Kalian menghujaniku dengan review, membuat aku selalu ingat bahwa aku harus menulis lanjutan cerita ini hehe.. terimakasih banyak, untuk mengingatkan aku^^

Please dont be a silent reader.

Big thanks to : Daiskyyy, Cle0patrazxz(Bener deg..deg an membaca chapter 6 tapi mereka manis banget di chapter 7)CherrySakusaku, (Blueberry mungkin akan update setelah chapter ini^^ di tunggu aja yah) Mahartroops23, Spanenx,Arei Awaa (yas aku suka Shinki dan Sakura mereka mengemaskan akan banyak cerita tentang mereka disini di tunggu saja ya) Sadio Mane, Febrichan2425 (Wah jangan dong masih gaasaku kok hehe) Kimm, Yukito Arui, Mariameilany1, Celotip, BunnySweety, Liliwaslittlegurl (Siap mungkin bakal lebih detail ke depannya^^) Etine.

Thanks karena kalian sudah menyemangatiku untuk selalu menulis chapter selanjutnya. Thank you so much, kiss and Hug.

Saran lagu : Here's your perfect – Jamie miller, biar makin nancep ma cerita ini hehe.

-sour-

"Akhirnya kita bisa beristirahat?"

Mata hijau pucat menatap langit-langit, suara hembusan nafas terdengar bergema dengan lembut, suara pergerakan air terdengar, Kankuro mengambil gelas kecil, menuangkan sake dingin ke gelasnya dan meminumnya.

Gaara mengikutinya, mengambil botol sake itu menuangkannya. "Bagaimana pernikahanmu?" tanya Kankuro, Gaara hanya acuh, Kankuro menyodorkan gelasnya ke arah Gaara, ia mengerti menuangkan sake itu ke gelas Kankuro.

"Baik," ucap Gaara. "Kurasa,"

"Kau mengucapkan itu seperti kaset," ucap Kankuro sedikit tertawa. "Bukankah enam bulan lagi kalian akan berpisah,"

"Benar," ucap Gaara, menaruh gelasnya, memasukkan tubuhnya lebih dalam ke dalam air panas.

"Dan kenapa kau masih bercanda dengannya?" tanya Kankuro lagi. "Apa kau tidak menyukainya? Dia wanita yang menarik kau tahu," ucapnya sambil menuangkan sakenya lagi. "Dia kuat dan cantik, oh jangan lupakan she sexy!" ucap Kankuro dengan nada rendah. "Kau beruntung di jodohkan dengannya,"

Gaara masih diam. "Mungkin,"

Kankuro memperhatikan tubuh Gaara yang jauh lebih baik dari pada biasanya. "Aku terkejut ketika kau meminum vitamin sekarang, sejak kapan seorang Gaara peduli akan kesehatannya?"

"Dia akan memarahiku jika aku tidak meminumnya," ucap Gaara ringan.

"Dia tahu bagaimana menghadapimu Gaara," ucap Kankuro lagi. "Apa kau sudah menelponnya?"

"Tidak,"

"Dia akan khawatir kau tahu," ucap Kankuro meminum Sakenya, ia mengoyangkan botol sake yang habis. "Habis," ucapnya.

"Kau terlalu baik, tidak menghukumnya," ucapnya bangkit berdiri dari kolam pemandian. "Aku akan memesan Sake lagi,"

Gaara diam, ia memperhatikan tubuhnya, lebih berisi dari biasanya, karena terlalu lelah menghadapi permasalahan di Jepang, Gaara sering tidak sadar bila dirinya tertidur, ia menyentuh ponselnya.

Berpikir apakah seharusnya ia menelpon Sakura atau tidak.

"Kenapa kau melamun, telpon saja dia!" ucap Kankuro dari belakang dengan sebotol Sake dingin di tangannya.

"Hubungan kami tidak seperti itu. Walau status kami seperti itu,"

"Ucapan yang terdengar bijak tapi tidak," ucap Kankuro. "Walaupun dia kuat, dia adalah seorang wanita Gaara, aku sudah melakukan kesalahan di masa lalu melepaskan wanita yang tepat, kuharap kau tidak melakukan apa yang kulakukan,"

"Aku tak tahu kau masih menyukai Ino. Aku bertemu dengannya di pesta," ucap Gaara, "Dan dia memberitahu Sakura hal yang tidak perlu,"

Kankuro sedikit tertawa, ia tidak masuk ke dalam permandian, ia duduk di kursi berbahan batu, mendinginkan kepalanya yang memerah. "Dia memang seperti itu, apa kau mengancamnya lagi untuk tidak berbicara dengan Sakura?"

