Re-uploaded. Bagi yang sudah pernah membaca cerita ini sebelumnya, silakan membaca ulang karena ada beberapa perubahan mayor. (15/09/19)
.
BE MY EMPEROR
(i'll be your king)
.
Don't you tell me that it wasn't meant to be
Call it quits
Call it destiny
Just because it won't come easily
Doesn't mean we shouldn't try
(—Easily, Bruno Major)
.
.
.
i
Byungchan pernah bermimpi. Meski separuh dirinya yakin, apa yang ia alami terlalu nyata untuk disimpulkan sebagai mimpi. Namun, pijakan dan pepohonan serba biru keperakan di sepanjang pandangannya begitu magis, seperti sesuatu yang keluar dari buku dongeng. Permata dan batu mulia yang beberapa bahkan tak ia ketahui namanya—dengan ukuran dua bahkan tiga kali lipat ukuran normal—tertanam di tanah dan ranting-ranting pohon, mengilat di bawah cahaya bulan. Jika surga benar ada, mungkin inilah tempatnya.
Seekor kupu-kupu terbang mendekatinya dan Byungchan mengulurkan jari telunjuknya agar serangga itu singgah. Byungchan menahan nafasnya, kagum. Makhluk itu begitu cantik—sayap peraknya berpendar dan menggugurkan debu gemerlapan. Belum selesai Byungchan mengamatinya, kupu-kupu itu terbang pergi, memandikan Byungchan dengan serbuk indahnya. Ketika mata Byungchan mengekori kupu-kupu itu barulah ia sadar, ia tidak sendirian di sana.
Beberapa meter dari tempat Byungchan berpijak, dua laki-laki muda berdiri di tepi danau perak. Membelakanginya. Dua tangan terikat dalam satu genggaman. Begitu erat, seakan takut pasangannya akan lenyap jika pegangan itu meregang sedikit saja.
Salah satu beranjak, membalik badannya. Panik, buru-buru Byungchan menunduk dan bersembunyi di balik semak kristal di dekatnya. Ketika Byungchan mengembalikan pandangannya ke arah pasangan itu, ia terkesiap. Wajah salah satu dari mereka kini terungkap, dan ia kenal wajah itu. Lekuk pipinya, batang hidungnya—semua familiar.
Itu dirinya.
Seketika isi kepalanya berputar. Telapak tangannya basah. Byungchan ingin mengusap tangannya di permukaan celana, tapi ia tak kuasa bergerak. Terpaku di tempat, diterjang atmosfer pekat yang menyuasanai dua lelaki yang ia saksikan.
Byungchan menatap dirinya sendiri perlahan melepaskan genggaman itu. Dengan ekspresi terpahit yang pernah ia lihat, terpatri di wajah. Lelaki yang dilepaskan—ia belum bisa menangkap bahkan sekelebat dari tampang orang itu—buru-buru berbalik dan memeluk dirinya yang satu lagi dari belakang. Kemudian, dengan suara terlirih yang pernah ditangkap telinga—membuatnya merasa sedang mengintrusi momen yang begitu intim bagi keduanya—orang yang tidak ia ketahui itu berbisik, "jangan pergi. Jangan tinggalkan aku."
Mengherankan. Dengan suara sekecil itu, Byungchan seharusnya tidak bisa mendengar apa yang pria itu ucapkan. Tapi kenyataannya, kalimat itu seolah diucapkan persis di telinga Byungchan, begitu jelas, terlalu jelas. Sendu bunyinya, kerapuhan tiap suku katanya.
Keputusasaannya.
Byungchan mimpi membuka mulutnya, kemudian mengatupkannya lagi. Kupu-kupu ajaib tadi hinggap di bahunya, dan seketika sayapnya berubah biru gelap. Setelah hening selama beberapa detik, Byungchan mimpi membuka mulutnya lagi. Degup jantung Byungchan tidak beraturan. Telapak tangannya sudah basah oleh keringat. Entah mengapa, ia merasa jawaban yang akan dilontarkan dirinya yang lain itu akan menentukan momen krusial dalam hidupnya.
Namun, belum sempat ia mendengar versi lain dirinya memberikan jawaban, pandangannya menggelap. Hanyut. Dibawa pergi seketika, seolah ia seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari adegan yang telah ia saksikan.
