LEMBAYUNG
.
.
.
.
.
YOONMIN
.
.
.
.
.
(1/2)
.
.
.
.
.
SORRY FOR TYPOS, ENJOY!
.
.
.
.
.
Lapangan Irigo, 5 tahun lalu
CRASHH!
DHUARR!
"Jendral! Kita harus mundur!"
Dengan gertakan gigi yang memilukan, sang pemimpin menebas lawan terakhir didepannya sebelum memutar arah langkah dan berlari menuju benteng pertahanan pasukannya. Matanya berkilat penuh amarah dalam tiap langkah yang diambilnya menuju kekalahan, kedua tangannya terkepal kuat, menggenggam dua bilah pedang berkilat yang kini penuh dengan darah orang-orang yang berhasil dibunuhnya. Bara api murka semakin terlihat jelas dalam ekspresi kerasnya ketika melihat banyak dari pasukannya yang gagah kini bahkan tak sanggup untuk sekedar membuka mata.
Nadinya berdenyut cepat, akselerasi yang cukup untuk meledakkan jantung siapapun yang cukup normal untuk disebut manusia. Tapi tidak untuknya, baginya, pompaan akselerasi itu adalah cambuk yang melecutnya kembali kedalam realita menyakitkan tentang kekalahannya hari ini.
Pun,
Dirinya nyaris tak bisa disebut manusia normal.
Secara metafora dan literal, dirinya bukan manusia. Berbentuk dan beremosi persis, namun tetap berbeda.
Perbedaan yang membuat amarahnya meluap-luap tiap kali memori pedih penyiksaannya diputar dalam benaknya berulang-ulang bagai kaset rusak. Perbedaan yang tak sedikitpun membuatnya bahagia, namun memberikan bencana dan malapetaka.
Perbedaan yang membuatnya bertarung hingga seperti ini.
"Jendral! Kita harus segera mundur dari sini, atau pasukan kerajaan akan menghabisi semuanya!" Salah satu kapten kepercayaannya berteriak dengan suara sengau di kejauhan.
"Grrt!" Lagi-lagi sederet gigi putih itu menjadi objek pelampiasan amarah sang Jendral, ia mengerutkan dahi tajam seolah menahan sekuat tenaga amarahnya yang sewaktu-waktu bisa meledak.
"Tinggalkan semua barang disini! Kita pergi secepat yang kita bisa!" Sang Jendral memberikan perintah absolut yang tak memerlukan ucapan kedua kali untuk dilaksanakan seluruh pasukannya.
Mereka benar-benar meninggalkan lusinan tenda, amunisi, persenjataan, hingga alat memasak di tanah, membawa hanya baju yang melekat ditubuh dan bergegas naik ke kapal induk yang telah siap lepas landas.
BRRM!
Deru mesin kapal induk menggeram diantara kesunyian dan aroma kematian padang Savannah tempat pertempuran mereka, meninggalkan tanah becek penuh darah dan pasukan kerajaan yang memandangi kepergian sang musuh dengan sorak-sorai kemenangan.
Dari dalam ruang observasi, sang Jendral menatap kebawah. Lurus tajam kearah satu-satunya penunggang kuda berseragam tempur biru tua berkilauan yang ikut melempar tatapan kearahnya.
Keduanya saling menatap, dari jarak ratusan meter. Masing-masing melempar tatapan yang sama.
Bukan tatapan kebencian ataupun amarah seperti yang para pasukan lemparkan. Namun, tatapan sendu perpisahan yang membuat kebersamaan keduanya terasa mustahil.
Setitik air mata mengalir dari bola mata merah sang Jendral, sebelum dirinya keluar dari ruang observasi.
.
.
.
.
.
Present Day...
Kekalahan lima tahun lalu tak membuat patah semangat sang Jendral muda. Dengan sisa pasukan dan sumber daya yang dimilikinya, diperintahkannya para mekanik dan arsitek terbaik yang setia padanya untuk mencari tempat bagi para kawan-kawannya untuk tinggal. Sebuah tempat strategis yang jauh dari jangkauan kerajaan Lazuardi, namun cukup dekat untuk melakukan transaksi dengan kerajaan lain.
Berbulan-bulan setelah pertempuran, dan perundingan panjang mengenai tempat paling ideal mereka membuka lahan untuk kerajaan baru, tercapai kesepakatan jika teluk Abernith di timur yang telah lama ditinggalkan karena ombak besar yang terlalu berbahaya bagi kapal untuk bersandar dan area sekitarnya akan menjadi rumah baru bagi sang Jendral dan sedikit dari sisa kawan-kawan setianya.
Sang Jendral tak pernah mau menganggap orang-orang yang sejalan dengannya sebagai bawahan atau rakyat, baginya mereka semua sama dan setara selama masih menjadi anggota setia dari kelompoknya.
Masalah kedua muncul ditengah pembangunan, para kawannya bersikeras menjadikan sang Jendral sebagai pemimpin tertinggi mereka karena dianggap sebagai seorang yang paling mampu dalam memimpin. Namun menjadi pemimpin absolut bagi sang Jendral sama saja dengan mengikuti cara pemerintahan kerajaan Lazuardi yang dibencinya, dan ide itu ditolak mentah-mentah. Kemudian setelah perdebatan panjang mengenai permasalahan tersebut, sang Jendral akhirnya setuju untuk menjadi pemimpin simbolik, dirinya ada sebagai monumen persatuan seluruh kelompok, dan seluruh keputusan akan didiskusikan bersama dalam sebuah kabinet yang dipilih dari perwakilan tiap faksi kelompoknya. Delapan orang terpilih dalam kabinet tersebut, masing-masing mewakili para pedagang, militer, pengerajin, cendekiawan, penambang, petani, nelayan, dan penyihir.
