Credit cover to artist / owner

Standard Disclaimer Applied

SHINIGAMI QUEEN

Akasuna Sakura, seorang dewa kematian yang dihukum hidup di dunia manusia tanpa kekuatan apapun, menggantikan Haruno Sakura, gadis yang mati bunuh diri saat akan dinikahkan politik dengan Uchiha Sasuke. Bagaimana nasib Sakura baru menghadapi politik kerajaan penuh intrik itu?

.

.

Don't Like Don't Read!


Akasuna Sakura menatap tajam ke arah sebuah tubuh yang tergolek lemas tak bernyawa. Bisa ia lihat di sekitarnya, orang-orang nampak sibuk hendak menyiapkan sebuah prosesi pemakaman.

"Sakura Haruno, dia ... benar-benar mirip denganmu." Ino Yamanaka membuka suara mengomentari.

"Hum, aku mendadak seperti becermin."

"Entah apa yang dipikirkan Kami-sama saat menciptakannya."

"Yah, bahkan namanya sama denganku, apa ini memang takdirnya?"

"Mungkin. Jadi, kau menunggu apa? Langsung saja, sebelum orang-orang benar-benar menguburnya."

"Ck, masuk ke dalam tubuh manusia lalu menjadi seorang manusia, makhluk yang fana, penghinaan apa yang lebih buruk dari ini?!"

"Cepatlah, kita diburu waktu."

"Rasanya lebih baik aku dihukum kurungan daripada dihina seperti ini."

"Sakura, cepat sebelum portalnya menutup. Simpan omelanmu nanti."

Sakura mendengus, menarik napas sejenak dan menatap lamat ke arah tubuh itu, detik selanjutnya ia benar-benar sudah berada dalam tubuh gadis yang bagai kembar identik dengannya. Menggantikan gadis itu untuk menjalani dunia manusia yang fana.

Ino yang merasa Sakura sudah memulai hukumannya, segera menghilang dari tempat itu, keluarganya adalah bawahan dari keluarga Akasuna atau yang biasa dikenal sebagai keluarga para Dewa Kematian. Saat ini, ia ditugaskan menemani Sakura menjalani kehidupan manusianya dengan menjelma menjadi pelayan seorang tuan putri Haruno.

Tak butuh waktu lama Sakura membuka matanya perlahan, bagai orang yang baru terlahir kembali, ia merasakan eksistensi penuh pada dirinya. Tapi baru saja akan membuka suara, ia tersela oleh dentingan logam yang jatuh ke lantai. Ternyata dari sebuah baskom air kecil yang dijatuhkan oleh seorang pelayan.

"Nona Sakura, Anda ... Anda ... Oh Kami-sama, Anda hidup kembali?!"

Sakura tersenyum kecil sebagai balasan, pelayan itu kemudian heboh berlari memberi tahu yang lainnya. Dan tak butuh waktu lama segerombolan orang sudah berada di depan ranjangnya saat ini, menatap tak percaya ke arah dirinya yang nampak sehat dan bugar.

"Oh Kami-sama, syukurlah. Ini benar-benar sebuah mukjizat, putriku terbangun kembali," ucap seorang wanita paruh baya yang sepertinya ibu dari sosok Sakura Haruno.

Sakura hanya membalas dengan senyuman, bingung juga harus merespon seperti apa.

Tak lama kemudian seorang pria paruh baya datang dengan tergesa, lalu melangkah mendekat dan menatap lekat ke arahnya, "Sakura, ini ... benar-benar kau?"

"Eng, ya?"

"Bagus, untung saja kita belum memberitahu keluarga kaisar Uchiha, jadi pernikahan bisa tetap dilanjutkan," ucap pria itu, sepertinya dia pemimpin klan ini dilihat dari pakaian mewahnya.

Sakura mengernyit cukup dalam. Hei, putri mereka baru saja bangun dan sudah dihadapi situasi ini? Huh, yang benar saja manusia-manusia ini!

