Disclaimer: Naruto hanya milik Hinata, setelah milik Om Masashi tentunya.

Pairing: Ino x Sai

Happy reading, minna!

.

.

.

Pelajaran sejarah yang membosankan telah usai. Selama lima menit seisi kelas XI-A telah menunggu guru berikutnya untuk mengisi kelas mereka. Tidak, tidak! Bukan karena mereka bersemangat untuk belajar, namun lebih ke berharap semoga saja pelajaran selanjutnya adalah pelajaran kosong.

Dua orang pemuda bernama Naruto dan Kiba sedang mengintip melalu pintu dan jendela. Sedikit lama mereka mengamati, guru yang mengajar tak kunjung datang. Lalu, seorang pemuda bersurai hitam panjang datang dan masuk ke dalam kelas.

"Naruto, Kiba, cepat masuk!" ujar Hyuuga Neji, selaku ketua kelas XI-A. Ia baru saja kembali dari ruang guru.

"Asuma-sensei ke mana? Free class ya?" tanya Naruto bersemangat.

"Makanya duduk dulu, Naruto." Balas Neji sambil memijit pelipisnya.

Pemuda tampan bernama Naruto itu segera kembali ke tempat duduknya, disusul dengan Kiba. Neji berdehem untuk menarik perhatian seisi kelas.

"Asuma-sensei sedang cuti kelahiran anaknya. Jadi beliau berhalangan hadir di jam terakhir. Lalu, beliau-"

"APA?! ASUMA-SENSEI IJIN MELAHIRKAN?!" teriak Naruto memotong ucapan Neji, membuat pemuda bersurai hitam panjang itu mengedutkan keningnya membentuk perempatan kecil.

"UWAH!!! SEJAK KAPAN BELIAU HAMIL?!" imbuh Lee yang menjadi bersemangat. Ternyata benar kata Guy-sensei, bahwa seorang pria juga dapat hamil.

"Hm... Pantas saja perutnya terlihat semakin besar akhir-akhir ini." Ucap Kiba seraya mengelus dagunya.

"Sialan kau, Kiba! Aku ini enggak gendut!" bentak Choji kesal.

"Gak ada yang ngatain elu gendut," balas Kiba.

"Apa? Gue gendut? Mau mati lu, hah?!" ucap Choji kesal dan mengepalkan tinjunya.

"Apakah seorang laki-laki dapat hamil?Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus menyangkutpautkan dengan biologi. Secara biologis, wanita yang memiliki kemampuan untuk hamil, karena mereka memiliki anatomi tempat embrio tumbuh dan berkembang. Namun, ternyata, tubuh lelaki juga bisa digunakan untuk tumbuh kembang embrio. Seperti yang dikutip dari , teori ectopic pregnancy menunjukkan bahwa secara teoritis, laki-laki memiliki kemampusian untuk mengandung. Di sisi lain, walaupun teori tersebut logis, hingga saat ini belum pernah dibuktikan karena bisa membawa dampak yang serius bagi kedua orang tua dan bayi. Ectopic pregnancy adalah sebuah teori mengenai kehamilan diluar dinding uterus. Berdasarkan fakta bahwa laki-laki dan perempuan memiliki uterus, maka kehamilan ini bisa ditanam pada kedua pihak. Dalam hal ini, embrio dan plasenta akan ditanam di abdomen, dan janin akan dilahirkan secara caesar. Jadi, menurut penjelasan di atas, laki-laki tidak bisa hamil, tapi mereka bisa mengandung. Mengejutkan, bukan? Bagaimana menurut Ladies?" ucap seorang pemuda tampan berkulit putih pucat membuat seisi kelas hening. Lebih tepatnya cengo.

"Sai?" Ucap Ino. Tak menyangka, ia bisa mendengar Sai berbicara sebanyak itu. Terlebih lagi hanya karena masalah apakah laki-laki dapat hamil.

"Tadi aku habis membaca artikel. Maaf kalau salah," ucap Sai datar.

"Bukan itu maksudku," balas Ino tercengang.

"Kamu baca artikel panjang lebar cuma buat nyari tau, apakah laki-laki bisa hamil? Maaf... kamu... idiot?" tanya Ino. Ups, dirinya keceplosan mengucapkan kata kasar itu. Tetapi ia gemas jika tidak mengatakannya secara langsung.

