I LOVE YOUR DAD
WU YIFAN X KIM JONGIN
.
.
Ini bukan tentang sugar daddy apalagi pedofil
.
.
CHAPTER 28: Brother-Sister 2
Dua minggu sebelum acara wisudanya. Jongin dikabarkan kalau Otousan dan Okasan akan datang ke Beijing. Hanya selama tiga hari karena koleganya di Beijing ingin menjodohkan anaknya dengan Nana. Otousan bilang karena Nana ada di Beijing dan Jongin tidak ada urusan, lebih baik ia juga ikut datang. Fakta Nana pernah melakukan makan malam macam ini berulang-ulang tanpa protes, membuat Jongin hanya bisa mengikuti alur. Otousannya ini kenapa terburu-buru sekali menjodohkan Nana yang bahkan belum lulus kuliah.
Jongin melebarkan matanya saat orang tua pria yang akan dijodohkan dengan Nana muncul.
"Jongin?" ucap bakal calon mertua Nana. "Kau yang menjodohkan mereka berdua?"
Jongin menggelengkan kepalanya dengan pelan. Eh, sumpah dah kenapa begini? Kenapa sampai sejauh ini?
"Selamat malam." Suara itu yang membuat mata Jongin refleks melebar.
Nana juga tidak kalah kaget.
"Ini caraku menunjukkan keseriusanku."
Iya, ini Kyungsoo kawan-kawan.
..ILYD..
Ruang komunitasnya ini memang sepertinya tempat yang cocok untuk tempat bertengkar. Tidak hanya para pemilik komunitas. Minggu lalu anggota komunitas yang tidak begitu Jongin kenal juga bertengkar di sini. Sekarang gantian Kyungsoo dan Luhan. Mungkin karena hanya di sini mereka dianggap pasangan biasa bukan pasangan yang tidak normal dan tidak bermoral.
"Kenapa kau tidak menolak pertunanganmu?" Luhan bertanya dengan tidak habis pikir pada Kyungsoo yang hanya tersenyum kecil. "Kau tidak mencintaiku?"
Mendengar pertanyaan macam itu malah membuat Kyungsoo hampir tertawa. Jongin kali ini hanya bisa menonton, lagi pula sepertinya Luhan tidak tahu kalau calon tunangan Kyungsoo itu adiknya.
"Apa kau akan bertunangan dengan gadis yang kau ajak ke Dubai?" Luhan bertanya dengan lekat. Oh, masih perhatian ternyata Luhan ini. "Dengan gadis yang kau belikan gaun merah?" Luhan bahkan bertanya dengan suara bergetar. "Kau pergi bersama gadis dengan tiket yang aku berikan?"
Kyungsoo merogoh saku hoodienya dan memberikan tiket pesawat dan voucer hotel di atas meja bar. Kyungsoo juga menaruh tab berisi bukti yang tidak bisa Luhan bantah. Kyungsoo menatap Luhan dengan senyuman miring.
"Alasannya ada di sini," Kyungsoo mendorong kertas tiket dan tab pada Luhan. "Karena aku sebentar lagi akan bertunangan, jadi mulai saat ini aku keluar dari komunitas."
"Kau kenapa?" Luhan menarik lengan Kyungsoo. Kesan dramatis itu yang membuat Kyungsoo menepis tangan Luhan.
"Lihat dulu," Kyungsoo memberikan tabnya pada Luhan secara langsung. "Sudah aku kumpulkan semua alasanku."
Luhan melebarkan matanya saat melihat begitu banyak video yang ada di galeri tab Kyungsoo. Hanya butuh seperkian detik untuk Luhan paham, video macam apa yang ingin Kyungsoo tunjukan. Luhan juga dengan tatapan memohon kembali menggenggam tangan Kyungsoo.
"Aku sudah lihat semuanya," Kyungsoo mengatakannya dengan nada yang sangat tenang. "Kau bebas sekarang, maaf sudah membuatmu terperangkap."
Jongin melongo karena permintaan maaf keluar dari Kyungsoo. Maksudnya gini loh, kan Kyungsoo yang diselingkuhi. Kok malah dia yang minta maaf.
"Beri aku kesempatan." Luhan memohon dengan menyedihkan.
Jongin memalingkah wajahnya. Ia tidak mau melihat drama macam ini. Kenapa orang-orang suka sekali mempertontonkan hal macam ini. Kenapa Luhan sering sekali berada di posisi macam ini.
Tapi ucapan Kyungsoo yang membuat Jongin menatap sahabatnya itu dengan lekat. "Aku tahu kau masih menyukainya," Kyungsoo menepuk punggung tangan Luhan yang masih mencekram tangannya. "Buktinya kau tetap melakukannya walau pun sudah berjanji padaku," Kyungsoo berkata seolah ini bukan yang pertama kali. "Jadi aku juga bingung harus melakukan apa lagi," Kyungsoo mencoba melepas cengkraman Luhan. "Ge, kau juga tahu paksaan bukan hal yang menyenangkan apalagi jika itu berhubungan dengan perasaan."
Kyungsoo yang pergi tanpa bisa dicegat. Kini gantian Jongin yang menjadi sasaran kemarahan Luhan. Jongin sudah siap sih menerima tonjokan. Tapi Yifan yang tidak terima, kekasihnya jadi pelampiasan amarah.
"Berani-beraninya adik sialanmu itu merebut Kyungsoo dariku."
Tubuh Luhan sudah ditahan oleh Yifan. Tapi tidak ada satu pun orang yang menahan tubuh Jongin. Mendengar perkataan itu cukup membuat Jongin menarik Yifan untuk melepaskan Luhan. Hanya butuh satu ayunan kepalan tangan. Jongin membuat Luhan tersungkur.
"Jaga ucapanmu!" Jongin menghardik Luhan dengan keras. "Kenapa malah adikku yang salah?"
"Kalau adikmu tidak merayu Kyungsoo.."
"Ada apa ini?" Xiumin datang dan menghampiri Luhan yang masih dalam posisi tersungkur. "Kenapa kalian berdua?"
Xiumin membantu Luhan untuk berdiri.
"Aku yang harusnya bertanya, ada apa dengan kalian berdua?" Jongin tidak mau nama adiknya tercoreng karena mulut Luhan yang tidak terkontrol. "Saat kalian berpikir telah berhasil membodohi Kyungsoo, kenapa Gege tidak melihat fakta itu dan malah menuduh adikku?"
"Kami membodohi Kyungsoo?" Xiumin bertanya dengan nada heran. "Kemana Kyungsoo?" Xiumin mencoba mencari.
"Dia sudah keluar dari komunitas." Yifan yang menjawab pertanyaan Xiumin.
"Jangan ikut campur." Gertak Luhan pada Yifan yang mengangkat kedua tangannya. "Kau seharusnya tahu apa yang bisa aku lakukan pada adikmu?"
"Mengancam orang tuaku dengan video?" Jongin tersenyum miring. "Klasik," Jongin tertawa pelan. "Aku tidak masalah sama sekali jika pertunangan mereka gagal, tapi apa Kyungsoo akan kembali padamu?" Jongin menemukan Luhan masih tersenyum. "Kau tahu jawabannya."
