Setelah melakukan banyak pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk menulis fanfic ini terlebih dahulu. Hanya remix dari fanfic yang sudah pernah saya upload. Saya sengaja melakukan remix ini karena masih ada yang mengganjal di benak saya. Sesuatu ada yang kurang—itu yang saya pikirkan. Jadi, selamat menikmati remix ini, Semoga tidak membosankan.

Disclamer : Meitantei Conan is belong to Aoyama Gosho-sensei.

Summary : Sepuluh tahun berlalu tanpa perubahan. Semua orang sudah berjuang dengan caranya sendiri. Edogawa Conan, terus berada di jalan yang ia percayai, menjadi seorang detektif. Begitu juga dengan Haibara Ai, seorang ilmuwan itu juga terus berusaha untuk membuat obat penawar APTX-4869. Semua berjalan normal, sampai pada akhirnya perubahan terjadi ketika Haibara berhasil membuat penawar permanen dari obat itu.

Rating : T

Genre : Adventure, Suspense, Action, Friendship, (little) Romance

Pairing : Haibara Ai/Miyano Shiho & Edogawa Conan/Kudo Shinichi

Warning : OOC, Imajinasi liar, Typo, Re-Write Story

Juu Nen Go: Awal Mula Perubahan

Senja bisa menjadi waktu paling tenang ketika orang-orang masih terjaga. Ketika sang mentari memutuskan untuk bersembunyi dan membiarkan bintang serta rembulan menggantikannya, pada saat itu sebagian besar populasi manusia di bumi juga memutuskan untuk kembali ke tempat ternyaman mereka. Rumah.

Hal yang sama dilakukan oleh gadis remaja yang sedang bejalan di lorong sekolahnya. Sendiri dengan keheningan. Menggenggam erat tas tangan sekolahnya sambil memperhatikan lantai yang ia lewati. Sinar mentari senja membuat wajah cantiknya terlihat makin bersinar. Rambutnya yang berwarna coklat pun terlihat indah karena sinar itu. Gadis itu adalah Haibara Ai.

Sepuluh tahun berlalu dan dia berhasil menjadi remaja umur 18 tahun lagi. Wajah cantiknya kembali terlihat, ekspresi tenangnya membuat dia terlihat sangat elegan. Tanpa bertanya pun orang-orang bisa paham bahwa gadis itu memiliki intelegensi yang tinggi. Seorang ilmuwan cerdas, begitu kenyataannya.

Langkah Haibara tiba-tiba terhenti. Matanya pun terpejam, ia segera menghela nafas berat.

"Sepertinya kamu memiliki banyak waktu luang, Meitantei-san?" gumam Haibara masih dalam posisi awalnya, "tidak mendapat pekerjaan untuk hari ini?" lanjutnya sambil mengangkat wajah dan menatap ke depan, senyum kecil sarkastik tersungging di bibir Haibara.

Tak jauh di depan Haibara, berdirilah seorang pemuda yang seumuran dengan gadis tersebut. Pemuda itu memakai seragam yang identik dengan seragam Haibara, pastinya mereka berdua satu sekolah.

Pemuda yang dipanggil Haibara dengan sebutan Meitantei-san itu tidak lain adalah teman seperjuangan Haibara, Edogawa Conan.

"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku untuk hari ini," ucap Conan sambil bergerak menghadap langsung ke arah Haibara, "ayo kita pulang."

Salah satu ujung bibir Haibara meninggi. Gadis itu kembali menurunkan pandangannya seraya memulai langkahnya kembali, "Aku sedang ingin sendiri, pulanglah dulu."

Suara Haibara begitu lembut, namun nadanya terdengar sangat dingin. Conan pun langsung terbelalak ketika Haibara melewatinya tanpa berniat untuk bertukar pandang. Meski demikian, pemuda itu berhasil keluar dari rasa terkejutnya dengan cepat. Ia berbalik dan mulai mengejar Haibara yang berada cukup jauh dari posisinya.

"Hey, aku tidak mengerti," ucap Conan dengan nada protes, "kenapa kau marah?" tanya pemuda itu ketika berhasil menyejajarkan langkah dengan Haibara.

Haibara menghela nafas pelan, "Aku tidak marah."

"Lalu?!" Conan terlihat gemas dan tidak sabar.

Haibara menatap Conan dengan pandangan tajam, "Aku hanya sedang ingin sendiri."

Seakan sudah tidak bisa menahan diri lagi, Conan menghela nafas berat dan segera meraih salah satu bahu Haibara dengan tangannya yang bebas. Pemuda itu pun meminta Haibara untuk berhenti.

Anehnya, Haibara mengikuti perintah itu dan membalas tatapan Conan dengan berani. Dua orang itu saling bertukar pandangan dengan eskpresi masing-masing. Conan terlihat bosan dan lelah. Haibara sendiri terlihat sedang mempertahankan ekspresi tenangnya dengan sekuat tenaga.

Conan mencengkram bahu Haibara dengan erat, "Jika kau ada masalah, katakan saja."

Mulut Haibara terbuka sedikit, seakan ia berusaha untuk mengatakan sesuatu. Namun, tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Haibara setelah beberapa detik berlalu. Gadis itu kembali mengatupkan bibirnya. Ia menarik nafas kuat-kuat sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit tertunduk sebelum ia mendongkak lagi untuk menatap Conan.

"Kamu ingin penawarnya, kan?" tanya Haibara dengan nada dingin dan tenang.

Conan terlihat tenang-tenang saja usai mendapat pertanyaan itu. Terlebih ekspresinya berubah jadi dingin. Mulutnya membentuk garis lurus, matanya menyipit ketika membalas tatapan Haibara.

Keadaan menjadi hening karena Conan tidak segera menanggapi. Haibara pun terlihat bungkam dan menunggu jawaban. Mereka terus berada di posisi itu cukup lama. Namun, Haibara memutuskan untuk bergerak terlebih dahulu.

Perlahan ia cengkram pergelangan tangan Conan yang sedang menyentuh bahunya, gadis itu berusaha untuk menarik tangan Conan agar melepaskan cengkraman. Conan pun menurut, ia membiarkan Haibara tanpa membuat perlawanan.

Haibara melepas cengkramannya pada pergelangan tangan Conan dan membiarkan tangan pemuda itu terkulai. Kedua orang itu masih bertukar pandang. Lalu, Haibara tersenyum lembut.

