Thank udah review terharu ternyata ceritanya tidak tenggelam, aku khawatir apakah pembaca tau cerita ini sudah update atau enggak. Thank you udah review,

Akhir-akhir ini aku kecanduan mengambar chek my Ig untuk melihat, kebanyakan Gaasaku sih, hehe, jadi... #plak, tetapi review kalian menyadarkanku untuk terus memikirkan plot, thank you to love my story.. i love u guys.

Big Thanks to : , Arei Awaa (Hello reader baru #lambai-lambai, thanks to love this story^^, shayyll (Ya kan sudah kuduga, terlewat T.T), Daiskyyy (oh pasti dong Gaasaku, soalnya authornya Gaasaku lovers^^) Redblack02, Aihimelilyonvalley (Benar aku yang buat juga gemas dengan mereka^^) Sebastiansonubatulalala, kimm, Spanex( Yeah makin banyak fakta yang keluar bukan Cuma Gaara tetapi Sakura juga) Constantinest (benar, semoga baik-baik saja) paok Aho-chan( thank udah menjelaskan, akhirnya aku tahu seperti apa kurasa aku akan mendalamin kharakter mereka semakin dalam hehe, bujangan Gaara bujangan galau. Stay Strong ya!) Nanami (Gracias por gustarme mi historia, espero que a menudo también pases por mis otras historias, deja una reseña para saber jeje) guest( thank you 4 tahun gak baca ff wow! Semoga stay sampai akhir yah) maria, Febrichan2425( kebiasaan hehe) Cleopatrazxz (Ganbatte too) Daiskyyy (Sudah update thanks for your review)

Thanks untuk semua reviewnya^^ tinggalkan review kalian supaya aku tahu apakah kalian membaca ceritaku atau tidak ^^

Please dont be a silent reader.

Note : coba baca cerita ini sambil mendengar You Never Know - Blackpink uh Perih hehe

-Sour-

Sakura tidak ingat berapa lama ia tersenyum, bahkan rahangnya kini mulai sakit. Ia menyentuh pipinya perlahan, beberapa kolega mendekatinya, dengan berat hati ia tersenyum lagi. Berapa lama lagi ia harus tersenyum? Disisi lain Gaara tidak membantu.

"Bibi Sakura, apakah aku bisa makan kue coklat itu?" tanya Shinki menarik gaunnya, beberapa kolega mereka melihat kearah anak kecil yang di sisi kakinya.

"Aku akan menemanimu Shinki, permisi," ucapnya meninggalkan dua tamu. Ia berhafas lega, "Terimakasih Shinki," ucapnya mengencup pipinya. Shinki tidak mengerti tetapi ia hanya tersenyum.

Gaara berada disana mengambil minuman. "Jadi disini kau! Meninggalkan aku terjebak dengan mereka sementara kau berisitirahat,"

Gaara hanya diam, meminum gelas sampanyenya dengan tenang. Sakura mengambil kue coklat itu dan menyerahkannya kepada Shinki. "Hati-hati Shinki, jangan mengotori pakaianmu," ucapnya. Shinki mengangguk kemudian mengambil kue itu.

"Jadi di sini kalian pasangan baru," ucap Kankuro, ikut mengambil segelas sampanye.

"Bibi Sakura, kotor," ucap Shinki, ia sudah mengambiskan kuenya dan dugaan Sakura benar, mukanya belepotan dengan kue coklat disekitar mulutnya. Sakura membuka tasnya mengambil tisu basah, membukanya dan mengelap kotoran di wajah Shinki dan tangannya.

"Kau seharusnya memanggil dia Mommy Shinki," ucap Kankuro ringan.

Gaara mempelotinya begitu juga dengan Sakura. "Itu benar," ucap Rasa dari belakang. "Seharusnya Shinki memanggilnya Mommy," ucap Rasa dingin.

Shinki sedikit bingung tetapi ia setuju. "Mommy," ucapnya dengan nada tertawa, ia menutup mulutnya yang kini pipinya bersemu merah.

