~~~•School Of Freedom•~~~

Disclaimer :

Bukan milik Saya...!

Summary :

Belajar itu membosankan, membuat pandangan ku tentang sekolah menjadi buruk... Hingga akhirnya aku mendapat kabar tentang sekolah swasta yang berkurikulum Everything is determined by bets

~•~

~•~

~•~

Arc I

"~~~•New Student•~~~"

Chapter 1

"~~•The Beginning•~~"

~•~

Seorang remaja berambut pirang berdiri cukup lama di seberang jalan, memandangi sebuah bangunan yang akan menjadi sekolah barunya.

"Hoh ... jadi inikah, Kuoh Academy itu. Yang katanya sekolah unik, menarik sekali."

Ia bergumam sendiri, menunjukkan seringai kecil di bibirnya. "Yah, kuharap sekolah ini tidak mengecewakan ku."

Melihat lampu hijau menyala, ia pun segera menyebrang melewati garis-garis putih di bawah kakinya.

Terus berjalan hingga sampai di gerbang sekolah, ia melihat seorang siswi bertubuh mungil berdiri di sana berambut hitam sampai dibahu serta sebuah kacamata merah di hidungnya yang menambah kesan manis di wajahnya.

Ia melihatnya sekilas dan terus berjalan tanpa memperdulikan siswi tersebut.

"Hoi pirang! Apakah kamu siswa pindahan dari Tokyo Academy itu?"

Mendengar pertanyaan tersebut, ia berhenti dan langsung berbalik menuju siswi itu, yang kini memasang raut wajah datar."Iya, aku murid baru dari Tokyo," jawabnya.

"Nama mu?" Tanya siswi itu sembari menaikkan kacamatanya yang melorot, dan tak lupa tatapan matanya yang tajam.

Ia menatap siswi tersebut dengan pandangan tertarik.

"Bukankah tidak sopan jika menanyakan nama seseorang sebelum memperkenalkan diri."

Siswi itu menghela napas sebentar. "Maaf. Namaku Sona Sitri, salam kenal," ucap Sona menjulurkan tangannya, ia menjabat tangan Sona.

"Uzumaki Naruto, salam kenal."

"Kau mau ke ruangan Kouchou, 'kan? Biar aku antar," tawar Sona.

"Arigatou, mohon bantuannya," balas Naruto dengan tersenyum.

Sona berjalan dengan Naruto di belakang nya.

"Jadi, Uzumaki-san kenapa kamu pindah ke sekolah ini?" Tanya Sona melirik kebelakang.

"Ku dengar sekolah ini memiliki satu aturan yang sangat menarik, 'segalanya ditentukan oleh taruhan'. Itulah yang membuat ku tertarik dengan sekolah ini," jawab Naruto melihat sekitarnya.

"Apa itu saja, Uzumaki-san?" Tanya Sona kembali.

"Hmm ... entahlah, kurasa itu saja. Memangnya ada alasan lain lagi?" Tanya Naruto menghampiri Sona yang agak jauh darinya.

"Mayoritas siswa yang mendaftar di sekolah memiliki tujuan berbeda-beda, dan tujuan mereka itu sangat kompleks dibandingkan apa yang kau katakan barusan, makanya aku bertanya untuk memastikan."

Naruto terdiam sejenak. "Yah, sebenarnya aku punya alasan lain. Aku tidak tahu apakah itu dapat dikatakan tujuan atau tidak."

Pernyataan barusan berhasil menarik minat Sona. "Oh, dan apakah itu?"

"Mengalahkan orang-orang berbakat," celetuk Naruto.

Sona sedikit terkejut atas jawaban Naruto, kemudian seulas senyum tipis terbentuk di bibirnya.

"Menarik, Uzumaki-san."

"Hmm, kau mengatakan sesuatu Sitri-san?"

"Tidak, dan jika ada yang ingin kau tanyakan silahkan, tanyakan saja," balas Sona menoleh ke Naruto yang sudah berada di sampingnya.

"Bolehkah?"

"Tanyakan saja, akan ku jawab sebisaku."

"Ah, kalau begitu. Berapa luas sekolah ini sebenarnya?"

"Dapat dikatakan seluas universitas Tokyo, mungkin lebih."

"Wow, itu luas sekali."

"Tentu saja, sekolah ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap dibandingkan dengan sekolah lainnya, masuk akal kalau Kuoh Academy disandingkan dengan sebuah universitas.

