Enigma soal hati
Disclaimer
Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Fanfiction © Zeesuke23
Summary : –Dunia pun tahu, jika relasi keduanya lebih dari sekedar Manajer-Kapten dalam klub American Football. Lalu mengapa mereka seolah berkata tidak demikian rupa?
Warning : Jika anda tidak suka alangkah lebih baik tinggalkan saja, tidak perlu melanjutkan membaca lebih lanjut. Maybe little bit OOC, Typho.
.
Chapter 1
.
Saikyoudai University tempat dimana Mamori Anezaki melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi, tempat dimana ia tetap menjadi manajer klub Amefuto –tempat dimana ia merasa pulang kembali. American Football olahraga keras yang tak mungkin pernah terpikirkan olehnya; dulu, lantas kini siapa yang menduga jika Mamori dan juga klub Amefuto adalah kesatuan padu. Memang ia tak bermain di lapangan, namun perannya dibalik layar menjadi senjata terpenting tim mereka. Bagaimana pun ia pernah mengantarkan tim Amefuto sekolah menengah atasnya –Deimon Devil Bats menjuarai turnamen bergengsi musim dingin Christmast Bowl. Tak perlu diragu lagi bagaimana tugas gadis belia tersebut terhadap timnya, tak perlu diragu lagi bagaimana tanggung jawabnya menjadi manajer klub, tak perlu diragukan lagi kemampuan mumpuni milik nona Anezaki. Semua ini seolah sempurna. Ia yang begitu loyal dan berdedikasi tinggi terhadap klub, apa lagi yang kurang bagi sang nona.
Wajah yang cerah ceria nampak menyejukkan menjadi obat penghilang lelah setelah latihan usai, naluri keibuan yang ia miliki siap melakukan tugas yang mumpuni. Mamori yang hampir sempurna, sang malaikat kebanggan tim Amefuto Saikyoudai, siapa yang tak mengenalnya. Hampir-hampir seluruh pemuda di Universitas mereka mengenal sosok malaikat kita satu ini, terlepas dari ia yang seorang manajer tim Amefuto. Mamori adalah mahasiswi teladan tahun ini.
Terkadang Mamori menanyakan alasan mengapa ia tetap berada dalam Amefuto, alasan mengapa ia harus mencintai olahraga yang bersifat keras seperti ini. Selalu mencari hingga Mamori tersadar, ini tak berarti. Mamori tak tahu, bagaimana cinta ini tumbuh dan mengakar dengan kuat. Bagaimana ia menganggap Amefuto adalah bagian dalam hidupnya. Terlepas dari Sena –'adik' kecilnya yang selalu ia jaga, terlepas dari ancaman Hiruma dan segala macamnya. Mamori rasa ia juga telah mencintai Amefuto tanpa ia sadari.
Ruang klub Saikyoudai Wizard sungguh luas –berterima kasihlah kepada Hiruma Youichi yang selalu meminta dana lebih. Hampir empat hingga lima kali lipat ruangan milik sekolah menengah atasnya dulu, entah cara apa yang dipakai oleh Hiruma Youichi semua tak tahu. Sungguh melelahkan terkadang jika Mamori membersihkan ini seorang diri –dulunya memang demikian rupa. Namun seiring berlanjutnya waktu, Mamori juga merasa terbantu dengan anggota klub yang terkadang ikut membantunya. Hanya sebagian dan Hiruma Youichi tak termasuk dalam sebagian tersebut.
Jari-jemari lentik Mamori bergerak lincah dengan keyboard laptop Sony-Viao milik Hiruma, mengedit data ini-itu yang dirasa perlu. Mencatat poin penting yang menjadi kunci yang dibutuhkannya. Pandangannya terlalu fokus pada apa yang ia kerjakan kali ini, melihat hasil rekaman ulang antara Saikyoudai dengan Enma dengan hasil tipis. Mencatat poin penting untuk evaluasi lebih lanjut atau pun menjabarkan poin-poin yang dimiliki Enma. Semua itu tak lepas dari apa yang tengah Mamori kerjakan.
Terlalu fokus pada tugasnya, hampir membuat ia tak sadar jika latihan sore telah usai. Satu persatu anggota klub memasuki ruangan. Segera Mamori mengambilkan handuk yang telah ia persiapkan dan juga minuman penambah energi mereka. Semua telah tersedia. Sunguh cekatan.
Dengan segera ia mulai membagikan handuk dan juga minuman pada setiap anggota klub, satu demi satu hingga semua. Tak terlewatkan baginya. Tentunya tak lupa ia menampakkan senyuman malaikatnya yang dapat membuat setiap anggota kembali bersemangat, beruntungnya mereka memiliki malaikat sepeti nona Anezaki dalam klub yang isinya lelaki semua itu –minus Mamori.