"Kau bisa bertanya kepadanya," ucap Gaara acuh.

Tetapi wajah Kankuro sedikit murung, "Aku berpikir bahwa Ino adalah wanita yang kuat, tapi kurasa itu salah. Mereka adalah wanita, satu kecurigaan akan mengubah semuanya kau tahu," ucap Kankuro.

"Kau menyembunyikan hubunganmu dengan baik,"

"Aku akan memelihara kucing,"

"Kau benar-benar mabuk. Kau alergi dengan bulu kucing," ucap Gaara, ia bangkit dari kolam. "Aku akan pulang hari ini, bereskan sisanya Kankuro,"

"Oh kangen dengan istrimu?" ucap Kankuro dengan sedikit terkekeh.

"Aku butuh tidur dengan benar," ucapnya malas, Gaara berjalan keluar dari permandian.

Kankuro menuang Sakenya dalam gelasnya, "Ingat kataku Buddy, satu kecurigaan itu bisa menghancurkan hubungan," ucapnya meminumnya dengan seringai.

-sour-

Sakura menatap Shinki yang sedang memainkan adonan tepung. Ia mengusap rambut Shinki lagi dan anak kecil itu menoleh, kemudian tersenyum lebar. Sakura mengajak Shinki kecil yang belum pernah membuat kue, untuk membuat kue bersamanya.

"Lihat Mommy, donat," ucapnya dengan terkikik, wajahnya memerah.

Shinki adalah anak yang cerdas, ia bisa mengerti apa yang sedang terjadi dengan bahasa anak-anaknya. Sakura menyukai menjadi ibu Shinki, anak laki-laki yang manis sopan dan mengemaskan, ada beberapa hal yang mirip dengan Gaara seperti dia suka mengamati, memperhatikan sekitarnya sebelum bertindak, dan sedikit pemalu. Itu sangat mengemaskan di mata Sakura.

Ia mengigit bibirnya sedikit ragu, ia akan mengajukan perceraian itu, tentu saja berpisah dengan Shinki.

Mungkin ini saatnya untuk membangun keluarganya sendiri, Sakura menghela nafas berat.

"Mommy Sakura capek?" tanyanya, memperhatikan Sakura.

"Tidak," ucap Sakura, sedikit berpikir bahwa mungkin mengadopsi anak adalah pilihan yang menarik. "Aku akan mengorengnya setelah itu kau bisa menghiasnya okay,"

Seruan riangnya mengema di dapur itu. Ia turun dari tangga kecilnya, "Aku akan bermain dengan Mr Mickey," Sakura membantunya,

"Siapa Mr Mickey sayang?" tanya Sakura sedikit bingung dengan ucapan Shinki.

"Bonekaku Mommy, Dinosaurus hijau yang besar dari Daddy!" ucapnya.

"Oh, baguslah," ucap Sakura, apakah itu baik? Apakah Shinki kesepian? Jika Sakura tidak berada disini tentu ia akan sendirian, Shinra akan menemaninya, tetapi sebagai ketua pelayan pekerjaannya sangat banyak.

Apa Sakura menyarankan Gaara untuk mengadopsi anak lain?

Ia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki saudara, jika bukan karena Kakashi mungkin ia akan kesepian seperti Shinki.

Sakura mengoreng semua donat sampai benar-benar matang, mata Sakura memandang sekitarnya, rumah bagus, beberapa pelayan yang melayani dalam sekali panggilan, tetapi rasanya begitu sepi.

"Shinki kau bisa menghiasnya sekarang!" seru Sakura dari dapur. Shinki mendongak, ia bangkit berlari kecil menuju dapur. Beberapa pelayan mengawasi mereka memastikan bahwa jika Sakura membutuhkan bantuan mereka ada disana.

"Hati-hati Shinki kau bisa jatuh," ucap Sakura.

Shinki terlalu bersemangat, menaiki tangga kecil supaya tingginya bisa menyamai meja marmer hitam yang Sakura yakin Gaara tidak keberatan bukan jika ia membuat beberapa goresan pada mejanya?