"Besok..." gumam Haibara pelan, "datang ke rumah hakase. Kali ini aku yakin telah berhasil membuat penawarnya. Tidak ada batas waktu yang perlu kamu takutkan."

Itu adalah kabar bahagia bagi Conan. Penantian panjangnya selama sepuluh tahun akhirnya terbayarkan juga. Meski demikian, pemuda itu tidak terlihat bahagia. Ekspresinya masih tenang, namun ekspresi dingin yang sempat terpasang di wajahnya sudah menghilang. Conan terus memperhatikan Haibara, memperhatikan dengan teliti dan seksama.

"Bagaimana dengan dirimu?" tanya Conan tanpa menunjukkan emosi, "kau ingin tetap menjadi Haibara Ai atau... kembali menjadi Miyano Shiho?"

Mendengar pertanyaan itu, Haibara mendengus geli. Gadis itu menunduk, berusaha menghindar dari tatapan Conan dan mundur selangkah, "Bukan saatnya untuk mengkhawatirkan orang lain, Kudo-kun," ucap Haibara kalem, "kamu harus memikirkan cara terbaik untuk menghadapi..."

Kalimat Haibara terhenti digantikan oleh senyum lebar nan lembut di bibirnya. Ia pun segera melanjutkan, "Sudah cukup, kan? Sekarang, pulanglah duluan. Aku sedang ingin pulang sendiri."

"Haibara..."

"Kudo-kun," Haibara memotong sebelum Conan bicara, "itterasai—hati-hati di jalan."

Conan mundur beberapa langkah sambil membelalakkan mata. Dia terlihat sangat terkejut. Pemuda itu diam selama beberapa detik, namun ia segera bereaksi dengan menegakkan punggung. Espresinya kembali tenang, bahkan sekarang senyum terukir di bibirnya.

"Sore ja, ittekimasu—kalau begitu, aku pergi dulu."

Setelah kalimat terakhir yang ia ucapkan, Conan segera berlari meninggalkan Haibara. Gadis yang ia tinggalkan pun hanya bisa melihat kepergiannya dalam diam. Ekspresi Haibara begitu tenang, namun kilatan matanya terlihat berbeda. Ia terlihat... kesepian.

Senyum kecil terukir di bibir Haibara, "Sayonara, Edogawa Conan-kun."

...

Kelopak mata Haibara terbuka dengan paksa. Nafasnya memburu, keringat bercucuran dengan deras melewati dahi gadis tersebut. Ia menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya perlahan. Baru setelah itu ekspresi tenang terpasang di wajahnya.

Haibara mengerjap selama beberapa kali, tangannya meraba-raba bawah bantal seraya mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Haibara memperhatikan layar ponselnya sendiri, melihat nama orang yang telah mengirim panggilan untuknya.

Gadis itu menggumamkan nama Conan. Pada saat itu, ekspresinya terlihat bingung. Alisnya bertautan.

Tanpa menunggu lama, Haibara segera menerima panggilan masuk itu, "Ada apa? Sudah tidak sabar untuk mendapatkan penawarnya?" nada bicara Haibara terdengar sedikit kesal.

Haibara, apa yang sedang kau lakukan sekarang?

Dari speaker ponsel Haibara terdengar suara Conan, begitu keras meski Haibara tidak menyalakan mode loudspeaker. Di antara suara itu terdengar suara deru nafas Conan.

Dahi Haibara makin berkerut, "Kamu sedang berlari?" tanya gadis itu tanpa mempedulikan pertanyaan Conan. Perlahan ia mulai bergerak untuk duduk sambil merenggangkan otot.

Aku sedang berlari menuju rumahmu. Jika kau sedang di kamar, tetaplah di dalam situ. Kunci pintunya dan jangan buka pintu itu sampai aku datang.

Dengan begitu, Haibara menghela nafas lelah. Ia pijat lehernya sendiri dengan tangannya yang bebas, "Meitantei-san, jelaskan padaku mengapa kamu menyuruhku untuk melakukan itu?" nada bicara Haibara terdengar sangat santai.

Mereka akan datang untuk menangkapmu!

Ekspresi terkejut bercampur takut langsung terpasang di wajah Haibara. Nafasnya tercekat, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Kalimat Conan terlalu ambigu, tapi sepertinya Haibara paham dengan maksud dari kalimat tersebut.

Di saat Haibara sedang dalam mode terkejutnya, Conan berteriak secara intens memanggil nama Haibara. Entah setelah berapa teriakan Haibara baru menunjukkan bahwa dia kembali ke dunia nyata.

Nafas Haibara mulai memburu, tangannya yang menggenggam ponsel makin bergetar ketakutan, "Mereka akan menangkapku? Orang-orang dari organisasi?" suara Haibara begitu lemah dan ketakutan.

Jangan khawatir, ikuti saja apa yang baru saja ku katakan. Aku akan segera sampai.

Haibara menggenggam erat ponselnya, "Kudo-kun..."

Aku akan melindungimu, tidak usah bicara apa-apa lagi.

Meski sekilas, ada ekspresi lega yang terpancar dari wajah Haibara. Gadis tersebut mengangguk sembari menggumam kecil untuk menanggapi kalimat yang diucapkan Conan. Setelah terdengar suara nada putus-putus dari speaker ponselnya, Haibara menjauhkan ponsel tersebut dari telinga. Kemudian, ia beralih menatap pintu kamarnya.

Haibara terlihat cukup tenang. Namun, dari siratan matanya terlihat bahwa dia sedang sekuat tenaga menyembunyikan rasa takutnya. Tubuhnya tidak bergetar lagi, jadi dia turun dari kasur dengan mudah.

Perlahan Haibara mulai melangkah dan mendekati pintu. Langkahnya begitu pelan tanpa menimbulkan suara. Saat mengunci pintu pun Haibara melakukannya dengan pelan. Dia sangat berhati-hati.

Nafas lega berhembus perlahan melewati mulut Haibara ketika dia sudah berhasil mengunci pintu. Meski demikian, ia terlihat masih berhati-hati ketika melangkah kembali ke kasur. Haibara bergerak untuk duduk di atas kasur sambil memperhatikan sekeliling. Dia terlihat sangat waspada.

Pandangan mata Haibara terhenti pada seperangkat komputer yang berada di atas meja di dalam kamarnya. Seakan sadar akan sesuatu, Haibara langsung berdiri dan mendekati komputer itu. Ia menyalakan komputernya sembari membuka laci meja. Haibara pun mengambil satu barang dari dalam loker itu, sebuah flashdisk.

