Author Note: Dear readers, thank you for your patience to read my writing here.
Karya ini adalah karya saya, dan kesalahan adalah milik saya. Bleach adalah mahakarya dari sir Kubo Tite.
Fifth Avenue/53rd Street
Chapter 6: Down Under the Manhattan Bridge Overpass (DUMBO)
Aku menunggu dari menit ke menit menjelang matahari terbenam di musim gugur di Brooklyn dari atap apartemen. Duduk memandangi langit yang berwarna jingga degradasi kuning. Sangat menggambarkan rambut seorang CEO slash seniman yang terkenal dari Group Kurosaki.
Langit berwarna jingga dan kuning ini mengapa aku mengasosiasikan dengan Kurosaki? Aku bisa mengaitkan dengan hal lain yang lebih serupa, misalkan painting Scream karya Munch. Object sentral dari painting itu adalah sosok orang dengan ekspresi terkejut dengan mulut terjuntai kebawah. Penggambaran ekspresi itu diartikan sebagai ekspresi kegelisahan. Beberapa pakar menjelaskan painting itu semakin kuat dengan torehan warna jingga dan kuning yang menerangkan betapa menggelisahkan siapapun yang memandangnya.
Kegelisahan.
Kalau kuning dan jingga menggambarkan kegelisahan, bagaimana dengan kuning dan jingga yang mewakili suka cita dan keberanian?
Aku memandangi jemariku yang aku bawa ke udara, dibalik jemari itu aku bisa melihat tanganku pun menyatu dengan latar berwarna jingga kuning itu. Kegelisahan. Terasa ada yang tidak nyaman di perasaanku, aku memandang jemari itu lagi, dan kecemasan yang menjalar, nyata.
Kuning dan jingga hanya warna, yang paling penting bagaimana aku membacanya. Untuk sekarang aku memaknai kuning dan jingga dengan kegelisahan. Ini terkait Kurosaki Ichigo, apa yang CEO itu inginkan dariku?
Mungkinkah jauh sebelum pertemuan kami di MoMA, Kurosaki sudah tahu aku adalah Kuchiki Alexandria Rukia yang kelak akan bekerja untuknya demi mendapatkan visa itu? Apakah ini ada hubungannya dengan Pak Urahara Kisuke? Aku bisa menyimpulkan demikian karena foto yang dikirimkan Kurosaki Ichigo bersama Orihime Inoue dan Pak Urahara.
"Sudah kuduga kau di sini, Rukia."
Saat menoleh, Shuhei sudah memposisikan duduk di sebelahku.
"Kuchiki Byakuya menyulitkanmu lagi?" Aku tersenyum kemudian menggeleng. "Apakah ini karena lelaki yang kemarin dengan Porsche?"
Aku tertawa kecil, tapi dari ekspresi Shuhei dia mengerti aku sedang gelisah.
Dia mengeluarkan rokoknya dan menyodorkan padaku, sekotak Marlboro berwarna merah. Pikiran kecemasanku berkelana di suatu pagi di depan Tiffany's and Co. bersama dengan lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Shiba Kaien. Saat itu aku menolak tawaran rokok dari lelaki itu, tetapi yang menawari ini adalah Shuhei, dan Shuhei tidak bermaksud jahat padaku. Aku menyambut rokok itu, dan Shuhei membantu menyalakan batangnya.
Kami menghisap tembakau bersama-sama. Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat.
Memang sudah lama kami tidak menikmati waktu dalam diam seperti ini. "Bagaimana dengan nona yang kau temui beberapa hari lalu?" Aku teringat dengan wanita terakhir saat bersama Shuhei.
Shuhei menghembuskan asap dari hidungnya, "Yang mana?"
Aku terkekeh, dasar lelaki laris, "Malam itu, saat aku meminta kau mengantarkan ketiga anak Luigi ke apartemen dan kau melihat seorang lelaki ini turun dari Porsche?"
"Mungkin yang kau maksud adalah Mar?"
"Mar? Apakah itu panggilanmu padanya? Itu nama yang indah." Komentarku. "Mar bukan Mal 'kan?"
"Mar." Konfirmasi dari Shuhei. "Tapi bersamanya terasa seperti Mal."
Apakah Shuhei merujuk Mal dalam Bahasa Jerman sebagai waktu atau Bahasa Prancis yang artinya salah. Dari cara Shuhei merespon, sepertinya terajadi sesuatu dalam hubungannya dengan si Mar ini.
"Kenapa kau memutuskan untuk meninggalkannya kali ini?" Sepanjang sejarah Shuhei dengan wanita, dia orang yang pertama untuk meninggalkan hubungan itu, jadi aku berkesimpulan Shuhei adalah seorang yang memutuskan hubungannya lebih dini.
"Karena dia terasa benar."
Apakah mengakhiri hubungan karena kesempurnaan seseorang itu.. bisa diterima sebagai alasan?
Aku menoleh kepada Shuhei, "Apakah itu alasan yang kau bilang 'Maaf kamu terlalu baik untukku' pada Mar ini? Menggelikan." Cemoohku.
Shuhei lebih sering meninggalkan suatu hubungan daripada mempertahankannya, setidaknya itu yang aku amati. Hubungan itu diperjuangkan, kita berusaha untuk seseorang yang kita cintai. Menurutku, tapi Shuhei tidak berpendapat demikian.
"Sepertinya kau lebih memahami aku daripada yang lainnya, kenapa kau tidak pernah mau menjadi kekasihku, Rukia after all this time?"
Aku terkekeh, "Yes, yes. Kalimat putus asa akhirnya keluar."
Lelaki itu tertawa. "Tapi jujur saja Rukia, apa sulit bagimu jatuh cinta dengan orang terdekat? Apakah aku terdengar putus asa menurutmu?"
Tawaku meledak hingga aku terbatuk, "Kau, Sebastian MacLanders. Apa yang diperbuat wanita Mar ini hingga kau menjadi mode emo? Alih-alih malah mengungkapkan cinta pada sahabatmu? Karena kau sudah hilang harapan?"
Lelaki ini memandangku lekat, angin memainkan rambut di dahinya sehingga bergoyang perlahan. Dia menatapku dengan mata yang lembut. Itu adalah keheningan yang aku sukai, mata yang berbicara padaku tanpa kata, bagaimana bisa keheningan menyampaikan keinginannya padaku tanpa suara?
Shuhei berbicara akhirnya, "Rukia, apakah kau pernah.. setidaknya sekali.. mempertimbangkan hidup denganku tanpa membandingkan kehidupan kita masing-masing yang berbeda?"
This is new.
Aku tidak berkedip saat menatap mata itu, memberikan Sebastian ini suatu pengertian bahwa apa yang aku katakan bersumber dari hatiku.
"Mengapa kau bertanya demikian? Membandingkan kehidupan kita yang berbeda adalah pemikiran yang bodoh, apalagi yang kau maksud adalah, latar belakang kita berbeda misalnya. Kau sudah tah—"
"Itu yang aku maksud bahwa kau terasa benar."
Menjauhkan rokok dari bibirku, kemana arah pembicaraan lelaki ini?
"Pertama kali kita bertemu saat kau baru menempati unit di seberang pintuku, aku berdiri di lorong itu dan mematung memandangmu. Apakah aku salah lihat, ada seorang model akan menempati unit di apartemen kumuh di Brooklyn."
Kemudian aku tertawa terbahak-bahak, "Pertama kali menyapamu, kau malah menghardik di depan wajahku karena tidak sengaja menghancurkan tanamanmu dengan koper-koper besarku, tapi kenapa kau berteriak padaku saat itu Shuhei?"
"Karena aku gugup." Wajah Shuhei memerah. "Aku kira aku salah tingkah padamu, dan.. aku meminta maaf di lain waktu. Sejak itu aku tahu bahwa kita akan cocok berteman."
Aku senyum-senyum mengingatnya.
"Gara-gara kau, aku terpaksa mengunjungi gallery di New York. Kau mengajariku bagaimana seharusnya menikmati karya seni. Aku jengkel karena aku memang bodoh dan tidak mengerti, tapi kau tidak peduli kebodohanku dan kau terus saja berceloteh tentang karya Monet di Metropolitan Museum."
Aku tertawa-tawa, menyenangkan mengingatnya, "Kalau aku boleh mengutip kalimat bijaksana dari Monet sendiri: Semua orang berdiskusi tentang karyaku, dan berpura-pura mengerti, seolah-olah butuh dipahami, padahal karyaku hanya perlu dicintai.. Kau sudah menikmati karya seni itu, Shuhei. Sesuai dengan yang kau sukai, dengan caramu."
Dia juga ikut tertawa, "Aku hanya tanya, apa yang membuat gambar teratai yang dibawah jembatan ini menjadi mencolok lebih dari keseluruh painting-nya? Sebab aku tidak begitu jelas dengan painting itu, tapi kau kelewat baik hati mendeskripsikan hanya satu frame itu saja hingga ke hal-hal kecil lainnya, bahkan kau meneceritakan tentang hidup Monet segala, membuatku semakin bodoh dengan berpikir apakah aku memang tidak mengerti ini gambar teratai?"
Aku tertawa terbahak-bahak.
"Saat itu aku menyadari.. kau memang sempurna dan terasa benar. Ketulusan hatimu untuk menjadi temanku, itu yang membuat sempurna. Kau seharusnya berteman dengan kumpulan orang-orang kelas atas, karena wajahmu yang lebih cocok jadi cover majalah fashion itu. Tapi, kau sepertinya tidak peduli. Alexandria Kuchiki lebih memilih jadi pekerja kantoran biasa, menaiki metro, dan mencintai pekerjaanmu di bidang hukum."
"Hanya karena wajahku yang dianggap menawan, bukan berarti aku mendengarkan orang lain untuk memilih menjalani pekerjaan model yang dianggap lebih baik da—"
"Kau berulang kali, wajahmu cantik karena hanya beruntung saja, kebetulan gen-mu itu unggul karena percampuran Jepang, Prancis dan Rusia, sehingga dianugrahi wajah seperti itu. Tapi kenapa wajah Byakuya menakutkan ya? Padahal campuran itu ada padanya juga."
Aku tertawa geli, "Yang membuat dia menakutkan karena kepribadiannya yang tegas jadi yang tampak adalah menakutkan. Dia tidak seperti itu, setidaknya padaku. Aku ingat saat kami masih tinggal di Clermont-Ferrand, tetangga kami bahkan menganggap dia adalah pemuda pemarah karena dia tidak pernah tersenyum."
"Tapi mengapa kalian warganegara Amerika? Sampai aku baru sadar bahwa kalian tidak pernah tinggal di sini saat masih kecil, kecuali kuliah."
