Big Thanks to : Daiskyyy, Guest, Redblack02 (Matsuri jahat? Hmmm Menarik, aku tidak berpikir kesana tapi... sekarang aku memikirkannya hehe) Cleopatrazxz (Sasuke sudah muncul dan akan semakin muncul di chapter2 selanjutnya) Constantinest (Gaasaku kok tenang aja kesukaan sih^^) Paok Aho-chan (I loveyou too:*) (Yes gaara kurus banget tapi akan mempesona berjalannya chapter hehe)
Guys aku ingin bertanya? Menurut kalian gambaran tentang Sakura dan Gaara seperti apa? Seperti karakternya atau sifatnya, aku ingin tahu apa karakter mereka tersampaikan dengan baik terutama Gaara!
Argghhh pria ini menguras pikiranku!
Oh ya chapter kemarin sedikit yang mereview, itu karena tengelam atau reader tidak tahu ya kalau cerita ini udah update?
-sour-
Sakura tidak tahu bagaimana reaksi yang tepat saat ini, atau bagaimana ia harus merespon keadaan ini. Ino mengoyangkannya, "Sakura!" panggilnya berulang-ulang. Sakura mendengar hal itu tetapi ia memilih untuk diam.
"Apa kau bertemu dengannya?" tanya Ino lagi.
Sakura mengeleng, "Hubungan kami tidak berlanjut Ino dan sekarang aku menikah," ucap Sakura. Tubuhnya menjadi berat. "Aku sudah menikah," ulang Sakura seolah menyakinkan dirinya sendiri.
"Sakura, aku tidak tahu kalau kau berhubungan dengan Gaara, maksudku dari semua orang kenapa dia?" tanya Ino.
Sakura memandang Ino, raut wajahnya bingung, "Kenapa dengan Gaara?"
"Sakura apa kau tidak tahu bahwa Gaara,"
"Seorang playboy?" tanya Sakura, tentu saja ia tahu rumor tentang Gaara.
Ino mengeleng, ia menyentuh pundak wanita itu. "Dia tidak bisa memiliki anak Sakura," ucap Ino. "Karena itu dia mengadopsi seorang anak."
Sakura terdiam, kemudian ia tertawa, "Kau bercanda? Bagaimana kau tahu bahwa dia mandul?" tanya Sakura lagi.
"Bukan, tapi dia tidak bisa tidur dengan wanita," ucap Ino.
"Jadi dia Gay?"
"Ugh kau menyebalkan, bagaimana bisa kau sendiri tidak tahu. Kau tahu aku kenal seseorang, mantan kekasih Gaara. Matsuri, kau tahu?"
Sakura mengangguk, "Bagaimana bisa kau kenal dengannya?"
"Itu tidak penting, yang pasti. Gaara tidak pernah menyentuh Matsuri sedikitpun, kau tahu mereka nyaris menikah tapi Gaara mengajukan permintaan tidak wajar," ucap Ino.
"Permintaan apa?" suara berat seorang pria membuat mereka berbalik.
Gaara berdiri disana, wajahnya tidak menyukai Ino, kesal karena kekasih Ino yang menyebalkan dan sekarang seseorang mengucapkan perkataan yang tidak perlu.
"Sakura, aku tidak ingin berlama-lama disini," ucap Gaara tidak sabar. Ia berjalan melewati Ino, menarik tangan Sakura sedikit kasar. "Ayo kita pulang,"
Gaara tidak pernah berlaku kasar, terlepas ucapannya yang menyebalkan, kali ini Sakura dapat melihat bekas cengkraman tangan pria itu di tangannya.
Mata Gaara masih memandang jalanan dengan bosan, Sakura masih tengelam dalam pemikirannya sendiri. Dua orang duduk di mobil tetapi tengelam dalam pemikiran masing-masing. Sakura menyentuh cincin pernikahannya, memutarnya perlahan, matanya menatap ke arah tangan Gaara, tidak ada cincin pernikahan di tangannya.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, mereka berdua tahu, mereka memiliki nama baik yang harus mereka jaga dan juga aset. Semula Sakura tidak mengenal Gaara, pria itu masih asing dengannya bahkan setelah mereka nyaris tiga bulan tinggal bersama. Gaara memiliki beberapa rumor yang belum pasti sementara Sakura tentu saja ia memiliki rumor.
