Yokohama Drift
by maggiellezk
A Haikyuu Fanfiction
Disclaimer : Haikyuu belongs to Haruichi Furudate. I don't gain any profit.
Characters : Miya Atsumu, Miya Osamu, Sakusa Kiyoomi, Suna Rintarou
Trigger Warning : Alternate Universe, Racing!AU, violence, blood, light/soft gore, angst, characters death, implicit content, harsh words, inappropriate words/content, genderbend!Miya Twins
Summary :
Kenekatan Atsumu menyeret Osamu ke dalam lingkaran setan Yokohama Drift. Pertemuan dengan Sakusa Kiyoomi dan Suna Rintarou di tengah sirkuit balap Yokohama yang tak kenal ampun menjadi awal segala kisah dengan enigma tanpa ujung. Perebutan gelar sang penguasa jalanan pun dimulai. Cinta, persahabatan, keluarga, ambisi, pembalasan dendam, pengkhianatan, konspirasi, semua lebur di atas aspal Yokohama.
Sirkuit Ginza kala itu sedang ramai dan memanas. Suara riuh menggema di langit tak berbintang. Dinginnya malam kalah oleh pompaan adrenalin dalam darah serta semangat yang membakar seluruh tubuh. Dengung kendaraan yang saling beradu, sesekali terdengar suara gaduh dari kuda besi yang saling bergesekan mengisi aspal sirkuit Ginza; yang kadang mereka sebut sebagai Labirin Iblis karena banyaknya jalur yang tak terduga serta sanggup menyesatkan para pembalap.
Malam itu yang menarik perhatian adalah mobil yang berwarna kuning, desainnya mirip dengan bumblebee serta mobil abu gelap dengan motif yang serupa. Layar yang menggantung saat ini menunjukkan lap kelima belas dari total 23 lap malam itu. Tak ayal para partisipan balap liar mengerahkan semuanya; kecepatan, ketahanan, strategi tambahan. Kecurangan hanya akan dipenalti apabila terlihat oleh wasit. Beberapa orang ditempatkan khusus untuk mengawasi tiap pos yang disertai dengan kamera dan lokasi pergantian mobil. Namun, tentu saja dalam sirkuit ini tak ada pertandingan yang benar-benar bersih.
Bandar kesenangan karena taruhan untuk nama Miya Kembar semakin melonjak. Pertandingan baru berjalan separuh. Lembar demi lembar yen terus berdatangan. Beberapa terlihat resah karena tak ada satupun mobil yang bersaing dengan sepasang kembar yang tengah memimpin. Sisanya mengangkat botol-botol alkohol ke udara sambil berteriak riuh. Nama Miya Kembar didengungkan berulang kali.
Aturan unik dalam sirkuit ini agak sedikit berbeda dengan balap liar lain, di mana dibolehkan maksimal ada dua juara pertama apabila kedua mobil bersamaan menyentuh garis finish. Nama Miya Kembar pun kerap mengisi posisi tersebut. Tak heran nama mereka sering dipertaruhkan dalam jumlah yang tinggi.
"Memasuki lap kedelapan belas, namun para pembalap bertalenta ini tak menurunkan performa fantastis mereka. Untuk posisi pertama masih diisi oleh kedua juara bertahan kita, Miya Atsumu dan Miya Osamu. Sepertinya kita sudah bisa menebak siapa yang berpotensi menjadi juara malam ini, bukan, Konoha-san?"
"Aku setuju denganmu, Yamamoto-san. Tapi, kita juga tidak boleh meremehkan peserta lainnya. Nomor 21, pendatang dari Osaka, Shugo Meian juga sepertinya mulai menyusul. Reputasinya cukup terkenal setelah berhasil menaklukkan sirkuit Keihanshin bulan Maret lalu dengan total taruhan mencapai 10 juta yen. Selain itu, kita juga perlu melirik si nomor 13, Kuroo Tetsurou yang kembali debut di dunia balapan setelah cuti karena cedera. Malam ini begitu istimewa karena sirkuit diisi dengan para pembalap ulung."
"Anda benar sekali, Konoha-san. Nah, siapakah yang akan mengisi juara pertama malam ini akan segera kita ketahui segera."
Keistimewaan sirkuit Ginza adalah ajang balapan yang dilakukan tak terkesan seperti balap liar. Sekilas mirip dengan turnamen legal seperti V8 Supercars atau World Touring Car Championship (WTCC) yang begitu terkenal dalam dunia balap internasional. Mereka memiliki regulasi dan ketentuan tersendiri, bukan asal balap saja kemudian main kucing-kucingan dengan petugas setempat. Meski begitu, keberadaan drugs serta transaksi ilegal tak bisa dihindarkan.