"Eh?" ucap Sai bingung. Ia pun heran. Kebiasaannya mencari sesuatu di google untuk menjelaskan banyak hal karena ia tak pandai berkomunikasi membuatnya menjadi orang idiot pada hari ini. Ia pun bertanya pada dirinya di dalam hati, "kenapa aku searching di google tentang hal itu?"

"Pfftt... Hahahah," tawa Sakura meledak.

"Perhatian! Teman-teman, ada tugas untuk kalian. Kerjakan halaman tiga puluh tujuh. Yang sudah selesai boleh pulang, kecuali yang piket kelas." Neji melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda.

Mereka semua pun bersemangat mengerjakan tugas dari Asuma-sensei yang cuma sepuluh soal itu. Beliau memang guru yang paling pelit memberi soal, jadi banyak murid yang menyukainya. Tak lama kemudian beberapa murid telah selesai mengerjakan tugas dan mengumpulkannya ke depan.

"Hei, teman-teman! Jangan pulang dulu!" ucap Kiba. Naruto yang sedang memasukkan bukunya pun berhenti, lalu mengucapkan sesuatu.

"Kenapa? Aku mau lanjut main game di rumah."

"Sudah lama aku nunggu momen ini. Gimana kalau kita main ToD?" tanya Kiba.

"Wah, ide bagus tuh! ucap Naruto bersemangat.

"Aku gak pernah main itu. Alhamdulillah ada saat dimana aku bisa memainkannya," ucap Lee dramatis.

"Hm... Sakura, mau ikut gak?" tanya Ino.

"Boleh tuh. Jarang-jarang bisa main beginian di kelas." Balas Sakura. Ia pun tertarik dengan kembali ke tempat duduknya. Begitu juga dengan Ino.

"Baiklah, aku juga akan ikut."

Tak butuh waktu lama untuk membuat tempat duduk Kiba dan Neji dikelilingi oleh murid-murid.

"Shikamaru, lu harus ikut pokoknya, kalo gak ikut wajib bayar denda," ucap Kiba ngotot.

"Ngerepotin amat sih. Yodah gue ikut satu putaran." Balas Shikamaru.

"Gak adil lah! Sampai selesai pokoknya," ucap Lee.

"Mayat Hidup! Lu ikut juga sini!" teriak Naruto. Sakura segera meninju wajahnya.

"Awww! Sakit! Sakura, apa yang kau lakukan?" tanya Naruto sambil mengelus wajahnya yang memar.

"Na-Naruto-kun," ucap Hinata khawatir.

"Berisik, bego! Lu teriak di telinga gue!" teriak Sakura di telinga Naruto.

"Ah, bentar lagi budek!" teriak Naruto reflek menutup telinga kirinya.

"Tiada hari tanpa keributan," komentar Ino. Padahal dirinya sendiri juga merupakan salah satu biang keributan.

"Anu, gak ada yang ngajakin gue nih?" ucap Shino kikuk.

"Gabung aja, No!" ucap Tenten.

"Iya, Suparno gabung aja." Balas Naruto.

"Suparno? -_-" ucap Shino kesal. Seenaknya saja mengubah nama orang lain. Naruto pikunnya tingkat akut. Dia memang susah mengingat nama-nama orang, tapi kenapa cuma Shino saja yang paling terlupakan? Sedangkan Lee, meskipun kadang dipanggil Alis Tebal, tetap saja Naruto kadang masih ingat kalau namanya Rock Lee.

"Ehem! Nama gue Shino. Lu mau gue panggil Sunarto?"

"Ya enggaklah!" balas Naruto.

"Makanya jangan seenaknya ngubah nama orang. Sakit hati tau," ucap Shino namun dengan wajah datarnya yang biasanya.

"Baiklah, aku minta maaf."

Setelah geng anak alay dan tukang ribut itu berkumpul, barulah Kiba memulai permainan. Ia mengambil botol minuman instan yang tadi dibelinya dan menenggaknya hingga habis.

"Nah, kita pakai botol ini," ucap Kiba.

"Kere amat sih," cibir Naruto.

"Biarin! Orang ini mainnya juga mendadak." Balas Kiba tak peduli.