Sesekali Ikkyu membalas senyuman sang Dewi dengan senyum termanis yang ia punya, namun rasa-rasanya percuma kala Mamori tak melihatnya; ironis memang.
"Manajer sialan, bagaimana tugas yang telah kuberikan kepadamu." Hiruma Youichi berujar, mendekat kearah Mamori dengan minuman isotonik yang masih ia genggam.
Dengan segera Mamori mengambil tugas yang telah diberikan kepadanya. Segera Mamori beranjak, ia tak mau jika Hiruma akan mengomel kapadanya. Bagaimana pun juga kaptennya yang satu ini masih tetap Hiruma Youichi tanpa perubahan sikap semenjak di SMA. Ralat, hanya sedikit perubahan dari segi sikap dan tingkah laku Hiruma. Sekali lagi hanya sedikit, tak lebih maupun kurang.
"Tinggal sedikit lagi, lebih baik kalian berganti baju dulu saja. Ada satu dua poin yang belum selesai kurangkum." Mamori berujar dan mendapat anggukan dari beberapa rekan timnya tersebut.
"Keh, dasar lelet. Apa Cream puff-mu kini membuatmu lebih lambat manajer sialan." Hiruma mengejek dan berlalu pergi mengganti pakaian yang ia gunakan.
Mamori tak peduli, nafsunya berdebat dengan 'Komandan dari Neraka' itu berusaha ia lenyapkan. Mengingat perdebatan dengan Hiruma tak akan pernah berakhir cepat sedangkan tugasnya kini harus segera ia selesaikan.
Setelah selesai mengganti pakaian mereka, para pemain dari klub Amefuto tersebut mulai mendiskusikan poin-poin penting –yang telah dikerjakan Mamori sebelumnya dan beberapa tambahan evaluasi latihan mereka. Memperbaiki apa yang salah, dan membuat tim ini hampir sempurna. Pelatih juga menyarankan beberapa opsi latihan untuk memperbaiki daya serang maupun pertahanan mereka.
Meskipun kemarin hanya pertandingan persahabatan dengan Enma, namun tetap saja mereka harus serius dalam bermain. Mereka datang bukan untuk menang, namun mereka datang untuk menghancurkan sang lawan; Enma. Hiruma Youichi dengan sikap sedikit diktaktornya memang selalu memaksa latihan berlebih kepada para anggota, namun dibalik itu semua Mamori tahu jika Hiruma hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Maka dari itu, Mamori sadar jika terkadang Youichi juga bisa lelah seperti sekarang. Namun seperti biasa, pemuda bertelinga elf itu tak pernah mau jujur jika ia memang tengah lelah. Terlampau ahli dalam menyembunyikan sesuatu, dirasa itu cocok dengan sosok Hiruma.
Relasi antara Hiruma dengan Mamori memang hanya sekedar rekan –manajer-kapten tidak lebih maupun kurang. Tak ada yang spesial, tak ada kisah romansa didalamnya. Ini semua murni atas dasar profesional saja –seharusnya memang demikian. Namun jauh didalam lubuk hati Mamori ia tak suka hubungan seperti ini. Ia ingin lebih, namun percuma mengingat ini menyangkut tuan Hiruma. Mamori tak tahu, entah sejak kapan ia memiliki rasa berlebih terhadap Hiruma.
Jika saja Mamori boleh bersikap egois, ia menginginkan Hiruma hanya untuknya saja. Namun apa daya, mengingat ia siapa –hanya rekan. Tak ada yang lebih maupun kurang. Mamori harus selalu memendam perasaan ini seorang diri. Hanya hatinya yang tahu. Bagaimana ia tersiksa pada perasaan gejolak remaja yang tak seharusnya ia tunjukan kepada Hiruma. Ia membenci dirinya yang bersikap penuh harap seperti ini. Gadis itu juga membenci kala hatinya tertambat pada sosok Hiruma Youichi.
Bagi Mamori tentunya HIruma tak pernah memikirkan hal lain selain football, hampir tak ada. Ambisinya kepada Amefuto memang luar biasa besar, ia akan melakukan apapun demi tim yang dibelanya berhasil. Tak ada yang lain, buang-buang jauh soal asmara. Cinta Hiruma Youichi hanya bola coklat lonjong Amefuto saja –lupakan hal berbau romansa. Tentunya sungguh kontras jika ini menyinggung Hiruma dan asmara didalamnya.
.
.