Layar sudah menyala dan perangkat meminta password, tangan Haibara segera menari di atas keyboard untuk bisa mengakses komputer. Setelah wallpaper menunjukkan sosoknya, Haibara langsung membuka file-file yang ada di komputernya. Ia menyambungkan flashdisk pada CPU, kemudian segera memindahkan beberapa data yang sudah ia pilih.

"Lima belas menit, cukup lama," ucap Haibara gusar. Meski demikian, ia tinggalkan komputernya dan beralih ke rak buku yang berada tak jauh dari komputernya.

Haibara menarik satu buku cukup tebal dari rak itu dan segera membukanya. Di dalam buku itu terdapat kotak berbentuk persegi panjang yang tersimpan rapi di tengah-tengah lembaran isi buku. Seakan tengah-tengah buku itu sengaja dilubangi untuk dijadikan tempat penyimpanan kotak itu.

Mata Haibara menyipit ketika memperhatikan kotak itu. Selama beberapa detik dia terpaku sambil terus memperhatikan kotak. Setelahnya, ia langsung mengambil kotak tersebut dan bergerak untuk mengembalikan buku ke dalam rak lagi. Kemudian ia berjalan menuju lemari pakaian.

Tanpa membuang waktu, Haibara langsung melucuti baju tidurnya dan segera mengambil baju ganti dari dalam lemari. Stocking berwarna hitam, celana jeans pendek, atasan tanpa lengan berwarna hitam dan dipadukan dengan jaket jeans warna hitam. Setelah berhasil memakai semua itu, Haibara menarik sepatu boots hitam yang bisa menutupi seluruh kaki bagian bawahnya.

Sambil menjinjing sepatu dan kotak kecil yang ia ambil dari dalam buku, Haibara berjalan kembali ke depan komputernya yang masih menyala. Dahinya berkerut.

"Delapan menit lagi," gumam Haibara sembari memasukkan kotak yang ia bawa ke dalam saku bagian dalam jaket yang ia kenakan.

Haibara beralih menatap kasurnya lagi dan bergerak mendekatinya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur dan segera berkutat dengan ponsel tersebut. Tak berapa lama kemudian, ia tempelkan ponselnya sendiri ke telinganya.

"Kudo-kun, posisi?" tanya Haibara setelah hening beberapa saat.

Tiga menit lagi sampai di rumahmu. Ada apa?

Haibara memejamkan matanya, "Beri aku waktu lima menit lagi setelah kamu sampai. Aku harus memindahkan data APTX-4869 beserta penawarnya agar organisasi tidak mendapatkan data itu," ia berkata dengan lirih dan hati-hati, "bisa?"

Akan ku usahakan. Yang paling penting, jangan sampai orang-orang itu menangkapmu. Semua akan sia-sia jika kau tertangkap.

Senyum kecil terukir di bibir Haibara, "Jangan khawatir. Aku akan bertahan sampai kamu datang menyelamatkanku."

Aku sempat khawatir kau akan terdiam ketakutan di dalam kamar. Ternyata, aku terlalu meremehkanmu, Haibara.

Haibara mendengus geli, "Saa na. Aku sebenarnya takut, tapi bukan waktunya untuk jadi orang yang tidak berguna, bukan?"

Kau benar, sampai bertemu... tujuh menit lagi. Pastikan kau sudah siap saat aku datang.

Senyum Haibara makin meninggi. Gadis itu pun menggumam dan mengangguk. Kemudian, ia menjauhkan ponsel dari telinga.

Kepala Haibara menoleh untuk melihat komputer, tangannya bergerak memasukkan ponsel ke dalam saku bagian luar jaketnya. Ia kembali mendekati komputer dan duduk di kursi yang menghadap langsung ke komputer itu. Saat matanya sibuk memperhatikan layar, kedua tangannya sibuk memasang sepatu boots yang sedaritadi ia genggam.

Detik demi detik berlalu. Menit-menit akhir sebelum pemindahan data selesai, Haibara sudah bersiap menggenggam mouse komputer dan terus memperhatikan layar. Pekerjaan memakai sepatunya sudah selesai. Gadis tersebut sudah siap untuk bergerak setelah pemindahan data selesai.

Wajah Haibara sedikit menegang. Punggungnya pun menegak secara spontan. Tangan kirinya yang bebas bergerak merogoh saku bagian luar jaket yang ia kenakan dan mengeluarkan ponsel. Matanya beralih sebentar untuk melihat layar ponsel, kemudian ia menekan layar itu dan mendekatkan ponsel ke telinganya. Haibara terus diam, menunggu orang yang meneleponnya memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Sudah siap?

Dahi Haibara berkerut, matanya menyipit. Gadis itu segera menggerakkan mouse komputer setelah jendela pemindahan data hilang dari pandangannya, "Pemindahan sudah selesai, siap untuk bergerak, kapten."

Haibara mencabut flashdisk dari CPU dan menyimpan flashdisk tersebut bersama dengan kotak yang ia sembunyikan di balik jaketnya. Meski demikian, ia tidak segera pergi dari depan komputer. Tangannya kembali menggenggam mouse. Ia mengarahkan kursor pada tulisan 'Data' yang tertera di layar, kemudian menekan tombol kanan di mouse.

Beberapa pilihan menu menjulang keluar di samping kursor, Haibara pun segera menggerakkan kursor lagi. Usai memilih menu 'Format', gadis itu berdiri dan berputar untuk memperhatikan pintu kamarnya.

"Lalu, kamu tidak keberatan untuk menjelaskan rencananya, kan?" gumam Haibara.

Tidak ada waktu. Aku akan menjemputmu sekarang.

Haibara menghela nafas pelan, "Baiklah. Ku tunggu di kamar," ucapnya sembari memasukkan ponsel ke dalam saku jaket lagi.

Sekali lagi, Haibara memeriksa barang bawaannya. Ia beralih untuk menatap layar komputer sebentar seraya bergerak mendekati pintu kamar. Dia mencoba untuk tidak mengeluarkan suara ketika berjalan di atas lantai.

Baru saja Haibara menghadap pintu kamarnya, dari luar ruangan terdengar suara Conan yang menggema di dalam rumah.

"Haibara, kau sudah bangun? Jangan bilang kau lupa jika hari ini Genta mengajak kita untuk berkemah di dalam hutan?"