Hubungannya dengan Sasuke bukanlah suatu yang mengesankan. Menjadi pacar sang Uchiha yang super sibuk membuat Sakura sering merasa sendiri, mereka jarang bertemu, jarang berbicara tetapi Sakura tahu bahwa Sasuke mencintainya atau mungkin itu pemikirannya sendiri.
Atau mungkin dari awal Sasuke memang tidak menyukainya?
Walau pria itu tidak diketahui keberadaannya, absennya Sasuke membuat Sakura perlahan merasa kesepian, mungkin hubungan mereka tidak seperti hubungan yang normal.
Mata hijaunya kini menatap ke wajah Gaara, hubungannya dengan pria ini juga tidak normal. Ia mengigit bibir bawahnya gugup.
"Gaara,"
"Hn,"
"Bisakah aku tinggal di rumahku selama satu bulan?"
-sour-
Sudah tiga minggu semenjak Sakura memutuskan untuk kembali ke rumahnya, matanya masih menatap beberapa dokumen yang sedang di bacanya. Gaara tidak menampakan dirinya di hadapannya, Shinki beberapa kali menemuinya di rumahnya. Sepertinya Gaara memang tidak peduli kepadanya.
"Sakura," panggil Yamato.
Yamato adalah penganti Kakashi untuk sementara, setelah pria itu menikah ia memutuskan untuk cuti satu bulan, karena selama ini Kakashi tidak pernah mengambil cutinya.
"King sudah datang," ucapnya lagi.
"Tentu saja aku akan kesana," ucap Sakura, matanya menatap arah jam digital yang ada di atas mejanya, sebentar lagi makan siang. King adalah kontraktor yang akan mengerjakan proyek rumah sakitnya yang kedua di LA, rumah sakit yang besar, dana sudah siap, hanya satu orang yang memegang dana cukup banyak tetapi belum menyerahkan uangnya.
Yaitu suaminya sendiri.
Menghela nafas, kenapa Gaara tidak segera mengirimkan uang itu. Sakura tidak menyadarinya, mereka bertemu setiap malam tetapi Gaara tidak pernah mengungkit masalah pekerjaan diatas ranjang. Seharusnya Sakura membicarakannya. Ia bangkit dari kursinya, mengambil beberapa map dokumen, Sakura hanya mengenakan kemeja putih dan rok span hitam, Sakura mengambil jas hitamnya dan memakainya. "Dimana mereka?"
"Ruang meting tiga,"
Sakura berjalan dengan cepat menuju ruangan meting itu, ia melihat dua orang bayangan dari pintu kacanya yang tertutup. Ketika ia masuk, ia melihat dua wajah yang familiar dengannya. Satu orang adalah orang dari perusahaan King dan di sebelahnya seseorang yang sangat familiar dengan masalalunya.
"Siang, Gentlemen, maafkan aku terlambat," ucap Sakura dengan senyuman, ia menarik kursi dan duduk di seberang mereka. Ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak dengan kencang, ia harus profesional, bahkan sampai akhir.
"Sakura, aku hendak mengenalkanmu kepada arsitek kita yang baru. Uchiha Sasuke,"
Sakura tersenyum kecil, tetapi perutnya merasa mual. Ia sangat mual seolah akan mengeluarkan makanannya, bagaimana bisa pria yang menghilang selama setahun penuh kini ada di hadapannya menjadi arsiteknya. Sakura ingin tertawa, baru tiga minggu lalu Ino memberitahunya bahwa Sasuke berada di New York dan sekarang pria itu disini.
Sasuke bertingkah laku seperti orang yang tidak saling mengenal begitu juga dengan dia.
Percakapan meeting berjalan dengan lancar, Sasuke memang pria yang pintar hal itulah yang membuatnya dulu jatuh cinta padanya. Pria pendiam yang bisa diandalkan. Sasuke menyukai dunia Arsitektur dan Sakura selalu mendukung impiannya, selalu.
Bahkan ketika pria itu menghilang.
