[Author Note]: Hmm, mungkin … aku akan ngasih sedikit note disini.
Oke, pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk para reader yang masih menunggu fic ini update—itu pun jika ada yang nungguin, sih—.
Kedua, seperti yang aku bilang kemarin sebelum hiatus selama dua bulan, bahwa aku akan kembali dengan tujuan me-remake semua fic milikku. Karena jujur aja, aku merasa sudah ngelakuin banyak kesalahan dalam pembuatan semua ceritaku. Entah itu dalam konteks world building, development characters, konflik, dan masih banyak lagi. Yah, semoga aja hasil remake ini gak bakal terulang lagi, karena jujur aja, aku sebenernya males untuk melakukan remake ini. Kalau boleh milih, aku lebih baik lanjutin aja, sih. Tapi ya gitu, gak memungkinkan kalau aku lanjutin. Yah, lebih baik aku remake mumpung masih sedikit chapternya, daripada nanti jika sudah puluhan, kan repot! Ahaha ….
Ketiga, karena kagiatan di sekolahku sudah mulai aktif, aku gak tahu apa bakal bisa update cepet seperti dulu lagi apa enggak. Yah, gak seperti dulu yang masih punya banyak waktu luang karena masa liburan Covid 19, sekarang ini mungkin aku bakal susah buat bagi waktu ngetik dan segala lainnya. Tapi, nanti coba aku usahakan untuk punya waktu ngetik cerita milikku.
Oke, mungkin cuma tiga poin itu yang ingin aku sampaikan di awal kembalinya aku menjadi author setelah hiatus hampir dua bulan. Oh iya, sebelum aku akhiri, aku membuat fic baru dengan tema "isekai". Silakan untuk yang berminat dengan genre seperti itu bisa mampir. Kalian tinggal klik saja akun milikku, dan cari cerita berjudul Hero Without Weapon.
Sekian dariku, [FI. Abidin Ren].
Malam sunyi di perkotaan yang bisa dikatakan cukup maju. Tidak, bukan sunyi yang mengandung arti ketenangan, tetapi lebih tepat jika dikatakan … "mencekam".
Kumpulan remaja itu menatap dengan pandangan berbeda-beda pada beberapa makhluk yang saat ini sedang mengurung mereka dari berbagai arah. Mereka semua saat ini sedang berada di tempat luas, dengan bagian bawah yang beralaskan beton dan bagian atas yang dipayungi oleh taburan bintang. Tapi tentu saja, hal itu tidak bisa membuat keadaan menjadi lebih indah karena keadaan para remaja itu yang tidak bisa kemana-mana.
"Cih. Kita sudah terkepung!" ucap Naruto, seorang pemuda yang memiliki rambut jabrik kuning, "Bagaimana menurutmu, Sasuke?"
Dia bertanya pada teman di sebelahnya yang memiliki rambut raven dengan model chicken-butt.
Laki-laki yang dimaksud melirik sebentar pada orang yang sudah menjadi temannya sedari mereka kecil, kemudian kembali menatap sekelilingnya dengan waspada. "Entahlah, aku tak melihat celah sedikitpun untuk melewati mereka," jawab Sasuke. Naruto yang mendengar itu mendecih pelan.
Dia menatap tajam pada satu sosok berjubah hitam yang ada jauh di depan kelompoknya. Sosok itulah … penyebab semua kekacauan ini bisa terjadi! Kalau saja sosok itu tidak pernah muncul, kalau saja tidak pernah ada sosok itu di dunia ini …, semua kejadian ini tidak akan pernah ada!
Naruto merutuki kebodohannya. Ini semua kesalahan dirinya sendiri. Rencana yang sudah ia susun menjadi berantakan! Kalau saja rencananya berhasil, dia dan teman-temannya tidak akan pernah terjebak dalam situasi seperti ini!
"Maafkan aku, Naruto-kun."
Naruto memandang Kaguya, perempuan yang menjadi kekasih sekaligus tunangannya. Gadis itu saat ini berada di sampingnya. Cairan bening terus saja mengalir dari kedua mata amesthist itu seakan tidak ada habisnya.
Si pemuda berambut kuning menghadap pada gadis berambut perak. "Apa maksudmu, Kaguya?"
—Naruto bertanya, meskipun dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh gadis itu.
"Ini semua salahku, Naruto-kun."
Naruto menggeleng keras, memberi tahu bahwa ini bukanlah kesalahan Si Gadis Perak. Ini kesalahan dirinya, kesalahan Naruto. Kalau saja pemuda itu bisa membuat rencana yang lebih matang … semua ini akan berjalan dengan lancar.
"Tidak. Ini bukan sal—"
"Ini salahku!"
Kaguya menatap tajam mata safir di depannya. Naruto terkesiap. Tidak bisa berkata-kata akibat pancaran mata amesthist di depannya yang menunjukkan kesedihan yang amat dalam, "Karena itulah, izinkan aku untuk menebusnya!"