Sakura hanya tersenyum simpul, tidak tahu harus berkata apa. Ia berharap acara amal ini segera berakhir. Keluarga Sabaku mengenal penyelenggara amal ini, mereka menyumbang beberapa hal dan disinilah mereka, Sakura berusaha sebaik mungkin untuk tidak menjerit karena kesal, ia sudah memainkan game ini dari satu jam yang lalu, ia tersenyum, bersikap ramah, beberapa memujinya karena cocok dengan Gaara.

Beberapa mencibirnya menduga ia menikahi Gaara karena Gaara memberikan dana yang besar untuk pembangunan rumah sakitnya.

Sebenarnya itu tidak salah. Dugaan mereka tepat sekali, bahkan ada yang bilang bahwa pernikahan mereka disengaja.

Oh gosip itu benar sekali, Sakura tidak bisa menyembunyikan senyumannya ketika ia mendengar bisikan itu. Mereka benar, apakah aktingnya terlihat?

Belum pernah ia banyak tertawa mendengar gosipnya dengan Gaara. Sementara pria itu, hanya diam, berbicara seperlunya, menaruh tangannya di pinggul Sakura sebagai formalitas ketika ada yang bertanya bagaimana pernikahan mereka.

"Sempurna," ucap Gaara singkat.

Sakura ingin tertawa, pernikahan mereka kacau, hubungan mereka aneh dan Sakura tidak tahu mana yang lebih buruk.

Sampai manik hijaunya menangkap wajah yang tidak asing, bukan Cuma satu melainkan empat.

Empat orang sialan!

Sasuke dan keluarganya baru saja memasuki gerbang utama, mereka masih sibuk dengan beberapa tamu yang segera menemuinya dan Sakura ingin menjerit.

"Kenapa kau tidak bilang Sasuke disini?!" seru Sakura menatap Gaara.

"Kau pikir aku penyelengaranya?" tanya Gaara acuh.

Pria ini tidak membantu.

Sakura menjadi tegang, ia dan keluarga uchiha itu akrab, mereka sangat akrab. Bahkan ibunya Sasuke sudah mengangap Sakura sebagai putrinya setiap kali ia berkunjung. Ini adalah posisi yang sangat tidak mengenakan diseluruh acara.

Perlahan udara disekitarnya menjadi sesak, ia merasakan bahwa serangan panik mulai menyerangnya.

"Bersikaplah normal Sakura," ucap Gaara berbisik, ia menyentuh pingul Sakura membuatnya terkejut. "Ayahku memperhatikan kita," Gaara sedikit mendorong tangannya membuat Sakura berjalan mengikutinya.

Mata Sasuke menangkapnya bukan Cuma mata Sasuke seluruh keluarganya.

Gaara menuntunnya menuju meja yang disediakan untuk keluarga mereka. Kankuro berada disana bermain dengan Shinki, ayahnya sedang memainkan ponselnya.

"Apa kau baik-baik saja Sakura?" tanya Kankuro.

"Mommy?" tanya Shinki.

"Tidak apa," ucap Sakura sadar dari lamunannya, mengusap rambut Shinki.

"Berapa lama lagi pestanya Gaara?" tanya Sakura sedikit berbisik kearah Gaara. Pria itu sedang memainkan sesuatu dari ponselnya, ia mendongak, "Uchiha memperhatikanmu," ucapnya sedikit tersenyum.

Sepertinya Gaara terhibur dengan kejadian ini. Sakura kesal, ia mencubit paha Gaara, pria itu meringis. Dari tapapannya jelas bahwa ia mengumpat dari matanya, tetapi Sakura tersenyum. "Berapa lama lagi Gaara sayang?" desisnya dengan beracun.

"Seharian," ucap Gaara dengan nada riang.

"Apa? Bagaimana bisa?"

"Dua acara siang dan malam, karena itulah acara ini berada di hotel, kita mendapat kamar," ucap Gaara.

"Apa kita akan tidur bertiga?"