"Senang berbisnis dengan anda, proyek ini akan segera saya laksanakan," ucap pria di sebelah Sasuke. Sakura menerima jabat tangan itu, pria itu berjalan di depan mereka dan Sasuke berjalan dengan lambat.
"Sakura bisakah kita makan siang bersama?"
-sour-
Mereka makan siang ditempat yang cukup jauh dari kantor Sakura, restauran Italia terdekat yang sedikit sepi dengan beberapa orang. Cukup nyaman dan menenangkan. Nuansa Italia yang sangat kental membuat Sakura sedikit bernostalgia, ia menyukai makanan Italia dan memorinya dengan Sasuke dalam perjalanan Italianya sangat banyak sehingga Sakura sudah lupa berapa lama ia tidak makan di restauran Italia lagi.
Sakura memesan makanan Spagetti dan salad sementara Sasuke memesang steak.
"Jadi berapa lama kau berada di New York?" tanya Sakura, ia sedikit gugup, tentu banyak hal yang ingin ia tayakan, tetapi Sasuke tampak masih mempesona seperti dahulu. Sasuke memandangnya dengan malas kemudian ia tersenyum.
"Kau sepertinya berubah," ucap Sasuke lagi.
"Kau juga," ucap Sakura, memandang pria itu, badan yang gagah lebih tinggi dari terakhir kali mereka bertemu, Sasuke juga memanjangkan rambutnya, tatapannya yang dingin dan bibir tipis, selalu membuat Sakura terpesona.
"Apa kau akan kembali tinggal disini?" tanya Sakura lagi.
"Tentu, aku akan tinggal di New York cukup lama," ucap Sasuke.
Makanan mereka datang, Sakura mengambil steik milik Sasuke memotongkannya dan menyerahkannya. Sasuke tersenyum, "Kau tak perlu melakukan hal itu," ucap Sasuke.
Sakura tersenyum kecil, "Kebiasaan,"
"Bagaimana kehidupanmu sekarang?" tanya Sasuke.
"Aku baik, rumah sakit kau tahu semakin besar," ucap Sakura, ia mencoba Saladnya memasukkan makanannya, mengunyahnya dengan perlahan. Ia sangat merindukan momen seperti ini, Sasuke di hadapannya dan restauran Italia favoritnya.
"Bibi Sakura," panggil seseorang, suara yang sangat khas di telinga Sakura. Ia segera menoleh mendapati Shinki berdiri di hadapannya, sontak Sakura terkejut memengang kepala Shinki menyentuh rambutnya berpikir bahwa itu halusinasi.
Tetapi tidak anak kecil itu nyata.
"Shinki bagaimana bisa kau disini?" tanya Sakura bingung.
"Aku pulang cepat, sekolahku ada acara," ucap Shinki riang. Mata hijaunya menatap ke arah makanan Sakura. Tanpa sadar Sakura mengambil sesuap Spagetti miliknya, Shinki dengan reflek membuka mulutnya dan Sakura menyuapinya.
Begitu mulus sampai Sakura sendiri tidak sadar apa yang ia lakukan.
"Apa kau bersama Shinra?" tanya Sakura, sepertinya acara sekolahnya begitu mendadak, sehingga Shinki harus segera pulang.
Shinki mengeleng, "Daddy!" serunya riang, ia menunjuk kepada Gaara yang berada di luar restauran menelpon seseorang, tidak menyadari bahwa tangan mungil yang ia pengang adalah tas anak itu bukan Shinki, ketika ia menyadarinya, Gaara sedikit panik, ia segera masuk menemukan Shinki berdiri di depan kursi tamu.
"Shinki, bukankah aku sudah bilang jangan menghilang, maafkan putraku menganggu..."Gaara tidak menyadari bahwa Sakura di hadapannya, di sebrangnya terdapat Sasuke. Gaara mengenakan kemeja putih, rapi dan tas shinki yang bergambar boneka beruang ada di sisi kanan pundaknya. Mungkin pakaiannya rapi tetapi wajahnya dan rambutnya berkata hal yang berbeda.
"Tidak apa-apa Gaara," ucap Sakura ramah.
Gaara mengangguk, ia mengendong Shinki. "Ayo Shinki jangan ganggu mereka, permisi."