Osamu melirik sekilas pada layar yang baru saja ia lewati, kemudian menilik spion mobil. Nomor 21 sepertinya akan segera menyusul. Osamu mulai resah. Ia menghubungkan intercom dengan duplikasi bumblebee yang tengah melaju di sampingnya.
"Atsumu, si nomor 21 menyusul."
"Tenang saja, tidak akan sempat. Sisa tiga lap, dia tidak punya waktu."
Osamu mendecak. Berkali-kali memenangkan balapan kadang membuat Atsumu besar kepala dan terkadang meremehkan lawan mereka. Osamu melirik spion lagi dan menemukan MCLaren 650S GT3 yang berwarna merah membara ikut menyusul. Nomor 13, itu si pembalap ulung, Kuroo Tetsurou yang kabarnya pernah menguasai sirkuit utama Tokyo, sirkuit ini. Sirkuit Ginza. Gadis itu mendesis melalui intercom.
"Tsumu … perhatikan spion mu."
"Kau ini kenapa, sih? Santai saja."
"Kau terlalu santai!" dengkus Osamu kesal. Ia menarik persneling dan melaju mendahului mobil Atsumu. Sesekali ia melirik spion untuk memastikan posisi yang lainnya.
"Hei, jangan mencoba jadi pengkhianat." Atsumu berseru melewati intercom.
"Aku hanya ingin melakukan pencegahan pada hal-hal yang tidak diinginkan," balas Osamu.
"Whoa, si nomor 11 Miya Osamu kini memimpin, meninggalkan tiga mobil di belakangnya. Apakah dia akan menjadi juara tunggal malam ini?"
"Persaingan antar saudara itu kadang lebih mengerikan dari yang dibayangkan." Konoha menanggapi dengan tenang sambil terus memperhatikan 4 panel layar. Penonton berteriak riuh ketika mobil Osamu menyelesaikan lap ke-22. Tak lama, mobil Atsumu ikut menyusul Osamu. Mereka bertukar pandang sekilas kemudian saling menyeringai di dalam kendaraan masing-masing.
"Kau tahu, Osamu, aku mulai bosan berbagi semua hal denganmu." Atsumu berujar.
"Heh, apa kau mau bilang selama ini kau hanya lembek padaku? Enak saja, aku sendirilah yang mencapai posisi itu," balas Osamu. "Baiklah, rasanya juga sempit jika harus berbagi posisi denganmu. Mari buktikan siapa yang pantas berdiri sebagai juara."
"You've got me there." Atsumu menaikkan kecepatan mobilnya, melewati Osamu. "Makan, tuh!"
Kuroo Tetsurou mengerjap ketika dua mobil di depannya itu mulai saling meninggalkan. Lantas, ia terkekeh.
"Oya? Jadi sampai di sini saja, nih? Maaf mengecewakan kalian, jalang-jalang kecil, tapi posisi pertama hanya milikku."
Ketika melirik spion, mata Osamu sukses terbelalak melihat si nomor 13 yang dekat dengannya. Sekarang mereka telah bersisian. Belum sempat diistirahatkan dari keterkejutan, Osamu terguncang oleh senggolan MCLaren 650S GT3 yang tampak garang dengan warna merah membara itu. Susah payah ia mempertahankan posisi agar tetap pada jalur. Namun, Kuroo tak berhenti setelah tindakan pertama. Ia terus mengulang dan mengulang lagi sampai Honda NSX GT3 itu memberinya akses jalan yang lebih luas. Tanpa ragu mobil Kuroo menyalip dengan bebas.
"That motherfucker!" umpat Osamu kesal. Ia harus menurunkan kecepatan demi menghindari agar mobilnya tidak oleng. Setelah jauh lebih stabil, ia kembali mengatur persneling mobilnya dan berusaha menyusul si nomor 13.
"Wah wah wah, sepertinya Kuroo Tetsurou berniat unjuk diri dalam debut pertamanya setelah dua tahun. Ia memukul mundur Miya Osamu menuju posisi ketiga dan tengah berusaha menyusul Miya Atsumu. Mungkinkah kita akan mendengar nama baru malam ini?"
Atsumu refleks melirik spion dan melihat mobil Kuroo yang semakin menipiskan jarak dengannya. Di sisi lain, ia juga mengkhawatirkan Osamu yang belum muncul dalam radarnya juga.