Shinki memakai sarung tangannya, Sakura menaruh mentega di atas beberapa donat, ia menuangkan coklat ke atas donat.

'Apakah ia akan melupakanku ketika dewasa?' pikir Sakura, memperhatikan Shinki yang sedang asyik karena ia baru pertama kali menghias kue. "Apa kau ingin ikut kelas memasak Shinki dengan anak-anak seumuranmu?" tanya Sakura.

"Apa mommy ikut?" tanya Shinki.

"Sepertinya ada kelas yang melibatkan orang tua dan anak," pikir Sakura, "Bagaimana kalau sendirian Shinki?"

"Tidak apa, um tetapi aku suka memasak denganmu Mommy," ucap Shinki.

"Kau bisa mengajariku setelah kau mengikuti kelas bagaimana?"

Kini mata Shinki berbinar-binar, "Tentu Mommy! Aku akan mengajarimu!" ia menjerit kegirangan.

Sakura berpikir apakah ia harus menjelaskan Shinki tentang keinginannya untuk bercerai, tentu akan membuat Shinki bingung jika mereka berpisah secara mendadak.

Shinki terlalu fokus dengan pekerjaan pertamanya, Sakura memandangnya, mirip Gaara ketika pria itu sedang fokus akan sesuatu. Rasanya pemikirannya tentang Gaara semakin merasuk ke dalam tubuhnya. Ia khawatir dengan pria sialan itu, tetapi pria itu sedang bersenang-senang dengan pacarnya?

"Shinki, jika mommy tidak bisa tinggal bersamamu lagi apakah kau akan melupakanku?" ucapan itu terlontar begitu saja.

Shinki mendongak, "Why Mommy?"

"Mommy mungkin tidak akan tinggal disini lagi, apakah kau akan tetap mengingatku?"

Shinki tampak sedih, matanya perlahan berbinar. Sakura segera memeluknya, mungkin pertanyaannya terlalu berlebihan untuk anak kecil. Mungkin Shinki belum siap.

"Kau adalah Mommyku dan akan menjadi Mommyku!" serunya keras dalam pelukannya.

"Dan kau adalah putra pertamaku Shinki," ucapnya mengecup puncak kepala Shinki. "Kalau Mommy tidak tinggal disini lagi, mintalah ijin kepada ayahmu untuk menemuiku okay,"

Shinki hanya mengangguk. Ia menghentikan aktivitasnya dan merenung.

"Pintar, kau anak yang pintar," ucap Sakura mengusap kepala Shinki berusaha membuat anak itu kembali ceria. "Mau makan donatnya?"

Shinki masih murung, "Shinki kita masih bisa bertemu," tambah Sakura.

"Apa Mommy akan berpisah dengan Daddy? Apa aku akan ditinggalkan lagi?"

Sakura menarik nafas, "Shinki Mommy dan Daddy tidak akan meninggalkanmu, kami hanya berpisah tempat saja," ucap Sakura mengusap kepala Shinki.

"Tapi jika kau memiliki anak yang lain apa kau akan mengingatku?"

Ucapan Shinki membuat Sakura terkejut, bagaimana bisa anak sekecil ini mengerti konsep ini. Sial Gaara memiliki seorang jenius sebagai penerusnya. "Tidak, kau adalah putra pertamaku, kau bisa berkunjung kapanpun Shinki."

Shinki masih murung.

Sakura merasa bersalah, "Shinki maaf, terkadang orang dewasa sedikit rumit,"

"Nyonya Sakura, ini waktunya Shinki untuk tidur," ucap Shinra ia muncul dari ambang pintu, Sakura mendongak tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul sembilan.

"Aku mau makan donat," ucap Shinki mengerutu.

"Makan satu sisanya besok okay?"

Shinki menganguk, mengambil satu donat, "Donat itu untukmu Mommy aku sudah menghiasnya," ucapnya tersenyum kecil. Shinra mengendongnya. Shinki memakan donatnya membuat pipinya mengembang, dimata Sakura itu sangat mengemaskan, ia memperhatikan donat yang di hias Shinki, berantakan dan semua topping berada disana, Sakura mengambil ponselnya memfoto donat buatan Shinki.

"Terimakasih Shinki, Good night Shinki."

