Don't Go
— Tsukishima Kei x Yamaguchi Tadashi
— Haikyuu! belongs to Furudate Haruichi
Chapter 1 — Song : Mienai Tsuki (Invisible Moon) by Fujita Maiko
.
•
Don't Like Don't Read
•
Enjoy!
•
.
Anata no renraku kizukeba matte ro
( Saat aku sadari, aku menunggu panggilan dirimu )
Jibun ni akireru hibi atodo no kurai tsuzuku no darou
( Akan sampai kapan hari-hari memuakanku ini berlanjut? )
Afureru hito nami ooki na kousoten
( Keramaian di persimpangan besar )
Totsuzen fuita kaze te kao ni kakaru kami wo modoshita
( Angin tiba-tiba bertiup, aku rapihkan kembali rambutku )
Pemuda itu menyalakan ponsel dan kemudian memainkan sebuah lagu di playlistnya. Dengan earphone kedua telinganya, ia sesekali bersenandung mengikuti lagu favoritnya. Berjalan terus hingga ia sampai di penyebrangan jalan, berhenti di antara ramainya orang sore ini.
"Hah," ia menghela napas merasa lelah. Menatap ke langit yang mulai berganti menjadi oranye, dan membiarkan angin dengan lembut membelai rambut hitam kehijauan miliknya.
Shingo machi mukaikawa
( Aku sedang menunggu lampu hijau )
Mieta no na aita katta anata to
( saat di seberang aku lihat orang yang paling aku rindukan )
Tsunagaretate to mou hitori
( dan seseorang menggandeng tanganmu )
Dan sepertinya ada alasan mengapa angin menyapa, membuat ia tidak sengaja menoleh ke samping. Dan ia menyesal telah menoleh, hal itu terjadi tiba-tiba, terasa singkat. Netranya tak sengaja menangkap figur yang begitu ia kenal berdiri tidak jauh darinya. Seseorang yang sudah lama ia rindukan.
Ia terpaku, tidak tau harus apa. Ia membuka earphonenya dan menyimpan ponselnya. Meyakinkan jika ia tidak salah mengenali seseorang yang berada tidak jauh di sampingnya. Seorang pemuda dengan rambut pirang dan kacamata yang membingkai kedua manik emasnya. Dan perasaan itu, yang sudah lama ingin ia hilangkan, kembali.
Tidak banyak yang berubah dari sosok yang ia rindukan itu. Ia tersenyum saat menyadari sesuatu, tidak, ada satu hal yang berubah, dan itu sangat jelas. Ada seorang gadis yang mengaitkan lengannya pada pemuda berkacamata dengan begitu erat.
Omowazuka kurete watashi no karada wa ugokenai
( Sengaja aku bersembunyi, tubuhku tak bisa bergerak )
Kyuni hayaku natte itaku natta mune no oku wo
( Jantungku berdetak cepat, dadaku terasa sakit )
Osaerushikanai
( dan aku hanya bisa menahannya )
Dengan segera ia mamalingkan wajah, ingin cepat-cepat pergi. Terserah mau kemana, selama ia tidak bertemu dengan pemuda berkacamata itu, ia tidak peduli. 'Kenapa lampu merahnya lama sekali, sih? ' keluhnya dalam hati.
Ia sungguh ingin berbalik dan pergi, tapi kenapa kedua kakinya terasa begitu berat? Ia tersenyum hambar sambil menunduk. 'Maa, sepertinya aku memang sangat merindukanmu,'
"Yamaguchi?"
Ketika suara yang sudah lama tidak ia dengar itu memanggil namanya, ia merasa senang, namun dadanya malah terasa sakit. Ia mau saja diam dan hanya mengabaikan, tapi ia tidak bisa.
Tubuhnya bergerak sendiri. "Tsukki?" ia menoleh dan pura-pura terkejut. "Hisashiburi! Apa kabar?" sapanya ramah sambil mendekati sepasang kekasih itu.