"Tidak bukan begitu. Nii-sama lahir di Amerika saat kedua orang tuaku pertama kali bertemu. Awal mula yang aku tahu bahwa ibuku dibenci keluarganya di Jepang saat memutuskan untuk menetap di Tokyo, aku tidak mengerti mungkin karena menikah dengan ayahku? Entahlah. Yang aku tahu mereka kembali ke California dan setidaknya sampai aku berumur 3 tahun hingga mereka tewas. Sehingga Nii-sama dengan bantuan seseorang yang kami kenal membawaku keluar dari Amerika dan tinggal di Clermont-Ferrand hingga aku memutuskan untuk kembali ke Amerika untuk bergabung dengan Nii-sama."
"Lalu mengapa kewarganegaraan kalian Amerika? Orang tua kalian bukan orang Amerika 'kan?" sepertinya aku memang tidak menjawab pertanyaan Shuhei, jadi dia tanya lagi.
"Untuk pertanyaan itu karena Amerika menganut asas Ius Soli, maka kelahiran kami di US menjadikan kami warganegara ini." Shuhei mengangguk-angguk, sepertinya pertanyaan besarnya sudah terjawab.
Aku melanjutkan dengan tersenyum, "Tentang orang tua kami.. Aku tidak terlalu ingat tentang mereka, tapi menurut Nii-sama mereka orang yang baik."
"Kenapa kau disembunyikan di Clermont-Ferrand?"
Aku terdiam sejenak, "Aku tidak tahu juga. Kalau menurut Nii-sama kedua orang tuaku baik, mengapa keberadaan kami disembunyikan, entahlah, menurutku.. mungkin saja orang tuaku sudah melakukan kejahatan sehingga lebih baik kami di bawa pergi."
"Orang tua kalian tewas, maaf?"
"Yes. Setidaknya itu yang aku tahu peristiwa di California."
"Maksudnya?"
"Menurut Jii-san, mereka dibantai di rumah kami saat aku dan Nii-sama dititipkan ke seorang kerabat atau siapalah. Mungkin sengaja dijauhkan dari peristiwa itu, perkiraanku itu pembunuhan berencana. Tapi aku tidak tahu persis, aku diminta untuk tidak mencari tahu tentang kejadian tersebut karena bisa mengakibatkan gangguan psikologis untuk anak-anak penyintas."
"I am sorry." Shuhei menunduk.
"No need." Aku tersenyum. Aku juga tidak ingin mencari tahu, karena untuk balas dendam juga akan membuat aku kesulitan nanti di masa depan. Nii-sama memutuskan bagi kita berdua untuk menggapai mimpi dan menjalani hidup saja dari pada memikirkan balas dendam. Hidup yang sudah diusahakan oleh kedua orang tua kami."
".. karena mereka juga mungkin masih kerabat ibuku." Aku berkata lirih, Shuhei tidak bergeming, jadi kurasa dia tidak mendengar bagian ini.
Volume suaraku kembali naik, "Untuk itu Shuhei, aku berulang kali mengatakan padamu, membandingkan hidup dengan orang lain adalah percuma. Siapa yang lebih baik kehidupannya, atau siapa yang paling menderita hidupnya. Fase orang sampai di titik sekarang adalah berbeda, kita tidak tahu apa yang sudah dia lewati dan kebijaksanaan apa yang ia miliki dari dia berproses. Apalagi untuk perbandingan sepele seperti kekayaan atau apalah. Jadi kita harus memiliki sikap, sikap menghargai hidupmu tanpa membandingkannya dari siapapun."
Aku tersenyum padanya, dan Shuhei sepertinya tertawa juga. "Lantas apa masalahmu dengan Mar karena tiba-tiba berbicara tentang membandingkan hidup?"
Shuhei yang tadi sempat tertawa sekarang terdiam. Ia seperti memikirkan kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan padaku. "Kita setuju tidak harus membandingkan hidup orang lain, dan Mar mempunyai prinsip yang sama juga seperti ini. Hanya saja, aku tidak yakin untuk settle down."
Apakah Shuhei merasa rendah diri?
Namun, untuk settle down aku berpendapat sama dengan Shuhei, beberapa pasangan tidak ingin membina rumah tangga, termasuk Nii-sama dan orang-orang dalam lingkaranku menganut prinsip ini. Kalau salah satu alasan settle down adalah masalah keuangan di masa depan, jelas itu bukan alasan Nii-sama, tapi bila ini adalah alasan Shuhei maka alasan ini bisa dibilang tepat. Shuhei mungkin bekerja lebih keras dari siapapun selama 24 jam yang ia punya sehari, tapi tidak mampu memiliki tabungan.
"Maaf Shuhei, mungkin di suatu waktu di masa depan, settle down bukan istilah yang menyakitkan lagi untukmu, entah kehidupanmu berubah atau seseorang sudah mengubah definisinya untukmu."
"Trims."
Hening kembali.
"Ada urusan apa lelaki Porsche denganmu, Rukia? Apa kau mencuri sesuatu dari kantung jas-nya saat di Metro?" Shuhei sepertinya ingat malam itu dimana Porsche parkir di depan apartement kami.
Aku tertawa, "Namanya Kaien bukan lelaki Porsche. Setidaknya aku mengenalnya dengan nama itu. Tentu saja aku tidak pernah mencuri, apalagi di Metro. Kalau aku mau mencuri setidaknya yang lebih keren, seperti menjadi anggota dari team Professor dengan rencana sabotase percetakan uang Royal Mint di Spanyol."
"Begitukah? Tapi aku sepertinya pernah melihatmu sekali atau dua kali dengan lelaki ini. Tapi apa aku keliru?" Ia tampak sedang mengingat. "Bukankah lelaki ini pernah ke sini beberapa bulan sebelumnya, sepertinya dia yang tidak ramah saat aku ke apartemenmu untuk meminjam dapur."
Kau tidak salah Shuhei, kau pernah bertemu orang ini.
".. Dia tampak tidak senang aku di tempatmu, tapi aku hanya bilang 'Chill bro, I am just Rukia's friendly neighbor not her husband'. Apa aku keliru?"
"Mungkin.." Jawabku santai. Aku tidak ingin klarifikasi.
Shuhei semakin berpikir keras, "Tapi sepertinya aku keliru, seseorang yang aku temui itu jelas bukan Kaien ini, sebab rambutnya berwarna hitam, tetapi rambut lelaki Kaien yang kau maksud ini berwarna jingga.."
"Yeah."
"Mungkin saja memang mataku kelilipan debu Porsche miliknya jadi tampak mirip di penglihatanku."
"Yeah."
Shuhei menegakkan punggungnya, "Apa kau sedang mempermainkanku? Kau tahu Rukia lelaki tidak akan keliru melihat lelaki lainnya. Apalagi lelaki yang punya Porsche. Ayo katakan sesuatu." Dia menggelitiki sisi sampingku, dan itu membuatku tertawa karena geli.
"Hentikan, yes I will tell you tattoo man!"
"Lalu, mengapa dia tampak familiar Rukia, setidaknya bukan hanya aku melihat dia sekali ke sini, tapi dia tampak familiar dimana-mana. Mengapa kau memiliki hubungan dengan seseorang yang mampu membeli Porsche."
"Nii-sama punya Tesla dan Cadillac." Shuhei memutar bola matanya.
"Dia pemilik perusahaan multinasional, Rukia. Dibandingkan dengan kau yang hanya pegawainya saja."
"Terima kasih atas pujiannya, apalagi aku hanya mampu sewa apartment di Brooklyn sedangkan Nii-sama tinggal di Manhattan."
".. dan kita tidak mampu untuk membayar pajak kendaraan!" Kami tertawa lepas bersama-sama, sesama penghasilan pas-pasan di New York harus saling mendukung, saling mendukung mental.
"Jadi, apa yang kau ingin tahu tentang Kaien? Yang kau tahu dia mengendarai Porsche, memang kau tahu dari mana Porshce itu miliknya? Bisa saja dia pinjam kan?" Aku masih menggodai Shuhei.
Lelaki itu menghembuskan nafas kesal, "Apa kau akan meminjamkan Porsche mewah seperti itu kepada orang lain, sekalipun itu mengantar keponakanmu untuk pergi membeli happymeals?"
Aku senyum-senyum, "Tentu tidak."
"Jelas! Aku hanya akan mengendarai Porsche itu hanya untukku sendiri. Kendaraan itu kepribadian, dan tidak akan membuatnya tergores!" Shuhei berapi-api.
"Yeah, yeah. Sebastian. You win. He is somebody."
"Nah!" Dia lebih antusias dari sebelumnya saat tebakannya tepat, "Apakah orang ini YouTuber?"
Aku menggeleng. "Aku jarang menonton YouTube, jadi jelas aku tidak mengerti trend YouTober saat ini, apalagi punya kenalan seperti mereka."
"Karena kau kutu buku!" Aku tertawa keras karena tuduhan Shuhei emang bener.
"Apa lelaki ini pemeran di The Wolf of The Wall Street?"
"Walaupun rupa Kaien lumayan, tapi dia bukan Leonardo di Caprio."
"Orang kaya?"
"Apakah orang kaya adalah karena dia punya Porsche?"
"Anggota yakuza?"
"Menurutku lebih cocok lebel itu disematkan padamu, karena tato 69 itu."
"Keponakan Vladimir Putin?"
"Entahlah, kalau iya seharusnya aku memanggil dengan nama nama orang Rusia, Tchaikovsky misalnya."
Shuhei tersedak, "Dari semua nama orang Rusia, kenapa kau menyebut nama maestro?"
Aku terkekeh, "Sebab pertanyaanmu tidak terduga."
"Dia seperti Kurosaki Ichigo."
Hening sesaat.
Tebakan Shuhei seperti atlet panahan yang membidik bulls eye, hanya saja dia melakukannya tepat pada percobaan ke dua.
"Menurutmu begitu?"
Shuhei menggangguk. "Aku tidak salah mengenali Kurosaki Ichigo karena dia adalah founder untuk berbagai raksasa teknologi saingan berat Google dan Amazon. Markas programmer besar di Sillicon Valley. Kalau kau seorang penggemar teknologi pasti dia tidak asing."
Berarti selama ini aku yang tidak tahu menahu tentang keadaan saat ini, mungkin cara aku memandang dunia harus berevolusi. Aku bahkan tidak mengenal Kurosaki Isshin saat pertama kali berbicara dengannya. Kurosaki Isshin yang sering muncul di majalah Forbes. Dunia pekerjaanku berputar di kalangan orang-orang ini, harusnya aku lebih aware lagi.
"Begitu ya, tapi aku tidak mengenalinya sebagai Kurosaki Ichigo."
Air muka Shuhei berubah, seolah menyiratkan 'Kau tidak mengenali Kurosaki Ichigo, apa guna iPhone digenggamanmu?'
"Oh ya? Mengapa kau menyebutkan namanya dengan nama lainnya sebagai Kaien? Itu alter-ego dari Kurosaki Ichigo."
Aku menyambar pergelangan tangan Shuhei dan gerakan itu membuat rokoknya hampir jatuh dari jemarinya. Sambil misuh dan membuang abu rokok yang terjatuh bertebaran di pangkuannya, dia hendak meneriakiku tapi aku lebih dulu mengagetkannya dengan sederet pertanyaan.