"Aku mau makan bersama bibi Sakura!" rengek Shinki tetapi tidak di pedulikan oleh Gaara. Gaara memilih menu, menaruh Shinki di kursi anak-anak, memasang alas pakaian kepada Shinki supaya bajunya tidak kotor.
"Daddy aku mau kentang!" seru Shinki.
"Hn," ucap Gaara masih berusaha memasang alas pakaian Shinki, setelah terpasang Gaara duduk kembali ke kursinya. Gaara sedikit sebal ketika Guru Shinki menelponnya dan memintanya untuk menjemputnya, karena Gaara sedang perjalanan luar yang dekat dengan sekolah Shinki akhirnya ia menjemputnya. Seharusnya mereka makan di restauran keluarga bukan Italia, tetapi Shinki sedikit rewel karena belum makan siang, sehinga mereka berakhir di restauran terdekat.
"Jangan melihat kearah mereka Shinki," tegur Gaara, Ia tahu Shinki melihat Sakura dari seberang, "Ayo cuci tangan,"
Gaara mengendong Shinki dan pergi ke kamar mandi, meninggalkan tas milik Shinki di atas meja, setelah selesai Shinki berlari kecil, ia memanjat kursi anak-anak dan hampir kehilangan keseimbangan kalau bukan karena Gaara berlari dengan cepat menahan tubuh Shinki dan kursi itu. "Shinki, hati-hati." Gaara mengambil putranya dan menaruhnya lagi.
Pelayan datang membawakan makanan mereka. Pelayan mengantar pesanan mereka, Gaara memotong spagetti menjadi potongan kecil, menaruh beberapa bakso serta kentang goreng. Menaruh ke atas meja makan Shinki, Shinki dengan lahap memakan makanannya.
Mereka duduk sedikit jauh dari Sakura, tetapi Sakura bisa melihat mereka dengan jelas.
"Kau mengenal mereka Sakura?" tanya Sasuke.
Sakura tersentak, "Bisa dibilang, aku mengenal mereka."
"Aku tidak tahu kau mengenal Sabaku, Sakura."
Sakura hanya diam matanya masih menatap kearah Shinki, ia melihat Gaara bangkit dari kursinya menerima telepon, berjalan keluar dari restauran, hanya Shinki dan makanan yang tersisa. Gaara melewati mereka bahkan tidak melihat ke arah Sakura.
"Sakura makanlah makananmu," ucap Sasuke lagi, sedikit terkejut Sakura menurutinya, ia memakan Spagettinya lagi, kemudian matanya menatap ke arah Shinki, bagaimana bisa Gaara meninggalkan Shinki begitu saja?
Gaara tidak kembali dalam waktu dekat, bahkan sepertinya Gaara sudah menghilang dari depan pintu restauran.
"Apa kau sibuk malam ini Sakura?" tanya Sasuke, tetapi Sakura bangkit dari kursinya.
"Maaf Sasuke, tetapi Shinki tidak akan makan makanannya kalau tidak ditemani." Sakura bergegas menghampiri meja Gaara dan ucapan Sakura benar, Shinki sedang memainkan peralatan makanannya dari pada makan makanannya.
Sakura menarik kursi duduk di hadapan Shinki, "Shinki kau harus makan walau sendirian, jangan bermain dengan peralatan makan," ucap Sakura, Shinki hanya mengangguk dan memakan makanannya lagi.
"Aku mau kentang lagi," ucap Shinki, Sakura menatap kentang goreng, mengambilnya dan menaruhnya di piring Shinki. Ia melihat Gaara hanya memesan Steik medium rare, Sakura memotong steik itu menjadi beberapa potongan yang mudah untuk dimakan.
"Apa ayahmu masih minum jus yang kuberikan?"
"Tidak, Daddy tidak memakannya," ucap Shinki. "Daddy juga tidak bisa tidur, dia selalu bekerja setiap malam," ucap Shinki, menyendok makanannya, Sakura mengelap makanan sisa di pipi Shinki. "Apa bibi akan pulang malam ini?" tanya Shinki lagi.
"Aku masih ada urusan Shinki," ucap Sakura, mengusap rambutnya. Shinki mengangguk mengerti, karena ayahnya terkadang melakukan hal yang sama dengannya.