Berbagai perasaan melanda hatinya, bahkan setelah mengucapkan perpisahan, Sakura tidak merasa lega. Malah semakin kacau. Perlahan tubuhnya bergetar, permikiran negatif mulai merasuki pikirannya.

Ia berjalan keluar dengan cepat, menuju kamarnya berusaha menenangkan pikirannya sendiri, ia membuka laci meja, menemukan botol pil kecil, sayangnya habis, ia kehabisan obat. Ia berpindah mencari di laci Gaara, pria itu memiliki obat penenang juga di mejanya dan benar. Sakura mengeluarkan obat itu, meminumnya dengan cepat.

Ia melirik jam di kamarnya, sebentar lagi Kakashi akan datang. Semenjak kejadian di Kafe, Kakashi bersikeras untuk memeriksa Sakura, ia datang malam hari memastikan semua tugasnya sudah selesai dan mengunjungi Sakura.

Beberapa bisikan terdengar di antara pelayan, gosip bahwa nyonya mereka berselingkuh dengan pria yang lebih tua ketika Gaara tidak berada disana.

Hanya saja kamar menjadi hal yang menakutkan ketika serangan panik datang, ia membutuhkan seseorang yang mengerti tentang dirinya.

Ia tidak peduli, apakah mereka tahu bahwa Gaara melakukan lebih buruk daripadanya? Walau itu tidak bisa di buktikan, ia tidak mengenal Gaara dengan baik, tetapi rumor bisa tersebar tentu aja penyebapnya bukan?

Kali ini ia mencoba percaya rumor akan Gaara, bahwa pria itu memang brengsek.

Dan Sakura sudah di didik dengan keras oleh ibunya. Belajar bahwa jika kau mencintai seseorang, tetaplah mengunakan akal sehatmu, pegang kendali dan jangan sampai kau direndahkan oleh pria hanya karena kau mencintainya dengan tulus. Dia pernah kehilangan dirinya sendiri dan dia tidak ingin hal itu terjadi lagi.

Tapi apakah dirinya mencintai Gaara? Bukankah itu hanyalah perasaan peduli, karena mereka menjaga satu sama lain? Atau karena ia menyanyangi Shinki dan beberapa sifat Shinki mengingatkan dia akan Gaara?

Ponselnya berbunyi, pesan dari Sasuke, mengajaknya untuk makan malam.

Ia membalasnya, setuju dengan ajakan pria itu.

Berharap jika ia bisa mengalihkan pemikirannya atas keluarganya sendiri.

-sour-

Gaara berjalan dengan kelelahan, ia tidak bisa tidur dengan baik di pesawat, berakhir dengan berkerja selama delapan jam penuh, sedikit bingung dengan perubahan waktu yang sedang terjadi. Ketika ia memasuki rumahnya, beberapa pelayan menyambutnya, Gaara menyerahkan barang bawaannya kepada pelayan. Semula ia hanya berangkat dengan satu koper dan berakhir dengan tiga koper.

"Dimana Sakura?" tanya Gaara kepada salah satu pelayan, tetapi reaksi mereka aneh seperti menyembunyikan sesuatu, Shinra datang dengan tergesa-gesa, terkejut dengan kedatangan tuannya yang mendadak. Lebih tepatnya Gaara selalu pulang dan pergi selalu mendadak. "Dia di ruangan anggur," ucap Shinra, Gaara melepaskan coatnya menyerahkannya kepada Shinra.

"Kenapa dia berada disana?" tanya Gaara, melonggarkan dasinya, melepasnya dan memberikan kepada Shinra.

Shinra tampak ragu untuk menjawab Gaara, "Jawab aku Shinra," perintah Gaara, mood tuannya sedang tidak baik, tentu saja perjalan bukan hal yang cocok dengan Gaara.

"Dia dan Mr. Kakashi berada disana," ucap Shinra pelan.

Dugaan Shinra benar, Wajah Gaara yang tenang kini berubah, beberapa ekspresi kesalnya mulai muncul. "Apakah dia tidak bisa jika tidak ada laki-laki di sekitarnya? Sepuluh hari aku tidak berada di rumah dan dia berselingkuh?" ucap Gaara tegas, "Ceritakan apa yang terjadi,"

"Kakashi berkunjung akhir-akhir ini, baru tiga hari yang lalu, mereka bertemua berbicara dan Kakashi akan pulang setelah Sakura tertidur, hanya itu saja Gaara-sama,"

"Kau yakin?" ucap Gaara berjalan meninggalkan Shinra.

