Disclaimer: Naruto hanya milik Hinata, setelah milik Om Masashi tentunya.
Pairing: Ino x Sai
Happy reading, minna!
~~~
Sudah seminggu berlalu sejak Ino memeluk Sai dan selama itu tingkahnya jadi sedikit berubah. Pertama, dia jadi salting kalo ketahuan melototin Sai. Iya, melototin! Kedua, dia jadi gagap kalo ngomong di depan Sai, dikira dia pelawak asal Indonesia kalik. Ketiga, dia jadi sering senyum-senyum sendiri pas di rumah, sampe Inoichi dan istrinya ngundang Pak ustadz buat ruqyah anaknya sekalian yasinan satu RT. Padahal anaknya lagi jatuh cinta sama anak jaka. Keempat, setiap Sakura ngomong sesuatu pasti nanti selalu nama Sai yang keluar. Seperti tadi pagi, pas Sakura ngambil PR Ino buat dikumpul ke depan.
"No, PR lu mana?" tanya Sakura selaku wakil ketua kelas.
"Hehe, Sai, ini," ucap Ino meringis sambil menyodorkan PR bahasa Inggris.
"Gilak, Ino! Gue tuh Sakura, bukan Sai. Lagian, ini PR bahasa Inggris kenapa lu nulis nama Sai satu halaman dah?" ucap Sakura gemas, ingin mencabik-cabik Ino.
"Hehe, habis... yang ada di pikiranku itu si Sai mulu dah. Makanya kemarin gue diruqyah sama Pak Ustadz Jiraiya," ucap Ino nyengir.
"Astaga, lu sampai diruqyah? Sedepresi apa sih emak bapak elu? Astatang, lagian Jiraiya itu dukun gadungan anjir... Bukan Pak Ustadz," sahut Sakura.
"Kayak aku peduli aja. Lagian, mau dia dukun atau ustadz, gue juga udah gila Sak, gara-gara cinta. Azeeeeeek," ucap Ino yang sedang bucin. Sakura geli mendengarnya. Ia pun segera mengumpulkan buku PR milik para murid kelas XI-A.
"Orang kalau udah kena virus merah jambu, otaknya jadi sableng." -Sakura 2021-
Into You
Bel istirahat berbunyi. Ino mengambil bungkus bekal makan siangnya, lalu menghampiri Sai yang sedang duduk manis, semanis dirinya. Azeeek.
"Anu, Sai-kun, um... Aku buatin bekal buat kamu. Mau makan bareng gak?" ucap Ino malu-malu kerbau. Dia sangat imut, batin murid-murid yang melihatnya.
"Baiklah, mau makan di mana?" tanya Sai.
"Pipiuuuwwww, azeeeekkkk... Ada yang lagi kasmaran nih gengssss!" Bacot Sakura diikuti oleh sorak sorai penghuni kelas XI-A.
Kiba pun heboh sendiri.
"APA? INO! TEGANYA LU MILIH SAI DARIPADA GUE!" teriak Kiba frustasi.
"Ya jelaslah! Lo itu burik! Mana mau Barbie hidup kayak gue jadian ama elu?!" jawab Ino.
'Ah, sial! Cewek terseksi di sekolah milih cowok lain,' batin Kiba frustasi.
"Lu kalo mau yang seksi, sekalian aja sama Nenek Tsunade!" teriak Ino.
"Siapa yang kau panggil nenek, dasar gadis kecil!" teriak Tsunade yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Tubuh Ino menegang.
"Ah, Nenek, anu..." Ino bingung harus bilang apa. Tsunade memang neneknya.
"Jangan panggil aku nenek di sekolah, Ino-chan," rengek Tsunade manja.
"Baiklah, Tsunade-sama," ucap Ino terpaksa. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Sai.
"Em, gimana kalau di tempat sepi atau semak-semak, eh maksudnya di taman sekolah," ucap Ino memberikan saran. Sebenarnya dia pengen pergi ke atap seperti di anime shounen yang dia tonton, tapi kan jelas dilarang sama pihak sekolah.
Sai tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. Lalu, pergilah mereka berdua di taman sekolah. Sesampainya di sana, mereka duduk di kursi panjang.
"Anu, Sai. Bekalnya cuma chicken katsu, cookies, sama pudding. Maaf kalau terlalu biasa," ucap Ino merendah untuk meroket. Ceilah! Wkwkwkwk.
'Cuma?' batin Sai seraya tersenyum membuat kedua matanya tertutup, you know lah... seperti di anime, kalau di mata penonton terlihat sedikit sarkas.
"Hooo... Pantas saja kamu bawa satu karung, ternyata isinya banyak," ucap Sai.
"Hehe, aku tadi sedikit sibuk sebenarnya, jadi cuma itu aja yang kubawa," ucap Ino malu-malu kudanil. Oke, udah naik level.
'Bukannya itu artinya dia nganggur banget?' batin Sai ooc.
"Baiklah, selamat makan!" Ucap Ino bersemangat, lalu menyodorkan makanannya pada Sai. Ia berniat untuk bersulang, namun Sai salah mengartikan dan memakannnya dengan wajah innocent.
'E-eh?' batin Ino. Pipinya bersemu merah. 'Aku nyuapin Sai? Awwwwww!!! Dan dia langsung ngelahap makananku? Ahh... Gemes...' Ino sudah menghayal ekstrim.
"Um! Ini sangat enak, Ino. Kamu pintar masak ya. Kamu pasti bakalan jadi calon-" Ino menunggu ucapan Sai.