"Aku tidak tahu kau menyukai anak-anak Sakura," ucap Sasuke datang menghampiri mereka.
"Aku menyukai anak-anak Sasuke," ucap Sakura, ia memangil pelayan, memesankan beberapa salad untuk Gaara dan minuman jus buah. Sakura tahu bahwa Gaara tidak menyukai ketika ia mengiterupsi pilihan makanannya.
Ketika Gaara kembali, wajahnya tampak tidak terlalu terkesan dengan Sakura dan Sasuke yang berada di mejanya.
"Terimakasih telah menjaga putraku," ucap Gaara kembali duduk di mejanya. Ia melihat steik yang sudah terpotong, salad serta jus buah. Ia mengambil garpu, menyuapkan ke mulutnya.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Sasuke tiba-tiba, membuat Gaara nyaris menjatuhkan garpu dari tangannya.
"Kau tahu?" tanya Sakura.
"Tentu saja, aku melihat undangan pernikahan kalian. Sakura jam makan siang sudah selesai, aku akan mengantarmu," ucap Sasuke, Sakura hanya mengangguk.
"Tidak perlu Sasuke, aku akan mengantar istriku," ucap Gaara, bangkit dari kursinya dan merangkul pinggul Sakura, memandang Sasuke dengan senyuman licik dari wajahnya.
"Kau tahu kita memang tidak akrab, tetapi Sakura adalah temanku," ucap Sasuke matanya menatap Gaara tajam.
"Aku khawatir kau akan mengambilnya seperti kau mengambil beberapa properti yang kau curi Sasuke," ucap Gaara, perbandingan tinggi mereka cukup jauh tetapi Gaara memandangnya tanpa gentar.
"Aku tidak mencuri. Kau kalah cepat dariku, Gaara terima fakta itu!" desis Sasuke.
Pertengkaran itu berakhir dengan Shinki yang tersedak.
-sour-
"Aku tidak tahu kalau kalian saling mengenal?" ucap Sakura, ia menatap Sasuke matanya masih menatap jalanan dengan kaku.
Sakura duduk di sebelahnya, "Lebih dari sekedar mengenal, Sakura."
"Kami tidak akrab," tambah Sasuke.
Sakura menyeritkan keningnya, "Kau tidak pernah memberitahuku," ucap Sakura lagi.
"Karena aku memang tidak ingin memberitahunya, tetapi Sabaku lebih licik dari yang kau kira. Terutama Gaara," ucap Sasuke. "Aku tidak menyangka kalian menikah," tambahnya lagi.
Semua temannya tidak percaya bahwa ia menikah dengan Gaara. "Bukankah kalian teman Naruto?" tanya Sakura.
"Bukan temanku, kami bertengkar, kau bisa bertanya kepadanya. Aku tidak sengaja mematahkan tangannya dan dia mematahkan kakiku, seperti itulah hubungan kami,"
"Kalian sinting," ucap Sakura, melipat kedua tangannya. Sasuke tersenyum sedikit, "Hati-hati dengannya," ucapnya lagi.
"Dia suka mengambil apa yang kupunya," ucap Sasuke, "Tetapi dia tidak pernah memiliki apa yang benar-benar butuhkan, apa kau benar-benar mencintainya?" tanya Sasuke.
Sakura mengigit bibirnya, "Kenapa kau bertanya?"
"Tanya kepadanya, mengapa kalian menikah,"
-sour-
Sakura tidak kembali, bahkan setelah satu bulan, nyaris satu bulan satu minggu ia tidak kembali. Ia meminum kopi panasnya, di depannya terdapat beberapa lembar koran, beberapa data-data dan berita.
Sakura sebenarnya tidak ingin terlalu terlibat, tetapi ia tidak ingin percaya rumor yang beredar tentang Gaara. Karena tidak yakin ia memutuskan tidak pulang dan Gaara tidak peduli, bukankah ini menyenangkan? Jika mereka bisa melakukan ini sampai perceraian mereka?
Sayangnya Sakura tidak mendapatkannya, Gaara bukanlah artis, berita tentang pria itu sedikit, Keluarga Uchiha lebih terbuka daripada keluarga Gaara. Kebanyakan berita tentang bisnisnya, atau mungkin kakaknya Kankuro, tetapi sedikit dengan Gaara.