"Saya hanya melihatnya seperti itu tuan, saya tidak tahu bagaimana detailnya. Tapi itu yang muncul di CCTV tuan," ucap Shinra berusaha mengejar Gaara.

Gaara mendengus, ia berjalan dengan sedikit lebih cepat. "Berselingkuh di rumahku, benar-benar hebat!" seru Gaara. Ruangan anggur cukup jauh dari ruangan utama, ruangan itu dekat dengan ruangan kerja serta serta balkon, mudah untuk jatuh ketika kau memiliki balkon yang indah, ruangan anggur dan kamar tamu di sana.

Shinra berjalan mendahului Gaara, membuka pintu ruangan anggur, Gaara masuk, mengangkat tangannya meminta untuk Shinra kembali. Ia mengerti berbalik pergi, "Matikan CCTV ruangan anggur malam ini,"

"Baik tuan,"

Sakura beruntung ia menikah dengan Gaara, jika ia menikah dengan ayahnya, Gaara yakin ia akan membawa senapan di tangannya. Ia mendengar suara Sakura tertawa, suara Kakashi yang berusaha menenangkan wanita itu.

Dugaan Gaara benar, ia melihat Sakura dan Kakashi jarak yag cukup dekat.

"Gaara tidak akan keberatan jika aku meminum anggurnya!" seru Sakura keras, ia memegang botol anggur memilih mana yang menarik.

"Sakura-chan, kau sudah mabuk," ucap Kakashi, ia menarik Sakura, "Duduklah,"

"Tidak! Aku tidak mabuk. Kau yang mabuk, aku mau minum!" seru Sakura lagi menepis tangan Kakashi memilih botol anggur, karena setengah sadar Sakura menjatuh botol anggur yang kakashi yakini hanganya cukup menarik. Kakashi segera memeriksa Sakura, "Apa kau terluka?" Kakashi memeriksa Sakura dengan cepat, tetapi tidak ada luka di tubuhnya.

"Tidak! Dia berselingkuh! Sial aku tidak suka dengan permainan ini! Dia berselingkuh Kakashi! Selingkuh..." ucap Sakura.

"Sakura kau harus tidur,"

Bahkan mereka tidak sadar jika Gaara berada disana, tersenyum miring, ia menepuk tangannya, suara tepukannya membuat Kakashi menoleh, posisi mereka saat ini Sakura berdiri dan Kakashi memeluknya.

"Berpesta tanpaku? Dirumahku? Aku tersentuh," ucap Gaara kesal, terutama ia melihat bagaimana Kakashi mendekap Sakura dengan erat.

"Oh disini Suami yang tidak memberi kabar dan lari dengan pacarnya?" ucap Kakashi riang, walau ada nada ancaman dalam suaranya, ia mendudukan Sakura di kursi, Kakashi memberinya wine bercampur air kepada Sakura. Wanita itu menerimanya.

"Begitu juga dengan istriku berpesta dengan penjaganya? Manis sekali," ucap Gaara berjalan mendekat.

Merasa tidak puas Sakura bangkit dari sofa, "Aku mau minum lagi," menuju rak anggur.

"Sakura hentikan," ucap Kakashi, menahan wanita itu dari belakang. Sakura wanita yang kuat sama seperti ibunya, mudah melepaskan diri dari Kakashi yang tidak terlalu fokus kepadanya.

"Lepaskan aku mau minum! Aku mau minum! Akan kuhabiskan semua wine disini,"

Gaara lelah, marah karena Sakura bersikap tidak setia di mata Gaara, wanita itu tidak membantu dan Kakashi, pria itu menyebalkan di mata Gaara.

"Sakura," ucap Gaara mendekat, Sakura masih asyik memilih anggur, Gaara menarik tangan Sakura pelan, tetapi Sakura menepisnya. "Siapa kau! Jangan sentuh aku!" serunya marah.

"Hah?"

"Kebiasaan minumnya parah Gaara," ucap Kakashi. "Ia bisa melupakan beberapa orang,"

"Kenapa dia minum sebanyak ini?" tanya Gaara, Kakashi hanya diam. Berusaha menyembunyikan beberapa botol anggur di karpet yang tergeletak, Sakura benar-benar pemabuk yang payah.

