KnB belong to Fujimaki T.
Gift milik ane -,-
Warning; Bau-baunya Sho-ai, mungkin ada typo, gak logis, ooc, basa gak baku, dll.
Ni crita sbenarnya dah lama ada di draf, mau dihapus tapi sayang. Yaudah akhirnya dipubls aja dah.
'Kay, selamat membaca dan semoga dapat menghiburmu, hehe.
.
.
.
Sore itu entah kenapa gym SMP Teikou tampak terasa lebih panas dan gerah. Beberapa anak-anak basket duduk berselonjor di sisi lapangan sambil mengibas-kibaskan kaus mereka yang berkeringat. Mereka semua baru saja lari keliling lapangan sebanyak dua puluh kali oleh titah sang kapten. Biasanya tubuh meraka tak segerah ini.
"Panas~. Kuroko, kipasin aku dong~" Si pirang Kise Ryouta tepar di atas lantai indoor. Dadanya naik turun dengan napas terengah. Tangannya berusaha mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan gerakan lemas.
Ia menoleh ketika yang dipanggil tak kunjung menjawab. Mata sewarna madunya mengerjap begitu melihat si cowok baby blue tampak lebih mengenaskan darinya. Tidur terlentang, napas ngos-ngosan, mata terpejam dan wajahnya begitu pucat. Kise menatapnya kasihan.
"Tetsu, lu gak papa kan? Kok wajah lu pucet banget?" Aomine bertanya. Cowok tinggi berkulit eksotis itu berada tepat di sisi lain si cowok baby blue. Aomine sudah siap siaga barang kali si baby blue muntah lagi.
"Bodohnya dirimu, Aomine. Udah jelas Kuroko gak baik-baik aja. Malah pake ditanyain segala -Wadaw!!" Dan satu bola basket meluncur indah mengenai kepala Kise Ryouta yang malang. "Jahat! dasar aho!"
Si pelaku pelemparan bukannya meminta maaf malah mengupil dengan ekspresi minta ditampol. Lalu Aomine mengalihkan perhatian pada Kuroko lagi. Kali ini ia menoel-noel pipi pucat Kuroko. "Woi, bangun woi!"
Merasa risi ditusuk-tusuk jari panjang dan lengket milik Aomine, Kuroko pun menepisnya agak kasar. "Jauhkan jari kotormu dari pipiku, Aomine! Jijik!" kata Kuroko menatapnya ilfil.
Tapi Aomine tidak peduli. Ia malah berkomentar, "Oh ternyata masih hidup toh."
"Kalian jangan malas-malas begitu! Semuanya bangun! Bangun! Ayo latihan!"
Lagi enak-enaknya beristirahat, si kapten merah datang memberi perintah sambil berkacak pinggang. Sepasang netra rubinya memelototi semua anggota tim basket dengan tajam.
"Gak mau. Aku capek banget. Memangnya kamu gak capek apa?" Kise mau cari gara-gara rupanya.
"Iya, udah gitu, entah kenapa sore ini begitu panas dan rasanya gerah banget nih. Saat-saat kek gini tuh enaknya makan es krim, es kelapa, es doger, es cincau, es teh manis, es mangga, es-"
"Berisik! Yang ada dipikiranmu cuma makanan doang sih. Sebel dengernya," sahut Midorima memotong ucapan Murasakibara yang berada tepat di sampingnya. Midorima melirik Akashi yang tampak akan murka sebentar lagi. Maka sebelum Akashi mengamuk, Midorima langsung berdiri dan pergi untuk mengambil bola basket.
"Kalian juga cepat bangun atau aku akan melipat gandakan latihan kalian!" Akashi memberi perintah lagi pada mereka yang masih bergeming tiduran serta senderan di atas lantai.
Yang lainnya langsung bergegas berdiri mengambil bola basketnya masing-masing, kecuali, Murasakibara, Kise, Kuroko dan Aomine yang tampak tak peduli.
Akashi mengelus-elus dadanya dengan sabar begitu melihat anak buahnya tak mau menurut.
"Aku lapar, Akachin. Ogah ah kalau disuruh latihan. Mending makan my lovely kripik kentang, my beloved pocky, my wife permen lolipop, my-"
"Murasakibara, berdiri! Jangan banyak alasan. Nanti habis latihan akan kuberikan semua jajannya deh!" kata Akashi masih mencoba untuk bersabar.
Mata mengantuk Murasakibara langsung berbinar. "Wah, yang benar, Akachin?"
Akashi cuma mengangguk malas. Dan si cowok kelewatan tinggi itu segera berdiri dari senderannya, lalu segera menyusul Midorima bersama yang lainnya.