"Apakah Shiba Kaien yang kau maksud adalah Ichigo Kurosaki? Ada berapa seniman yang bernama Shiba Kaien selain Ichigo Kurosaki? Mengapa kau tahu juga Kurosaki Ichigo ini seorang seniman selain seorang founder perusahaan startup?"
"Ha? Kau ini kenapa Rukia? Pengguna social media tahu bahwa Kurosaki Ichigo adalah Kaien Shiba. Dia menghasilkan karya-karya juga. Kau sering berkunjung ke gallery dan museum kenapa kau tidak pernah menemui karyanya?"
"T-tidak, maksudku aku pernah bertemu seseorang dan memperkenalkan diri sebagai Shiba Kaien, maksudku apa ada seniman lain Shiba Kaien?"
Shuhei tampak bingung, "Kalau kau berbicara seorang seniman dengan nama panggung Shiba Kaien pasti yang dimaksud adalah Kurosaki Ichigo, tapi pasti ada dong orang diluar sana yang bernama Shiba Kaien, ya 'kan?"
Aku mengingat lagi pertemuanku di Tiffany's & Co, apakah kebetulan juga seseorang ini bernama Shiba Kaien—seseorang yang dinamai di akta kelahirannya dengan nama Shiba Kaien, dan orang ini profesinya sebagai pelaku seni?
Kalau memang seperti itu, jadi Ichigo sekali lagi tidak berbohong padaku, apakah kemungkinan yang berbohong adalah lelaki yang aku temui di Tiffany's & Co. Ada apa dengan nama Shiba Kaien, kenapa identitas Shiba Kaien menjadi simpang siur begini ataukah nama Shiba Kaien menjadi popular untuk menamai bayi daripada nama anak Elon Musk yang sulit dilafalkan itu?
"Jadi Rukia, apakah lelaki Porsche ini adalah benar-benar Kaien dari Shiba Kaien alias Kurosaki Ichigo?"
Aku menganggukkan kepalaku pelan.
Rokok Shuhei terjatuh dari pangkuannya akan tetapi dia tidak repot-repot membersihkan abunya kali ini. Putung rokok itu jatuh begitu saja ke lantai dan Shuhei menatapku tidak percaya.
"Seorang Kurosaki Ichigo adalah pacarmu, pantas saja dia memandangku saat itu seperti akan menerkam!"
"Dia bukan pacarku, dia hanya kebetulan client Kisuke & Kuchiki Asso— "
"Mengapa client firma Kisuke & Kuchiki harus datang ke tempat tinggal konsultannya?"
Bahuku terkulai, kepalaku tertunduk lemah. Pada akhirnya aku bercerita awal mula pertemuanku di MoMA dengan Shiba Kaien, dan sekarang mendapati kenyataan bahwa dia adalah Kurosaki Ichigo.
Shuhei memperhatikan dengan serius akan tetapi sorot matanya mengatakan sebaliknya apa-aku-salah-dengar.
"Kau tahu Rukia, Kurosaki Corps ada masalah dengan Arrancar Army, group startup milik Aizen Sousuke. Nilai saham kedua perusahaan itu naik turun di lantai bursa saham New York. Belum lagi keduanya tersandung masalah persidangan kepemilikan hak cipta untuk beberapa aplikasi. Kemudian.."
Aku tidak pernah menganggap Shuhei bodoh seperti anggapan dirinya sendiri. Dia sangat teliti bekerja dan menelaah informasi. Aku mengaguminya karena kemampuan analisisnya yang luarbiasa. Kalau nasib berkata lain, mungkin dia adalah trader di Wall Street atau detektif di NYPD.
".. Kurosaki bukan orang Amerika, dia harus mempertahankan kepemilikan hak cipta buatannya dan menang dalam persidangan, tapi dia bukan orang Amerika.. kau paham maksudku? Dia sudah pasti akan kalah untuk hak cipta dari aplikasi penting karena persidangan itu mengikuti hukum di Amerika, bagaimana bisa non-US citizen bisa mendapatkan hak cipta itu? Selain itu bagaimana publik memandang Ichigo Kurosaki sebagai non-US citizen, Rukia?"
Aku tertawa kecil, sungguh menggelikan drama Kurosaki Corps ini.
"Mungkin itulah sebabnya dia mendatangi firma Kisuke & Kuchiki untuk memenangkan hak cipta itu dan mendapatkan kewarganegaraan US." Aku berkomentar.
Shuhei tertawa, "Kalau aku adalah wartawan, aku akan membocorkan berita penting ini ke publik. Tapi aku hanya pegawai Taco Bell, Rukia, mengerti apa aku tentang masalah pelik di meja hijau?"
Kami tertawa bersama-sama.
Kalau Shuhei tahu apa yang aku alami di Tiffany's & Co, pasti Shuhei akan menghapus memori di kepalanya dan membuat ini seolah tidak pernah terjadi karena membahayakan nyawa.
"Jadi Rukia, apa bisa kau mengajak aku dan Kurosaki Ichigo untuk datang acara minum-minum di Local bar?"
"Mengapa kau jadi tertarik dengan Ichigo?"
"Karena aku ingin menghajar wajahnya dengan alasan aku mabuk." Shuhei tertawa dan melanjutkan dengan lirikan matanya yang menjengkelkan, "Tentu itu tidak akan aku lakukan, karena.. aku sudah lebih dulu menghajarnya lebih awal." Tertawa Shuhei terdengar puas.
"Menurutku, Rukia.. dia sudah membohongimu."
"Begitukah?" Aku menantangnya.
"Dengar, kau sudah berbaik hati menjadi temannya selama ini tetapi dia berpura-pura menjadi Kaien Shiba dengan dalih tetap menjadi temanmu. Apa kau tidak curiga bahwa menjadi temanmu adalah sebagian kecil rencana untuk tujuan besarnya?"
Sebastian dan aku satu suara.
"Kau harus hati-hati terhadapnya, sebab mungkin saja Shiba Kaien dan Kurosaki Ichigo berkepribadian ganda misalnya?"
Itu berlebihan. Kalau dia seperti itu, aku sudah menyadarinya, Shiba Kaien dan Kurosaki Ichigo hanya beda nama tapi kepribadian mereka sama. Mereka itu satu orang beda nama saja, bukan dua orang. Label alter-ego Shiba Kaien menurutku tidak tepat untuk Kurosaki Ichigo. Walaupun awalnya aku berpikir Shiba Kaien adalah alter ego Ichigo, setelah aku perhatikan lagi tidak ada yang berubah mengenai karakter atau sikapnya.
"Kau tidak perlu khawatir, Shuhei. Setidaknya dia tidak membahayakanku. Kalau dia memanipulasi misalnya, jelas itu pekerjaan sia-sia." Aku meyakinkan Shuhei.
"Aku tahu itu, Rukia. Aku yakin kau wanita yang cerdas, tetapi kalau dia mempermainkan persaanmu. Alur ceritanya bisa berubah."
Langit berwarna jingga dan kuning dalam painting Munch adalah ekspresi kegelisahan. Langit sore ini adalah ketentraman, tetapi saat dipantulkan di wajahku, warna itu akan menjadikan ekspresiku yang terkejut. Seperti inilah karya Munch pada dunia nyata. Ekspresiku yang terkejut dengan warna warna jingga dan kuning.
Sepertinya alur ini sudah berubah. Kurosaki Ichigo sudah mempermainkan perasaanku, sejak awal.
xxx
Aku berbaring di atas kasurku, dan kali ini benar-benar memanfaatkan teknologi di genggaman. Membuka safari dan membuka halaman-halaman terkait Kurosaki Ichigo.
Shuhei benar, sepertinya Ichigo tersandung masalah hak cipta. Beberapa artikel menyebutkan bahwa kepemilikan hak cipta dari aplikasi-aplikasi popular saat ini adalah milik perusahaanya, tapi dia tidak bisa membuktikannya dan malah dianggap dia yang telah melanggar hak cipta.
Kalau ini sih rumit banget. Hak cipta milik dia tapi diakui oleh orang lain dan penciptanya sendiri yang dianggap mencuri.
Tapi siapa pencipta algoritma dari aplikasi yang menjadi sengketa ini? Aku menggali artikel-artikel terkait dan menemukan nama: Ulquiorra Cifer.
Penting 'kah informasi ini untuk aku gali lebih dalam? Semakin banyak informasi yang aku temui, semakin sulit untuk menyaring data yang relevan.
Layar iPhone tiba-tiba berubah menjadi panggilan telepon? Di situ tertera Kaien Shiba. Catatan untukku untuk mengganti namanya menjadi Kurosaki Ichigo agar aku kembali ke kenyataan bahwa dia bukan Shiba Kaien yang aku sukai saat pertama kali berjumpa di MoMA.
"H-halo?"
"Hi!" mendengar suaranya saja aku sudah senang.
"Ada apa?"
"Apakah panggilan ini menggangu?"
"T-tidak. Aku hanya kaget saja." Luarbiasa kaget!
"Bagaimana kondisi kakimu? Masih sakit?"
"Emm.. sudah lebih baik."
"Bisa berjalan?"
"Err, kurasa."
"Apakah kau bisa ke Dumbo House?"
"Dumbo House? Empire Store di Dumbo yang kau maksud? East River? Sekarang?" Arah pandanganku ke jendela kamar, matahari sudah terbenam hampir seluruhnya dan aku sudah di atas tempat tidurku.
"Apakah kau sedang ada acara lain?" Ia terdengar sedih.
Buru-buru aku menjawab, "Ah tidak, aku hanya sudah berbaring di tempat tidurku."
Jeda sejenak, seperti dia sedang berpikir.
"Dari tempatmu berjalan kaki melewati Dumbo, hmm beberapa blok, atau.." Jeda lagi, "kau butuh tumpangan?"
Beberapa blok bisa jadi lebih dari 7 blok, dan itu di sekitar Dumbo, dan tumpangan yang dia maksud pasti Porsche Carrera hitam mengilap, aku agak alergi dengan kendaraan mahal. Lebih baik aku jalan kaki saja. "No need, emm.. aku hanya butuh satu jam untuk ke Dumbo House. Aku akan bersiap."
"Bisakah kau menyalakan live GPS-mu?
Mengapa ia ingin aku menyalakan GPS, apakah dia benci menunggu? "Aku hanya butuh satu jam, dan aku akan tiba di Dumbo House tepat waktu. Aku berjanji."
"T-tidak, bukan begitu. A-aku hanya memastikan keselamatanmu. It is Brooklyn, remember?"
"Okay, thank you."
Aku mematikan sambungannya. Benarkah dia peduli dengan keselamatanku. Dumbo is friendly neighborhood dan cukup aman bahkan dilalui malam hari, mengapa itu mengganggunya?