"Sakura, apa kau baik-baik saja?" tanya Gaara, sepertinya wanita ini sudah tidak sadar.

"Tidak, suamiku pergi berselingkuh dan Shinki dia manis sekali!" seru Sakura, "Tetapi aku tidak bisa tinggal bersamanya!"

Gaara tahu berbicara dengan Sakura saat ini hanya menguji kewarasannya.

"Aku akan membawanya ke kamar," ucap Gaara cepat, ia mengambil kendali, menarik tangan wanita itu.

"Aku bisa membantumu, kurasa aku lebih kuat daripadamu," ucap Kakashi.

Merasa di permalukan Gaara menyerit, "Tidak, aku bisa mengatasinya," ucap Gaara, mengendong Sakura dengan gaya pengantin, Kakashi mengikutinya dari belakang, memastikan bahwa ia benar-benar membawa Sakura ke kamar.

"Ku dengar kau baru saja menikah, selamat," ucap Gaara dengan datar, Kakashi membuka pintu kamar, Gaara memasukinya, "Dan apa yang dilakukan pria yang baru saja menikah, minum-minum dengan istri seseorang?"

Kakashi masih mengacuhkan Gaara. "Apa istrimu tahu kau berada disini?" tanya Gaara lagi.

"Sekarang aku tahu kenapa Sasuke membencimu Gaara. Kau menyebalkan," ucap Kakashi sedikit riang, tetapi nadanya bukanlah nada bercanda. "Kau menuduhku berselingkuh, bukankah kau juga? Membawa mantan kekasihmu ke Jepang, menyenangkan bukan?"

Gaara tersenyum, "Itu benar, tetapi apa kau tahu bahwa sikapmu keterlaluan?" ucap Gaara, ia menaruh Sakura salah satu sisi ranjang, menarik selimut dan menyelimutinya. "Terlalu peduli untuk ukuran penjaga,"

"Kalian akan bercerai bukan?" tanya Kakashi, "enam bulan lagi," tambahnya. "Karena itu aku bisa bersabar, tetapi jika kau bermain lagi dengannya, kau akan tahu kau berurusan dengan orang yang salah,"

Gaara tidak merasa terancam, bahkan dia mengangap bahwa ucapan Kakashi begitu lucu di telinganya, "Kau benar, anjing penjaga yang baik. Enam bulan lagi," ucapnya. "Bersabarlah,"

"Aku tidak tahu mengapa Tsunade memberikan Sakura kepada pria cacat sepertimu," ucap Kakashi dingin, ia berjalan melewati Gaara. "Kau pikir aku tidak tahu?" ucapnya meninggalkan ruangan. "Jadi jangan bercanda denganku,"

Suara pintu di tutup dengan keras, Gaara duduk di sisi ranjang, menghela nafas. Sakura bergerak dengan gelisah, "Air," ucapnya.

Gaara bangkit dari duduknya, mengambil gelas di sebelahnya, mengisinya dengan air dan memberikannya kepada Sakura. Sakura menerimanya, kemudian ia akan membuka pakaiannya, Gaara menyadarinya, menahan tangannya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Panas," ucapnya pelan, "Tubuhku panas sekali!" Gaara menahan tangan Sakura.

"Tidak kau tidak boleh membukanya," Gaara menahan kedua tangan Sakura, Sakura berontak, Gaara menimpanya dengan tubuhnya, menyatukan tangan Sakura dengan tangan kirinya, mengambil remot Ac untuk mengecilkan suhu ruangan.

"Lepaskan aku bodoh!" seru Sakura sedikit rewel. Gaara bangkit dari tubuh Sakura. "Sakura tidurlah," ucap Gaara, melepaskan tangan Sakura ketika wanita itu sudah tenang.

Detik selanjutnya Sakura menangis. Gaara sedikit melamun, "Mabuknya buruk sekali," ucapnya pelan. Kakashi cukup baik merawatnya.

Gaara mendekatinya, memeluknya, mengusap kepalanya. "Sakura tenanglah," ucap Gaara. "Ada apa?"