Sekarang tinggal kuning, biru muda dan si biru navy. Akashi semakin memelototi mereka bertiga. "Cepat banguuun!"
"Ogah ah, aku mager. Nanti sepuluh menitan lagi. Jadi kapten tuh yang pengertian dong, Akashi. Aku tuh capek banget tahu." Kise menggulingkan tubuhnya malas-malasan.
Salah satu alis merah Akashi mulai berkedut-kedut kesal.
"Fyuuh, gue kok tetiba jadi ketularan mager ya. Latihan pun males juga nih, nanti ujung-ujungnya juga gue bakalan menang. Bosen ah," kata Aomine besar kepala. Ia mengembuskan napas lelah. Lalu menyenderkan tubuhnya. Tangan kirinya memutar-mutar bola basket diujung jari telunjuk.
Akashi menatapnya dengan alis berkedut.
Sedangkan Kuroko masih terlentang. Ia mengusap-usap perutnya dengan lemas. "Aku juga capek. Trus perutku rasanya mules banget. Jadi pengin muntah aja nih."
Kali ini Akashi menggertakkan giginya. "Jangan banyak alasan! Kalian cepat latihan atau aku akan-"
"Woii, Akashii!"
"APA SEEH?!" Akashi memelototi seseorang yang baru saja memotong ucapannya.
"A-anu ... itu ... maaf ... tadi anu-" Orang itu mendadak ciut nyali begitu melihat Akashi yang nyahutnya gak nyantuy.
"Kalo ngomong yang bener dong!" sembur Akashi semakin membuat nyali si pemanggil menciut.
Diam-diam Aomine, Kise dan Kuroko beringsut bangkit dari tiduran mereka menjauhi si kapten yang tampak sedang tidak mood. Mereka tidak mau kena sembur juga rupanya.
"Akashi ternyata bisa segalak itu ya," bisik Kise sambil bergidik menatap Akashi yang tengah mengomel.
Aomine mengangguk-anggukan kepalanya. "Ho'oh. Persis kek emak gue yang hobi banget ngomelin gue."
Sedangkan Kuroko hanya menyimak saja.
"Ka-kamu dipanggil Pak Mibuchi, A-Akashi," kata si orang itu yang tak perlu disebutkan namanya karena cuma tokoh figuran tidak penting di cerita ini. Hehe.
Akashi mendecih kesal. Tapi kakinya melangkah menuju keluar pintu gym dengan langkah menghentak. Dengan begitu Akashi berlalu untuk menemui Pak Mibuchi Reo si guru biologi yang sering sekali memanggilnya entah untuk membantu apa lagi kali ini.
Akashi mendengus. Semoga guru itu tidak melakukan hal-hal gila lagi. Seperti contohnya mengubah suara kodok menjadi suara kambing dengan obat penemuannya yang aneh. Atau membuat seekor ayam jantan agar bisa hamil. Guru biologi itu emang kadang otaknya agak-agak miring. Akashi heran, kenapa ada guru begituan di SMP Teikou ini.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, apa kau memanggilku, Sensei?" Akashi mengetuk pintu yang sudah sedikit terbuka, lalu memasuki dan menutup pintunya dengan pelan.
"Sei-chan, kemarilah. Ayo-ayo sini duduk." Mibuchi menyambut kelewatan senang. Dia menepuk-nepuk sebuah kursi plastik di sisinya.
Akashi langsung mendudukkan diri di kursi tersebut. Sebuah tabung reaksi berisi cairan aneh disodorkan Mibuchi tepat di hadapannya. Akashi melirik sekilas tabung itu. Kemudian menatap penuh tanya pada Mibuchi.
"Coba minum ini, Sei-chan."
Netra Akashi membola. "Reo-sensei, yang benar saja?! Aku tidak mau!"
Akashi kira ia hanya akan disuruh untuk membantu menuangkan cairan-cairan aneh milik Mibichi kayak biasanya. Tapi sepertinya kali ini ia akan dijadikan kelinci percobaan.
Mibuchi tak menyerah meski langsung mendapat penolakan. Tabung kecilnya masih disodorkan. Senyumannya bahkan masih terpatri di bibirnya. "Tidak apa. Ini aman kok."
"Nggak! Aku tidak mau. Lagipula, ini cairan apaan, Sensei? Kok keliatan menjijikkan gini ya?" Akashi mendorong pelan tabung tersebut.
"Sei-chan, ayolah." Tangan kanan Akashi disambar Mibuchi lalu dipaksanya untuk memegang tabung berisi entah cairan apa itu. Akashi mau tidak mau memegangnya meski agak jijik melihatnya.