Ketika Byungchan membuka mata, ia sudah kembali di kamar tidurnya. Tak ada yang janggal, kecuali serbuk gemerlapan di telapak tangannya.
.
.
Sebagai orang keenam dalam antrian menuju tahta, Byungchan boleh saja punya kedudukan dan kuasa melebihi hampir seluruh populasi di Tanah Mawar. Byungchan sadar, tak pernah dalam satu hari ia perlu khawatir akan kelangsungan hidupnya; menu makanan termewah—lengkap dari pembuka hingga penutup—dan pakaian dari sutra terindah secara wajar menjadi konsumsinya sehari-hari. Di mata jelata, hal itu sudah menjadi privilese Choi Byungchan, Pangeran Terakhir Kerajaan Arosaluz, harta negara.
Sebagai gantinya, Byungchan juga sadar penuh di kamus hidupnya tidak ada kata 'pilihan'.
Contohnya saja; bukan kemauannya untuk mengenyam pendidikan di bawah tutor privat keluarga kerajaan dan tidak di Sekolah Seni Arosaluz. Bukan keputusan Byungchan untuk tidak memiliki kenalan di luar kaum yang setara, atau untuk selalu absen dari Pesta Kembang tahunan selain sesi pemberian kata sambutan. Kadang ia memberanikan diri untuk membayangkan; dirinya, lepas dari segala titel dan permata, mengejar sebuah karir dalam bermusik—mengisi satu-dua lagu di bar bossa nova di pinggiran ibu kota yang sering didatangi Jinhyuk, mungkin. Ia bahkan rela memulai di jalanan, hanya berbekal sebuah gitar, jika diberi kesempatan. Tapi itulah satu hal yang tidak Byungchan miliki. Kesempatan untuk memutuskan.
Bukan sesuatu yang baru baginya. Lagi pula, mahkota yang menaungi kepala Byungchan bukan sekadar aksesori mahal, melainkan simbol resmi dari tanggung jawab yang telah dipikulkan kepadanya sejak keluar dari rahim Permaisuri. Byungchan tidak punya kebebasan untuk memilih, apalagi hal sesignifikan pasangan hidupnya.
"Anda Pangeran Terakhir, Yang Mulia. Makna hidup Anda adalah mengabdi pada Arosaluz."
Byungchan tahu, ia tahu. Sudah dipersiapkan untuk momen ini seumur hidupnya. Namun fakta itu tidak dapat menghilangkan rasa pahit di mulut, pening di kepalanya. Keringat dingin yang tidak berhenti mengucur.
Ia bahkan hampir tidak sadar laki-laki di hadapannya telah selesai mengucapkan sumpah suci dan kini tengah menyematkan cincin di jari manisnya.
Sekarang gilirannya.
Dengan tangan gemetar, Byungchan meraih jemari pasangannya. Sama seperti miliknya, jari-jari lentik itu berlukiskan mawar yang ia tahu menyambung hingga ke sekujur lengan si pemuda yang tertutup jas merah. Sesuai kultur Arosaluz, tubuh mempelai harus dilukiskan rambatan mawar menjelang upacara. Byungchan dapat merasakan sengatan tatapan laki-laki itu pada ilustrasi dedaunan dan rekahan bunga yang memanjat ke tulang pipinya. Berbeda dengan Byungchan yang tak bernyali untuk melihat calon suaminya di atas dada sejak ia masuk ke dalam aula seremoni.
Ia masih tidak menatap sepasang mata gelap itu ketika ia berucap, "dengan cincin ini, Hamba mengambil Yang Mulia Han Seungwoo dari Gemiond sebagai suami." –sedang cincin berlian yang mencerminkan miliknya kini melingkar di jari manis Seungwoo.
Byungchan tahu ia tidak punya pilihan. Karena itu ia mengabaikan gemuruh menyakitkan di dadanya ketika Han Seungwoo dari Gemiond—suaminya—lalu memangkas jarak di antara mereka, bersamaan dengan ledakan hujan kelopak mawar dari tingkap-tingkap ruangan yang terbuka.
.
.
Byungchan tidak tahu banyak tentang Han Seungwoo dari Gemiond.
