Mangoissour in.
Naruto belong to Kishimoto sensei.
Warning : TYPO, OOC dan dkk.
Sebelum kecerita aku ingin menyampaikan terimakasih kepada pembaca yang sudah membaca dan mereview cerita ini^^
THANKS TO : Spanenx(Wah siapa ya yang suka duluan, hehe, baca terus nanti ketahuan kok^^) (Siap^^ ini udah lanjut) Yukito arui(kurang panjang? Padahal aku sudah mengetik 3000 kata, biasanya 2000 kata, akan kupanjang kalau idenya tepat^^)cle0patrazxz(thanks sudah menyukai karacterku, kurasa aku tidak sadar terkadang aku menulis tengah malam karena itu gak sadar kalau ada typo^^)shayyll (thank you shay, aku juga menyukai Gaasaku banget. Karena itu membuat cerita tentang mereka, jebolnya? Jebol apa dulu nih hehe^^)Paok Aho-Chan(wah firasatmu tepat sekali, jam tiga astaga, Kuat sekali belum tidur sampai jam segitu welcome to the club, walau aku bisa bertahan sampai jam satu^^)MeilanyDwitaa(Sasuke akan muncul kok, sesegera mungkin di tunggu saja^^)Constantinest(Yes, aku juga suka moment itu Sakura bad ass sekali^^)Febrichan2425(Wah kutukan yang bagus nih. Biar Gaara bucin sama Sakura, semoga terkabul ya^^)mlrl(bener Sakura sih gak awas^^, bener banget mereka lucu banget klo di sandingkan thank you review kalian membuatku semangat menulisnya^^)Alfina Yuliana(mudah atau enggak, bagaimana ya kalian aja yang menilainya hehe thank you^^ bener she alpha women but caring at the same time^^ wah triangle menarik nih, aku juga sering kena second lead syndrom, semoga disini enggak ya^^)Guest(thank you)
-sour-
Mata hijau itu memperhatikan beberapa orang yang sedang lalang dari kaca kantornya, wajahnya tidak menampilkan ekspresi hanya setengah melamun. Ia menyentuh kaca yang ada di hadapannya. Ia menarik nafas perlahan, mengeluarkannya dengan gelisah.
Sakura ingat tanggal berapa ini, ulang tahun pria itu, Sasuke Uchiha, kekasihnya yang menghilang begitu saja. Tidak meninggalkan apapun untuk Sakura, tanpa ia menyadari bahwa hubungan mereka mungkin sudah kandas semenjak setahun yang lalu.
Tangannya menyentuh cincin pernikahannya, Sakura mengerakkannya perlahan. Kemudian ia berbalik, menarik kursi dan duduk di atasnya.
Matanya melirik sebuah kado kecil yang ada di atas mejanya, tidak seharusnya ia membelikan pria itu kado. Pria yang tidak tahu dimana keberadaannya, bagaimana keadaannya, bahkan ia tidak menyadari bahwa ia membeli kado untuk pria itu, mungkin menjadi suatu kebiasaan untuknya.
Kebiasaan yang susah dihilangkan, dimana ia terlalu peduli dengan sekelilingnya.
Sakura memejamkan matanya, berusaha menenangkan pikiran yang berkecamuk dalam otaknya, tetapi tidak bisa. Ia marah kepada pria itu dan di satu sisi ia marah kepada dirinya sendiri, mengapa ia menikah! Seharusnya jika ia tidak menikah dengan Gaara, apa mungkin ketika bertemu dengan Sasuke mereka bisa kembali?
Matanya menatap kalender, menghitung berapa lama pernikahan mereka, sepuluh bulan lagi.
Itu terlalu lama untuk Sakura.
-sour-
"Bagaimana hasilnya?" tanya Gaara dengan parau, ia merapikan jas yang dikenakannya, tanpa ia menyadari bahwa jasnya semakin longgar di tubuhnya.
"Buruk," ucap Baki, pria itu tidak pernah berbasa-basi di hadapan pasiennya, karena hal itu Gaara menyukainya. "Berapa lama lagi kau melanjutkan gaya hidup seperti ini?" tanyanya dengan kesal.
