Gunung Hikoori yang semula damai itu kini tengah dilanda kerusahan. Pegunungan berhawa dingin, yang kadang suhunya mencapai minus, merupakan tempat tinggal para peri yang dipimpin oleh Raja Todoroki. Tak ada ras lain selain peri. Tak ada keributan tak perlu. Raja Todoroki dikatakan memerintah dengan tangan besi, tapi kenyataannya, tindak-tanduknya masih masuk ke dalam kontrol sang permaisuri. Todoroki Rei, Sang Permaisuri, begitu dicintai oleh rakyat peri. Karena itulah, meski sebagian besar kaum peri yang tinggal di sana tak menyukai sang raja, tak ada satu peri pun yang berpikiran untuk melakukan kudeta.
Jika tak ada insiden penyerangan oleh kaum peri dari lembah gelap, diperkirakan pemerintahan Raja Todoroki akan segera digantikan oleh sang putra mahkota. Sifat sang putra mahkota yang jauh lebih tenang ketimbang sang ayah, membuatnya menjadi sosok yang dikagumi dan diharapkan untuk memerintah kerajaan dalam waktu yang lama. Selain itu, gabungan kekuatan api yang dimiliki sang raja, serta kekuatan es yang dimiliki oleh permaisuri membuat Todoroki Shouto digadang-gadang sebagai penerus yang tak akan terkalahkan.
Namun, di atas langit selalu ada langit, bukan?
"Shouto-sama!"
"Midoriya! Jangan lengah!"
Shouto mengubah ukuran tubuhnya menjadi lebih besar dan kemudian meniupkan angin dingin untuk menghalau beberapa peri yang berusaha menjatuhkan kerajaannya. Shouto mendecih melihat situasi istananya yang mulai tak beraturan. Bagaimana dengan di luaran sana? Bagaimana dengan para penduduknya?
"Shouto-sama! Anda harus cepat menyingkir dari sini! Sebelum situasi makin tak terkendali," ujar Midoriya Izuku dengan sayap-sayap kecilnya yang mengepak dalam kepanikan. "Setidaknya, meski hanya Anda …."
"Apa maksudmu, Midoriya? Kaupikir kita akan kalah menghadapi para pemberontak ini? Kita yang lebih mengenal seluk beluk istana! Pasti akan ada cara untuk—"
"KYAAA! Shouto-samaaa!"
Shouto dan Izuku langsung memasang wajah waspada. Di hadapan mereka, sesosok peri mungil seukuran Izuku terbang dengan kecepatan yang luar biasa dan langsung bersembunyi di belakang Shouto. Setelah memastikan bahwa peri perempuan tersebut aman, Shouto menyibakkan tangan dan api panas langsung membakar para pengejar.
"Ochako, kau tidak apa-apa?" Izuku mengulurkan tangan untuk memastikan kondisi sang peri perempuan.
Uraraka Ochako mengangguk. Sejenak, ia tampak lega, tapi kemudian, ia kembali panik.
"Tidak, tidak! Bukan waktunya santai! Yang Mulai Ratu …!"
Shouto menghentikan serangan saat didengarnya laporan dari Ochako. Dia menoleh dari balik bahu dan seolah menjadi aba-aba, Ochako mengepakkan sayap dan terbang mendekat ke arah wajah Shouto. Tangannya bergerak-gerak panik.
"Yang Mulia Ratu ada di sayap barat istana!"
Istana Kerajaan Todoroki merupakan kerajaan yang luas. Bangunannya sendiri tak berbeda jauh dari kerajaan-kerajaan yang didirikan manusia pada umumnya. Peri tingkat tinggi memang memiliki kemampuan untuk mengubah tubuhnya menjadi seukuran manusia dan karena itulah, memiliki istana dengan ukuran yang besar akan jauh lebih praktis. Selain itu, istana ini mampu menampung peri dalam jumlah banyak jika terjadi sesuatu. Naas, hal itu malah dimanfaatkan oleh para peri pemberontak untuk mengurung banyak peri dalam satu tempat dan kemudian melakukan pembantaian.
"Cepat! Cepat, Shouto-sama!" seru Ochako yang kini bertengger di bahu kiri Shouto sementara sang putra kerajaan berlari menggunakan kedua kaki manusianya. "Yang Mulai Ratu~!" Ochako memejamkan mata sementara tangan kecilnya menggengam baju Shouto erat-erat.
Di bahu kanan Shouto, Izuku tampak tak kalah panik. Dengan suara bergetar ia berkata, "B-Bagaimana dengan Yang Mulia Raja? Beliau ada di mana?"
