"Apreciation"
By Fureene Anderson
Monsta ia own Monsta Studios
Warning: MetropopAU!/Plotless/ no pairing/ no superpower/Cerita tak sesuai prompt/ Selfmotivation/Typo/dll
Fanfiksi ini dibuat untuk meramaikan #DrabbleChallengeRamadhan dan #Ramabblec dengan promt "enak"
Now playing: Zero O'clock – BTS
Enjoy Reading
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Kuala Lumpur masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Gedung pencakar langit yang berbinar menghiasi jalanan malam yang dipenuhi laju lalu lintas. Lampu-lampu jalan serta deretan pusat perbelanjaan yang ramai menandakan aktivitas di kota itu masih berjalan layaknya siang hari.
Yaya menghela napas, menyandarkan kepalanya ke kaca bus yang bergetar. Masker menutupi hidung dan mulutnya. Telinganya disumpal airpods yang mengalunkan lagu favoritnya, meski pengemudi di depan berbaik hati memperdengarkan lagu-lagu hits saat ini.
Hujan yang mengguyur kota malam itu membuat bus yang biasanya sesak terasa lebih longgar. Ingatan Yaya jatuh pada beberapa jam yang lalu. Saat rapat dengan klien yang sangat mengesalkan. Kepalanya terasa sakit hanya untuk memikirkan jawaban-jawaban jitu untuk meluluhkan hati kliennya. Meski hasil di mata bosnya sudah cukup, namun Yaya merasa ada sesuatu yang kurang pada pekerjaan. Ada kejanggalan yang terus menghantui dan membuat penatnya bertambah.
Dering ponsel menginterupsi lagu, Yaya mengernyit mendapat satu pesan masuk.
"Udah pulang? Gimana sama kerjaan kamu? Lancar nggak? Kamu masih dimodusin sama staf animator itu?"
"Apa sih?" Yaya terkekeh di balik maskernya, jarinya menekan tombol panggil dan menunggu hingga panggilannya diangkat.
"Halo, Yaya!" Suara nyaring Ying segera menyerang gendang telinganya. "Kamu udah sampai rumah? Kok main telepon aja?"
"Belum kok. Ini lagi di bus." Yaya tersenyum. "Aku lagi capek banget, pengen dihibur."
"Loh kenapa? Kamu abis diomelin sama bos kamu? Kamu emang ngelakuin apa?"
"Nggak kok, aku lagi penat aja," Yaya menghela napas. "Kayaknya aku jenuh deh kerja di sana."
"Kenapa jenuh?" tanya Ying. Yaya menerka Ying sedang berbaring di kamarnya seraya memeluk guling.
"Nggak tau. Aku kayak nggak pernah puas aja sama apa yang aku kerjain, kayaknya setiap hari aku selalu ngelakuin kesalahan yang bikin aku kepikiran."
"Kamu bukannya emang dari dulu kayak gitu?" tanya Ying heran. Yaya menarik napas, menggulir ponsel untuk melihat kiriman di Photogram sembari mendengarkan Ying. "Kamu kan emang perfeksionis dari kita SD. Ada coretan di lembar ujian aja, kamu minta ganti kertas baru. Dapet nilai A tanpa plus aja udah uring-uringan seminggu. Seragam lecek, kamu bela-belain pulang buat nyetrika lagi. Sekarang ya wajar sih kalau kamu emang nggak pernah puas sama hasil kerja kamu."
"Iya sih, apalagi manajemennya juga kayaknya nggak cocok sama aku," desah Yaya. "Karyawan sama pimpinan di kantor aku terlalu santai, nggak cocok sama aku yang suka kedisiplinan dan aturan. Aku jadi terkekang sendiri. Apa mendingan aku resign aja ya dan cari kantor lain?"
Ada jeda cukup lama, hingga Yaya mampu mendengar lagu yang diputar pengemudi bus di depan.
"Mending kamu santai dulu deh, Ya. Tarik nafas," tukas Ying di seberang jaringan pada akhirnya. "Aku bukannya mau ngajarin kamu bertahan sama kejenuhan. Setiap orang emang selalu punya titik jenuhnya sendiri. Tapi coba berhenti dulu sebentar buat diri kamu."
Yaya membiarkan Ying melanjutkan dialognya sementara bus berhenti di halte dan memasukkan beberapa penumpang.
