Langit jingga di cakrawala menjadi pemandangan alam terindah bagi para Shinobi yang baru saja terbangun dari Mugen Tsukoyomi. Perang dunia ninja keempat telah usai dan dimenangkan oleh kerjasama aliansi. Peran utama tim tujuh yang dipimpin Kakashi telah mengakhiri peristiwa bersejarah bagi dunia ninja. Naruto dan Sasuke juga tak abai terhadap Sakura berhasil menyegel kekuatan sang pembuat onar, ratu dari dimensi Otsutsuki, si dewi kelinci, Kaguya. Meskipun Hagoromo turut andil sebagai lakon pengantar para pemenang, tetapi jasa tak kasatmata akan selalu membekas di kehidupan dua remaja yang baru menginjak usia enam belas tahunan.
Keterkejutan mendapati diri berselubung sulur, para aliansi tergemap melihat keadaan sekitar. Mayat para pejuang bergelimpangan. Darah merah gelap yang telah mengering menguarkan bau amis menyengat. Raga tak bernyawa membiru, busuk, dan sebagian dikerubungi belatung. Kerusakan parah di mana-mana. Tanah dan batu rompal, hutan telah rata, tiada tanaman. Sejauh mata memandang, lautan manusia tak lagi bernyawa bagaikan pedang menusuk kalbu. Sakit, perih, menyayat di hati.
"Kak Neji. Hiks-hiks-hiks ..."
Raga tak bernyawa dikenali. Seorang pemuda berambut panjang lembut tergeletak di antara tumpukan jasad para pejuang. Teman-teman ninja mengerubuti, mengheningkan cipta bagi sang pahlawan.
"Tenanglah kau di alam sana, Kawan. Aksimu telah berakhir, namun semangatmu tak akan pernah padam membakar kami."
"Naruto benar. Neji! Kami yang tersisa akan selalu mengingat perjuanganmu. Tak putus semangat menyelamatkan negeri dan sahabat."
Gadis berambut panjang menangis, berlutut di depan jasad seolah abai dengan berbagai ucapan. Air mata tak bisa lagi mengalir walaupun sesenggukan menggetarkan badan. "Kak Ne-ji. Hiks-hiks-hiks ..."
"Semua ada masanya. Masa hidup, masa mati. Hanya satu pembeda. Nama baik."
Para ninja muda menoleh, terpusat pada satu pemuda si biang masalah. Uchiha terakhir yang menjadikan cerita perjalanan mereka hingga akhir suatu perang besar. Ninja pengkhianat, kelas nin, julukan yang disematkan padanya.
"Ya, yang dikatakannya benar. Kita harus mengikhlaskannya. Neji gugur meninggalkan nama baiknya sebagai pahlawan Konoha."
Mata rembulan berbular menatap liar pada kedua pahlawan, terpaku ke salah satunya. Kata diujung lidah ingin mengungkapkan suara hati berteriak pada sang takdir tentang ketidakadilan. Mengapa bukan dia saja yang mati! Kak Neji orang baik, tidak seharusnya mati di usia muda! Napas memburu mengiringi gerakan tubuh untuk bangkit menyerang penuh keberanian. "Bukan dia, tapi harusnya kau yang mati, Sasuke!"
"Hinata! Kendalikan dirimu! Apakah kau tak puas bertarung?!" Tangan kecil dalam genggaman sang pujaan hati. Kunai yang sempat terayun ke udara terlepas mendenting di atas batu. "Perang telah usai, janganlah menodai perjuangan mereka dengan amarahmu yang tak pada tempatnya."
Mata oniks menatap heran pada perubahan kawan sejawat. Benarkah dia Hyuuga Hinata, si gadis tak masuk hitungan? Kepalanya berputar menghitung waktu. Dua tahun ternyata sangat lama dan bisa mengubah siapa pun.