"Tidak, Shinki akan pulang sebentar lagi,"

"Aku juga akan pulang," ucap Sakura.

"Tidak Sakura kau ikut denganku, nanti malam adalah acara dansa aku tidak mau sendirian."

"Dan aku memilih untuk tidur seharian," bisik Sakura.

Gaara tersenyum, "Aku juga," bisiknya, "Kita bisa kabur dengan bilang kau tidak enak badan," ucapnya lagi.

Sakura menyeritkan alisnya, Gaara menyentuh perutnya yang ramping, mengusapnya perlahan. "Berpura-puralah kau hamil," ucapnya lagi. Sakura menepis tanganya, "Pria sinting," bisiknya berbisa.

"Kurasa kewarasanmu harus dipertanyakan Gaara!"

"Itu hanya saran," ucapnya berbisik.

"Bagaimana kalian bisa bermesraan di hadapanku! Damn, aku iri!" seru Kankuro kesal.

"Aku akan mengambil minuman, permisi." Sakura memilih untuk menghilang, Sakura merasa ia dapat bernafas sedikit lega sampai sekarang ia masih belum terbiasa di hadapan ayah Gaara.

Sakura mengambil gelas sampanye, meminumnya perlahan, "Gaun yang bagus," puji seseorang.

Sakura terkejut, ia menatap Sasuke di hadapannya menjulang, ia mengenakan tuxsedo berwarna hitam. Tubuh Sasuke yang jenjang selalu cocok dengan semua pakaian, "Terimakasih," ucap Sakura, ia masih memegang gelasnya.

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu, bukankah kau kurang menyukai pesta?" tanya Sasuke ia mengambil gelas di sebelah Sakura, meminumnya dengan cepat.

"Sedikit berbeda sekang," ucap Sakura sedikit gugup, ia memperhatikan sekitar, keluarga Gaara sedikit sibuk dengan ponsel mereka, keluarga Sasuke menatapnya lebih tepatnya ibunya. Sakura melambai pelan dan Ibu Sasuke tersenyum ramah, membalas lambaian Sakura.

"Kurasa hal ini mengingatkan pertemuan kita,"ucap Sasuke, "Kau ingat,"

"Tentu, pertemuan kita di pesta dansa universitas," ucap Sakura perlahan ia tersenyum.

"Dan kau masih cantik sama seperti dulu," ucap Sasuke lagi.

Wajah Sakura memerah, tentu ia masih ingat bagaimana pertemuan mereka. Sasuke terkadang pria ini bisa bersikap manis dan hal itu yang di rindukan Sakura.

Terkadang Sakura bertanya, jika Sasuke tidak menghilang apakah mereka masih bersama.

Pemikiran itu mengubah ekspresinya. Wajahnya menjadi tegang.

"Kau tampak kurang nyaman," ucapnya.

Sakura bukan merasa kurang nyaman hanya saja, ia juga mengingat semua orang ditempat ini tentu tahu tentang hubungan mereka dan kini wanita yang selalu bersama dengan Sasuke dan kini bersama dengan orang lain, yaitu rivalnya.

Pemikiran itu menyakitkan untuk Sakura. Ia tidak pernah tahu bahwa mereka tidak akrab, Sasuke tidak pernah berbicara dan sekarang Sakura menikah dengan Gaara.

"Mommy," panggil Shinki. Sakura sedikit terkejut, "Shinki?"

"Daddy bilang ia akan pulang ada urusan," ucap Shinki. "Apa kau mau pulang juga?"

"Permisi Sasuke," ucap Sakura, Sasuke mengangguk, ia mengendong Shinki, Shinki menatap Sasuke dari pundak Sakura, ia memeluk leher Sakura dengan erat.

Sakura sedikit lega dan sedih disaat yang sama. Ia tidak mengetahui bagaimana perasaannya.

