Serendipity
.
.
cast BTS and other name
Gender switch (Jin, Jimin, and Jungkook role as women)
Genre : Humor and romance
(Eps 00)
"Dengar! Jadi wanita jangan terlalu mudah, semakin mudah mereka mendapatkan dirimu semudah itu pula mereka pergi."
"Jadilah sekokoh karang, kuatlah. Jangan menangis jika kulitmu belum berdarah. Perasaan itu... Milikmu. Jadi kau yang mengendalikannya, bukan sebaliknya."
"dan..."
"Oh unni, mau berapa kali diulangi sih?" sewot Jungkook; si bungsu. Yang paling montok dan serba bisa. Termasuk bisa menghabiskan pasokan makanan alias tukang makan. Lihat saja pipi chubby nya. Tapi jangan salah, meski tukang makan Jungkook suka olahraga. Jadi soal bentuk badan, Jungkook body goals. Sintal, padat, dada berisi, dan dilihat dari belakang oke punya. Bisa bonceng tiga. Buahahaha...
"Unni, kami sudah terlambat. Kuliah paginya sudah dulu, oke. Bye bye, muaaacchh. Jungkook ayo, jangan makan terus kerjamu." Jimin anak tengah menimpali. Menarik tangan Jungkook yang masih sempatnya mencomot sepotong roti tawar dan tak lupa meraih setoples selai cokelat lalu membawnya kabur.
"Hoy Jungkook! Kembalikan selainya. Itu sudah yang ketiga pekan ini!!!" si Sulung tukang ceramah meneriaki dua gadis yang kabur dari meja makan itu.
"Nanti aku bawa pulang, okay. Terima kasih, aku sayang padamu Jin Unni. Muaachhh!!" teriak Jungkook dari luar.
Si sulung menghela nafas. Ya sudahlah... Memang takdirnya, bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan dan pergi paling terakhir untuk membereskan sarapan. Beginilah kalau peran utama. Muncul pertama hingga akhir untuk menderita demi cerita. Sialan!
"Haiishh... Benar-benar."
Mereka tiga bersaudara. Bukan saudara kandung, hanya tiga anak asuh seorang wanita karir dan aktifis feminisme bernama Park Narae. Wanita yang menjujung tinggi prinsip emansipasi wanita. Prinsipnya adalah "Kesetaraan gender adalah pantat ayam! Wanita bisa lebih unggul dari lelaki. Tubuh yang lemah itu hoax, bukti nya wanita bisa mengandung dan melahirkan. Sementara itu mahluk yang bernama lelaki hanya berpartisipasi urusan semprot-semprot." Pointnya jelas, lelaki itu tidak berguna.
Dari ibu asuh nyeleneh inilah ketiga gadis ini dibesarkan. Kim Seokjin, Park Jimin, dan Jeon Jungkook. Diantara ketiganya, Seokjin-lah yang wataknya paling mirip dengan Narae. Selalu ketus pada lelaki. Dia cerdas sejak SD dan selalu menjadi ketua Osis. Jin terkenal keren diantara anak gadis lainnya. Cantik, anggun, pintar, dan berwawasan. Maka tak heran, meskipun dia wanita tapi dia punya fans club dari gadis-gadis junior yang mengaguminya. Benar-benar girl crush sejati.
Si anak kedua, Jimin. Lebih kalem dari dua saudarinya. Tapi jangan salah, Jimin juga hasil didikan keras ibunya. Hanya saja, Jimin bermain halus. Pembawaannya yang lembut sebenarnya adalah senjata. Jimin cukup tersenyum manis, maka lelaki manapun akan takluk dihadapannya. Bahkan jika Jimin disulitkan oleh satu lelaki, maka lelaki lainnya akan muncul membelanya. Cih, memang sampah. Jimin tahu jika beberapa pria bersikap jantan dihadapannya untuk membuatnya terkesan. Menjijikan. Ahhh... Sulit sekali hidup menjadi gadis cantik sepertinya.
Dan, si bongsor Jungkook. Baginya pria itulah yang hoaks. Yang ada hanya manusia. Apa itu cowok keren? Ciuh!! Hanya manusia kurus dengan banyak gaya. Lalu bagaimana dengan yang manusia kekar? Menjijikan. Apa yang bisa diharapkan dari buntelan otot yang gemar pamer perut kotak kotak? Kalau baru sekedar angkat barang seberat seratus kiloan, Jungkook juga bisa.
(Preview)
"Minggir, Namjoon!"
"Tentu, princess."
"Menjijikan! Berhenti memanggilku begitu."
"Baiklah, kalau begitu aku akan mulai memanggilmu sayang"
"Bajingan! Aku akan membunuhmu"
--
"Kalau begitu, buat aku terkesan Park Jimin."
"S-sunbae-nim..."
"Kau mau, atau lupakan saja ini Jimin. Aku sibuk, pergilah."
"T-tapi...
"Baik. Aku yang pergi."
"AKU AKAN MELAKUKANNYA. Y-yoongi sunbaenim."
--
"Aku tidak mau jadi lelaki, aku hanya ingin jadi manusia."
"Kau aneh, Taehyung"
"Biar saja. Aku hanya ingin hidup seperti yang aku mau. Makan yang aku mau, melakukan yang aku suka, memilih apa yang aku inginkan."
"Kau aneh. Dan sialnya, itu keren bung."