Kelopak mata Haibara terbuka lebar, ia terlihat terkejut sambil memperhatikan pintu kamarnya, "Ini dia," gumam gadis itu pelan sambil mencoba untuk mengendalikan rasa terkejutnya, "ternyata ini yang kamu rencanakan ya, Meitantei-san."

Cepat-cepat Haibara meraih ransel yang menggantung di dekat pintu. Ia mengaitkan ransel itu pada salah satu bahunya dan segera bergerak keluar kamar.

"Hai-hai, maaf aku kesiangan," ucap Haibara sambil berjalan santai keluar kamarnya.

Langkah Haibara langsung terhenti. Ekspresi terkejut kembali terpasang di wajahnya. Posisinya saat ini dia sudah berada di ruang tengah, ia bisa melihat sosok Conan dan satu orang lain di depan pintu masuk rumah.

Menyadari Haibara sedang terkejut, Conan segera menoleh ke arah sisi kirinya. Lebih tepatnya ke arah orang yang sedang berdiri di sampingnya sekaligus orang yang berhasil membuat Haibara terkejut.

Cepat-cepat Conan kembali menatap Haibara lagi dan terkekeh, "Ano, Genta telah berangkat dulu bersama Mitsuhiko dan Ayumi-chan. Kita sudah ketinggalan kereta, jadi aku meminta Subaru-san untuk mengantar kita."

Haibara beralih menatap Conan. Mereka berdua bertukar pandang, saling bertukar pengertian melewati tatapan mata.

Di saat keadaan sedang hening, dari lantai dua terdengar suara pintu terbuka. Ketiga orang yang sedang berada di lantai satu itu pun kompak menoleh ke sumber suara. Conan dan Haibara terbelalak. Subaru tetap dalam mode tenangnya.

"Are, Conan-kun, Ai-kun, kalian mau pergi berkemah?" suara profesor Agasa menggema di dalam rumah, "bagaimana jika aku ikut agar Subaru-kun tidak perlu repot-repot mengantar kalian?" tanya lelaki itu sambil berjalan mendekati tangga.

Ketika Conan dan Haibara masih dalam mode terkejut, Okiya Subaru terlebih dahulu memecahkan keheningan yang terjadi, "Hakase, saya tidak keberatan untuk mengantar mereka kok."

Baru setelah itu, Conan sadar dan segera memasang senyum lebar, "Are, hakase tidak tahu jika kami akan berkemah?"

Otomatis Haibara langsung menoleh untuk menatap Conan. Matanya terbelalak takut. Di saat yang bersamaan, langkah profesor Agasa terhenti, lelaki itu sudah menuruni setengah tangga. Suasana di dalam rumah tersebut pun jadi tegang.

Conan memberi isyarat pada Haibara untuk segera mendekatinya, pemuda itu pun mengulurkan tangan tanpa ragu. Tangan kiri Subaru bergerak menyusup untuk mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Bersamaan dengan itu, profesor Agasa juga menyusupkan tangan ke dalam saku bagian belakang celananya.

Sadar dengan apa yang akan terjadi, Haibara memacu diri untuk berlari mendekati Conan. Wajahnya masih menunjukkan rasa takut, namun dia berhasil mengendalikan diri dengan baik. Gadis itu mengulurkan tangan untuk meraih tangan Conan meski posisi mereka terbilang masih berjauhan.

"Menunduk!" Subaru berteriak dengan lantang sambil menodongkan pistol ke arah depan.

Mendengar teriakan Subaru, Conan bereaksi dengan berlari mendekati Haibara. Pemuda itu menerjang Haibara dan memberi Subaru ruang pandang lebih luas. Saat Haibara dan Conan terkapar saling tindih di atas lantai, Subaru segera menembakkan peluru pertama dari pistolnya.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara dentuman pistol dari arah berlawanan. Profesor Agasa juga menembakkan peluru dari pistol yang ia genggam.

Peluru milik Subaru tertancap di dinding dekat tangga. Sedangkan peluru milik profesor Agasa menancap di dinding dekat pintu. Mendapat kesempatan untuk bergerak, Subara segera berlindung di balik daun pintu sambil membidik pistolnya lagi ke arah profesor Agasa.

Begitu juga dengan profesor Agasa. Lelaki itu segera menyembunyikan diri dengan menempelkan badan ke dinding. Mencoba untuk menghindar dari tatapan Subaru.

Sadar masih ada waktu untuk bergerak, Conan segera berdiri dan menarik paksa Haibara. Meski terlihat ketakutan, Haibara bisa mengikuti tarikan itu. Kedua remaja itu berlari mendekati Subaru.

"Sepuluh detik!" teriak Subaru masih dalam mode siaga, pistolnya tertodong ke depan. Namun, dia tidak segera menembakkan pelurunya.

Usai memperingati Conan, Subaru mulai menghitung mundur mulai dari sepuluh. Pada hitungan kedeleapan, profesor Agasa kembali menembakkan pelurunya, berusaha untuk menghentikan pergerakan Conan dan Haibara. Melihat itu, Subaru juga ikut menembakkan peluru.

Baku tembak pun terjadi.

Meski dirinya sedang sibuk menembakkan peluru, Subaru tetap fokus menghitung mundur, "Tiga... Dua..." mata Subaru beralih untuk menatap Conan, ia mengulurkan tangan kanannya pada pemuda tersebut, "satu!"

Ketika Subaru meneriakkan kata 'zero', Conan menarik Haibara kuat-kuat dan melempar gadis tersebut keluar rumah. Pemuda itu langsung menerima uluran tangan Subaru yang segera menarik dirinya agar bisa keluar dari ruang tengah rumah profesor Agasa. Setelah itu, Subaru menutup pintu dan bergegas berdiri seraya melepaskan genggamannya pada Conan.

"Ayo cepat, kita tidak memiliki banyak waktu," ucap Subaru sambil berlari menuju gerbang, mendekati mobilnya yang sudah terpakir di depan rumah.

Conan segera meraih dan menggendong Haibara yang sedang terduduk lemah di atas tanah. Seakan sadar bahwa gadis tersebut tidak akan bisa mengendalikan tubuhnya sendiri setelah ia lempar tadi.

Sebelum berhasil lolos melewati gerbang, Conan menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Menatap pintu rumah profesor Agasa yang masih tertutup. Tidak ingin membuang waktu lagi, Conan langsung merangsek masuk ke dalam mobil Subaru dan memposisikan Haibara di pangkuannya.

"Clear!" seru Conan.

Dengan begitu, Subaru langsung menginjak gas dan meluncur pergi menjauh dari rumah profesor Agasa.