Sekolah ini terdiri dari 1 gedung utama, 3 gedung olahraga, 2 gedung asrama, 3 buah minimarket, dan beberapa bangunan kecil lainnya.

Gedung utama terdiri dari lima lantai, lantai 1 ditempati kelas X, lantai 2 kelas XI, lantai 3 kelas XII, dan untuk lantai 4 dan 5 digunakan sebagai kegiatan klub dan kepentingan lainnya.

Setiap lantai juga memiliki ruang uks dan berbagai kelas lainnya yang memungkinkan para siswa untuk berada di wilayah masing-masing."

Naruto sedikit terkejut mengetahui betapa luasnya sekolah ini dan tentu saja keunikannya. Berbeda dengan sekolah sebelumnya, dibandingkan dengan Kuoh Academy sekolahnya sekarang dengan sekolah lamanya Tokyo Academy tidak ada apa-apanya.

Terlepas dari luasnya sekolah ini, ia juga tertarik atas penjelasan Sona tentang pembagian kelas barusan. Baginya itu hal yang baru, pembagian kelas di Tokyo mungkin kurang lebih sama yang membedakan ialah kalimat terakhir yang dikatakan Sona tadi.

'Berada di wilayah masing-masing'. Kalimat tersebut mengandung suatu arti, bisa saja sekolah ini melarang siswanya campur aduk dengan angkatan lainnya. Tapi, bukankah itu akan berdampak pada aktivitas sosial mereka, mengakibatkan mereka tidak saling kenal satu sama lain.

Atau bisa jadi mungkin karena alasan lainnya. Entahlah, Ia juga tidak ingin terlalu memiringkan hal tersebut.

"Itu cukup mengagumkan, betapa luasnya sekolah ini."

Naruto memperhatikan sekitarnya yang benar-benar sangat luas, berbeda saat ia berada di luar sekolah tadi. Perhatiannya kemudian berhenti saat menangkap bangunan besar yang sudah tidak jauh darinya.

"Itu gedung utama, cukup besar, 'kan?"

"Bukan besar lagi, ini ... sangat besar."

Mereka berdua berhenti atau lebih tepatnya Sona yang berhenti dan diikuti oleh Naruto.

"Mungkin ini sedikit agak terlambat, tapi ..."

Sona maju beberapa langkah, Naruto hanya diam menatap Sona yang berdiri tidak jauh darinya, kemudian Sona berbalik sambil membetulkan posisi kacamatanya.

"... Selamat datang di Kuoh Academy!"

~•~

~~•School of Freedom•~~

~•~

Tok tok tok!

"Siapa?!"

Terdengar suara berat dari dalam.

"Saya membawa Uzumaki Naruto untuk menghadap."

"Masuklah!"

Cleek!

Pintu terbuka dan masuklah Sona yang disusul Naruto dibelakangnya. Hal yang pertama Naruto lihat adalah seorang pria paruh baya dengan gaya berpakaian yang aneh. Dapat dikatakan orang itu lebih terlihat seperti gangster daripada seorang pengajar, apalagi dengan gaya rambutnya yang aneh.

"Apa dia murid pindahan itu?" Tanya sosok paruh baya dengan rambut hitam serta pirang di bagian depan nya.

"Ha'i, Azazel-sensei saya telah mengantar dia kemari, jadi saya mohon undur diri," jawab Sona meninggalkan ruangan tersebut, setelah Sona pergi azazel mempersilahkan Naruto duduk.

"Kau terlihat tak nampak asing bagiku. Hmm, tidak salah lagi ... Jadi kenapa kau pindah kemari, nak?" Tanya Azazel menyatukan kedua tangan menopang dagunya.

"Sepertinya sekolah ini berbeda dengan sekolah lainnya. Sensei tau sendiri 'kan, siapa aku?" jawab Naruto.

"Tapi kau belum menjawab pertanyaan ku." Azazel sudah tau bahwa anak ini adalah top-rangking di Tokyo Academy.

Naruto menghela nafas malas menatap Azazel dengan senyum tidak tepatnya sebuah seringai.

"Alasanku pindah ke sekolah ini karena aturan yang anda sendiri ciptakan Sensei, 'segalanya di tentukan oleh taruhan'. Itulah yang membuat sekolah ini menarik perhatian ku," jawab Naruto dengan seringai yang makin lebar.