"Tapi adikmu.."
"Bahkan jika reputasi adikku hancur, Kyungsoo pasti mau bertanggungjawab."
Jongin berlari berniat mengejar Kyungsoo. Niatnya ingin membuat Kyungsoo bertanggung jawab penuh dengan adiknya. Berkat ruang komunitas yang kedap suara, mereka semua tidak tahu kalau di luar tengah hujan. Jongin menemukan Kyungsoo tengah berdiri di luar gedung yang semakin sepi. Hampir semua anggota sudah masuk ke dalam ruangan.
Awalnya Jongin terkejut saat Kyungsoo berlari menembus hujan. Mau segalau apa pun, hujan-hujanan bukan style Kyungsoo. Tapi ternyata ada adiknya disebrang gedung merentangkan salah satu tangannya karena tangan yang lain memegang payung. Ya, harusnya Jongin marah saat melihat Kyungsoo dengan seenaknya memeluk adiknya. Sekilas Nana tampak mengusap wajah Kyungsoo yang basah sebelum kembali dipeluk erat oleh Kyungsoo.
..ILYD..
"Hidupku yang damai berubah riuh hanya karena menginjakkan kaki ke Beijing," Nana tengah menggosok rambut Kyungsoo yang basah dengan handuk. "Perkara wajah mirip kakak, tangan dan kakiku jadi incaran Triad, Kyungsoo yang suka padaku, malah reputasiku yang diujung tanduk." Nana sampai terkejut dengan ancaman Luhan yang terdengar berbahaya.
"Reaksimu santai ya?" Yifan menatap Nana yang masih sibuk dengan handuk. Sedangkan Kyungsoo sejak tadi meremas pinggang, ah tepatnya meremas baju Nana. Bukan takut Nana pergi, seperti tengah menahan diri untuk tidak memeluk Nana di depan kakaknya yang dalam mode setan.
"Tidak juga, sekarang aku sedang membayangkan amukan Otusan." Nana menatap calon kakak iparnya dengan nada mengeluh.
"Belo, kau harus bertanggung jawab."
"Aku tidak hamil ka," Nana berkata dengan begitu polosnya hingga membuat Yifan tertawa keras. Tsk, Nana bercanda, muka Jongin serius banget. "Mudah-mudahan Otousan dan Okasan setuju."
"Kyungsoo itu suka pria juga loh!"
"Tidak masalah," Nana menjawab dengan mengangkat bahu. "Setidaknya aku bisa istirahat dari acara makan malam yang kaku seperti kemarin," Nana mengerenyit ketika kakaknya bercakak pinggang. "Doushite?"
"Aku mulai heran dengan pemikiran wanita jaman sekarang," Jongin jadi ingat dengan Ariela. "Kalian tuh kenapa punya mental siap disakiti?"
"Tahu nasihat bijak ini ka?" Nana berdeham dengan berlebih sebelum berkata. "Aku sudah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia," Nana mengatakannya sambil menatap kakaknya dengan serius. "Kalau ingin bahagia, jangan pernah berharap orang lain akan membahagiakanmu."
"Sepertinya kau trauma setelah berpacaran dengan si Hosuto." Jongin mengejek.
"Mentalku rusak gara-gara kejadian itu," Nana berdecak pelan. "Dipermalukan oleh ayah sendiri di acara keluarga dengan membongkar identitas mantan pacarku, tapi berkatnya juga membuatku tidak masalah menjalani hubungan dengan pria yang pernah berhubungan dengan pria."
"Apa kau pura-pura hamil saja, biar kita langsung nikah."
Kyungsoo sekalinya ngomong bikin semua orang jantungan. Tapi tatapan mata Kyungsoo membuat Nana tersenyum miring.
"Ide bagus sih." Sahut Nana kalem.
"Adek!" Dan malah Jongin yang emosi.
"Ya gimana, mencoba apa salahnya?" Nana malah tertawa melihat kakaknya marah dan Kyungsoo yang menatap dengan tatapan berharap macam anak anjing. "Lagi pula Otousan pasti sedang mengecek Kyungsoo," Nana menatap Kyungsoo yang hanya mengangguk. Sama halnya dengan kelurga Kyungsoo yang tengah mengumpulkan informasi tentang Nana. "Pada akhirnya keputusan ada di tangan Otousan."
"Tahu tidak kalau aku dengan kakakmu juga awalnya dari coba-coba," Yifan paham sih maksud Jongin. Kalau nanti malah Nana yang jatuh cinta dan Kyungsoo berniat memaafkan Luhan. Adiknya yang akan sakit. "Kakakmu butuh untuk menghindarkan diri dari Chanyeol."
Nana akhirnya duduk disamping Kyungsoo yang masih mencekram bajunya.
"Apa untungnya untukmu?"
"Awet muda." Yifan menolak untuk menjawab jujur. Jadilah Yifan mendapat tatapan tajam dari Nana.
"Macam praktek pederasty ya?" sindir Nana yang membuat Yifan bereaksi berlebihan.
"Heh!" Yifan refleks menepuk pelan lengan calon adik iparnya.
"Oh paham ya?" Nana tertawa keras.
Jongin dan Kyungsoo malah saling berpandangan. Lah, Nana dan Yifan ternyata bisa satu frekuensi.
"Cepat jujur padaku karena hubungan manusia itu tidak ada bedanya dengan bisnis," Nana menatap Yifan dengan serius. "Jika ada fall in love maka ada fall out love."
"Kok bisnis?"
"Oh, ayolah.. Kau juga memperhitungkan masalah untung rugi kan?" Nana mendelik saat Yifan menatapnya dengan ragu. "Kalau kakakku selingkuh? Kalau kakakku hanya suka dengan hartamu? Kau masih mau nikah dengan kakakku?"
"I love his lips."
Nana langsung menatap Kyungsoo dengan tatapan panjang. Sepertinya ia pernah mendengar kata-kata itu. Tapi tatapan Yifan saat melihat bibir kakaknya dengan nafsu membara adalah alasan yang membuat Nana malas bertanya lebih lanjut.
..ILYD..
Jongin masuk ke dalam kamar diikuti oleh Yifan yang memilih untuk menginap. Tidak hanya Nana sih yang sadar dengan ekspresi Yifan. Makannya Jongin meminta Kyungsoo untuk pulang dan meninggalkan Nana di bawah. Entah kenapa, kadang tatapan itu yang justru membuat Jongin kesal. Jadi tanpa sadar Jongin sudah meremas poni Yifan dan membuat kekasihnya merunduk. Jongin bisa melihat reaksi terkejut yang Yifan tunjukkan.
"Dulu aku membencimu setengah mati," bisik Jongin dengan pelan. Saat Yifan membuangnya di Inggris. Rasa obsesi yang datang dan berulang kali Jongin berharap untuk bisa membalas perbuatan Yifan. "Aku membencimu tapi aku juga mencintaimu." Jongin akhirnya melepas cengkramannya untuk masuk ke dalam kamar mandi
Tinggallah Yifan yang kebingungan dengan tatapan tajam Jongin. Itu tatapan yang selalu Jongin gunakan saat frustasi dan marah pada Yifan.