"Kizashi, Sakura baru saja bangun, apakah bijak seperti itu?"

"Tidak ada waktu! Jika tidak segera, maka kesempatan kita menjadi bagian dari kekaisaran Uchiha akan hilang."

Mebuki Haruno, ibu Sakura, terlihat akan membantah, tapi Kizashi langsung memberi tanda ia tidak mau diganggu gugat.

"Segera siapkan Sakura, sore ini kita langsung berangkat."

Semua orang di sana hanya bisa menunduk pasrah mendengar titah pemimpin klan mereka, melirik tak enak dan iba ke arah Sakura yang hanya diam tak berekspresi.

Dari pandangan itu Sakura tahu, kehidupannya sama sekali tak akan berjalan mudah.

.


SHINIGAMI QUEEN


.

Sakura menaiki tandu yang akan membawanya menuju kerajaan calon suaminya. Di sebelahnya duduk Ino Yamanaka yang sepertinya berhasil menjelma dan mengelabuhi ingatan beberapa orang kalau dia adalah salah satu pelayan Sakura Haruno.

"Kau ... padahal tidak perlu bertindak sejauh ini, kau bisa menolak perintah Sasori-nii," ucap Sakura memulai, di dalam tandu ini hanya ada dirinya dan Ino, keluarganya ada di tandu yang lain.

"Tidak, mana bisa aku membiarkan kau bersenang-senang tanpa aku," goda Ino. Mereka memang sudah bersahabat sejak kecil.

"Apa serunya menjadi manusia? Kau bahkan saat ini tidak memiliki kekuatan apapun kan, manusia sangat lemah."

"Yah, cari pengalaman lah hitung-hitung."

Sakura mendengus mendengar jawaban Ino. Netranya menerawang ke arah jendela tandu, menatap hamparan langit yang penuh bintang. Katanya besok pagi mereka baru akan sampai ke kerajaan Uchiha.

"No, kurasa sedikit banyak aku paham kenapa pemilik tubuh ini memilih bunuh diri."

"Eng?"

"Mendengar apa yang dikatakan seorang 'ayah' untuk putrinya yang baru bangun dari kematian, aku menjadi paham, politik untuk sebuah kekuasaan adalah segalanya."

"Ah ya, dunia politik manusia terkenal penuh intrik yang memuakkan."

"Bunuh diri tentu sebuah kesalahan, ia menentang apa yang digariskan Kami-sama. Tapi, kurasa aku bisa sedikit memaklumi gadis ini."

"Maksudmu lebih baik mati daripada terjebak dunia politik kerajaan?"

Sakura menghela nafas pelan, "Entah, aku juga tidak yakin. Mungkin kurang lebih begitu. Dan juga, aku tak sempat mengecek data kematian gadis ini karena terburu waktu. Tapi yang kudengar, dia diam-diam bunuh diri dengan racun, keluarganya tidak tahu dan mengira dia mati karena sakit."

"Ah, dan ironinya begitu gadis itu terbangun, keluarganya malah meributkan pernikahan. Haha, menyedihkan."

"Kurasa jika gadis ini memang diberi kesempatan hidup lagi, dia akan bunuh diri lagi, sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Bisa-bisa hukumanku diperberat," keluh Sakura dengan helaan napas memberat di ujung kalimatnya.

Ino mengangguk setuju, Sakura kembali menghela napas sekali lagi. Karena sebuah kesalahan, ia yang sebenarnya seorang Dewa Kematian, dihukum menggantikan Sakura Haruno yang notabenenya seorang manusia untuk menikahi Sasuke Uchiha. Dan hukumannya akan berakhir saat pria itu menutup matanya untuk selamanya. Entah kapan hal itu terjadi, tapi biasnya kaisar hidup dalam waktu lama di bawah anugerah para dewa.

Yah apapun itu, lihat saja bagaimana takdir akan membawanya.

.


SHINIGAMI QUEEN


.

