Disclaimer: Naruto hanya milik Hinata, setelah milik Om Masashi tentunya.
Pairing: Ino x Sai
Happy reading, minna!
.
.
.
Seorang pria sedang menjelaskan materi mengenai matriks dasar dan operasi matriks. Satu jam telah berlalu sejak dia memberikan materi pembelajaran. Waktu tinggal lima belas menit dan dia pun menyuruh semua murid-muridnya untuk membuka buku paket halaman tujuh puluh lima.
"Minna-san, silahkan buka buku paket kalian halaman tujuh puluh lima. Jadikan itu tugas kelompok dan dikumpulkan di jam pelajaran saya yang berikutnya," ucap Iruka-sensei. Guru itu memiliki rambut yang panjang dan diikat seperti milik Shikamaru.
"Ha'i (Baik) , Sensei!!!" jawab para murid dengan kompak. Sebelumnya, mereka pernah menjawab dengan lesu, akibatnya tugas mereka ditambah menjadi dua kali lipat. Kapok dengan kejadian yang telah berlalu, mereka menjadi sangat kompak yang tentu saja dibuat-buat.
"Ada yang ingin ditanyakan?" ucap Iruka-sensei.
"Sensei, apakah tugasnya dari A sampai C?" tanya Sai dengan wajah kalemnya.
Seluruh murid menatapnya horor.
'Sialan, jangan dipancing, Bego!' umpat Naruto di dalam hati.
'Anak baru itu memang gak beres dari awal,' batin Choji malas.
'Mendokusai,' batin Shikamaru sambil menguap.
'Mau caper nih ceritanya?' Kiba menatap tajam ke arah Sai, jelas saja dia kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan cowok berkulit pucat itu.
'Wah, wah, awas saja kalo beneran dari A sampai C,' batin Sakura. Ia memang pintar, tapi kalau ada soal yang lebih sedikit, kenapa harus yang banyak? Buang-buang waktu saja. Padahal dia harus kepoin akun sosmed Sasuke-kun kesayangannya, walaupun mau dipantau berjam-jam pun dia gak bakal buat story. Terkadang ia pun heran, buat apa Sasuke membuat akun sosmed.
'Lihat saja kalau sekelompok sama aku, kurecokin dia sampe mampus,' tak berbeda dengan Sakura, Ino pun juga enggan mengerjakan banyak soal. Ia, Sakura, Neji, Sasuke, Shikamaru, dan Hinata selalu berada di top lima besar di kelasnya. Yah, meskipun sekarang sudah tidak ada Sasuke lagi di kelas mereka. Oke, yang selalu berada di peringkat teratas tentu saja Shikamaru dan Sasuke, skor keduanya sama. Tapi, saat harus diurutkan sesuai abjad, maka yang rangking satu adalah Sasuke dan Shikamaru berada di posisi peringkat ke dua.
"Wah, tentu saja dari A sampai C," jawab Iruka-sensei seraya tersenyum.
Beberapa orang tampak tak setuju dengan ucapan beliau. Namun mereka tak mengucapkan sepatah kata pun, 'protes pun percuma,' batin mereka.
"Baik, satu kelompok terdiri dari lima orang. Biar Sensei yang memutuskan," ucap Iruka-sensei seraya mengambil buku absen mereka dan mulai menyebutkan nama-nama murid yang ada di kelas.
"Kelompok pertama, Ino, Naruto, Sai, Sakura, dan Rock Lee."
Baru berkata seperti itu, Ino dan Sakura segera protes.
"Apa?! Sensei, kalau sekelompok sama Naruto dia gak bakal ngapa-ngapain," ucap Ino sambil menunjuk ke arah Naruto.
"Kejam sekali kamu, Ino-chan," ucap Naruto.
"Si bodoh itu pasti akan tidur atau bermain atau malah diam saja kayak orang bodoh. Apalagi ada Rock Lee, duh.. rasanya dunia akan kiamat jika dua orang hiperaktif dikumpulkan," timpal Sakura.