...

Haibara sedang duduk di atas sofa sambil memeluk kedua kakinya sendiri—sepatu boot-nya sudah dilepas pastinya. Ia menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya yang menjulang. Gadis tersebut terus berada di posisi itu, tidak bergerak sama sekali dari tempatnya meski keadaan di sekitarnya cukup sibuk.

Di dalam ruangan yang sama dengan Haibara ada empat orang lain di sana. Keempat orang itu tidak lain adalah Conan dan Subaru—yang berhasil membawa Haibara ke tempat ini—beserta kedua orang tua Conan, Kudo Yusaku dan Kudo Yukiko.

Conan, Subaru dan Yusaku terlihat sedang berdiri di pojok ruangan—posisinya cukup jauh dari Haibara. Mereka bertiga sedang berdiskusi dengan serius. Nada bicara mereka benar-benar dijaga, seakan tidak ingin mengganggu Haibara yang sedang terguncang. Dari eskpresinya, ketiga orang itu terlihat sedang berdebat sengit.

Dari satu set sofa yang ada di dalam ruangan, di sampingnya terdapat meja bar beserta seperangkat alat masak. Di balik meja bar itu berdirilah Yukiko yang sedang sibuk menuangkan air panas dari teko ke dalam lima gelas di hadapannya.

Setelah semua gelas terisi penuh dengan air panas, Yukiko menaruh teko di atas kompor yang sudah mati dan meraih satu sendok dari dalam laci. Wanita itu pun segera mengaduk isi gelas secara perlahan.

Berhasil mengaduk isi kelima gelas di hadapannya, Yukiko segera mengangkat nampan yang menjadi alas gelas-gelas itu dan berjalan menuju kumpulan sofa. Ia taruh nampan itu di atas meja seraya mengambil satu gelas secara acak. Yukiko memperhatikan Haibara sambil tersenyum kecil. Kemudian ia dekati gadis tersebut.

"Ai-chan, ku buatkan coklat hangan untukmu," ucap Yukiko dengan lembut sembari duduk di sofa samping Haibara.

Haibara sedikit mengangkat kepala untuk memperhatikan Yukiko. Pada saat itu terlihat ekspresi lelah terpasang di wajah gadis itu. Matanya beralih menatap gelas yang ada di genggaman Yukiko.

Meski terlihat tidak tertarik, Haibara tetap menggerakkan tangan untuk mengambil gelas yang ada di genggaman Yukiko. Ia berterima kasih setelah mendapatkan gelas itu. Tanpa berniat untuk meminum isinya, Haibara hanya memperhatikan kepulan asap yang keluar dari gelas tersebut.

Yukiko tersenyum maklum. Layaknya paham dengan kegundahan yang sedang dirasakan oleh Haibara, "Daijoubu, Shin-chan akan melindungimu," gumamnya lirih sambil mengelus kepala gadis di sampingnya.

Haibara menghela nafas pelan sambil memejamkan mata. Ia menaruh dagu di atas kedua lututnya, dia terlihat sangat lemas dan tidak punya tenaga. Sekali lagi, Haibara mengucap kata terima kasih.

Di pojok ruangan, tiga orang yang sedaritadi berdebat dengan suara pelan itu kompak memusatkan perhatian pada Haibara. Orang yang dijadikan pusat perhatian pun tetap diam sambil memejamkan mata. Sama sekali tidak sadar bahwa dia sedang diperhatikan.

Berbeda dengan Haibara, Yukiko beralih menatap ketiga orang tersebut sambil mengangkat kedua alis, seakan sedang meminta penjelasan tentang rencana selanjutnya.

Yusaku melirik istrinya sebentar, kemudian beralih menatap Cnan. Setelah puas memperhatikan Haibara, Subaru pun ikut memperhatikan Conan.

"Haibara," panggil Conan berhasil membuat orang yang ia panggil memperhatikannya, pemuda itu pun berjalan mendekati Haibara, "bagaimana dengan... data penawarnya?"

Haibara menunjukkan wajah tanpa ekspresi sambil melirik Subaru sebentar, kemudian ia kembali menatap Conan, "Aman, semua data di komputer rumah sudah ku hapus dan aku sudah menyalin data yang ku perlukan."

Langkah Conan terhenti ketika ia berada di sofa yang bersebarangan langsung dengan sofa yang ditempati Haibara. Senyum terukir di bibirnya, "Bagus," pemuda itu duduk di sofa sambil terus memperhatikan Haibara, "lalu, bagaimana dengan... penawarnya?" Conan terlihat berhati-hati ketika mengucapkan kata 'penawar'.

Mata Haibara kembali terpejam, "Aman, obat itu berada dalam jangkuan perlindunganku."

Kini perhatian semua orang di dalam ruangan itu tertuju pada Haibara. Yukiko menatap Haibara dengan wajah khawatir. Conan, Subaru dan Yusaku tetap berada pada mode tenangnya.

Conan menatap Yukiko, seakan meminta ijin agar dia bisa memberi pertanyaan lanjutan untuk Haibara. Yukiko sendiri balas menatap Conan saat sadar sedang diperhatikan oleh anaknya. Ia mengerutkan dahi. Memberi isyarat pada Conan agar tidak terlalu keras pada Haibara yang sedang terguncang.

Dengan ragu Conan kembali menatap Haibara, ia gigit bibir bawahnya sebelum berucap, "Bolehkah aku... meminta penawar itu sekarang?"

Haibara kembali membuka mata dan segera melayangkan tatapan tajam pada Conan. Ia terlihat tidak suka mendengar pertanyaan Conan, "Aku tidak akan memberikan obat itu," jawabnya dengan nada sedingin es, "kamu ingin menghadapi mereka secara langsung, kan?" mata Haibara semakin menyipit, "itu namanya bunuh diri. Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya."

Punggung Conan menegak. Subaru mengerutkan dahinya. Yusaku segera memejamkan mata sambil menyilangkan tangan di depan dada. Yukiko sendiri langsung mencengkram ujung celemek yang sedang ia kenakan.

Conan terlihat sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan pendiriannya, "Haibara, ayolah. Bukan saatnya untuk jadi orang keras kepala."

"Keras kepala?!" suara Haibara meninggi. Gadis tersebut menurunkan kakiknya ke lantai sembari menaruh gelas yang ia bawa di atas meja, "Siapa yang keras kepala di sini?! Aku?! Tidak! Yang keras kepala itu kamu, Kudo-kun! Kamu terlalu gegabah!"