Jongin tidak suka saat adiknya justru merasa diri berhak dan siap untuk dibuang oleh lelaki mana pun. Jongin frustasi ketika adiknya malah berpikir tidak ada satu pun pria yang akan menyukainya. Jongin semakin frustasi saat adiknya berhenti untuk berharap dan memilih untuk menanggung semua kekejaman dunia sialan ini sendirian.
Saat Nana tersenyum dan berkata. "Kalau kau ingin kembali pada Luhan, bilang padaku."
Jongin tidak suka dengan sikap Nana. Jongin tidak mau Nana merasakan hal yang sama. Rasanya dibuang dan tidak diinginkan itu tidak menyenangkan sama sekali.
Tapi Kyungsoo masih saja belum pulang.
"Luhan itu tampan ya?" Nana menonton video yang direkam oleh Chanyeol. Kyungsoo belum mau pulang karena ia masih harus membuat Nana yakin.
Kyungsoo memberikan alasan kenapa ia tidak bisa kembali pada Luhan. Dalam video itu juga Nana melihat bagaimana Kyungsoo dan Luhan saling bertukar kecupan manis. Meski sebelum atau sesudahnya Luhan bahkan melakukannya juga dengan pria lain.
"Mungkin kalau Chanyeol berniat menjadikanku istri keduanya, kini targetnya berubah jadi padamu," Nana tersenyum simpul pada Kyungsoo. "Tolong lebih berhati-hati jika kau ingin melakukannya."
"Kau hanya tidak percaya padaku." Kesimpulan Kyungsoo membuat Nana sedikit tersentak.
"Aku harus mempersiapkan diri untuk semua hal terburuk yang akan terjadi," Nana menutup laptop milik Kyungsoo dan menatap calon tunangannya dengan pelan. "Kita baru saling kenal dan wajar jika kau pada akhirnya hilang minat."
Perkataan itu yang membuat Kyungsoo memeluk erat Nana. Bahkan jika Kyungsoo mencium bibir Nana dan gadis ini membalas setiap lumatan yang Kyungsoo berikan. Bukan berarti gadis ini sudah membuka hatinya. Kyungsoo familiar dengan ini. Alasan kenapa Kyungsoo tidak bisa marah pada Jongin saat tahu sahabatnya berpacaran dengan Yifan. Karena Jongin persis seperti Nana, Jongin dulu juga siap jika dibuang oleh Yifan. Tapi saat Jongin mencoba untuk sedikit membuka hati dan langsung dibuang oleh Yifan. Jongin frustasi bukan main. Dan Kyungsoo tahu, tragedi macam apa yang akan terjadi jika ia berpaling dari Nana.
…ILYD..
"Are you ok?" Yifan menghampiri Jongin yang baru keluar dari kamar mandi. Tubuh Jongin yang basah dan hanya berbalutkan handuk memang menggoda. Tapi ada hal yang lebih penting.
"No." jawab Jongin dengan kalem sambil mengambil pakaiannya.
Saking seringnya Yifan membugili tubuh Jongin. Pria berkulit tan ini mengacuhkan handuknya yang melorot. Toh, ia juga tengah mengenakan boxer.
Yifan menarik pinggang Jongin untuk duduk dipangkuannya. Jongin tidak memberontak sama sekali bahkan saat Yifan mengecup pangkalan lehernya. Tangan Yifan juga sudah seenaknya masuk ke dalam boxer Jongin. Yifan mengigit pelan punggung Jongin. Yifan sengaja mengulum telinga Jongin meski tangan lainnya berusah menutup mulut Jongin yang mulai mengeluarkan suara desahan. Kedua tangan Jongin mencekram kedua pergelangan tangan Yifan. Si pria yang jauh lebih tua meludah pada telapak tangan kanannya sebelum kembali masuk ke dalam boxer. Mengurut benda yang berdenyut dan semakin bersuhu panas.
Jongin selalu menghindar saat Yifan mencoba mencium bibirnya. Kegemasan Yifan disalurkan dengan menggerakan pinggulnya dengan cepat. Jongin sampai harus membekap wajahnya dengan bantal agar suara desahan dan erangannya tidak terdengar sampai keluar kamar. Meski suara derit ranjang sedikit mengacaukan niatnya. Yifan menggeram saat ia akhirnya menyerah dan mengeluarkan cairan putih diperut Jongin. Bahkan saat Yifan mengambil bantal yang menutupi wajah merah Jongin. Kekasihnya ini masih saya menghindar padahal Yifan hanya ingin mengecup pipi Jongin. Yifan berguling ke sebelah tubuh Jongin yang masih terengah.
"Aku bukan paranormal, sayang," bisik Yifan sambil nengurut penis Jongin. Oh, ini belum berakhir kawan. Mereka hanya sedang istirahat. "Apa yang membuatmu marah?"
Jongin berusaha melepaskan tangan Yifan dari penisnya. Tapi Yifan masih ingin melanjutkan kegiatan mereka. Jongin mengusap surainya dengan frustasi meski mulutnya kembali mengeluarkan desahan. Yifan menjilat dan mengigit punggung Jongin hingga kemerahan karena Jongin tidak juga menjawab pertanyaannya. Dengan sedikit kasar Yifan membalikkan tubuh Jongin. Bahkan tanpa aba-aba memasukkan kembali penisnya ke dalam lubang anal Jongin.
Yang terdengar hanya suara nafas Jongin yang tersekat. Yifan menikmatinya saat kedua kaki Jongin mengejang. Yifan bahkan menekan kedua tangan Jongin karena kekasihnya berusaha untuk memberontak. Penis Yifan sampai berkedut hanya karena suara engahan dari Jongin.
Kelelahan membuat Jongin pasrah saat tubuhnya dibuat terlentang dengan kedua kakinya diangkat dan dilebarkan agar bisa bersandar di kedua punggung Yifan. Betis Jongin bisa merasakan otot punggung Yifan yang berkedut. Untuk sekian kalinya Jongin sedikit menyesal memaksa Yifan untuk rutin datang ke gym. Tubuh Yifan yang membesar karena otot malah membuat Jongin merasa kerdil.
Tatapan Yifan yang tajam membuat Jongin tidak berkutik. "Masih tidak mau menjawab?" Yifan menekan kedua lengan Jongin setiap kali Yifan mengerakkan penisnya ke dalam lubang anal Jongin dengan penuh tekanan.
Bagaimana Jongin bisa menjawab. Mulutnya terlalu sibuk untuk mendesah. Dari berbagai banyak penolakan akhirnya Jongin tidak menolak saat Yifan meraup bibirnya. Tepat saat keduanya mencapai titik puncak. Yifan masih melumat bibir Jongin yang masih terengah dan tengah mencari oksigen.
Jongin menghindari ciuman kedua dari Yifan. Dengan kesal Yifan memaksa Jongin memalingkan wajah dan menatap matanya. Suara nafas Jongin sudah normal meski wajahnya masih memerah.
"Aku tiba-tiba ingat momen dimana saat aku akhirnya mengaku menyukaimu dan kau langsung membuangku," Jongin berkata cepat dengan suara kecil nyaris berbisik. "Aku tidak mau Nana merasakannya juga."
"Aku tidak membuangmu."