Republik Ruby lahir tak lama setelahnya.
Dalam pemerintahannya, sang Jendral dengan tegas menolak semua kegiatan yang berhubungan dengan kerajaan Lazuardi, dan menutup total gerbang komunikasi diantara keduanya. Banyak rumor beredar mengenai asal mula kebencian sang Jendral terhadap kerajaan besar di barat itu, mulai dari dirinya yang dulu seorang aristokrat yang dikhianati hingga hubungannya dengan petinggi kerajaan yang kurang baik. Tak ada satupun dari semua rumor itu yang bisa dikonfirmasi kebenarannya, dan sang Jendral tak merasa memiliki obligasi untuk membicarakan masa lalunya didepan publik.
Para penduduk republik pun tak mempermasalahkan masa lalu pemimpin mereka. Mereka adalah para buangan yang tidak diinginkan dari kerajaan Lazuardi, dan sang Jendral dengan tangan terbuka menerima mereka dan menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri. Sebagai bentuk terima kasih, mereka bekerja keras membangun republik muda rintisan sang Jendral hingga lima tahun kemudian berubah menjadi republik yang makmur dan juga tempat strategis bersandarnya kapal-kapal besar kerajaan lain setelah masalah ombak berhasil diselesaikan menggunakan sihir republik.
"Selamat siang, Jendral."
"Selamat siang, kapten Hyojin. Apa laporan bulanan militer yang kuminta telah kau buat?" sang Jendral bertanya dari balik meja kerjanya.
"Ya, Jendral." Perempuan dengan pangkat tertinggi dalam militer republik itu maju dan memberikan flashdisk kemerahan berisi data militer yang diminta sang Jendral.
"Terima kasih."
"Uh, Yoongi?"
Sang Jendral mengangkat kepalanya dari tumpukan dokumen yang sedang dikerjakannya. Jika sang kakak sudah memanggil namanya dan meninggalkan gelar dan pangkat, pasti ada berita penting dan konfidental yang sampai ke telinganya.
"Ya, noona?"
"Aku mendapat kabar dari faksi penyihir level R jika kerajaan Lazuardi sedang mengalami masa gagal panen yang buruk tahun ini karena musim dingin berkepanjangan."
Faksi penyihir level R adalah badan investigasi rahasia buatan Yoongi yang dikhususkan dalam bidang spionasi dan infiltrasi ke kerajaan lain. Selain karena republiknya masih tergolong muda, banyak dari penduduknya merupakan penjahat atau buronan kerajaan lain. Jadi Yoongi merasa perlu membuat badan rahasia yang bertugas memata-matai seluruh pergerakan yang memunculkan potensi membahayakan subjek lindungannya dalam republik.
Namun, mendengar kabar jika kerajaan Lazuardi yang sedang mendapat musibah membuat nadi Yoongi kembali berdenyut cepat.
"Hahh," Hela napasnya panjang,"kita bicarakan ini di rapat kabinet akhir minggu ini, noona."
Hyojin tersenyum, sang adik telah banyak berubah dalam lima tahun kepemimpinannya. Dirinya terlihat lebih bisa mengontrol diri dan melonggarkann ultimatum terhadap kerajaan Lazuardi saat rakyat disana yang menjadi korban.
"Terima kasih, Yoongi-ya."
Cklek!
Yoongi menyenderkan tubuh lelahnya ke sofa dalam ruangannya tak lama setelah sang kakak pergi. Ditutupnya kedua netra merah miliknya selama beberapa menit, mengistirahatkan indera pengelihatannya dari akumulasi pekerjaan yang ditatapnya selama berjam-jam tanpa henti.
Tangannya merogoh kantung depan jas yang dipakainya, mengeluarkan sebuah arloji rantai analog keperakan yang masih mengeluarkan bunyi detik lemah.
Klik!
Ditekannya pegas disisi arloji, membuat tutup perak diatasnya terbuka, netranya ikut membuka dan menatap foto didalamnya.
Seorang laki-laki cantik bermata biru permata seindah warna laut dengan pakaian formal putih dan senyum manis bulat sabit paling indah yang pernah Yoongi lihat.
"Jimin-ah..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi menekan pelipisnya dengan jari, peningnya kembali menghampiri ditengah rapat kabinet bulanan rutin dengan para delegasi faksi. Pening yang sejak empat bulan lalu menghampirinya setiap pembicaraan mengenai kerajaan Hartal terlontar didepan forum.
Kerajaan Hartal adalah kerajaan terbesar ketiga setelah Lazuardi dan Kinantan yang beberapa waktu lalu mengirim delegasi pertamanya ke republik muda Ruby. Mereka memberikan banyak hadiah persahabatan seperti kain sutra, perhiasan, dan barang-barang berharga lainnya sebagai bentuk keinginan menjalin kerjasama dengan republik yang meski kecil namun berhasil menguasai nyari enampuluh persen jalur pelayaran diantara seluruh kerajaan yang ada.
Permasalahan yang membuat pening kepala Yoongi adalah informasi dari faksi penyihir level R yang mengatakan jika kerajaan Hartal selalu meminta timbal balik yang kadang menyulitkan kerajaan lain, terlebih republik kecil yang nyaris tak memiliki apa-apa seperti yang ditinggalinya saat ini.