Matahari baru saja menampakkan sedikit sinarnya. Saat ini, belum bisa sepenuhnya disebut sebagai pagi, fajar lebih tepatnya. Dan klan Haruno, baru saja sampai di kerajaan Uchiha. Kini mereka sedang bersiap diri di paviliun yang disediakan. Pagi nanti saat matahari sudah mulai naik, baru upacara pernikahan akan dilaksanakan.

Ini bukan upacara pernikahan besar. Hanya upacara ritual janji di sebuah kuil. Jika kau tanya mengapa, itu karena Sakura hanyalah salah satu gadis baru yang akan menjadi selir kaisar Uchiha saat ini. Ditambah fakta bahwa Haruno adalah keluarga kecil, jadi tidak ada alasan untuk terlalu bermewah diri.

"Wah, Dewa Shi bisa patah hati jika melihatmu seperti ini, hahaha," tawa Ino terdengar cukup nyaring saat membenarkan kimono putih sederhana milik Sakura.

"Hahaha, apaan sih. Daripada itu, kau sudah mendapat informasi yang kuminta?"

"Yah, yang kutahu, kaisar biasanya memiliki bayak selir, dan saat upacara kedewasaan diusia 25 tahun nanti, dia akan memilih satu orang untuk jadi permaisuri. Wanita yang beruntung itu akan jadi ratu, saat ini para selir berusaha keras menarik perhatian Sasuke," jelas Ino panjang lebar dan diakhiri dengan menyebut nama Sasuke tanpa embel-embel kaisar, paduka, atau semacamnya. Toh sebenarnya ia jauh lebih di atas Sasuke. Ayolah, mereka itu para dewa.

"Aku tidak mengerti apa untungnya. Persaingan pasti kotor dan penuh niat terselubung, aku akan fokus menyenangkan diriku sendiri saja."

"Wah, apa kau tidak punya sedikitpun hasrat?"

"Entah."

"Ck, dasar! Kudengar, dia cukup berbeda dari kaisar sebelumnya dalam hal ini. Biasanya para kaisar akan menumpuk selir dari golongan manapun. Tapi si Sasuke ini, dia hanya menikah dengan wanita yang memang dibutuhkan dalam hubungan kerjasama antar klan."

"Jadi Ino, maksudmu dia bukan pria yang mengedepankan nafsu wanita?"

"Antara ya dan tidak. Aku tidak yakin, istrinya hanya ada tiga saat ini, Hyuga Hinata, Mikura Shion, dan Sabaku no Temari. Dan kabarnya, semua diperlakukan sama, ada yang bilang Hinata sedikit spesial."

"Aneh, kenapa tidak yakin? Ya atau tidak?"

"Ya, karena dia bukan tipe pengoleksi selir dan juga tidak, karena kabarnya Sasuke pria yang cukup bergairah dengan wanita. Hanya saja, ia terlihat terlalu sibuk untuk bermain-main."

"Oh, dan berapa lama lagi dia berumur 25 tahun?"

"Satu setengah tahun lagi. Dan apa Kau yakin? Padahal kurasa kau bisa menarik perhatiannya."

"Kau tau sendiri kan aku ini apa dan siapa. Keluargaku, Akasuna, selalu dipandang mengerikan, tidak banyak yang mau berhubungan dengan kami. Aku adalah salah satu anggota Dewa Kematian, yang sangat ditakuti semuanya. Aku tidak dididik untuk merasakan perasaan seperti itu. Terlalu banyak melihat kematian dan kesengsaraan, sepertinya hatiku sudah ikut mati, hahaha."

Sakura tertawa hambar dan Ino hanya diam memandang datar, Akasuna atau kematian, selalu dikenal sebagai sosok tak berhati, penuh ego, dan kekejaman. Tapi ia tahu, Sakura tidak sepenuhnya seperti itu. Jika tidak, mana mungkin ia melanggar peraturan melawan garis umur seseorang.

Karena menyelamatkan seorang ibu dan melawan garis takdir, ia jadi dihukum seperti ini. Kalau memang ia tidak berhati sebagaimana dewa kematian di luar sana, seharusnya ia memilih cuek saja.