"Tapi itu yang aku rasakan." Jongin memejamkan matanya saat tangan Yifan mengusap lembut wajahnya.
Kadang memori itu membuat Jongin frustasi. Jongin menyesal setengah mati karena berani-beraninya mengaku sudah jatuh cinta pada Yifan. Kalau pada akhirnya Yifan kembali menganggapnya sebagai gangguan bahkan menganggapnya tidak ada. Jongin merasa mendapatkan tangannya dan kakinya patah karena dipaksa menjadi istri kedua lebih baik ketimbang dicampakkan begitu saja.
Jongin akhirnya memalingkah wajahnya untuk melihat reksi Yifan. "Kita bahkan tidak benar-benar bertunangan," Jongin bisa merasakan cincin yang terpasang di jarinya. "Ini hanya cincin pasangan."
...ILYD…
Jongin jengah menatap Kyungsoo yang duduk dalam posisi macam itu. Kyungsoo tidak merangkul Nana tapi menaruh pergelangan tangannya di kursi Nana. Posesif sekali Kyungsoo. Keputusan Kyungsoo yang tiba-tiba keluar dari komunita membuat Baekhyun berang. Mereka berkumpul karena paksaan Baekhyun. Tapi kehadiran Nana merupakan paksaan Jongin. Ia tidak mau meninggalkan Nana sendirian di rumah dengan asisten ibunya.
"Kau cerewet ya.." Gumam Kyungsoo yang mengeluh tapi masih saja tersenyum.
"Oh iya, aku baru ingat kau tidak suka orang berisik." Jongin memanas-manasi.
"Tapi aku juga mulai terbiasa karena Baekhyun." Kyungsoo menyesap kopi hitamnya dengan terburu-buru. Nana tertawa karena tahu Kyungsoo tengah gelalapan karena ditatap sebegitu bengisnya oleh Jongin.
Jongin terkejut saat Baekhyun dan Baba datang berasama Xiumin. Tapi Kyungsoo juga hanya menatap sekilas sebelum kembali menatap Nana yang sibuk memakan cakenya. Lagi pula, Baekhyun kok bisa-bisanya membawa Xiumin.
"Ah, kau memamerkan calon tunanganmu?" Xiumin berkata tanpa melihat Nana sama sekali. Tapi malah Jongin yang sedikit tersinggung dengan sikap Xiumin. "Ayolah, aku dan Luhan tidak benar-benar bermain di belangkangmu," Xiumin yang tidak ditanya malah memberikan penjelasan yang hanya membuat Kyungsoo mengerutkan dahi. "Aku tidak tahu, selain membosankan kau juga memiliki pemikiran yang kuno."
Kalimat satu itu yang membuat semua orang terdiam. Bingung untuk berkomentar. Kyungsoo juga hanya bisa menghela nafas saat semua orang menatapnya, menanti balasan.
"Aku hanya memilih menjalani hubungan yang sehat, jika kau bilang open relationship merupakan hal modern," Kyungsoo mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak mau berdebat."
"It's toxic," Xiumin masih ingin berdebat. "Jika kau melarang siapa pun mendekati kekasihmu, itu hanya sebuah tindakan posesif dan obsesi."
"Aku tidak pernah melarangnya berteman dengan siapa pun," Kyungsoo yang awalnya kalem, tiba-tiba melebarkan matanya saat ia sadar arti dari kata berteman menurut Xiumin. Kyungsoo jadi teringat lagunya Keshi. "If we fuckin', are we just friends?" Kyungsoo tanpa sadar menyebutkan lirik lagunya.
"Why not?" Xiumin bertanya dengan sebegitu vulgarnya.
"See?" Kyungsoo memutar kedua bola matanya. "Oleh karena itu, aku tidak mau berdebat."
"Dan memilih betina untuk melarikan diri dari Luhan?"
"Excuse me," Jongin memotong pembicaraan mereka berdua. "Yang kau sebut betina itu adikku." Jongin dari dulu tidak suka dengan istilah itu. Ya, betina itu perempuan tapi biasa digunakan untuk binatang.
Xiumin menatap Nana, menilai sebelum akhirnya kembali menatap Kyungsoo yang menatapnya dengan malas.
"Jika itu konsep pertemananmu, aku bisa paham," Kyungsoo tidak mempermasalahkan gaya hidup dan pegaulan siapa pun. "Tapi Luhan hanya melakukan konsep pertemanan itu denganmu," Oleh karena itu Kyungsoo bilang kalau Luhan sepertinya masih menaruh hati pads Xiumin. "Bahkan setelah aku memutuskannya, dia memilihmu untuk melepaskan rasa frustasinya."
"Kau masih perhatian pada mantanmu." Xiumin mengatakannya pada Kyungsoo tapi menatap Nana dengan tajam. Profokatif seperti biasanya.
"Tidak juga, itu karena aku belum memberi tahu Chanyeol kalau kami sudah putus," Kyungsoo kembali tersenyum saat Jongin menatap Kyungsoo dengan terkejut. "Walau pun Chanyeol berusaha merebut Nana, kita tetap berteman baik." Kyungsoo mengatakan ini untuk Jongin.
"Merebut Nana?" Baekhyun yang bertanya dengan heboh. "Chanyeol kan sudah punya istri."
Nana menangkup wajahnya dengan senyuman lebar. Sepertinya tidak semua teman kakaknya tahu kalau Chanyeol punya simpanan yang unik. Kyungsoo dan Jongin juga terlihat malas menjelaskan.
Nana akhirnya bersuara dengan nada kalem. "Kita cocok sebagai pasangan yang membosankan."
Kyungsoo tertawa karena ucapan Nana. Jongin rasa mungkin ini yang dimaksud dari lagu Beautiful People milik Ed Sheeran. Mereka mungkin tampak tidak cocok berada di lingkungan yang gemerlap tapi mereka punya cahaya sendiri. Meski untuk kasus Kyungsoo dan Nana, mereka tetap saja berasal dari keluarga kaya raya (kalau kau melihat dari sisi video klip Ed Sheeran).
…ILYD..
"Ka, kapan kalian akan benar-benar tunangan?" Nana menemukan Jongin yang sejak tadi menatap cicinnya. Tapi yang ditanya malah terlihat kebingungan. "Aku tahu kau bukan orang yang seperti itu," Nana menatap motor hitam yang tengah Xiao Ge bersihkan. Nana ikut duduk di atas bantalan kecil yang menghadap tanaman obat di halaman depan rumah. "Kakak tidak mungkin tidak memberi tahu Otousan, walau pun Otousan menentang."
"Kau bagaimana?" Jongin kan tinggal bertunangan asli saja. Tapi Nana memiliki kasus yang lebih mengkhawatirkan. "Kau kan orangnya gampang terbawa suasana."
"Kalau akhirnya aku menyukai Kyungsoo, ya itu masalahku," Nana tersenyum getir. "Masih ada tiga bulan sebelum kita bertunangan," Nana menganggukkan kepalanya. "Dan masih ada beberapa tahu lagi sebelum kita menikah," adiknya kini menatap cincin yang digunakan Jongin. Nana bahkan menarik tangan Jongin. "Masih banyak waktu untuk Kyungsoo menjernihkan pikirannya dan mengambil keputusan."