Dengan sekuat tenaga, Kaguya memukul ulu hati Naruto, hingga membuat remaja laki-laki itu berlutut sambil mengerang kesakitan. Setelah itu, tanah beton di sekitar kumpulan remaja itu menjadi beku, membuat kaki mereka tidak bisa digerakkan karena es yang menutupi kaki mereka sampai setinggi lutut. Bahkan, kedua tangan Naruto juga ikut membeku karena ia gunakan sebagai penopang tubuh agar tidak jatuh mencium tanah.
Kaguya tersenyum singkat ke arah Naruto. Setelah mengucapkan kata "maaf" bersamaan dengan air mata yang terus mengalir melewati pipi putih itu, dia pun berbalik, berlari menuju kumpulan makhluk mitos di depannya. Remaja kuning itu terkejut dengan apa yang ingin dilakukan oleh perempuan, yang merupakan tunangannya tersebut.
"Tidak! Kaguya! Teman-teman, cepat hentikan Kaguya!" Naruto berteriak panik kepada teman-temannya yang juga sedang terkejut, melihat gadis berambut perak itu malah kembali bertindak gegabah seperti sebelumnya.
"Tidak bisa, Naruto! Kaki kami juga membeku, kau lihat?! Sial!" ucap Sasuke kesal sambil mencoba menghancurkan es yang sedang mengunci kedua kakinya, menggunakan sebuah pedang di tangan kanannya.
Naruto yang mendengar itu menggertakkan giginya dengan kuat. Wajahnya mengeras, dia memandang Kaguya dengan mata melebar sempurna.
"KAGUYAAAA …!"
.
.
.
.
.
—A Havoc?—
By: Abidin Ren
Summary: Dunia sihir modern. Bercerita tentang Naruto dan kawan-kawan yang harus terus berusaha untuk tetap bertahan hidup dari bahaya yang mengancam kenormalan mereka. Rintangan, pengorbanan, penyesalan, dan keputus-asaan selalu menghantui mereka. Terus bertarung melawan kumpulan mayat hidup itu, dan saling menjaga satu sama lain. Tapi, apa itu akan berjalan lancar?
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto — [High School DxD] © Ichie Ishibumi — Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.
This Story Created by Me
Genre: Horror — Tragedy — Adventure — Survival — Hurt/Comfort.
Pair: [Naruto & Kaguya]
Rated: M (For Save)
Warning: Alternative-Universe, Magic-World, Future-World, 18+ (NOT FOR SEX SCENE, BUT FOR BLOOD SCENE), And Many More. [MAIN WARN FOR DEATH CHARACTER(S)!]
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy It~
Please Favorite, Follow, and Riview!
.
[Prologue]
[Chapter 1]: Kemunculan dari Makhluk yang Tidak Pernah Terduga
[Opening]: Konomi Suzuki — CHOIR JAIL (Opening dari Anime Tasogare Otome X Amnesia)
Mari kembali ke awal cerita, sebelum kejadian di atas tadi terjadi ….
.
.
.
Siang Hari, Stasiun Kereta Tokyo, Jepang.
Namikaze Naruto. Itulah nama dari seorang pemuda berambut kuning yang saat ini sedang berada di depan stasiun. Di samping kakinya ada sebuah koper berwarna hitam cukup besar. Dia merenggangkan kedua tangannya untuk melemaskan tubuhnya yang kaku, setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di sini dari kediamannya.
Tidak ingin terlalu membuang waktu, dia pun berjalan menjauhi stasiun itu dan pergi mencari sebuah mobil taksi, tidak lupa juga menarik koper miliknya. Berjalan sambil memerhatikan daerah sekitar, dia pun bergumam sendiri, "Hmm, cukup lama aku tidak mampir ke sini, sepertinya tidak banyak yang berubah."
Terdiam tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk beberapa saat, pemuda itu langsung terkekeh pelan saat memimikirkan ucapannya barusan. "Yah ..., lagipula, apa lagi yang harus ditambahkan pada kota yang sudah sangat maju ini? Meskipun ada, itu juga tidak akan terlalu mencolok bagi orang-orang sekitar," gumamnya pada dirinya sendiri.
Memang itulah kenyataannya. Bagi orang-orang di kota besar seperti Tokyo, mereka pasti tak akan terlalu sadar jika ada pembangunan sekalipun, karena bagaimana pun juga, semua bangunan besar itu terlihat sama saja di mata mereka.
Mata safir pemuda itu menatap gedung-gedung besar di Kota Tokyo. Kota yang merupakan salah satu prefektur di negara Jepang, sekaligus ibukota dari negara itu sendiri. Kota ini yang berada di Kepulauan Honshu, juga masuk sebagai kota termaju dan teraman di dunia. Selain itu, Kota Tokyo yang memiliki nama resmi Metropolis Tokyo, juga merupakan tempat ber-tahta-nya Kaisar Jepang, pemerintahan Jepang, serta parlemen Jepang.
Mata pemuda itu yang melihat sebuah mobil taksi sedang bergerak menuju jalan di sampingnya, langsung membawa kakinya untuk bergerak ke tepi jalan sambil merentangkan dan menggerakkan tangan kanannya. Supir taksi yang sepertinya mengerti, mulai mendekatkan mobilnya ke arah remaja laki-laki itu.