Dan benar saja, empat bulan lalu delegasi mereka kembali datang, kali ini membawa misi perjanjian tambang yang menyulitkan. Sebagai sebuah kerajaan yang cukup besar, Hartal menawarkan diri membantu proses penambangan di wilayah kekuasaan republik, dengan penyihir hebat dan robot-robot raksasa yang mereka miliki. Tawaran itu jelas menggiurkan bagi pada kabinet karena selama lima tahun sejak pembangunan republik, faksi penambang menjadi faksi dengan progres paling lambat diantara faksi lain, karena keterbatasan alat dan sumber daya yang mereka miliki tidak mampu menembus batuan keras tempat galian mereka. Bahkan para penyihir republik memiliki batasan ilmu pengetahuan tentang sihir tingkat tinggi yang umumnya digunakan dalam proses penambangan. Mengingat mereka awalnya hanya bandit dan rakyat kecil di kerajaan Lazuardi tanpa latar belakang pendidikan yang mencukupi.
Namun balasan yang Hartal inginkan dalam perjanjian itu adalah kendali penuh atas seluruh operasi pertambangan dan pembagian hasil sebanyak limapuluh persen. Jelas sekali Hartal ingin memonopoli hasil tambang yang mereka dapatkan disana, terlebih setelah mengetahui fakta jika republik Ruby memiliki cadangan mineral yang melimpah dan menunggu untuk dieksploitasi.
Belum ada kesepakatan yang benar-benar konkret diantara para anggota kabinet, dan waktu pertemuan selanjutnya bersama kerajaan Hartal telah semakin dekat.
"Jendral, bagaimana pendapat anda?" Hajoon, perwakilan faksi militer menyadari sang Jendral yang tampak tak memperhatikan jalannya rapat, mencoba menyadarkan kembali sang atasan agar bisa lebih fokus.
"Ah, maaf. Aku sedang bepikir." Yoongi menegakkan posisi duduknya, ia meletakkan kedua tangan diatas meja dan memangku kepalanya, netra merahnya menatap satu per satu wajah pucat dan lelah para anggota kabinetnya yang memang tak mendapat cukup istirahat beberapa bulan terakhir ini.
"Aku berpikir jika kita harus menerima tawaran Hartal." Yoongi memulai,"dan perubahan bisa dibuat sesuai dengan status quo yang nanti terjadi."
"Tapi, intelku mengatakan jika mereka sangat licik, Jendral." Chanwoo, perwakilan faksi penyihir ikut berpendapat.
"Faksiku sudah mulai khawatir dan cemas, Jendral. Mereka mulai kehilangan semangat karena tidak bisa berkontribusi banyak untuk republik." Juntae, dari faksi penambang ikut menambahkan.
Yoongi menghela napas,"Katakan kita akan menyetujui kesepakatan itu, namun akan ada evaluasi perpanjangan kontrak per dua tahun. Dan supervisi penambangan akan menjadi tanggung jawab penuh faksi penambang. Bagaimana?" ia mencoba berkompromi.
Para anggota kabinet mengangguk, meski masih tampak sedikit keraguan dalam air muka masing-masing.
"Ah, dan pastikan ada anggota level R yang mengamati seluruh proses tambang dalam bayangan. Aku tidak mau terjadi kecurangan atau pelanggaran kontrak yang berpotensi membahayakan republik."
"Aku akan membuat analisis dampak lingkungan dan tindakan preventif yang akan dilakukan dalam penambangan." Jinyoung, faksi cendekiawan memberi usul tambahan.
"Terima kasih Jinyoung-ssi. Kalau begitu, rapat kita akhiri sampai disini. Berikan aku laporan rutin seperti biasa sebelum akhir minggu ini. Itu saja." Yoongi memberi pesan terakhir, sebelum beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruang rapat.
Hyojin telah menunggu didepan ruangan dengan senyum lebar dan sebuah mantel merah darah ditangan. Ia memberikan mantel itu pada Yoongi.
"Kendaraan sudah siap di lapangan. Kita bisa pergi sekarang, atau kau mau istirahat dulu?"
"Berangkat sekarang saja, aku bisa istirahat di benteng nanti."
Sang Kapten mengangguk kemudian berjalan beriringan bersama sang Jendral menuju sisi utara gedung pemerintahan, menuju sebuah lapangan besar tempat sebuah helikopter menunggu dengan mesin menyala.
Pergi mengunjungi benteng perbatasan terluar republik adalah satu dari sedikit hal yang bisa Yoongi anggap sebagai rekreasi menghilangkan penat setelah duduk menatap berkas republik yang tak kunjung habis. Selain untuk memantau secara rutin perbatasan republik mudanya, Yoongi juga hadir sebagai dukungan moral bagi para pasukan yang rela menjaga perbatasan dan meninggalkan keluarga mereka selama berbulan-bulan.
Kali ini, tujuan mereka adalah benteng Calyta di utara republik, berbatasan dengan hutan Alata dan barisan pegunungan Tugona. Laporan dari Hajoon beberapa lalu mengatakan jika sering terjadi penyerangan makhluk buas selama beberapa bulan kebelakang, yang tak pernah terjadi sebelumnya selama lima tahun berdirinya republik. Yoongi datang untuk ikut menginvestigasi sumber dibalik penyerangan makhluk buas dalam laporan itu.
"Selamat datang, Jendral Min Yoongi, di benteng Calyta." Kepala divisi perbatasan menyapa sang Jendral dengan hormat khas militer sebelum mengajak sang atasan masuk kedalam benteng dan beristirahat di ruang santai.
"Bagaimana perkembangan investigasi?" Yoongi menyesap teh yang dihidangkan sang kepala divisi sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Investigasi kami menemukan jika sebagian besar makhluk yang menerobos masuk berasal dari balik pegunungan Tunoga, Jendral. Kami belum bisa mengidentifikasi alasan utama kaburnya para makhluk itu karena terhalang yurisdiksi antar kerajaan."