"Kau akan menghabiskan waktu untuk terjebak dengan Kyungsoo dan menghilangkan kesempatan untuk orang yang benar-benar menyukaimu." Jongin dulu ada diposisi di mana ia memilih bersama Yifan untuk menghindari Chanyeol.
Sekarang Jongin sadar, ia dulu seegois itu hingga menikung temannya sendiri. Padahal Jongin tidak tahu alasan kenapa Yifan juga mengikuti saran Sehun. Bersama dan tidak bersama Jongin, tidak akan berdampak apa pun pada hidup Yifan. Adiknya berada di posisi yang sama dengan Yifan. Mungkin karena itu juga adiknya bertanya, kenapa Yifan mau bersama Jongin.
Pertanyaan Nana itu yang membuat Jongin frustasi. Jongin juga selalu ingin bertanya tapi takut kecewa dengan alasannya. Masalahnya, saat ia mengakui kalau ia ada rasa dengan Yifan. Yifannya malah langsung menggantungkan hubungan bahkan berpura-pura tidak memiliki hubungan apa pun dengan Jongin. Ia terlalu terbawa suasana pada Yifan yang hanya coba-coba. Sejak awal mungkin Yifan memang hanya iseng, jadi wajar Yifan melepaskannya. Dulu Jongin berpikir seperti itu dan ia sudah menerima pemikiran itu. Bahkan sekarang dia sudah berdamai. Tapi sialnya, Yifan malah bilang kalau dia melakukan itu untuk melindungi Jongin dari Luis. Makin lah Jongin frustasi. Jongin kan lebih suka berperang bersama dibanding dilindungi dengan cara yang menyakitkan.
"Aku tahu maksud dari tidak mengharapkan orang lain membahagiakanmu," Jongin tiba-tiba memecah keheningan sebelum menatap adiknya dengan lekat. "Tapi kau juga bisa sakit dan sangat kecewa saat kau berharap orang lain bisa bahagia jika bersamamu."
Nana terdiam sejenak dan mengangguk tanpa bisa membantah. Sebenarnya Nana luar biasa bingung dengan hubungan kakaknya. Sekaligus terpukau dengan fakta, Yifan betulan ingin mengajak menikah. Kyungsoo juga tipe orang yang tidak bisa ditebak. Nana tidak tahu, Kyungsoo tersenyum tulus atau hanya ingin terlihat tulus.
"Kalian sedang apa?" Yifan menatap pasangan adik kakak yang saling diam dan memandangi cincin Jongin. Nana masih menggenggam tangan kakaknya. Yifan yakin mereka berdua tenggelam dengan pemikirannya masing-masing. Mana mungkin mereka bisa bertelepati.
"Wow," Nana tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Kakaknya juga sama saja, masih diam dan malah meremas tangan Nana. "Segabut ini kah seorang CEO?" pertanyaan tidak sopan ini keluar karena tahu Yifan tidak akan tersinggung. Meski Yifan langsung bercakak pinggang.
"Ibuku ingin bertemu denganmu." Yifan langsung mengatakan tujuannya. Jongin mengangguk sambil membantu adiknya untuk berdiri.
Kejadian kemarin malam membuat keduanya saling canggung. Jongin yang frustasi karena takut untuk percaya pada Yifan. Dan Yifan yang tidak bisa terus bersabar dengan sifat labil Jongin. Walau pun akhirnya Yifan paham kenapa Jongin terus menunda dengan berbagai alasan.
"Aku tidak mau ikut campur." Nana menghela nafas dengan suasana canggung nan melelahkan ini.
Dibandingkan bercengkrama di ruang tamu. Calon ibu mertua kakaknya itu lebih memilih di ruang makan. Menunjukkan berbagai macam masakan untuk Jongin. Tapi malah Nana yang terus-terusan terpukau. Nana menangkup kedua pipinya dengan sebuah senyuman formal karena tidak mau menganggu tapi terjebak.
"Ayolah, ibu juga ingin memberikanmu sesuatu," Nyonya Wu ini tetap mencoba dengan gigih. "Setelan jas dari ibumu, Kemeja dari Okasanmu, ibu juga ingin memberikanmu sesuatu, sepatu misalnya?"
"Aku masih punya.."
"Ini hari spesialmu, sepatumu juga harus spesial." Calon ibu mertua Jongin kini menatap Nana untuk meminta dukungan.
"Kalau begitu aku bagian dasi," Nana malah membuat Jongin menepuk dahinya. "Tidak sopan menolak pemberian seseorang apalagi jika itu dari calon ibu mertua."
Jongin sedikit setuju dengan perkataan Kyungsoo. Nana yang cerewet memang menyebalkan.
"Hari ini kau tidak ada janji apa pun kan?" Nyonya Wu dengan semangat membereskan makanan yang ia bawa dan menaruhnya sendiri ke dalam lemari es. "Kita beli sekarang!"
Nana awalnya menolak untuk ikut karena tidak mau menganggu kebersamaan Jongin degan calon ibu mertuanya. Tapi ternyata ia berguna untuk menemani calon kakak iparnya.
Nana ingat toga Jongin berwarna hitam pekat. Saat Jongin dan ibu mertuanya sibuk dengan sepatu. Nana mengunjungi toko lain dengan kakak iparnya. Nana menatap lekat dasi biru dengan salur silver atau dasi merah dengan salur emas. Nana mengambil dasi merah dan meminta Yifan mengulurkan kedua tangannya. Nana dengan randomnya malah menali dasi itu ditangan Yifan. Dan menarik sampul yang ia buat.
"Sakit tidak?" Nana bertanya dengan nada serius. Meski heran, Yifan menggelengkan kepalanya. "Aku pilih ini." Nana membuka sampul dasinya dan memberikannya pada seorang pramuniaga yang sempat ingin protes dengan tingkah Nana, tapi sedetik kemudian bersyukur karena dia hanya diam saja.
"Bukan begitu cara mencoba dasi." Yifan hanya penasaran.
"Oh, jaga-jaga kalau kau menggunakan dasi itu pada kakakku," Nana tersenyum saat Yifan membulatkan matanya. "Aku tahu apa yang kalian lakukan kemarin lusa."
Yifan dengan kesadaran penuh menangkup wajah Nana dan menarik kedua pipi gadis yang akan menjadi calon adik ipar.
"Sakit! Sakiiit!"
…ILYD..
Ini sebuah pembicaraan yang langka. Untuk pertama kalinya Kyungsoo dan Yifan bisa bercengkrama dengan nyaman. Maksudnya mengingat Yifan dan Kyungsoo pernah saling suka. Ini benar-benar langka.
"Cinta di mata wanita adalah respect di mata pria," Kyungsoo mengatakan sambil menyesap beer yang ditawarkan Jongin. "Karena itu aku bilang, aku akan menjadikannya ratu," sebenarnya Kyungsoo sadar kalau mereka baru mengenal. "Tapi ini berbeda dengan kasus Jongin."
"Dia cerita?"