Tentu ia kesal, Baki adalah dokter yang merawat Gaara dari kecil. "Aku tahu kau memiliki tubuh yang kuat, hanya saja jika kau terus melakukan ini kau bisa mati muda Gaara,"
Gaara mendengus, ia menyadari seharusnya ia tidak mengambil tes kesehatan itu. Tetapi Temari, kakak perempuannya memaksanya, bahkan Kankuro kini juga membantu. Kenapa mereka tidak membiarkan Gaara sendirian? Dia bukan anak kecil, dia adalah pria dewasa yang menyukai pekerjaannya bahkan kini ia sudah menikah.
"Usahakan makan teratur Gaara, tubuhmu semakin lemah," ucap Baki, nada khawatir ada dalam suaranya, ia menyodorkan amplop coklat itu, Gaara menerimanya dan berdiri.
"Akan kucoba," ucap Gaara, ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Gaara berjalan keluar dari ruangan secepat mungkin.
"Kapan kau tidur?"
"Kemarin," ucap Gaara singkat.
"Perbanyak tidurmu," ucapnya lagi. "Dan makan teratur,"
Hanya suara pintu di tutup adalah jawaban untuk Baki.
Jika Sakura selalu dalam mood yang bagus tentu ia mau, sayangnya mereka tidak akur. Hanya lima kali Gaara dan Sakura tidur bersama, selebihnya ia akan sibuk dengan perjalanan bisnisnya.
Ia sudah tahu bahwa hasilnya buruk, tubuhnya semakin lemah semakin hari. Seperti biasanya ia bisa bertahan tiga hari tanpa tidur tapi kali ini ia tidak bisa, ia membutuhkan tidur, bukan Cuma tidur tetapi pola hidup yang berantakan.
Gaara menyerahkan pola asuh Shinki ke tangan Shinra, karena ia tahu bahwa ia tidak ingin Shinki meniru gaya hidupnya.
"Menyebalkan!" serunya kesal.
Bagi Gaara kematian mungkin terdengar menyenangkan untuknya, tetapi dengan adanya Shinki, beberapa kali ia memastikan dirinya untuk tidak terluka ataupun meninggal, ia tidak ingin putranya menjadi yatim piatu. Gaara pernah merasakannya, hal itu menyebalkan untuknya.
-sour-
Gaara membuka amplop tes kesehatannya, membacanya. Berat badannya 48 kg dengan tinggi badan 171 cm, wajahnya semakin tirus dan tubuhnya semakin mengecil, ia memperhatikan ia belum memiliki penyakit serius untuk saat ini, walau ia yakin penyakit itu hanya tinggal menunggu waktu.
Matanya masih membaca tes kesehatannya, sampai ia mendengar seruan Shinki "Daddy!" Gaara tidak menyadari bahwa ada Shinki dan Sakura di kamarnya.
Sakura mengenakan handuk mandinya dan Shinki dalam gendongannya dengan handuk yang membalut tubuh mungilnya, Gaara dapat melihat kaki putih jenjang milik Sakura, matanya tampak terkejut. "Kupikir kau tidak akan tidur disini," ucap Sakura santai, terlalu santai.
Apa ia tidak mengangap Gaara seorang laki-laki?
"Aku tidur disini," ucap Gaara. "Kenapa Shinki bersamamu?"
"Aku memandikannya," ucap Sakura ringan, memasuki ruangan pakaian mereka. Gaara dapat mendengar Shinki tertawa kecil, Sakura keluar dengan gaun malam satin berwarna navy yang cukup panjang kali ini, Shinki masih dalam gendongannya, Sakura menyalakan hair dryer mengeringkan rambut Shinki.
Sepertinya putranya sudah terbiasa dengan Sakura disisinya. 'Terlalu terbiasa,' pikir Gaara. Sakura mengambil tempat yang Gaara tidak pernah ambil, seorang ibu. Tempat yang Gaara sendiri tidak tahu bagaimana rasanya.
Ia bangkit dari kursinya, menuju kamar mandi, berusaha melupakan masalahnya saat ini.
Gaara tidak menyadari bahwa ia sedikit tertidur dalam jacuzzi miliknya, begitu ia tersadar dengan malas, mengenakan jubah mandinya, berjalan keluar, ia melihat Sakura sedang membaca amplop kesehatannya.
"Apa kau tidak tahu privasi?" tanya Gaara, merebut amplop itu. "Di mana Shinki?"