"Ayo minum."
Akashi menggeleng. "Gak mau. Katakan dulu ini apaan?"
Mibuchi berdecak. "Ini cuma ramuan untuk menambah tinggi badan, Sei-chan. Bukannya kamu pengin tinggi macam murasakibara dan Midorima ya? Makanya sensei buatin khusus untukmu. Ini aman, kok. Jadi, minumlah."
Entah kenapa Akashi sedikit tersinggung. Secara tidak langsung Mibuchi telah mengatainya pendek. Keterlaluan!
Padahal tinggi Akashi sudah di atas rata-rata. Memang sih, dibanding teman-teman basket yang lainnya, Akashi terbilang sebagai cowok yang kurang tinggi selain Kuroko. Kuroko bahkan lebih pendek darinya. Apa-apaan coba?!
"Hallo~ Sei-chan, jangan bengong dong! Cepat minum."
Akashi menggerutu. Ia menatap jijik pada tabung di tangan kanannya. Rasanya percuma saja berdebat dengan sang guru melambai ini. Lagipula sepertinya ramuan ini tidak buruk juga. Diam-diam, sejak pertama kali bertemu teman-temannya yang punya tinggi badan gak kira-kira itu membuat Akashi berkeinginan untuk jadi lebih tinggi lagi. Maka Akashi dengan terpaksa meminumnya dalam sekali teguk.
Mibuchi tersenyum cerah. Matanya berbinar. Lalu menunggu efek ramuan penemuannya bekerja.
Sedangkan Akashi sendiri tengah berusaha menelan cairan itu dengan susah payah. Tenggorokannya terasa panas dingin. Rasa pahitnya begitu mendominasi, padahal tidak sempat menyentuh lidahnya.
Akashi mengernyit. Begitu cairannya masuk ke dalam lambung, seketika itu pula timbul gelombang penolakan dari dalam perut. Rasa asam dan pahit mulai naik ke mulut. Akashi menutup mulutnya.
"Oh, jangan dimuntahkan." Peringatan dari Mibuchi membuat Akashi kesal saja. Tidakkan sang guru tahu bahwa rasa cairan itu begitu "iyuh" banget?
Mau tidak mau, Akashi pun menahan agar isi perutnya tidak keluar.
Beberapa menit berlalu, Mibuchi masih menatap Akashi penasaran. Dahinya mengerut begitu tidak terjadi apa pun. "Loh, kok efeknya gak muncul-muncul ya?"
"Sensei, sepertinya ramuanmu gagal. Jadi bisa aku pergi sekarang?" Akashi mengelus-elus perutnya yang mulai mules. Meski sudah menahan untuk tidak muntah, namun sesuatu dalam perutnya seperti memberontak ingin dikeluarkan.
Mibuchi tampak kecewa. Akhirnya Akashi diperbolehkan keluar. Tanpa membuang-buang waktu, Akashi berlalu. Melangkahkan kakinya cepat untuk keluar dari ruangan penuh tabung erlen meyer, gelas kimia, tabung-tabung berisi cairan-cairan berwarna dan lain-lain.
Si cowok bersurai merah itu tidak kembali ke gym, melainkan ke arah kamar mandi.
Keran westafel diputar seusai memuntahkan apa yang sedari tadi ingin dimuntahkan. Namun hanya salivia dan sebagian makan siangnya saja yang keluar. Rasanya begitu lemas sekali. Tapi ada perasaan lega juga.
Akashi tidak tahu. Entah kenapa tubuhnya jadi berasa tidak bertenaga. Selama latihan berlangsung, ia terpaksa hanya duduk memantau semua anggota tim basket di sisi lapangan bersama Momoi di sampingnya. Gadis pink itu sempat bertanya mengenai kenapa Akashi tak ikut berlatih tanding seperti biasanya dan Akashi hanya menjawab kalau ia sedang tidak enak badan.
Hingga pukul enam sore tiba serta anak-anak basket sebagian besar sudah pulang ke rumah masing-masing, Akashi merasa semakin lemah saja. Sepertinya cairan dari Mibuchi mulai bereaksi.
"Akashi."
Akashi menjawab dengan gumaman tak berarti. Entah siapa yang memanggilnya, Akashi tak peduli. Sekarang kepalanya mulai berdenyut-denyut. Matanya terasa berat. Ia terlalu lemas bahkan untuk sekedar menoleh. Yang memanggil melangkah mendekat.
"Kau tidak apa, nodayo?"