Hiruma Yoichi masih memandang Mamori yang berkemas selepas kegiatan klub selesai. Pemain dengan nomor punggung satu itu, selalu saja pulang terlambat dengan segala macam alasan –yang terkadang Mamori tak peduli. Berdebat dengan Hiruma adalah opsi yang pasti terjadi jika ia berani bertanya mengapa. Jika Mamori lelah tentunya ia lebih memilih bungkam seribu bahasa, tak peduli dengan ejekan yang mendera telinga –ia sudah biasa.
"Keh, ayo cepat manajer sialan." Hiruma berbicara setengah berteriak dari arah luar.
"Sebentar Youichi." Bergegas Mamori menghampiri.
Perlu diingat, Mamori hanya memanggil nama kecil Hiruma saat mereka hanya sedang berdua, dan ia tak ingat kapan hal ini bermulai yang Mamori ingat adalah ini semua seolah telah menjadi rutinitasnya. Seolah mengalir bergitu saja bagi mereka berdua, selagi Hiruma tak menolak dirasa itu pertanda 'setuju'.
"Cepatlah, aku lapar bodoh." Hiruma segera berjalan mendahului, tak peduli dengan Mamori yang masih mengunci pintu ruangan klub Amefuto.
"Tunggu aku, Youichi." Mamori setengah berlari, mengejar lagkah pemuda dihadapannya tersebut. Mamori hanya mendengus ringan, tak ingatkah jika langkah kaki mereka berbeda cakupan.
Tak dipungkiri jika gerak langkah Hiruma sejujurnya tak terlalu cepat, sengaja ia lambatkan agar gadis yang berprofesi sebagai manajer klubnya itu dapat menyusul langkahnya.
"Ne~ Youichi-kun, kita ke minimarket dulu ya, kurasa kulkasmu kosong."
"Tentu, jangan lupa-"
"Permen karet kesayangnamu kan, aku tahu kok." Hiruma hanya mengacak-ngacak rambut Mamori.
Mamori merona tipis dengan apa yang Hiruma lakukan padanya baru saja, tentu saja ada perasaan menggelitik tiap kali ia dekat dengan Hiruma. Seolah Hiruma memang menggangapnya spesial, terkadang Mamori juga berharap jika Hiruma menaruh rasa yang sama kepadanya. Hanya harapan kecil yang entah bisa terjadi atau tidak, ia tak tahu. Ironis jika dikata.
Jantung Mamori selalu berdebar kala ia menghirup aroma mint yag menguar dari tubuh sang kapten Amefuto. Silahkan berkata Mamori gila, namun memang benar kenyataannya. Gadis itu hampir gila dengan pesona Hiruma, hatinya selalu berdebar tak karuan entah sejak kapan semua ini dimulai. Irama jantungnya tak menentu dan Mamori tak suka dengan itu, ia tak suka jika ia tak bisa mengontrol perasaan sukanya kepada Hiruma. Kau tahu seberapa gadis itu hampir gila dengan perasaan ini. Terkadang ia harus menelan kenyataan ini bulat-bulat –sungguh menyakitkan. Ia hanya mencintai dalam satu sisi dan belum tentu terbalaskan.
Mereka berjalan bedua, beriringan –tanpa bergandengan tangan. Sang rambulan bersinar nampak redup dengan temaran keperakan yang seolah lembut, menggantung indah menghiasi langit malam. Hiruma lebih memilih menunggu diluar, namun Mamori membuatnya tak sejalan dengan apa yang ia rencanakan. Menarik pemuda tersebut kedalam guna menemaninya berbelanja. Tak tahukah gadis itu jika bagi Hiruma, berbelanja adalah kegiatan membosankan baginya.
"Sudahlah You, ini juga demi kulkasmu terisi." Mamori berucap sambil memilah dan memilih apa yang harus ia beli.
"Keh~ cepat selesaikan urusan ini." Youichi berujar biasa bersama tatapan datarnya. Namun didalam hati tentunya ia sedikit bersyukur memiliki Mamori yang mengerti akan dirinya –ya dirinya. Hiruma Youichi tak pernah menyadari jika sebagian hatinya telah menerima kehadiran Mamori –yang selalu berada disisinya. Tak pernah menyadari jika ia mulai bergantung kepada gadis tersebut.
.
.
Dengan cekatan Mamori segera mengolah bahan-bahan yang telah mereka beli sebelumnya, ia tentunya sangat tahu jika ada seorang lelaki yang menahan lapar di seberang meja makan sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Secangkir kopi hitam telah tandas setengah sejak beberapa menit yang lalu. Hanya tinggal menunggu beberapa menit masakan yang tengah dimasak gadis tersebut akan segera selesai.