-sour-

Sakura berpikir bahwa Gaara membuat alasan untuk menyelamatkannya dari pesta itu, ternyata tidak, pria itu memang ada urusan, wajahnya tampak tidak senang, ketika pulang Shinra menyambutnya dengan koper di tangannya, Gaara melewatinya, mengarahkan tangannya untuk membawa kopernya ke kamarnya.

"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" seru Gaara di telepon, "Kenapa kau memberitahu ayahku bukan aku!"

Sakura tahu bahwa mood Gaara tidak baik, sepertinya ada masalah dengan perusahaannya. Beberapa kali ia menelpon seseorang dengan berbagai bahasa yang Sakura sendiri tidak tahu apa artinya.

Sakura menaruh Shinki yang terlelap dalam gendongannya di tempat tidurnya, membuka sepatunya yang kecil, dasi kupu-kupu merah, beberapa kancing supaya ia bisa tidur dengan nyaman, menyelimutinya, Sakura sedikit ragu apakah ia harus menemui Gaara saat ini.

Shinra baru saja keluar dari kamar mereka, tampaknya suasana Gaara sangat buruk.

"Shinra, bisakah kau juga menyiapkan suplemen untuk Gaara. Ia harus membawanya,"

Shinra mengangguk dan izin untuk pergi.

Sakura menarik nafas, ia membuka pintu kamarnya, Gaara membuka dasinya dengan kesal, "Ada apa?"

"Apakah uang yang ku berikan kepadamu belum masuk?" tanya Gaara, ia melepaskan kancing kemejanya, wajahnya masih menatap cermin di hadapannya.

"Belum,"

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Gaara ketus.

"Aku belum menemukan waktu yang tepat, kurasa membicarakan kantor di tempat tidur bukanlah hal yang bagus," ucap Sakura, ia duduk di ranjangnya. "Apa ada masalah?"

Gaara terdiam, ia menghentikan aktivitasnya sebentar, kemudian melanjutnya lagi. "Sedikit, aku akan ke Jepang, seperti ada seorang mengambil uangku,"ucap Gaara. Ia melepas kemejanya, berjalan menuju lemari pakaian mereka. Sakura mengikutinya, ia menatap Gaara mengambil kemeja biru muda.

"Semoga berhasil,"

Gaara tidak membalas, ia memasangkan kemejanya dengan tergesa-gesa, Sakura membantunya, menahan tangannya melepaskan kancing yang di masukkan salah. "Aku akan membantumu," ia memasukan kancingnya dengan rapi.

"Aku akan membawakanmu vitamin, kau harus tetap meminumnya aku akan mengecek apakah vitaminya habis atau tidak. Kurangi kopi dan makanlah yang bergizi," ucap Sakura, ia memasangkan dasi Gaara.

"Tidurlah yang cukup," ucap Sakura.

"Aku tidak bisa tidur tanpamu," ucap Gaara.

Tangan Sakura terhenti, kemudian ia melanjutkan menyusun pola dasi Gaara. "Aku Direktur Gaara, aku tidak bisa meninggalkan rumah sakitku begitu saja, cobalah untuk tidur,"

Shinra masuk dengan sekotak obat yang tidak terlalu besar, "Bagus kau datang tepat waktu Shinra," ucap Sakura tersenyum, kemudian ia memasukan kotak obat itu ke dalam koper Gaara, menutup koper itu.

Gaara hanya menatapnya, "Ingat aku akan memeriksa obatnya, jadi jangan lupakan itu!" seru Sakura tersenyum kecil.

Gaara hanya diam, menerima kopernya dan berjalan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

-Sour-

"Maaf memintamu untuk menemuiku jam segini,"

Sakura hanya tersenyum "Tidak apa, aku sudah terbiasa dengan ritme kerjamu Sasuke," ucap Sakura ia memesan makanan, Sasuke menyerahkan tabletnya, Sakura memeriksanya. "Kurasa kau harus merubah ini Sasuke,"

Belum sampai lime menit Sakura sudah merevisi gambarnya. Mereka bertemu di sebuah restaurant Jepang yang tidak terlalu jauh dari kantor Sakura, wanita itu cukup sibuk dengan stastusnya saat ini. Menjadi wanita karir dan memiliki keluarga adalah gambaran betapa sibuknya Sakura.