Setelah sampai di sampingnya, Naruto langsung masuk ke dalam taksi itu dengan koper miliknya.
"Tujuan Anda, Tuan?" tanya sang supir, sambil melihat penumpangnya lewat kaca kecil di atasnya.
"Akademi Tokyo," jawab Naruto singkat.
Tanpa bertanya lebih lanjut, sang supir langsung tancap gas untuk segera pergi ke tempat yang menjadi tujuan dari penumpangnya.
"Apa sekarang Anda sedang belajar menjadi ahli sihir?" tanya supir itu. Matanya tidak lepas dari jalanan kota Tokyo.
"A-Ah ya, begitulah," jawab Naruto, "Ehm, mungkin kita tidak usah terlalu formal. Lagipula, di sini Paman yang lebih tua, 'kan?" lanjutnya sambil tersenyum kepada pria di depannya yang kira-kira berumur sekitar 30-an.
"Hahaha. Jarang sekali ada remaja yang berkata sepertimu, Nak." Pria itu tertawa kecil menanggapi ucapan penumpangnya yang berumur lebih muda darinya tersebut. "Kebanyakan remaja sekarang mungkin lebih memilih untuk dihormati oleh orang lain, tetapi kau berbeda dari mereka."
"A-Ah, begitu, kah?" Si supir mengangguk sekali.
"Apa ini tahun pertamamu di Akademi Tokyo?" tanyanya. Dia memutar setir mobil ke kiri saat melihat ada sebuah perempatan jalan, sehingga membuat mobil itu berbelok ke arah yang sama dengan gerakan setir tadi.
Pemuda kuning itu menggeleng, kemudian berkata, "Tidak, ini tahun keduaku di Akademi Tokyo, sebenarnya."
Pria itupun mengangguk paham. Setelah itu, sang supir pun fokus pada jalanan kota, agar tidak salah mengambil rute yang menuju Akademi Tokyo. Dia menjalankan mobil taksi itu santai, agar membuat penumpangnya merasa nyaman dengan pelayanan yang dia berikan.
Naruto sendiri memandang ke luar kaca mobil. Pemuda Namikaze itu melihat ada banyak bangunan yang menjulang tinggi, suatu hal yang biasa jika kau memang berasal dari kota ini. Begitupula dengan Naruto yang memang sudah biasa melihat bangunan yang bernama gedung itu. Tentu saja, itu berlaku beda pada orang yang memang belum pernah ke kota besar sekalipun.
Di perjalanan menuju Akademi, Naruto melihat ada banyak orang-orang yang menciptakan sesuatu seperti lingkaran aneh dengan warna yang berbeda. Tentu saja Naruto tidak terlalu kaget, dia memang tahu apa itu. Namanya lingkaran sihir, suatu garis-garis magis yang diciptakan menggunakan mana. Mana sendiri merupakan suatu energi magis yang berada di dalam tubuh setiap makhluk hidup, serta alam. Meskipun di beberapa kasus, ada juga beberapa benda yang memiliki mana.
Dengan lingkaran sihir atau yang biasa disebut sebagai Magic Circle, orang-orang bisa melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan Sihir. Seperti menciptakan berbagai unsur alam, menguatkan tubuh, dan masih banyak lagi.
Meskipun di zaman yang serba modern ini, orang-orang memang masih sering melakukan sesuatu dengan menggunakan sihir. Entah itu untuk pekerjaan atau cuma sebagai hiburan. Tidak peduli kalau itu anak-anak ataupun orang dewasa, semua sering menggunakan sihir.
Naruto sendiri hanya terkekeh pelan memikirkan semua hal itu. "Meskipun, dunia sudah berada pada masa modern, menusia memang tidak bisa lepas dari yang namanya sihir, ya?" gumam pemuda Namikaze itu dengan pelan.
Setelah itu, mobil taksi yang ditumpangi Namikaze Naruto pun, terus melaju dengan tenang menuju Akademi Tokyo.
.
.
—A Havoc?—
.
.
Pagi hari, Asrama Laki-laki, Akademi Tokyo.
Sudah dua hari sejak seorang Namikaze Naruto berada di Akademi Tokyo. Dan hari ini, merupakan awal dari tahun pelajaran dimulai. Kenapa baru sekarang? Karena satu minggu yang lalu digunakan pihak sekolah untuk mengadakan acara MPLS para murid tahun pertama. Dan sudah dijelaskan di awal, bahwa Naruto sendiri sekarang berada di tahun ajaran kedua Akademi Tokyo.
Seperti yang sudah diketahui, bahwa sekarang ini dunia sudah mencapai tahap puncaknya. Tahap di mana seluruh dunia sudah berkembang menjadi negara modern. Tidak hanya berfokus pada alat-alat canggih saja, para manusia juga mulai mengembangkan inovasi untuk menggabungkan antara Energi Sihir atau Mana dengan alat-alat modern.
Sihir sendiri memang warisan dari Nenek Moyang manusia. Sudah sangat lama sihir diturunkan dari generasi ke generasi hingga sampai pada saat ini. Bahkan, puluhan tahun yang lalu, negara-negara besar menciptakan sekolah khusus bagi orang-orang yang berminat pada sihir. Dan salah satunya adalah Akademi Tokyo.