"Makhluk-makhluk itu lari dari wilayah Lazuardi?" Yoongi tertawa satir, tehnya kembali disesap sebelum kembali bicara.
"Bahkan binatang muak tinggal disana." Ia meletakkan cangkir tehnya dimeja,"lalu, apa yang kalian lakukan pada binatang-binatang itu?"
"Karena efek panik, kami membunuh beberapa di awal kejadian. Namun setelah beberapa kali kasus, kami mulai menenangkan mereka dengan injeksi sedatif. Sementara mereka berada dalam pengawasan pasukan di kandang-kandang khusus."
Yoongi mengangguk, sebelum kembali berdiri.
"Aku akan mengelilingi benteng, sekaligus melihat kondisi para binatang itu. Tak perlu menemaniku, kapten Hyojin yang akan menunjukkan jalan."
Klik!
Yoongi menutup pintu ruang santai dan berjalan menuju lapangan pelatihan tempur. Para pasukan yang menyadari kedatangan sang Jendral yang sangat mereka kagumi itu sontak berkerumun bagai semut menemukan gula. Yoongi menyapa tiap anggota dan berbincang santai layaknya kawan yang sudah lama tak bertemu.
Langkahnya kembali dibawa menuju bagian belakang benteng, tempat beberapa pasukan berseragam militer lengkap republik tampak menjaga setidaknya tiga lusin kandang besar berisi binatang yang menerobos masuk kedalam area benteng. Dada kirinya berdenyut nyeri kala tak mendapati binar kehidupan dalam sorot mata para binatang itu. Tak sampai hati rasanya menyaksikan binatang yang harusnya berlarian bebas didalam hutan harus terkurung dalam penjara besi disini.
Namun Yoongi juga tak bisa mengambil resiko para binatang ini mengamuk dan menyerang kawan-kawannya di perbatasan.
"Jendral!"
Yoongi menoleh, kemudian mengangkat tangan menyapa Hyojin yang baru selesai memarkir helikopter di sisi lain benteng.
"Ah, aku tidak bisa melihat binatang malang ini. Bisa kita pergi?" Ujar sang kakak cepat sesaat setelah menyadari pemandangan menyedihkan didepannya.
Yoongi mengangguk, baik dirinya dan sang kakak memang tak pernah bisa melihat makhluk apapun diperlakukan tidak hormat seperti ini. Karenanya, mereka berjalan memasuki hutan, sesekali menyapa anggota yang berjaga sambil memutari perimeter terluar benteng Calyta.
"SIAPA DISANA!"
Seruan seorang anggota pasukan dari kejauhan membuat Yoongi dan Hyojin saling melempar pandangan sebelum berlari menuju sumber suara. Kerumunan pasukan telah terbentuk saat keduanya sampai. Mereka menerobos kerumunan, mencoba melihat apa sumber keributan itu.
Kedua iris merah Yoongi melebar sempurna melihat siapa yang baru saja tertangkap melewati batas benteng tanpa ijin. Kali ini bukan binatang buas ataupun binatang biasa, melainkan seorang teman lama.
"P-park Jimin?!"
.
.
.
.
.
Bohong jika Yoongi tak terkejut mendapati kemunculan seorang Park Jimin di benteng perbatasan republik dalam keadaan kotor dan kelelahan seperti ini. Instingnya dengan sigap menghampiri sang aristokrat kerajaan Lazuardi itu dan mengangkatnya dengan sekali hentakan. Netranya kembali membola kala melihat luka yang lebih kentara saat keduanya berjarak lebih dekat. Dengan langkah cepat dia membawa Jimin kembali ke benteng dan membaringkannya di unit kesehatan perbatasan. Seorang dokter dengan cepat menghampiri dan memeriksa kondisi sang laki-laki yang kini telah tak sadarkan diri.
Air muka khawatir tercetak jelas di wajah sang Jendral. Lima tahun tak bertemu, dan pertemuan pertama mereka harus dilakukan seperti ini. Sebagai seorang yang memiliki masa lalu dengan sang aristokrat, perasaan khawatir Yoongi sudah berada di ubun-ubun saat ini.
"Keadaannya parah." sang dokter membuka diagnosis dengan kalimat terakhir yang ingin Yoongi dengar.
"Sepertinya dia baru dipukuli oleh satu kompi pasukan. Dengan peralatan disini, aku tidak bisa banyak membantunya. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit pusat sebelum kondisinya memburuk."
Yoongi mengangguk mengerti, kemudian berlari keluar mencari sang kakak, yang sedang berbincang dengan salah satu anggota pasukan, dan memintanya untuk cepat menyiapkan helikopter kembali ke pusat kota karena Jimin harus segera mendapat penanganan. Meski mulutnya gatal ingin bertanya, Hyojin memprioritaskan perintah Yoongi dan berlari menuju helikopter yang bahkan masih hangat mesinnya untuk kembali dihidupkan.
Kunjungan mereka ke benteng Calyta menjadi kunjungan tercepat Yoongi ke sebuah benteng perbatasan. Sementara biasanya dia bisa menghabiskan sampai satu minggu dalam setiap kunjungan.
Jinyoung menyambut helikopter Yoongi didepan halaman luas rumah sakit dengan satu brankar dan tim dokter yang dengan cepat memindahkan Jimin menuju ruang pemeriksaan gawat darurat. Sang perwakilan faksi mendapat perintah melalui jaringan khusus sesaat sebelum helikopter lepas landas dari Calyta, dan tak membuang waktu untuk menyiapkan penanganan medis.
"Apa ini Park Jimin yang aku kira?" Jinyoung bertanya, dirinya bersama Yoongi dan Hyojin sedang menunggu hasil pemeriksaan di ruang tunggu.
