Daiya No A belong to Terajima Yuuji

...saya tidak menerima keuntungan apapun selain kepuasan diri dalam membuat fic ini...

Miyuki Kazuya/Sawamura Eijun

Omegaverse au


Prologue.

Bocah 12 tahun itu mendengus, memandang sawah-sawah juga gunung yang menjulang disisi jalan dengan jenuh. Tiga jam lebih total yang ia lakukan hanya melamun. Tidak antusias seperti kebayakan anak-anak yang diajak liburan oleh keluarga.

Oh, apakah ayahnya yang duduk di samping pengemudi bilang ini liburan? Nah, tidak juga. Ia ingat kepala keluarga dalam rumah besarnya itu mengatakan soal 'menjemput'. Entah apa–siapa–yang akan di jemput pun, ia tidak tahu. Dirinya hanya mengiyakan saja ketika Sang Ayah sudah bertitah.

"Kita sudah hampir sampai, Tuan."

Miyuki Kazuya, bocah itu untuk kali pertama selama perjalanan menoleh begitu mendengar si supir berkata. Ia menghela napas, setidaknya Kazuya tidak perlu lebih lama lagi memandang bosan jalanan pedesaan yang mereka kunjungi.

Mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang dihalamannya terhias berbagai macam bunga yang tumbuh subur nan segar. Tampak tenang dan juga asri.

Begitu turun dan memasuki pekarangan rumah, Kazuya dapat mencium wangi bunga yang semerbak. Tipikal wangi yang menenangkan. Membuat bocah itu sempat terdiam untuk beberapa saat jika saja ayahnya tidak memanggil agar Kazuya bersegera mendekat.

Pintu kayu diketuk perlahan. Beberapa sekon setelahnya, pintu terbuka. Seorang wanita muda yang awalnya tersenyum ramah, mendadak menegang begitu mendapati Kazuya dan sang ayah di depannya.

"M-Miyuki-san..." untuk sesaat, Kazuya ikut tertegun. Ia ingat siapa wanita ini. Wanita yang sempat ayahnya–Miyuki Toku–perkenalkan padanya 5 tahun silam.

Kala itu usianya baru tujuh tahun, sambil digandeng ibunya, ayah Kazuya memperkenalkan wanita–yang seingatnya bernama Sawamura Saki–padanya. Istri kedua si ayah yang anehnya ibu Kazuya terima saja. Menerima dengan tangan terbuka seolah bertemu kerabat lama.

Hanya saja Saki tidak tinggal lama. Satu tahun setelahnya, wanita itu memilih untuk kembali ke kampung halaman untuk alasan yang sampai sekarang tidak Kazuya ketahui. Karena satu tahun itu ia habiskan dengan tinggal di rumah neneknya di London.

Dan, hei—untuk beberapa alasan, Kazuya cukup kesal. Normalnya ketika ada tamu berkunjung, yang kita lakukan adalah mempersilahkan mereka untuk setidaknya masuk dulu kan? Namun, Saki sama sekali diam tanpa membuka lebih lebar pintu sejak menggumamkan marga keluarganya.

"Saki aku‐"

"Untuk alasan apa Anda sampai datang kemari?" Saki mencela perkatakaan Toku sebelum selesai.

"Kau pasti tahu apa tujuanku kemari, Saki."

Raut wanita itu tampak lebih tegang, terbukti dengan pengangannya pada gagang pintu yang menguat. Menghela napas, Saki tampak mencoba mengelak. "Tapi kau pasti tahu bahwa tidaklah bijak apabila memisahkan anak usia 4 tahun dari ibunya Miyuki-san."

Toku menghela napasnya, "Karena itulah aku kemari. Aku memintamu untuk kembali tinggal bersama–tapi sebelum itu, bisakah aku dan Kazuya masuk terlebih dulu? Tidak baik rasanya berbicara didepan pintu seperti ini. Kau membuatku terlihat seperti penjahat."

Saki terdiam sejenak, tampak menimbang sebelum akhirnya membuka pintunya dan mempersilahkan masuk, membuat Kazuya mendengus kecil, kakinya cukup kram karena berdiri terlalu lama.

