Summary: Setelah masalah Akutagawa taint berhasil dibereskan, seharusnya pustaka kembali normal. Namun, Akutagawa dan Dazai yang saling menghindar, membuat bingung bungou lainnya.

Disclaimer: Bungou To Alchemist milik DMM Games

Dazai terbangun dengan panik. Tangannya menggapai udara, dan keringat dingin bercucuran dari pelipis. Peristiwa di buku Kikuchi Kan terulang kembali dalam mimpinya. Akutagawa shinshokusha, yang membantai satu persatu rekan-rekannya hingga tak bersisa.

Mengatur napasnya yang terengah-engah, Dazai menutup kedua mata dengan sebelah tangan. Bunyi tirai ruang kesehatan yang digeser membuatnya sedikit berjengit, waspada.

"Hoi, dah bangun?"

"I-iya," Dazai tergagap, bingung mengapa pria berambut cokelat itu duduk di tempat tidur sebelah. "Kikuchi-sensei?"

"Ya?"

"Ngg, Anda terluka gara-gara pertarungan tadi?"

"Hah, itu memang sengit sih, tapi bukan itu alasan kami sekarang ada di sini."

"Kami?" ulang Dazai dengan nada bertanya.

"Kume dan Hori juga di sini," jelas Kan. "Lagipula daripada 'tadi', sebenarnya itu sudah lewat dua hari, lho."

"Haah?!" Dazai yang merasa dia baru tidur beberapa jam, spontan menjerit kaget.

Kan tersenyum kecil. "Teman-temanmu bolak balik setiap beberapa jam untuk melihat apakah kau sudah bangun atau belum. Kelihatannya mereka khawatir sekali."

"A-ah ..." Dazai mengusap rambutnya, tersenyum sedikit dengan raut wajah yang diwarnai rasa bersalah. Sejeda kemudian, dia kembali menoleh pada Kan. "Jadi alasan Kikuchi-sensei dan yang lainnya berada di sini ...?"

"Gara-gara rekan Buraiha-mu, tentu saja." sahut Kan, melipat tangannya di depan dada sambil menggelengkan kepala. "Sup buatannya itu benar-benar parah."

"Ango dan Odasaku sedang masak?"

"Kayaknya masih di dapur."

"Aku akan ke sana!" Dazai menyingkap selimutnya. Haori merah khasnya dia pungut dari samping bantal. Entah siapa yang melipatnya serapi itu.

"Kau sudah baik-baik saja?" tanya Kan memastikan. Setelah mendengar cerita Neko soal hal-hal yang dilakukan Dazai selagi dia menjadi satu-satunya bungou yang tersisa, penilaian Kan soal anak itu sedikit meningkat.

"Setelah tidur selama dua hari, harusnya begitu, kan," tanggap Dazai sambil nyengir. "Kikuchi-sensei semoga segera pulih! Oh iya, Akutagawa-sensei di mana?"

"Cari saja sendiri." Kan menghela napas. "Baru bangun pun kau langsung kepikiran Ryu?"

"Bukan begitu!" Dazai menyangkal. "A-aku sekarang bukannya sedang ingin menemui Akutagawa-sensei ..."

Kan menatap sangsi, tetapi ekspresi Dazai tampaknya sungguh-sungguh tidak berbohong. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, Dazai sudah buru-buru lenyap ke luar ruangan.

"Haah, jadi kenapa dia bertanya di mana Ryu kalau bukan karena mau ketemu?" gumam Kan, yang sebenarnya ditujukan pada seseorang yang duduk menyandar ke kaki tempat tidur.

"Hmm, karena sebaliknya, Dazai-kun malah menghindariku?" sahut Akutagawa, yang rupa-rupanya meringkuk di bawah, sebelah kanan tempat tidur Kan.

"Lah, kenapa tuh? Juga, ngapain kau malah duduk di situ?"

"Di sini enak, Kan. Apa aku tidur di kolong saja ya? Lagian Shuusei-san nyapunya bersih sekali."

"... Kau cuma malas balik ke kamarmu sendiri, kan?"

"Itu juga, sih." Akutagawa tertawa kecil, karena alasan aslinya terungkap dengan mudah.

"Dasar ...!"

"Oh iya," Akutagawa memotong, sebelum nasehat Kan sempat menghujaninya. "Padahal sudah kuingatkan kalau masakannya Sakaguchi-kun itu berbahaya, kenapa kalian masih nekat juga memakannya?"

"Habisnya ..." Itu Hori yang menyahut dari bilik sebelah, "mereka semangat sekali, jadi sulit buat menolaknya."

Setelahnya terdengar helaan napas berbarengan dari tiga orang, yang membuat Akutagawa jadi tersenyum geli.

"Ngomong-ngomong, kapan Dazai-kun bisa menemukanmu kalau malah ngadem di situ?" celetuk Kume, yang sepertinya menempati tempat tidur di sebelah Hori.