Yoongi mengangguk,"Ya, Park Jimin yang itu."
Jinyoung menghela napas,"Kerajaan itu benar-benar tidak berpendidikan, memperlakukan anggota keluarga kerajaan sampai seperti itu."
"Bahkan baginya, melarikan diri dari Lazuardi hingga ke perbatasan Calyta dengan berjalan kaki dan potensi binatang buas dihutan sama saja dengan bunuh diri." Hyojin ikut berkomentar.
Yoongi hanya diam, meski sebenarnya dia pun ikut tak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di kerajaan itu. Mulai dari gagal panen, binatang buas berkeliaran, hingga sekarang seorang aristokrat yang melarikan diri dengan penuh luka.
"Noona, apa ada berita dari agen level R di Lazuardi?" Yoongi menatap Hyojin.
"Akan kukonfirmasi sekarang." Hyojin membalas cepat, kemudian membuka perangkat komunikasinya.
Klik!
Seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat, sontak membuat atensi ketiga orang yang sejak tadi menunggu terarah padanya. Ia membuka masker wajahnya dengan sebelah tangan, dan Yoongi bersumpah jantungnya berhenti selama sepersekian detik saat melihat air muka tak mengenakkan sang dokter.
"Tubuhnya terlalu banyak diterpa Volta." Kalimat yang cukup membuat kedua mata Yoongi menyala, secara literal.
Volta.
Alasan utama dari banyaknya alasan lain mengapa dirinya sangat membenci Lazuardi hingga ke sel terkecil tubuhnya. Percobaan dengan tingkat klasifikasi S, kode keamanan tertinggi bagian penelitian rahasia Lazuardi. Mereka mengembangkan sebuah serum, Volta, yang dipercaya bisa meningkatkan kekuatan manusia menjadi seorang metahuman, mutan.
Jimin dan Yoongi adalah dua dari sepuluh kelinci percobaan kloter pertama penelitian tak bermoral itu.
Para peneliti mengumpulkan sepuluh anak paling lemah dari segi fisik di kalangan bangsawan dan menjanjikan akan membuat anak-anak itu memiliki kekuatan super jika percobaan mereka berhasil.
Yoongi masih bisa mengingat dengan jelas perasaan sakit dan penderitaan yang dialaminya disana seolah semua itu baru terjadi kemarin.
Dari sepuluh subjek, hanya dirinya dan Jimin yang berhasil hidup dan menjadi metahuman. Dua anak yang diusia kelima belas menjadi Jendral termuda angkatan militer Lazuardi.
Yoongi memiliki kemampuan memanipulasi api, seorang Pyrokinetic. Perubahan itu membuat detak jantungnya bergerak dua kali lebih cepat dari manusia normal dan bola mata hitamnya berubah warna menjadi semerah api. Sementara Jimin, seorang Cristabilem, manipulator air dan es. Jimin kehilangan kilau hitam indah rambut dan matanya, merubah fisik sang aristokrat muda menjadi sosok pucat bersurai putih dan mata permata biru, persis seperti batu safir.
Keduanya menggunakan kekuatan mereka untuk memperluas daerah kekuasaan Lazuardi, membantai banyak penduduk kerajaan lain demi ambisi Garoo, sang raja kerajaan Lazuardi, kakak tiri Jimin.
Mereka melakukan perintah tanpa protes, hingga pada satu misi Yoongi tertangkap kelompok nomaden yang menolak tunduk pada kerajaan Lazuardi. Dirinya sudah lebih dari siap untuk mati saat itu, mengingat kondisi tubuhnya yang terluka parah dan menjadi tawanan musuh. Namun kenyataan yang dialaminya jauh dari ekspektasi tersebut.
Para nomaden itu mengobati luka-lukanya, menyambutnya dengan pakaian bersih dan makanan hangat, menganggapnya sebagai anggota mereka sama seperti yang lain.
Otaknya yang selama ini diprogram untuk mengikuti perintah kerajaan tanpa pertanyaan dan kurangnya kasih sayang semasa kecil membuat Yoongi perlahan membuka matanya pada dunia. Para musuh yang selama ini dihabisinya dengan tangan dingin ternyata tak sejahat dan semengerikan yang selama ini kerajaan katakan padanya. Bahkan setelah berpikir lebih dalam, Yoongi sampai pada kesimpulan jika kerajaan lah penjahat sesungguhnya dalam cerita ini.
Ia mencoba membuka mata Jimin, sebagai satu-satunya orang yang mengerti penderitaan masa percobaan sepertinya, Yoongi pikir Jimin akan paham dengan cara berpikir barunya. Jika mereka tak harus melakukan apapun perintah kerajaan dan bisa hidup bebas.
Namun Jimin menganggap Yoongi telah dipengaruhi oleh para nomaden musuh kerajaan, dan tak segan melaporkannya pada pihak kerajaan. Beruntung Yoongi berhasil kabur dengan bantuan saudara jauhnya, Hyojin, yang juga tidak menyukai cara kerja kerajaan Lazuardi dan mendapat perlindungan dari kelompok nomaden yang kala itu membantunya.
Sejak saat itu kebenciannya pada Lazuardi tertanam. Menurutnya kerajaan tiran seperti mereka harus musnah karena merugikan banyak nyawa tak berdosa demi kepentingan ego sang raja. Perlahan dia mengumpulkan pasukan dan sumber daya untuk melawan Lazuardi, butuh waktu lama, namun hasilnya cukup memuaskan.
Dan,
pertempuran terakhir di lapangan Irigo lima tahun lalu, sebuah padang Savannah tempat dia harus melawan sahabat sehidup sematinya sendiri dengan kedua tangannya, merupakan kekalahan terpahit dalam sejarah perlawanannya.