"Oi, oi, kau dan Ino pun juga hiperaktif," balas Naruto.
"Itu namanya semangat masa muda, Sakura-chan! Lalu, meskipun aku dan Naruto-kun bodoh, kami akan berusaha. Ganbatte!" Ucap Rock Lee dengan semangat membara.
"Sial kau, Alis Tebal!" umpat Naruto.
"Minna-san, harap tenang! Biarkan Iruka-sensei melanjutkan pembacaan kelompoknya sebelum waktu habis," ucap Neji tegas.
Hinata menatap ke Naruto dengan perasaan kecewa, 'yah, aku tidak satu kelompok dengan Naruto-kun.'
"Selanjutnya, kelompok ke dua ada Hinata, Shino, Kiba, Tenten, dan Neji," ucap Iruka-sensei. Karena tidak ada yang protes ia pun melanjutkan, "kelompok terakhir Shikamaru, Choji, Hanare, Kotaro, dan Menma."
Tak lama setelah membagi kelompok, suara bel istirahat pun berbunyi. "Baik, semuanya, Sensei akhiri pertemuan kita pada hari ini. Sampai jumpa di jam matematika berikutnya, dan silahkan beristirahat! Kalian bisa membahas dulu rencana kerja kelompok dengan kelompok kalian."
"Ha'i!!!"
Setelah itu, ia melangkahkan kakinya keluar dengan membawa buku tebal di tangan kirinya. Suasana kelas pun menjadi gaduh, murid-murid mulai berhamburan keluar kelas, namun masih ada beberapa siswa di dalamnya yang membicarakan mengenai tugas kelompok.
"Ah, ini semua gara-gara Sai!" teriak Naruto.
Sakura tak mau kalah, "iya, kenapa malah mancing Iruka-sensei buat ngasih banyak tugas sih?"
"Mancing? Aku tidak memancing? Memangnya Iruka-sensei ikan?" ucap Sai polos. Dia bingung.
"Duh, gemes banget sih," ucap Ino kesal.
"Peduli amat lah, Shikamaru ayo ke kantin," ajak Choji yang sudah membuka bungkus keripik kentangnya. Ia pun mulai memasukkan beberapa keripik kentang ke dalam mulutnya.
"Ha'i, ha'i," balas Shikamaru lalu berdiri. Mereka berdua meninggalkan kelas.
Naruto pun menghampiri Hinata, lalu menarik lengannya, membuat gadis itu tersipu. Wajahnya bersemu merah.
"Hinata-chan, moodku sedikit buruk, ayo kita makan ke kantin!" ajak Naruto bersemangat.
"H--ha'i," ucap Hinata gugup. Ia senang dengan tingkah Naruto dan malu di saat yang bersamaan. Mereka sungguh dekat dan Naruto menggandeng lengannya.
"Woi, Naruto! Kau gak mau diskusi mau nugas di mana?!" teriak Ino di saat melihat Naruto sudah sampai di ambang pintu kelas.
Naruto melambaikan tangan kirinya tanpa menoleh ke belakang, sementara tangan kanannya masih menggandeng lengan Hinata, "di manapun itu terserah. Bye-bye."
"Ck! Mentang-mentang punya pacar," balas Ino.
"Oke, ada yang punya saran mau belajar di mana?" tanya Sakura.
Sai masih duduk di tempatnya, sementara ketiga rekan kerja kelompoknya sudah melingkari tempat duduknya.
"Ne, Ino-chan, Sakura-chan, dan Sai-kun, gimana kalau kita kerja kelompok di rumahku? Lalu, setelahnya pergi ke gym punya ayahku. Jadi kita sangat produktif, sehabis belajar, lalu berolahraga," ucap Rock Lee.
"Saran ditolak," ucap Ino dan Sakura kompak.
