Musuhku Si Jenius
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Drama, Romance
Musuhku Si Jenius by WitWula
Pairing NaruHina
Rated : T
.
.
.
Don't Like, Don't Read
WARNING : OOC, Abal, tidak nyambung.
SUMMARY
"Apa artinya kecerdasanmu? Jika kamu selalu menggangguku Naruto."
"Karena aku..."
"Enyahlah dari hadapanku."
"Aku benci kau Uzumaki Naruto."
.
.
.
Chapter 1
Bunga sakura telah bermekaran. Itu artinya tahun ajaran baru akan dilaksanakan di semua sekolah di Jepang. Tidak terkecuali di kawasan distrik Konoha City, sekolah elit dengan para muridnya yang terkenal kaya dan pintar.
Hyuuga Hinata, seorang gadis cantik dengan bola mata uniknya yang berwarna lavender. Gadis itu sudah siap untuk berangkat dari kediamannya.
"Ittekimasu." Ucap Hinata lirih. Ia hanya tinggal sendiri di tempat tinggalnya.
Tidak akan ada yang membalas, itulah mengapa Hinata segera beranjak untuk berangkat ke sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Karena jika terlalu lama di rumahnya, yang ia rasakan hanyalah kesepian.
Di sepanjang jalan, hanya ada guguran bunga sakura yang tertiup angin pagi. Hinata tersenyum melihat panorama indah yang terpampang. Gadis lavender itu sangat menyukai bunga sakura, sampai-sampai jika saja tidak ada yang memarahinya, maka ia akan memetik bunga itu dan membawanya ke rumah. Menggelikan, dan ia tahu resiko memetik bunga sakura cukup berat hukumannya.
Jalanan yang dilaluinya seperti alas karpet berwarna pink yang bercorak bunga sakura. Warnanya yang pink muda dan bentuk bunganya yang kecil selalu menjadi daya tarik para wisatawan. Itulah negaranya, negara Jepang dengan berbagai keunikan yang langka. Salah satunya adalah si cantik bunga sakura.
Hinata melihat pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.10, tanda bahwa ia harus segera berangkat. Hinata segera mempercepat langkahnya agar ia tidak tertinggal kereta.
"Minggir." Desis seseorang dari arah belakang. Hinata segera menepi.
"Tidak bisakah kau tidak menghalangi jalanku." Hinata menatap tajam ke arah si pemuda pirang.
"Bukankah jalanan ini masih luas." Hinata menunjuk-nunjuk jalan.
"Karena ada sampah sepertimu, jalanan ini menjadi sempit,"
"Dasar sampah." Naruto menatap remeh Hinata.
Hinata mengepalkan tangan, "Oh maaf jika sampah ini menghalangi jalanmu." Hinata segera mempercepat langkahnya meninggalkan Naruto.
Hinata lalu berhenti tidak jauh dari pemuda itu, "Apa kamu tidak tahu? Jika sampah ini," Hinata menunjuk dirinya sendiri. "Lebih baik darimu. Dasar pembuangan sampah."
Naruto melotot mendengar ejekan Hinata. "Apa kau bilang?"
"Tarik kembali ucapanmu Hyuuga."
"Tidak mau."
Hinata berlari agar bisa semakin menjauh dari Naruto, langkahnya ia percepat agar bisa meninggalkan pemuda pirang itu. Gadis itu tidak peduli dengan sekitarnya, karena yang harus ia lakukan adalah segera menjauh dari Uzumaki Naruto.
"Dasar gadis sialan." Naruto menggeram tidak suka.
Konoha High School
"Kau baru sampai Hinata?" tanya Sakura ketika melihat Hinata mendekat.
Hinata mengangguk, "Di mana Shion?"
Sakura mengendikkan bahu. "Entahlah, tadi kulihat dia pergi ke luar."
Hinata tidak merespons, kedua tangannya merogoh tas untuk mengambil air mineral yang sengaja ia bawa dari rumah.
"Kau bawa bento Hinata?"
"Iya."
"Nanti makan bareng yuk."
Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ketika ujung tempat minumnya akan menyentuh bibir pink Hinata. Tiba-tiba tangan seseorang memukul ujung botol itu, menjadikan airnya terhirup paksa oleh hidung Hinata.
Uhuk..uhuk... Hidungnya sangat perih dan memerah.
"Keterlaluan sekali kau Naruto." Sakura berdiri dari duduknya dan mendorong keras Naruto.
Naruto tetap berdiri sempurna seolah dorongan dari Sakura tidak mempan untuknya.
Setelah bisa mengendalikan diri, Hinata melotot ke arah Naruto. Inilah Naruto yang sesungguhnya, seorang pemuda dari klan Uzumaki yang selalu membuatnya tersiksa. Pemuda pirang itu tidak segan-segan menjahilinya, entah itu menempelkan permen karet yang habis dikunyah ke rambut Hinata, atau pemuda itu akan membawa tas Hinata untuk disembunyikan di tempat yang kira-kira sulit ditemukan ketika Hinata pergi ke kantin.
"Tarik kembali ucapanmu tadi Hyuuga."
Hinata diam, ia tidak mau menarik kembali ucapannya karena ia benci dengan pemuda pirang itu.
Semua orang di kelasnya menyaksikan suasana tegang antara Naruto dan Hinata. Hinata mendorong tubuh Naruto agar bisa pergi menjauh dari pemuda itu. Tapi, Naruto malah memegang pergelangan tangan Hinata.
"Mau ke mana kau?"
"Lepaskan." Hinata memberontak, Naruto semakin mengeratkan pegangannya.
"Asal kau tahu Hyuuga," Naruto menatap sengit Hinata.
"Kau tidaklah pantas mengatakan sampah padaku."
Hinata memandang remeh. "Kenapa?"
"Apa karena kau merasa lebih rendah dariku?"
"Rendah?" Naruto tertawa.
Pemuda pirang itu menunjuk dirinya sendiri. "Aku lebih rendah darimu?"
"Lalu apa?" tanya Hinata sinis.
"Sebaiknya kau yang ngaca Hyuuga. Bukankah aku yang lebih cerdas darimu."
"Aku tidak peduli Naruto. Karena bagiku, kecerdasan tidak ada artinya dengan perilaku burukmu."
"Terserah kau Hyuuga. Karena perlakuan burukku hanya berlaku untukmu."
"Ada apa ini?" tanya gadis pirang berambut panjang.
"Naruto-kun, ada apa?" Shion bertanya lagi.
Naruto menoleh ke arah Shion. "Bukan apa-apa." Setelah mengatakan itu, Naruto pergi meninggalkan Hinata.
Sakura yang melihatnya menatap geram kepergian Naruto. "Dasar tidak tahu diri!"
"Hinata kau baik-baik saja?" Shion bertanya ketika mendapati baju atasan Hinata basah.
Hinata mengangguk. "Aku baik-baik saja Shion."
"Apa Naruto melakukan hal buruk lagi padamu?"
Hinata tidak menjawab, ia malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Shion. Meskipun Shion adalah sahabatnya tapi tidak bisa mengatakan jika ia baik-baik saja, karena pada kenyataannya ia sama sekali tidak dalam keadaan baik. Jujur, hatinya merasakan sakit setiap menerima perlakuan dari Naruto. Tapi, ia bisa apa? Karena Naruto adalah seorang yang paling berpengaruh di sekolahnya. Selama ini ia tidak bisa melawan Naruto, karena jika melawan pemuda itu, siap-siap saja beasiswanya akan dicabut dan ia tidak bisa menamatkan pendidikan.
.
.
.
.
.
Bersambung