"Tsumu, selesaikan cepat. Tidak perlu memikirkanku."
"Osamu?"
"Dengar, si nomor 13 itu licik, sebisa mungkin jangan bersisian dengannya. Gah! Sialan!"
"Oi, Samu? Ada apa?!"
"Seharusnya kau tidak memikirkan orang lain saat sedang balapan."
Atsumu terkejut ketika ada suara lain yang bergabung dengan saluran intercom-nya. Ketika ia menoleh ke samping, mobil merah Kuroo Tetsurou sudah ada di sana. Atsumu terguncang oleh senggolan mobil bernomor 13 itu. Susah payah ia mempertahankan keseimbangan dan balas menyerempet mobil Kuroo. MCLaren 650S GT3 itu balas menyenggol dengan jeda singkat, tak memberikan kesempatan pada si bumblebee untuk mengatur posisi. Garis finish sudah di depan mata dan serangan Kuroo semakin membabi-buta. Atsumu tak tahu lagi apa yang harus diprioritaskan; tetap melaju atau membalas si nomor 13 agar tak menghalangi jalan.
Atsumu diguncang lagi dan kali ini ia kehilangan kendali. Gadis itu terpaksa harus menurunkan kecepatan agar tidak menabrak pembatas sirkuit dan menyerahkan jalanan sepenuhnya pada Kuroo. Ia memukul stir mobilnya sambil mengumpat keras. Orang-orang yang bertaruh untuk nama Miya kembar terdiam melihat MCLaren 650S GT3 itu melewati garis finish pertama kali. Sementara orang yang bertaruh untuk Kuroo merayakan selebrasi dengan teriakan riuh. Menyambut Kuroo yang bergabung ke tengah-tengah mereka.
Atsumu memasang wajah masam selepas pengumuman. Ia menempati posisi ketiga karena disalip oleh Meian yang menyusul Kuroo segera. Sementara Osamu di posisi keempat. Atsumu bukannya kesal karena harus menyerahkan posisi juara bertahan. Tak ada kemenangan yang abadi. Namun, karena ketentuan di awal pertandingan yang membuatnya kesal. Yang mana, Kuroo punya hak meminta sesuatu pada siapapun yang diinginkan. Parahnya, Atsumu sudah bersikap congkak dan sempat mengatai Kuroo sebelum bertanding. Kini ia harus tahan melihat si kucing yang menyeringai padanya.
"Konoha, ketentuannya aku boleh minta sesuatu dari yang kalah, 'kan?"
Konoha mengangguk. Atsumu mendecak. Ia tahu Kuroo sengaja memanas-manasinya dengan sok bertanya ulang.
"Oke, Miya Atsumu? Bagaimana?"
Atsumu memutar bola matanya bosan. "Apa yang kau inginkan?"
"Tinggalkan kota ini. Kau tidak boleh balapan lagi di sirkuit Ginza sampai berhasil mengalahkanku."
Sekonyong-konyong Atsumu menoleh dengan tatapan melebar. Ia tak mengerti omong kosong apa lagi yang dibicarakan kucing busuk ini. Padahal hanya menang sekali. Sementara Osamu hanya bisa menghela napas.
"Kau gila?"
Kuroo menggeleng. "Seratus satu persen waras. Aku tidak butuh seorang pelacur mengotori wilayahku."
"Dan sejak kapan ini menjadi wilayahmu, kucing liar? Kau jadi sombong hanya karena menang satu kali, huh?"
Kuroo tertawa sumbang, memupuk kekesalan Atsumu. Pria itu mengembuskan napas kemudian melirik si gadis berpirang emas itu. Langkahnya terangkat, menghampiri Atsumu lantas menarik dengan hati-hati beberapa helai pirang gadis itu.
"Dengar, ya, pelacur congkak. Sebelum kau mengotori sirkuit ini, aku sudah menjadi juara bertahan selama bertahun-tahun lamanya. Hanya saja dua tahun lalu aku ditimpa kemalangan dan harus berhenti sementara." Kuroo menatap lurus ke dalam netra cokelat Atsumu yang memandangnya tajam. "Jadi bisa dibilang kaulah pendatangnya. Tanya saja pada semua orang di sini. Aku itu ketua Nekoma, paham?"
Atsumu menepis tangan Kuroo. Meskipun ia tahu bahwa Nekoma adalah salah satu geng yang berkuasa di Tokyo dan punya pengaruh besar. Darahnya sudah mendidih sejak tadi menerima segala perkataan kotor Kuroo Tetsurou.