"Aku ingin bercerai Kakashi," ulangnya lagi. Gaara menarik nafasnya, kewarasannya benar-benar di uji malam ini, "Kenapa kau ingin bercerai dengannya? Apa dia melukaimu?" tanya Gaara, berusaha menenangkan Sakura, berpura-pura menjadi Kakashi.

"Tidak, aku hanya merasa bersalah," ucapnya lagi.

Gaara menyeritkan keningnya, "Bersalah karena?" ucap Gaara melepas kemejanya, membuangnya asal.

"Seharusnya Matsuri bisa menikah dengan Gaara. Mereka saling mencintai dan aku menganggu mereka," ucap Sakura, air matanya semakin banyak. Gaara terdiam tidak tahu harus membalas apa, ia duduk di dekat Sakura, mengulus kepalanya.

"Bukankah kau juga bisa melakukannya Sakura? Kau bisa bermain-main sama sepertinya," ucap Gaara, "Kenapa kau peduli kepadanya?"

"Karena Gaara menangung semuanya sendirian, dia selalu sendirian." Ucap Sakura. "Dia berhak bahagia dengan orang yang ia cintai, hanya karena ayahnya menjodohkan dia denganku. Mereka tidak bisa bersama," ucap Sakura air matanya bertambah.

"Aku ingin dia bahagia," ucap Sakura.

"Kenapa?" tanya Gaara, "Kenapa kau ingin dia bahagia? Semua orang tidak peduli kepada pendapatnya, ia melakukan yang terbaik tetapi tidak ada yang peduli,"

"Aku tidak tahu," ucap Sakura menyeritkan keningnya tampak bingung.

"Aku akan mandi Sakura, tidurlah," ucap Gaara, bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Ketika Gaara kembali ia menyadari bahwa Sakura tidak berada disana, sedikit panik memeriksa kamar mereka, lampu walk in closet mereka menyala Gaara memasuki ruangan itu menemukan Sakura sedang duduk disana.

"Sakura apa yang terjadi?" ia duduk di depan Sakura, wanita itu masih sediki linglung.

"Apa mereka berselingkuh karena aku tidak cantik? Apa aku jelek dimata mereka?" perlahan air matanya tumpah, "Apa karena aku tidak bisa mengurus rumah?"

"Aku suka bekerja! Apa karena aku bisa mengurus diriku dan mereka meninggalkanku,"

Gaara benar-benar tidak mengerti lagi, tetesan air mengalir dari rambutnya yang basah, ia mengenakan jubah tidurnya berwarna merah maron yang selalu disediakan Shinra di kamar mandinya.

"Apa karena aku tidak bisa memasak? Matsuri bisa memasak, sial dia tampak cantik dengan apron itu," ucap Sakura, mengusap air matanya tetapi ia tidak bisa berhenti.

"Hey kau pria manis! Jawab aku! Apa menurutmu aku jelek? Apa karena tubuhku tidak bagus?" mata Sakura menatap tajam ke arah Gaara.

Gaara sedikit terkejut dengan panggilan Sakura, ia tampak ragu, "Sakura, kau..." Gaara berusaha mengucapkan apa yang di dalam pikirannya tetapi ia tidak mengerti.

"Benar bukan mereka meninggalkanku karena aku jelek!" ucap Sakura.

Gaara bergerak dengan ragu, ia menyentuh pipi Sakura, "Kau tidak jelek Sakura, kau cantik." Titik, tidak ada tambahan, Sakura memandangnya sebentar kemudian tersenyum, wajahnya merona kemerahan.

Rambut merah muda panjang yang berantakan, mata hijau besar, hidung mancung tipis, bibir bulat merah muda seperti cherry. Gaara tahu Sakura cantik, tetapi kali ini ia terpesona. Bagaimana ia tidak menyadarinya, selama ini Gaara hanya memperhatikan bahwa Sakura ya Sakura, dia peduli kepadanya dan Shinki, merawat semuanya, peduli akan semuanya dan terlalu rewel, mengkhawatirkan terkadang. Tetapi Gaara tidak pernah memperhatikan fisiknya, hanya sebatas ia wanita yang pintar.

Terkadang Gaara bertanya-tanya kenapa banyak pria yang berada di sekitar Sakura, kini ia akhirnya mengerti.

"Kau benar-benar cantik," puji Gaara tulus, bahkan ia sempat terdiam. Jika bukan Sakura menyentuh kepalanya, ia mungkin akan terdiam disana.