"Hinata! Kau ini kenapa? Mengapa tiba-tiba berubah bengis?" Gadis bergelung dua mendekati jasad rekan satu timnya, jongkok dan menunduk. "Neji memang tak akan hidup lagi, tapi tak berarti jiwanya mati. Ia akan mengawasimu." Mata coklat tenggelam dalam cairan bening menatap pemilik manik lavendel. "Hinata boleh kuat, tapi harus bisa mengendalikan diri. Itu yang diharapkan Neji padamu."
"Aaaaaargh ... aaaaargh!"
Serempak mata beralih pada pria dewasa yang terlihat panik dan bersusah payah menarik kaki dari tumpukan puing-puing batu besar.
"Guru!"
Salah satu ninja muda membubarkan diri dari kerumunan teman-temannya melompat menuju guru yang terjepit batu. Wajah bagai pinang dibelah dua, potongan dan jenis rambut sama, bahkan model dan warna pakaian yang dikenakan mereka tak ada yang bisa membedakannya.
"Lee! Bantu aku mengeluarkan kakiku!"
"Guru! Tahan sebentar!"
Rock Lee adalah ninja Konoha di bawah asuhan Asuma Sarutobi dengan julukan yang tak diketahui siapa penggagasnya sebagai Iblis Tampan ahli Taijutsu dari Konoha. Tergabung dalam tim sembilan atau sering disebut Tim Guy, mengambil nama dari gurunya. Tenten dan Neji Hyuuga adalah rekanan satu tim. Perang Shinobi keempat sangat berdampak bagi tim sembilan. Satu teman telah gugur sedangkan guru pembimbing mengalami luka yang cukup parah terutama di bagian kakinya.
"Hancurkan batunya, Lee!"
"Tapi, Guru! Itu bisa berakibat fatal! Kakimu bisa ..."
"Tulang kakiku sudah patah, Lee! Kau tak perlu takut!"
"Sepertinya dia butuh bantuan. Ayo Kawan, kita bantu Lee!"
Pemuda bermata garang, satu-satunya Nakama yang memiliki gigi taring panjang dan runcing berlari menuju tempat Lee bertepatan hancurnya batu besar terkena hantaman si ahli taijutsu sehingga serpihannya berhamburan di udara.
"Aaaaaargh!"
"Guru Guy! Kau tidak apa-apa?"
"Guru!" Satu-satunya perempuan di tim sembilan berlari, membelalak ketika menyaksikan kedua kaki Guy berdarah dan erangan panjang terus keluar dari mulutnya.
Daratan tak lagi berbentuk sesuai kodratnya. Batu berserakan, bukit longsor menyisakan tebing curam dan terjal. Di tepian atas yang menjorok ke medan perang, para pemimpin negara aliansi dan pembesarnya berdiri, memandang nanar ke ribuan Shinobi. Ada yang gugur, kesakitan, menangis, meraung, meratap. Suara mereka beradu gaduh, tetapi bersatu dalam irama kesedihan.
"Kami tak bisa membawa pulang mereka yang telah tewas. Kami akan meninggalkannya di sini."
"Ya. Kau benar, Raikage. Begitu juga dengan Konoha. Tak mungkin membawa mereka pulang kembali."
"Bu-bukan begitu maksudku, Godaime. Kami akan mengubur mereka di sini."
Mata cokelat terang menyiratkan kesedihan teramat dalam, menekan lekat pada pemimpin negeri Kumogakure. Bibir yang bergetar mengeluarkan suara parau tercekat. "Ma-kam ma-ssal?!"
Raikage mengangguk. Saliva yang tersisa di tenggorokan terasa mencekik ketika ditelan. "Kami hanya akan membawa jasad para pemimpin, sisanya dikubur di sini. Untuk mengenangnya, akan kubuatkan tugu peringatan sebagai pengingat perjuangan mereka."
"Aku pikir, sebaiknya kita juga melakukan hal yang sama, Tsunade. Tak mungkin membawa jasad mereka semua, bukan?"