Merentangkan kakinya, suara ponselnya berbunyi, tulisan nama Gaara muncul di layarnya.
"Ada apa?"
"Mau berapa lama kau tidak pulang?" ucapan Gaara dingin, seolah ia menghadapi wanita muda keras kepala yang tidak menurutinya.
"Kurasa aku sudah di rumah," ucap Sakura, mengambil beberapa dokumen dan membacanya lagi. Hanya sebuah kasus perusahaan tetapi sudah diselesaikan, sedikit tentang keluarga mereka.
"Kau harus tidur dikamarku," ucapnya lagi.
"Kurasa kau harus berusaha tidur sendiri dari sekarang Gaara,"
"Ini bukan perjanjiannya," suaranya serak dan parau. "Bukankah kau seharusnya tidur denganku? Walau kau tidur dengan pria lain," ucap Gaara.
Hubungan kita memang tidak normal.
"Kau benar, aku harus berada di kamarmu, bermain sebagai istri yang baik, begitu juga kau bermain sebagai suami yang baik," ucap Sakura dingin.
Bel rumah Sakura berbunyi, Sakura mematikan ponselnya, berjalan dengan malas, suara bel terdengar tidak beraturan terdengar. "Sial, siapa yang datang malam-malam seperti ini!"
Sakura melihat dari kamera depannya, mobil yang ia kenal parkir di depan rumahnya. "Sial!" umpat Sakura lagi, ketika melihat Gaara yang memandang Kamera dengan tidak ramah.
Sakura membuka pintu pagar dengan tombol otomatis, mobil Gaara segera masuk ke dalam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura memandang sinis Gaara yang mengambil beberapa barang-barang dari mobilnya.
"Istriku kabur selama sebulan lebih, kurasa ini waktunya untuk menjemputnya." Ucap Gaara, memasuki rumah Sakura. Ia belum pernah memasuki rumah Sakura, rumah yang nyaman dengan kesan yang modern, terdapat bar dan kolam renang di samping rumah, rumah besar yang menyenangkan.
"Kau selalu bilang bahwa aku istrimu tetapi kau tidak pernah memakai cincinmu Gaara. Aku terkesan," ucap Sakura menyindir.
"Apa kau menyelidiku Sakura?" ucap Gaara duduk di sofa, ditangannya terdapat beberapa berita tentang keluarga Sabaku.
Sakura segera mengambil dokumen di tangan Gaara, ia meremasnya dan membuangnya asal, ia duduk di hadapan Gaara lebih tepatnya di atas meja, menyilangkan kakinya, sehingga paha mulus Sakura terlihat, sehingga Gaara tidak melihat kearah dokumen lainnya. "Kenapa kau tidak bertanya langsung daripada mengumpulkan berita bodoh?" tanya Gaara, senyuman kecil di sudut bibirnya. Ia melipat kedua tangannya, memandang Sakura jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Kenapa kau kemari Gaara?"
"Istriku menghilang," ucap Gaara. "Dia berjanji hanya pergi selama satu bulan tetapi sampai sekarang ia tidak kembali,"
Sakura menghela nafas, "Aku akan pulang, besok. Aku akan kembali,"
"Malam ini,"
"Ini sudah malam," ucap Sakura. "Kurasa tidak ada artinya..." mata Sakura menatap sesuatu, baju Gaara terlalu longgar.
"Gaara buka pakaianmu!" seru Sakura.
Gaara hanya terdiam, wajahnya tampak bertanya-tanya, kemudian berdiri merasa terusik. Sakura menariknya, mendorongnya di sofa, "Apa yang kau lakukan?!"
"Buka pakaianmu atau aku yang akan membukanya?" tanya Sakura, matanya semakin kesal, seharusnya ia menyadari sesuatu sebelum pertemuan terakhir mereka. Gaara tidak menurut, Sakura menimpanya, berdiri di atasnya dan membuka kancing bajunya. Lebih tepatnya merobeknya paksa.
Tubuh Gaara semakin kurus, bukan cuma itu terdapat luka memar perutnya, Sakura menelitinya, beberapa luka lebam yang masih baru di pundaknya. "Apa kau terjatuh barusan?" ucapnya menyentuh memar itu, Gaara sedikit meringis.