...

Duduk di atas tatami yang tersedia, Kazuya memutuskan untuk mengamati sekeliling. Ruang tamu ini terhitung sempit, bahkan ukurannya tak lebih dari setengah luas kamar mandi di kamarnya dengan beberapa frame foto perkembangan bayi hingga balita tersusun di dinding—yang jujur saja membuat Kazuya sempat melamun, tergiur untuk memandang lebih lama balita dalam foto yang Kazuya kira berusia 4 tahun itu tersenyum bagai bunga mekar.

Udaranya cukup pengap andai kata kipas angin yang digantung tepat di atas meja ditengah ruang tidak menyala. Yah, jangan salahkan penilaian Kazuya, salahkan saja hidupnya yang serba enak dan berlebih kecukupan.

Saki datang dengan membawa dua gelas ocha hangat dan satu gelas cokelat di nampan. Meletakkanya pada meja sebelum ikut duduk berhadapan dengan ayahnya.

"Maaf, aku hanya terkejut mendapati kau berkunjung kemari setelah sekian lama." Saki membuka percakapan, mempersilahkan Toku dan Kazuya untuk meneguk air yang ia bawa barang seteguk.

Toku hanya tersenyum dan menggeleng maklum sementara Kazuya langsung menegak cokelat yang disajikan. Apa boleh buat? Dia kehausan dan pemilik rumah juga sudah mempersilahkan.

"Putramu sudah lebih besar sejak terkhir kali aku dan Erika datang berkunjung." Toku berujar sambil mengamati foto yang terpajang di dinding sementara Kazuya sudah sibuk dengan PSP yang sempat ia selipkan di saku celananya. Mengabaikan si ayah mengobrol entah apa dengan istri–atau ibu–keduanya.

"Heum, Ei-chan tumbuh dengan sehat." sorot keibuan memancar dari mata wanita itu ketika menjawab. "Ah, dia sedang tidur jika kau bertanya." lanjutnya tanpa diminta.

Toku mengangguk maklum. "Yah, tidak apa. Lagipula salahku karena datang berkunjung ketika menjelang malam begini. Oh, aku bahkan tidak sadar sudah pukul 5 sore sekarang." ujarnya sambil tertawa kecil ketika melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Hening untuk beberapa detik ke depan. Sebelum suara langkah disusul muncul bicah mungil dengam boneka tanuki yang dipeluk erat dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap mata lugu.

"Ugh, Kaa-chan dimana?"

Tiga kepala langsung menoleh mendengar suara imut khas anak kecil itu terdengar. Saki langsung berdiri, menghampiri balita itu untuk kemudian menggendongnya dan kembali ketempat semula ia duduk. "Ei-chan sudah bangun? Mau susu?"

Balita manis itu menggeleng dan mengalihkan arah lirikan matanya pada dua orang asing dihadapannya. "Kaa-chan, siapa yang berkunjung? Eijun belum pernah bertemu mereka."

Saki tersenyum kaku, bingung mesti menjawab bagaimana, karena ia sendiri tidak yakin dengan jawaban yang akan ia berikan pada putranya.

"Eum, Ei-chan memang pertama bertemu dengan Otou-chan dan Nii-chan. Mereka datang dari jauh, ingin bertemu Ei-chan."

"Otou-san? Nii-chan?" balita itu mengedip beberapa saat sebelum raut mengantuk hilang total diwajah bulatnya. Digantikan dengan senyum cerah yang terbit dan melompat berlari untuk memeluk Toku.

"Otou-chan! Eijun rindu Tou-san!"

Sementara Sawamura Eijun berceloteh ini-itu dipangkuan Miyuki Toku, Kazuya hanya mematung dengan layar PSP yang menampilkan bahwa game yang mainkah sudah kalah. Fokusnya beralih pada Eijun yang tampak lugu dan terus tersenyum ketika berceloteh.