"Hmm ... " Akutagawa memeluk lututnya. "Tenang saja, dia tidak mencariku, kok. Setidaknya untuk sekarang."

"Yakin?"

"Karena untuk alasan yang sama, aku juga sedang tidak ingin menemuinya."

Kan mengerutkan kening, tidak mengerti. "Lah, apa-apaan situasi dingin yang tidak ada sebabnya ini?"


"Odasaku! Ango!" Dazai membanting pintu dapur, menyerukan nama teman-temannya itu keras-keras, yang jadinya kaget.

"Dazai-kun!" balas Odasaku, menjatuhkan sendok yang dipegangnya. "Sudah lama bangun? Maaf enggak nemenin!"

Ango berkedip beberapa kali, lalu tersenyum lebar. "Kau pasti lapar, mau makan dulu? Orang-orang itu dimasakin banyak tapi pada enggak habis."

Dazai menundukkan kepala, bahunya bergetar pelan.

"Dazai?" Dan yang juga ada di sana buru-buru menghampiri. "Kenapa? Masih pusing? Ada yang sakit?"

"Enggak ..." Dazai buru-buru menggeleng. "Aah, lapar sekali!" Melangkah ke meja, Dazai menarik satu kursi dan duduk di sana. "Kenapa enggak membangunkanku lebih cepat?"

"Siapa yang enggak bangunin?" Dan ingin rasanya menggeplak kepala Dazai yang mengatakan hal tersebut dengan begitu santai, tapi dianya tidak tega.

Ango meletakkan sebuah mangkuk yang sudah diisi penuh di hadapan Dazai, menyeringai. "Kau yang tidur tanpa bergerak itu lumayan bikin panik, tahu gak?"

"Eh, iya?"

Odasaku menuangkan air ke gelas, turut membenarkan pernyataan Ango. "Dazai-kun bahkan enggak bereaksi ketika Akutagawa-sensei datang melihat.

"Akutagawa-sensei?!" Dazai nyaris tersedak. Air pemberian Odasaku diteguknya tergesa.

"Maaf, maaf, bukannya mau mengejutkan Dazai-kun ..." Odasaku tidak menyangka menyebut nama itu akan berefek cukup besar.

Dazai menggeleng cepat, isyarat agar Odasaku berhenti meminta maaf. "Ngomong-ngomong, kalian tahu di mana Akutagawa-sensei sekarang?" tanyanya setelah selesai minum.

Ango mengangkat bahu. "Dari pagi aku dan Odasaku di sini, sih. Palingan bolak-balik ke tempatmu saja ..."

Perkataan Kan ternyata benar adanya.

"Kalau aku tadi sempat ngobrol sama Chuuya, terus bantu-bantu sebentar memperbaiki kamar yang rusak karena pertarungan waktu itu, tapi enggak lihat tuh." Dan turut memberikan keterangan.

Dazai memasang raut berpikir, sementara tangan dan mulutnya bekerja sama menghabiskan isi mangkuk.

"Habis ini kau mau apa, Dazai?" tanya Ango.

"Belum mikir," balas bocah itu sederhana. "Uhm, mungkin lihat-lihat yang lain pada ngapain ... atau baca ulang buku-buku di pustaka ..."

"Balik ke ruang kesehatan dan istirahatlah," potong Dan.

"Aku sudah tidur 48 jam lebih lho?" heran Dazai, terhadap usulan bernada perintah itu.

"Tapi kayaknya kondisimu belum seratus persen ..."

"Emangnya baterai ..."

Dazai bangkit setelah menyelesaikan makannya. "Tenang aja, aku sudah benar-benar kembali normal, kok!" Dia tersenyum cerah, sebelum menghilang di balik pintu.

"Dazai-kun kayaknya sudah beneran pulih ya," komentar Odasaku. "Tapi entah kenapa rasanya ada yang berbeda ..."

"Perlu kuikutin?" celetuk Dan.

"Gak usah, bantu kupas kentang, sini." cegah Ango, yang lumayan sadar apa yang janggal dari tingkah rekan buraihanya itu.

"Pisaunya kurang." Dan memunculkan senjatanya yang terbilang besar, membuat kedua orang lainnya dengan sigap menghentikan.

"Kupas kentang, Dan, bukan belah meja makan!"

"Tenang dulu, Dan-kun!"

Saat itulah pintu dapur lagi-lagi dibuka, kali ini oleh Akutagawa. Dia sempat bengong melihat adegan Dan yang mengangkat pedang besar, ditahan oleh Ango dan Odasaku. Namun, dengan cepat ekspresinya kembali tenang. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ah, Akutagawa-sensei mau ikutan kupas kentang?"


Bersambung ...(Mungkin, mengingat aku hampir tidak pernah menyelesaikan cerita bersambung dengan benar.)