Dari suara dan logat bicaranya, mengidentifikasi kalau dia adalah Midorima.
Akashi mengubah posisi tidurannya di atas kursi meja agar lebih nyaman. Sebuah ponsel merah berada tepat di samping kepalanya yang terkulai lemas di atas meja kecil itu. "Hm, aku tak apa."
Midorima menatap punggung Akashi dengan skeptis. Mereka tengah berada di ruang loker. Biasanya sang kapten sudah berganti seragam olahraga dengan kemeja sekolah seusai latihan basket. Dan yang Midorima lihat, Akashi bahkan belum mengganti kausnya. Kalau diingat-ingat selama latihan berlangsung, sang kapten juga tumbenan tak ikut memainkan bolanya. Tepatnya saat setelah dipanggil pak Mibuchi sih.
Hmm, ada apa gerangan?
"Kamu gak siap-siap buat pulang? Yang lainnya sudah pergi loh."
"Iya, sebentar lagi."
Inginnya Midorima cepat-cepat berlalu, kemudian mandi, makan malam bersama keluarganya, belajar sebentar lalu tiduran di atas ranjangnya yang empuk dan hangat. Namun, ia tidak tega juga meninggalkan Akashi sendirian di sini. Terlebih tampaknya keadaan Akashi sedang tidak baik.
"Akashi, apa yang terjadi padamu? Pak Mibuchi habis ngapain ke kamu sih? Kok jadi kek orang sakit gitu?" tanya Midorima beruntun.
Akashi mengibaskan tangannya. "Gak ada. Cuma dijadiin kelinci percobaannya Reo-sensei."
Karena penasaran, Midorima mendudukkan dirinya di samping Akashi. Duduknya menyamping menghadap Akashi yang tampak siap pingsan kapan saja. Dahi Midorima berkerut dalam melihat wajah pucat sang kapten. "Memangnya Pak Mibuchi buat obat apa lagi?"
"Penambah tinggi," gumam Akashi lirih. Untung suaranya masih sampai ke telinga Midorima.
"Oh." Netra Midorima mengamati tubuh Akashi yang tetap seperti biasanya, hanya saja kalau Midorima tidak salah lihat, tubuh Akashi bukannya bertambah tinggi malah jadi semakin ... kurus dan langsing? Dan oh tunggu ... itu, itu kok rambutnya jadi semakin memanjang ya?
Midorima mengerjap. Ia bahkan sampai melepas kacamatanya, lalu mengelap lensa kaca dengan sapu tangan. Memakainya kembali dan mengamati lagi. Barang kali tadi ia salah lihat.
Tapi tidak! Midorima tidak salah lihat. Perubahan itu terjadi dengan agak lambat. Secara perlahan, tubuh Akashi semakin jelas berubah dari yang tadinya kekar menjadi kurus macam cewek. Rambut merahnya pun memanjang sampai bahu. Wajahnya yang tampan menjadi ... cantik? Lalu-lalu apa itu yang menonjol di dadanya?!!
Midorima terbelalak. Reflek berdiri dengan tiba-tiba. Kursi yang didudukinya bahkan sampai terjatuh menimbulkan suara bedebum yang sukses membuat Akashi terbangun.
"Midorima, kau itu ap-"
Akashi tak melanjutkan ucapannya. Ekspresinya langsung berubah kaget begitu mendengar suaranya sendiri tampak seperti suara cewek. Akashi menegakkan tubuhnya. Menutup mulutnya dengan shock.
"A-A-Akashi, kau ...!" Midorima sendiri tak kalah shocknya.
Merasa ada beban di sekitar dadanya, tangan Akashi terangkat menyentuh dadanya yang menonjol. What?!
Matanya dapat melihat kalau ia memiliki dua buah dada cewek. Ketika menunduk, Akashi pun mendapati rambutnya terurai panjang. Tubuhnya menjadi kecil dan langsing.
Akashi terdiam. Ekspresinya berubah horror. APA YANG TERJADI PADANYAAA?!
Wajah Midorima bersemu merah. Apalagi ketika matanya tak sengaja melihat dada Akashi yang tampak telanjang dibalik kaus tipis itu. Midroima langsung memalingkan wajahnya. Untung bukan si mesum Aomine yang melihat. Kalau si aho itu yang berada diposisinya, Midorima tak menjamin keselamatan sang kapten. Akashi pasti bakal digrape-grape Aomine.
Midorima berdehem untuk menenangkan diri. "Ehem, se-sepertinya itu bukan obat penambah tinggi. Tapi obat yang membuatmu jadi cewek."