"Aku tak tahu!" jawab Ochako setengah berteriak. "Saat aku sedang bersama Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Raja sudah tak terlihat di mana pun …."
"Ta-tapi—tidak mungkin Yang Mulai Raja dikalahkan begitu saja, 'kan?" ujar Izuku dengan tawa yang dipaksakan.
Shouto menggemeretakkan gigi. Ia masih berlari sekuat yang ia bisa, menyusuri lorong-lorong istana. Sesekali, ia bertemu para peri yang kewalahan dan memberikan intsruksi pada mereka untuk meninggalkan istana dan mencari perlindungan ke kota terdekat. Meski itu bukan perjalanan yang mudah bagi para peri untuk menuruni pegunungan sampai ke kaki bukit, setidaknya itu lebih baik ketimbang menunggu dibunuh.
Dalam perjalanan sampai ke bagian barat istana, Shouto dengan dibantu Izuku dan Ochako juga berhasil menghalau banyak peri pemberontak. Beberapa peri pemberontak itu ada yang mampu memperbesar wujudnya. Meski demikian, Shouto sendiri merasa bahwa para peri yang mampu memperbesar wujudnya itu bukanlah peri tingkat tinggi. Ada yang salah. Ada yang tak beres. Sepertinya para pemberontak ini menggunakan kekuatan sihir.
"Di sinikah, Uraraka?"
"Iya!"
Shouto langsung masuk ke dalam satu ruangan yang sebelah pintunya sudah lepas dari engsel. Ia mengernyit melihat banyak peri yang ia kenali sebagai rakyat bergelimangan di lantai—bercampur dengan sosok para peri pemberontak. Ada yang wajahnya tak berbentuk, ada yang sayapnya terkoyak, bahkan ada yang anggota tubuhnya terlepas. Bau anyir darah peri menyelubungi ruangan yang penerangannya sudah tak berfungsi tersebut.
Shouto mengempaskan tangan dan menciptakan api berkobaran di kayu-kayu patah yang ada di lantai. Seketika, baik Shouto maupun Ochako dan Izuku dapat melihat satu sosok seukuran manusia yang tengah terduduk santai di tempat yang bagaikan singgasana. Di atas pangkuan sosok tersebut, terdapat sosok lain berukuran sama yang tampak berbaring dengan tenang.
"Ah," ujar sosok tersebut sembari menyangga wajah dengan sebelah tangan, "Pangeran Todoroki, hm?"
Shouto memperbesar api di sekelilingnya. Bersamaan dengan menguatnya api, kedua sosok di hadapannya semakin terlihat jelas. Emosinya membuncah.
"IBUU!"
"Yang Mulia Ratu!" pekik Ochako panik saat melihat sosok yang tengah berbaring di pangkuan sang sosok mengerikan itu adalah Todoroki Rei.
Todoroki Rei—dengan mata terpejam dan tangan yang lunglai seakan sudah tak bernyawa.
"Hmm, Ratu, ya …." Sosok itu mencabut sayap peri Rei yang tak bisa melakukan perlawanan. Lalu, layaknya itu adalah suatu camilan yang lezat, ia pun mengunyah sayap tersebut sebelum menjilati bibir dan ujung ibu jarinya. "Padahal ia bisa jadi tangan kananku—andai ia tak melawan …."
Peri? Bukan ….
"Kau—"
"Aku akan berpikir ulang untuk menyerang jika menjadi kau."
Sosok di hadapan mereka itu mengibaskan tangan. Seketika, Shouto terlempar hingga menabrak dinding di samping pintu masuk. Api yang dihasilkan Shouto pun sanggup dipadamkan oleh angin barusan. Tidak seharusnya api mati sebegitu mudahnya oleh terpaan angin—sebaliknya, api itu seharusnya makin membesar. Namun, angin barusan begitu kuatnya hingga Shouto sesaat merasa sesak napas.
Tak lama, api kebiruan mulai menerangi mereka. Api itu menyala dengan membakar kayu-kayu dan mayat-mayat peri secara merambat. Bersamaan dengan itu, suara benda jatuh terdengar diikuti dengan penampakan tubuh sang ratu yang sudah teronggok begitu saja di lantai. Lalu, sosok mengerikan itu kini tak lagi sendiri. Ada dua orang lagi di sisi kiri dan kanannya.