"Tidak, aku berteman lama dengan Jongin dan aku pernah menyukaimu," Kyungsoo memberikan alasan yang membuat Yifan menaikan alisnya. "Kau yang tidak sabaran dan Jongin yang selalu ragu," Kyungsoo menoleh ke belakang dan melihat Jongin tengah bercengkrama dengan Nana. "I know what you feel, karena aku juga tidak mau kehilangan untuk kesekian kalinya."
"Kau tidak mau kehilangan Nana?"
"Kesempatan untuk berjuang," Kyungsoo mengkoreksi. Dia tengah berusaha membuktikan bahwa Nana layak untuk diperjuangkan. "Kau harusnya ingat Jongin pernah diposisi melihat Ayahnya lebih memilih sekertaris pribadinya dibandingkan istrinya sendiri," mata Kyungsoo yang besar menatap tajam Yifan. "Ketakutan itu pasti akan selalu ada di diri Jongin."
"Yang kau sebut sekertaris adalah calon ibu mertuamu." Yifan menegur. Meski Kyungsoo tersentak, tapi pria ini hanya tersenyum tipis.
"Apa kau pernah dengar alasannya kenapa ayah Jongin lebih memilih ibunya Nana?"
"Respect?" Yifan teringat dengan perkataan awal Kyungsoo.
"Saat seorang pria membuat keputusan yang salah dan gagal, harga dirinya terluka saat wanitanya justru ikut menyalahkannya yang tidak memperbolehkan istri untuk bekerja," Kyungsoo tersenyum saat Yifan mengerutkan dahi. "Jadi intinya, pria itu akhirnya mencari rasa respect di luar," Kyungsoo mengangkat tangannya. "Ayah Jongin itu penganut istri hanya boleh melakukan pekerjaan rumah, makannya sepintar apa pun Nana, perusahaan Nakashima akan tetap jatuh ke tangan Jongin."
"Tepat sekali." Nana ikut bergabung dan duduk di samping Kyungsoo.
Baik Yifan maupun Kyungsoo keduanya tersentak kaget. Nana melirik kakaknya yang tengah menerima telfon. Gaya kakaknya saat tengah berdebat sedikit mengingatkannya dengan Otousan. Mau bagaimana pun darah Otousan akan terus mengalir di darah kakaknya ini. Sama seperti Nana.
"Kau bisa masak?" Yifan menatap cemilan buatan Nana dengan tatapan tidak percaya.
"Dipaksa untuk bisa masak," Nana mengambil cemilan buatannya sendiri. "Aku bahkan punya sertifikatnya, ini keahlian dasar untuk survive loh," Nana tersenyum saat Kyungsoo membulatkan matanya setelah mencicipi cemilannya. "Ayahku bilang kalau pun aku tidak bisa memuaskan suamiku di ranjang, setidaknya aku bisa memuaskan perutnya." Bisa-bisanya Nana mengatakannya dengan begitu kalem. "Okasan kan memang tidak bisa masak, jadilah aku yang kena," Nana menyesap beernya pelan, akhirnya ia bisa menikmati beer tanpa harus bersembunyi. "Lalu bilang kalau wajahku bukan tipe yang disukai banyak orang, padahal kan mukaku mirip dengannya."
Nana melirik saat semua orang terdiam. Jongin yang baru datang ikut terdiam. Karena saat ia datang dua pria ini malah menatap Nana dengan terkejut. Si adik cantiknya ini malah mengambil cemilan dan memakannya tanpa merasa aneh.
"Kenapa sih?" malah Jongin yang resah sendiri.
"Adikmu itu loh.." Yifan jadi bingung sendiri untuk menjelaskannya.
Penjelasan Yifan juga terpotong karena seruan Nana. "Oh, sepertinya calon ibu mertuaku begitu sayang padaku," Nana menunjukkan chat yang ia dapatkan dari ibunya Kyungsoo. "Aku hanya bilang kalau aku pernah memenangkan turnamen Equestrian," ini hanya obrolan chat random karena calon mertua bertanya, apa hobinya. "Hanya butuh beberapa hari aku mendapatkan kuda."
Sekarang semua orang beralih pada Kyungsoo yang tampak biasa saja. Sial, ibunya Kyungsoo bahkan lebih tidak mau kehilangan calon mantunya. Kentara sekali maksudnya.
..ILYD..
"YIFAN!" teriak Jongin tepat saat Yifan keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah dan memegang handphone. Wajahnya sama paniknya dengan Jongin.
"Kalian kenapa?" Nana membuka kamarnya dan menemukan kakak dan calon kakak iparnya sibuk bukan main.
"Ambil jaketmu!" Jongin mengatakannya dengan cepat.
Tanpa bertanya Nana mengambil jaketnya dan langsung mengenakannya. Ikut berlari saat kedua orang itu berlari. Nana masih diam dengan bingung saat Yifan membuka pagar dan Jongin menyalakan mesin mobil. Keduanya sibuk dengan sebuah keteraturan yang aneh. Mereka tahu akan kemana dan menyiapkan segala hal dalam diam namun cepat dan tepat. Dari pada menganggu keharmonisan. Nana memilih untuk meringkuk dengan wajah mengantuk sebagai penumpang mobil yang melaju dengan sedikit kencang.
Nana masih tidak mengerti kenapa mereka ada di rumah sakit. Siapa yang masuk ke rumah sakit?
"Kita butuh darah."
Seperti adegan klasik di drama yang sering Nana tonton. Biasanya rumah sakit punya stok darah dengan jumlah tertentu. Yifan langsung berdiri, tapi sayangnya keluar dengan keadaan frustasi. Katanya Yifan punya hipertensi dan baru saja meminum obat hipertensi. Tidak mengidap hipertensi itu salah satu syarat umum pendonor darah.
"Golongan darahnya apa?"
"O." Jawab si suster.
"Aku juga O, mau coba di cek?" Nana menawarkan diri.
Tanpa persetujuan kakak atau kakak iparnya. Nana ditarik oleh sang suster. Ada beberapa hal yang harus diperiksa sebelum Nana akhirnya bisa memberikan darahnya. Saat Nana keluar, ada wanita yang parasnya mirip sekali dengan Sehun dan keluar dari ruangan lain. Sepertinya sama seperti dengan Nana, wanita ini juga diambil darahnya. Wajahnya pucat dengan mata sembab. .
Nana duduk di lorong rumah sakit. Dibandingkan horor, Nana justru memperhatikan calon kakak iparnya yang menundu sambil mengenggam erat tangan Jongin. Di sisi lain juga ada wanita yang duduk dengan pandangan kosong. Wanita itu tidak sendirian, sepertinya wanita bertattoo yang tidak lelah mengelus punggungnya.
Tidak lama kemudian, mucullah Kyungsoo, Baekhyun dan Jongdae. Wajahnya sama paniknya. Nana bisa paham sekarang, siapa orang yang membutuhkan darah. Sehun. Baekhyun yang punya golongan darah yang sama, ikut diperiksa, entah cocok atau tidak. Karena Nana lebih penasaran dengan kenapa Sehun butuh darah. Satu-satunya orang yang cocok untuk ditanya hanyalah calon tunangannya.
Kyungsoo berbisik. "Luka-luka Yuan tidak terlalu parah tapi dia pingsan karena shock."