Tentu saja ia tidak masuk ke dalam pernikahan dengan mata dan telinga tertutup. Semua yang perlu ia ketahui tentang Han Seungwoo sudah disuplai oleh Tuan Lee, Tutor Kerajaan. Bak menghadapi ujian, ia diharuskan menghafal semua teori tentang bakal suaminya itu—serta segala hal yang bersangkutan dengan Kerajaan Gemiond—dalam batas waktu yang ditentukan Tuan Lee. Tidak masalah, Byungchan punya ingatan yang baik. Namun semua akan lebih mudah jika putra tunggal Tuan Lee tidak terus mengganggunya saat sesi belajar mandiri.
"Coba kutes. Urutan keberapa Pangeran Seungwoo di antrian tahta Gemiond?"
Byungchan memutar matanya, masih sibuk membolak-balik halaman buku Sejarah Gemiond untuk menemukan bab yang terakhir ia selesaikan. "Seharusnya pertama, karena pasangan raja tidak memiliki hak, dan dia pangeran satu-satunya. Tapi Dewan Istana sedang mendiskusikan rancangan undang-undang yang mengizinkan anak perempuan mewarisi tahta, jadi bisa saja Putri Sunhwa yang menjadi penerus. Ayolah Jinhyuk, itu terlalu mudah."
Jinhyuk terkekeh. Ia menyandarkan kepala di atas lengannya yang terlipat di meja. Selain pengawal yang menjaga pintu, saat itu di perpustakaan istana hanya ada mereka berdua, tapi ia tetap merendahkan suaranya saat menggoda sang pangeran, "kudengar dia luar biasa tampan, lho, Chan. "
Byungchan mendengus. Memang hanya saat bersama Jinhyuklah Byungchan bisa bersikap sesantai apa pun tanpa memikirkan tata krama dan nama baik, bahkan status. "Dia pangeran, Jinhyuk."
"Ya memangnya semua darah biru otomatis rupawan? Kamu saja jel—aduh!"
Sang pangeran menatap datar Jinhyuk yang tengah memegangi dahinya yang baru saja dijitak. "Berdusta itu tidak baik, Hyuk. Apalagi pada keluarga kerajaan. Bisa dihukum gantung." Byungchan menahan senyumnya melihat Jinhyuk yang makin meringis. "Sudah, diam dulu kamu. Pertemuan pertama dengan Keluarga Gemiond dua minggu lagi. Banyak yang harus kupelajari."
Seharusnya Byungchan sadar Jinhyuk tidak akan mengindahkan permintaannya, biar Byungchan pangerannya sekalipun. Dari pandangan periferal, ia bisa melihat Jinhyuk tengah menatapnya lekat-lekat, seperti mempelajarinya. Menelitinya. Byungchan merasakan pipinya menghangat.
"Setelah menikah nanti, kau yang akan pindah ke Gemiond, Chan?"
Jemari Byungchan yang hendak membalik halaman sempat terhenti. Ia berdeham sebentar, lalu melanjutkan kegiatannya. "Sepertinya begitu. Bagaimanapun Yang Mulia Seungwoo berpotensi besar menjadi raja, tidak mungkin ia menetap di Arosaluz. Kasusnya berbeda denganku yang pada dasarnya tidak berpeluang mewarisi tahta."
"Begitu."
"Mm."
"Sumpah, aku masih belum percaya akan ditinggal menikah secepat ini. Dengan Pangeran Seungwoo pula. Aku sudah tahu kau akan dijodohkan, tapi kupikir Pangeran Sejun yang akan berakhir denganmu."
Byungchan tersenyum. Sejun. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Sudah lama mereka tidak bersilahturami ke kerajaan masing-masing dan bertukar kabar. Jujur, ia sempat berpikiran sama dengan Jinhyuk. Byungchan tidak mencintai pangeran negara tetangga itu, tapi mereka berdua sudah menjalin persahabatan selama hampir sedekade dengan satu alasan: setidaknya kita tidak akan menderita ketika dinikahkan nanti, karena kita sudah saling mengenal.
Sayangnya Byungchan memang tidak ditakdirkan untuk bahagia.
Setelah Jinhyuk mengungkit Sejun, seolah ada awan mendung muncul di atas kepala Byungchan. Jinhyuk pun diam, sadar sudah mengubah atmosfer ringan di antara mereka menjadi suram. Keheningan yang tidak nyaman menyelimuti seisi perpustakaan, tapi Jinhyuk tidak beranjak meninggalkan sang pangeran yang sudah kembali fokus pada bacaannya. Lagipula, ini salahnya.