Salah seorang yang ada di sisi kanan itu menunjukkan api kebiruan dari tangannya dan yang seorang lagi memiliki wajah yang ditutupi potongan tangan hingga tak bisa dilihat jelas ekspresinya. Aura yang dipancarkan keduanya tak kalah mengintimidasi. Namun, sudah pasti sosok yang berada di tengah itulah orang yang paling harus diwaspadai.
"Shouto-sama …," ujar Ochako sambil memeriksa kondisi Shouto. Air matanya mulai mengambang di pelupuk mata. Namun, ia tampak berusaha keras menahannya. Meski demikian, sesekali Ochako akan menengok ke arah sosok ratu yang baru saja ditendang layaknya sampah oleh para kawanan pemberontak tersebut. Tak ada yang bisa Ochako lakukan selain menutup mata. Ia hanya … seorang peri kelas bawah yang tak memiliki kekuatan untuk bertarung.
"B-Bagaimana ini? Apa yang … harus kita … lakukan?" Izuku mulai berbicara terpatah-patah. Tak jauh beda dengan Ochako, air matanya juga sudah menggenang.
Shouto menatap sosok ibunya yang tampak tak berdaya. Matanya sesaat terlihat sendu. Ia tak mungkin meninggalkan ibunya. Meski ibunya sudah dalam keadaan tak bernyawa sekalipun!
Shouto pun memaksakan diri untuk bangkit. Saat ketiga orang itu terkejut dan lengah, ia melancarkan es dari kaki kirinya. Es itu menjalari lantai yang tak rata oleh puing sampai ke tempat ratu. Begitu es tersebut hendak dicairkan oleh api biru, Shouto mengeluarkan api dari tangan kirinya. Api biru dan api merah itu saling beradu kekuatan.
Di saat yang sama, baik Izuku maupun Ochako yang diberkahi kecepatan segera terbang menuju kedua musuh yang lain. Tentu saja itu suatu serangan yang layaknya bunuh diri. Namun, Shouto tak akan membiarkan mereka terluka!
Shouto menggunakan es tersebut untuk membungkus tubuh sang ibu. Kemudian es itu ia gerakkan sedemikian rupa hingga sosok sang ibu terangkat oleh es yang semakin lama semakin tinggi—menembus langit-langit hingga melubangi atap.
Ochako yang berusaha menyibukkan sang pria yang wajahnya ditutupi oleh tangan mendadak diraup oleh Shouto. Demikian pula dengan Izuku. Kali ini, es itu kembali muncul di bawah kaki Shouto, siap membawanya keluar istana melalui atap yang dilubangi.
"Kaupikir kami akan membiarkanmu? Naif sekali!"
Api biru dan hawa racun bergabung dan menyelubungi es di bawah kaki Shouto. Tak butuh waktu lama bagi es tersebut untuk lumer. Shouto mulai kehilangan keseimbangan. Saat itulah, dia berkata dengan cepat,
"Uraraka! Midoriya! Dengarkan aku! Makhluk-makhluk ini bukan sekadar peri! Mereka menggunakan sihir yang berbeda dengan sihir yang mungkin dimiliki oleh kaum peri! Mungkin … penyihir!" ujar Shouto setengah berbisik sembari melirik ke arah sosok yang tampak bagaikan pimpinan pemberontak.
"Apa kata Anda barusan?" tanya Izuku dengan mata terbelalak. "Penyi—"
"Tak ada jalan lain!"
"T-Tidak! Shouto-sama! Apa yang—"
"Mereka tidak akan repot-repot mengejar kalian!" Shouto yang hampir kembali menyentuh lantai, menggenggam Ochako dan Izuku erat-erat sebelum melempar keduanya ke langit. "PERGIIIII!"
"Ti—"
"OCHAKO!" Izuku menarik tangan Ochako dan kemudian mengepakkan sayapnya secepat yang ia bisa untuk melewati lubang di langit-langit dan menuju bagian luar istana. Keduanya mengikuti jalur es yang membawa tubuh Yang Mulia Ratu entah sampai ke mana.
Sesuai dugaan Shouto, tak ada satu pun dari ketiga orang itu yang mengejar Ochako dan Izuku. Keduanya terengah di tengah-tengah dinginnya hawa pegunungan. Begitu kesadaran kembali menguasai dan mengempas ketegangan yang sejenak dirasakan, Ochako dengan kasar melepaskan tangan Izuku.
"Apa yang kaulakukan?! Kita tidak seharusnya meninggalkan Shouto-sama! Kita harus kembali! Aku—!"
"Ochako!" Izuku mencengkeram kedua pundak Ochako. "Dengarkan aku!"