"Di kamarnya, kau lama sekali di kamar mandi," ucap Sakura acuh. "Hasil yang menarik," ucap Sakura, ia duduk di ranjang kamar mereka. Gaara menaruh amplop itu di lemari tempat dimana tumpukan dokumennya berada, ia sudah mengenakan celananya, berjalan menuju ruangan pakaiannya, matanya menatap pantulan cermin akan tubuhnya membuatnya berhenti.
Beberapa tulang mulai menonjol dari dadanya. Tubuhnya memang semakin kurus, tetapi biasanya tidak seperti ini. Wajahnya semakin tirus, matanya semakin menonjol.
"Well pemandangan yang menyedihkan untuk pemilik Suna Corp," ucap Sakura, ia menyenderkan tubuhnya di dinding.
Gaara tidak peduli, ia mengambil piyamanya dan memakainya.
"Kurasa tubuhmu bisa roboh kapanpun," ucap Sakura, ia berjalan mendekati Gaara, memperhatikan pantulannya di cermin. Ia mengambil kotak perhiasannya, melepaskan anting-anting mutiara yang dipakainya, menaruhnya di kotak perhiasan.
"Aku sangat sehat," ucap Gaara singkat, perlahan tangannya gemetar, ketika ia berusaha mengancingkan kacing piyamanya. Mata Sakura menangkap pemandangan itu dari kaca, ia berbalik hendak memasangkan kancing pakaian Gaara.
Sakura memang tidak pernah memperhatikan tubuh Gaara secara mendetail. Kini manik hijaunya memperhatikannya, kulit pucatnya, luka lumayan lebar pada dada bagian kanan, serta tulang yang semakin menonjol. Luka yang membuat Sakura bertanya bagaimana ia mendapatkannya, tetapi Sakura memilih untuk diam.
Tangannya menyentuh kancing pertama, Gaara menepisnya. "Aku bisa sendiri,"
Tangan Gaara sepertinya sudah kembali, dengan cepat ia mengancingkan pakaiannya.
Sakura hanya memperhatikannya, rambut merahnya berantakan, pakaian yang kebesaran untuknya. Ia melangkah keluar, ada perasaan memuakkan yang menjalar dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan ini muncul.
Atau perasaan apa ini.
Sakura berjalan menuju kulkas kecil yang berada di dekat meja Gaara disamping tempat tidurnya. Sakura sering melihat Gaara menyimpan beberapa minuman dalam kulkas mini itu, sakura mengambil sekaleng bir dingin, membukanya dan meminumnya.
Kemudian melangkah keluar menuju balkoni kamar mereka, memperhatikan pepohonan, melamun.
Sakura dapat mendengar langkah kaki mendekat, Gaara berdiri di sampingnya dengan sebotol bir dengan merek berbeda.
"Aku tidak ingin berbedat," ucap Sakura, meneguk minumanya lagi.
"Kau marah," ucap Gaara, mata hijaunya kini memandang pepohonan mencoba mengerti hal apa yang menarik Sakura.
Sakura tidak menjawab.
"Karena aku menepismu?"
Sakura masih diam, mengacuhkan Gaara. Meminum birnya terus menerus sampai ia tidak menyadari bahwa ia sudah menghabiskan birnya, Gaara mengambil bir kedua untuk Sakura, membukanya dan menyerahkannya.
Sakura menerimanya, masih diam.
"Kau marah?" tanya Gaara lagi.
"Tidak,"
'Tidak bukankah iya?' batin Gaara, "Ada apa?"
"Aku hanya merindukan seseorang," ucap Sakura, "Hari ini ulang tahunnya."
"Siapa?"
"Sasuke," ucap Sakura, nama yang meluncur begitu saja dari bibirnya, "Aku hanya merindukannya, itu saja,"
Gaara meneguk birnya, "Kekasihmu?" tanya Gaara lagi.
"Hubungan kami berakhir tanpa pernah ada ucapan putus, dia pergi dan menghilang begitu saja," ucap Sakura. "Rasanya menyakitkan. Walaupun dia bukan pria yang selalu ada, tetapi dia bisa mengerti dengan baik, kau tahu aku tidak menyukai perhatian 24 jam. Aku berpikir bahwa aku dan Sasuke adalah jodoh, tetapi sekarang aku tidak tahu lagi,"
Gaara meminum birnya lagi. "Aku pernah berpikiran hal yang sama. Kupikir aku bertemu dengan jodohku, tapi aku tidak tahu iya atau bukan."