Azazel tidak terlalu terkejut mendengar jawaban Naruto, baginya itu sudah menjadi alasan umum bagi sebagian siswa di sekolah ini.

"Ehm, baiklah jika itu jawabanmu, kalau begitu pertama-tama aku akan menjelaskan sedikit kepada mu tentang beberapa yang perlu kau tau dari sekolah ini serta peraturannya, tapi secara garis besarnya saja. Sisanya dapat kau tanyakan pada yang lainnya."

Naruto mengangguk, Azazel mengambil nafas sebelum menjelaskan kepada Naruto.

"Seperti yang kau katakan tadi di sekolah ini segalanya ditentukan oleh sebuah taruhan, dari ketua kelas hingga seito-kaichou semuanya ditentukan dengan melakukan permainan yang mempertaruhkan jabatan tersebut. Di sekolah ini nilai akademik maupun non-akademik tidaklah mempengaruhi naik kelas maupun tinggal kelas seorang siswa. Seorang siswa dinilai dari kelayakannya serta keikutsertaan dalam kurikulum sekolah ini, apa kau paham?" Azazel menatap Naruto yang mengangguk.

"Di sekolah juga terdapat peraturan tentang cara melakukan permainan, pertama sang penantang boleh menantang siapa saja selama orang tersebut berada di dalam lingkungan sekolah."

"Begitu ya, jadi aku bisa menantang guru maupun orang luar yang masuk ke lingkungan sekolah," ucap Naruto dengan senyum tipis meminta jawaban Azazel.

"Ya, kau bisa menantang siapa pun yang berada disekolah ini, termasuk aku jika kau mau,"

Mendengar jawaban Azazel membuat Naruto langsung menatapnya seolah-olah pandangnya berkata 'kau serius?' yang di balas dengan anggukan kepala, mendapat anggukan kepala membuat Naruto menunjukkan seringainya yang membuat Azazel sedikit tertarik dengan bocah ini.

"Kedua, taruhan di lakukan dalam bentuk sebuah permainan. Terserah permainan apa, yang penting permainan itu ditentukan oleh orang yang ditantang, penantang juga boleh mengusulkan permainan yang akan dimainkan tapi yang ditantang lah yang tetap menentukan pada akhirnya.

Ketiga, permainan akan dilakukan apabila sang penantang maupun yang ditantang telah menentukan taruhan yang akan di pertaruhan, taruhan ini harus di setujui oleh kedua pihak dan harganya tidak mesti sama.

Keempat, siapa pun yang kalah harus menerima kekalahan dan menerima kenyataan yang dialaminya. Itu saja sedikit peraturan di sekolah ini dan satu lagi proses pertaruhan dapat di lakukan kapan saja," jelas Azazel panjang lebar menatap Naruto yang masih memikirkan penjelasannya tadi.

"Sensei apa hari ini saya boleh mulai?" Tanya Naruto dengan serius, Azazel hanya bisa menghelah nafas.

"Ya, kau bisa mulai kapan saja, dan untuk sementara kau akan tinggal di asrama tua di belakang sekolah."

"Hmm, bukannya aku akan tinggal di asrama pria?"

"Belum, asrama pria saat ini sedang ada pengaturan ulang, karena kau murid pindahan jadinya akan memakan sedikit waktu untuk menyiapkan kamar mu, jadi untuk beberapa hari ke depan kau akan tinggal di asrama tua itu."

"Apakah tempatnya layak huni, maksudku itu bukan kayak gudang atau apa, 'kan?"

"Tidak perlu khawatir, asrama itu walau agak lama tak ditempati, dulunya merupakan tempat santai para pengajar. Lagipula tempat itu sudah dibersihkan dan dirawat dengan baik oleh OSIS jadi tidak usah khawatir, kau cukup tinggal istirahat saja sampai disana."

Azazel meyakinkan Naruto bahwa asmara tua itu layak huni. Naruto tak dapat menolak lagi, dan hanya menurut saja.

"Kalau begitu kau akan di antar oleh fuku-kaichou ke tempat tinggal mu, masuklah Sitri-kun!"

Cleck!

Muncullah sosok siswi yang tadi mengantar Naruto ke ruang kouchou.

"Sitri-san, kau Fuku-kaichou?"

Naruto cukup kaget mengetahui bahwa gadis mungil ini ternyata fuku kaichou di sekolah ini.