"Kau tampak riang," ucap Sasuke

"Benarkah?" tanya Sakura. "Kurasa aku terlalu menikmati peran baruku saat ini," ucap Sakura, tanpa ia sadari ia tersenyum lebar. "Aku tidak bisa berlama-lama Sasuke, Shinki memenangkan lomba mewarnai dan aku berjanji untuk makan bersamanya,"

"Bagaimana dengan Gaara?" tanya Sasuke, ia menekuk tangannya, dan menyandarkan wajahnya dengan tangannya.

Sakura terdiam sebentar, rasanya aneh ketika Sasuke bertanya tentang Gaara. Atau karena sekarang ia merasa sedikit memihak kepada suaminya?

"Dia baik, sepertinya dia sibuk," ucap Sakura, ia meninum minumannya dengan sedikit gugup, Gaara tidak menghubunginya sekalipun bahkan ia sudah pergi selama seminggu. "Sepertinya ada masalah dengan kantornya," tambah Sakura, senyuman di wajahnya perlahan memudar ketika membicarakan Gaara.

"Apa kau sudah membaca beritanya hari ini?" tanya Sasuke.

Sakura mengeleng, "Ada apa?" tanya Sakura, ia menaruh gelas Sakenya, matanya memandang sedikit khawatir.

Sasuke menyalakan ponselnya, mengetikkan sesuatu, menunjukkannya kepada Sakura. Mata Sakura terkejut, hanya dengan membaca headline dari berita ia sudah tahu bahwa Direktur Sabaku Corp yang berada di Jepang melakukan tindakan pengelapan dana sebanyak jutaan dollar.

"Apakah dia tidak memberitahumu?" tanya Sasuke.

"Kurasa dia tidak ingin membuatku khawatir," ucap Sakura, makanan mereka datang, Sakura memakan makanannya dengan perlahan.

Mereka tidak berbicara sampai makanan mereka habis. Mood Sakura kurang baik, bahkan itu terlihat dari cara ia memakan makanannya, ia hanya memakan sedikit, beberapa kali berhenti, sedikit melamun.

"Aku merusak makan malam ini," ucap Sasuke.

"Ah tidak Sasuke, maaf, kurasa aku hanya memikirkan sesuatu," ucap Sakura tersenyum gugup.

"Apakah karena Gaara,"

"Aku hanya khawatir, dia tidak memberitahuku apapun. Apakah dia baik-baik saja, Gaara tidak bisa tidur dengan baik, bagaimana kalau dia..." ucap Sakura tanpa sadar dan segera berhenti ketika ia tahu bahwa pria di depannya adalah Sasuke.

Apa sekarang Sakura hanya mengangap Sasuke hanyalah temannya?

Matanya memandang cincin pernikahannya, apa ia benar-benar tenggelam dalam permainannya sendiri?

"Maaf Sasuke," tambahnya lagi.

"Tidak perlu," ucap Sasuke sedikit senyuman. "Gaara adalah Gaara, dia pria yang tangguh."

Sakura setuju dengan ucapan Sasuke, pria itu diberkahi dengan mental dan tubuh yang kuat sayangnya kurangnya perawatan akan dirinya membuat seolah pria itu menghancurkan berkatnya sendiri. "Kurasa aku akan pulang," ucap Sakura bangkit dari kursinya, mengambil tasnya.

"Aku akan mengantarmu,"

Sakura mengeleng, "Tidak Sasuke aku akan pulang sendiri, terimakasih, hubungi aku setelah menyelesaikan rancanganmu," Sakura mengeluarkan dompetnya, tetapi Sasuke menahannya, "Kali ini aku yang akan membayar," ucapnya.

Sakura hanya tersenyum pelan, berjalan keluar. Ia menyentuh ponselnya menampilkan gambar Shinki dan dirinya sebagai wallpaper. Bahkan tanpa Sakura sadari ia merasa bahwa Shinki adalah putranya sendiri dan Gaara.