"Hm, aku baik," balas sang lawan bicara tanpa balik bertanya.
"Tsukishima-kun, dia siapa?" satu-satunya gadis di antara mereka bertanya pada kekasihnya.
Yamaguchi menampilkan senyumnya. "Aku temannya Tsukki, Yamaguchi Tadashi. Salam kenal!"
Gadis dengan rambut hitam sepunggung itu balik tersenyum manis. "Salam kenal juga, Yamaguchi-kun, namaku Takahashi Rui, aku pacarnya Tsukishima-kun!" ucapnya memperkenalkan diri dengan bersemangat sambil mempererat pelukannya pada lengan Tsukishima.
"Hm, sudah aku duga," balas Yamaguchi, "kau punya pacar yang sangat manis, Tsukki!"
Tsukishima hanya diam, sedang Takahashi tersipu mendengar perkataan Yamaguchi. "Heheh, arigatou, Yamaguchi-kun,"
Sure chigatta hito tachi wa dare hitori oboeteinainoni
( Aku bahkan tak ingat dengan orang-orang yang berjalan melewatiku )
Naze anata dake wa wakatta no
( Tapi mengapa aku tahu itu dirimu )
Nando mo nando mo wasure youteshite kitanoni
( Berulang kali aku mencoba untuk melupakan )
Zutto aitakatta
( Namun aku masih merindukanmu )
Anata ga warai kakeru no wa mou watashi jyanai
( Tapi orang yang membuatmu tersenyum sekarang bukan aku )
"Lampunya sudah hijau, ayo cepat," ajak Tsukishima saat orang-orang sudah mulai menyeberang. Takahashi mengikuti Tsukishima yang balas menggandeng lengannya. Dan Yamaguchi hanya bisa mengikuti mereka dari belakang.
Lagi-lagi dadanya terasa sakit. 'Tidak, aku harus menahannya,'
"Yamaguchi-kun, apa kau juga ke stasiun? Kalau iya ayo pergi bersama," ajak Takahashi saat mereka bertiga sudah sampai di seberang jalan.
"Aku memang mau ke stasiun, tapi aku harus ke minimarket dulu. Maaf ya," balas Yamaguchi sedikit membuat Takahashi kecewa.
"Takahashi, ayo kita pulang," ajak Tsukishima pada kekasihnya tersebut.
Takahashi mengangguk. "Un! Tapi aku mau ke toilet dulu, kau tunggu di sini ya," Tsukishima hanya menghela napas membuat Takahashi terkekeh gemas dan kemudian segera pergi.
Dan sekarang hanya tinggal Yamaguchi dan Tsukishima. Yamaguchi sangat membenci suasana canggung ini, ia ingin segera pergi.
"Jaa, kalau begitu aku duluan ya. Sampaikan salamku pada Takahashi-san," ucap Yamaguchi dengan senyum lebarnya. Namun baru saja ia ingin berbalik, Tsukishima menahannya.
Yamaguchi menatap Tsukishima bingung saat pemuda berkacamata itu menahan lengannya. "Doushite?" tanyanya ragu saat Tsukishima telah melepaskan tangannya.
"Kau tidak sedang mencoba menghindariku, kan?" tanya Tsukishima terdengar tidak peduli namun menuntut jawaban dari Yamaguchi.
Yamaguchi terkekeh pelan. "Ayolah Tsukki, untuk apa aku menghindarimu?" jawab Yamaguchi yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan apa pun, sambil mempertahankan senyumnya.
Ah, Yamaguchi bangga pada dirinya sendiri. Luar biasa ia masih bisa tersenyum.
Tsukishima diam tidak membalas lagi, tapi jelas jika ia tidak puas dengan balasan Yamaguchi. Keduanya kemudian hanya diam, saling menatap tanpa bicara satu patah kata pun. Dan tidak ada pula dari keduanya yang mau melepaskan pandangan mereka.