"Sitri-kun, antar bocah ini ke asrama tua."

"Ha'i Sensei, ikuti aku Uzumaki-san."

Selepas itu Sona pergi diikuti oleh Naruto, Azazel terus memikirkan bocah tadi. "Apapun yang ingin kau coba lakukan, semoga kau dapat hidup tenang disekolah ini," batin Azazel menatap keluar jendela dengan seringai tipis.

~•~

~~•School of Freedom•~~

~•~

At Naruto

Setelah mereka keluar dari ruangan kochou mereka berjalan menuruni tangga dari lantai tiga hingga sampai di lantai satu. Kemudian berjalan di koridor melewati berbagai kelas yang telah kosong hingga mereka melihat satu kelas yang sedang ramai.

Naruto sedikit tertarik dengan keramaian di sana, menerka-nerka apa yang sedang terjadi.

"Hei Sitri-san, bisakah kita kesana terlebih dahulu, aku ingin lihat apa yang sedang terjadi disana?" Tanya Naruto yang di balas anggukan oleh Sona.

Setibanya di sana, Naruto melihat dua orang tengah bermain catur yang satunya berambut merah panjang bertubuh seksi serta oppai-nya yang besar sedangkan yang menjadi lawannya seorang gadis mungil berambut putih sebahu bertubuh loli.

Dilihat dari secara keseluruhan, sepertinya siswi loli itu sedang tersudutkan dan tidak dapat melawan lagi. Sedangkan siswi ber-oppai besar itu nampak senang karena merasa akan menang. Selang beberapa menit kemudian, siswi berambut merah itu melakukan gerakan checkmate ke siswi loli dengan senyum kemenangan di wajahnya.

"Haha, nampaknya aku yang menang. Sesuai dengan kesepakatan, kau akan menjadi budakku, 'kan?" Siswi berambut merah itu tertawa menatap ke siswi loli yang sedang menahan tangisnya.

Melihat apa yang terjadi, Naruto sedikit memahami apa yang sedang terjadi sekarang. Apalagi kalau bukan 'Pertaruhan', inilah yang ia tunggu-tunggu. Dan tentu saja ia takkan melewatkan kesempatan ini.

"Hei, gadis tomat bagaimana jika kau melawanku?"

Terdengar suara dari belakang penonton yang membuat semua siswa mengalihkan perhatian ke sumber suara yang menunjukkan seorang remaja berambut pirang dengan mata biru sapphire serta sebuah senyum kecil meremehkan.

"Huh, apa kau bilang dasar kuning tai!" balas siswi yang dipanggil tomat itu menatap tajam ke Naruto.

"Aku menantang mu gadis tomat!" Teriak Naruto agak keras, yang sontak menarik perhatian kerumunan massa di sana.

"Siapa dia, beraninya menantang Rias-senpai."

"Apa dia pikir ia bisa menang."

"Bagaimana gadis tomat?"

"Baiklah aku terima tantangan mu dan jangan panggil aku tomat namaku Rias Gremory."

Rias menerima tantangan dari Naruto, yang di balas anggukan kepala.

"Jadi kau ingin permainan apa, dan namaku Uzumaki Naruto."

"Baik Uzumaki-san, seperti yang kau lihat di sini hanya ada catur, jadi hanya kita akan bermain catur, dan apa yang kau pertaruhkan?"

"Diriku sendiri."

Mendengar jawaban Naruto membuat semua siswa di dalam kelas terkejut, terutama Rias ia tidak tahu bahwa remaja ini mempertaruhkan dirinya, apa orang ini sudah gila.

Tapi dalam pikiran Rias, ia berpikir memilki beberapa budak mungkin sedikit menyenangkan.

"Baiklah, jika kau mempertaruhkan dirimu maka aku akan mempertaruhkan gadis ini, bagaimana?"

Rias mempertaruhkan lawan yang sudah dikalahkan nya tadi yang saat ini berubah status menjadi budaknya, sedangkan gadis loli itu matanya melebar terkejut akan tindakan yang di ambil Rias, air mata yang sudah ia tahan dari tadi kini mulai membasahi pipi mulusnya.

Sedangkan Naruto yang mendengar taruhan Rias tampak sedang berpikir dan melirik gadis yang menjadi taruhan Rias, kemudian menatap Rias dengan senyum meremehkan.

"Oke, aku setuju."