"Apa ini mantanmu?" tanya Sakura lagi.
"Matsuri," ucap Gaara singkat. "Shinki tidak menyukainya,"
"Apa kau menyukainya?" tanya Sakura.
Gaara hanya diam, matanya melirik ke arah Sakura. Udara dingin bertiup cukup kencang, Sakura hanya mengenakan gaun malam yang tipis, walau lebih panjang dari biasanya.
"Aku tidak tahu," ucap Gaara, tanpa ia sadari tangannya bergetar lagi dan menjatuhkan botol bir di tangannya.
Sakura terkejut, Gaara hanya diam, menatap tangannya yang masih bergetar, ia menyembunyikannya di belakang tubuhnya. "Ada apa?"
"Aku mengantuk, biar pelayan yang membereskan ini," ucap Gaara, berbalik memasuki kamarnya.
Sakura menyadari sesuatu tidak beres dengan Gaara, ia melihat Gaara menaiki ranjang, Sakura mengikutinya. Tetapi Sakura belum mengantuk, ia menyalakan televisi, mengecilkan suaranya. Gaara tidak menyukainya, "Aku mengantuk," ucap Gaara berat.
"Aku bisa membantumu," jawab Sakura.
Gaara mengangap itu suatu tanda untuknya untuk mendekat, ia mengeserkan tubuhnya ke arah Sakura, ia hendak memeluk wanita itu tetapi Sakura menolaknya dengan cara mendorong bahunya pelan.
"Kenapa!"
"Aku bisa membantumu," ucapnya lagi.
"Tentu saja kau bisa. Sekarang biarkan aku memelukmu dan tidur!" erangnya Gaara kesal, kesal karena Sakura menolaknya.
"Aku bisa memperbaiki kesehatanmu Gaara. Aku dokter gizi, aku yakin jika semakin lama kau bisa kehilangan keseimbanganmu," ucap Sakura, berbalik menatap Gaara. "Apa kau mau pingsan mendadak Gaara? Bahkan yang terburuk mungkin ketika kau terjatuh terbentur sesuatu yang tidak kau inginkan?"
"Aku baik-baik saja," ucap Gaara.
"Benarkah? Lalu kenapa tanganmu bergetar?" tanya Sakura.
Gaara tidak bisa menjawab, ia memutuskan untuk berbalik membelakangi Sakura.
"Kau membutuhkan bantuanku Gaara," ucap Sakura, "Aku bisa membuatmu bekerja dengan tubuh yang lebih baik," ucap Sakura lagi.
Gaara sedikit tertarik, "Bagaimana?" ia berbalik menghadap Sakura. Merasa di dengar Sakura tersenyum. "Aku bisa membuatmu tidur nyenyak dan sekarang jika kau menurut," ucap Sakura, menyentuh dagu Gaara dengan jari telunjuknya, "Aku bisa membuatmu," ucapan Sakura terhenti. Perlahan memori memasuki pikirannya. Bahwa posisi mereka terasa tidak asing.
"Apa?"
Sakura segera tersadar, "Lupakan," ucap Sakura berbalik membelakangi Gaara.
Gaara penasaran, ia melingkarkan tangannya di pinggul Sakura, menariknya untuk mendekati tubuhnya membuat wanita itu menoleh. "Jawab pertanyaanku," tuntut Gaara.
"Kau bisa hidup lebih baik," ucap Sakura.
Gaara tampaknya tidak terlalu terkesan dengan jawaban Sakura. Ia hendak protes tetapi kepalanya mendadak sakit sekali sehingga membuatnya mengerang, ia membanting tubuhnya ke belakang dengan pelan. Berusaha menyembunyikan rasa sakit itu dari Sakura.
Dengan sigap Sakura berjalan keluar kamar, kemudian kembali dengan beberapa obat dan segelas air minum di tangannya. "Minumlah, ini akan meredakan sakitnya."
"Terimakasih," ucap Gaara, mengambil obat itu, minumnya dengan cepat, membaringkan tubuhnya. Butuh waktu tiga menit sampai obat itu bekerja.