Menurutku, dia hanya tidak ingin menunggu terlalu lama, sehingga dia memastikan aku sudah berjalan ke Dumbo House, di tepi East River. Apabila titik GPS aku belum bergerak, itu artinya aku belum beranjak dari apartement. Kemungkinan dia akan terus meneleponku untuk segera berangkat. Karena dia tidak ingin terlalu lama di Dumbo House sendirian atau apalah. Dengan perasaan agak jengkel, aku tetap bersiap-siap untuk Dumbo House.
Dua puluh menit kemudian aku sudah keluar apartmen dan memandang sepatuku, Prada.
Ini salah satu hadiah dari Ichigo dengan paket-paket sepatu yang mengejutkan, dan diwarnai drama. Menggelikan mengingat peristiwa itu.
It is Prada kitten heels. Aku bersumpah sepatu ini mengeluarkan lampu-lampu dari alasnya saat dipijak dan aku terbengong-bengong memandang diriku mengenakannya. Apakah ini rasanya menjadi Cinderella?
Setelah mengirim Ichigo live GPS, aku sambil melangkah ke arah Dumbo. Sepertinya aku merasakan derajat kepercayaan diri naik, mengenakan sepatu Prada, jadi agak lebih..gimana gitu. Bahkan saat aku berjalan, menurutku, orang-orang memandangku dengan kekaguman. Apakah ini efek samping dari sepatu yang indah?
Aku senyum-senyum, dengan keyakinan yang diluar nalar, agaknya kakiku tambah beberapa senti memanjang. Ini sih jelas tidak mungkin, tapi aku tidak peduli dengan sanggahan itu.
Masih ada sepatu lainnya dari Ichigo yang tidak kalah menawan dari Prada ini jadi a—
Pikiranku berhenti memikirkan sepatu karena seseorang di depanku. Cukup mengejutkan karena dia lelaki yang berdiri beberapa meter dariku menyambutku dengan senyum merekah. Matanya coklat cemerlang dan rambutnya tertata rapih. Semi-casual dengan tone warna biru. Apabila aku tidak mengenalnya, sudah pasti aku akan diam-diam meliriknya karena dia luarbiasa rupawan.
"Ternyata sepatu itu lebih indah saat dikenakan olehmu, daripada berada di gerai Prada."
Aku tersenyum. "Aku belum berterima kasih untuk sepatu-sepatu itu."
Dia menggeleng, "Tidak. Kau sudah melakukannya, dengan kau mengenakannya sekarang saat bersamaku. Itu lebih dari berterima kasih."
Sial, hatiku pengkhianat, sekarang dia berdesir-desir. Padahal tadi di apartemen hatiku mengebu-gebu kesalnya dengan lelaki ini.
"Bagaimana kau tahu tahu aku melewati jalan ini." Oh tidak GPS. "Kau memantau GPS itu?"
Dia tersenyum, "Memandangi layar iPhone sampai mataku pedas."
"Tapi aku merasa aman melewati jalan ini jad—"
"Aku tahu."
"Apa karena kau tidak suka menunggu? Sehingga kau memastikan GPS-ku sudah bergerak ke Dumbo House darip—"
"Benar, aku tidak sabar menunggumu. Tapi kau tidak mengizinkan diberikan tumpangan, jadi.. yeah, aku ingin menemuimu secepat yang aku bisa." Kali ini dia nyengir.
Hatiku berdesir lebih hebat. Pengkhianat! Karena kau berdesir-desir, wajaku pasti tersipu karena ulahmu.
"Apakah kau juga berjalan ke arahku sehingga kita pasti bertemu di pertengahan jalan alih-alih menunggu di Dumbo House?"
Senyumnya merekah makin lebar. "Benar, aku ingin melihatmu lebih cepat. Maaf, aku tidak sabar.."
"Kau berjalan lebih jauh, dan aku baru berjalan sebentar. Agar tidak berselisih jalan, maka kau ingin aku mengaktifkan live GPS?"
Dia mengangguk mengonfirmasi. "Ini usaha tercepat yang bisa aku lakukan. Dari Clermont-Ferrand hingga New York, perjalanan ini tidak seberapa."
"Clermont-Ferrand hingga New York? Apakah itu perumpamaan baru yang menjelaskan betapa jauh kau sudah terbang dari Prancis ke US?"
Dia terkekeh. "Tidak ada yang baru, Alexandria."
Bila ini memang perumpamaan, jelas aku baru dengar, mungkin itu istilah bagi YouTouber, eh? Apakah ia menghabiskan waktunya menonton YouTube? Entahlah.
Kini sorot matanya berbinar. "You look beautiful, tonight." Dia buru-buru menggeleng, "No, everysingle time I see you. Honestly."
Sial. Diam hatiku sang pengkhiat, kau malah kegirangan.
"Thank you. You too, l-look nice."
Dia nyengir. "Aku tahu."
Kami tersipu, tidak, hanya aku saja yang tersipu sepertinya.
Kini dia mengambil posisi di sampingku dan kami menelurusi tiap blok menuju Dumbo.
"Apakah kau pernah tinggal di Clermont-Ferrand? Kau menyebutkan kota itu." Aku teringat sesuatu.. "Oh, maaf ibumu berasal dari Clermont-Ferrand, kau sudah memberitahuku sebelumnya."
Saat dia memperkenalkan dirinya sebagai Shiba Kaien.
Dia diam untuk berpikir, "Kalau dingat, aku tidak pernah tinggal di Clermont-Ferrand. Tidak dalam durasi tinggal yang lama."
Mungkin perumpamaan tadi hanya karena ia menyebutkan kota-kota secara acak yang terlintas di kepalanya. Dari Clermont-Ferrand hingga New York.. itu hanya perumpamaan yang dia karang sendiri.
"Tapi, tentu saja kau pernah mengunjungi Clermont-Ferrand beberapa kali." Bagaimana kau menjelaskan padaku alasan memilih kota Clermont-Ferrand secara acak.
"Iya pernah, sekali saat aku berumur 8 tahun mungkin. Apa kau menyukai Clermont-Ferrand?" Dia balik bertanya.
"Aku menyukai setiap sudut Clermont-Ferrand. Setiap seni arsitektur di tiap bangunan bersejarah di sana bahkan pinggiran kota itu. Setiap festival juga." Teringat masa kecilku di sana, semuanya indah sekali.
"Benar, festival film juga. ISFF. Pasti menyenangkan." Dia juga ikut menimpali.
"Aku tidak mengerti tentang film pendek, tapi aku tetap datang tiap tahun untuk menonton." Aku tersipu.
"Bukan 'kah itu sebutan untuk penggemar film pendek apabila hadir setiap tahun." Dia menggodaku. Kami tertawa.
"Mungkin benar, aku penyuka film pendek, sangat menikmatinya." Akhirnya aku mengakui. "Kalau kau mengunjungi Clermont-Ferrand saat umur 8 tahun, bagaimana kau bisa mendatangi ISFF di Clermont-Ferrand tiap festival itu berlangsung?"
Langkahnya berhenti, dia menatapku. Aku dibuat heran karena gerakan yang berhenti mendadak.
Masih menatapku lekat, ini membingungkanku, apakah pertanyaan tadi adalah salah satu jenis yang tidak ingin dia jawab?
Setelah menatapku intens, dia akhirnya membuka mulutnya. "Pertama kali mengunjungi Clermont-Ferrand karena.. paksaan dari Ayahku. Tapi pada akhirnya, untuk alasan yang aku buat-buat sendiri, setiap musim semi atau musim panas aku ke Clermont-Ferrand."
Aku berkomentar, "Mungkin musim panas di Clermont-Ferrand bukan pilihan tepat dibandingkan kunjungan ke Marseille atau Riviera di Provence. Tapi Clermont-Ferrand tetap menyenangkan ya?"
"Sepertinya pengetahuanku tentang Clermont-Ferrand kalah jauh dengan penduduk lokal seperti dirimu." Dia menggodaku.
Aku mematung. "Aku tidak menyebutkan aku pernah tinggal di Clermont-Ferrand, aku hanya bilang aku menyukai kota itu. Mengapa kau menyebutkan bahwa aku penduduk di Clermont-Ferrand?"
Kali ini aku yang menatapnya intens, sebagai upaya mengintimidasi karena tuduhannya. Aku memiliki alasan tidak ingin menyebutkan apapun yang berhubungan dengan Clermont-Ferrand. Apabila diruntut dari awal, kepergianku dari California ke Clermont-Ferrand adalah rahasia, Nii-sama memboyongku ke tempat itu dan hidup di sana sebagai alasan menjauhkanku sementara dari keluarga ibuku, darimana dia bisa menyimpulkan bahwa aku pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama di Clermont-Ferrand?
Untuk momen agak mencekam, dia akhirnya bersuara. "Aku hanya berasumsi kau tinggal di sana. Aku juga tidak yakin kalau kau adalah penduduk lokal."
Oh.
"Kau hanya main tebak-tebakan. Seperti kau main kuis-kuis Alexander The Great."
Dia tertawa-tawa, "Apakah ini waktu yang tepat untuk kuis?" Responnya biasa saja, ini mengonfirmasi bahwa tadi aku hanya overthinking. "Oke.. jadi siapakah matematikawan dan filsuf yang lahir di Clermont-Ferrand yang namanya diabadikan menjadi nama universitas dan juga penemu teori probabilitas?"
Aku cemberut, "Mulai lagi deh."
Dia cengar-cengir. "Kau butuh petunjuk?"
"Tidak perlu. Aku hanya tidak ingin menjawab."
"Ayolah, jangan ngambek Alexandria. Ini hanya kuis ringan."
Ini kuis atau snack Lay's ya? Ringan. Ia pikir sedang mengasuh anak elementary.
".. Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh rasio."
Itulah jawabanku. Kalau dia beranggapan ini kuis sungguhan, maka aku akan menjawab dengan sepenuh hati.
Dia terdiam dan kemudian tertawa. "Aku tidak tahu apakah itu quote terkenal?"
Aku makin jengkel, "Hei itu pemikiran dari Blaise Pascal! Itu jawaban untuk pertanyaan kuis-mu tahu! Blaise Pascal!"
Dia terkekeh, "Maaf padahal aku yang menyebutkan kalau dia filsuf, tapi aku lupa sama sekali tentang buah pemikiran Blaise Pascal. Jadi apa artinya?"
Entah dia memang tidak tahu atau memang sedang ngetes. Aku sengaja tidak menjawabnya.
Dia masih cengengesan, dan berkata, "Kau memang distraction Alexandria, mengalihkan apapun bahkan konsentrasiku." Aku masih memasang ekspresi cemberut, tapi masih juga dengan sukarela melanjutkan tentang Blaise Pascal.
"Pascal memang matematikawan, dan namanya diabadikan menjadi Universite Blaise-Pascal atau disebut Clermont-Ferrand II, tetapi Pascal adalah seorang filsuf yang religious. Setidaknya rasio yang menunjukkan tentang akal dan hati menunjukan kemampuan manusia yang melampaui akalnya. Maksud Pascal bisa jadi adalah rasio manusia punya batas sedangkan hati dalam artian dari Pascal adalah iman, jadi ia bepikir hati atau iman tidaklah memiliki batas atau dibatas-batasi."