"Posisi tidak ada hubungannya dalam balapan. Mau kau ketua, presiden, raja atau apapun di atas jalanan semuanya memiliki posisi yang setara."
"Kau benar, tapi tentu saja Nekoma sudah mengklaim wilayah ini sebagai bagian dari kekuasaannya. Otomatis, semua kegiatan di atas tanah ini harus patuh dengan regulasi yang kami buat."
"Itu membuatmu lebih terdengar seperti seorang preman rendahan."
Kuroo mendengkus geli. "Baiklah, kalau kau ngotot mau tinggal di sini silakan. Tapi bayar dengan tubuhmu, oke? Jadilah lacur yang baik untukku."
Tamparan telak menyapu pipi Kuroo hingga wajahnya sukses berpaling. Bekas merah hasil jejak tangan Atsumu berdenyut nyeri. Suasana menjadi tegang sesaat. Tak ada yang angkat bicara.
"Dari tadi aku hanya menahan diri untuk tidak mencabik mulut kotormu itu, Tetsurou. Baiklah jika itu yang kau inginkan! Aku akan pergi dari kota ini. Dan di kesempatan berikutnya jangan harap kau bisa berkata seenaknya lagi tentang diriku! Ayo pergi, Samu."
Kuroo mengusap bekas tamparan Atsumu di wajahnya. Decihan kecil keluar. Matanya memandang penuh dendam pada punggung Atsumu yang semakin menjauh.
"Lain kali akan kubuat kau merasakan neraka."
Osamu mendengkus ketika melihat Atsumu memasukkan barang-barang ke dalam mobilnya dengan penuh emosi. Gadis itu hanya memandangi kembarannya sejak tadi sambil bersandar pada mobilnya sendiri. Ia juga sedikit jengkel dengan hasil pertandingan. Intinya, mereka terlalu meremehkan Kuroo. Kesialan lain adalah berita bahwa Geng Nekoma telah resmi menguasai sirkuit Ginza kurang dari 24 jam yang lalu membuat mereka semakin terpojok.
"Apa kau sadar baru saja membuat masalah dengan orang yang salah?" tanyanya sarkas.
Atsumu berhenti sejenak, kemudian menoleh sinis pada Osamu.
"Lantas apa yang harus kulakukan? Membiarkan kucing busuk itu terus mengatakan hal sesuka hati padaku? Tidak bahkan dalam 100 tahun lamanya."
"Kau bisa pergi dengan damai tanpa membuat masalah. Dan sekarang, kau membuat nama kita berdua berada dalam daftar hitam Nekoma," balas Osamu.
"Siapa yang peduli? Aku juga tidak mau lagi tinggal di kota ini. Harga diriku terlalu tinggi untuk mengemis pada kumpulan kucing busuk itu." Atsumu berujar sambil mengatur barang-barang di dalam mobil. Osamu menghela napas panjang.
"Lantas kau mau apa? Kembali ke Inarizaki? Kau kira mereka akan menyambut kita dengan tangan terbuka dan senyuman?"
Atsumu mengangkat kepala, menatap kembarannya itu dengan tatapan serius.
"Aku tidak berencana kembali ke neraka yang sama."
Alis Osamu terangkat naik. "Lalu?"
"Kita akan ke Yokohama."
Osamu tahu Atsumu itu gila. Tapi ia tidak menyangka bahwa sudah separah ini. Rahangnya terbuka lebar. Atsumu mendesis karena risih dengan reaksi Osamu.
"Jangan menatapku seperti itu. Kita tidak punya apapun saat ini. Yokohama satu-satunya tempat aman."
"Aman dalam kamusmu itu tidak pernah berarti baik, Atsumu! Apa kau bahkan tahu cara drifting? Kau tahu bahwa sirkuit Yokohama adalah yang paling terburuk dari yang terburuk! Kau hanya akan berakhir menjadi bangkai yang dinikmati para gagak jika nekat ke sana!" cecar Osamu. Sungguh ia tak habis pikir mengapa kembarannya ini hanya tahu cara menempatkan posisi mereka dalam bahaya. Setelah berurusan dengan si kucing penguasa Tokyo kini dengan para gagak haus darah di Yokohama?
Atsumu mendengkus. "Aku berencana untuk bernegosiasi dengan ketua gagak itu."
"Memangnya kau bisa?" tanya Osamu skeptis.
Atsumu membanting pintu mobilnya. "Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya."