Rias yang melihat senyuman Naruto, membuatnya sedikit marah karena diremehkan, ia akan membuat Naruto menyesalinya

"Baiklah mari kita mulai."

Naruto maupun Rias segera duduk di bangku yang telah tersedia, di depan mereka telah tersedia papan catur yang telah disusun rapi.

Rias yang mendapat bidak putih mulai bergerak, pion telah di pindahkan begitu pula dengan Naruto ia juga mulai menggerakkan bidak caturnya.

Permainan yang awalnya tenang-tenang saja sekarang mulai memanas di mana Naruto melakukan beberapa kali check ke Rias yang membuatnya berpikir keras untuk mengantisipasi serangan dari Naruto.

Dan permainan terus berjalan, keadaan telah berganti Rias unggul dan Naruto tampak kesulitan. Namun itu tidak membuat Rias senang, pasalnya ia tidak menemukan raut wajah kekhawatiran di wajah lawannya. Melainkan senyum meremehkan itu makin lebar dan itu membuatnya muak.

Naruto yang melihat Rias menatapnya tajam menaikkan kedua sudut bibirnya.

"Ada apa Gremory-san, bukannya kau sedang diuntungkan, kau tidak perlu menatap ku seperti itu karena yang akan kalah bukan aku."

Mendengar perkataan Naruto hanya membuat Rias tambah marah apalagi suara-suara dari penonton.

"Hebat, orang itu terlihat santai menghadapi pergerakan Rias-senpai."

"Iya kau benar, keliatannya laki-laki itu belum serius."

"Hei, aku rasa Rias-senpai yang belum serius saat ini."

"Benarkah?"

"Apa iya, senpai belum serius?"

Raut wajah cantiknya telah hilang di gantikan raut wajah kemarahan, rahangnya mengeras, hingga akhirnya Rias menghembuskan nafas menenangkan dirinya sendiri.

"Kau pikir aku kau bisa menang dari situasi sekarang kuning tai, tentu saja tidak!"

Suara Rias agak dikeraskan sambil menggerakkan rook miliknya sambil menatap Naruto dengan sinis.

Naruto yang dimelihat gerakan Rias hanya tersenyum tipis dan menatap Rias kemudian mengangkat knight miliknya.

"Kau kalah gadis tomat, inilah yang terjadi jika kau merehkan lawanmu, checkmate!"

Semua orang terkejut melihat Rias dikalahkan oleh remaja itu. Tidak ada satupun suara yang keluar, semuanya hanya terdiam. Naruto melirik sebentar sekelilingnya yang saat ini ikut terdiam kemudian menatap Rias dengan pandangan bosan.

Berbeda dengan Naruto, Rias saat ini syock dengan mata melebar.

"A-aku ... k-kalah!Tidak mungkin, o-orang ini mengalahkan ku," batin Rias menatap nanar ke arah papan catur.

Sreet!

Rias yang mendengar decitan kursi didepannya kini menatap Naruto yang berdiri dari kursinya yang menatap dirinya dengan pandangan bosan.

Naruto yang ditatap oleh Rias langsung berjalan dan mendekati Rias membisikkan sesuatu di telinganya.

"Bersyukurlah karena bukan dirimu yang menjadi taruhan, seandainya dirimu aku pasti akan membuat mendesah semalaman."

Rias yang mendengar bisikan Naruto melebarkan matanya.

Naruto perlahan menjauh dari Rias dan berjalan keluar kelas menghampiri siswi yang dari tadi hanya berdiam diri didekat pintu kelas.

"Selamat atas kemenangan perdanamu, Uzumaki-san," ucap Sona melihat Naruto berjalan mendekatinya.

Naruto yang mendengar ucapan Sona membalasnya dengan senyum tipis.

"Ayo pergi, aku sudah selesai," ucap Naruto berjalan melewati Sona.

Mereka pun menuju ke tujuan awal, selama perjalanan mereka hanya dihiasi dengan keheningan

~•~

~~•School of Freedom•~~

~•~

At Rias

Selepas perginya Naruto, Rias meratapi kekalahannya. Ia kalah hal itu sungguh memalukan baginya, dilihat secara langsung oleh orang lain bagaimana ia kalah itu sangat memuakkan.

"A-aku kalah ...,"

Tatapan matanya tertuju pada papan catur di bawahnya, lebih tepatnya pada posisi king-nya yang di checkmate oleh Naruto tadi dengan bidak knight-nya.

