panjang lebar, disusul Isabel yang memberi penjelasan tambahan dengan penuh semangat.

Beberapa menit kemudian, secara tiba-tiba, Levi mendengar bunyi petasan dari arah Farlan dan Isabel. Cepat-cepat ia berdiri dan segera mendaki tangga, menyusul ke depan gerbang.

"Farlan!" teriak Levi sembari melemparkan manuver 3D, yang kemudian ditangkap dengan cekatan oleh Farlan.

"Isabel!"

Kali ini Levi menghampiri anak perempuan itu.

"Terima kasih, Kak." Isabel mengambil manuver 3D dan bergegas memakainya.

Levi tersenyum kasihan memandang tampang lesu dari Farlan dan Isabel. "Sepertinya pendekatan baik-baik yang kalian lakukan seratus persen gagal."

"Aku yang akan membuat empat orang itu pingsan," cetus Farlan mendadak.

"Kau tidak bisa membuat keputusan seorang diri, Farlan!" Isabel memprotes.

"Kenapa tidak? Levi saja sering berbuat begitu, kenapa aku tidak bisa?"

"Kalau begitu, aku dan Isabel akan mengalihkan perhatian. Sisanya kuserahkan kepadamu, Farlan." Levi berkedip dua kali.

"Jangan mencemaskanku. Aku bisa menjaga diri."

Dengan berkata begitu, Farlan berjalan menjauh dari gerbang dan bersembunyi di tangga.

Levi dan Isabel mendekati gerbang sambil terbang rendah. Tiga orang penjaga terlihat mencak-mencak. Wajah mereka menggelembung marah. Satu lagi, penjaga yang gemuk, terlihat mengacungkan senjata sejenis pentungan, menyuruh berhenti. Tentu saja, mana sudi Levi mau menuruti.

Levi dan Isabel terbang berputar-putar, seakan mengejek sambil memandangi penjaga yang sekarang kurang lebih mirip seperti anjing yang sedang menggonggong memandangi kucing yang memanjat pohon, sebelum akhirnya mereka berdua menaikkan ketinggian dan berhasil melewati gerbang tanpa kesulitan.

Mendadak, Farlan terbang cepat dan menyemprotkan tabung kecil panjang, membuat keadaan di sekeliling gerbang terselubung kabut tebal.

"Rasakan kalian!"

Farlan bersalto dua kali di udara sambil terus menyemprot.

Salah satu dari penjaga menggerung murka. "Kurang ajar!"

Empat orang penjaga terpaksa membuka gerendel gerbang yang sudah berkarat. Belum sampai mereka memasukkan anak kunci ke dalam lubang gembok, keempat penjaga tersebut sudah ambruk tak sadarkan diri.

"Mereka hanya akan pingsan selama beberapa jam," Levi yang mengamati dari balik gerbang berkomentar.

Farlan terbang menghindari kabut yang ia ciptakan dan berlanjut melewati gerbang dengan sangat mudah.

"Untunglah kita masih memiliki semprotan alkohol fermentasi beracun," Farlan menyeka peluh di pelipis, "kita berhasil, teman-teman!"

Ketiga anak tersebut bersorak bersama. Mereka kemudian sama-sama mengangguk. Pandangan beralih ke arah pusat kota di kejauhan yang mulai tampak bercahaya keemasan sebab tertumpahi sinar matahari sore. Serpihan sinar menyelusup di antara celah-celah bangunan-bangunan tinggi, membuat mata tak sanggup mengalihkan pandang.

Dan inilah, untuk pertama kalinya bagi Farlan, Levi, dan Isabel, mereka melihat sebuah pemandangan bernama senja.

[]

Mengikuti teladan dari Levi, Farlan dan Isabel melepas jubah cokelat beserta manuver 3D dan berganti dengan hanya memakai pakaian biasa. Ini adalah langkah tercepat dan termudah agar bisa membaur dengan penduduk kota Mitras tanpa perlu khawatir ketahuan.

Hari sudah menggelap ketika mereka bertiga tiba di alun-alun yang sudah ramai dengan pengunjung. Perayaan tahunan untuk memperingati hari ulang tahun kota Mitras ini memang selalu diadakan dengan spektakuler, sesuai dengan berita yang sering Levi dengar. Spanduk mewah berderet di sepanjang jalanan besar. Pohon-pohon yang ditanam di sekeliling alun-alun dihias dengan kertas berwarna-warni dan lonceng, seumpama pohon Natal. Levi sampai tidak sanggup mengedipkan mata barang sejenak saat memandang panggung utama di tengah-tengah lapangan. Begitu megah dan mewah. Ini jauh, bahkan sangat jauh dari apa yang selama ini ia bayangkan.