Crek!

Suara pintu kayu digeser memenuhi indra pendengaran. Seseorang masuk dan mengatakan upacara akan segera dimulai. Sakura dan Ino mau tak mau segera beranjak dari tempat mereka dan menuju kuil berukuran sedang yang terletak di dalam kastil Uchiha. Tepatnya, di area belakang kastil, di dalam sebuah hutan kecil buatan.

Sesampainya di sana, bisa mereka lihat semua sudah siap dan tinggal dimulai saja. Sakura kemudian di tempatkan di sebelah keluarganya, bersama Ino yang setia berdiri di belakangnya.

"Beri salam hormat pada Kaisar Uchiha," ucap Kizashi memulai.

Dan bisa dilihat semua mulai menundukkan badan tanda memberi hormat kepada seorang kaisar. Sakura mengernyit, apa ia juga perlu menunduk? Seumur hidupnya ia tidak pernah menundukkan kepala pada orang yang lebih rendah statusnya daripada dirinya.

"Hei, cepat menunduk," bisik Ino.

"Kau gila? Untuk apa? Dia yang seharusnya memberi salam padaku."

Ino merotasikan aquamarinenya, "Ingat dirimu sekarang, kaisar adalah yang paling tinggi derajatnya un—"

"Ta—"

"Untuk ukuran dunia manusia," sela Ino cepat sebelum Sakura bisa membantah. Akhirnya gadis musim semi itu hanya bisa mendecak kecil dan dengan berat hati ikut menundukkan kepalanya memberi salam.

Selanjutnya ritual upacara pun dimulai. Sakura dan Sasuke berdiri berhadapan di sebuah altar dengan seorang biksu yang membacakan sebuah janji-janji. Entah janji atau doa apa, Sakura tidak terlalu ambil pusing.

Netra klorofil gadis kembang gula itu kini lebih memilih menatap lurus jelaga malam milik Sasuke dan mendadak sedikit terpana dengannya. Parasnya menyaingi ketampanan para dewa, batin Sakura saat itu.

Sedangkan Sasuke sendiri, hanya menatap lurus dan datar. Tidak ada emosi apapun di dalam sorotnya. Benar-benar tak terbaca.

Setelah membacakan beberapa janji, biksu meminta kedua pasangan itu untuk berikrar dan diakhiri mempelai wanita yang menyentuhkan telapak tangan ke telapak kaki suaminya sebagai sebuah tanda patuh dan meminta berkah.

"Nona Sakura, silahkan sentuh telapak kaki suami Anda, Yang Mulia Kaisar."

Sakura terkaget di tempatnya, menjaga mati-matian agar ia tidak sampai melongo sakit terkejutnya.

Hei, apa-apaan itu?! Menundukkan badan ia masih bisa menerimanya, menyentuh kaki? Seorang dewa menyentuh kaki manusia? Yang benar saja, seluruh saudaranya di atas sana bisa menertawakannya tanpa henti nanti.

"Ekhem, Nona Sakura?" tanya biksu pelan, menatap sedikit takut ke arah Sasuke yang kini menatap tajam gadis di depannya.

Sakura menghela napas kasar, menyumpahi siapapun yang membuat ritual seperti ini. Sial, apa ada hukuman yang lebih buruk dari ini? Bahkan para dewa pun jika melihat keluarga Akasuna akan merasa terintimidasi oleh aura pekat mereka. Harga dirinya benar-benar hancur sudah.

"Semoga diberkati," ucap Sasuke datar tanpa emosi.

"Semoga diberkati," lanjut biksu begitu Sakura sudah selesai melakukan kegiatan penutup ritual.

Sasuke menatap heran ke arah Sakura. Jika wanita di luar sana berebut ingin bersentuhan fisik dengannya, dia malah seolah-olah merasa jijik. Yang benar saja gadis aneh ini.