"Oke, yang muter botolnya gue duluan," ucap Kiba.

"Sip," ucap Neji yang ternyata mau ikut main begituan.

"Tu wa ga," ucap Kiba lalu memutar botol kosong itu.

"Wah, wah, itu berhenti di arah Choji," ucap Naruto.

"Enggak, palingan juga entar berhentinya di elu," ucap Sakura.

"Semoga aja enggak di aku duluan," ucap Ino.

'Semoga berhenti di Ino plis, kan bisa gue mintain yang aneh-aneh,' batin Kiba mupeng.

Dan botol pun berhenti tepat di arah Sai. Sosok yang benar-benar tak terduga.

"T apa D?" tanya Kiba kepada Sai kesal

'Kenapa malah Sai sih?' batinnya kecewa.

Semua orang pun tak sabar menunggu jawaban yang akan dilontarkan pemuda pucat itu.

"Hm... Truth..." ucap Sai non ekspresi.

Kiba tampak berpikir keras. Pertanyaan apa yang cocok untuk orang macam Sai. Lama dia berpikir, akhirnya ia menemukan satu pertanyaan yang membuatnya sedikit penasaran.

"Sai, tipe cewek lu yang kek gimana? Yang bodinya aduhai kayak Ino, apa yang rata kek papan cucian seperti Sakura?" tanya Kiba.

Sakura yang mendengarnya pun kesal, lalu menampar pipi Kiba. 'Berani-beraninya cowok itu merendahkan harga diriku,' batin Sakura. Sementara itu Ino rada kesal juga dengan Kiba, pertanyaan tadi menjurus ke pelecehan seksual. Yah, meskipun dia juga rada penasaran sih sama tipe Sai.

"Apanya yang rata seperti papan cucian?" tanya Sai polos.

"Grrrr..." geram Sakura.

"Ah lupakan itu, Sai. Kau tinggal jawab saja pertanyaan Kiba," ucap Ino.

"Baiklah. Aku kurang paham sama pertanyaannya. Tapi aku suka sama orang yang baik dan sering tersenyum," ucap Sai.

"Ah, membosankan sekali," ucap Kiba kecewa.

"Kalau kau ingin menambah jumlah penggemar Miyabi pada Sai, lebih baik kau batalkan saja rencanamu Kiba," ucap Shino.

"Oi, oi, Shino. Sejak kapan kau bisa membaca pikiran orang lain?" ucap Kiba.

Kiba akui dirinya adalah pemuda tulen, makanya dia menyukai majalah dewasa, cewek berdada besar, dan hal-hal yang berbau erotis. Dulu tangannya pernah digigit Ino saat ia hendak mencari kesempatan dalam kesempitan menyentuh aset Ino yang di atas rata-rata gadis seumurannya. Saat pidato upacara dari kepsek pun matanya tak pernah lepas dari gunung kembar milik Tsunade-sama dan kerap kali berupaya untuk menyentuhnya. Namun, ia selalu kena tendangan oleh wanita paruh baya itu.

"Sai-kun, sekarang giliranmu untuk memutar botolnya," ucap Lee berbinar-binar. Ia tak sabar ingin dikasih pertanyaan.

"Ngg... Baiklah," ucap Sai.

Sai memutar botol itu dan berhenti di Naruto.

"Naruto, truth or dare?" tanya Sai.

"Heh, truth terlalu membosankan. Aku pilih dare," ucap Naruto.

"Tolong tampar Kiba," ucap Sai seraya tersenyum.

"NANI?!!!" teriak Kiba. Bisa-bisanya Sai mengatakan hal seperti itu sambil tersenyum. Kiba pun melihat wajah Sakura dan Ino yang auranya telah berubah. Kiba pun paham, siapa dalang dibalik ucapan Sai. Jadi, beberapa saat yang lalu, saat Kiba sedang tidak memperhatikan permainan, Ino dan Sakura membisikkan hal tersebut pada Sai. Sai pun dengan senang hati membantu mereka, karena tolong menolong dalam kebaikan adalah hal yang baik.

"Oi, Sai! Apakah menampar seseorang adalah sesuatu yang baik?!" teriak Kiba sambil mencengkram kerah Sai.