Apa Sakura mengangap Gaara suaminya sendiri?

Ponselnya menampilkan nomor Gaara, memikirkan akan menghubungi pria itu atau tidak. Ia mengigit bibirnya, berhenti perlahan, kemudian memasukan ponselnya kembali ke tasnya.

Sakura memutuskan untuk tidak menelponnya.

-sour-

"Apa kau mau kue Sakura chan?" tanya Kakashi, Sakura mendongak, "Kurasa aku membutuhkannya," ucap Sakura, ia menyentuh pelipisnya. Pekerjaan hari ini kurang menyenangkan, beberapa panggilan di arahkan kepadanya karena klien Gaara penasaran tentang Sabaku Corp, apakah perusahaan itu baik-baik saja atau tidak. Bagaimanapun Sabaku Corp adalah perusahan besar.

"Bisakah mereka tidak mengangguku? Aku bahkan tidak tahu dimana Gaara sekarang!" seru Sakura, menarik nafas berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Kurasa makanan manis akan membantumu Sakura-chan," ucap Kakashi. Sakura memikirkan sebentar, "Baiklah, kurasa aku membutuhkannya," ucapnya bangkit dari kursinya berjalan mengikuti Kakashi.

Sakura mengikuti Kakashi "Apa kau belum mendapatkan kabar dari Gaara?" tanya Kakashi.

Sakura hanya mengeleng pelan, "Dia tidak memberitahuku apapun,"

Kakashi tersenyum "Apa kau khawatir dengannya?"

"Mungkin,"

"Apa kau menyukainya sekarang?" tanya Kakashi, ia menenakan tombol lift dan pintu lift terbuka.

Sakura diam, berusaha mencerna pertanyaan Kakashi, "Kau bercanda tentu saja tidak!"

"Aku merawatmu dari kau kecil Sakura-chan, bagaimana bisa kau berbohong dariku," ucap Kakashi riang. "Ekspresimu saat ini sama ketika Sasuke menghilang," ucap Kakashi tersenyum.

Wajah Sakura semakin murung, "Dia hanya menelpon Shinki, tapi tidak menelponku," ucap Sakura, "Aku tahu bahwa kita hanya berpura-pura, tetapi setidaknya dia harus memberitahuku." Tambahnya.

Perlahan memori kurang mengenakan tergiang dalam pikirannya, ucapan Kakashi benar, bagaimana jika Gaara meninggalkannya sama seperti Sasuke meninggalkannya? Apakah ia akan ditinggalkan lagi?

Sebuah pelukan hangat menyadarkannya, "Kau tidak sendirian Sakura, ada aku, Naruto dan Ibumu. Kau tidak sendirian," ucap Kakashi, mengusap kepala Sakura.

"Terimakasih," ucap Sakura, pintu lift terbuka. "Aku akan mentraktirmu Kakashi," ucap Sakura dengan sedikit senyuman.

Mereka berjalan dengan pemikiran masing-masing, bahkan Sakura tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai pada Kafe milik Matsuri.

Pelayan muda menyambut mereka, "Silahkan mau pesan apa?"

"Ice Americano dan croisant, bagaimana denganmu Sakura?" tanya Kakashi,

Mata Sakura memperhatikan sekeliling Kafe. Matanya mencari seseorang, atau lebih tepatnya pemilik Kafe, Matsuri selalu berada di sekitar Kafe mereka dan Gaara biasanya akan duduk di pojok, meja yang sedikit jauh dari keramaian.

Sakura tersadar.

Rasanya perasaan familiar yang tidak ia sukai perlahan merasukinya. Apakah hanya ia yang tenggelam dalam permainan ini?

Gaara dan Matsuri, mereka cocok, Matsuri mengerti Gaara dan pria itu mengerti wanita itu. Matsuri adalah tipe wanita yang pas untuk Gaara, dia tidak terikat sepertinya. Ucapan Gaara sebelum pria itu pergi ke Jepang merasukinya, Gaara membutuhkannya karena Sakura bisa membuatnya tidur. Tapi bagaimana kalau Sakura tidak bisa membantunya?