"Kalau kau menurut, setidaknya kau tidak akan menderita dengan penyakit yang kau buat sendiri," ucap Sakura. "Walaupun kalau kau meninggal, aku pasti akan mengadopsi Shinki," ucap Sakura lagi.
Gaara menatap Sakura dengan melotot, "Apa kau berharap aku meninggal Sakura?" tanya Gaara kesal. Tetapi Gaara mengakui bahwa ia membutuhkan bantuan Sakura.
"Aku setuju, apa imbalannya?" tanya Gaara lagi.
"Aku belum ada permintaan, bisakah aku menyimpannya?" tanya Sakura, ia menaiki ranjangnya, "kemarilah Gaara," ucap Sakura merentangkan tangannya.
Gaara mendekat, ia menyandarkan kepalanya ke bahu Sakura dan memeluk pinggul Sakura. "Baiklah, kau bisa menyimpannya," ucap Gaara memejamkan matanya.
-sour-
"Bagaimana pola makan Gaara?" tanya Sakura, matanya masih memandang ipad di tangannya, Sakura bangun lebih awal, Gaara dan Shinki masih terlelap di kamar mereka masing-masing.
"Gaara sama, biasanya tidak sarapan. Ia hanya meminta kopi hitam dan pergi," ucap Shinra, berdiri di samping Sakura. "Terkadang Gaara-sama juga melewati jam makan siang jika ia terlalu asyik bekerja," ucap Shinra lagi, "Tetapi sekertarisnya akan membawakan sandwich untuk Gaara,"
"Kemudian makan malam, itupun Gaara sama makan sembarangan. Ia hanya makan-makanan cepat saji dan kembali bekerja,"
"Apa tidak ada yang memperingatinya?"
"Kami semua sudah mencobanya Sakura-sama, tetapi Gaara-sama selalu menolak," ucap Shinra, ia tampak kelelahan mengingat betapa susahnya memberi makan Gaara.
"Apa makanan kesukaannya?" tanya Sakura lagi.
"Gaara-sama menyukai masakan jepang, karena dari kecil ia tinggal disana. Gaara-sama juga menyukai makanan pedas,"
"Apa yang tidak disukainya?"
"Makanan yang terlalu manis," ucap Shinra.
"Aku sudah membuatkan menu untuknya, beritahu koki untuk memasakan makanan ini," ucap Sakura. "Apa kau sudah membuatkan sandwich yang kuminta?"
"Sudah Sakura-sama," ucap Shinra, "Aku akan menyiapkannya,"
Derap langkah kaki berjalan dengan linglung, "Bibi Sakura," panggil Shinki, ia mengenakan piyama dinosaurus yang dibelikan Sakura, matanya masih setengah terpejam, ia berjalan mendekati Sakura.
Sakura mengendongnya dan menaruhnya di pahanya, Shinki memeluk Sakura.
Empat puluh menit kemudian Gaara turun dengan pakaian lengkap, setelan jas abu-abu gelap, kemeja hitam, tas dior yang selalu dipakainya bekerja, "Pagi," ucapnya, menarik kursi di seberang Sakura.
"Pagi," jawab Sakura, tangannya mengusap rambut Shinki.
Shinra kembali dengan nampan di tangannya, menaruh piring berisi roti panggang di atasnya terdapat alpukat yang sudah di bumbui dan di hancurkan, telur rebus, bacon dan sosis. Serta segelas minuman protein rasa cookies and cream.
Shinki menoleh, "Aku lapar," ucapnya.
Shinra mengambil kursi makan untuk Shinki, Sakura menaruhnya di kursi makan. "Berikan yang sama untuknya dan susu,"
"Shinra, aku kopi," ucap Gaara, matanya masih asyik mengawasi ponselnya.
"Berikan yang sama denganku kepada Gaara dan kopinya,"
"Aku tidak menyukai sarapan di pagi hari," ucap Gaara merengut.
"Kau sudah berjanji untuk mengikutiku Gaara," ucap Sakura. Shinra kembali, menyajikan makanan yang sama dengan Sakura kepada Gaara dan Shinki.
Shinki memakan sosisnya pertama kali, "Kau lihat putramu tidak protes sama sekali," ucap Sakura getir.
"Makanlah walau sedikit," ucap Sakura, mengambil roti panggang dan memakannya.