—Akademi Tokyo, merupakan salah satu Akademi sihir terbesar sekaligus terkenal di dunia. Banyak orang yang ingin sekali bersekolah di situ. Tapi, tentu saja seleksi untuk masuk Akademi ini sangatlah ketat, sehingga tidak mungkin sembarang orang bisa masuk ke Akademi ini.
Baiklah, mungkin sudah cukup tentang perkenalan akan sejarah yang ada di dunia. Mari kita kembali fokus pada cerita ini ….
Naruto saat ini sudah memakai pakaian lengkap khas Akademi Tokyo. Sebuah kemeja putih yang dibalut oleh blazer warna hitam, juga celana panjang hitam menghiasi bagian bawahnya. Di bagian dada kiri blazer terdapat lambang dari Akademi Tokyo, juga garis-garis putih yang menghiasi blazer di beberapa bagian. Lalu, sebuah dasi berwarna merah yang melilit lehernya dengan sempurna. Tidak lupa sepatu kets berwarna hitam mengkilat terlihat pas di kedua kakinya.
Pemuda itu melihat sebentar penampilannya di cermin lemari, kemudian mengangguk mantap.
"Yosh, saatnya berangkat," ucapnya dengan semangat. Setelah itu, Namikaze muda tersebut pun berjalan keluar dari kamar miliknya.
.
.
.
Naruto sedang berjalan di lorong Akademi. Suara telapak kakinya tidak terdengar, karena memang di lorong itu saat ini sedang banyak murid dari semua tahun ajaran Akademi, dan tentu saja … sangat ramai.
Pemuda itu berjalan dengan santai, sampai perhatiannya teralihkan pada kerumunan yang ada di depan gerbang Akademi Tokyo. "Ada apa itu?"
Karena Naruto sudah dikuasai oleh ke-ingintahuan-nya, ia pun berjalan ke kerumunan tersebut.
Saat sudah dekat, mata safirnya tidak sengaja melihat sesosok gadis berambut perak panjang tergerai, yang baru saja keluar dari kerumunan tersebut. Si remaja kuning itu pun menyapa gadis tadi, "Yo, Kaguya!"
—Nama perempuan yang dipanggil Naruto tadi adalah Ootsutsuki Kaguya. Mereka berdua memang sudah saling mengenal sejak kecil berkat hubungan dari orang tua mereka. Bahkan sebenarnya, mereka berdua sudah ditunangkan sejak berumur 13 tahun, jadi tidak mengherankan kalau mereka selalu bersikap layaknya seperti sepasang kekasih. Meskipun, memang tidak salah juga, kalau ada murid yang kaget jika melihat kedekatan mereka berdua, karena pertunangan itu sendiri masih dirahasiakan oleh keluarga besar Namikaze dan Ootsutsuki. Mungkin yang tahu kalau mereka sudah bertunangan hanya beberapa keluarga besar saja.
Gadis tadi yang mendengar, kalau ada yang memanggil namanya, langsung menoleh ke samping kirinya. Dapat dia lihat, seorang remaja laki-laki yang sangat dikenalinya sedari dirinya kecil.
"Oh, Naruto-kun. Ada apa?" tanya Kaguya saat Naruto sudah ada di sampingnya. Dia heran, tidak seperti biasanya pemuda itu mau mendekati kerumunan. Kaguya sudah mengenal Naruto sejak kecil, jadi dia tahu kalau pemuda itu tidak terlalu suka dengan keributan. Tidak, bukannya lelaki itu anti-sosial atau apa. Hanya saja, Naruto itu lebih suka menyendiri dan mencari ketenangan bagi pikirannya.
Naruto menggeleng. "Bukan apa-apa. Hanya saja …" matanya memandang kerumunan orang-orang disitu, "… apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Dia bertanya dengan mata yang masih fokus pada objek di depannya.
Kaguya mengalihkan pandangannya ke tempat yang sama, dengan tempat yang sedang Naruto lihat. "Tadi ada orang aneh yang membuat kekacauan di sini."
Naruto menatap Kaguya dengan sebelah alis terangkat, kemudian bergumam, "Orang aneh?"
Kaguya melirik sekilas pemuda yang menjadi tunangannya itu, lalu mengangguk. "Benar. Kalau kulihat dari pakaiannya … mungkin dia seperti preman jalanan atau apalah itu," ucapnya masih menatap kerumunan di depannya yang sudah mulai membubarkan diri.
Naruto dan Kaguya yang sudah tidak melihat satu orang pun lagi di depan gerbang, mulai membalikkan tubuh mereka dan berjalan menuju bangunan gedung Akademi. Keduanya terus berjalan dengan tenang, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap kagum pada dua orang yang memiliki beda gender itu. Aura keduanya benar-benar terasa sangat berbeda dengan kebanyakan murid yang lain.
Naruto tampak berpikir, kemudian bertanya, "Memangnya, apa yang dilakukan orang tadi?" Dia menatap wajah cantik milik si gadis berambut perak.