Bukan hal yang aneh bagi Mamori kala ia bertingkah selayaknya kekasih Hiruma yang mengurus segala kebutuhan lelaki tersebut, namun tidak demikian adanya; mereka hanya teman. Bagi Mamori kegiatan seperti ini bukan hal yang pertama baginya, pergi ke minimarket hanya untuk mengisi kulkas Hiruma dan persedian lelaki tersebut, atau memasakkan lelaki tersebut makan malam. Semua itu seolah bukan hal yang aneh bagi Mamori –seolah wajar saja hal itu terjadi. Dan Mamori tak keberatan akan itu.
Tak perlu dihitung seberapa sering Mamori menginap di apartemen milik Hiruma, tak perlu dihitung seberapa sering dia dikira kekasih Hiruma dengan bermalam bersama. Tak perlu dihitung seberapa sering ia pergi berdua bersama Hiruma, dan sekali lagi status meraka hanya rekan. Ya, hanya Kapten-manajer tak lebih tak kurang. Lagipula Hiruma juga tak pernah mengkonfirmasi hubungan mereka sejelas apa, ia tak peduli; apatis dikata.
Mamori selesai memasak dan segera menghidangkan masakannya tersebut diatas meja makan; tertata rapih. Menyiapkan makanan Hiruma seolah ini semua sudah menjadi tugasnya. Sedangkan Hiruma masih saja berkutat dengan tugas kuliahnya.
"Ini makan malam untukmu Youichi, aku akan segera pulang." Mamori segera beranjak, namun lengan Hiruma menggenggam pergelangan tangannya. Tanya sepihak mulai menyapa Mamori.
"Makanlah dulu, aku akan mengantarmu pulang setelah ini." Hiruma berujar dengan pandangan lurus menatap iris safir milik Mamori. Sang gadis hanya mengangguk saja, ia sedikit kikuk dengan situasi ini semua.
Gadis tersebut hanya melakukan apa yang sang iblis perintahkan untuknya, dengan anggukan ringan Mamori mengambil tempat untuk makan malam. Hening hampir yang menghiasi, tak ada percakapan diawal.
"Manajer sialan, sepertinya kau salah mengerjakan tugas yang kuberikan padamu. Coba kau sedikit ubah hal tersebut." Hiruma mulai memecahkan keheningan yang hinggap diantara keduanya.
"Kurasa aku tidak salah, mungkin aku kurang memberi datanya kurasa." Mamori menimpali dengan dahi yang berkerut ringan.
"Tetap saja kau salah."
"Mou~ Youichi itu berbeda." Mamori berusaha membela namun dirasa percuma sama, Hiruma tak pernah mau mengalah meskipun dengan seorang wanita.
Tak berselang lama telfon genggam milik Mamori berdering, segera saja ia pergi menuju lokasi ponselnya tersebut. Mengabaikan percakapannya dengan Hiruma.
"Moshi-moshi."
'…'
"Ah tentu saja, bagaimana kalau besok saja." Ujar Mamori seraya melirik Hiruma, namun pemuda tersebut tetap melanjutkan makan malamnya.
'…'
"Baiklah, aku akan menunggumu diruang klub saja kalau begitu."
'…'
"Jaa~ ne, Yamato-kun." Mamori hanya tersenyum mengakhiri percakapan mereka dan tentu saja sang lawan bicara diseberang sana tak mengetahuinya.
Setelah dirasa percakapan mereka usai, Mamori dengan lekas kembali menuju Hiruma berada. Membereskan meja makan dan segera membersihkannya. Ia ingin segera pulang ke apartemen miliknya, seharian ini dirasa sungguh melelahkan bagi Mamori.
"Untuk apa rambut liar sialan itu menelfonmu malam-malam begini." Ujar Hiruma menyelidik.
"Ia meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas kuliahnya." Mamori hanya menjawab sekenanya sambil memulai melakukan kegiatan mencuci piring kotor sisa makan malam baru saja.
Setelahnya Hiruma tak menimpali apa pun lagi, ia lebih memilih fokus dengan laptop miliknya yang ia biarkan menyala tatkala mereka berdua makan malam baru saja. Setidaknya setelah Mamori selesai dengan tumpukan piring kotor yang tengah ia bersihkan tersebut maka agenda pemuda tersebut selanjutnya adalah mengantar Mamori pulang menuju apartemen milik gadis tersebut.
.
.
To be continued
.
.
A/N :
Hallo semua^^ ini adalah ff multichap pertamaku mengenai HiruMamo. Maaf banget kalau aneh/emang/ T.T Untuk kedepannya saya kurang tau cerita ini akan sampai berapa chapter :'D.
Mohon beri saya review agar semangat dalam menulis kelanjutan ff ini, review dari kalian adalah tolak ukur saya seberapa cerita ini dinanti /