'Calon istri kan? Hehe... Iya dong, buat Sai sih, aku udah berusaha keras,' batin Ino.
"...chef yang baik. Mendingan kamu ikut Master Chef aja," sambung Sai.
"Brah!" ada backsound yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Mereka selesai makan. Ino telah membereskan beberapa tupperware ke dalam karung, eh tasnya.
"Sai, terimakasih mau nemenin aku makan," ucap Ino.
Sai menoleh, lalu tersenyum.
"Seharusnya aku yang bilang terimakasih karena kamu sudah repot-repot buatin makanan enak. Lain kali, aku traktir kamu."
"Eh?" Ino pun mulai menghayal.
'Kencan dong? Kencan kan, wahai para pembaca? Dia mau nraktir aku loh... di luar... terus kami mau nonton bioskop juga... lalu...'
Author bilek: "Sai cuma bilang traktir. Gak ditambahin nonton bioskop. Lagian, bisa aja nraktrinya cuma di kantin sekolah, gak di luar."
'Sialan! Author bener juga. Tapi gak apa, yang penting langkah pdkt semakin dekat,' batin Ino.
"Anu, Ino, ada apa?" tanya Sai yang melihat Ino terdiam selama beberapa saat. Dia gak tahu, kalau sedari tadi gadis bersurai pirang itu sedang sibuk menghayal tentang dirinya.
"Ah, gak apa, Sai. Anu, ke kelas yuk!" ajak Ino dan segera menarik lengan kekar milik pemuda itu.
"Eh..." ucap Sai yang tiba-tiba lengannya ditarik Ino. Namun ia menurut saja.
'Asik! Ada kesempatan grepe-grepe secara natural dan berkelas,' batin Ino.
Sepulang sekolah Sai mengeluarkan kotak bekalnya di atas meja. Lalu, wanita paruh baya bernama Irina yang bekerja di situ mengambil dan hendak mencucinya.
"Loh, Sai-sama, tumben Anda tidak menghabiskan bekal?" ucap bibi paruh baya itu ketika kotak bekal yang dibawanya terasa berat.
'Duh, dikira Sai anak TK bawa bekal?' batin Reader.
"Hm... Aku sudah kenyang, Bibi," jawab Sai.
"Benarkah? Apa karena lauknya tidak enak?" ucap Bibi sedih. Sai merasa tak enak.
"Bukan, Bibi. Sebenarnya tadi ada temanku yang membuatkan bekal, lalu dia mengajakku untuk makan bersama. Jadi, kami berdua makan chicken katsu, cookies, dan pudding. Karena itu, aku terlalu kenyang untuk memakan bekal buatan Bibi," ucap Sai panjang lebar. Dia hanya seperti ini kepada Bibi Irina yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Wah, benarkah? Seperti apa temanmu itu? Apa dia perempuan? Sudah punya pacar?" ucap Bibi Irina yang tiba-tiba merasa penasaran.
"Um... Dia perempuan, cantik, baik, cerewet, berketombe, anu... calon chef yang baik. Sepertinya dia tidak punya pacar," ucap Sai sambil meletakkan jari telunjuk dan jempol di dagunya.
'Hee? Apa-apaan itu? Berketombe? Cantik-cantik berketombe? Yah, bukan itu masalahnya, yang penting baik. Tapi, buat apa Sai-sama ngasih tau kalau dia ketombean? Apa gunanya?' batin Bibi Irina.
"Kayak lu gak pernah ketombean anjir!" bentak Author yang masuk ke dunia mereka, lalu menghilang. Sai dan Bibi Irina terkejut.
Ino memeluk boneka yang mirip dengan Sai. Tentu saja dia memesan boneka itu di olshop terpercaya dengan menggunakan foto Sai yang dia ambil diam-diam.
Ia senyum-senyum sendiri saat mengingat tadi siang dia makan bersama Sai, menyuapinya, lalu bergandengan tangan. Ah, enaknya menghayal.
"Ah, gak sabar pengen jadi pacarnya. Tembak aja kalik ya?" ucap Ino bermonolog.
"Ah, enggak deh. Malu. Kyaaaah!"
"Tapi, tadi itu lucky banget bisa megang lengan kekar khas cowok tampan."
"Mana bau parfumnya wangi banget lagi! Bikin nagih. Please... Jangan bikin gue tambah cinta, Sai," ucap Ino lebay.
Inoichi dan istrinya menguping di balik pintu. Mereka baru sadar, ternyata anak semata wayangnya itu sedang jatuh cinta. Jadi, sia-sia mereka membawa ustadz gadungan itu.
Sementara itu di tempat lain Sai sedang bersin.
"Hatsyuuu!"
"Tuan, sepertinya ada yang sedang membicarakan Anda," ucap seorang pelayan.
"Sepertinya aku flu," ucap Sai.
"Kalau begitu, biar saya ambilkan obatnya," ucap pelayan itu dan segera pergi mengambil obat flu.
~oOo~
Halo, semuanya! Maaf ya, chapter kali ini pendek, gaje, dan terkesan dipaksakan. Author buru-buru ngetiknya~
Lalu, Author bakalan hiatus hikss... jadi , jangan lupa buat tekan tombol ikuti cerita atau favorit-in cerita, supaya gak ketinggalan pas aku nanti update. Soalnya hiatusnya bakalan lama, aku balik ke asrama huhu T-T
Aduh, sempat-sempatnya waktu itu aku upload cerita baru wkwkwk... Padahal sekuelnya Mayonaka no Door belum ku up. Judulnya Encounter, nanti Sasuke balik ke Jepang dan ketemu sama Ino.