"Kalau aku sudah besar nanti, aku ingin tinggal di sini." Levi mendengar Farlan yang menggumam lirih di samping kanannya, membuatnya mengangguk menyetujui tanpa sadar. Tentu saja, semua orang yang hanya hidup dalam gelapnya lingkaran setan di Interzio sangat menginginkan kebebasan fantastis semacam ini.

"Kita tidak masuk ke dalam gedung pertunjukan?" tanya Isabel, membuat Levi dan Farlan menghentikan lamunannya.

"Gedung pertunjukan?"

"Iya, benar. Alun-alun ini memang tempat utama perayaan, tapi ternyata ada yang lebih ditunggu-tunggu selain penampilan di panggung lapangan. Lihat ke sana," jemari Isabel menunjuk sebuah gedung besar di sebrang alun-alun, "di sanalah pertunjukan yang sebenarnya sedang terjadi."

"Tumben kau teliti hari ini, Isabel," Farlan mencibir, "biasanya kan kau paling lemot."

"Aku bukan anak yang lemot!"

"Kau memang biasanya sering ceroboh, Bodoh. Jangan mengelak."

"Jangan memanggilku dengan penghinaan semacam itu, Farlan sialan!"

"Jangan bertengkar, Bodoh." Levi menjitak dengan lembut puncak kepala Isabel. "Itu akan membuat kita menjadi mencolok. Bersikaplah biasa seperti anak-anak Mitras yang menyukai permen lolipop."

"Kau juga setuju dengan memanggilku bodoh, Kak?"

"Memang sudah seharusnya," Farlan masih membalas dengan berani rupanya.

"Kita bertiga sama-sama bodoh karena sudah membuat para Pasukan Penjaga gerbang sekarat. Simpan energimu, Isabel. Kita akan pergi ke gedung, sesuai dengan ajakanmu."

"Asyik!" Isabel sudah berjalan melompat-lompat kegirangan, sama sekali lupa dengan amarahnya.

Gedung itu berukuran sangat besar dan memiliki lima tingkat. Gaya abad pertengahan yang kuno terbilang cukup menonjol. Sekilas, emperan gedung yang menyambut setiap orang yang datang tampak mirip dengan katedral.

Levi bertindak sebagai pemimpin. Karena tiada penjaga di depan gedung, mereka bebas masuk tanpa ada yang mencurigai. Tiga orang anak berusia 10 tahun mengunjungi gedung untuk melihat pertunjukan adalah hal yang biasa terjadi pada saat festival berlangsung. Malah, terdapat anjuran dari kerajaan pusat, agar semua penduduk kota Mitras hadir dan menonton perayaan, termasuk anak-anak kecil.

Ternyata ruangan luas di dalam gedung telah dibagi menjadi sepuluh bagian. Setiap ruangan memiliki satu tema pertunjukan atau pameran. Karena ada lima tingkat, jadi totalnya ada lima puluh ruangan. Dinding kedap suara menjadi sekat, sehingga bisa dipastikan, tidak akan ada yang terganggu walaupun diadakan pertunjukan berbeda di setiap ruangan.

"Lihat ke sana, Kak!" Isabel menunjuk ke dalam sebuah ruangan dengan jerit tertahan. "Mereka adalah para artis pianis!"

Levi mengikuti alur telunjuk Isabel. Ternyata memang benar, dua orang lelaki yang sedang berdiri memberi salam hormat di atas panggung itu adalah seorang artis. Levi benar-benar tidak menyangka akan melihatnya secara langsung.

"Ayo kita ke sana!" Isabel yang masih histeris berlari tanpa menunggu persetujuan.

"Hei, Isabel!"

Farlan dan Levi terburu-buru menyusul. Dasar anak itu, Levi membatin mengeluh.

Begitulah yang mereka lakukan, masuk dari satu ruang pertunjukan atau pameran ke ruang yang lain, diam sebentar selama sepuluh atau lima belas menit, saling terpekik dan terpesona, tak sanggup mengutarakan apapun selain gumam penuh kegembiraan.

Baru saja sampai di lantai tiga dan mereka sudah hampir kehabisan napas. Lelah sekali. Terlebih mereka hanya memakai tangga darurat, sebab lift sudah penuh dan mereka tidak ingin mengambil risiko dicurigai oleh orang lain. Mereka juga tidak bisa membeli jajan karena sedari awal mereka memang tidak membawa uang sepeser pun.