Aku masih mengoceh tentang pemikiran Pascal, dan baru menyadari bahwa dia terdiam memandangku dengan matanya yang indah itu.
"Kau menakjubkan."
Apakah dia sedang memujiku atau mengagumi pemikiran Blaise Pascal? Atau dia hanya beranggapan aku tahu tentang subjek yang tidak dia kuasai sehingga terdengar memukau menurutnya?
"Maksudmu pemikiran Blaise Pascal?"
"Y-ya tentu saja pemikiran Blaise Pascal menakjubkan selain karena matematikawan juga karena pemikirannya, untuk itu pantas disebut filsuf. Tapi yang ingin aku komentari adalah.. kau. Kau menakjubkan."
Aku mengabaikannya karena aku yakin dia hanya tidak terlalu paham tentang keilmuan filsafat sehingga aku terdengar keren.
Dia meyakinkan aku sekali lagi, "Tidak, kau memang menakjubkan. Bukan kerena kau terdengar pintar justru aku tidak menyangka bahwa kau memang mendalami filsafat. Kau pastilah bijaksana." Dia merespon setelah sikapku yang tidak bergeming saat dilontarkan serangkaian kalimat pujian.
Sekarang aku yang tertawa, "Kau tidak bisa menilai kebijaksanaanku hanya karena aku mengetahui sedikit pemikiran dari dua atau tiga filsuf. Kebijaksanaan itu menurutku tidak bisa dinilai, dikatagorikan, atau diasumsikan seperti itu. Kebijaksanaan itu.. sangat indah, jadi aku rasa kau berlebihan."
Dia tidak membantah pendapatku atau memberikan respon, dia hanya tersenyum.
"Kau tahu Alexandria, bintang-bintang di langit itu indah sekali saat malam hari, tapi tidakkah kau menyadari bunga-bunga liar yang tumbuh di tanah yang kita pijak sama indahnya dengan bintang-bintang di langit?"
Apakah ini perumpamaan yang ia karang sendiri lagi?
".. Keindahan itu tidak dikatagorikan karena dia tampak menawan karena dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa kita raih. Namun, justru yang dekat, liar, dan natural sama indahnya dengan yang jauh di atas sana, bahkan jauh lebih nyata dan hadir." Dia menjelaskan perumpamaan karangan dia.
Tawaku meledak, dan aku merasa tolol. "Benarkah? Aku tidak mengerti."
Sepertinya dia juga tertawa namun kali ini menahan kesal. Mungkin dia ingin terdengar keren, tapi gagal karena aku tidak paham.
"Ah kau Alexandria, kau bilang namamu diambil dari kota Iskandariah di Mesir, pusat ilmu pengetahuan, pertemuan Timur dan Barat. Jangan kau bersikap seperti kau tidak menanggapi kalimatku yang indah tadi." Dia menyerah dan mengganggap angin lalu saja kebodohanku
Benarkan dia kesal karena kebodohanku. "Maafkan aku tuan Alexandre yang-tidak-Great. Kau kurang keren seperi Raja Alexander Agung dari Macedon."
Aku berhenti sejenak memandang Brooklyn Bridge dari spot dimana ribuan foto sudah tersebar di dunia maya dari waktu ke waktu. Waterfront di Dumbo. Persimpangan antara Washington Street dan Water Street. Sisi kiri dan kanan tempat parkir mobil, sedangkan pemandangan Brooklyn Bridge melintang diantara bangunan iconic.
"Kau ingin aku ambil foto di sini?" Ia bertanya.
Aku menggeleng sambil tersenyum, "Aku hanya ingin menikmati sisi ini tanpa banyaknya turis dadakan."
Dia terkekeh. "Aku juga turis di Brooklyn. Apa aku boleh foto di sini?" Mengeluarkan iPhone dan membuka kamera depan.
Ku kira dia akan swafoto dengan background Brooklyn Bridge, namun dia menarikku ke depan dadanya dan mengarahkan wajahku memandang ke arah kamera itu. Aku menutupi wajahku. Dia membuka pelan telapak tanganku dan menggenggamnya. Kini swafoto itu menjadi intim. Aku dan dia yang tersenyum ke depan, dengan tangan kirinya menggeggam tanganku. Aku tidak begitu yakin hasil foto itu terlihat Brooklyn Bridge sebagai latar fotonya karena satu bingkai foto itu wajah kami berdua.
"Kau tidak boleh meminta foto ini." Dia hanya bercanda aku tahu.
"Karena?"
"Karena kau bisa terkenal karena foto denganku."
Di luar dugaan sekali alasannya. "Baiklah, celebgram. Aku rasa itu ide yang bagus, jadi aku juga tidak perlu mengunggah di Instagramku karena aku bisa jadi bahan hujatan para penggemarmu."
Dia tertawa, "Lihat sudah aku berikan padamu, salinan foto itu. Tolong di cetak dan di letakkan di meja kerjamu ya? Kalau ada yang bertanya padamu siapa yang foto bersamamu, katakan pada mereka: Kurosaki Ichigo sudah menyukai seseorang yang sangat cantik dan perempuan ini satu-satunya orang yang menganggap aku tidak keren sama sekali."
Di dalam hatiku tertawa getir, bukan aku tentu saja yang dia maksud. Pasti perempuan yang dia maksud sangat cantik itu model atau siapalah aktris Holywood. Apakah aku menganggap Kurosaki Ichigo tidak keren? Dia keren, apakah aku belum pernah memujinya selama ini?
Kami sudah memasuki lobby Empire Store untuk menuju Dumbo House. Saat memasuki lobby dia meletakkan tangannya di belakang punggungku. Paham ini gesture yang menunjukan sesuatu, aku bisa menghindar dan memberi isyarat agar dia tidak meletakkan tangannya di punggungku, tapi mengapa aku membiarkan saja?
Tangan itu berhenti menyentuh punggungku saat kami sudah menaiki tangga untuk sampai di Dumbo House, dan aku merindukan sentuhan itu yang sudah pergi.
Vibe di sini memang luarbiasa, agak ramai dan suara-suara orang chit-chat di sana sini.
Dia membiarkan aku memilih tempat duduk, dan aku memilih di teras. Brooklyn di malam hari memang indah dari sini, kau bisa melihat Brooklyn Bridge dan Manhattan Bridge di kanan dan kiri. Belum termasuk keindahaan East River yang membuat tempat ini adalah luarbiasa.
"Kau belum pernah ke sini?" kataku setelah memperhatikan tingkahnya yang terlihat kikuk.
Dia mengganguk, "Dari mana kau tahu?"
"Kau agak bingung dengan sekeliling ini, seperti pertama kali mengunjungi tempat baru. Mengapa kau memilih tempat yang kau sendiri tidak familiar?"
"Agar kau dan aku sama-sama dihadapkan dengan dengan kondisi yang tidak nyaman." Dia nyengir.
Setan.
"Kau lebih sering di Manhattan ya?" Aku menggodanya. Dia mengangguk malu. "Apakah kau tidak menyukai Brooklyn selama ini?"
Dia berbicara sambil membaca menu. "Aku suka seluruh New York. Dari Manhattan, Queens, The Mets, Bronx, MoMa, dan Kuchiki Alexandria Rukia."
Untuk yang terakhir, aku yakin dia sedang melempar humor ringan yang tidak berbahaya. Sangat ringan tentu saja seperti snack Lay's.
"Thanks." Aku juga menanggapinya biasa saja, jadi untuk menekankan aku-biasa-saja dengan mataku yang menatap menu dengan harapan terbaca sebagai aku-santai-kok.
Aku bertanya padanya. "Bolehkah aku memesan salad?" Dia membalas dengan anggukan. Mengapa aku bertanya karena kekhawatiranku bila dia beranggapan aku beneran tidak nyaman bersamanya sehingga aku memilih menu yang sama seperti yang dia makan, karena males mikir.
Ternyata dia memesan salad dengan thousand island dan pinot. "Kau makan salad juga?" Tanyaku.
"Kadang. Kombinasi thousand island salad dan pinot adalah aneh, tapi untuk alasan tertentu aku menyukainya."
"Kalau begitu aku Caesar salad dengan red wine saja."
Dia nyengir, "Kau juga aneh, berarti kita cocok."
Analogi macam apa itu? Kecocokan karena sama-sama aneh.
Setelah memastikan pesanan kami sudah sesuai, terbitlah momen kritis. Jeda antara selesai memesan dan menunggu kedatangan menu tersebut adalah waktu yang krusial untuk pembicaraan penting sebelum dipotong waktu makan. Apabila ini adalah pembicaraan bisnis, maka intinya adalah di jeda waktu ini.
Dia terdiam dari seberang meja, ku kira dia akan melakukan hal-hal seperti orang-orang normal lain saat ini, meraih ponsel untuk mengecek social media demi membunuh waktu selagi menu pesanan datang. Tapi dia tidak melakukan hal normal itu, dia memilih berbicara dengan manusia lain di sekelilingnya. Berbicara denganku.
Dari sudut mata ini, aku tahu bahwa dia menegakkan punggungnya dan memandang ke arahku. Aku pura-pura menikmati pemandangan Brooklyn Bridge daripada memandang balik matanya.
Momen berikutnya, dia buka pembicaraan. "Aku berhutang padamu, Alexandria, setidaknya sebuah proper introduction, yang lebih baik padamu. Jauh daripada pertemuan pertama kita yang tidak sengaja di depan karya Mark Rothko."
Pandanganku beralih dari Brooklyn Bridge dan permukaan East River, ke wajahnya. Pendapat Shuhei benar, untuk point itu dia memang membohongiku, dan ia membiarkan skema kebohongan ini bertahan dalam waktu cukup lama dengan identitasnya sebagai Kaien Shiba. Kebohongannya padaku.
Dia memejamkan matanya sebentar seperti mengambil nafas dalam sebelum dia berbicara.
".. Aku adalah Kurosaki Alexandre Jean-Xavier Ichigo atau Kurosaki Ichigo. Itu identitas lengkapku karena ku yakin kau sudah memeriksa dokumenku termasuk paspor. Jelas. Sebagai pemegang paspor dwi kewarganegaraan British dan Australia, Ayahku Kurosaki Kaien Andrew Isshin, sekarang dia pemilik dan Chairman untuk Kurosaki Group global Ltd berbasis di London, pemegang paspor UK dan Australia, hanya aku dan Ayahku dwi kewarganegaraan. Kedua adikku pemegang paspor UK. Ibuku Anastasia Shiba. Kedua orang tuaku keturunan Prancis dan Jepang. Kalau kau penasaran mengapa aku fasih berbahasa Prancis, karena pola asuh ibuku menggunakan Bahasa Prancis tanpa meninggalkan budaya Jepang kami..."