Saat Haibara ingin berdiri dan menerjang Conan, cepat-cepat Yukiko menahan bahu Haibara dengan memeluk gadis tersebut. Wanita itu segera mengucapkan kata penenang agar Haibara tidak melancarkan aksinya.

Conan terlihat kelelahan, dia menghela nafas panjang dan memperhatikan Haibara dengan pandangan sendu, "Ini demi kebaikan kita semua."

Gerakan Haibara langsung terhenti. Ia tercekat sambil melotot ke arah Conan, "Kebaikan kita semua?" gumamnya lirih, "Bohong! Apanya yang demi kebaikan kita semua?! KAMU BAHKAN TIDAK MEMIKIRKAN KEADAAN HAKASE!" tubuh Haibara melemas, ia terduduk di atas lantai, "hakase... dia pasti sudah dibunuh oleh orang-orang organisasi. Aku telah... meninggalkannya. Aku telah membiarkan dia mati," suaranya makin melemah.

Keempat orang yang ada di dalam ruangan terbelalak kaget. Terlihat baru sadar dengan kenyataan itu setelah mendengar kalimat Haibara.

Yukiko cepat-cepat memeluk dan mengelus punggung Haibara yang mulai menangis. Conan langsung meringkuk sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Baik Yusaku maupun Subaru segera mengambil ponsel masing-masing dan menghubungi seseorang lewat ponsel tersebut.

"Cih!" Conan makin meremas rambutnya, "bodoh sekali aku melupakan hal sepenting itu."

...

Matahari sedang berada di atas langit. Siang telah tiba. Suasana di luar apartemen yang sedang ditempati oleh Coan terdengar ramai, percampuran antara suara kendaraan bermotor dan suara klakson kereta yang lewat.

Berbanding terbalik dengan suasana di dalam apartemen. Kamar yang telah disewakan oleh orang tua Conan terlampau sepi. Keadaan begitu tenang dan tidak ada tanda-tanda orang sedang beraktivitas.

Jauh ke dalam, lebih tepatnya di kamar tidur, satu-satunya kamar itu sedang dihuni oleh dua orang remaja. Mereka berdua tidak lain adalah Conan dan Haibara. Yusaku, Yukiko dan Subaru tidak terlihat batang hidungnya.

Di dalam ruangan itu Conan sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap ke arah hamparan hutan yang berada tepat di hadapannya. Jauh di tengah hutan terlihat ada waduk. Karena posisi lantai kamar Conan cukup tinggi, pemuda tersebut bisa memperhatikan pemandangan kota dengan baik.

Puas memperhatikan keadaan kota, Conan berbalik sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Kemeja putih yang ia kenakan ternodai. Noda itu ia dapat dari perjuangannya menyelamatkan Haibara tadi. Bahkan celana jeans warna abu-abu miliknya pun juga ikut kotor karena insiden itu.

Conan berjalan dengan tenang menuju kasur yang ada di tengah ruangan. Setelah sampai di dekat kasur, ia berhenti melangkah dan meperhatikan gadis yang sedang tidur terlelap di atas kasur.

Setelah lelah menangis, Haibara kehilangan kesadaran. Dilihat dari ekspresinya ketika tidur, emosi masih menghantui dirinya.

Mata Conan terpejam. Ia segera duduk di kursi yang ada di dekat kasur, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Pemuda tersebut menarik tangannya keluar dari saku seraya mengehal nafas berat. Ekspresi lelah segera terpasang di wajahnya.

"Haibara," panggil Conan tanpa membuka mata, "kau sudah bangun, kan?"

Setelah Conan menyelesaikan kalimatnya, Haibara segera membuka mata dan memperhatikan Conan. Posisinya saat ini dia sedang tidur menghadap samping—lebih tepatnya ia sedang menghadap Conan secara langsung. Tak menunggu Conan membalas tatapannya, Haibara kembali memejamkan mata.

"Ayahku, FBI, CIA bahkan kepolisian Jepang akan bersatu untuk menyusun strategi penyerangan terhadap organisasi hitam," jelas Conan meski ia tidak mendapat tanggapan dari Haibara, "aku memberikan tugas khusus pada ayah, aku memintanya untuk fokus mencari informasi tentang keadaan hakase. Jika ayah sudah mendapat info pasti, ayah akan menghubungiku."

Conan kembali menghela nafas dan membuka mata. Ia perhatikan Haibara, "Aku yakin hakase pasti akan bertahan. Orang-orang di organisasi hitam akan berhati-hati. Aku berharap mereka sepemikiran denganku," bahunya terlihat melemas, "ku harap hakase hanya akan dijadikan tawanan agar kau mau keluar."

Tangan Haibara meremas sarung bantal yang ia gunakan untuk tidur, matanya masih terpejam, "Apa yang kamu lakukan di sini, Kudo-kun? Harusnya kamu ikut bersama orang tuamu, kan?"

Dari ekspresinya Conan terlihat sangat kelelahan. Tidak ada senyum yang terukir di bibirnya. Dia terlihat sangat terbebani dengan kejadian yang sedang ia alami. Ada setitik ekspresi bersalah yang terpasang di wajahnya. Mungkin Conan merasa tidak enak dengan Haibara karena sudah melupakan keberadaan hakase.

"Aku minta maaf," ucap Conan pada akhirnya, ia segera membungkuk di hadapan Haibara, "aku tidak bermaksud melupakan hakase. Hanya saja..."

"Keadaan sedang mendesak dan kamu harus memikirkan banyak cara untuk bisa menyelesaikan masalah ini," potong Haibara, perlahan ia membuka mata dan menatap Conan secara langsung, "bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga bersalah," suaranya begitu lirih, "jika saja aku bisa jadi orang yang berguna sedikit..."

Conan kembali menegakkan punggung dan membalas tatapan Haibara. Keduanya memasang wajah tanpa ekspresi. Atau mungkin mereka berusaha untuk menyembunyikan emosi yang bergejolak di dalam hati mereka. Semua itu terlihat jelas dari sorot mata masing-masing.

Setelah lama hening, akhirnya Conan melunakkan ekspresinya. Dia mencoba untuk tersenyum meski terkesan dipaksakan, "Sebaiknya kita menenangkan diri terlebih dahulu. Apapun yang terjadi, kita berdua... kita berdua harus menghadapi masalah ini dengan cara kita sendiri."