Merasa kalah Gaara memakannya, karena porsinya tidak banyak Gaara menghabiskannya. "Apa ini?" tanya Gaara menujuk minuman susu di sampingnya.
"Susu Protein, kau harus meminumnya supaya protein tubuhmu terpenuhi," ucap Sakura ringan, ia sedang mengelap mulut Shinki yang belepotan, Shinra datang dan memberikan Sakura beberapa botol kecil serta sendok.
"Shinki kau harus minum vitamin," ucap Sakura dan Shinki menurut.
"Sejak kapan Shinki meminum vitamin?" tanya Gaara.
"Sejak kau sering mengurung diri di kantormu, sekarang dia jauh lebih baik. Aku memberikan vitamin multivitamin dan minyak ikan yang bagus untuk perkembangannya," ucap Sakura.
Shinki menurut. Gaara ingat betapa menyebalkannya Shinki meminum obat ataupun vitamin dan sekarang putranya menurut seperti anak anjing?
Sakura mengeluarkan kotak obat, mengambilnya, menyodorkannya kepada Gaara. "Untukmu?"
"Aku tidak sakit," ucap Gaara.
"Ini Vitamin, aku meminum vitamin yang sama. Ini multivitamin, ini vitamin E dan vitamin A, serta minyak ikan," ucap Sakura menjelaskan. "Kau sudah berjanji denganku,"
Gaara merengut, mengulurkan tangannya, Sakura memberinya dengan kesal ia meminum semuanya sekaligus.
"Bagus Gaara, Shinra apa bekalnya sudah siap?" ucap Sakura dengan senyuman. Shinra mengangguk.
"Gaara sama, apa kau akan pergi ke pesta lelang Mr. Robert malam ini?" tanya Shinra, menyerahkan kotak bekal di samping Gaara.
"Sakura, apa kau bisa datang ke pesta bersamaku malam ini?" tanya Gaara.
Sakura masih sibuk dengan Shinki, ia melepaskan piyama Shinki dan mengendongnya. "Tentu saja,"
-sour-
"Kau lihat pria itu." Tunjuk Gaara, Sakura mengikuti jari Gaara, mengeleng. "Dia pemilik stasiun televisi, kudengar dia juga sering berinvestasi, sama sepertiku. Aku bisa mengenalkan kamu kepadanya," ucap Gaara. Mata hijaunya memperhatikan penampilan Sakura.
Sakura mengenakan mermaid dress, strapless, dengan rok yang cukup mengembang di bagian kakinya. Di dadanya terdapat beberapa manik-manik yang pas dengan gaun itu membuat Sakura semakin menarik, gaun merah muda yang sesuai dengan rambutnya yang disanggul rapi kebelakang.
"Berhati-hatilah, dia menyukai wanita muda."
"Jangan khawatir, aku sering menghadapi pria seperti dia," ucap Sakura yakin.
Gaara berdiri di belakang Sakura, menyentuh pundaknya yang lebih kecil daripadanya, "Dan pria disebelahnya, dia adalah pemilik surat kabar. Mudah bagimu untuk membuat berita,"
"Apa kau mengenal mereka?"
"Terkadang aku bermain golf bersama mereka," jawab Gaara ringan.
"Gaara kau benar-benar penyelamat," ucap Sakura riang.
"Apa kau sudah siap?" tanya Gaara, Gaara mengenakan suit hitam karya Alexander McQueen edisi fall, suit hitam yang membuat kulit pucatnya menyala serta motif abstrak merah yang pas dengan suit itu membuat Gaara tampak keren dengan pakaiannya.
Sakura menyadari bahwa Gaara memperdulikan penampilannya dan McQueen adalah designer yang paling ia sering gunakan. Sakura merangkul tangan kiri Gaara. "Ayo,"
Sakura merengut, ucapan Gaara benar. Dua pria itu lebih tertarik kepada tubuhnya daripada ucapannya. Ia sudah pamit untuk undur menuju tempat minuman, setidaknya ia sudah membuat dua calon investor tertarik kepadanya berkat Gaara sebenarnya, mereka akan datang minggu depan untuk meeting bersamanya. Matanya masih menatap Gaara yang terjebak dengan mereka, sedang membicarakan sesuatu.