Kaguya mengangkat kedua bahunya. Mata amesthist miliknya tetap memandang ke depan, menghiraukan pemuda di sampingnya yang menatap dirinya dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Naruto tetap terus memandang wajah gadis itu untuk beberapa saat.
Gadis Ootsutsuki itu menatap sebal pada si Namikaze muda, karena si remaja kuning tersebut terus menatapnya dengan pandangan bertanya. Ya, Kaguya paham, kalau Naruto sudah ingin mengetahui sesuatu, pasti si kuning itu akan melakukan apapun agar rasa ke-ingintahuan-nya terpenuhi. Seperti tadi contohnya.
Kaguya menghela napas pasrah, menyerah akan kegigihan dari tunangannya ini. Dia menatap Naruto yang berjalan di sampingnya.
"Sebenarnya aku tidak terlalu paham, tetapi kata murid-murid yang melihat kejadian itu bilang, bahwa orang aneh yang sepertinya preman itu, menggigit dua murid Akademi ini. Masing-masing mereka merupakan murid tahun kedua dan ketiga," ucapnya masih menatap wajah pemuda itu yang memiliki tiga kumis kucing di masing-masing pipinya. Entah mengapa, si gadis Ootsutsuki merasa gemas saat melihat tanda lahir milik Naruto. Ingin sekali dia mencubit kedua pipi itu, tapi dia tidak bisa melakukannya sekarang karena mereka sedang berada di tempat umum. Itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri, 'kan?
Naruto berpikir sejenak. Tangan kanannya ia taruh di dagunya. "Apa mungkin preman itu sedang mabuk?" tanyanya pada Kaguya. Dia sebenarnya heran saja, meskipun ada orang yang mabuk … siapa juga yang berani melakukan hal gila seperti menggigit orang lain? Tidak peduli walau itu preman sekalipun, tetap saja aneh. Memangnya sudah berapa hari orang itu tidak makan, sih?!
Keduanya berbelok ke kanan, masuk ke dalam pintu yang menuju bagian dalam gedung.
Kaguya menggeleng pelan, kemudian berkata, "Aku tidak tahu. Saat aku sampai, orang itu sudah diamankan oleh warga sekitar." Si Namikaze muda yang mendengar itu hanya mengangguk beberapa kali.
Naruto dan Kaguya yang kadang berpapasan dengan guru saat berjalan, membungkukkan badannya sedikit kepada sang guru sebagai tanda untuk menghormatinya.
"Lalu, bagaimana dengan keadaan dua murid yang digigit?" tanya Naruto sangat penasaran.
Mereka berdua saat ini sedang berhenti di pertigaan lorong dalam Akademi. Pemuda itu bersandar pada dinding di belakangnya dengan tangan yang dilipat di depan dadanya. Kelopak matanya tertutup, membuat kedua mata safir seindah langit itu tidak terlihat. Sementara Kaguya, dia hanya berdiri di depan Naruto sambil sesekali melirik beberapa murid yang lewat di samping keduanya, dengan sesekali membalas sapaan mereka.
"Karena mereka berdua pikir itu hanya luka ringan, jadi keduanya hanya meminta izin ke UKS saja," ujar si gadis berambut perak dengan tenang. Matanya melirik jam kecil di tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 07:48 pagi.
"Sudahlah, cepat pergi ke kelasmu! Pelajaran akan dimulai sebentar lagi, tahu," perintah Kaguya. Mata amesthist miliknya menatap tajam Naruto yang malah terkekeh pelan.
Remaja laki-laki itu yang sadar bahwa tunangannya itu sedang menatap tajam dirinya, hanya menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa garing. "Baik, baik, Seito Kaichou-sama," ucap Naruto. Dia tertawa kecil saat melihat raut wajah tidak suka milik Kaguya saat ia panggil dengan sebutan "Ketua".
—Ya, Kaguya merupakan Ketua OSIS di Akademi Tokyo ini. Meskipun sebenarnya yang harus memegang jabatan itu adalah Naruto, tapi karena dia tidak suka dengan hal-hal seperti itu, jadinya si pemuda kuning langsung mengundurkan diri dari pencalonan ketua OSIS, dan akhirnya … Kaguya-lah yang memenangkan pemilihannya.
"Jangan memanggilku begitu. Seharusnya itu kan tugasmu, Naruto-kun!" Kaguya berucap dengan nada yang terdengar sebal. Matanya tertutup, sementara alisnya bergerak-gerak terus, menandakan ia tengah kesal. Kedua tangannya terlipat di bawah dadanya.
"Oh, ayolah, Kaguya. Kau tahu, 'kan, kalau aku malas jika melakukan sesuatu seperti itu?"
Naruto hanya mengembuskan napas saat dia kembali mendapatkan tatapan tajam dari gadis yang saat ini sedang berada di depannya. Matanya melirik ke arah lain sambil bergumam, "Lagipula ada Sona yang membantumu. Dia itu Wakil Ketua OSIS, 'kan?"