Dan lagi, Yamaguchi merasakan dadanya terasa sakit ketika mengingat kedua manik emas itu, yang dulu selalu menatapnya penuh kasih. Ia mengutuk dirinya berkali-kali dalam hati mencoba menghilangkan semua kenangan yang tiba-tiba bermunculan.
"Sudah berapa lama ya, sejak terakhir kali kita bertemu?" tanya Tsukishima berbasa-basi. Yamaguchi terdiam sesaat.
Yamaguchi memalingkan pandangannya sambil mencoba mengingat sudah berapa lama mereka tidak bertemu sejak hari itu. "Hm, sepertinya sudah hampir setahun," jawab Yamaguchi. Dan seketika ia teringat dengan hari yang dimaksud. Hari dimana hanya kata maaf yang terlontarkan dari mulut Tsukishima.
Tsukishima mengangguk mengerti, baru saja ia ingin kembali buka suara, Takahashi yang baru saja kembali dari toilet langsung memeluk lengannya lagi.
"Aku sudah selesai, ayo kita pergi!" ajaknya bersemangat sambil menampilkan senyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.
Tsukishima ikut tersenyum. "Baiklah, ayo pulang,"
Yamaguchi cukup terkejut, namun ia berusaha mempertahankan raut wajahnya dengan tersenyum. Perasaannya campur aduk. 'Tentu saja, orang yang membuatmu tersenyum sekarang bukanlah aku,'
"Jya, Yamaguchi-kun," panggil Takahashi, "kami duluan ya, kapan-kapan kita mengobrol lebih banyak lagi, matta nee!" Takahashi melambai sambil mengikuti Tsukishima yang sudah berbalik.
Yamaguchi balas melambai. "Hm. Bye bye!" dan ia kemudian hanya diam.
Doko ka dekitaishite ta
( Di suatu tempat aku mungkin mengharapkan sesuatu )
Watashi ni oshiete kuretanda
( Tapi kau mengajarkan kepadaku )
Mou wasurete ikune
( Aku akan lupakan )
Yamaguchi menghela napas saat menatap punggung Tsukishima yang perlahan menghilang di tengah keramaian. Ia masih menginginkannya, ia masih berharap.
Namun Yamaguchi segera menggeleng. Senyumnya terlihat kosong. "Tidak, aku harus bisa melupakanmu,"
Nee kurushii yo
( Hey, ini menyakitkan )
Wasure kataga wakaranai
( Aku tak tahu bagaimana untuk melupakan )
Yamaguchi menundukkan kepalanya. Rasa sakitnya bertambah, bahkan matanya mulai terasa memanas. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tidak mau menangis lagi.
Tapi Yamaguchi sadar jika ia itu lemah. "Ini bahkan lebih menyakitkan," suaranya bergetar. "Nee," panggilnya sambil menatap langit yang mulai gelap, "beritahu aku cara untuk melupakanmu,"
Anata wo omouto watashi no karada wa ugokenai
( Setiap kali memikirkanmu, tubuhku tak bisa bergerak )
Kyuuni hayaku natte itaku natta mune no oku wo
( Jantungku berdetak cepat, dadaku terasa sakit )
Osaerushikanai
( dan aku hanya bisa menahannya )
"Tsukki?" Yamaguchi memanggil Tsukishima yang sedari tadi hanya menunduk diam sambil menghela napas. "Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
Tsukishima mengangkat kepalanya dan menatap Yamaguchi dalam. Entahlah, Yamaguchi tidak tau arti dari tatapan itu, tapi apa pun artinya, Yamaguchi tidak akan menyukainya.
"Yamaguchi," panggil Tsukishima sambil memberikan kecupan di pipi Yamaguchi. Yamaguchi tau, ini bukan kecupan manis yang selalu di berikan Tsukishima seperti biasanya. Tsukishima kemudian kembali bicara. "Gomen,"
Yamaguchi diam. Bingung dengan permintaan maaf Tsukishima yang begitu tiba-tiba. "Untuk apa?"