"Kamu selalu ngerasa nggak puas sama diri sendiri, kayaknya itu yang bikin kamu sering ngerasa capek. Aku udah pernah bilang sama kamu buat nggak terlalu ambil serius sesuatu karena aku tau kalau udah kayak gitu, kamu bakal ngelupain semuanya, termasuk diri sendiri," lanjut Ying. "Coba deh kamu inget nggak waktu aku bilang kita sesekali juga perlu apresiasi diri sendiri?"
"Iya, aku inget. Kamu bilang kita perlu muji diri sendiri atas apa yang udah kita kerjain. Tapi gimana aku bisa muji diri aku sendiri kalau aku aja nggak puas sama apa yang aku kerjain?"
"Emang susah sih. Kadang kita sendiri juga berat buat muji orang lain kalau orang itu nggak bisa penuhin apa yang kita mau," sahut Ying membenarkan. "Tapi ... Seenggaknya kita bisa muji usahanya. Dia udah berusaha keras, bukannya sedikit pujian bakal mendorong dia buat berusaha lebih baik lagi? Dan itu berlaku juga buat diri sendiri, Ya."
"Mungkin kamu bisa mulai dengan berendam air hangat habis ini." Gadis itu terkik kecil. "Pas banget, tadi di kantor aku juga bikin artikel tentang tips – tips ngatasin kejenuhan pas kerja. Nanti aku masih link-nya, kamu baca ya?"
Yaya tertawa. "Emangnya kapan aku pernah absen baca tulisan kamu. Kamu sendiri gimana di kantor? Lancar? Soal mentor kamu yang nyebelin itu gimana?"
Lalu Ying mulai bercerita dengan heboh soal kesehariannya di kantor. Setelah itu Ying akan memancing Yaya dengan isu sosial yang kemudian menjadi topik pembicaraan sepanjang perjalanan pulang Yaya.
"Eh Ya, aku punya lagu enak deh. Menurut aku lagunya kamu banget, dengerin ya?"
Yaya tersenyum. Setelah menunggu ojek online, ia segera menyalakan lagu dari Ying. Untuk sesaat Yaya tak mengerti arti dari liriknya yang menggunakan bahasa Korea. Ia pun mulai mencari terjemahannya, dan seketika tersentuh.
Dan kau akan bahagia. Seperti salju yang turun, bernapaslah seperti pertama kali. Memutar semuanya kembali.
Ketika lagu ini selesai, lagu yang baru akan dimulai. Semoga aku bisa sedikit lebih bahagia lagi.
Yaya tak pernah paham mengapa dulu saat berkuliah, Ying sering sekali menangis di bus sendirian karena sebuah lagu yang ia dengar seraya memandangi jendela. Namun kini Yaya mengerti. Lagu yang dikirimkan Ying memang betul-betul menggambarkan dirinya. Tentang lelah dan perasaan tak puas akan diri sendiri.
Sifat perfeksionis yang ia miliki memang terkadang merepotkan. Kesempurnaan untuk melakukan sesuatu membuatnya seringkali menyiksa diri. Begadang dan mengerjakan sesuatu setotalitas mungkin hingga melupakan hal-hal penting seperti makan dan kesenangan diri sendiri.
Karena sifatnya itu Yaya dinobatkan menjadi sarjana termuda dan langsung diluncurkan di sebuah perusahaan besar. Namun ternyata kenyataan tidak pernah jatuh seperti bayangannya. Ia yang belum siap masuk ke dunia orang dewasa harus mempersiapkan diri lebih cepat dari teman-teman seangkatannya. Hal ini membuatnya tertekan dan seringkali merasa depresi.
Namun ada Ying yang selalu menemani harinya. Ia memang sahabat sekaligus rival Yaya sejak SD. Namun Ying sama sekali tidak dendam padanya ketika tahu bahwa Yaya lulus lebih cepat. Gadis itu justru sangat antusias menantikan cerita-ceritanya di tempat kerja. Ia menjadi sandaran Yaya sekaligus tempat berkeluh kesah setelah seharian diserang penat.
Suara klakson membuyarkan lamunannya. Ojek online-nya telah sampai. Yaya langsung naik setelah memastikan memastikan identitasnya dan memakai jas hujan yang ditawarkan pengemudi.
Sama seperti lirik dalam lagu yang dikirimkan Ying, Yaya berharap semoga besok ada sedikit tawa yang membuat harinya lebih baik lagi.
.
.
.
You gave me the best of me, so you'll give you the best of you.
You found me, you recognize me. _Magic Shop by BTS
FIN
A/n : Ada yang merasa lelah hari ini? Istirahat sebentar ya? Besok baru mulai lagi. Semangat!