Nana tidak bisa membayangkan bagaimana adegannya. Setahu Nana, justru yang dibonceng memiliki risiko yang lebih besar. Apalagi ini kecelakaan antara motor dan mobil yang melaju dengan cepat. Nana yakin, bukan Sehun yang mabuk ketika ia dengar ini kecelakaan karena pengendara yang mabuk. Maksudnya, Sehun tidak mungkin mabuk dan melakukan hal gambling dengan nyawanya sendiri apalagi nyawa kekasihnya. Rasanya aneh.
Sebelum terlelap tidur. Hal terakhir yang Nana lihat adalah Yifan yang terus menunduk dalam posisi berdo'a sambil mengenggam tangan kakaknya dengan kedua tangannya. Ya itu hal terakhir yang Nana lihat karena Nana satu-satunya orang yang tertidur mungkin efek lemas diambil darah. Awalnya kepalanya bergerak tidak menentu, sampai akhirnya ia menemukan Kyungsoo yang meminjamkan bahunya. Nana terbangun tepat saat ruang operasi terbuka.
Semua teman Sehun menatap Nana dengan bengis. Maksudnya mungkin bisa-bisa ia tidur dengan pulas di saat orang tengah berada dikondisi hidup dan mati. Saat dokter bilang kalau ternyata hanya darah Nana yang diperlukan dan itu cukup menambah pasokan yang ada. Baekhyun mungkin golongan darahnya O tapi tidak cocok. Sedangkan ibunya Sehun sedang rutin minum obat sehingga darahnya terlalu berbahaya jika Sehun mengalami alergi. Pernyataan itu membuat semua orang paham, kenapa Nana tertidur macam orang kelelahan.
Dalam keadaan lemas, Yifan tiba-tiba duduk bersimpuh dihadapan Nana. Yifan yang biasanya bersikap menyebalkan menunjukkan sisi yang membuat Nana terkejut. Refleks Nana berdiri agar Yifan juga berdiri. Nana itu hanya menambah pasokan bukan berarti darah Nana saja yang membantu operasi Sehun. Karena wajah kelelahan Yifan yang nelangsa itu yang membuat Nana memeluk tubuh calon kakak iparnya. Untuk pertamakalinya Nana melihat sisi Yifan sebagai seorang ayah yang menghawatirkan anaknya.
…ILYD…
Nana awalnya hanya ingin mengantarkan kakaknya ke rumah sakit. Menjenguk Sehun yang belum juga siuman selama tiga hari. Tapi hai, disinilah Nana mengganti air dari pot bunga yang entah dari siapa. Awalnya Nana hanya menatap bunga dan mencoba meletakkan dengan lebih hati-hati agar tidak tersenggol siapa pun. Harusnya ruangan ini tertutup karena menggunakan AC. Anehnya jendela ruang inap Sehun terbuka. Nana kan rasanya juga ingin ikut jemuran di beranda seperti kucing.
"Siapa?" pertanyaan lirih itu yang membuat Nana menoleh.
Tapi perawat yang menjaga Sehun bahkan lebih tanggap. Suster itu memanggil dokter dan membuat Nana menyingkir dari kamar Sehun. Yifan dan Jongin tidak juga datang saat Sehun siuman. Nana juga tanpa sadar malah memeluk pot bunga. Jadi mau tidak mau, Nana kembali masuk ke dalam.
"Anda Kekasihnya?"
"Bukan."
"Temannya?"
"Bukan."
"Adiknya?"
"Bukan," Nana masih menjawab hal yang sama. Sehun juga hanya melirik. Antara jengah dan lemas. "Dia ponakankku."
Tentu saja si dokter kebingungan. Mau bagaimana pun juga, wajah Nana jelas terlihat lebih muda dibandingkan Sehun.
"Sebentar lagi kakakku dan ayahnya akan menikah," Nana kali ini sudah menentukan posisi yang pas untuk meletakkan pas bunga yang sejak tadi ia peluk. "Otomatis dia akan jadi ponakanku."
Seperti angin topan, semua orang tiba-tiba masuk dan berkumpul. Nana juga refleks keluar dari kamar Sehun. Nana duduk di lorong rumah sakit saat seorang gadis dengan kursi roda menghampirinya. Oh, kekasihnya Sehun.
"Terimakasih sudah menolong Sehun."
Ucapan singkat itu hanya membuat Nana mengangguk. Nana jauh lebih terkejut saat ia masuk ke dalam kamar Sehun untuk mengambil tas. Yifan malah memeluknya dengan erat dan terus-terusan mengatakan terimakasih. Nana melirik Sehun pelan sebelum dijemput pulang oleh Yixing.
Tapi hai, dua hari kemudian Nana kembali menemani Sehun yang sudah siuman. Lagi.
"Kenapa kau menolongku?" pertanyaan Sehun membuat Nana terdiam.
Entah kenapa Nana kembali menemani Sehun. Sepertinya karena hanya dia satu-satunya yang menganggur. Yifan dipaksa oleh kakaknya untuk istirahat. Jadilah Nana yang harus menemani Sehun. Beberapa bagian tubuh Sehun diperban. Saat suster pribadi Sehun meminta izin untuk mengambil makan untuk Sehun yang belum juga datang. Tinggalkan Nana dan Sehun sendirian.
"Kenapa kau menolongku?" ulang Sehun.
Bukannya menjawab Nana malah bertanya, jendelanya mau dibuka atau ditutup. Sehun jadi tampak kesal karena Nana tidak juga menjawab. Gadis jepang ini sibuk membandingkan suasana kamar Sehun jika ditutup atau dibuka jendelanya.
"Aku tidak tahu kalau ternyata kau yang membutuhkan darah," Nana hanya bersikap jujur bukan betulan berniat jahat. Nana mengambil alih keputusan untuk membuka jendela. Nana ingin Sehun juga merasakan angin dan sinar matahari langsung. Kalau Sehun minun obat dan tertidur, Nana ingin mengambil kursi dan duduk di dekat jendela. Ia betulan ingin berjemur. "Tapi kalau ditanya kenapa, mungkin karena melihat wajah frustasi ayahmu dan suramnya ibumu." Keluarga Sehun benar-benar unik.
"Orang tuaku menikah karena tuntutan keluarga," Sehun memulai ceritanya dan membuat Nana menoleh. "Aku dengan santainya berpikir keluargaku tidak akan berakhir seperti Jongin."
Rasa tidak suka Sehun lagi-lagi terasa begitu menusuk.
"Aku sering mendengar suara tawa ayah dan ibuku di balik kamar, mereka berdua senang bercanda dan mengobrol," Sehun suka setiap ayah dan ibunya pulang dari kantor dan saling bercerita bahkan kadang mengeluh. "Mereka begitu akrab seperti sahabat lama dan ternyata memang mereka hanya sebatas sahabat."
Sehun sempat berpikir Ayahnya akan berubah dingin saat bertemu dengan ibunya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Tidak ada raut wajah kecewa dari Ayahnya, yang ada malah khawatir.
"Kelahiranku hanya sebatas formalitas," Sehun menemukan Nana malah mengeritkan dahinya persis seperti Jongin kalo terlihat tidak setuju. "Sekarang aku baru sadar mereka peduli padaku setelah melihat pakaian yang mereka gunakan dan lingkaran hitam di kantung mata."