Senyum balita itu bagai hanaemi bagi Kazuya. Begitu indah dan cantik. Selayaknya bunga musim semi yang bermekaran dengan eloknya. Membuat pikiran eogis muncul dalam benaknya,

bahwa ia ingin memiliki senyum itu untuk dirinya sendiri

Kazuya buru-buru menggeleng, mengusir pikiran itu jauh-jauh dari benaknya. Apa-apaan! Eijun seharusnya adikknya bukan? Kenapa pula pikiran seperti itu mendadak muncul.

Menghela napas, omong-omong Kazuya mulai merasa pusing ketika mencium bau wangi entah dari mana. Ia cukup pintar untuk mengetahui bahwa bau ini merupakan feromon milik omega—oh, atau mungkin ini feromon milik Sawamura Saki, mengingat wanita itu adalah satu-satunya omegadisini.

Ketika Kazuya sibuk dengan pikirannya, sepasang tangan mungil mendarat di masing-masing lututnya. Membuatnya mendongkak dan menemukan mata bulat bernetra emas yang berbinar menatap kearahnya. Kazuya lagi lagi terpaku.

"Keren! Eijun punya kakak!" balita tersebut berseru gembira. Sepasang tangan mungil berpindah pada pipi Kazuya. Menepukkannya dan memeluk leher Kazuya erat-erat setelah meloncat keatas pangkuannya. "Eijun senang bertemu Nii-chan!" serunya sambil mendusal kan kepala kecilnya pada perpotongan leher kazuya.

Pihak yang bersangkutan belum bergeming. Masih terkejut atas perilaku mendadak Eijun padanya. Ditambah, kepalanya terasa makin pusing sekarang.

'ck, kenapa baunya semakin kuat?'

Meski begitu, pada akhirnya Kazuya balas memeluk kaku tubuh mungil Eijun. Mengusap kaku pula punggung kecilnya dan bergumam bahwa ia juga senang bertemu Eijun.

Kini gantian Kazuya yang Eijun lontarkan celotehan gembiranya sementara Saki dan Toku tertawa geli. Kendati Kazuya tidak sepenuhnya mendegar celoteh Eijun karena pusing yang dirasa semakin menjadi-jadi. Bocah itu hanya sesekali mengangguk dan tertawa paksa untuk menanggapi celotehan Eijun.

"Ano, Oyaji, Saki-san, boleh aku keluar sebentar? Ingin cari udara segar." Sebuah alibi. Tidak mungkin juga Kazuya terang-terangan bahwa ia cukup merasa terganggu dengan aroma feromon milik Sawamura Saki. Meski baru umur 12, Kazuya tahu apa itu sopan santun.

Saki dan Toku bersitatap sebentar sebelum mengangguk. "Baiklah, ajak Eijun sekalian. Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Ibu sambungmu. Jangan terlalu lama juga, mengingat hari mulai gelap."

Kazuya berdeham sebagai jawaban. Beranjak berdiri dan menggandeng tangan Eijun untuk segera keluar menuju halaman depan, setidaknya aroma segar bunga disana pasti bisa sedikit melegakannya.

...

Sejak umur 5 tahun, Kazuya sudah diajarkan secara privat mengenai apa itu second gender. Ia sudah lebih dulu paham apa itu alpha, beta, juga omega. Dan setiap kelahiran, bagi orang berdarah bangsawan, Kazuya sudah mendapatkan hasil testnya sejak umur 1 tahun. Didukung gen kuat keturunan Miyuki juga orangtua yang sama-sama alpha dominan, maka tidak heran jika Kazuya juga lahir sebagai alpha dominan pula.

Kazuya juga tahu apa itu rut dan heat. Apa penyebabnya dan bagaimana pula peredaannya. Hanya saja, apa yang sedang terjadi sekarang?

Tidak ampuh. Tidak peduli diluar pun, Kazuya masih merasa pusing. Malah tubuhnya mulai panas dan Kazuya paham dengan benar bahwa udara malam di Nagano lebih dingin dibanding Tokyo. Padalah ia yakin bahwa jaraknya dengan Saki yang notabene seorang Omega sudah cukup jauh untuk bisa tercium.