"Aku mungkin akan melukaimu, tapi aku tidak bisa berbohong," suara itu makin terdengar lemah. "Maaf,"
Yamaguchi masih terdiam, ia masih belum mengerti. Namun setelah Tsukishima mencium bibirnya, ia akhirnya mengeti. Rasa ciuman ini berbeda, karena ini ciuman perpisahan. Dan tanpa sadar, air matanya mulai meleleh.
Wasure youteshite kitanoni
( Aku mencoba melupakan )
Zutto aitakatta
(Tapi aku masih merindukanmu )
Anata ga warai kakeru no wa mou watashi jyanai
( Orang yang membuatmu tersenyum sekarang bukan aku )
Dada Yamaguchi naik turun mencoba mengatur napasnya. Ia bukannya kelelahan, tapi dadanya memang terasa sakit. Yamaguchi tertawa hambar mengingat perkataan Tsukishima padanya hari itu. Yamaguchi ingat jika ia yang memulai semua ini, dan seharusnya ia juga tau jika Tsukishima tidak pernah memintanya untuk selalu di sisinya. Dan pada akhirnya, Tsukishima memilih mengakhiri semuanya.
Ia menyesal?
Tidak, ia hanya merasa sakit.
"Tsukki.." panggilnya menatap pada langit gelap. Mencoba mencari bulan yang selalu dikelilingi bintang, namun tidak ia temukan, bahkan satu bintang pun tidak ada.
"Kau tidak sedang mencoba menghindariku, kan?"
Yamaguchi kemudian kembali menunduk. "Tsukki bodoh, tentu saja aku menghindarimu!" ia menjawab dengan emosi yang sudah sedari tadi ia tahan, ia kemudian melangkahkan kakinya yang masih terasa berat. Bahkan sekarang terasa lemah.
"Aku tidak mau bertemu denganmu," suaranya bergetar, "tapi aku masih merindukanmu. Sangat merindukanmu,"
Yamaguchi mengigit bibir bawahnya hingga bibirnya terlihat pucat. Matanya sudah memerah, dan ia benci ini. Rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari sebelumnya. "Dulu kau juga tersenyum untukku, lalu apakah aku tidak bisa memintanya lagi?" sekarang suara Yamaguchi nyaris tidak terdengar. "atau tidak bisakah kita tersenyum bersama lagi?"
Namun kemudian ia tertawa hambar. Ia kembali mengambil ponselnya dan memakai earphone, mulai menyalakan musik. "Bodoh sekali aku masih berharap," Yamaguchi kemudian melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, tidak peduli air mata sudah menganak sungai di pipinya.
Miageta sora ni wa tsuki mo nai hoshi mo nai
( Aku menatap langit dan tak ada bulan dan bintang-bintang )
Kumo ga zubete ooutte
( Awan menutupi semuanya )
Mukou kara wa watashi ga mienai
( Aku tak bisa melihatnya dari sana )
.
TBC
.
A/N
Hai', minna-san konnichiwa! Virgo desu~ fanfic TsukiYama pertamaku... Yap, dan ini sebenarnya udah lama banget di draft... Terus kenapa baru sekarang selesainya? Ya tentu karena si Author ini kesel sama Tsukishima di ceritanya sendiri!
Tsukishimaaaa! Awas lu di chapter berikutnya!
Tsukishima: Kan elu yang bikin ini cerita... Dan secara nggak langsung, bukan gue yang bikin Yamaguchi nangis, tapi elu!
Gak peduliii! Pokoknya gue kesel sama luuu!
Tsukishima: Serah... Tapi kalau sampai ini ff sad end, gue kejar lo sampai alam barzah!
Ampun om! /apasih *plak
Sekian untuk kali ini... Buat Yamaguchi jangan nangis lagi yaa... Nanti sama-sama kita avada kedavra si Tsukki, nee:)
Jaa, Matta nee!