Yoongi tak marah saat kalah, namun harus meninggalkan Jimin dalam cengkeraman raja tiran di Lazuardi sana membuat jantungnya seperti ingin menyerah berdetak.
Lalu mereka harus bertemu dalam kondisi Jimin yang menyedihkan seperti ini, makin membuat Yoongi membenci Lazuardi dan bersumpah akan menghancurkan kerajaan itu sampai titik darah penghabisan.
"Kami berhasil menetralisir energi metahuman-nya untuk sementara, namun apakah dia akan pulih atau tidak semua bergantung pada metabolisme tubuhnya." ujaran sang dokter kembali menyadarkan Yoongi dari kemarahannya.
"Jinyoung-ssi, kumpulkan para anggota kabinet. Kita akan melakukan rapat darurat prioritas." Yoongi berujar dingin.
"Yoo-yoongi..." Hyojin menepuk pundak Yoongi yang tampak tegang, jelas sekali sang adik sedang tidak dalam pikiran yang jernih.
"Noona!" Yoongi menyeru, ini pertama kalinya Yoongi membentak Hyojin selama mereka mengenal satu sama lain, kilatan amarah terlihat jelas di matanya."kau tidak ingin melihat kerajaan busuk itu musnah?"
"Tentu saja ingin!" Hyojin balas menyeru, tak kalah keras."Tapi kita akan mendapatkan waktu yang tepat. Sekarang, urus saja Park Jimin sampai dia siuman. Urusan republik bisa menunggu sampai bulan depan. Aku tahu Jimin selalu menjadi prioritas utamamu."
"Arrrgghh!" Yoongi berteriak kesal, nyaris saja sebuah bola api terlontar dari tangannya.
Jinyoung, Hyojin, dan tim dokter mengalah dan memberikan waktu bagi Yoongi untuk menenangkan diri didalam ruang inap Jimin. Berbagai alat bantu medis tertanam dalam tubuh pucat sang laki-laki, suara mesin pendeteksi irama jantung konstan menjadi satu-satunya pengisi diantara keheningan keduanya.
Yoongi jatuh berlutut tepat disebelah ranjang Jimin, kedua tangannya terangkat menggenggam erat telapak tangan kanan Jimin yang terasa lebih dingin dari yang diingatnya. Kepalanya menunduk dalam, sebelum bahunya bergetar dalam isakan pelan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Ma-maafkan aku, Jimin-ah." Lirihnya pelan, diantara kristal bening yang terus mengalir dari dua netra merahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga minggu berlalu, dan Jimin masih berada dalam kondisi koma. Selama itu pula sang Jendral berada disebelahnya. Menolak meninggalkan sang sakit barang sedetikpun, bahkan untuk sekedar mandi atau pun mengisi perut. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah balas dendam dan harapan agar Jimin cepat membuka mata.
"Astaga, kau bisa mati jika begini terus." Hyojin menggelengkan kepala melihat wajah Yoongi yang kini sama pucatnya dengan Jimin. Ia duduk di sofa ruang rawat Jimin dengan kaki bersilang.
"Makanlah dulu dan pejamkan matamu sebentar. Biar aku yang menjaganya selama kau istirahat." Hyojin memberi perintah.
Yoongi tak ingin meninggalkan Jimin, namun kakak sepupunya itu akan mencari seribu cara untuk memaksanya melakukan apa yang dia mau. Jadi dalam skenario ini, Yoongi harus mengakui kekalahan dan mengikuti perintah sang kakak.
"Beritahu aku jika-"
"Ya, ya. Cepat makan." Potongnya cepat.
Yoongi beranjak dari tempat duduknya, ia meregangkan tubuh sedikit sebelum mengambil langkah menuju kantin rumah sakit di sayap barat bangunan, cukup jauh dari ruang rawat VIP yang Jimin tempati saat ini.
Satu jam berlalu sejak kepergian Yoongi, Hyojin nyaris tertidur ditempatnya duduk ketika melihat tangan kanan Jimin bergerak. Awalnya sang perempuan mengira dirinya berhalusinasi karena kelelahan menyelesaikan tugas Yoongi selama sang Jendral tidak ada. Namun tangan pucat yang terangkat bersamaan dengan terbukanya netra sang pasien VIP membuat kesadaran Hyojin kembali sepenuhnya. Dengan sigap dirinya berdiri dan menarik siapapun dokter yang berhasil ditemukannya didepan ruang perawatan untuk segera memeriksa keadaan Jimin.
Jinyoung dan dokter kepala rumah sakit masuk kedalam kamar perawatan beberapa menit setelah dihubungi dengan wajah terengah efek berlari. Mereka juga ikut memeriksa kondisi Jimin yang saat ini jauh lebih baik dibanding saat dirinya pertama sampai ke rumah sakit.
"Di-dimana ini?" Jimin bertanya dengan suara serak.
"Rumah sakit pusat Republik Ruby." Hyojin menjawab dengan suara datar, dirinya masih sedikit tidak menyukai kehadiran Jimin yang dianggapnya musuh di daerah kekuasannya.
"Ru-ruby?" Jimin mengulang,"Republik Ruby?"
Hyojin mengangguk,"Jangan banyak bicara, kau belum pulih benar. Aku akan memanggil Yoongi kesini secepatnya."
"Tidak, jangan panggil dia."
Hyojin menatap datar sang pasien,"Kau tidak bisa memerintahku disini, yang mulia." Sarkasnya, sebelum memutar badan menuju pintu ruang perawatan.