"APAA?! YANG BENAR SAJAAA?!" teriak Akashi saking shocknya. Midorima sampai menutup telinga. Pasalnya, suara melengking Akashi begitu membuat kupingnya pengeng. Mengingatkan suara teriakan sang adik perempuan Midorima pas lagi PMS.
"Tenangkan dirimu, Akashi."
"Cih!" Akashi menyambar ponselnya dengan sekuat tenaga. Wajahnya sudah merah padam menahan semua amarah. Ia mengutak-atik ponselnya dengan tangan bergetar entah karena tubuhnya dalam keadaan tidak fit atau karena ia sedang marah. Begitu menemukan kontak Mibuchi, Akashi langsung memencetnya.
Akashi menggerutu. Ternyata ia dibohongin. Harusnya ia tolak saja permintaan guru gila itu tadi sore. Nyesel, deh!
"Hal-"
"SENSEI! KAU ITU APA-APAAN, HAH?! KATANYA RAMUANMU ITU BUAT PENAMBAH TINGGI, TAPI APA?! KENAPA TUBUHKU JADI BEGINI!" seru Akashi tidak sopan. Akashi sudah tidak peduli lagi dengan suara ceweknya.
Sedangkan Midorima sendiri tengah berjuang untuk tidak tergoda dengan tubuh versi cewek Akashi. Terutama dibagian oppainya yang berguncang-guncang seiring Akashi bergerak-gerak. Midorima ingin menenangkan sang kapten, tapi kalau disuguhi pemandangan begini tentu saja Midorima bakal kewalahan. Walau bagaimana pun juga, Midorima itu cowok normal yang kalau dilihatin hal beginian bakal membuat keimanannya goyah. Di ruangan ini cuma hanya mereka berdua lagi! Kan gaswat.
Midorima bingung. Ia jadi serba salah.
Untuk beberapa saat tidak ada respon dari seseorang di seberang sana. Akashi hampir murka, sebelum kemudian Mibuchi bersorak kesenangan. "Gyaah! Sei-chan, mendengar suara cewekmu berarti obatnya sudah bereaksi. Ya ampuuun, eykeh seneng bangeet, deh. Fufufu."
Gigi Akashi bergemelutuk. Ini Mibuchi cari mati atau bagaimana?! Sialan, Akashi dibo'ongin beneran rupanya. "SENSEI KAMPRET! AKU TIDAK SUKA DIBEGINIKAN! SIALAN! KEMBALIKAN AKU SEPERTI SEMULAAA!"
"Ohohoho, tenang saja, Sei-chan. Efek itu hanya bertahan hingga beberapa hari saja, kok. Kamu pokoknya tenang, deh. Besok temui sensei di lab, ya Sayang. Muah."
Tut! Tut!
Sambungan telepon terputus secara sepihak oleh Mibuchi. Akashi memelototi ponselnya sambil menggerutu.
"Err, Akashi."
"APA!"
Mengabaikan jawaban Akashi yang tidak nyantuy, Midorima menggaruk-garuk belakang kepalanya. Tak mau menatap Akashi. Namun, tangan kanannya menyodorkan jaketnya. "Kamu pakai ini deh."
"Huh? Buat apaan?" tanya Akashi ketus. Ia masih dalam keadaan marah akibat ulah sang sensei gila.
"Eum ... itu ... tutupi itumu. Apa kau tidak malu?" Wajah Midorima memerah lagi.
Tapi Akashi tidak konek. Otaknya yang encer mendadak macet gegara larut dalam amarahnya sehingga tidak paham maksud perkataan si shooting guard barusan. Jadi kenapa Midorima menyodorkan jaketnya agar Akashi mau menutupi 'itu'. Nah 'itu' yang dimaksud Midorima tuh apaan sih? Akashi kan tidak bugil.
Maka Akashi memilih untuk mengabaikannya.
"Tidak perlu. Terima kasih." Akashi menjawab acuh tak acuh. Ponselnya diutak-atik lagi seiring kakinya melangkah melewati Midorima menuju lokernya. Kepalanya mulai terasa pening. Namun, Akashi mengabaikannya. Ia menyambar tas sekolah, lalu memasukkan semua seragamnya dengan kasar ke dalam tas. Kemudian berjalan menghentak ke arah pintu. Tapi, belum sempat tangannya menyentuh kenop pintu, pandangannya memburam dan semakin memburam. Hingga tubuhnya oleng dan ia tak sadarkan diri.
"Akashiii! Oii! Aashiii!" Midorima segera mendekatinya.
Dan kemudian ...
.
.
.
TBC :D
Smpe sini dulu ya, coy. Ufufufu #tabokked