Setelah semua rangkaian kegiatan selesai, para anggota kerajaan yang hadir kembali ke tempatnya masing-masing. Tidak ada pesta memang, karena pesta pernikahan baru akan digelar saat permaisuri ratu dipilih nanti. Ironi dan mungkin juga aneh.

"Ayo adik Sakura, biar aku membantu mengantarmu ke paviliun sekarang," ajak seseorang tiba-tiba, yang Sakura ketahui sebagai salah satu istri Sasuke.

"Dia Nona Temari, istri ke tiga Kaisar," jelas Ino yang tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Sakura.

Temari tersenyum kecil dan sedikit menundukkan kepala sebagai salam perkenalan. Sakura yang melihat hal itu tentu membalas salam perkenalan Temari dan memutuskan untuk mengikuti wanita itu menuju paviliun yang akan menjadi tempat tinggalnya nanti.

"Adik Sakura," ucap Temari memulai.

"Uh, ya?"

"Selamat bergabung di keluarga ini. Mungkin kau akan terkejut, tapi aku akan membantumu adaptasi," suara Temari terdengar jernih dan ada kewibawaan di dalamnya.

Sakura menaikkan sebelah alisnya, menatap heran ke arah Temari, tidak ada niat jahat apapun yang bisa ia rasakan dari tubuh lawan bicaranya saat ini. Hei, bukankah mereka harusnya saling bersaing?

"Terimakasih Kakak. Tapi tak perlu repot-repot. Jujur saja, aku tidak benar-benar tertarik untuk itu, aku akan menikmati hidupku apa adanya."

Temari memelankan tempo jalannya, kaget juga mendengar pernyataan Sakura yang terlalu berterus terang. Sepertinya gadis musim semi itu cukup vokal, dan mungkin saja bisa dipercaya. Temari masih belum yakin sepenuhnya, tapi ia bisa merasakan kesederhanaan dalam keinginannya.

Asik dengan pikiran masing-masing, tak terasa mereka sudah sampai di paviliun tempat berkumpulnya para istri. Jika diamati sekilas, bisa dilihat ada cukup banyak bagian terpisah dalam paviliun. Mungkin ini seperti paviliun dalam paviliun. Seolah membentuk sebuah kompleks tersendiri.

Temari menghentikan langkahnya, menatap ke arah Sakura dan Ino di sampingnya, "Ada banyak paviliun di sini, kau bisa memilih yang kau mau, aku sarankan yang ada di sana, arah jam dua, itu baru saja diperbarui belakangan ini."

Sakura menatap ke arah bangunan yang terlihat seperti rumah tradisional kuno yang mewah dengan banyak sekat ruangan entah apa. Iris gioknya mengamati sejenak, sebelum kemudian memilih acuh dan mengiyakan saja, penting dia bisa istirahat, "Ah, kalau begitu aku ambil pavi—"

"Bicara apa kau?" sela suara yang muncul tiba-tiba.

Ino meringis kecil, sepertinya akan ada drama picisan setelah ini, "Salam untuk Hinata-san dan Shion-san."

Sakura hanya diam mengamati, tidak berniat mengucap salam seperti yang Ino lakukan, hanya berharap ia bisa segera bersantai ria di ruangannya.

"Kakak Temari, apa maksud Kakak memberikan paviliun depan untuknya? Bukankah kita sepakat meminta Sasuke-kun untuk menentukan siapa yang tinggal di sana," ujar Shion cepat.

Temari menghela nafas, "Kita sudah memiliki paviliun kita sendiri dan Yang Mulia terlalu sibuk hanya untuk mengurusi hal kecil seperti ini."

"Tetap saja tidak bisa, dia pendatang baru, harus mengikuti aturan yang ada dan menghormati yang lain." Hinata yang ambil suara kali ini, kalimatnya sudah macam orang bijak yang menjunjung keadilan.

Sakura menatap wanita yang berasal dari keluarga Hyuga itu singkat. Cantik, itulah yang dia pikirkan sebagai kesan pertama. Tapi sepertinya agak tidak waras, batinnya melanjutkan.