"Hei! Kau masih di sini, Orochimaru? Aku kira kau sudah melarikan diri bersama anak buahmu!"
"Aku ingin memastikan langkah yang diambil muridku, Tsunade. Seperti yang pernah kukatakan padamu sebelumnya. Ke mana arah angin yang diikutinya, aku rasa akan kucoba untuk mengikutinya."
"Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Raikage. Memakamkan para pejuangku di tempat ini secara massal. Tak mungkin membawa semuanya ke Kirigakure."
"Baiklah. Aku juga akan mengikuti saran kalian. Meskipun ini sangat berat bagiku karena--"
"Hm. Kita harus bergerak cepat. Mayat akan semakin membusuk dan nanti akan sulit untuk dimakamkan. Tsunade, perintahkan anak buahmu untuk segera memakamkan mereka."
"Orochimaru. Bagiku mereka semua adalah keluarga besar. Ini pilihan yang sulit."
"Ini perang! Kita tidak tahu kapan dan di mana akan mati. Kau bisa melihat mereka gugur di depan matamu, bagaimana dengan yang tak terlihat? Seperti pengintai misalnya? Ayolah Godaime, berpikirlah realistis. Bukan maksudku untuk mempengaruhimu, tetapi kasihan anak buahmu jika mereka harus membawa mayat-mayat yang mulai membusuk itu ke Konoha."
Lidah kelu seakan berat untuk berucap, "Kau benar, Kazekage. Kakashi, kuperintahkan kepadamu untuk memakamkan mereka semua!"
"Tunggu, Hokage-Sama. Klan Hyuuga memiliki satu leluhur yang tak bisa dilepaskan. Aku meminta kepada Anda untuk pengecualian, biarkan kami membawa jenazah klan kami dan memakamkan sesuai adat leluhur kami di Konoha."
"Begitu juga aku mewakili klan Nara dan Yamanaka. Mereka sahabatku bahkan hubungan kami sudah seperti saudara kandung. Kami pun memiliki tata cara pemakaman tersendiri untuk menguburkan saudara kami."
"Tuan Hiashi, Tuan Akamichi, aku tak bisa memutuskan. Jika itu tidak membebani, terserah kalian saja."
Penghormatan terakhir diberikan kepada Shinobi yang telah gugur. Mereka dimakamkan secara massal dalam satu kuburan besar. Makam bersama, tidak ada batasan perbedaan negara. Tulang-tulang yang patah berserakan, tak dikenali siapa pemiliknya ditata rapi dalam satu liang Lahat. Tugu pengingat terbuat dari batu alam berwarna hitam bercap lima telapak tangan dari kelima negara besar sebagai pengingat sepanjang masa bahwa di sana, di suatu lembah pernah terjadi suatu peristiwa bersejarah bagi dunia ninja, berjuang bersama mengalahkan musuh.
Aliansi berpisah, pulang kembali ke negeri masing-masing. Mereka terbagi menjadi lima rombongan besar menuju jalan ke kampung halaman, berbaris berbondong-bondong, berjalan pelan dan teratur karena Shinobi yang masih kuat harus memapah, menandu, maupun menggendong yang terluka.
"Berapa hari kita akan tiba di Konoha?"
"Mungkin satu minggu bahkan bisa saja satu bulan karena kita juga harus merawat yang terluka."
"Tapi, peralatan dan juga obat-obatan kita telah menipis dan tak mungkin meminta cakra para ninja, bukan?"
"Kau benar, Shizune. Tapi kita juga tak bisa mempercepat perjalanan. Cakra mereka pun tentu berkurang ketika membantu para ninja yang sakit. Kita butuh istirahat dan saat itulah Katsuyu akan membantu."
Telinga tidak tuli dan secara kebetulan mendengar percakapan Tsunade bersama asistennya. Gadis berambut merah datang mendekat, membetulkan letak kacamatanya. "Aku memiliki cakra yang cukup besar, Hokage-Sama. Aku akan membantu kalian."