Sejauh ini dia mengonfirmasi data yang tercantum di section personal information pada halaman wikipedia Kurosaki Ichigo adalah akurat, dengan sedikit tambahan detail ini dan itu. "Kau pernah menyebutkan Clermont-Ferrand tempat kelahiran Ibumu, menjelaskan ibumu orang Prancis." Komentarku.
Dia mengangguk dan meneruskan, "… Aku tinggal di Paris saat masih Elementary. Beranjak dewasa waktuku sebagian besar nomaden di Jepang, terutama Osaka dan Tokyo, sempat juga menghadiri sekolah umum di Osaka saat Junior High School agar aku lebih dekat dengan leluhurku, kemudian aku pindah sekolah ke London dan homeschooling di Melbourne dan kembali mengikuti sekolah umum di Sydney. Sejak kematian Ibuku, aku memutuskan untuk ke MIT di Massachusetts dan akhirnya takdir untuk mendirikan perusahaanku sendiri di Silicon Valley."
"Kau juga pernah mengklaim bahwa kau Sydneysiders, ini menerangkan aksen Australia-mu." Aku nyengir.
"Correct." Aksen Australia itu keluar.
"Dari mana nama Kaien Shiba?" Mungkin ini saat yang tepat aku mengorek informasi.
"Kaien adalah middle name ayahku, Shiba adalah maiden name ibuku. Shiba klan masih ada kaitannya dengan Kisuke klan, kalau kau penasaran. Jadi ini menjelaskan Pak Kisuke Urahara sering berkonspirasi dengan Kurosaki Isshin."
Dia nyengir tanpa berdosa. Sial kombinasi duo komplotan itu. Pantas saja aku terpedaya oleh mereka.
"Middle name-mu adalah Alexandre Jean-Xavier apakah itu menjelaskan dari ibumu yang orang Prancis?" Banyak sekali etnis yang tersebar di seluruh Prancis, tapi Clermont-Ferrand bukanlah kota dengan banyak penduduk seperti New York, pastilah satu dan lain hal keluarga Shiba di Clermont-Ferrand mengenal Jii-san. Apa aku pernah bertemu Ichigo saat dulu aku tinggal di Clermont-Ferrand? Tapi kalau ada anak yang memiliki rambut terang seperti Ichigo pastilah aku kenal atau tahu dari komunitas setempat berita tentang Ichigo. Tapi tadi Ichigo sudah menjelaskan dia tidak pernah menetap atau tinggal di Clermont-Ferrand dan Clermont-Ferrand bukan lokasi dia pernah bersekolah. Hanya setahun sekali dia mengunjungi kota itu saat spring atau summer. Ini mungkin menjelaskan alasan mengapa aku tidak pernah mengetahui atau mengenal Ichigo selama aku tinggal di Clermont-Ferrand.
Setidaknya aku tinggal satu dekade lebih di Clermont-Ferrand mengapa aku tidak pernah mengenal keluarga Shiba?
"Benar, itu nama dari ibuku. Hanya ibuku yang kadang memanggil aku Alexandre dan aku memanggil ibuku bukan Kaa-san atau mama, aku memanggilnya dengan Queen Ana."
"Panggilan yang indah, Queen Ana." Aku tersenyum.
Tidak ada kesedihan saat itu menyebutkan ibunya, matanya berbinar saat menceritakan tentang Queen Ana.
"Mengapa kau lebih terkenal sebagai Kaien Shiba daripada Kurosaki Ichigo?"
Dia tampak berpikir, "Aku juga tidak mengerti, sejak kecil aku memang menghasilkan banyak karya seni, tapi yang paling dikenal publik adalah karyaku saat aku tinggal di Massachusetts, mungkin terinspirasi dari karya Norman Rockwell. Kau pasti sudah melihat karyaku saat di MoMA saat itu."
Mengingat karya dia sangat terkenal, harusnya dia menjadi seniman alih-alih pebisnis.
"Apakah kau programmer? Sepertinya bukan ya? Bagaimana kau bisa mendirikan perusahaanmu yang berbasis teknologi di Sillicon Valley?" Kalau dia memang programmer harusnya algoritma itu mungkin menjelaskan bahwa itu ciptaanya bukan seseorang bernama Ulquiorra.
"Aku bukan programmer, aku berkonsentrasi untuk ekonomi dan bisnis di MIT. Untuk perusahaan pertamaku di Silicon Valley sebagai founder dan menjabat sebagai CEO dengan beberapa programmer sebagai pemegang sahamnya. Kalau kau bertanya tentang kasus hak cipta, berita itu benar. Hak cipta itu ciptaan dari programmer kami Ulquiorra Chifer. Jauh sebelum sengketa ini bermula, aku dan Ulquiorra berteman saat kami di MIT. Kejadian itu saat algoritma beta diciptakan dia saat kami masih di MIT. Mengapa itu menjadi masalah sekarang? Jauh sebelum Ulquiorra bekerja di perusahaan kami, dia terlebih dahulu berkerja di Arrancar Army di bawah pimpinan Aizen. Saat itu Aizen, sebagai pemegang saham terbanyak dan CEO, meminta mengembangkan algoritma beta itu, hanya saja sepertinya Ulquiorra tidak setuju beberapa hal dengan Aizen, aku tidak tahu persis masalahnya tapi Ulquiorra hengkang dan kehilangan banyak sahamnya di Arrancar Army. Dalam keadaan putus asa dan bangkrut, Ulquiorra memintaku kembali ke US saat itu, untuk membangun perusahaan bersamanya dengan modal algoritma itu.. akan menjadi primadona di masa depan. Masalahnya ketika itu, alasan aku kembali ke London karena visa pelajar sudah habis dan aku sudah mendapatkan gelar di MIT. Karena kendala visa, pada saat itu aku memohon.. tidak, lebih tepatnya mengemis—kalau kata-kata itu lebih sesuai dengan kejadian aslinya, aku mengemis pada Ayahku. Demi mendapatkan visa untuk memasuki Amerika, maka aku harus bekerja di Kurosaki Corps di New York karena aku butuh sponsor untuk visa bekerja sembari merintis perusahan startup pertamaku di Amerika. Ulquiorra masih mengembangkan algoritma beta itu hingga layak seperti hasilnya seperti yang bisa dinikmati seluruh orang di dunia saat ini. Setelah aku yakin akan perusahaanku bersama Ulquiorra, aku keluar dari Kurosaki Corps di US dan memantapkan langkah kami untuk menjalankan startup di Silicon Valley dengan segala kekurangannya, sampai Aizen menggugat kami. Perusahaan pertamaku hancur, dan ayahku dengan kebaikan hatinya sekali lagi, sekali lagi.. memutuskan langkah sangat beresiko, perusahaan rintisan itu diakuisisi oleh Kurosaki Corps di US dan blessing from God justru itu hal baik dengan kebijakan dari Ayahku sebagai Chairman Kurosaki Group, meminta Uryuu Ishida dari Kurosaki Corps di Australia untuk menjadi COO. Bersama-sama denganku yang menjabat sebagai CEO dan Ulquiorra sebagai CTO, perusahaan kami tumbuh kembali dan jauh lebih besar dan bertahan hingga sekarang."
Pasti wajahku seperti orang tolol, luarbiasa Kurosaki Isshin. Dia mengorbankan reputasi Kurosaki Global untuk membeli perusahaan rintisan yang hampir hancur karena sengketa persidangan. Dibagian mana Isshin memandang itu kelak sebagai perusahaan besar di kemudian hari? Apakah dia yakin anaknya akan menjadi CEO yang hebat? Seyakin itukah?
"Kau harus berterima kasih dengan ayahmu atas semua privilege yang kau terima darinya."
Dia terkekeh, "Sampai sekarangpun, kalau bukan bantuan Ayahku, kau dan aku tidak bisa duduk di sini bercerita."
Bagaimana bisa pertemuan ini ada campur tangan Kurosaki Isshin, "Maksudmu, ayahmu yang memperkenalkan kita berdua? Aku tidak ingat pernah bertemu dengan Kurosaki Isshin sebelumnya."
"Benarkah? Tapi ayahku mengatakan bahwa ayahku mengenal baik kau dan Byakuya."
Dahiku berkerut, apakah ini menjelaskan Kurosaki Isshin memanggil Nii-sama dengan Byakushi? Aku mengabaikannya, aku bisa bertanya dengan Nii-sama nanti.
"Jadi, bagaimana sengketa hak cipta-mu dengan Arrancar Army? Masih berjalan hingga sekarang bukan?"
Dia menggangguk, "Dalam hal ini Abarai yang akan membantu, dia temanmu 'kan?"
"Benar, pengacara terbaik di firma Kisuke & Kuchiki." Jawabku bangga dengan prestasi Abarai Renji sahabatku.
Makanan datang dan hidangkan di atas meja. Wah enak.
"Terima kasih Kaien, untuk.. untuk cerita luarbiasa itu dan sudah berkenalan denganku sebagai orang yang sesungguhnya"
"Ichigo."
"Eh?"
"Panggil aku dengan Ichigo, itu lebih indah ditelingaku daripada Kaien, sudah aku ceritakan Kaien itu adalah nama ayahku."
"Okay, Ichigo." Dia tersenyum dibalik gelas berisi pinot.
"Sebaiknya kau memanggilku dengan Rukia, sudah jarang sekali orang-orang terdekat memanggilku dengan nama Alexandria, tidak sampai di New York ini."
Dia terdiam, "Tidak mau."
Sial. "Mengapa?"
"Alexandria terdengar sangat.. familiar untukku."
Aku cemberut, "Karena nama itu sama denganmu, Alexandre?"
Dia mengangkat bahunya, tidak peduli. "Terserah kau saja." Kataku.
"Okay, Rukia."
Aku mengela nafas keras, jengkel. Dia senang sekali menggodaku.
"Aku tidak mengenalimu sampai kita bertemu di MoMA, maksudku kita sebenarnya tetap stranger satu sama lain. Sekalipun kau mengenalku sebagai Kaien, tapi sekarang kau tahu bahwa aku adalah Ichigo. Untuk itu, aku juga ingin mengenalmu. Maukah kau menjawab kuis dariku?"
Dia nyengir lebar. Kuis menjengkelkan itu lagi.
"Ini tentang dirimu, tentu saja. Dengan bangga aku persembahkan '101 Trivia Quiz Kuchiki Alexandria Rukia'. Aku bertanya cepat dan kau menjawab singkat, terdengar menyenangkan 'kan?"
Dibagian mana sih yang sangat menyenangka itu? "Sepertinya kau berbakat memiliki Ichigo Kurosaki show di Netflix mungkin."
"Akan aku pertimbangkan ide itu." Dia masih nyengir. "Okelah kita mulai."
Dia mengabaikan penolakanku apakah aku bersedia mengikuti kuis aneh ciptaanya.
"Nama lengkapmu?" Dia memulai.
Memutar bola mataku dan menjawab, "Kuchiki Alexandria Rukia."
"Middle name?"
"Rukia."
"Panggilan dari Byakuya?"
"Rukia."