"... Tunggu! Dari mana datangnya bidak knight ini, kenapa aku tidak memperhatikannya. Jangan-jangan sedari tadi, orang itu-".

"Hei, bukankah tadi itu, fuku-kaichou?"

"Ya, apa yang dilakukannya bersama orang itu?"

"Apa mereka saling kenal?"

"Atau jangan-jangan dia dari tadi melihat pertandingan Rias-senpai dengan orang itu?"

Terdengarlah suara-suara tentang hubungan murid baru itu dengan fuku-kaichou yang membuat ribut seisi kelas.

Rias yang mendengar perkataan tentang adanya Sona yang melihat dirinya kalah membulatkan matanya.

"Bagaimana ini? Sona melihatku kalah," batin Rias takut jika Sona melaporkannya ke seito-kaichou, ia harus membuat alasan yang kuat agar ia tidak kehilangan kehidupannya di sekolah ini.

Back to Naruto

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju.

"Wah, gedungnya besar juga, ya!" ucap Naruto menatap kagum gedung asrama tua yang akan ditinggalinya untuk beberapa hari ke depan.

Gedung yang terletak di tengah-tengah hutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi. Gedung ini berjarak kurang lebih 150 meter dari gedung utama sekolah yang di hubungkan dengan jalan setapak, ukuran gedung ini cukup besar untuk menampung seluruh pengajar sekolah ini walaupun hanya terdiri atas dua lantai.

"Apakah gedung ini tidak sesuai dengan ekspektasi mu?"

Ia menggeleng mendengar pertanyaan Sona yang membuat Sona menaikkan satu alisnya.

"Yah, aku hanya tidak menyangka gedung ini kurang layak disebut asrama tua, dan juga...," Naruto menoleh kearah Sona yang menunggu lanjutan perkataan nya.

"Aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya," lanjut Naruto menatap iris violet milik Sona dengan senyum tipis.

Sona yang ditatap seperti itu hanya menunjukkan raut wajah datar seperti biasa.

"Baiklah, kalau sudah tak ada yang ingin ditanyakan lagi, permisi."

"Ok, sampai jumpa besok, Sitri-san."

Setelah beberapa langkah ia berhenti dan berbalik menatap Naruto. "Oh, jika ada yang ingin kau tanyakan lagi atau kau perlukan silahkan datang ke ruang OSIS di lantai tiga. Kami akan melayani segala keperluan siswa di sekolah ini."

"Baiklah, dan terima kasih atas bantuan mu tadi, Fuku-kaichou."

Naruto sedikit mengubah nada bicara menjadi agak formal yang membuat Sona sedikit mengerutkan keningnya.

"Itu sudah menjadi kewajiban ku."

~•~

~~•School of Freedom•~~

~•~

Ruang OSIS

Di salah satu meja kerja yang berada di dekat jendela terlihat seorang wanita berambut putih panjang duduk di sofa membaca berkas tentang siswa pindahan yang baru sampai di ruang OSIS.

"Akhirnya kau datang juga, Naruto-kun," ucap gadis misterius itu dengan seringai kecil terpampang jelas wajahnya.

~•~

~•~

~•~

TBC

Yosh... Apa kabar Minna-san?

Haha, bertahun-tahun nggak up fic ini, 2 tahun kah? Yah, kira-kira segitu, maybe... oh iya, fic ini ane remake yah, soalnya penulisan ane waktu itu masih newbie (blm tahu apa-apa, asal nulis dong... Yah, walaupun masih sama sih T_T), nah sekarang ane remake nih, gimana ceritanya? Dah bagus nggak? Penulisannya juga gimana?

Oh, dah satu hal lagi nih dari ane, secara pribadi sih...

Ugh, berat untuk mengatakannya... Sebenarnya ane berniat pensi atau mungkin hiatus. Yah, walaupun belum sempat namatin satu cerita pun, huhuhu betapa menyedihkannya T_T ... tapi masih sekedar niat sih.

Tergantung ke depannya kek gimana, Wallahu A'lam...

Ehemk, Lupakan rengetan di atas...

Mungkin yang sudah baca fic ini sebelumnya akan merasakan banyak perbedaan, yah karena emang beda, ahahaha...

Dah lupakan... Sampai jumpa di next chapter!

~Rain-san Out~

Next chapter : Slave and King