Sebagai kunjungan terakhir sebelum malam semakin larut, Levi memilih masuk ke ruangan pada urutan kedelapan di lantai puncak. Pertunjukan balet. Ini akan menarik, pikir Levi, sebelum ia mengajak Farlan dan Isabel.

Mereka bertiga duduk di tribun penonton bagian tengah. Beberapa orang dewasa yang duduk di antara mereka sedang berkasak-kusuk ketika seorang penari balet memasuki panggung. Levi tidak tahan untuk tidak menguping.

"Bukankah dia si Putri Cilik Angsa Hitam yang terkenal itu?"

"Wah, kau benar juga. Aku tidak sabar ingin melihat penampilannya."

"Aku jadi teringat dengan kejadian tahun lalu. Ada seorang penari dari Interzio yang tampil bersama dengan si Angsa Hitam."

Mendengar kata 'Interzio' disebut, kuping Levi mendadak tertantang berdiri. Ia mendengarkan dengan lebih intens percakapan yang terjadi selanjutnya.

"—maksudmu penari balet yang gagal menari itu?"

Orang-orang dewasa itu tertawa.

"Oh, kalau aku ingat bagaimana posisinya saat terjatuh yang sangat konyol, aku selalu tertawa. Dia menggelikan sekali."

"Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa panitia pertunjukan memilihnya untuk menari bersama Si Angsa Hitam? Dia jelas-jelas kalah jauh. Sama sekali tidak pantas untuk disandingkan."

"Kudengar dia hanya orang imigran dari Interzio yang berkesempatan menjadi artis, tapi dia malah menyia-nyiakannya dengan membuat pertunjukan menjadi gagal."

"Sampai batu berubah menjadi emas sekali pun, orang Interzio tidak akan pernah bisa menjadi seorang artis."

Orang kedua mengangguk setuju. Telinga Levi serasa panas dibuatnya. Tanpa sadar, tangan kanannya terkepal kuat di atas pangkuan.

"Kau akan segera melihat bagaimana kehebatan ballerina Mitras yang sesungguhnya."

"Tenang saja, kali ini tidak akan ada lagi kecelakaan memalukan seperti tahun—"

"—Levi? Levi?"

Suara panggilan dari Farlan membuat Levi tersentak.

"Pertunjukan sudah dimulai dari tadi, kau tidak ingin melihat?"

Levi masih dongkol setengah mati usai mendengar perbincangan dari orang-orang dewasa tadi. Dasar kecoa idiot tidak punya otak! Ini adalah penghinaan. Dasar manusia bermulut busuk! Levi hanya bisa mengucapkan berbagai sumpah serapah dalam batin.

Panggung utama menggelap. Hanya ada seberkas cahaya yang menyoroti di penari balet. Ternyata si penari adalah seorang anak perempuan berambut hitam sebahu yang masih kecil. Usianya mungkin sebaya dengan Levi. Ketika musik mengalun dari nada rendah menuju nada tertinggi, si penari dengan lincahnya meliuk-liukkan badan, berjinjit, berputar, lantas berjalan maju-mundur dengan gaya terbang, membuat penonton terpekik takjub. Sekarang Levi sedikit mengerti, kenapa orang-orang menjulukinya Putri Angsa Hitam. Pada saat si penari mencapai bagian tarian balet yang sulit, semua penonton menahan napas, tegang dan takut, kalau-kalau si penari terpeleset sepatunya sendiri. Si penari bisa saja terjatuh sewaktu-waktu.

Hanya Levi, barangkali satu-satunya penonton yang tidak mengacuhkan pertunjukan. Dari raut wajahnya yang enggan memandang, kentara sekali jika ia tidak ingin berada ia menyesal telah memilih ruangan itu.

Tatkala musik sudah selesai dan si penari memberi hormat diiringi tepuk tangan meriah, Levi beranjak berdiri.

"Kau mau ke mana, Kak?"

"Aku ingin ke belakang sebentar."

"Pertunjukan selanjutnya hampir dimulai, Levi, kau yakin tidak ingin menonton?"

"Aku sudah bosan."

Mata Farlan menyipit. "Atau, apakah kau sedang merencanakan sesuatu, Levi?"

"Kau mencurigaiku?"

"Tampangmu kurang meyakinkan."

"Jadi kau ingin agar aku kencing di sini, begitu?"

"Perlu kutemani?"

Bodoh sekali, Farlan. Seharusnya ia tidak perlu menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.

Tanpa memberi jawaban, Levi bergegas keluar ruangan. Emosi masih berkobar hebat di dalam dirinya. Percakapan tadi benar-benar sudah menyulut harga dirinya. Sejak tadi ia sudah menahan diri agar tidak balas berteriak mengamuk. Demi apa, walaupun mereka hanya anak Interzio yang miskin dan melarat, ia sama sekali tidak sudi direndahkan.