"Hiks...," Rock Lee memasang wajah sedih.
"Aku sih ingin mengajak kalian ke rumahku, tapi masalahnya di toko sedang sibuk pelanggan, jadi sepertinya tidak bisa," ucap Ino.
Keluarga Yamanaka mempunyai toko bunga di lantai satu rumahnya. Ino pun sangat mahir dalam seni ikebana atau merangkai bunga. Sai pun sedikit tertarik, siapa tahu dia bisa mendapat inspirasi dari melihat isi toko bunga.
"Ino, bolehkah aku minta alamat tokomu?" tanya Sai.
"Tentu saja, jangan lupa membeli bunga, ya!" ucap Ino bersemangat, ia lupa kalau sedang kesal dengan makhluk tak peka itu. Segera ia mengambil pena Sai dan menuliskan alamat tokonya yang juga merupakan alamat rumahnya di buku tulis Sai.
"Hm... Pelajaran matematika selanjutnya itu lusa, berarti kita kerjakan hari ini atau besok. Sedangkan hari ini aku akan pergi bersama keluargaku dan besok teman ayah akan menginap di rumah. Jadi, maaf ya, sepertinya hari ini aku tidak bisa kerja kelompok dan besok tidak bisa di rumahku," ucap Sakura.
"Tenang saja Sakura-chan, kita kerjakan tugasnya besok saja dan di rumahku," ucap Rock Lee.
"Saran pertama ditierima dan saran ke dua ditolak," ucap Sakura datar.
"Sai, bagaimana denganmu?" tanya Ino.
"Yah, di rumahku tidak apa-apa. Lagipula kakek juga selalu sibuk bekerja," balas Sai sambil meletakkan ibu jari dan jari telunjuk di dagunya.
"Oke, deal. Jadi besok pulang sekolah langsung mampir ke rumah Sai dan jangan lupa membawa baju ganti," ucap Ino.
"Oke, setuju," balas Sakura.
"Aku juga setuju," ucap Rock Lee.
...
Into You
.
.
Keesokan harinya, di jam pulang sekolah, kelima remaja telah berkumpul di kelas yang sunyi karena mayoritas penghuninya telah pulang.
"Yosh! Ayo kita pergi!" ajak Rock Lee bersemangat.
"Hah?! Kenapa ke rumahnya Mayat Hidup?" teriak Naruto protes.
Sakura langsung memukul kepala Naruto, "kemarin bilang di mana pun itu terserah, sekarang malah protes. Kau tu gak punya hak buat protes!"
"Ah, ittai (sakit)," ringis Naruto sambil mengusap kepalanya yang habis dipukul.
Mereka berlima keluar kelas hingga akhirnya tiba di depan gerbang sekolah. Begitu sampai di sana, mereka disambut oleh seorang pria paruh baya dengan setelan berwarna hitam yang sedang berdiri di samping mobil Limousine. Beberapa siswa yang masih ada di sana pun terkagum-kagum dan penasaran, siapakah gerangan sang majikan.
"Permisi, Tuan Sai," ucapnya sambil membungkukkan badan. "Kalian pasti teman-teman Tuan Muda, terima kasih telah menjadi teman yang baik untuknya, lalu ehem! Silahkan masuk," lanjut pria itu kemudian membuka pintu mobil untuk mempersilahkan mereka masuk.
Ino, Sakura, Lee, dan Naruto menganga. Matanya melotot. Seolah tak percaya kalau Sai adalah anak konglomerat.
'Cih, si Mayat Hidup itu beda kasta dengan kami,' batin Naruto.
Sai masuk dan duduk di kursi depan yang pintunya telah dibukakan oleh sopirnya. Ia menoleh ke arah teman-temannya, "kalian gak masuk?"
"Ah, b-baik, kami akan masuk," ucap mereka berempat gagap. Setelah itu mobil pun melaju menuju kediaman Shimura.
"Psst..pssst..." suara bisik-bisik.