Kaguya menunjuk Naruto dengan jari telunjuk tangan kanannya, kemudian berucap, "Asal kamu tahu, Naruto-kun! Kamu pikir, aku tidak kerepotan melakukan tugas-tugas Ketua OSIS?! Aku juga tidak mau selalu merepotkan Sona-chan. Seharusnya kan, kamu yang mengemban tugas ini."
Kaguya menghela napas lelah, saat memikirkan kembali tugas-tugasnya yang masih menumpuk cukup banyak di Ruang OSIS. Tidak peduli seberapa cepat dia menyelesaikannya, tumpukan kertas itu seperti tidak ada habisnya. Setiap kali dia sudah menyelesaikannya, pasti ada saja yang baru muncul lagi. Itu benar-benar menyebalkan …!
Si Namikaze muda pun tersenyum kecil saat mendengar keluhan dari perempuan yang merupakan tunangan sekaligus kekasihnya itu. Tangan kanannya bergerak ke atas, mengelus surai perak milik gadis itu. "Baiklah, aku minta maaf, Kaguya. Maaf, sudah membuatmu kerepotan karena aku yang tidak mau bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan semua guru kepadaku," ucapnya sambil tersenyum lembut kepada Kaguya.
Sedangkan si gadis Ootsutsuki, entah mengapa ia merasakan kedua pipinya sedikit menghangat. Jarang sekali dia bisa melihat sifat gentle Naruto yang mau meminta maaf pada seorang gadis, terlebih lagi, itu kepada dirinya! Yup, itu adalah suatu hal yang sangat jarang Kaguya temui.
Kaguya mengembungkan pipinya sambil memalingkan kepalanya ke samping kanan. "Sudahlah, pergi sana! Aku mau kembali ke ruang OSIS," ucapnya yang terkesan galak, karena dia memang sedang malu.
Setelah itu, ia pun berjalan menuju lorong sebelah kanan, meninggalkan Naruto yang hanya terkekeh karena melihat tingkah dari gadis itu yang terkesantsundere. Mengembuskan napas senang, pemuda itu kemudian berjalan di lorong sebelah kiri untuk pergi ke tempat kelasnya berada.
"—Preman …, kah?" gumamnya.
…. Selama di perjalanan, dia terus saja memikirkan semua hal yang baru saja dirinya dan Kaguya tadi bicarakan, tentang masalah keributan yang terjadi tadi pagi di depan Akademi Tokyo.
.
.
—A Havoc?—
.
.
Kelas 2-A.
Namikaze Naruto saat ini sudah sampai di depan kelasnya. Tangan berkulit tan miliknya memegang knop pintu, lalu memutarnya pelan, sehingga membuat pintu itu terbuka. Dengan langkah pelan, kakinya bergerak memuju tempat duduknya yang ada di bagian pojok dekat jendela kelas yang mengarah keluar. Terus berjalan dengan santai, mengabaikan beberapa pasang mata dari para gadis yang memandang dirinya dengan wajah yang bersemu merah.
Saat sudah sampai, dia hanya memandang datar pada teman sebangkunya yang sudah tidur di atas meja mereka berdua. 'Baru hari pertama dan dia sudah melakukan rutinitas hariannya. Kau benar-benar pemalas, Shikamaru,' batin Naruto merasa heran. Mencoba untuk tidak memper-masalah-kannya, dia pun duduk di kursi miliknya yang di bagian sebelah kiri.
Pemuda kuning itu melirik ke samping saat merasa ada yang mendekati mejanya. Dan dapat dia lihat, seorang remaja laki-laki berambut raven dengan model chicken-butt. Mata onyx milik remaja tadi memandang Si Kuning dengan datar. Ya, Naruto kenal siapa pemuda itu. Namanya adalah Uchiha Sasuke, salah satu temannya semasa dirinya kecil dulu. Bersama dengan Kaguya, ketiganya tumbuh bersama-sama dari semasa kanak-kanak sampai remaja.
"Ada apa, Teme?"
—Begitulah cara Naruto untuk memanggil temannya yang selalu memasang muka tembok di mana-dan-kapan-sajanya itu.
"Hn. Kau ingat tentang berita jatuhnya sebuah meteor ke bumi dua minggu yang lalu?" tanya Sasuke. Matanya melirik sebentar pada Shikamaru yang tertidur di atas mejanya, kemudian kembali memandang Naruto.
Si Namikaze muda berpikir sejenak, lalu berucap, "Hmm, maksudmu meteor yang jatuh di Kepulauan Hokkaido, Jepang. Yang itu, bukan?" Sasuke mengangguk. Naruto kembali bertanya, "Lalu, apa masalahnya?"
Pemuda Uchiha itu menghela napas lelah. Dia menarik sebuah kursi di dekatnya lalu ia gunakan untuk duduk. "Begini ..., empat hari kemarin saat aku sudah berada di Akademi ini, aku merasakan pancaran energi yang sangat kuat dari arah Kepulauan Hokkaido. Apa kau tidak merasakannya?" Dia berucap dengan heran.
Sementara yang ditanya hanya mengeleng pelan sambil berucap, "Aku belum sampai di sini waktu itu."