Sirkuit balap Yokohama terkenal dengan sebutan Jalur Neraka. Lokasinya dekat pelabuhan, dengan jalur yang nyaris tak masuk akal. Sirkuit Yokohama didominasi oleh tikungan tajam sehingga para pembalap harus memiliki kemampuan wajib lainnya selain membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka harus punya kemampuan drifting untuk bisa melewati sirkuit dengan selamat. Itulah mengapa sirkuit Yokohama jauh lebih dikenal dengan nama Yokohama Drift.
Namun, meski begitu pamor Yokohama Drift tak kalah dengan sirkuit balap liar lain di seluruh daratan Jepang. Yokohama Drift memiliki regulasi tapi tidak seketat Sirkuit Ginza maupun Keihanshin. Pendatang baru dengan latar belakang apapun dibolehkan berpartisipasi dalam balapan dengan syarat tak boleh ada pertumpahan darah karena konflik pribadi atau kelompok di atas jalur balap. Sirkuit ini juga merupakan sirkuit dengan kelonggaran peserta paling renggang namun dengan kasus kecurangan paling besar serta memakan korban jiwa akibat kecelakaan.
Selain itu, Yokohama yang merupakan kota yang menjadi pusat kegiatan pelabuhan. Meskipun diawasi ketat oleh aparat keamanan, tetap saja proses transaksi ilegal senjata, drugs, perdagangan manusia sangat marak terjadi. Pelabuhan menjadi sasaran empuk praktik-praktik ilegal. Records tindakan kriminalnya jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Beberapa tempat di sekitar pelabuhan bahkan dijadikan markas bagi organisasi kejahatan terstruktur, pemasok hitman, juragan narkoba dan banyak lagi jenisnya. Karena area balap Yokohama juga dekat dengan pelabuhan, tak jarang transaksi ilegal juga terjadi di sana.
Ada empat organisasi besar yang menguasai Yokohama. Setelah insiden Konflik Yokohama Berdarah 80 Hari yang melibatkan organisasi-organisasi kejahatan dari seluruh penjuru Yokohama terjadi, kegiatan organisasi mulai sedikit ditekan. Insiden itu menewaskan sepuluh ribu pasukan dari organisasi dalam kurung waktu hampir tiga bulan. Beberapa organisasi bubar, diusir dan sisanya menyamar, mekar menjadi geng kecil dan menepi di pinggir kota. Sementara 4 organisasi besar yang terdiri atas Karasuno, Aoba Johsai, Shiratorizawa dan Dateko menjalin perjanjian untuk tidak saling mengusik dan membacok satu sama lain. Shiratorizawa menjalankan bisnis utama sebagai pemasok hitman dan beberapa bisnis ilegal yang dijalankan di perusahaan cangkang dengan kedok bisnis pariwisata. Karasuno sendiri menjalankan bisnis utama melalui balap liar yang diselenggarakan di atas Jalur Neraka Yokohama dan penyewaan ruko untuk perdagangan, serta firma hukum yang siap membantu masalah persengketaan wilayah. Dateko berjalan dengan bisnis konstruksi dan alat berat, namun diam-diam memiliki perusahaan cabang dan cangkang pemasok narkoba dengan area seluas Asia-Pasifik. Aoba Johsai menjalankan beberapa rumah bordil serta menjadi penyuplai senjata dari luar negeri.
Meskipun sering terjadi ketegangan yang akan berakhir berdarah, keempat organisasi itu tidak serta-merta langsung menyerang satu sama lain. Selain menjaga bisnis, mereka juga mempertimbangkan konsumen yang akan menunjang dan memasok uang kepada mereka. Karena itu jalur lain yang bisa membuat mereka unjuk kebolehan serta mengatakan pada orang lain bahwa mereka superior adalah dengan balap liar di sirkuit Yokohama Drift.
Atsumu sejujurnya takut. Ia gemetar begitu diantar menaiki bangunan tinggi yang merupakan kantor utama Karasuno. Kalau tidak salah, orang yang mengantarnya sekarang adalah Tsukishima Kei, salah satu negosiator Karasuno. Ia telah membuat janji dengan pemimpin Karasuno, Sawamura Daichi meski harus melewati proses yang alot.
"Sebaiknya kau tidak membuatnya murka. Daichi-san bukan tipe yang lemah lembut pada orang," saran sang negosiator. Atsumu hanya mengangguk pelan. Ia mengikuti pria tinggi itu melewati lorong menuju ruangan Daichi. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan, Tsukishima pun masuk. Tak lupa ia membungkuk sekilas pada pimpinannya.
"Daichi-san, dia Miya Atsumu. Orang yang minta bertemu denganmu."
