Review kalian membuatku bersemangat untuk menulis, thank you so much!
Big thanks to : Etine, Bunnysweety, Nica-kun (Kakashi disini character yang menarik loh tenang aja banyak suprise di cerita ini ehehe) Spanenx (Kopi hitam wkwkw, padahal aku sudah menambah sedikit gula loh moment Gaasaku pas Gaara menyentuh Sakura uhuy) (As you wish), SebastianSonubatulalala(thank you iyes cinta mereka akan lambat, slow but smoth hehe) aihimelilyonvalley (Ayo Gaara pilih yang mana? Di tanyaain tuh^^) Fabrichan2425 (Benar Gaara, kenapa sih gak bisa lepas! Wkwkw #authorkompor) AreiAwaa (Iyes its so deep), Meilanydwitaa, CherrySakusaku, guest, Guest (Halu itu menyenangkan lol) Redblack02 (Hmm pertanyaan yang bagus, nanti pasti ada di dalam chapter2 selanjutnya tenanglah^^)Cleopatrazxz (Iyes aku juga berpikir seperti itu thank you) Lilwaslittlegurl (terimakasih sudah menjadikan fanfic Gaasaku terbagus thank you#kiss) Guest, Jikyung (Thank you to keep peace hehe)Nadeshiko (astaga aku dipanggil min, adminkah? Aku bukan admin shay wkwkw)
Reviewnya ku tunggu
-sour-
Sinar matahari membuat wajahnya berkerut, sepertinya ia lupa menutup jendela tadi malam, Sakura bergerak perlahan, berusaha mengumpulkan kesadarannya, ia dapat merasakan tangan seseorang memeluk pingulnya dengan erat, mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Kakashi bersamanya, ia mengerang perlahan, "Lepaskan aku," ucapnya, tentu mereka akrab hanya saja terlalu intim bukanlah keinginan Sakura, ia memegang telapak tangan pria itu, telapak tangan yang tidak asing dari pria yang meninggalkannya membuatnya sedikit linglung, pria itu tidak melepaskannya malah semakin erat memeluknya.
"Lepaskan aku," ucapnya lagi. Pelukan yang sangat akrab.
Ia berbalik mendapati Gaara di sampingnya dengan mata terpejam, memeluknya seolah ia akan mati jika melepaskannya. Sakura tertawa pelan, "Kurasa aku masih tidur," ucapnya. "Gaara ada disini? Ini lucu sekali," tambahnya, ia memperhatikan wajah pria itu, sedikit lebih berisi dari terakhir waktu pemeriksaan kesehatannya. Satu rasa Hangat, seperti bukan mimpi.
Apa Sakura benar-benar merindukannya sehingga halusinasinya begitu kuat. Ia mengusap pipinya pelan, mengusapnya perlahan, begitu nyata, seperti bukan mimpi.
Mata jadenya perlahan terbuka, mata mereka bertemu, Sakura memandangnya seolah melihat hantu, Gaara melepaskan pelukannya dari Sakura menyentuh tangan wanita itu di pipinya. "Pagi," ucapnya.
Begitu nyata.
Sakura mengigit bibirnya, "Kau terlalu nyata," ucapnya berbisik.
"Aku memang nyata Sakura," ucapnya, "Aku pulang," ucapnya dengan suara parau.
Sakura dapat merasakan wajahnya kaku, matanya sembap akibat menangis semalam, ia bergeser kembali, berusaha menyadari bahwa ia adalah Gaara, Gaara yang asli. "Kapan kau kembali Gaara?"
"Kemarin malam," ucapnya berbalik memandang langit-langit.
Sejak kapan mereka menjadi lebih intim? Bertingkah laku seolah percakapan mereka sehari-hari.
Sakura bangkit dari kasurnya, Gaara memperhatikannya, "Aku tahu kita bisa berkencan dengan siapapun, tetapi membawa Kakashi ke rumah adalah buruk Sakura,"
Apakah harus ini percakapan pertama mereka?
"Aku tahu, aku tidak akan melakukannya lagi," singkat dan jelas, kenapa ia merasa seolah Gaara menangkap basah dirinya berselingkuh dengan Kakashi. Bukankah Gaara yang berselingkuh disini.
Tangan Gaara menyentuh rambut panjang Sakura memainkannya perlahan, "Apa kau dan Kakashi bercinta di ranjang ini?" Sakura tidak mengerti mengapa mudah bagi Gaara mengucapkan perkataan itu?