Si Namikaze muda tertawa geli saat melihat raut khawatir dari orang yang selalu memasang wajah datar tersebut. "Mungkin saja, 'kan, itu akibat dari penelitian para Ilmuan Jepang. Kau kan tahu, kalau Kepulauan Hokkaido itu digunakan pemerintah sebagai pusat penelitian negara kita. Entah itu tentang sihir ataupun alat-alat modern lainnya. Kita beruntung, karena meteor yang jatuh saat itu sangat kecil, sehingga kerusakkannya tidak terlalu besar," ucap Naruto santai. Dia benar-benar tidak peduli dengan raut wajah khawatir dari temannya itu. Si kuning melanjukan, "Sudahlah ..., tak perlu khawatir, Sasuke. Berpikirlah positif saja."
Remaja berambut raven itu mengembuskan napas pelan, mencoba untuk merilekskan pikirannya. "Hn. Semoga saja perkiraanmu itu benar," ujar Sasuke. Setelahnya, dia pun kembali ke meja miliknya. Naruto yang melihat itu hanya mengangkat kedua bahunya.
Matanya memandang langit-langit kelas. "Meteor jatuh, ya?" Naruto kembali bergumam pelan.
Beberapa menit berlalu, pelajaran pun dimulai. Naruto memperhatikan penjelasan dari gurunya dengan tenang. Ia juga sesekali mencatat sesuatu yang menurutnya penting di buku tulis yang dibawanya. Menit demi menit mulai berlalu, sampai pelajaran pertama pun selesai.
"Baru hari pertama sudah diawali dengan pelajaran." Naruto bergumam pada dirinya sendiri, "Seharusnya kan ini hari bebas, tanpa adanya kegiatan apapun. Haah~ …." Mata safir pemuda itu melirik pada remaja di samping kanannya yang memiliki rambut seperti daun nanas.
"Dia ini mau sampai kapan, sih, tidur terus?!" gerutu lelaki itu. Dia tidak habis pikir dengan guru tadi, padahal sang guru tahu kalau Shikamaru sedang tidur, tetapi tidak dibangunkan. Yah, Naruto paham kalau Shikamaru itu punya IQ di atas rata-rata, tetapi tetap saja, 'kan, itu tidak adil bagi murid lainnya!
Mendesah pelan, Naruto pun menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. Matanya menatap langit-langit ruangan kelas. Untuk beberapa saat, dia hanya melamunkan sesuatu yang entah apa itu.
Entah mengapa, Naruto malah merasa ingin buang air kecil saat ini. Melirik jam dinding sebentar, dia pun berdiri dari duduknya. Tak lama setelahnya, remaja itu mulai berjalan menuju pintu kelas, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap bingung dirinya. Tubuh lelaki itu pun hilang di balik pintu kelas yang kembali tertutup.
.
.
.
"Haah~"
Naruto baru saja keluar dari salah satu pintu kamar mandi. Berjalan ke arah wastafel dan menghidupkan keran airnya, dia mencuci kedua tangannya disana. Beberapa saat berlalu, dia hanya diam sambil tetap melakukan kegiatannya tersebut.
Kedua matanya memandang pantulan dirinya dari cermin yang ada di depannya. Pikirannya kembali melayang pada pembicaraannya tadi ketika bersama Kaguya, begitupula dengan Sasuke saat di kelas.
Jujur saja, meskipun tadi dirinya berkata dengan santai pada Kaguya dan Sasuke, itu tidak mengubah fakta bahwa dia tadi sebenarnya sedang menyembunyikan kegelisahannya. Ya, sedari awal pembelajaran di kelas, dia juga kadang beberapa kali tidak fokus mengikuti penjelasan materi dari sang guru, dan itu semua dikarenakan informasi yang dia dapatkan dari kedua teman semasa kecilnya tersebut. Memang benar … itu sangat menganggu dirinya.
Preman. Mabuk. Menggigit. Meteor jatuh. Tempat penelitian. Pancaran tenaga kuat.
Satu persatu, kata demi kata, kalimat bahkan sampai paragraf. Itulah yang saat ini terus berputar di kepala kuning Naruto.
"Aargh!"
Dia mengacak rambutnya frustasi. Mengembuskan napas kasar, Naruto kembali memfokuskan pandangannya pada pantulan kaca di depannya. "Sudahlah, memangnya … apa hubungannya semua kejadian itu? Paling juga cuma kebetulan saja …."
Si Namikaze berjalan menuju pintu keluar kamar mandi. Setelah menutup pintunya, dia pun berencana segera kembali ke ruang kelas sebelum guru yang mengajar berikutnya datang. Tapi, langkahnya tiba-tiba terhenti tatkala kedua mata safirnya tidak sengaja melihat suatu kejadian yang mengejutkan dirinya.
Disana, di salah satu sudut tembok bangunan akademi, terdapat dua orang murid akademi yang sedang, err … entahlah, Naruto sendiri bingung bagaimana menjelaskan apa yang sedang dia lihat. Dia berada dalam keadaan untuk memercayai atau tidak memercayai pada apa yang dilihatnya sekarang ini.