Penampilan Daichi benar-benar tak sesuai dengan ekspektasi Atsumu. Ia sudah berpikir akan menemui pria kekar dengan tato di seluruh tubuh, wajah garang serta luka parut yang dianggap sebagai piala sekaligus bentuk intimidasi. Pria ini tampak normal, bahkan tak seseram yang dikira. Ia hanya mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan hitam yang sederhana. Mau dilihat darimana pun ia tak tampak seperti pemimpin organisasi kriminal.
Daichi mengangguk pada Tsukishima dan pria pirang itu pun berjalan keluar meninggalkan mereka. Atsumu dipersilakan duduk di sofa, ia bahkan disajikan teh hangat oleh seorang gadis berwajah imut. Atsumu sedikit ragu apa benar ini adalah Karasuno yang menjadi dalang di balik balap liar Yokohama?
"Ada yang bisa kubantu, Miya-san?" tanya Daichi. Atsumu tersentak sekilas, kemudian berdehem.
"Begini, sebenarnya, kemarin saya baru diusir dari Tokyo dan tidak bisa berpartisipasi—"
"Tolong langsung ke intinya, Miya-san. Aku punya pertemuan lima belas menit lagi."
Atsumu kaget lagi ketika Daichi menyela dengan tegas. Orang ini benar-benar tidak bisa diajak basa-basi.
"Saya ingin tinggal di kota ini selama beberapa waktu, jika Anda tidak keberatan. Dan saya dengar juga Karasuno merupakan penguasa sirkuit balap Yokohama. Saya ingin berpartisipasi dalam balapan yang ada."
Daichi memandangnya sebentar kemudian tertawa. Atsumu bingung, tak tahu di mana letak lucunya. Namun, sadar bahwa di sini posisinya adalah pendatang baru, Atsumu hanya diam dan menunggu keputusan Daichi.
"Sebenarnya tidak masalah jika kau ingin tinggal di sini. Ada plaza dekat pelabuhan yang bisa kau sewa. Tapi, untuk berpartisipasi dalam balap liar … mungkin itu sedikit meragukan."
"Saya bukan pemula, Sawamura-dono. Saya yakin bisa ikut balapan," sela Atsumu cepat.
"Apa kau tahu cara drifting?"
Atsumu terdiam. Ia tak menjawab. Daichi sudah tahu apa jawabannya. Ia menyerahkan sebuah selebaran kepada Atsumu.
"Untuk sementara tinggallah di Plaza Raven dan pertimbangkan kembali soal keputusanmu untuk ikut balapan. Sekali terjun dalam sirkuit, kau tidak akan bisa keluar dengan mudah. Tapi jangan salah paham. Aku menerimamu karena yakin kau tidak akan membuat masalah di sini, makanya jangan mengecewakanku, Miya-san."
Atsumu tidak diberi kesempatan untuk berkata-kata lagi. Akhirnya ia pamit keluar dan menolak halus ketika akan diantar oleh Tsukishima. Meninggalkan kantor pusat Karasuno, Atsumu tak langsung kembali. Ia hanya mengabari Osamu untuk menyewa sebuah kamar di Plaza Raven sementara ia berkendara ke dermaga. Tanpa tujuan yang jelas.
Atsumu turun dari mobil kemudian menghampiri pembatas beton. Di depannya lautan membentang tanpa ujung dengan garis cakrawala yang memisah laut dan langit. Semilir angin memainkan rambutnya. Ia mendecak.
"Memang seberapa susah melakukan drift?" ujarnya pada angin. Ekspresi wajahnya ditekuk. Jika soal memainkan rem dan persneling, Atsumu sudah paham dengan hal itu. Hanya saja ia tak pernah melakukannya secara langsung. Gadis itu mendecak kemudian kembali ke dalam mobilnya.
Osamu kaget ketika sedang tidur santai dan tiba-tiba Atsumu datang menyeretnya keluar. Ia sempat protes tapi Atsumu tak menggubris. Osamu hanya disuruh ikut tapi tak diberitahu ke mana.
"Atsumu, sebenarnya kau ini mau kemana, sih?"
"Aku ingin melihat langsung sirkuit Yokohama."
"Memangnya sekarang ada balapan?"
Atsumu mengangguk.
Mereka sempat kesulitan untuk mencapai lokasi, namun pada akhirnya tetap sampai. Beruntungnya, balapan masih berlangsung dan mulai memasuki lap akhir.