Maka inilah yang Levi lakukan selanjutnya: berjalan keluar ruangan tapi tidak mencari kamar mandi, melainkan menuju ke belakang layar pertunjukan. Ruang ganti para penari balet.

Levi yakin ia masih bisa membuntuti si Angsa Hitam. Si penari terlihat menyelinap ke sebuah ruangan. Levi mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi.

Levi mengintip, si Angsa Hitam tampak bersorak dengan teman-temannya. Entah setan ataukah malaikat yang memberkatinya dengan seulas keberanian, tiba-tiba saja Levi sudah masuk ke dalam ruang ganti. Semua penari yang ada di dalam ruangan tersebut mematung.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Levi menyapukan pandangan, mencari di mana gerangan si Angsa Hitam. Ketika matanya menemukan si penari cilik, ia beringsut mendekat. Levi mengangkat tangan dan menampar anak perempuan tersebut. Semua mata yang menyaksikan terkejut. Beberapa ada yang sampai menutup mulut dengan telapak tangan, sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

Seolah-olah waktu berhenti pada detik itu.

Di samping terkejut, si Angsa Hitam juga jelas kebingungan. Namun, belum sampai ia bertanya dan memprotes lebih lanjut, beberapa orang berseragam militer muncul di pintu ruang ganti.

"Penyusup dari Interzio, berhentilah kau di sana!"

Hati Levi mencelos. Dua orang lelaki berseragam militer tadi berjalan cepatkepadanya, lalu menjegal lengannya. Ia hanya menurut dalam kebungkaman. Di belakang lelaki berseragam yang berseru tadi, ia melihat Farlan dengan wajahnya yang memar-memar dan Isabel yang tengah meronta dengan tangan terborgol. Tamat sudah. Mereka telah tertangkap.

Levi dipaksa keluar ruangan dengan diseret.

"Anak di bawah umur sudah berani-beraninya melanggar peraturan! Kalian tidak memiliki undangan khusus atau visa menginap, bagaimana bisa berkeliaran di kota Mitras, hah?"

Levi merasa pipinya diludahi.

"Kau sudah menodai Undang-Undang Kerajaan Stohess, Bab Lintas Batas, Pasal 3 dan 4, Nak! Terimalah hukumanmu nanti!"

Akan tetapi, Levi sama sekali tidak peduli jika akan dihajar atau diberi hukuman berat sekali pun. Kebencian beradu dengan kemarahan bergemuruh di dalam dadanya.

Sebelum ia menghilang dari ruangan, Levi sempat memberi tatapan dingin ke arah si Angsa Hitam yang tadi sudah ia tampar.

[]

"Kalau saja kalian sudah berumur 13 tahun, aku bisa pastikan kalian tidak akan bisa keluar dari penjara ini dalam keadaan hidup-hidup, Nak. Berterimakasihlah kepada umur kalian yang masih berbaik hati menyelamatkan."

Seorang lelaki peruh baya yang kebagian tugas memeriksa ketiga bocah berandal hanya berhenti untuk menyesap rokok. Ketiga anak hanya diam membisu, tidak berani menyahut.

"Lagipula, bagaimana bisa kalian melewati gerbang besar dengan begitu mudah? Aku tidak percaya jika kalian hanya memanjatnya. Sembilan meter itu tinggi sekali, Nak. Itu mustahil. Sangat mustahil." Ia menggeleng-gelengkan kepala berulang. "Bagaimana juga kalian bisa mengalahkan para penjaga itu? Ini sama sekali tidak masuk akal."

Pada akhirnya, karena petugas pemeriksa tidak bisa mengorek keterangan lebih banyak sebab ketiga anak yang lebih banyak terbungkam, dengan berat hati ia melepas mereka.

"Berkeliaran dari sore hingga malam tanpa ketahuan, kalian cukup cerdik dan pemberani rupanya. Lain kali, kalau ingin kabur ke Mitras, bukan begini caranya. Jadilah seorang artis dan kalian akan bisa hidup dengan bebas," begitu nasehat terakhir dari petugas pemeriksa.

Ketiga bocah berandal kemudian keluar dengan perasaan lega luar biasa. Farlan tersenyum bahagia dan Isabel tidak henti-hentinya terisak. Hanya Levi yang mendengar dan merenungkan nasehat dari petugas pemeriksa tadi.

'Tentu saja,' batin Levi dengan berang sembari mengingat Si Angsa Hitam.

'Jika sudah dewasa nanti, tentu saja aku pasti menjadi seorang artis.'[]