Intinya …, satu orang laki-laki di bawah, sementara satu perempuan di atas. Si lelaki tidak bergerak karena sedang dipegangi dengan kuat oleh gadis di atasnya. Tidak-tidak-tidak …! Jangan berpikir yang aneh-aneh, ini bahkan lebih buruk dari apa yang sedang kalian bayangkan!
Glek.
Naruto menelan ludahnya dengan kasar. Satu keringat dingin mengalir melewati pelipisnya. Napasnya memberat di setiap detik tatkala matanya memproyeksikan setiap adegan yang dilakukan oleh kedua orang itu—tidak, mungkin lebih tepat jika disebut, satu pihak saja yang bekerja, yaitu si perempuan!
Tubuh Naruto sedikit bergetar, dan tidak sengaja kakinya bergerak sedikit ke belakang hingga menimbulkan suara akibat berbenturan dengan pintu di belakangnya.
Naruto menahan napasnya saat murid perempuan itu menghentikan aksinya. Si gadis menoleh ke arah Naruto dengan gerakan lambat. Mata safir itu menatap dengan horor pada murid tadi yang sekarang sedang menatap dirinya.
"Astaga …." Naruto bergumam dengan raut wajah tidak percaya. Matanya memandang siswa laki-laki itu yang hanya bergeming, tidak bergerak, meskipun dirinya sudah tidak dipegangi lagi oleh siswi tadi. Ia kini hanya duduk bersandar di tembok dengan keadaan yang memprihatinkan. Ya, keadaan lelaki itu penuh dengan darah. Tubuh bagian atasnya sudah tidak utuh lagi, karena daging dada, leher, bahkan lengannya banyak yang sudah terkoyak. Pakaian akademi-nya yang sudah robek disana-sini, dipenuhi oleh noda merah. Benar-benar pemandangan yang membuat Naruto meringis dalam hati.
Si gadis mulai berjalan pelan ke arah Naruto, meninggalkan orang yang baru saja menjadi santapannya tadi. Keadaan siswi itu terlihat mengerikan. Pakaian blazer hitam akademi-nya banyak yang ternodai oleh bercak merah, meskipun itu hanya terlihat samar. Banyak bekas gigitan di setiap lekuk tubuhnya. Dan yang paling penting …, mulutnya yang dipenuhi oleh darah, mulai terbuka saat dirinya berlari kencang menuju daging segar yang ada di depannya!
Kedua mata safir Naruto terbuka dengan lebar. Napasnya kian memberat saat melihat jarak antara dirinya dan gadis itu semakin menipis. "Ini pasti mimpi …."
Awal dari segala mimpi buruk …, dimulai!
Bersambung
Penjelasan singkat sihir di fic ini:
Magic Maker. Sihir yang dapat digunakan untuk menciptakan segala sesuatu, tapi tidak termasuk makhluk hidup.
Element Magic. Sihir untuk menciptakan segala unsur alam yang ada di bumi.
Body Magic. Sihir yang dikhususkan untuk memperkuat tubuh pengguna ataupun mengubah fisik seseorang.
Teleportation Magic. Sihir yang digunakan untuk mengendalikan ruang dan waktu.
Healing Magic. Sihir yang dikhususkan untuk penyembuhan, baik untuk diri pengguna ataupun orang lain.
Forbidden Magic. Sihir yang dapat melakukan hal-hal di luar akal sehat manusia.
[Author Note]:
Hmm, ya … kembali dari hasil remake. Untuk ke depannya, mungkin bakal beda sih, dari cerita sebelumnya. Karena jujur aja …, aku banyak melakukan kesalahan sebelumnya, yang karena aku cuma fokusin pada apa yang dilakukan oleh Naruto dan kelompoknya. Jadi, nanti aku bakal sorot beberapa karakter, sebelum mereka semua bertemu dengan Naruto, mungkin? Entahlah. Tergantung bagaimana ide yang kudapat nantinya.
Oh iya, jika ada yang bilang fic ini aneh karena dalam dunia zombie ada ketambahan sihir, sehingga membuat feel dalam cerita ini "gak ngena". Yah ..., terserah kalian. Aku paham karena kesukaan tiap orang itu beda-beda. Lagipula, aku juga punya alasan buat masukin unsur sihir ke dalam cerita ini. Salah satunya untuk persiapan buat Season 2 fic "A Havoc?". Dan alasan lainnya adalah, karena ini nanti juga bukan fokus lawan zombie saja. Nanti akan aku tunjukkan bagaimana sifat manusia dalam menghadapi masalah ini. Penghianatan dan pengorbanan adalah sedikit dari apa yang akan kalian temukan di sini, mungkin? Entahlah. Dengan ini, mungkin kalian bisa tarik kesimpulan kalian kembali, kenapa aku masukin unsur sihir di fic ini.
Lalu, aku sudah masukin "Death Characters" di dalam bagian warning, yang di versi sebelumnya lupa aku masukin. Jadi, gak perlu kaget kalau tiba-tiba ada karakter favorit kalian yang mati nanti.
Kayaknya cuma itu saja yang bisa aku sampaikan untuk saat ini. Sekian.
Tertanda. [FI. Abidin Ren]. (23/Juli/2020).