Conan berhenti sebentar seraya melanjutkan dengan suara lirih, "Aku akan berdiri di samping keluarga dan teman-temanku yang terjun langsung ke medan perang. Kau..."

Kalimat itu menggantung, Conan tidak melanjutkannya. Terlebih, pemuda itu malah menatap tajam Haibara. Seakan berusaha untuk memberi Haibara dorongan agar memilih jalannya sendiri.

Sejauh ini Haibara sudah berhasil melarikan diri dari kejaran organisasi selama sepuluh tahun. Hari-hari berat itu ia lalui dengan rasa takut yang terus menghantuinya. Haibara sedang ada di posisi sulit. Itulah kenyataannya. Mungkin karena alasan itu pula Conan sangat berhati-hati dalam berucap.

Haibara menghela nafas dan berusaha untuk duduk. Pandangannya beralih ke arah jendela kaca besar. Sorot matanya terlihat sendu, "Aku tidak akan lari," ucapnya lirih, "aku sudah lelah untuk berlari lagi. Ini adalah waktu yang tepat untuk bertatap muka dengan mereka."

Conan memperhatikan wajah Haibara dengan seksama. Seakan berusaha mencari keberanian dari sosok di hadapannya.

Ya, pada kenyataannya Haibara terlihat ketakutan. Tangan gadis itu pun terlihat gemetar.

"Haibara, kau..."

Untuk kesekian kalinya Conan menghentikan kalimatnya. Kali ini beda dari sebelumnya. Pemuda tersebut menghentikan kalimatnya sambil membelalakkan mata. Ekspresinya terlihat kaget. Ia refleks berdiri dan segera menggenggam tangan Haibara. Conan pun menarik paksa Haibara agar segera turun dari kasur.

Meski terlihat kebingungan, Haibara mengikuti tarikan itu tanpa bertanya alasannya. Ia segera mengikuti arah pandang Conan yang sedang memperhatikan pintu kamar. Baru setelah itu, ekspresi bingung hilang dari wajah Haibara dan digantikan oleh ekspresi kaget campur takut.

"Sherry," suara lembut wanita dengan aksen manja segera menggema di dalam kamar. Sosok wanita berambut pirang terlihat sedang bersandar santai di pintu sambil memperhatikan kedua remaja yang sedang terbelalak kaget saat melihatnya. Orang itu tidak lain adalah Vermouth.

Wanita favorit bos organisasi hitam itu memperlihatkan senyum lebarnya. Dengan gerakan santai ia tarik sebuah pistol dari saku bagian belakang celananya. Kemudian ia arahkan pistol tersebut ke arah Conan dan Haibara.

Conan langsung menggiring Haibara agar bersembunyi di belakang dirinya. Pemuda itu segera menghilangkan ekspresi terkejutnya. Matanya terus fokus memperhatikan Vermouth yang tetap berdiri di depan pintu.

"Tidak keberatan jika aku menemuimu terlebih dahulu, kan?" tanya Vermouth santai, "nah, bagaimana jika kamu mengikutiku tanpa melakukan perlawanan? Aku tidak ingin melukai silver bullet-kun."

Haibara merapat ke arah Conan, mencoba untuk menghilangkan jarak yang awalnya memisahkan mereka. Dilihat dari arah Vermouth berdiri, tubuh Haibara sepenuhnya tertutup oleh tubuh Conan yang notabennya lebih tinggi darinya.

"Kalaupun kau ingin membawa Haibara, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah," ucap Conan tenang. Satu tangannya terus menggenggam tangan Haibara

Vermouth mendengus geli, "Nee, cool guy. Sudah ku bilang, kan? Aku tidak ingin melukaimu."

Senyum angkuh terukir di bibir Conan, "Lalu... sekarang apa?"

Satu alis Vermouth terangkat. Senyum hilang dari bibirnya. Wanita itu pun menurunkan pistol dan menatap Conan dengan ekspresi bingung, "Begini, aku tidak ingin menyakitimu jika kamu menurut. Namun, jika kamu melakukan sebaliknya..." Vermouth kembali menodongkan pistolnya ke arah Conan, "aku tidak akan segan-segan untuk melukaimu 'sedikit'."

Pegangan Conan pada tangan Haibara semakin mengerat. Dengan gerakan cepat pemuda itu meraih kursi dengan satu tangannya yang lain seraya melemparkan kursi tersebut ke arah jendela kaca. Conan segera menarik Haibara mengikuti arah perginya kursi.

Kursi menerjang jendela kaca dan membuat jendela tersebut pecah. Suara pecahan itu menggema di dalam ruangan diikuti suara tiga tembakan yang dilepas oleh Vermouth. Conan mengangkat satu tangannya yang bebas untuk melindungi wajahnya sambil terus menarik Haibara. Pemuda itu memekik tertahan sebelum menerjang jendela kaca dan terjun bebas di udara. Haibara yang sedang ditarik oleh Conan ikut terjatuh juga. Gadis tersebut langsung memejamkan mata sambil memekik tertahan saat tubuhnya mengambang di udara.

Melawan tekanan udara, susah payah Conan menarik Haibara dan memposisikan gadis tersebut di pelukannya. Pemuda itu melihat ke bawah, lebih tepatnya melihat deretan pohon yang sedang ada di bawahnya.

Pelukan Conan pada Haibara makin mengerat. Ia memanggil nama Haibara sambil berusaha memindah posisi Haibara, "Pindah ke punggungku! Cepat!"

Haibara membuka mata dan mencengkram erat kemeja yang dikenakan oleh Conan. Dengan hati-hati ia mencoba untuk merubah posisi dari menghadap ke Conan menjadi dipunggungi oleh Conan.

Setelah Haibara berhasil menempatkan diri di punggungnya, Conan memerintahkan Haibara untuk berpegangan padanya dengan erat. Conan sendiri sedang sibuk memutar sabuk pembuat bola sepak miliknya.

Ketika posisi mereka berdua berada cukup dekat di atas pohon, Conan segera menekan tombol pada sabuknya. Membuat sabuk itu mengeluarkan bola sepak yang mengembang besar. Bola tersebut langsung pecah saat bergesekan langsung dengan ranting-ranting pohon.

Conan berbalik dan menarik paksa tangan Haibara. Pelukan gadis tersebut pun langsung terlepas, Haibara berteriak histeris karenanya. Conan berbalik dan memeluk Haibara dengan erat. Posisinya ia berada di bawah. Baru setelah itu ia dan Haibara menerjang ranting pohon. Keduanya pun lenyap ditelan dedaunan.