"Lalu, Anda ingin saya tinggal dimana?" tanya Sakura, berusaha berbicara formal karena mereka masih asing.

Memilih untuk mengalah adalah hal yang lebih baik saat ini. Itu karena, memperebutkan paviliun berposisi strategis dan memiliki bangunan yang bagus, bukanlah hal yang ingin gadis musim semi itu lakukan sekarang. Astaga, dia hanya ingin segera merebahkan diri dan bersantai.

Hinata bertukar pandang dengan Shion, lalu berujar, "Paviliun zeta."

Temari membelalakkan matanya, paviliun zeta adalah istilah untuk paviliun terpencil di bagian belakang, "Tidakkah itu berlebihan? Mengapa harus yang paling belakang? Ada banyak paviliun di sini."

Sakura mendengus pelan, begitupun Ino, kurang lebih mereka paham apa yang terjadi. Dua istri Sasuke itu tidak ingin Sakura menempati paviliun apik yang memiliki peluang besar didatangi kaisar. Dan mereka juga berniat mengucilkan Sakura dengan menaruhnya di ujung.

"Tidak apa, aku akan tinggal di sana." Sakura berujar tenang dan mengabaikan gaya bicara formalnya. Gadis itu menyentuh lengan atas Temari, berniat menghentikan perdebatan yang malas ia ikuti.

"Ah, dan satu lagi Nona Sakura, aku adalah pemimpin paviliun para istri untuk saat ini. Aku ingin kau melaksanakan adat penyambutan," ucap Hinata yang ikut berbicara nonformal, menghentikan Sakura yang akan bergegas bersama Ino.

"Adat?" Sakura dan Ino sedikit bingung, ada yang seperti itu memangnya?

"Iya, mencuci kakiku dengan air Sungai Kono sebagai bentuk bakti dan berkat."

Sakura terdiam di tempatnya, rahangnya mengeras dan tangannya terlihat mengepal. Hei, bukankah saat ini kedudukan mereka sama? Apa yang membuat ia harus mencuci kaki wanita itu? Sialan, yang benar saja! Ibu mertuanya, Mikoto Uchiha, bahkan tak meminta ia melakukan hal seperti itu.

"Lady Hyuga!" tegur Temari pada wanita cantik berperawakan anggun itu. Tapi mengingat ia hanyalan istri ketiga saat ini, ia tidak bisa melakukan apa-apa, hanya teguran ringan seperti itu yang bisa ia berikan.

Hinata tak menggubris. Senyum manis mengejek yang tercipta di wajah ayunya benar-benar membuat Sakura ingin mencabut nyawanya sekarang juga jika bisa. Ia akui temperamennya sebagai seorang Akasuna cukup buruk dan melihat orang sengaja mencari masalah dengannya, membuat gadis itu benar-benar kesal saat ini.

'Shannaro! Siapapun pinjamkan aku death-scythe untuk mencabut nyawanya! Sialan!' batin Sakura memaki.

Menghela napas pelan untuk menenangkan diri, Sakura akhirnya memasang satu seringai miring menantang sebelum kemudian berujar, "Hei Nona, kalau aku tidak mau melakukannya bagaimana?"

Senyum Hinata luntur seketika, digantikan tatapan amarah karena ditentang. Shion bahkan terlihat memberikan tatapan mengejek yang kentara.

Saat ini, Sakura baru saja mengibarkan bendera perang pada mereka. Dan dua istri Sasuke Uchiha itu, tidak akan membiarkan hidupnya tenang lagi.

.

TBC


Weird? I've warned u! Tbh, aku gak yakin apa ini layak dilanjut. Haha. Kalian boleh menuliskan review jika berkenan. Aku akan berterimakasih untuk itu. Oya, klo ada typo / miss, tolong dimaklumi. As always, diriku yang pemalas ga cek ulang ㅠㅠ.

Thanks for read! Have a really nice day pepps! Luv ya all ~