Ketika tangannya hendak mengambil gelas sampanye seseorang juga mengambilnya. Sakura menoleh, seorang pria berambut hitam, mata hitam dengan kulit pucat, sekilas ia nyaris mirip dengan Sasuke hanya saja fiturnya berbeda.
Mungkin karena akhir-akhir ini nama Sasuke berada dalam kepalanya.
"Kurasa ini milikku,"
"Aku melihatnya nona," ucap pria itu tersenyum. "Tapi kau sepertinya lebih membutuhkannya daripada aku,"
Sakura acuh, mengambil gelas itu. "Apa kau sendirian?" tanya pria itu lagi.
Sakura mengeleng, "Tidak,"
"Kau tampak tidak asing, apa kita pernah bertemu?" tanya pria itu. Ucapan pria ini sering sekali di lontarkan kepadanya, pria asing yang berusaha mendekatinya.
Merasa risih Sakura menoleh, "Tidak aku tidak pernah bertemu denganmu." Nada Sakura mulai ketus.
"Kurasa aku pernah bertemu denganmu," ucap pria itu lagi, "Siapa namamu?"
"Sakura," jawabnya. "Dan kau?"
"Sai kau lama sekali," ucap seseorang muncul di belakang Sai. Wanita yang tidak asing di mata Sakura, rambut pirang panjang yang di ikat ekor kuda, tubuh berisi yang kencang yang dibalut gaun malam tanpa lengan yang mengikuti bentuk tubuhnya.
"Babi! Bagaimana bisa kau disini!" seru Sakura riang, ia menaruh gelasnya dan memeluk wanita itu.
"Dahi! Tentu saja aku berpacaran dengan Sai, dia pria yang memiliki lukisan yang di lelang itu," ucap Ino riang.
"Pantas aku merasa pernah melihatnya," ucap Sai disamping mereka.
"Jadi apa kau bersama Sasuke, dimana dia?" tanya Ino, melepaskan pelukannya.
Raut wajah Sakura tampak murung, "Aku tidak..." ucap Sakura terhenti ketika ia merasakan sebuah sentuhan di pundak Sakura, membuatnya menoleh mendapati Gaara berdiri di belakangnya. "Apa kau sudah selesai?" tanya Gaaa.
"Sakura?" tanya Ino ragu. "Siapa dia?"
"Ah Ino, Ini Gaara dia adalah..." Sakura berhenti, menatap Gaara.
"Suaminya," jawab Gaara mantap.
"Oh senang bertemu denganmu Gaara," ucap Ino ramah.
"Sabaku No Gaara, senang melihatmu datang kesini. Apa kau tertarik dengan lukisanku? Kudengar kau memiliki selera unik dengan lukisan, aku bisa memberikanmu tur Gratis kau tahu," ucap Sai membawa Gaara menyingkir dari dua wanita itu.
"Jelaskan Dahi! Bagaimana kau bisa menikah tanpa memberitahuku? Kau tahu aku berpikir bahwa kau datang bersama Sasuke dan Gaara kau bercanda! Bagaimana bisa kau menikah dengan pria seperti itu,"
"Tentu saja tidak, Sasuke menghilang Ino. Dia tidak memberitahuku dimana dia. Bahkan apakah dia masih hidup atau tidak dan Gaara, aku tidak ingin membicarakannya!" seru Sakura.
Merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya raut wajah Ino melembut, "Aku tidak tahu apa ini berita bagus untukmu atau tidak. Tapi Sakura, aku melihatnya tiga hari lalu. Sasuke berada di New York!"
-To be continued-
Thank you so much atas review kalian aku senang sekali! Bahkan aku berusaha untuk mengupdate cerita ini secepat mungkin, tetapi terkendala ide hehe... Akhirnya aku memutuskan untuk membuat fanfic lain tentang Kazekage Gaara x Sakura.
I miss Kazekage Gaara, kalau kalian tertarik bisa cari cerita dengan judul 'Blueberry Eyes'
Oh iya aku juga membuat Ig dengan nama yang sama, aku juga mengambar GaaSaku. Seperti cover yang kupakai adalah cover yang kugambar sendiri. Feel free untuk mampir^^
Bagaimana kalian menyukai cerita ini? Next or Leave?
Aku akan menunggu review kalian ^^