Osamu meneguk ludah ketika menapakkan kaki di area balap. Ada banyak orang yang memenuhi tribun dan bersorak meriah ketika dua tiga mobil melesat di tikungan dengan bunyi seret yang memekkakan telinga. Teriakan mereka semakin menjadi ketika sebuah mobil berhasil menyenggol keluar mobil lain dari sirkuit. Trek Yokohama memang terkenal dengan tikungan medan sempit yang tidak stabil. Sehingga, butuh banyak—ralat, sangat banyak keberanian, kemampuan dan kepercayaan diri bahwa peserta punya akhlak yang cukup untuk tidak dilemparkan ke neraka ke dua. Atau, mereka bisa keluar sebagai pemenang.
Atsumu menarik Osamu untuk duduk di tribun, memperhatikan mobil-mobil yang sedang beradu di bawah sana.
Osamu fokus pada layar besar yang tengah menayangkan mobil-mobil yang sedang adu kecepatan dan ketahanan di antara sirkuit yang tidak stabil. Saling menyinggung, menyalip dan mendahului dengan cara barbar. Sangat berbeda dengan balapan di Ginza. Mereka sama sekali tak terikat aturan. Hadirnya korban jiwa pun mungkin tak akan terelakkan.
Yang paling khas adalah tikungan tajam yang harus dilewati para pembalap itu. Beberapa gagal melakukan drift dengan sempurna sehingga jalannya tampak tersendat-sendat bahkan keluar jalur dan menabrak pembatas sirkuit. Hanya ada beberapa yang bisa melakukan drift dengan sempurna dan melewati bagian tersulit itu. Osamu meneguk ludah. Membayangkan seberapa besar usaha untuk mengkoordinasikan persneling dan mengatur rem sudah membuatnya ngeri duluan.
"Ya, ini dia! Sang juara bertahan, Sakusa Kiyoomi sudah memasuki lap terakhir. Oh, dia juga disusul oleh Suna Rintarou! Siapakah yang akan menjadi raja dan pecundang malam ini?"
Suara komentator terdengar sampai ke tribun. Orang-orang semakin menggila kala melihat dua mobil dengan kecepatan tinggi saling beradu hendak mencapai garis finish. Pemuda ikal yang berada di dalam mobil sport dengan gradasi kuning hijau menarik persneling ke belakang sekali kemudian mendorong ke depan. Tekanan pada akselerator semakin dalam. Mobilnya melaju. Namun, mobil sport hitam di belakangnya tak mau kalah. Pemuda bermata sipit yang tengah menjepit rokok dengan bibir itu menyeringai. Tangan dan kakinya saling berkoordinasi dengan pengendali mobil, menambah kecepatan hingga kini mereka berdampingan. Penonton menggila dan komentator tak henti-hentinya berbicara hingga ludah terciprat ke mana-mana. Atmosfer terasa berat, bahkan bagi Atsumu dan Osamu yang merupakan pendatang baru di lokasi itu. Ajang senggol terjadi sesaat sebelum kedua mobil melewati persegi hitam putih di atas aspal Yokohama. Teriakan penonton pecah. Dua mobil yang tampilannya saling bertolak belakang itu bermanuver sekali kemudian berhenti dan menerbangkan debu di sekitar.
"SERI LAGI? YA AMPUN, INI SUDAH YANG KETIGA KALINYA!" Sang komentator berujar keras. "Para pendatang ini cukup agresif. Posisi tertinggi saat ini dihuni oleh Sakusa Kiyoomi dari Tokyo dan Suna Rintarou dari Nagoya. Mereka bahkan membungkam sang tuan rumah, Shiratorizawa dan Karasuno yang telah mempertahankan posisi teratas selama setahun belakangan."
Kedua pengemudi keluar dari mobil masing-masing dan melepas atribut yang mulai membebani tubuh. Beberapa penonton menghampiri mereka, beberapa lainnya sibuk menghitung uang taruhan. Sisanya mencoba mencari peserta lain yang entah bagaimana nasibnya. Tak lama, beberapa mobil lainnya ikut menghampiri garis finish.
"Jadi … Ushiwaka-kun, aku masih boleh tinggal di sini, 'kan?" Pemuda sipit itu berujar santai. Yang diajak bicara hanya memasang muka datar dengan aura menyeramkan. Namun, si sipit tampak tak gentar. Malah, ia melebarkan seringainya.
"Bagaimana?"
"Kalau kau melanggar perjanjian, akan kupasang kepalamu di dinding ruang makanku."
Suna tergelak sementara Sakusa mendengkus. Ushijima Wakatoshi, kandidat terkuat pemimpin Shiratorizawa generasi selanjutnya itu meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun lagi. Sakusa menoleh pada Suna yang mencoba meredakan tawanya.