"Apa kau mau mati hah? Tubuhmu terlalu lelah Gaara!" serunya, "Dimana kau terjatuh?"
"Ruang baca," jawabnya, "Dan kau apa kau tidur dengan Sasuke?" tanya Gaara. Sakura meringis, Gaara mendorongnya membuat ia kehilangan keseimbangan, karena tinggi meja dan Sofa tidak terlalu beda jauh, suara meja marmer terbentur dengan keras. "Sial!" seru Sakura, ia berbaring di meja, mengambang, ia akan jatuh jika bukan Gaara menahan pungungnya. "Apa maumu Gaara!" seru Sakura.
Ia mendorong tubuhnya untuk bangkit tetapi Gaara menahannya. Untuk pria kurus kekutan Gaara cukup menyebalkan. Kini posisi mereka Sakura di bawah dan Gaara di atasnya, tangan kanannya merangkul pinggulnya dan tangan kirinya menahan tangan kanannya. Sakura mengerakkan tangan kirinya hendak menampar pria itu tetapi Gaara mengambilnya dengan cepat, mengunci tangan Sakura.
Kini Sakura mengambang, "Kau brengsek!" erangnya lagi.
"Jawab pertanyaanku?" tanya Gaara tidak sabar.
"Aku tidak tidur dengannya! Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" tanya Sakura kesal, menekuk kakinya menendang kepala Gaara. Pria itu terjungkal kebelakang dan Sakura terjatuh.
Sakura bangkit dari jatuhnya, meringis karena tubuhnya kesakitan. Gaara bangkit dengan bibir yang berdarah, ia menyentuh bibirnya, mengusapnya seolah ia tidak kesakitan. "Apa yang kau inginkan?"
"Tidur denganmu," ucap Gaara melepaskan kemejanya yang robek.
"Kau bercanda?" tanya Sakura, ia berjalan mundur, ia mencekram ujung gaun malamnya, memastikan beberapa celah ia bisa kabur. Tetapi Gaara itu kuat, bagaimana bisa ia memiliki kekuatan dengan badan sekurus itu.
Sakura mengigit bibirnya, ia menutup gaun malamnya dengan rapat, apakah ia harus menelpon seseorang sekarang? Siapa? Pria di hadapannya adalah suaminya.
"Kau tidak akan mendapatkannya," seru Sakura, tentu ia mengerti bela diri.
Raut wajah Gaara cemberut. "Aku mengantuk, aku butuh tidur," ucap Gaara lagi. "Aku membutuhkanmu,"
"Kau tidak bercanda bukan?" tanya Sakura bagaimanapun terlepas rumor apapun Gaara adalah seorang pria dan sedikit keuntungan karena tubuhnya tidak dalam kondisi baik. Jika Sakura beruntung mungkin ia bisa lepas dari Gaara.
Gaara merengut, "Kau menyelidiku, kemudian merobek bajuku, lalu menendangku. Apa aku harus berdebat denganmu? Aku lelah, di mana kamarnya?!"
"Kau bisa tidur denganku tetapi jangan menyentuhku!" seru Sakura lantang.
"Tentu saja tidak bisa, aku harus memelukmu supaya bisa tidur. Apa yang ada di kepalamu! Kita sudah melakukan ini nyaris tiga bulan, apa karena kau tidak pulang kau lupa ingatan?" ucap Gaara kesal.
Kini Sakura yang mengaga. "Jadi maksudmu tidur itu seperti yang kita lakukan?"
"Ya, apa kalian berbaikan? Memangnya apa yang kau pikirkan?" ucap Gaara ringan, ia menyentuh bibirnya yang perih. "Apa kau punya obat?"
Detik selanjutnya wajah Sakura memerah dan ia tidak berani melihat Gaara karena malu atas pemikirannya sendiri. Sepertinya ia harus mulai mengurangi menoton acara telenovela sebanyak mungkin.
-to be continued-
Sasuke disini, pria yang ditunggu-tunggu, kurasa aku akan memasukan nama sasuke di depan fic.. Ugh fic ini menguras emosi dan pikiranku, kuharap kalian menyukainya...
Lanjut atau bye?