Byungchan sendiri sibuk dengan pikirannya. Mencoba menyusun sosok Seungwoo dari fakta-fakta yang sudah dipelajarinya. Ia belum pernah melihat potret lelaki itu. Yang ia tahu—di luar ketampanannya, tentu saja—Seungwoo irit berbicara dan sangat berwibawa. Memiliki sifat dan kualitas pemimpin secara naluriah. Pangeran idaman. Ketika Byungchan dijanjikan padanya, Permaisuri dan Ibu Suri terus-menerus mengingatkan betapa beruntungnya ia berhasil mendapatkan manusia sesempurna Seungwoo. Apalagi Byungchan hanya pangeran bungsu yang tidak memiliki nilai lebih selain keindahan penampilan dan darah yang mengalir dalam dirinya.
Mungkin benar, Byungchan harus bersyukur. Ia tidak bisa memilih, tapi ia bisa mendapatkan Seungwoo, yang bahkan terlalu tinggi untuk dijadikan pilihan orang-orang.
Byungchan menggigit bibirnya.
"Chan."
Yang dipanggil tersentak. Byungchan bahkan lupa Jinhyuk masih ada bersamanya. Ketika ia mengalihkan pandangannya ke arah Jinhyuk, ia menemukan lelaki itu dalam tatapan terhangat yang pernah Jinhyuk tujukan padanya. Sesuatu di dalam Byungchan serasa sedang diperah. Ia hanyut dalam kedua mata cokelat itu.
"Chan," panggil Jinhyuk lagi.
"Mm," gumam Byungchan, masih terpaku.
Jinhyuk tersenyum. Hangat. Sedikit sendu. Tangannya terulur untuk mengusak rambut Byungchan. "Aku akan merindukanmu."
Byungchan menunduk lalu menggeleng kuat-kuat, mengibaskan tangan Jinhyuk dari kepalanya. "Apa sih," gerutunya pelan. Ditolak mentah-mentah seperti itu, Jinhyuk tertawa kencang, tidak tersinggung sama sekali.
"Kamu memang tidak bisa diperlakukan manis, ya."
Jinhyuk tidak tahu saja, untuk sepersekian detik tadi, Byungchan rasanya ingin menangis.
.
.
Mereka tidak bertukar barang sepatah kata.
Jangankan membuka percakapan. Apabila pandangan mereka tak sengaja beradu, Byungchan pasti buru-buru memalingkan wajahnya, lalu Seungwoo akan mengikuti tindakan suaminya itu. Banyak sekali prosesi yang harus dilewati sesuai dengan tradisi Tanah Mawar; setelah seremoni, keduanya langsung berkeliling istana dengan kereta kuda untuk menyapa penduduk kota yang berkumpul, kemudian para pengantin itu langsung diungsikan kembali untuk persiapan selebrasi malam.
Kini, menjelang dini hari, Byungchan menenggelamkan diri di lokasi permandian pribadi, menikmati air hangat bertumpahkan kelopak yang menggenang hingga dadanya. Ia menyandarkan kepalanya ke pinggir kolam dan menghela nafas panjang. Teringat kembali akan dansa pertamanya dengan Seungwoo yang begitu canggung. Tempat di mana Seungwoo menyentuhnya—satu tangan bertautan dengan miliknya, satu lagi di punggungnya—masih terasa dingin.
Mungkin benar pikirannya beberapa pekan lalu: Byungchan harus bersyukur. Setidaknya yang ia nikahi Pangeran Seungwoo. Semua kabar yang ia dengar tentang lelaki itu benar adanya. Seungwoo yang luar biasa tampan. Seungwoo yang berkarakter baik dan penuh sopan santun—selama seharian penuh, sang pangeran asing bahkan tidak menegur Byungchan meski Pangeran Terakhir Tanah Mawar itu sudah bersikap seolah-olah suaminya hanya angin lalu. Padahal Byungchan layak didamprat. Ia benar-benar tidak profesional dibandingkan Seungwoo yang dewasa. Seungwoo yang berkarisma, yang senyumnya tidak pernah luntur selama prosesi pernikahan.
Seungwoo yang sepertinya mudah dijatuhcintai.