Dengan wajah datarnya, Sai mengucapkan, "tentu saja tidak. Makanya aku menyuruh Naruto." Ia pun tersenyum.

"Bagus, Sai. Mantap!" ucap Sakura.

"Sai, aku padamu," ucap Ino.

"Wah, tak kusangka aku dapat dare seperti ini. Baiklah, aku akan melakukannya dengan senang hati. Biar kuhancurkan wajah bodohnya itu," ucap Naruto sambil mengayunkan lengannya.

Note: diputer-puter gitu tangan kanannya. Maksud gue gitu wkwk.

"Woi, Naruto! Lu gak serius kan? Kita temenan kan?" tanya Kiba panik.

"Maaf, temanku, karena kita adalah teman, makanya biar aku saja yang menghajar wajah bodohmu itu," ucap Naruto dengan nada bijaksana.

"Bacot ah! Gak mau dikatain bodoh sama orang kayak elu!" Bentak Kiba.

Naruto marah, lalu mengajar Kiba dengan keras. Pemuda berambut cokelat itu terkapar di lantai.

"Keren, Naruto-kun! Sekali pukul langsung koit," ucap Lee berbinar-binar.

"Woi, itu tadi termasuk percobaan pembunuhan loh Naruto," ucap Shikamaru.

"Kau mau masuk penjara?" tanya Neji.

"Gapapa, Naruto, dia cuma tidur aja itu," ucap Sakura.

"Iya, kita lanjutin aja mainnya," ucap Ino.

"Baiklah, kita lanjut hahahahah," ucap Naruto tanpa beban. Malahan dia tertawa dengan keras.

"Oi,oi, seriusan nih? Gue pingsan loh?" ucap Kiba.

Naruto memutar botol dan botol itu berhenti ke arah Sakura.

"Mau pilih apa cuy?"

"Gue truth aja deh," ucap Sakura.

"He, kenapa gak dare aja Sakura?" tanya Ino.

"Gue males dapat yang aneh-aneh," ucap Sakura.

"Kenapa lu marah kalo dibilang datar kek papan cucian? Padahal kalau-" ucapan Naruto terhenti dan digantikan oleh teriakan kesakitan.

"Arghhhh!!! Sakura-chan, sakit bodoh!!" teriak Naruto. Kepalanya dikunci oleh Sakura menggunakan teknik para pegulat pro.

Hinata menatap iba kepada Naruto. Ia pun juga khawatir.

"Naruto-kun," cicitnya.

"Sa-Sakura-chan, tolong hentikan," ucap Hinata sedikit takut karena Sakura telah diliputi oleh amarah.

"Baiklah, itu jawabannya no comment. Oke, giliran gue muter botolnya," ucap Sakura dan lanjut memutar botolnya.

"Uhuk! Uhuk! Padahal itu bukan uhuk! Jawabannya!" ucap Naruto terbatuk-batuk. Ia sedikit kesal dengan teman berambut pinknya.

"Padahal itu curang," ucap Naruto dan dihadiahi tinju di perutnya.

Teman-teman di sekitar telah memasang wajah, 'makanya diem, bodoh!'

Botol yang diputar oleh Sakura berhenti dan menghadap ke arah Ino.

"Eh, aku?"

"Ino, truth or dare?" tanya Sakura.

"Um, dare aja deh," ucap Ino sedikit takut.

'Sakura jadi nyeremin gara-gara Naruto dodol itu!'

"Kukasih dua pilihan, cium Sai selama lima menit atau peluk Sai selama lima menit?" ucap Sakura. Dirinya tahu bahwa Ino naksir Sai. Walaupun naksirnya baru tahap awal. Karena itulah, dirinya ingin mencomblangi sahabatnya sekaligus rivalnya itu dengan pemuda berkulit pucat yang sedang berdiri di samping Ino.

"HAHHHHH?!!!" semuanya cengo. Biar kukasih tahu siapa aja yang cengo, Shikamaru, Neji, Hinata, Shino karakter mereka udah out of character gara-gara dare yang dikasih Sakura. Sementara itu, wajah Ino telah memanas.

"Oi, forehead, ka-kau, jangan aneh-aneh. Ma-masa darenya seperti i-itu," ucap Ino patah-patah kayak nama goyangan.