Bagaimana kalau Matsuri bisa membuat Gaara tertidur, bukankah ia bisa membawa Matsuri kemanapun setiap perjalanan bisnisnya? Selalu bersama Gaara kapanpun dimanapun, terutama Matsuri adalah mantan sekertaris Gaara.

Ia mengenal Gaara jauh lebih baik dari padanya.

Mereka lebih tepat bersama.

Perlahan hatinya sedikit perih, apa ia cemburu? Apa ia marah?

Atau hanya sedih atau kecewa?

Menyadari bahwa ia menyukai permainan ini dan cemburu bahwa seharusnya Matsuri yang menjadi istri Gaara bukan dirinya.

"Sakura-chan.. Sakura?" panggil Kakashi, ia sedikit mengoyangkan tangan Sakura.

"Sama," ucapnya tersadar dari lamamunannya. "Dimana Matsuri?" tanya Sakura.

"Oh Matsuri, sedang berada di Jepang dengan temannya,"

Jantung Sakura berdegup kencang, perasaan aneh menjalar, ia berusaha untuk tidak panik tetapi moment seperti ini. Ia mengenal perasaan ini.

"Apakah temannya pria yang sering berada disini? Pria dengan rambut merah?" tanya Kakashi dengan ragu.

"Iya dengan Gaara,"

Tubuh Sakura perlahan goncang, Kakashi dengan sigap menahannya. "Sakura tenangkan dirimu."

Apa perasaan ini? apakah ini perasaan semua istri ketika ia mengetahui bahwa suaminya pergi dengan wanita lain. Sebuah memori merasuk perasaannya, beberapa jeritan dirinya dan kesakitan mengoncangnya dengan kasar. Kakinya perlahan lumpuh dan matanya perlahan menangis.

Kakashi menyadari bahwa Sakura mulai panik. "Apakah kau punya air dan ruangan pribadi," ucap Kakashi, ia mengendong Sakura dengan gaya pengantin. Pelayan itu segera membawa mereka ke ruangan reservasi.

"Tenanglah Sakura," ucapnya berulang. Sakura menarik kemeja Kakashi.

"Aku tidak... seharusnya aku..."

"SAKURA! SADARKAN DIRIMU!" ucap Kakashi lagi. Cengkraman tangan Sakura di baju Kakashi semakin keras.

"Aku tidak bisa Kakashi, aku tidak bisa!" ucapnya, tangisannya semakin kencang.

"Apa kau membawa obatmu?" tanya Kakashi. Menurunkan Sakura di kursi, pelayan yang tadi membawakan air putih, Kakashi mengambil tas Sakura mengambil botol obat kecil dalam tasnya, membukanya, menyerahkannya kepada Sakura, wanita itu mengambil obatnya dan meminumnya.

Kakashi menatap Sakura, mengusap rambutnya dengan lembut. Perlahan Sakura mulai tenang, Kakashi menarik nafas, dugaannya benar. Seharusnya mereka tidak menikah, Gaara bukanlah pria yang tepat untuk Sakura. Ia tidak bisa menjaganya, pria itu sama buruknya seperti Sasuke.

Tetapi keras kepala Tsunade akan Gaara membuat pria itu menyerah.

Kakashi berlutut, menatap Sakura. "Apa kau sudah tenang?" tanya Kakashi lagi.

"Kakashi, kurasa aku akan bercerai,"

-to be continued-

Huft akhirnya bisa selesai. Duh aku deg.. deg an ketika menulis ini, ini crusial part astaga otakku semakin melantur kemana-mana. Kuharap kalian menyukainya, tense dari cerita duh otakku lemas. Kenapa hubungan mereka rumit? Kenapa! #plakditampar

Apakah kalian menyukainya?

Next or Leave dan bagaimana dengan part ini moment mana yang kalian suka?