"Aku gak nyangka Sai anak holang kaya," bisik Ino.
"Aku juga, tapi pantas saja dia rapi," timpal Sakura.
"Woah, mobil ini keren sekali dan mewah! Terlihat mahal. Baru pertama kali aku naik mobil berkelas seperti ini!" ucap Lee menggebu-gebu sambil dibanjiri air mata terharu.
"Cih! Jangan malu-maluin, Lee!" hardik Naruto.
Pria paruh baya yang sedang mengemudikan mobil mewah tersebut hanya tersenyum ramah, "tidak apa-apa, dulu waktu saya pertama kali menaiki mobil ini pun sikap saya juga sama."
"Hehe," cengir Naruto kaku.
"Tuan, bagaimana rasanya mengendarai mobil mewah?" ucap Lee bersemangat.
"Ah, berisik Lee! Jangan teriak di telingaku!" ucap Ino seraya menutup kedua telinganya yang pekak.
"Maaf, Ino-chan, aku terlalu excited," ucap Lee.
Tak terasa mereka telah sampai di sebuah mansion bergaya tradisional khas Jepang. Tempatnya sungguh luas. Mereka berempat pun berdecak kagum begitu turun dari mobil.
Mereka disambut oleh para pelayan yang mengenakan yukata yang sama.
"Selamat datang, Tuan Sai beserta teman-temannya," ucap mereka.
"Baik teman-teman, silahkan masuk, kuharap kalian merasa nyaman," ucap Sai, lalu tersenyum.
'Wagelaseh, sultan,' batin Sakura. Keluarganya memang bekerja sebagai dokter, tapi menurutnya ia tak sekaya Sai.
'Berasa kembali ke jaman dulu, padahal juga gak pernah ngerasain jaman dulu wkwkw,' batin Ino.
'Kalau Jepang masih negara kekaisaran, pasti Sai ini kaisarnya,' batin Naruto terpukau.
Sementara Lee, matanya berbinar-binar bagaikan bintang-bintang di langit malam.
Tanpa basa-basi mereka masuk dan Sai mengarahkan teman-temannya ke sebuah tempat yang kemudian baru diketahui bernama ruang tamu. Tempatnya sungguh besar, indah karena dihiasi dengan ornamen-ornamen antik beserta aksesoris yang sederhana namun tampak mewah.
"Home tour dong, Sai-kun!" ucap Lee bersemangat.
"Ah, benar juga. Silahkan kemari jika kalian ingin melihat lukisan-lukisanku," ucap Sai.
Mereka pergi ke ruangan lain yang berada di sudut ruangan. Begitu berada di depan ruangan, Sai mengatakan, "tempat ini adalah galeri seniku dari aku kecil hingga sekarang."
Pintu dibuka dan menampilkan ratusan lukisan yang sangat indah. Mereka semua memandang takjub. Lalu mulai mengamati.
"Yah, maaf kalau lukisannya tidak seberapa," ucap Sai.
"Woah, Sai, ini mah namanya mahakarya!" ucap Ino berdecak kagum.
"Levelmu sudah seperti seorang seniman terkenal tau!" ucap Sakura.
"Sai-kun, kau punya tangan yang ajaib," puji Lee.
"Woah, si Mayat Hidup hebat," ucap Naruto.
"Terima kasih, semuanya," balas Sai.
Setelah melihat-lihat sebentar, mereka kembali ke ruang tamu yang sudah disuguhi berbagai hidangan. Setelah selesai makan, barulah mereka mengerjakan tugas. Hari itu, mereka tampak sedikit lebih akrab.
.
.
.
Hai, semuanya!
Akhirnya aku melanjutkan cerita ini ahahahah xD
Adakah yang masih membaca? RnR please? ;-;
Btw, ini kok jadinya lebih ke friendship ya, daripada romance aowkaowk. Next chap bakal author buat sedikit lebih romantis deh xD