"Cepetan, Pig!" ucap Sakura.

Mau tak mau Ino pun memilih memeluk Sai. Walaupun dalam hati dia berterima kasih kepada Sakura haha. Tapi, tetap saja memalukan kalau melakukannya di depan teman-temannya. Sebenarnya dia ingin memilih mencium Sai, tapi gengsi dong.

"Sai, ijin meluk ya," ucap Ino.

"Silahkan," ucap Sai.

Ino memeluknya dengan rasa canggung. Tangannya melingkari tubuh Sai. Sementara Sai hanya diam seperti patung, tidak membalas pelukannya. Sai mana tau soal beginian.

Sakura yang tak tahan melihatnya pun, mulai menggerakkan tangan Sai supaya melingkari pinggang ramping sahabatnya. Di balik dada bidang Sai, wajah Ino merona. Jantungnya terasa seperti dipompa dengan cepat seolah mau meledak. Ia pun dapat mendengar detak jantung Sai yang tenang dan aroma parfumnya yang maskulin.

'Wangi banget sumpah, gak mau lepas,' batin Ino nyaman.

Author bilek: azeeeeek! Seneng kan lu ada adegan plus-plus.

"Hinata, mau peyuuk juga," ucap Naruto manja. Bagi Hinata itu menggemaskan. Ia pun merona. Mereka berdua ikut berpelukan, tentu saja Naruto yang memulainya terlebih dahulu.

"Enaknya pelukan, tapi lebih enak makan keripik kentang," ucap Choji sarkas.

"..." Neji memperhatikan adik sepupunya sedang berpelukan dengan Naruto. Tatapan wajahnya sulit diartikan. Tenang saja, ia tak ada rasa pada adik sepupunya itu. Hanya saja, melihat dua kepribadian yang saling bertolak belakang itu sedang bermesraan di depan matanya membuatnya jadi seperti itu.

"Ehem! Assooy! Udah ya, fan servicenya. Ino, bangun No! Gantian elu muterin botolnya. Jangan terlalu nyaman, entar susah dilupakan. Sai, kalau baper langsung tembak aja, ya," ucap Sakura.

"Ini juga si Naruto sama Hinata malah ikut-ikutan," imbuh Sakura saat melirik ke arah Naruto dan Hinata.

Permainan pun dilanjutkan hingga semuanya mendapatkan giliran. Setelah selesai, barulah mereka pulang. Selama perjalanan pulang Ino tak henti-hentinya memikirkan Sai. Sesampainya di rumah, ia pun mulai menghayalkan Sai.

"Aseeem! Kelamaan sendiri, sekalinya pelukan sama cowok malah kepikiran terus!" teriak Ino di kamarnya.

.

.

.

Maaf ya, Author slow update. Author sekarang udah kelas 12, jadi banyak yang harus dikerjakan seperti nonton anime, nonton anime, dan nonton anime wkwkwk.

Btw, karya ini tu pernah dikomen negatif, jadilah Author yang pada dasarnya males update, ditambah komentar buruk, malah jadi tambah males.

Tapi, terimakasih kepada para pembaca setia. Berkat kalian, Author jadi sedikit (wkwkwk) ada motivasi buat melanjutkan karya ini. Sebenarnya Author punya banyak ide, cuma males ngetiknya aja xD

Dan jangan lupa, baca karya Author yang lain. Judulnya "Mayonaka no Door", itu Author ada ide buat bikin sekuelnya, tapi Author masih males. Btw itu one-shot.

Kalau kalian punya noveltoon, cari aja @Sera Mayumi , Author ada satu karya pairnya Ino x Naruto nanti bakalan ada Sai juga. Judulnya "My New Neighbour Is My Ex".

Sinopsisnya kurang lebih tentang Ino sama Naruto yang sudah putus pas SMA. Tapi, mereka ketemu lagi pas masa kuliah dan Naruto pindah di sebelah rumah Ino. Mereka bahkan satu kampus, padahal Ino udah susah payah buat move on malah ketemu lagi sama mantannya yang gak pernah suka sama dia. Terus entar ada si Sai. Jadi Sai dekat sama Ino entar. Dan gitulah. Baca aja kalau kepo!

Bye-bye!