Mata yang masih berkaca-kaca menatap sejenak sebelum mengangguk. "Terima kasih, Karin."
Kerusakan akibat perang ada di mana-mana, tidak hanya di medan perang karena peperangan diawali di wilayah tiap-tiap negara. Patahan pohon hangus menghitam, terbakar api entah dari jutsu lawan maupun Shinobi itu sendiri.
"Huh! Seperti terkena pukulan Ameterasu!"
Ninja-ninja muda yang sedang berjalan bersisian dengan temannya yang berambut kuning menoleh padanya lalu beralih ke si pemilik jutsu yang telah disebutkan. Ameterasu adalah jutsu milik klan Uchiha, tetapi tak sembarangan yang bisa menguasai. Sejauh dunia ninja ada, hanya Itachi dan Sasuke yang mampu mengaktifkannya.
"Mengapa dia ikut kita ke Konoha?"
"Bukankah misi Naruto untuk membawanya kembali ke Konoha, Hinata."
"Benar. Tapi kau lihat sendiri, mengapa dia tidak diikat seperti tawanan? Bukankah setiap pengkhianat harusnya diikat seperti tawanan?"
Bisik-bisik kedua Kunoichi terdengar di telinga rekanan ninja yang sedang dibicarakan. Gadis cantik ahli medis berambut merah muda mendekat, tersenyum kemudian menunjuk pada teman satu timnya. "Sasuke telah kembali. Seharusnya kalian bersyukur karena beberapa tahun ini tujuan kita untuk membawanya pulang, bukan?"
"Sakura. Bukan begitu maksud kami. Benar yang dikatakan Hinata. Dia itu pengkhianat, bukankah seharusnya diikat!"
"Oh, kalian takut padanya, kan? Kalian takut dia berbuat ulah? Heh! Jangan khawatir, aku siap menjadi penjamin jika dia bertingkah atau berbuat jahat pada kalian."
"Tenten, sudah. Kita tak usah membicarakannya lagi. Sekarang yang kupikirkan adalah tentang Kak Neji. Sungguh, aku tak percaya dia mati hanya untuk melindungiku."
Langkah terseok-seok, tetapi senyum kemenangan tersirat di wajah para ninja Konoha karena segera tiba di tanah kelahiran setelah berhari-hari melakukan perjalanan. Bayangan sanak keluarga, kerabat, sahabat, sudah dekat dengan pelupuk mata. Gerbang segera dipijak, semangat membara melingkupi rombongan Shinobi Konoha. Mereka meneriakkan yel kemenangan, memberi tanda kedatangan.
"Berhenti!"
"Eh! Kenapa?"
"Kalian tak boleh masuk ke negeri Konoha!"
Ketegasan sebagai pimpinan wajib dipertaruhkan. Langkah lelah tak dirasa untuk menghampiri para ninja yang mencegat mereka di pintu gerbang. "Siapa namamu? Dan siapa yang menyuruhmu?"
"Tsunade. Apakah mereka bukan bagian dari kalian?"
"Entahlah Orochimaru. Kalau dilihat lambang di kepalanya, mereka memang Shinobi Konoha. Tapi kenapa kami tidak boleh masuk ke rumah kami sendiri?"
"Tenten, apakah kau mengenali mereka?"
"Tidak, Hinata. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya."
"Hoooiii! Jangan bercanda! Kami lelah dan ingin segera beristirahat!"
"Kami sedang tidak ingin bercanda, Kepala Kuning! Aku mengenalimu, Naruto!"
"Tunggu! Siapa kau ini?" Naruto menatap tajam, menyelisik dengan teliti.
"Dia salah satu anak buah Danzo!"
Semua mata membelalak ke Uchiha terakhir. Sasuke berjalan tenang menghampiri kedua ninja yang mencegat mereka. "Danzo sudah tewas lalu siapa yang menyuruh kalian?"
Tbc ...
Zhie/ 18/ 9/ 2020