Byungchan menggigit bibirnya, mati-matian melawan sensasi panas yang mulai menjalar dari belakang mata. Dadanya sesak. Tidak disangka, hari pernikahannya akan seberat ini. Pendidikan dan penanaman nilai selama dua dekade lamanya tetap tidak akan bisa membuat Byungchan siap. Tidak akan ada yang bisa mempersiapkan Byungchan untuk hari ini. Hari ia secara resmi "ditransaksikan" kepada seorang asing untuk kepentingan kerajaan. Bahkan sebelum ia punya waktu menata hati dan perasaannya, dalam beberapa jam ia akan diberangkatkan ke Gemiond, menjalani serangkaian adat pernikahan lagi di negeri orang. Begitu padat jadwalnya beberapa hari belakangan, Byungchan bahkan tidak sempat bertemu dan berbicara dengan Jinhyuk untuk terakhir kali.
Byungchan tidak pernah merasa sekesepian ini.
Menyeka sebulir air mata yang lolos, Byungchan bangkit dari posisinya. Seketika para pelayan yang berbaris di sudut-sudut ruangan menghampirinya dengan handuk dan wewangian. Byungchan menutup matanya, membiarkan mereka menjalankan tugas. Ia berharap, dirinya di realita lain—entah apa yang sedang ia lakukan sekarang—bebas mencintai siapa pun yang ia cintai.
.
.
Byungchan tidak bisa menyangkal: ia gugup. Gugup bahkan tidak sanggup menggambarkan betapa gila degup jantungnya saat ini, berdiri di ambang pintu besar menuju kamar tidur mereka berdua. Subin melapor padanya setelah ia selesai membersihkan diri, bahwa Pangeran Han Seungwoo dari Gemiond sudah beres dengan ritualnya sendiri dan akan menunggunya di kamar.
Mengingat itu, semburat merah kembali muncul di pipinya. Bagaimanapun, Byungchan sudah dididik untuk menjadi pasangan sempurna dari masa akil balig; ia tahu apa yang harus ia lakukan dengan Seungwoo di dalam sana. Jari-jarinya meremat jubah renda yang ia kenakan. Sedikit menerawang di bagian lengan dan paha ke bawah. Kerahnya pun rendah, membuatnya merasa sangat terekspos.
"Kalau begitu, saya antar sampai di sini, Yang Mulia," kata Subin sambil membungkuk, otomatis memecah kereta pikiran di kepala Byungchan.
"Tunggu, Subin—!"
Subin meluruskan tubuhnya. "Ada lagi yang bisa saya bantu, Yang Mulia?"
Byungchan menunduk, menggigit bibirnya. Rematan pada jubahnya semakin kencang. Bagaimana bisa ia memberitahu pelayan pribadi yang sudah ia anggap adiknya itu kalau ia panik, sungguh panik, sampai seperti mau mati rasanya?
Ia bisa merasakan lekatnya tatapan Subin. Benar saja, ketika ia mendongakkan kepalanya, manik mereka seketika bertemu. Subin menatapnya dalam, tapi tak lama pandangan itu melunak. Ia meraih tangan Byungchan.
"Pangeran Byungchan," katanya lembut. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku yakin suamimu orang baik. Intuisiku jarang salah."
Byungchan meneguk ludahnya. Ia tidak bisa membantah, intuisinya juga mengatakan hal yang sama: Han Seungwoo tidak akan memaksanya melakukan apapun yang tidak ia suka. Namun bagaimana ini adalah sekalinya intuisi mereka berdua salah? Bagaimana jika ia mendapat semesta di mana ikatan Han Seungwoo dan dirinya merupakan sebuah kesalahan—katastrofe mendatang—di antara ribuan semesta lainnya? Atau bagaimana jika lelaki itu tidak memaksanya, tapi mengadukan kelalaian Byungchan pada Raja dan Permaisuri? Byungchan tidak siap melihat sorot kekecewaan di mata ayahnya, ia tidak siap berhadapan dengan fakta bahwa dirinya tidak memiliki kegunaan bagi nega-
"Hei, Pangeran, aku bisa dengar isi kepalamu."
Subin menepuk pipi Byungchan pelan. "Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku. Masuklah, dia sudah menunggumu di dalam."