"Kau itu menjijikkan," cibirnya.
Suna menoleh ke arahnya dengan alis terangkat. "Huh? Tenang saja. Lain kali akan kubuat kau mencium aspal Yokohama." Suna berujar santai sambil menepuk amplop ke pipi Sakusa. Pemuda ikal itu mendengkus setelah menerima imbalannya.
"Jangan seenaknya. Kalau kau dalam bahaya aku tidak akan menyelamatkanmu, loh."
Bahu Suna terangkat sekali. "Kita bahkan bukan teman atau rekan, atau kekasih. Atau kau suka padaku?."
Sakusa refleks menoyor kepala pemuda yang sedikit lebih pendek darinya itu.
"Kau gay?"
"Hm? Straight. Hanya saja aku penasaran kalau main sama laki-laki itu bagaimana. Apa itu sudah termasuk bi?"
Sakusa mendengkus. "Tidak keduanya. Kau sinting, Suna Rintarou." Ia berujar pelan sebelum melangkah pergi dari tempat itu.
"Salah. Yang benar itu Suna ganteng Rintarou!" Suna memprotes. Ia menyusul Sakusa yang berjalan menjauh.
Osamu menoleh pada Atsumu yang hanya diam memandang dua orang yang keluar sebagai juara tersebut. Masih terekam di otaknya bagaimana ia melihat mereka melakukan drift dengan sempurna. Gerakannya sangat profesional dan halus. Seolah mereka melakukannya seperti sedang mengerjakan aktivitas biasa.
"Apapun yang kau pikirkan, Atsumu, aku beritahu itu bukan ide yang bagus," ujar Osamu.
"Apa maksudmu?"
Osamu menghela napas. "Syarat ikut dalam sirkuit balap Yokohama Drift adalah kau harus bisa melakukan drift untuk melewati jalur balap. Dan kau berpikir dua orang itu akan mengajari kita dengan sukarela? Jangan harap."
Sebenarnya, apa yang dikatakan Osamu setengah benar.
"Tapi kita tidak punya pilihan lain jika ingin bertahan hidup," desis Atsumu.
"Atsumu, dari tampangnya saja dua orang itu sudah jelas akan menolak. Lagipula siapa yang mau menambah lawan? Belum lagi mereka pasti akan sangsi karena kau perempuan."
"Osamu!" Atsumu berteriak memperingatkan.
"Apa? Yang kukatakan benar, 'kan?" Osamu menghela napas. "Atsumu aku lelah. Ayo lakukan kegiatan lain saja."
Atsumu tak menjawab lagi. Ia berjalan meninggalkan Osamu di tribun. Osamu tentu saja kaget. Ia melihat ke mana kembarannya itu hendak pergi. Gadis itu mengumpat sambil berusaha menyusul Atsumu.
"Kenapa dia begitu keras kepala?"
Osamu mempercepat langkah begitu melihat Atsumu akan menghampiri dua orang yang keluar sebagai juara kala itu. Ia tak bosan-bosannya mengutuk tindakan ceroboh dan tanpa pikir panjang dari Atsumu. Bisa-bisa ia hanya akan membawa masalah baru lagi dan Osamu sudah lelah terseret-seret.
Suna berhenti melangkah ketika merasakan seseorang tengah berjalan ke arahnya. Ia menepuk pundak Sakusa sehingga pria itu ikut berhenti dan menoleh. Seorang gadis berambut pirang emas tampak berjalan ke arah mereka. Ia berhenti ketika mencapai jarak sekitar satu meter. Di belakangnya, gadis berambut pirang abu ikut menghampiri dengan sedikit kepayahan.
"Kalian …."
Suna menunjuk dirinya dengan tatapan bertanya. Sakusa hanya mengangkat alis skeptis. Mereka berdua terkejut ketika gadis itu membungkuk 90 derajat. Bahkan Osamu yang baru sampai ikut terkejut, tak menyangka seorang Miya Atsumu, kembarannya yang terkenal dengan ego yang begitu tinggi akan menundukkan kepala seperti ini.
"Tolong ajari kami cara melakukan drifting."
Suna mengerjapkan mata, Sakusa masih mempertahankan raut skeptisnya. Mereka saling melempar pandang sekilas sebelum kembali menatap dua orang gadis dengan wajah yang nyaris sama itu. Osamu kehilangan kata-kata. Ia juga tak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Ia hanya bisa berharap kali ini mereka tidak akan terlibat dalam masalah yang lebih besar.
Tbc