"Sorry manis, aku sudah menikah," ucapnya menujukkan cincin pernikahannya.

Gaara tertawa, "aku suamimu Sakura," ucapnya, memeluk wanita itu dengan erat, mencium aroma tubuhnya, ia merindukan aroma ini, aroma yang menenangkan untuknya, cherry dan mawar. Ia menimpa Sakura, Sakura kehilangan keseimbangan dan jatuh kebelakang, jika bukan karpet tebal berbulu mereka mungkin Sakura akan terbentur.

"Lepaskan aku," ucapnya sedikit meronta. "Aku sudah menikah!" ulangnya lagi.

"Kau benar-benar parah Sakura," ucap Gaara, melepaskan pelukannya, mengendong wanita itu dengan cepat, membawanya ke ranjang mereka.

"Tidurlah," ucap Gaara, walau ia senang dengan tingkah laku Sakura, tetapi tubuhnya kelelahan. Gaara berbaring di sebelahnya, "Kemarilah," ucap Gaara berbaring merentangkan tangannya, Sakura menatapnya ragu.

"Aku suamimu,"

Sakura menatapnya, "Benarkah? Aku menikah denganmu?"

Gaara tersenyum, "Tentu kau sudah menikah denganku Sakuram kemarilah,"

Sakura menurut, ia menyenderkan kepalanya ke dada Gaara. Ia memeluk tubuh Gaara, begitu juga dengan Gaara. "Tidurlah," ucapnya mengusap pundak Sakura. Sakura mengerakkan tubuhnya menyamankan tubuhnya, Gaara menarik selimut menyelimuti tubuh mereka.

TING.

Gaara yang hendak memejamkan mata, kembali terjaga, ia segera mengambil handphone yang ada di laci mejanya tanpa menyadari bahwa handphone itu milik Sakura. Ia melihat layar itu terdapat foto Shinki dan Sakura berpelukan dengan tawa lebar di wajah mereka, bahkan berbeda sekali dengan wallpaper miliknya. Ia mengambil ponselnya, memfoto gambar layar Sakura, menyimpannya. Ponsel Sakura berbunyi lagi, menampilkan dua pesan masuk.

Satu dari Sasuke dan satunya dari Kakashi.

Gaara mengeram pelan pesan, terutama pesan dari Kakashi,

'Jika Gaara setuju aku akan mengurus perceraian kalian,' dari Kakashi.

'sampai jumpa besok, tidak sabar untuk bertemu,' dari Sasuke.

Gaara menyadari bahwa waktu mereka semakin terbatas, ia menyadari jika ia dan Sakura akan segera berpisah, ia memeluk wanita itu semakin erat. Fakta yang menyedihkan bahwa orang-orang di sekitar mereka berharap mereka segera bercerai.

Mata Gaara menatap ke arah Sakura, merapikan rambutnya yang berantakan, mengecup puncak kepala wanita itu, "Sakura, jika aku bertemu denganmu lebih cepat, apa kita bisa seperti pasangan yang lainnya? Menikah dan punya anak?" ucap Gaara perlahan memejamkan matanya. "Tidak perlu saling melukai satu sama lain?" tambahnya.

Sakura tidak membalas, ia bernafas pelan, terlelap dalam tidurnya.

Gaara berharap waktu bisa berhenti dan berdoa bahwa Sakura akan tetap menjadi istrinya.

-sour-

Karena setiap chapter menegangkan, kali ini kita istirahatkan jantung kita okay, dengan nyesek super, wkwkwk.

Karena aku menyukai Gaara, duh nyesek sekali aku memikirkan cerita ini. karena aku selalu pro Gaara! Haha... dan sedih sekali dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik T.T sementara yang lain bisa...

Aku tahu kalian berharap mereka bercerai, well karena ini Gaasaku hehe.. tentu saja mereka tidak akan bercerai, aku menyadari bahwa Kakashi berada di setiap Chapter, astaga apakah aku harus memasukan kakashi juga seperti aku menambahkan Sasuke di pairing? Saran dungs, karena jadi banyak characternya ^^

Chapter ini bagaimana menjelaskannya, seperti Kopi, manis dan pahit bercampur menjadi satu.

Apakah kalian membacanya sama seperti ku manis pahit? Atau apa hehe.