Saat itu, Ochako bisa melihat kilat keseriusan di mata Izuku. Izuku sehari-harinya selalu tampak cengeng dan penuh ketakutan, tapi mengenalnya sejak kecil membuat Ochako tahu bahwa meski penakut, Izuku bukanlah pecundang. Bahkan, saat air mata masih membasahi wajahnya, Izuku telah memikirkan hal-hal yang tak terpikirkan oleh Ochako sebelumnya.
"Shouto-sama bilang, para pemberontak ini menggunakan sihir yang bukan sihir murni para peri," ujar Izuku susah payah—ia tampak berjuang menahan keinginan untuk menangis keras-keras sekaligus menahan hawa dingin yang mulai membuat bibirnya pucat dan kaku.
Ochako mengangguk. Ia mendengar jelas ucapan Shouto tadi sebelum melempar keduanya.
"Penyihir!"
Ochako menutup mulut dengan kedua tangan.
"Penyihir harus dilawan dengan penyihir lain!" jelas Izuku kemudian. Matanya berkaca-kaca. "Kau … pergi! Cari penyihir yang bisa membantu kita mengusir orang-orang ini!"
"Bagaimana dengan kau, Deku?!" ujar Ochako yang memanggil Izuku dengan nama panggilannya sejak kecil.
Saat itu, tatapan Izuku mengarah pada es yang diciptakan Shouto, yang menjulang sampai ke langit gelap yang tertutup kabut. Es itu tak akan mencair dalam hawa dingin yang membekukan seperti ini. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat.
"Aku akan memastikan kondisi Yang Mulia Ratu!"
"Kalau begitu, aku ikut denganmu dan kita—"
Mendadak suara ledakan yang diikuti suara gemuruh runtuh terdengar dari arah istana. Ochako refleks menengok ke arah sumber suara. Namun kemudian, ia dikejutkan oleh pegangan Izuku yang terlepas dari pundaknya dan mendorong punggungnya.
"Tak ada waktu lagi, Ochako! Cepatlah!"
Ochako sejenak ragu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti rencana Izuku. Keduanya pun terbang ke arah berlainan secepat yang mereka bisa. Sebetulnya, perjalanan ke arah kota mungkin akan berisiko, tapi tidak lebih berisiko dibandingkan tetap berkeliaran di sekitar istana ketika musuh masih ada di dalamnya. Izuku memilihkan rute yang lebih aman bagi Ochako dan Ochako merasa bahwa ia tak bisa menyia-nyiakannya!
Tak ada waktu lagi—kata Izuku tadi. Dan itu benar.
Secepat yang ia bisa, Ochako mengepakkan sayap mungilnya. Ia belum berada jauh dari halaman istana saat mendadak sebuah es besar menyembul dari arah barat istana. Es itu bagaikan duri yang menusuk istana. Ochako sedikit memekik karena suara keras yang ditimbulkan bersamaan dengan munculnya es tersebut.
"T-Todoroki-sama!"
Ochako menjauhkan tangannya dan telinga dan menoleh hanya untuk mendapati kawanan peri yang juga sedang dalam pelarian. Ochako kenal peri berambut merah muda ini! Hatsumei Mei.
"A-ada apa Mei?!"
Dengan kemampuannya, Mei mampu melihat sampai berkilo-kilo meter jauhnya. Ochako yakin, jika ia ingin mengetahui apa yang terjadi di sekitar istana dari posisinya sekarang, ia bisa mengandalkan Mei. Namun, saat mendengarnya, Ochako tak bisa menilai apa ia merasa beruntung bisa tahu atau sebaiknya ia pergi tanpa mendengar apa pun sebelumnya.
"Todoroki-sama … dalam es … beku …."
"Apa? Bicara yang jelas, Mei!"
Mei tampak kehilangan kekuatan. Sayapnya perlahan berhenti mengepak dan ia terjatuh pelan ke tanah. Ochako mengikuti Mei untuk mengguncang tubuh peri tersebut.
"Mei! Beritahu aku! Apa yang terjadi—"
Telunjuk Mei perlahan terangkat pada duri es yang membelah istana.
"Todoroki-sama … seakan membekukan dirinya sendiri dalam es abadi!"
.
.
.
AMARANTH: IMMORTAL LOVE
Disclaimer : My Hero Academia/僕のヒーローアカデミア© Kouhei Horikoshi
We don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.
Story © Devil Foxie (V3Yagami and Suu Foxie)
Genre: Friendship / Fantasy / Romance/ Hurt-Comfort / Tragedy / Angst
.
.
.
***To Be Continued***