...

Di sisi lain, detik-detik akhir sebelum Conan dan Haibara terjun bebas

Vermouth mengangkat salah satu alisnya sambil memasang ekspresi bingung. Ia terus menatap Conan, seakan ingin mencari tahu alasan pemuda itu bersikeras melindungi Haibara.

"Begini, aku tidak ingin menyakitimu jika kamu menurut. Namun, jika kamu melakukan sebaliknya..." Vermouth kembali menodongkan pistolnya ke arah Conan, "aku tidak akan segan-segan untuk melukaimu 'sedikit'."

Ada penekanan ketika Vermouth mengucap kata 'sedikit'. Selama ini dia sudah berusaha untuk tidak mengganggu Conan. Namun, di sisi lain dia mungkin tidak punya pilihan lain lagi karena sudah tugasnya untuk menangkap Haibara. Perang sudah di mulai.

Otot di sekitar pelipis Vermouth menegang, seakan menandakan bahwa dia sedang berada di posisi sulit. Atau mungkin, dia sedang berusaha memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah rumit antara dirinya, Conan dan Haibara.

Sadar Vermouth sedang tidak fokus, Conan segera meraih kursi yang tadinya ia duduki dan segera melempar kursi itu ke jendela kaca. Suara pecahan kaca pun menggema di dalam kamar. Hal itu berhasil membuat kesadaran Vermouth kembali.

Vermouth menoleh, memperhatikan pergerakan Conan. Pemuda itu berlari sambil menarik Haibara menuju jendela kaca yang pecah. Paham dengan apa yang akan dilakukan Conan, Vermouth berdecak sambil mengarahkan pistol ke arah Conan. Ia melepas tiga tembakan dan itu berhasil menggores lengan serta kedua kaki Conan.

Meski sudah tertembak, Conan tetap menjalankan niat awalnya. Pemuda itu melompat bersama dengan Haibara. Melihat itu, Vermouth segera berlari mendekati jendela untuk melihat keadaan Conan. Dahinya berkerut.

Mata Vermouth tidak berkedip sama sekali. Ia terus memperhatikan proses jatuhnya Conan dan Haibara. Nafasnya tercekat ketika dia melihat Conan menggunakan sabuk pembuat bolanya untuk mengurangi kecepatan jatuhnya dia dan Haibara. Setelah sosok Conan dan Haibara menghilang, baru saat itu Vermouth beralih.

Wanita berambut pirang itu berbalik sambil menyembunyikan pistolnya ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Tangannya yang lain merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Sambil terus berjalan, Vermouth sibuk dengan ponselnya. Ia menelpon seseorang.

"Target melarikan diri. Untuk saat ini aku tidak bisa mengejar dia lebih jauh lagi," ucap Vermouth bicara dengan orang di seberang telepon. Ia berhenti di depan pintu masuk apartemen sambil memakai topi untuk menutupi wajahnya, "Lebih baik kita berkumpul dan membicarakan strategi yang lain."

Usai mengucapkan itu, Vermouth langsung memutus sambungan teleponnya dan segera bergerak keluar. Ia memperhatikan lorong apartemen yang sepi sebelum melangkah cepat menuju lift.

...

Dahi Haibara berkerut. Kelopak matanya terlihat bergerak, namun tidak kunjung terbuka. Gadis itu terlihat sekuat tenaga menguasai diri agar dia bisa sadar sepenuhnya. Baru setelah beberapa detik berlalu, matanya terbuka secara perlahan.

Di saat yang bersamaan, Haibara memekik kesakitan. Ia urung bergerak dan mencoba untuk tetap berada di posisi awalnya. Dahinya makin berkerut, seakan berusaha untuk menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Untungnya Haibara bisa menguasai dirinya lagi tak lama kemudian, gadis tersebut berusaha untuk melakukan senam pernafasan. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melakukannya berkali-kali. Setelah dirasa sudah cukup, gadis itu menghentikan aktivitas tersebut dan berusaha untuk bergerak.

Gerakan Haibara kembali terhenti. Namun, kali ini dengan alasan yang berbeda. Gadis itu terbelalak sambil memperhatikan orang di sampingnya. Lebih tepatnya pemuda yang telah berjuang menyelamatkan dirinya dari kejaran Vermouth.

Melupakan rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya, Haibara bergerak duduk dan cepat-cepat memposisikan diri di dekat Conan. Ia berusaha untuk memindahkan kepala Conan ke pangkuannya.

Haibara terlihat panik. Tangannya gemetar ketika ia menyentuh pergelangan tangan Conan. Dua detik berlalu, ia terbelalak.

"Denyut nadinya... tidak terasa."

Kini, bukan tangan Haibara saja yang bergetar. Tubuh Haibara pun terlihat demikian. Air matanya perlahan mulai menggenang. Nafasnya mulai memburu. Meski terlihat sangat terguncang, Haibara tetap berusaha untuk tidak terbawa suasana. Tangannya kembali bergerak, kali ini ia menyentuh leher Conan.

Nafas Haibara tercekat. Tubuhnya tersentak kecil. Matanya yang masih terbelalak beralih memperhatikan wajah Conan yang terlihat babak belur. Setetes air mata mengalir jatuh melewati pipinya.

Rahang Haibara mengeras. Tangannya terkepal erat. Perlahan ia mulai meringkuk dan memeluk kepala Conan. Air matanya keluar dengan deras melalui ujung matanya. Meski demikian, ia terlihat sekuat tenaga untuk menahan suara isaknya.

Haibara menarik nafasnya kuat-kuat, dengan suara lirih ia berucap, "Kudo... kun."

~ Tsuzuku ~

Yeiy, akhirnya sudah selesai juga... chapter pertamanya. Pada awalnya saya ingin me-remix cerita ini menjadi satu chapter. Tapi, sepertinya bakal kepanjangan jika saya jadikan satu chapter. Well, meski cerita berpacu pada fanfic yang sudah pernah saya upload, bukan berarti saya copy paste karya saya yang sebelumnya. Jujur saja... saya sudah lupa soft file-nya ada dimana. Saking banyaknya cerita yang saya buat, jadi tertimbun. Belum sempat saya pilah-pilah. Then, bagaimana dengan cerita kali ini? membingungkan? Aneh? Kurang seru? Atau ada yang kurang? Saya tunggu komentarnya di review. Jangan lupa untuk review ya! See you very soon.