Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

NaruHina

"Biar ku ulangi, kau ingin aku menjagamu?"

Hinata meringis, mengangguk pelan. Mendengar kalimat itu keluar dan diucapkan secara langsung dari mulut Naruto memang aneh sekali, dan sedikit memalukan sebenarnya. Benar, Ia sudah menggali kuburan nya sendiri. Tidak bisa mundur lagi sekarang.

Jujur, Hinata menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin agar bisa berbicara secara tegas di hadapan Naruto Uzumaki, sang berandalan sekolah. Tapi, oh God, pada kenyataannya sangat sulit sekali untuk dilakukan. Keberanian yang Ia kumpulkan semenjak tadi malam lenyap begitu saja setelah Ia duduk di hadapan pemuda tersebut di restoran tempatnya bekerja. Menemuinya tepat setelah shift-nya selesai.

Kebetulan sekali memang, karena Hinata tak yakin apa dia bisa menunggu lebih lama lagi untuk bicara dengan Naruto jika pemuda pirang itu sudah pulang ke apartemen-nya.

Hinata menelan ludah. "Ha-hanya saat di sekolah saja, kok," melihat Naruto dengan sudut bibir yang terangkat membuat jantung Hinata jadi semakin berdetak tak karuan. Telapak tangan kanan yang berkeringat terus menerus Hinata usapkan ke rok seragam sekolah nya, sedangkan satu lagi yang dibalut perban berada di atas pangkuan. "tapi kau tidak perlu khawatir! A-aku akan membayarmu, tentu saja!"

Naruto tidak segera memberi tanggapan. Ia hanya menatap Hinata cukup lama, lalu berdecak, memalingkan muka. Hinata mengerang dalam hati. Ini ide buruk. Rasanya ingin bersembunyi di suatu tempat dan tidak pernah keluar lagi.

Hinata hendak membatalkan rencana (karena Ia yakin sekali Naruto tidak akan mau membantunya) ketika Ia mendengar decakan itu untuk yang kedua kali. Naruto mengecek jam tangannya, kemudian mendesah panjang. Hinata meringis. Apa Ia ada janji atau acara dengan orang lain? Apa Hinata menghambatnya untuk pergi? Atau—

"Kita tidak satu kelas, jadi mungkin aku tidak bisa 'menjaga'mu disana," Naruto memberi jeda, ekspresi bosan mulai tampak di wajahnya. "Tapi aku bisa menunggu di depan kelasmu."

Mata Hinata membulat. Tunggu...seorang Naruto Uzumaki setuju begitu saja? Tanpa bertanya apapun tentang kenapa Hinata menginginkan perlindungan darinya? Atau Naruto sudah tahu masalah Hinata apa? Mungkin saja, kehidupan sekolahnya yang mengenaskan bukan sesuatu yang bisa disembunyikan. Semua orang tahu, bahkan guru-guru pun juga mengetahui hal itu (tapi tidak melakukan apapun untuk menghentikannya.)

Hinata berdehem. Berharap suaranya tidak bergetar, Ia bertanya dengan nada ragu, "kau... setuju?"

Naruto mengulurkan tangan. Tidak ada senyum di wajahnya. "¥4000 per hari. Double jika aku harus menghajar seseorang. Triple jika aku terluka karena membelamu."

Hinata menggigit bibir bawah dengan keras. Harus bagaimana sekarang? Hinata mulai berpikir kalau yang Ia lakukan ini salah, seharusnya Ia tidak meminta bantuan dari murid paling berbahaya seantero sekolah. Ada banyak rumor yang mengatakan bahwa Naruto sudah pernah masuk penjara, bergabung dengan sebuah geng, drugs, bahkan lebih parah lagi, pembunuhan. Tapi itu semua hanya rumor yang belum tentu kebenarannya. Bahkan beberapa terdengar sangat absurd sekali. Juga, justru karena alasan itulah Naruto orang yang tepat untuk diajak bekerja sama. Meskipun Hinata sendiri tidak menyangka akan semudah ini pada akhirnya.

Tapi...¥4000 sehari? Sedangkan Hinata membutuhkan proteksi itu setidaknya selama satu bulan, atau lebih, sampai semua pembullyan itu berhenti. Nah, Ia hanya perlu memastikan Naruto tidak sampai menghajar seseorang.

Seandainya Ia punya banyak pilihan untuk mengatasi masalah ini.

Hinata menerima uluran tangan Naruto. Menatapnya serius.

"Deal."

Gotta get it out of my head lol

Buat kalian yg udh ngeluangin waktunya baca fic ini, thank you so much!

So...see u in next chap?