Hyojin menghela napas berat setelah beberapa meter menjauh dari ruang perawatan Jimin. Sebagian dirinya senang bisa melihat Jimin lagi setelah waktu yang lama, karena bagaimanapun mereka tetap berteman dulu. Namun bagian dirinya yang lain, masih tak bisa memungkiri perasaan tak nyaman akan potensi kedatangan dramatis Jimin sebagai mata-mata Lazuardi. Terlalu mencurigakan untuk bisa dianggap sebuah kebetulan, Jimin bisa muncul bersamaan dengan kunjungan Yoongi ke Calyta.
Dirinya mungkin satu-satunya orang yang mengetahui sedekat apa Jimin dan Yoongi dulu lebih dari siapapun, dan dirinya pun ingin mendukung hubungan mereka. Namun dalam kondisi seperti ini, logikanya memaksa untuk memprioritaskan keamanan Republik.
Klik!
Ditutupnya perlahan pintu ruang tunggu VIP tak jauh dari ruang rawat Jimin, kemudian menghampiri Yoongi yang sedang berbaring menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Jimin sudah siuman, kau bisa mengunjunginya sekarang." Hyojin berujar.
Tak sampai sedetik kemudian dirinya menjadi satu-satunya entitas penghuni ruang tunggu VIP. Yoongi sudah melesat pergi sejak kata 'siuman' diucapkan oleh sang Kapten kepercayaan.
"Lovebirds." Hyojin menggumam pelan, sebelum beranjak menuju meja kondimen dan membuat segelas es teh untuk dirinya sendiri.
Klik!
Bunyi pintu menutup mengalihkan atensi Hyojin dari gelas tehnya, ia menatap Jinyoung yang baru saja masuk sebelum duduk di sofa.
"Mereka memiliki masa lalu bersama, ya?" Jinyoung bertanya, sebagai seseorang yang direkrut Yoongi dari luar daerah Lazuardi, dirinya tak mengetahui apapun dan cukup terkejut saat seorang Jendral besar Lazuardi berada dalam perawatan faksinya.
"Ya, mereka melalui neraka bersama." Hyojin menyesap es tehnya perlahan. Ruangan terasa makin panas untuk beberapa alasan yang tak bisa Hyojin pahami.
"Apa kau yakin ini aman?" Jinyoung menyuarakan kekhawatirannya,"maksudku, dia tetap saja petinggi militer musuh. Aku sampai sedikit kewalahan memberi pengertian pada faksi militer saat keberadaan Park Jimin tersebar."
"Aku pun tak tahu, Jinyoung-ssi." Hyojin merespon sama putus asanya,"Jimin adalah satu-satunya kelemahan Yoongi. Tapi kurasa kita bisa melakukan beberapa tindakan preventif."
"Bagaimana?"
"Sebagai perwakilan faksi cendekiawan, kau memiliki kuasa penuh atas bidang medis, jadi tolong pastikan tak ada alat penyadap didalam maupun diluar tubuhnya saat pemeriksaan selanjutnya. Lalu tolong sampaikan pada Chanwoo-ssi untuk menambah jumlah level R di Lazuardi, caritahu alasan dibalik kedatangan Jimin kemari."
"Menurutmu Jendral akan setuju?"
"Biar itu aku yang urus."
"Baiklah, aku akan segera melakukannya." Jinyoung bangkit dari tempat duduknya kemudian beranjak keluar dan menjalankan perintah Hyojin, sementara sang Kapten masih sibuk menghabiskan minuman dinginnya dan menjernihkan isi kepalanya sebelum kembali ke ruang perawatan Jimin.
Bohong rasanya jika Hyojin mengatakan dirinya tidak senang melihat senyum bahagia kedua orang paling berharga dalam hidupnya kembali merekah dengan indah. Jimin dan Yoongi selalu menjadi adik kecil kesayangannya yang terlahir sebagai anak tunggal di keluarga.
"Halo, noona." Jimin menjadi yang pertama menyadari kehadiran Hyojin.
Hyojin tersenyum,"Aku senang kau sudah sadar, Jimin-ah." ia berdiri tepat dibelakang Yoongi.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Yoongi bertanya.
Pertanyaan itu membuat Jimin terhenyak selama beberapa detik. Dirinya tahu pertanyaan itu akan muncul cepat atau lambat mengingat keadaan yang dialaminya. Namun mengingat memori kurang mengenakkan beberapa bulan terakhir tetap saja membuat kepalanya pening.
"Kita bicarakan ini nanti saat kau lebih baik. Jangan memaksanya Yoongi-ya." Hyojin menengahi, saat melihat raut wajah tak enak Jimin.
Yoongi menghela napas,"Noona benar. Maaf terlalu memaksamu, Jimin-ah."
.
.
.
.
.
Butuh waktu satu bulan bagi Jimin untuk kembali seperti sedia kala. Para dokter masih melarangnya menggunakan kekuatan metahuman-nya sampai mereka bisa benar-benar memastikan jika kondisi Jimin benar-benar pulih. Dan Jimin sendiri tak memiliki masalah dengan itu. Hari-harinya dia habiskan didalam kediaman Yoongi, sesekali memutari taman dan pekarangan. Namun tatapan para pelayan membuatnya sedikit kurang nyaman, mengakibatkan dirinya jarang keluar dari kamarnya kecuali benar-benar diperlukan.
Bisa dimengerti, dirinya pemimpin militer yang membunuh keluarga dan teman para pelayan rumah Yoongi. Dirinya lebih dari pantas untuk dibenci.
Namun siang ini, Jimin bertekad untuk memasang wajah tebal dan mengunjungi Yoongi di ruang kerjanya. Ada beberapa hal yang harus dia jelaskan mengenai kemunculan tiba-tibanya di perbatasan hari itu.