Pencahayaan di kamar itu remang-remang ketika Byungchan masuk. Perapian menjadi satu-satunya sumber cahaya di seantero ruangan. Ia bisa menangkap taburan kelopak mawar yang menuntunnya ke ranjang raksasa berkelambu di tengah kamar—menambah kesan sensual di kamar itu, bisa dipastikan ulah orang istana. Han Seungwoo dari Gemiond duduk di tepian ranjang, berbalut jubah satin berwarna marun yang sungguh menekankan kulit pucatnya. Pangeran asing itu duduk dalam diam, perlahan memindahkan arah pandangannya dari perapian ke sosok gemetar Byungchan di ambang pintu.
"Byungchan."
"Ya—Yang Mulia."
Suaminya menggeleng. "Seungwoo. Setidaknya saat kita berdua. Mendekatlah, Byungchan," katanya dalam bahasa ibu Byungchan, setiap katanya kental dengan aksen yang asing di telinga. Aksen Gemiond.
Diselimuti ragu, Byungchan melangkahkan kakinya hingga ia berdiri di hadapan Seungwoo. Byungchan membungkuk sebagai bentuk penghormatan pada sang pangeran, lalu jari-jarinya dengan gemetar merambat ke ikatan di jubahnya, perlahan bergerak melepaskan tautan itu—ketika sebuah tangan yang lebih pucat menggenggam pelan pergelangannya. Menghentikan gerakannya.
Byungchan mengangkat kepala, terkejut. Seungwoo hanya menggeleng. Lelaki itu menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya, mengisyaratkan Byungchan untuk duduk.
Keheningan jatuh di ruangan itu. Yang terdengar hanya suara gemerisik api dan denyut jantung Byungchan yang tidak karuan. Dihadapkan dengan gelap dan besarnya bayangan Seungwoo yang terpatri di tembok kamar, Byungchan merasa kerdil.
Ketika Seungwoo menoleh ke arahnya, Byungchan merasakan sekujur tubuhnya menegang. Tenggorokannya tercekat. Untuk pertama kalinya hari itu, mereka saling menatap. Dan Byungchan bersumpah, dalamnya mata Seungwoo membuat miliknya tak mampu memindahkan pandangannya. Itu juga yang membuat Byungchan mampu menangkap sekelebat sendu yang melintasi dua bola mata gelap Seungwoo sebelum pria itu menurunkan tatapannya.
"Sebelumnya.. Tenang. Aku tidak akan memaksamu melakukan apa yang ada di benakmu. Bukan hanya kamu, aku pun tidak nyaman dengan... situasi ini," ujarnya. "Kau dan aku.. kita sama. Terjebak dalam ikatan ini. Karena itu, aku sedikit banyak paham perasaanmu. Menikahi orang yang tidak kauinginkan sudah cukup menyakitkan, tidak perlu ditambah berhubungan badan atas dasar kewajiban."
Hening. Byungchan menelan ludah. Api di perapian masih berkobar, tapi entah mengapa tubuhnya terasa begitu dingin. Byungchan melipat kedua lengannya, mencoba menghangatkan diri. Seungwoo sendiri sibuk memainkan jari-jarinya yang bertautan. Situasi ini setidaknya seratus kali lebih canggung dari dansa pertama mereka.
"Ah—aku baru ingat. Aku punya hadiah untukmu," kata Seungwoo terburu-buru, seperti hendak melarikan diri dari kekakuan yang menghujam jarak di antara bahu keduanya. Sang Putra Mahkota merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sesuatu yang sungguh tidak Byungchan sangka.
Sekuntum aster putih.
Perasaan Byungchan campur aduk. Mengapa lelaki ini memberikannya bunga aster? Arosaluz memang terkenal akan kekayaan floranya, tapi aster sungguh tidak berarti di negara itu. Sudah cukup jelas, bunga yang menjadi julukan negara dan lambang kerajaan.. bukan bunga aster. Bunga kecil yang lemah dan tidak terpandang. Untuk pertama kalinya, Byungchan menyangsikan reputasi Seungwoo. Mungkin ia tidak sepintar kata orang. Tidak mungkin 'kan ia tidak tahu Arosaluz sama dengan bunga mawar?
"Byungchan?"
Yang dipanggil tersentak. Ia menatap Seungwoo dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu meraih bunga itu ragu. Memandangi aster itu bingung. "Aster?"