Baiklah, sepertinya Nana juga perlu berbagi informasi.
"Sebenarnya ibuku pikir aku adalah anak dari kekasihnya yang dulu mengalami kecelakaan pesawat terbang," Nana tersenyum ketika Sehun tampak tidak peduli. Tapi cerita ini bahkan tidak pernah ia ungkapkan pada kakaknya sendiri. "Aku selalu diberitahu ibuku kalau ayahku adalah seorang pegawai bank biasa yang suka berpergian ke luar negeri," Nana selalu berharap pria berwajah cerah itu ayahnya. Pria dengan senyuman lebar itu adalah ayahnya. "Tapi ternyata saingan Otousan membeberkan fakta kalau aku anak dari hasil perselingkuhan."
Sehun tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Setelah melakukan tes DNA beberapa kali, hasilnya selalu sama, ditubuhku mengalir darah Otousan," Nana tersenyum kecut. Imajinasnya tentang Ayah langsung rusak seketika. "Padahal mereka hanya melakukannya sekali, saat Otousan bertengkar dengan istrinya dan Okasan sebagai seorang sekertaris hanya bisa menurut," Nana tahu Sehun akan membantah. "Ketika seorang pria merasa kehilangan rasa respect dari istrinya, maka dia akan mencari rasa respect itu dari orang lain yang tidak bisa membantah dan itu ibuku." Terdengar tidak asing dengan kalimat ini? Yak, ini pendapat Kyungsoo sebenarnya.
"Kenapa?" Sehun akhirnya merespon.
"Tidak ada alasan khusus, Otousan hanya butuh rasa respect dari ibuku yang juga kesepian ditinggal liburan oleh kekasihnya," Nana menatap Sehun dengan tatapan panjang. Sehun akhirnya kembali mengalihkan tatapannya. "Obrolan serius berubah menjadi obrolan nakal yang saling memancing, akhirnya mereka melakukannya dan kemudian melupakannya."
"Kau tahu dari mana?"
"Catatan dari ibuku," Nana menemukannya saat berkunjung ke rumah neneknya. Sebenarnya Nana kesal dengan keterangan tambahan, kalau ibunya tidak menyesal karena mencoba petualangan kecil itu. "Tapi aku tidak tahu kenapa Otousan malah memilih Okasan," Nana akhirnya memilih duduk menghadap Sehun. "Mereka bahkan tidak saling mencintai."
Nana kemudian mengambil dompetnya dan menunjukkan selembar foto pada Sehun. Mata Sehun melebar dan menatap Nana dengan heran.
"Sampai sekarang aku malah lebih memilih menyimpan foto kekasih ibuku," Nana memutar foto pria si berwajah cerah. "Padahal pria ini yang dikhianati ibuku, tapi malah aku yang paling kecewa," Nana tiba-tiba tersenyum tipis saat menatap wajah kekasih ibunya. "Setiap tahun aku selalu mengunjungi makamnya. Aku berharap bisa berkata kalau dia ayahku, tapi selalu ku jawab sebagai pamanku. Padahal sebelum bertemu Otousan aku selalu senang memamerkan foto pria ini, dan berkata bahwa dialah ayahku."
"Tapi wajahmu benar-benar mirip Jongin."
"Fakta ini yang membuat Otousan kesal denganku," maksudnya kenapa wajahnya harus sama persis seperti Otousan. "Kan makin susah untuk dibantah."
"Tapi kau yang memenangkan hati Otousan kan?" Sehun kembali membuat Nana memgerutkan dahi. "Saat kau dan Jongin bertengkar bukankah kau yang dipilih?"
"Ya, dipilih untuk dikurung di kamar," itu pertamakalinya Nana melihat wajah sendu kakaknya. "Otousan bilang, aku terlalu berisik." Dari balik jendela kamar dengan mata sembab, Nana melihat semuanya. Nana pikir Otousan akan memeluk kakaknya. Tapi ternyata malah terjadi kesalah pahaman. Ayahnya justru semakin membuat Jongin sakit hati.
"Kau tidak dipukul kan?"
"Tidak, aku hanya dikurung." Nana sampai menganggap hukuman itu bukan lagi sebuah masalah. Tanpa dihukum Nana juga suka kok berdiam diri di kamar. Karena ibunya selalu bekerja sampai malam. Nana kadang harus sendirian di rumah.
"Oleh karena itu kau setuju untuk dijodohkan dengan Kyungsoo? Agar kau bisa lepas dari Otousanmu?"
"Hak menolak atau tidak ada ditangan Otousan," Nana kemudian menyilangkan kakinya dan menghela nafas. Dibanding itu ada hal yang lebih penting, dan sepertinya Sehun bisa menjawabnya dengan sangat jujur. "Kyungsoo itu sebenarnya hanya kabur dari Luhan kan?"
Sehun mengangguk. Tidak terlalu memikirkan perasaan Nana yang mungkin akan sakit atau apa.
"Ya sudah setidaknya aku juga punya waktu untuk beristirahat sampai Kyungsoo lelah untuk kabur." Nana kini malah mengelus tengkuknya sambil memejamkan mata seperti pria tua yang lelah dengan dunia.
Setelahnya mereka tidak melanjutkan obrolan apa pun. Suster pribadi Sehun membawa makanan. Nana seperti niat awalnya menaruh kursi di dekat jendela. Nana bahkan tidak sadar saat Yuan dan Jongin datang. Karena gadis jepang ini sudah tertidur dengan nyaman layaknya kucing yang sedang berjemur.
ILYD 28/End
"Jongin atau tidak sama sekali."
Keputusan itu membuat Jongin kaget bukan main. Jadi selama ini ia salah paham dengan semua hal yang ia dapatkan. Wow, Jongin pikir siapa pun bisa. Ia baru saja melewati hari wisudanya yang riuh. Sekarang dia harus menerima sebuah kejutan yang kembali membuatnya terpukau.
"Apa bagusnya Jongin?"
Tatapan itu seolah bilang, apa bagusnya bocah yang baru menetas dari bangku kuliah. Jongin sedikit tersinggung sih. Tapi pertanyaan itu ada benarnya. Memangnya sebagus apa Jongin sampai menerima keistimewaan ini.
"Kalau kau mengenalnya lebih lama, kau akan paham."
Gadis dengan rambut pendek yang sedikit berantakan dengan tattoo disekujur tubuhnya itu masih menatap Jongin dengan tatapan menilai. Sebelum akhirnya memutar kedua bola matanya dengan malas. Oh, dia tidak menemukan hal yang menarik dari penampilan Jongin yang biasa saja. DIbandingkan semua orang di sini, Jongin tuh ya benar-benar standar. Kemeja biru dibalik sweeter hitam dengan celana jeans itu style biasa yang tidak membuat semua orang terpukau. Poin plusnya hanya satu senyuman dan cara bertutut kata Jongin.
"Apa karena dia sederhana?"
Tapi tidak juga. Jongin menggunakan jam tangan mahal dibalik pakaiannya.
"Siapa yang membelikannya?" wanita ini mulai menuduh siapa pun.
"Ayahku." Jongin menjawab dengan sangat kalem bahkan terdengar dingin.