Tok! Tok!
"Silakan masuk."
Langkahnya terhenti ketika melihat Yoongi, Hyojin, dan delapan orang asing dalam sebuah pertemuan. Sepertinya dia memilih waktu yang salah.
"Ah, maaf. Aku bisa kembali lagi nanti." Jimin berujar panik.
"Tidak perlu, kami sudah selesai." Yoongi memberitahu.
Jimin tersenyum tipis, kemudian menutup pelan pintu dibelakangnya.
"Oh, kalian tidak perlu pergi." Jimin berujar cepat ketika melihat Hyojin dan delapan orang tamu Yoongi dengan sigap berdiri dari tempat duduk."Akan lebih baik jika kalian semua mendengar ceritaku, dan memutuskan apakah aku mata-mata atau bukan."
Seluruh orang diruangan kembali ke posisi duduk mereka, menunggu Jimin bercerita.
"Kalian mungkin sudah tahu, jika Lazuardi mengalami gagal panen terbesar tahun ini karena musim dingin ekstrem yang mengakibatkan kelaparan para penduduknya." Jimin memulai,"saat itu terjadi kupikir pihak kerajaan akan mengeluarkan seluruh sumber daya yang mereka punya dan membantu penduduk melewati masa-masa krisis ini. Tapi rupanya aku terlalu naif. Mengabaikan jeritan rakyat, para aristokrat disana mengadakan pesta mewah bergelimang makanan dan batu permata."
"Lalu saat penduduk mulai memberontak, tiba-tiba Garoo melimpahkan semua kesalahan padaku. Dirinya mengatakan jika akulah penyebab musim dingin berkepanjangan, karena kekuatan manipulasi es milikku. Kerajaan menjatuhkan hukuman mati padaku tak lama setelahnya, dan menyuntikkan Volta dalam jumlah besar untuk membunuhku." Jimin menarik napas, sebelum kembali melanjutkan."Aku berhasil kabur saat para peneliti disana mengira aku sudah mati dan masuk kedalam hutan untuk menghindari kejaran pasukan kerajaan. Namun kondisi tubuhku dan sesekali bertemu binatang buas entah bagaimana membuatku sampai ke perbatasan republik kalian."
Ada keheningan selama beberapa saat setelah Jimin selesai mengutarakan ceritanya. Semua orang didalam ruangan itu tahu sebusuk dan kejam apa Lazuardi, namun hal ini sudah benar-benar keterlaluan.
"Anggaplah apa yang kau katakan itu benar," Chanwoo, dari faksi militer, menjadi yang pertama membuka mulut."bagaimana kami bisa percaya?"
Jimin tersenyum tipis, dirinya sudah mengantisipasi jika cerita saja tak akan cukup mendapatkan kepercayaan orang-orang ini. Jadi, dirinya mengeluarkan kalung dari balik pakaiannya, dan menyentuh satu tombol. Mekanisme dalam kalung itu membuka, dan memperlihatkan sebuah mikro chip seukuran kacang berwarna hitam yang kemudian diserahkannya pada Hyojin.
"Itu skema lengkap perencanaan asimilasi militer dan sihir kerajaan Lazuardi yang berhasil kucuri sebelum melarikan diri." Dirinya memberitahu,"aku bisa mengambil lebih banyak, jika kalian mau. Anggap saja ini harga yang harus kubayar agar kalian mengijinkanku berlindung disini."
Hyojin menyambungkan benda kecil itu ke perangkat elektroniknya, dan membulatkan mata tak menyangka jika apa yang dilihatnya memang benar skema militer seperti yang Jimin katakan.
"Kurasa pertemuan kali ini cukup." Yoongi akhirnya buka suara.
"Jendral Min benar, Jimin-ssi. Kau masih memerlukan istirahat, jangan terlalu membebani pikiranmu dulu." Jinyoung ikut menyetujui, sebelum menjadi yang pertama keluar dari ruangan Yoongi, diikuti delapan orang lain. Meninggalkan sang Jendral dan tamunya berdua didalam ruangan.
Jimin menjatuhkan diri diatas sofa, dirinya merasa telah terbebas dari beban yang selama ini berada di pundaknya. Dengan mata terpejam, dirinya bisa merasakan pergerakan sofa tepat disebelahnya, diikuti sebuah tangan hangat yang menggenggam jemari tangannya.
"Kau baik-baik saja?" Suara Yoongi terdengar dekat, dan sarat akan perasaan khawatir.
Jimin membuka mata, netra birunya bersitatap dengan netra merah milik Yoongi, ia tersenyum.
"Maaf ya, saat itu aku meragukanmu." Ujarnya, dengan mata mulai berkaca-kaca.
Yoongi menghela napas, kemudian menarik Jimin kedalam pelukannya. Ia mendekap sang pucat dengan erat, menyalurkan seluruh perasaan rindu yang selama ini menumpuk di sudut hatinya.
"Yoongi-ya," suara lembut Jimin bergetar dalam pendengaran Yoongi.
"Hm?"
"Ayo kita hancurkan Lazuardi bersama."
Yoongi hanya tersenyum dibalik pelukan eratnya.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
.
Halo! Aku kali ini diberi kesempatan untuk menulis twoshoot ini. Sudah agak lama sejak project menulis pairing yang satu ini, jadi demi menjaga pace dan kualitas tulisan yang feel nya setara dengan feel yoonmin yang selama ini pernah kutulis, jadilah cerita ini. Keseluruhan cerita ini akan murni ditulis olehku, mungkin dengan beberapa saran dari Qiesha dan crazehun mengenai teknis. Semoga kalian suka :)
.
.
.
Regards,
Min