"Panggilan dari keluarga terdekat?" Apakah aku punya keluarga terdekat selain Nii-sama? Oke mungkin Jii-san "Alexandria, for short sometimes Xandria."
"Tempat kelahiran?"
"California."
Dia mengaduk salad agar thousand island dressing itu merata di atas romaine.
"Ancestry?"
"Jepang, Rusia, dan Prancis."
Dia mengadahkan wajahnya. Sepertinya terkejut. Mungkin karena leluhur yang aku punya mirip seperti keturunan keluarga Kurosaki.
"Apakah gen ini membuat warna matamu biru atau.. apakah itu warna ungu, yang.. indah?"
"Thanks, menurut Nii-sama bentuk wajah dan warna mataku keturunan dari ibuku, dari para leluhur bangsa Rusia."
"Kewarganegaran?"
"Amerika."
Dia mengambil jeda sejenak untuk mengunyah habis semua lettuce di mulut. Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan tentang Ius Soli padanya.
"Kau bukan kewarganegaraan ganda?"
"Pernah. Prancis dan Amerika, tapi aku memutuskan Amerika, seperti Nii-sama."
"Jadi ayahmu warganegara Prancis?"
"Oui. Untuk alasan tertentu aku pernah sebagai pemegang paspor Prancis." Menjelaskan bagaimana aku tinggal di Clermont-Ferrand selama lebih dari satu dekade.
"Pantas saja terkadang beberapa pelafalan kata-kata tertentu American English-mu sering bercampur dengan pelafalan Prancis, seperti sebelumnya coincidence menjadi coïncidence."
Aku terkekeh, "Itulah sebabnya kau berbicara padaku langsung dengan Bahasa Prancis padahal baru pertama kali bertemu saat kita di MoMA."
Dia mengangguk, dan meneruskan pertanyaan kuis 101 ini. "Karya painting yang kau sukai?"
"Semua karya Van Gogh."
"No wonder." Dia nyengir. "Ini asalan bagaimana aku menemukanmu di MoMA, seseorang yang mengagumi Starry Night."
"Musik kesukaanmu?"
"Karya Tchaikovsky, Chopin, dan sekarang aku mendengarkan Sigur Ros, Metallica, dan Dua Lipa."
Dia tertawa, "Spektrum musik yang kau dengarkan sangat beragam ya."
"Aku anggap itu pujian."
"Kau punya akun TikTok?"
"Tidak." Bagaimana aku tahu untuk menggunakan aplikasi itu, "Apakah kau punya?"
"Pribadi tidak. Tapi aku mengakses aplikasi itu untuk dipelajari."
"Kau tidak punya rencana untuk menggunggah sesuatu dari aplikasi popular itu?"
Dia tertawa, "Aku tidak terlalu kreatif untuk tampil seperti itu." Dia hanya merendah kurasa.
Pertanyaan kuis masih berlanjut, "Film atau movie favorit?"
"Semua karya Damien Chazelle, The Breakfast Club, Copenhagen, aku menyukai beberapa anime juga seperti Gundam dan Bunny Girl senpai dan aku tambahakan TV series: Dark dari Jerman. Daftar list favoritku masih panjang. Tapi ini cukup."
"Composer favorit?" Dia benar-benar acak dalam bertanya.
"Hiroyuki Sawano, Hans Zimmer, dan Ludwig Goransson."
Dia menjelaskan alasanya mengapa mengeluarkan pertanyaan tadi, "Sebab kau menikmati film atau movie, pastilah memiliki sineas favorit. Untuk itu aku bertanya tentang composer, dan tidak mengejutkan beberapa adalah pengisi music score untuk karya-karya box office."
Aku tersenyum, "Absolutely."
"Warna kesukaanmu?"
"Cobalt Blue."
Dia tertawa, "Ini menjelaskan kau sangat mengagumi Starry Night."
"Minuman kesukaanmu?"
"Tidak ada."
"Makanan kesukaanmu?"
"Sushi."
"Pantas saja kau hanya menyarankan restoran yang ada sushi-nya di Brooklyn."
Aku tertawa. Sejauh ini dia tidak mencemooh apa yang aku sukai, sekalipun itu aneh bagi sebagian orang.
"Apakah kau menyukai sepatu-sepatu itu?"
Pertanyaan ini mengejutkan, "Aku tidak menyukainya, tapi aku sangat sangat menyukainya. Terima kasih untuk hadiah itu."
Dia tersenyum, "You are welcome. Tolong dipakai terus, karena itu sangat indah saat kau yang mengenakannya."
"Dari seluruh sepatu itu, yang mana paling kau sukai?"
Dia tampak menimbang, "Entahlah, aku baru melihat yang ini. Aku menantikan kau mengenakan semuanya."
Apakah ini artinya undangan untuk date berikutnya?
Dia tersenyum, sepertinya masih berlanjut kuis-kuis 101 ini, "Membaca atau menonton."
"Keduanya."
"Alexandria atau Timbuktu?"
"Aku belum pernah ke Timbuktu, jadi Alexandria."
"Dior atau Prada."
Aku tertawa dalam hati, "Tidak keduanya."
Dia tampak bingung, "Apakah kau tidak menyukai sepatu Dior atau Prada ini?" Dia merujuk ke sepatu-sepatu pemberiannya.
Aku mengeleng sambil tertawa, "Biar aku luruskan, aku sangat menyukai koleksi keduanya, tapi aku mengingat bahwa aku tidak mampu membeli keduanya, karena hal itu terlalu menyedihkan untukku."
Kami tertawa bersama-sama.
"fraise ou orange?" Stoberi atau jeruk?
Aku tersenyum, "l'un et l'autre." Keduanya.
"Kurosaki Ichigo atau Kaien Shiba."
Aku tertawa lagi, "l'un et l'autre."
"Cinta atau kebijaksanaan?"
"Pertanyaan ini susah-susah gampang." Aku menggodanya. "Philosophy – filsafat. Dari 'philo' yaitu cinta dan 'sophia' yaitu kebijaksanaan maka artinya mencintai kebijaksanaan."
Senyumnya merekah. Dia memiliki senyum yang sangat menawan, apakah aku sudah pernah menyampaikan hal itu padanya?
"Apakah kau sedang bersama dengan seseorang sekarang?"
Pertanyaan mengejutkan, "Tidak." Ekspresi wajahnya tampak lega. Aku jadi teringat nona Orihime, "Kau?"
Dia menggeleng dengan antusias, "Tidak ada."
Aku tidak berkomentar, dasar pembohong. Kalau tadi dia bercerita tentang keluarganya, dan itu sesuai dengan update pada halaman Wikipedia. Kalau sekarang dia bilang tidak sedang bersama siapapun, lalu mengapa nama Orihime Inoue tercantum di halaman Wikipedia itu.
Dia sepertinya menyadari bahwa aku diam saja, "Apakah kau sedang berpikir kali ini juga aku sedang menipumu, Alexandria?"
Aku meliriknya dari balik gelas wine, "Yeah."
"Kalau kau merujuk ke tabloid gossips, aku dan Inoue tidak pernah berkencan. Kecuali Nelliel, persahabatan kami lebih bertahan lama dan lebih menyenangkan daripada romansa kami."
Oh baiklah, jadi informasi di Wikipedia keliru? Tidak bisa begitu saja tuan Alexandre yang-kurang-keren. Mana mungkin aku percaya mulut manis Kurosaki Ichigo.
"Yeah."
"Apa kau cemburu?" Dia sumringah sekali.
"Untuk alasan yang dibuat-buat.. yeah, sedikit."
Dia terlihat terhibur.
"Kau menggemaskan saat cemburu."
Setan.
"Kau tahu, Alexandria.."
"Rukia." Kesekian kali aku koreksi, dan ia tampak tidak peduli.
"Nel sekarang partner Grimmjow, pemain NBA untuk Knicks sebelumnya, sekarang mereka berdua pindah ke LA karena Grimmjow sekarang bermain untuk Lakers. Jadi.."
Aku benci saat dia lebih tahu hidupku daripada aku sendiri. Bahkan aku bukan orang terkenal, bagaimana dia tahu informasi sangat rahasia itu sampai ketelinganya.
Dia masih cengar-cengir.
"Yang aku tahu, Nel masih bersama Grimmjow saat di New York, mendukung Grimmjow saat masih di Knicks. Jadi apa hubunganmu dengan Grimmjow kalau begitu?"
Pertanyaan ini sudah pernah dilontarkannya setelah dari Tiffany's & Co, di dalam Porsche yang aku alergi menumpangnya.
Haruskah aku jujur padanya?
"Grimmjow.. adalah temanku."
Dia menatapku seakan berkata, you-cannot-lie-to-me.
Aku menghela nafas berat, "Aku.. aku berkelahi dengan nona Nelliel.. dengan Bahasa Rusia... di apartement Grimmjow saat itu di Brooklyn."
Ia senyum-senyum, "Aku tahu."
"Bagaimana kau tahu?"
"Nel memberitahuku."
"Bagaimana bisa? Itu hampir dua tahun lalu, dan aku sudah berbaikan dengan nona Nelliel. Semoga."
Dia mencoaba menahan tawanya, tapi dia tidak bisa membendung lagi. Sikap dia membuat aku tersinggung. "Kau tahu Alexandria, yang paling ingin aku tinju wajahnya adalah Grimmjow. Karena mereka sudah berpacaran saat itu, well aku menyayangi Nel karena dia memang sahabatku dan kami lebih nyaman sebagai sahabat dari pada ex-partner. Saat itu, Grimmjow mengaku hanya berteman denganmu, dan kau hanya low key person yang tinggal di New York, kau tidak tahu bahwa Grimmjow adalah kekasih Nel, sepertinya Grimmjow sangat menyukaimu."
Aku terdiam.
"Kapan terakhir kali kau bertemu Grimmjow?"
"Setelah kejadian itu, aku tidak pernah menghubungi Grimmjow, sekali dia menemuiku di Manhattan tapi aku tidak bersedia melihat dia walaupun sebentar. Itu masih menyakitkan. Aku bersumpah tidak akan mengganggu hubungan nona Nelliel. Begitulah. Mengingat aku sangat naif, dan tidak pernah tahu jagat social media sekarang, harusnya aku tidak pernah menghadiri semua pertandingan Knicks.."
Ia meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Apabila kau masih berteman baik dengan nona Nelliel. Semoga dia memaafkan kekeliruanku." Kataku lirih.
"Dia sudah memaafkanmu, dan menitipkan salamnya."
This is new. "Sungguh?"
"Yeah, dia menyadari bahwa kau tidak tahu juga saat itu. Tapi karena Grimmjow dan Nel adalah satu sama lain, jadi mereka memilih saling memaafkan dan kembali bersama. Aku berharap hubungan yang baik untuk mereka berdua."
Dia masih memegang tangan ini, ngomong-ngomong.
"Kau, tahu Alexandria, mengapa aku ingin meninju wajah Grimmjow?"
Aku menggeleng.