Rut kah? Kazuka menggeleng. Tidak mungkin. Kazuya yakin tidak ada omega yang sedang heat tepat disekitarnya. Lalu kenapa badannya semakin lama semakin gerah? Tidak tahu. Kazuya kecil mulai linglung.

Eijun yang berjongkok sambil menjelaskan panjang lebar soal bunga-bunga pun tak dihiraukannya. Alih-alih menanggapi Eijun, Kazuya justru fokus pada tengkuk adik kecilnya yang terpampang jelas.

'Baunya bukan dari Saki-san.' Kazuya membatin sambil berjalan lunglai ke arah Eijun. Mendekap adiknya dari belakang dan mengendus dalam perempatan leher Eijun.

'Yah, ini bau yang kucari.'

Mata bocah 12 tahun itu menggelap. Terus mengendus leher Eijun dalam-dalam. Tidak dipedulikannya Eijun yang berseru protes karena merasa geli. Hingga ketika Kazuya menjulurkan lidahnya untuk menjilati leher mungil adiknya, Eijun memekik kaget. Berusaha menoleh dan membeku begitu mendapati tatapan gelap dan haus kakaknya.

Eijun kecil tidak mengerti. Balita mungil itu hanya bisa gemetar dan mulai terisak ketika Kazuka semakin gencar memberikan jilatan pada tengkuk lehernya. Sebelum akhirnya, ketika secara tiba-tiba Kazuya menekan kepalanya agar bersujud di tanah, Eijun mulai menjerit menangis ketakutan. Dan teriakankanya makin keras katika merasakam gigitan pada belakang lehernya.

Eijun kecil menangis lebih keras, memohon pada Kazuya agar melepaskan gigitanya dengam segera.

Tangisan Eijun cukup keras–bahkan terlalu keras–untuk terdengar dari dalam rumah. Didorong rasa panik dan khawatir, Saki juga Toku bergegas menuju halaman depan.

Begitu mengetahui apa yang terjadi, Saki jatuh terduduk dengan kedua tangan ya g menutup mulut dan hidungnya. Meski masih kecil dan duduk di bangku kelas 6 SD, feromon dominan yang dikeluarkan Kazuya sangat kuat. Membuat wanita omega itu tak bisa apapun walau hati berteriak untuk segera menyelamatkan putra kecilnya yang meraung kesakitan.

Sementara Miyuki Toku mematung. Terlampau terkejut dengan apa yang dilakukan putra sulungnya. Ketika alpha sedang 'menandai' pasangannya, tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu alpha itu sendiri melepaskan gigitanya atau si pasangan akan terluka.

Karena itulah, Miyuki Toku hanya bisa terdiam sambil berharap bahwa Kazuya segela melepaskan Eijun.

Pada akhirnya, Kazuya melepaskan gigitanya dan ambruk disamping tubuh mungil Eijun yang sudah tak sadarkan diri. Begitu Toku dan Saki yang tertatih mendekat, dua orang dewasa itu hanya bisa terdiam sambil menutup mulut tak percaya melihat luka di tengkuk Eijun.

Bekas gigitan melingkar yang terdapat bentuk persegi miring ditengahnya.

—tanda mate atau istilah 'kepemilikan' sudah terlukis pada tubuh Sawamura Eijun pada usia 4 tahun.


"Alasan mengapa aku memilih pergi setelah kelahiran Eijun dan sebelum kedatangan Kazuya adalah

karena Ei-chanku memiliki hasil testnya, Miyuki-san. Karena Eijunku adalah seorang omega

Sebab itulah Miyuki-san. Tidak mungkin aku membiarkan putraku yang seorang omega dikelilingi oleh alpha dominan disekitarnya. Aku hanya ingin dia aman."


Yahoo:)

Saya baru di fandom ini, dan ini pula kali pertama saya menulis di karena sebelumnya saya lebih sering menulis di wattpat.

Suka sekali sama couple ini:3 dan nyesal karena baru tahu daiya no a baru baru ini:') Sudah banyak karya penulis lain yang saya baca sebenarnya, dan saya merasa bahwa saya juga perlu menukis tenatang mereka

yah, pokoknya mohon bantuan untuk kedepannya~~