Seungwoo tersenyum, menggaruk belakang kepalanya canggung. "Ah... karena Arosaluz begitu paham bunga luar dalam...," menangkap ekspresi aneh Byungchan, suaranya memelan, "..aku membuatmu tidak nyaman, ya?"
Byungchan menggeleng lemah. "Tidak. Aku.. suka. Terima kasih, Yang Mu—Seungwoo."
Keduanya kembali bungkam. Enggan saling menatap. Byungchan memutar-mutar aster di tangannya. Rasanya ia ingin mengubur dirinya dalam-dalam dan kabur dari situasi ini. Ia memejamkan mata. Mau lari ke mana? Malam ini, dan malam-malam seterusnya, ia harus membiasakan diri dengan kecanggungan yang menyesakkan ini.
"Setidaknya.. bisakah kita bekerja sama?"
Byungchan membuka matanya. "Apa maksudmu?"
"Pernikahan paksa ini sudah cukup memberatkan kita berdua. Setidaknya, kita bisa bekerja sama untuk meringankan beban masing-masing. Aku tidak meminta sesuatu sejauh pertemanan, anggap saja diriku rekan kerja. Yang aku inginkan darimu hanya sikap kooperatif, setidaknya di hadapan publik." Pupil Seungwoo sarat dengan permohonan ketika ia menatap Byungchan, "kamu bisa, kan?"
Byungchan terdiam sebentar. Seharusnya ia bersyukur Seungwoo sudah begitu baik dengan tidak memaksanya melakukan ritual malam pertama, dan ia memang bersyukur. Tapi sesuatu dari ucapan Seungwoo meninggalkan rasa pahit di mulutnya. Ia tidak terlalu mengerti mengapa, mungkin lelah fisiknya turut ambil bagian, tapi perasaannya berkecamuk. Posturnya kian tegang, dan ia bisa merasakan dalam kedua tangannya yang terkepal di pangkuan, kuku-kukunya yang semakin menusuk telapak tangan. Bunga aster rapuh pemberian Seungwoo terkulai lemah genggamannya, beberapa kelopaknya bahkan sudah terlepas dan berjatuhan di sisi kaki sang Pangeran Terakhir. Seungwoo sepertinya menyadari perubahan pada diri Byungchan, karena setelah itu ia bertanya,
"Byungchan? Kamu tidak apa-apa?"
Entah mengapa, pertanyaan itu justru kian menusuk sesuatu dalam diri suaminya, membuat lelaki itu menatapnya nyalang. Byungchan mengangguk pelan. "Hamba akan lebih kooperatif di depan publik, Yang Mulia." Melihat Seungwoo membuka mulut, ia buru-buru menambahkan, "hari ini melelahkan sekali. Hamba izin tidur."
Byungchan berdiri, tak menyadari bunga yang jatuh dari kakinya, lalu membungkuk pelan. Ia perlahan naik ke ranjang dan tidur di sudut kanan, meringkuk membelakangi Seungwoo. Selama beberapa detik, tidak ada kata maupun pergerakan dari tempat Seungwoo duduk. Namun ia masih terjaga ketika akhirnya terasa selimut diangkat, diikuti suara gemerusuk Seungwoo yang menyesuaikan diri di tempat tidur mereka. Di sudut kiri, jauh dari tempat Byungchan berbaring.
Malam itu, Byungchan tertidur dibuai bunyi kertakan api yang sedikit mengisi sunyi mencekam di interval tubuh mereka, jejak air mata mengering di pipinya.
.
.
.
tbc.
A/N:
Halo, terima kasih sudah mampir ke Be My Emperor. Awalnya, cerita ini akan dipublikasikan dalam bahasa Inggris di platform fiksi penggemar lain. Tapi, menimbang pangsa kapal Seungchan/Byungwoo yang tidak begitu ramai secara internasional, dibuatlah versi Indonesianya. Untuk kelanjutannya, masih ditimbang bahasa mana yang akan lebih nyaman untuk digunakan dan bisa membuat proses menulis lebih cepat. Bagaimanapun keputusannya nanti akan dikabarkan di update-an BME. Maaf untuk ketidaknyamanannya!
Terakhir, kalau tidak keberatan, mohon tinggalkan review.
Sampai ketemu di chapter berikutnya,
D&D.
P.S. visit me on twitter (choseungyounee) for other seungchan-related content :)