"Alasan pertama karena dia menyakiti hati sahabatku, Nel. Kedua, dia harus diberi pelajaran tentang bagaimana hubungan harus diperjuangkan, wanita yang baik sangat sulit ditemui. Ketiga.."
Untuk kali ini aku yang berharap meninju wajah Ichigo dan Grimmjow.
"..sepertinya aku dan lelaki berambut biru ini menyukai perempuan-perempuan yang sama, sama-sama orang Rusia, yang satu orang Rusia asli, dan yang satunya keturunan Rusia. Terlebih lagi keduanya cerdas, sangat menawan. Tapi yang satu ini agak jauh berbeda, selain keturunan Rusia, dia memang cerdas terutama di bidang hukum dan mungkin.. filsafat, menggagumi karya seni modern. Low key person di era TikTok. Secara natural tenang dan berkarakter, ternyata dia juga menggemaskan. Aku menyukai Nel sebagai sahabatku, dan berharap dia baik-baik saja bersama Grimmjow, tapi.."
Dia menggengam semakin erat jemariku. "Tapi.. kalau Grimmjow berusaha merebut perempuan keturunan Rusia yang satunya lagi, aku akan berjuang untuknya. Tidak peduli perjalanan dari Clermont-Ferrand hingga New York, dari MoMA hingga Musee de Luovre, aku ingin bersamanya.."
"Itu artinya dari Prancis ke Amerika, terus kembali lagi ke Prancis. Apa yang kau cari, Ichigo?"
Dia menghembuskan nafas berat, kesal.
Aku tahu kalimat selanjutnya dia tidak merujuk pada penjelasan yang sesungguhnya tentang rasio dan hati dari ungkapan terkenal matematikawan asal Clermont-Ferrand, dia hanya ingin membalas dendam karena sikapku yang menjengkelkan.
"Blaise Pascal akan mengkritikmu apabila kau hanya menggunakan rasio atau akal, kau harus menggunakan hatimu. Gunakan hatimu Rukia, jangan terlalu mengandalkan logika. Ckckck."
Setan.
XXX
*Catatan, penjelasan, dan keterangan tambahan dari Author:
#1 Karya Claude Monet yang dibicarakan Shuhei adalah karya Bridge over Pond of Water Lilies (1899) yang terletak di The Metropolitan Museum of Art, NY. Cat minyak pada canvas, walaupun terlihat jelas itu gambar teratai, cara pandang Shuhei terhadap karya ini, merupakan pendapat saya sendiri sebagai orang awam saat memandang karya Monet tersebut, memang dipahami jelas itu gambar teratai, namun yang menarik perhatian bukan teratai nya, tetapi permukaan air tersebut. Sehinga objek teratai menjadi signifikan karena permukaan air yang dilukiskan Monet.
#2 Tchaikovsky, composer Rusia. Komposisi terkenalnya untuk Swan Lake, Piano Concerto No. 1 dan Symphony No.6. Saat Shuhei sedang tebak tebakan identitas Ichigo, menyinggung tentang nama orang Rusia, Rukia menyebutkan nama Tchaikovsky, di sini dijelaskan bahwa composer Tchaikovsky adalah favoritnya (saat kuis 101 dengan Ichigo), menjelaskan mengapa yang terlintas di kepala Rukia adalah nama maestro bukan nama orang Rusia pada umumnya.
#3 Penjelasan hirarki perusahaan Ichigo pasca akuisisi oleh Kurosaki Corps:
- CEO (Chief Executive Officer) atau Direktur Utama adalah Kurosaki Ichigo (dalam hal ini juga dia merangkap CFO (Chief Financial Officer) Direktur Keuangan;
- COO (Chief Operational Officer) atau Direktur Operasional adalah Ishida Uryuu (Uryuu awalnya bekerja untuk Kurosaki Corps Australia);
- CTO (Chief Technlogy Officer) atau Direktur IT adalah Ulquiorra (karena dia yang membuat algoritma tersebut, maka ini memimpin sekelompok IT di perusahaan untuk mengembangkan aplikasinya).
#4 Ius Soli (Jus Soli) asas kewarganegaraan seseorang yang ditentukan dari wilayah kelahiran. Beberapa penganut asas ini adalah Amerika Serikat, Kanada, Brazil. Jadi ini menjelaskan kewarganegaraan Rukia dan Byakuya. Mereka lahir di Amerika (penganut Ius Soli) namun orang tua mereka bukan warganegara Amerika. Secara keimigrasian mereka adalah pemegang paspor Amerika dan Prancis (ikut warganegara ayah untuk Rukia) sampai 18 tahun, sesuai dengan keterangan Rukia, Rukia memilih menjadi warganegara Amerika dan melepas warganegara Prancis seperti pilihan Byakuya.
Penjelasan untuk keluarga Kurosaki, semuanya keuturunan Jepang-Prancis tetapi mereka born and raise di UK, menjelaskan warganegara mereka adalah UK.
#5 ISFF Clermont Fd. Adalah International Short Film Festival yang diselenggarakan di Clermont-Ferrand, di Prancis. ISFF di Clermont Fd biasanya diselenggarakan saat February, jadi menjelaskan Ichigo mengunjungi ISSF di Clermont-Ferrand saat musim semi.
#6 Alexander The Great atau Alexander Agung III raja dari Macedon yang namanya menjadi kota Alexandria (Iskandaria) di Mesir pada era Hellenistic, saat itu adalah pusat intelektual. First name Rukia diambil dari nama kota ini, Alexandria, sedangkan middle-name Ichigo diambil dari nama Raja Alexander Agung, karena dijelaskan Ichigo keturunan Prancis, maka Alexander menjadi ejaan Prancis, Alexandre [alɛksɑ̃dʁ]. Jadi seperti yang dijelaskan Ichigo di chapter 2, bahwa nama mereka berdua merujuk pada tokoh yang sama: Alexander The Great from Macedon.
#7 Music score adalah music original yang ditulis khusus untuk diisi dalam movie atau film, biasanya untuk membuat efek suatu visual adegan lebih dramatis ditulis oleh komposer. Di sini dijelaskan Rukia menyebutkan composer favoritnya:
- Hans Zimmer, film score composer dari Jerman yang karyanya untuk music score di Inception, Lion King, Dune, Dunkirk, Interstellar.
- Hiroyuki Sawano, composer dari Jepang yang karyanya untuk anime Attack on Titan, Gundam Suit Hathway movie, Blue Exorcist.
- Ludwig Gorransson, composer dari Swedia yang karyanya untuk music score di Tenet, Creed, Black Panther.
#8 Rukia juga menyebutkan film atau movie favoritnya, termasuk anime:
- Damien Chazelle. Sutradara La La Land, Whiplash dan First Man.
- The Breakfast Club, movie tahun 1985 menceritakan 5 berbeda karakter anak SMA yang dihukum saat akhir pekan.
- Bunny senpai atau Rascal Does Not Dream of Bunny Senpai, anime series genre psychological drama terdiri 13 episodes yang menceritakan adolescent syndrome.
#9 Starry Night karya dari Van Gogh dijelaskan sebagai karya favorit Rukia, dan karya Starry Night yang terdapat di MoMA saat pertama kali Ichigo melihat Rukia sering mengujungi karya ini di MoMA pada Chapter 1. Menjelaskan warna favorit Rukia spesifik Cobalt Blue, Rukia mencoba menjelaskan karena Cobalt Blue adalah karakter pigmen utama warna pada karya Starry Night.
#10 Di pertanyaan kuis 101, Ichigo menyebutkan film dan movie dengan kata penghubung atau, seolah movie dan film adalah istilah berbeda. Penjelasannya karena Ichigo digambarkan di sini sebagai British, sebagai orang British menyebutkan film daripada movie. Sedangkan Rukia dijelaskan sebagai orang Amerika yang biasanya menyebutkan movie daripada film. Tapi film dan movie memiliki pengertian sama.
#11 Mengapa Ichigo sebagai pemegang paspor British dan Australia membutuhkan visa untuk masuk ke US? Secara peraturan keimigrasian US, pemegang paspor British dan Australia bisa visa-free untuk sekali masuk (Single Entry Visa) selama 90 hari untuk tujuan tourism atau business. Tapi Ichigo butuh tinggal dalam waktu yang lama di US karena dia bertujuan untuk mendirikan perusahaan. Maka, dalam ceritanya pada Rukia, dia mengemis pada Isshin agar mendapatkan izin tinggal dari visa bekerjanya. Visa bekerja hanya bisa diajukan apabila memiliki sponsor, dalam hal ini bila Ichigo bekerja di perusahaan ayahnya di New York, maka Kurosaki Corps di New York bisa menjadi sponsor untuk visa kerjanya. Sehingga apabila visa kerjanya di setujui, dia bisa tinggal di US dalam waktu yang lama sesuai ketentuan keimigrasian US dan juga tercatat selama dia masih bekerja di perusahaan sponsor sebagai pegawai. Semoga ini menjawab mengapa pemegang paspor British perlu repot-repot urus visa seperti Ichigo untuk masuk ke US.
#11 Ada yang bertanya mengapa nama Ichigo aneh sekali? Hahhaha, nama orang Prancis kebanyakan panjang, dari First Name atau Given Name, Middle Name, ada juga tambahan Maiden Name, dan diikuti Surname. Jadi ya, maklum saja kali ini duo IchiRuki saya buat menjadi keturunan orang Prancis.
XXX
Additional Author Notes (ini ngomong dari hati):
*Saya yakin sekali bahwa saya memiliki kemampuan yang terbatas, dan memiliki kekeliruan yang nyata di tulisan saya. Saya mohon maaf apabila ada yang tidak akurat terkait informasi, keberadaan tempat, kesalahan penulisan, atau pemikiran-pemikiran saya yang tidak sesuai.
** Penjelasan saya juga luarbiasa panjang di chapter ini, karena saya mendapat feedback dari teman-teman pembaca mereka kesulitan memahami satu dan lain hal yang menyangkut tema cerita di sini. Untuk itu, dengan kerendahan hati, semoga penjelasan saya secara general ini jadi bala bantuan untuk memahami tema di Fifth Avenue. Tapi percayalah, saya juga berusaha menjadikan ini karya yang sangat enak dinikmati sambil rebahan saat kita semua WFH. Seperti cara Shuhei menikmati karya Monet: kamu sedang menikmati karya saya dengan cara kamu sendiri, dan kamu mencintainya.
Semoga kamu menikmati membacanya, seperti saya yang menikmati saat menulisnya.
*** Maaf, took you long enough to read this story. Percayalah aku juga menantikan momen untuk kembali menulis. Semoga dengan membaca karya ini, saya dan kamu semakin dekat.
Saya rindu menulis, kamu rindu membaca.
Kita sama-sama menunggu.
Terima kasih, terima kasih atas kesabaran kalian dan selalu dukungan melalui review. Teruslah memberikan tanggapan kalian, karena itu sangat berarti untuk saya.
Sangat berarti. Sungguh.