Ucapan yang sangat jelas, "Bisakah kita bercerai saja Gaara?"
Gaara berhenti memainkan rambut Sakura, "Kenapa? Kakashi sudah menikah dan kau juga Sakura, aku tidak ingin ikut campur tetapi kau masih istriku,"
Tidak bisakah mereka tidak saling menuduh satu sama lain? Setelah sekian lama tidak bertemu apakah harus ucapan yang menyakitkan keluar?
Sakura berbalik, "Aku tidak bercinta dengannya Gaara, dan aku tidak berpacaran dengan dia."
"Apa karena Sasuke?" tanya Gaara, ia menarik keningnya berpikir dengan keras, tidak ada ekpresi terhina dari wajahnya, ia menanggapinya dengan santai.
"Bukan, hanya aku tidak ingin bermain-main lagi," ucap Sakura, "Perceraian adalah waktu yang lama Gaara, kita bisa mengajukan prosesnya sekarang dan menunggu bukankah berarti sama saja dengan aku menikah denganmu selama setahun?"
Gaara tersenyum, "Bermain-main bagaimana?" tanya Gaara bertanya, ia melipat kedua tangannya, memandang wanita itu.
"Aku lelah," ucapnya. "Kau meninggalkanku disini, beberapa klienmu menghubungiku bertanya tentang dirimu dan kau mengilang, tidak memberitahu kabar apapun dan..." ucapan Sakura berhenti, ia memandang Gaara, mengigit bibirnya ragu.
"Dan?"
"Kau membawa Matsuri bersamamu," ucap Sakura pelan. "Aku tidak marah, hanya merasa lebih baik kita berhenti Gaara. Bukankah itu syaratnya jika kau menikah denganku setelah kita bercerai kau bisa menikah dengan Matsuri?" tanya Sakura membuang muka.
Gaara masih tenang, "Dan bagaimana denganmu, berselingkuh dengan pria yang baru saja menikah atau kembali ke mantan pacar yang telah meninggalkanmu?" tanya Gaara dengan kasar.
"Bukan urusanmu Gaara," desis Sakura kesal.
"Sudah lama kita tidak bertemu apakah harus percakapan ini di pagi hari?" tanya Gaara, mengambil ponselnya, mengetikkan sebuah nomor. "Aku akan memangil pengacaraku," ucapnya ringan.
"Apa kau sudah membaca kontraknya Sakura?" tanya Gaara lagi, wanita itu mengangguk.
"Baguslah kau bisa mentranfer dana pinalti tiga kali lipat dari yang kuberikan kepadamu," ucap Gaara ia menaruh ponselnya di telinganya.
Sakura terdiam, berpikir, "Bagaimana bisa?"
"Apa kau tidak membaca tentang pinalti Sakura, jika kau meminta untuk bercerai duluan sebelum satu tahun pernikahan kita maka kau akan membayar denda sebanyak tiga kali dari harga saham yang kuberikan kepadamu," ucap Gaara ringan. "Begitu juga denganku, jika aku menceraikanmu dahulu maka aku akan membayarmu,"
"Bagaimana bisa aku tidak melihat peraturan..." ucap Sakura, kemudian ia kembali mengingat, "Sial aku lupa," ucap Sakura mengerang kesal, bagaimana bisa ia melupakan detail sepenting itu.
"Halo, Mr richard, apa kau sibuk sekarang," ucap Gaara di teleponnya. "Istriku akan," Sakura melompat di sebelah Gaara mengambil ponsel itu dan mematikan teleponnya.
"Lupakan," ucap Sakura.
Gaara menyerigai, "Kau pasti melupakannya Sakura," ucapnya bangkit dari ranjangnya, "jelaskan padaku kenapa Kakashi bisa berada disini kemarin malam?"
"Serangan panikku kambuh, Kakashi khawatir dan menemaniku sampai aku benar-benar tertidur," ucap Sakura.
"Kenapa kau tidak menghubungiku?" tanya Gaara, mengeluarkan beberapa dokumen dari lacinya.
"Aku tahu kau sibuk, dengan masalahmu, aku tidak perlu menambah masalah," ucap Sakura.
"Kau bukan masalah Sakura, kau adalah istriku," ucap Gaara, ia mengambil kacamatanya, memakainya.
"Dan kau berselingkuh dengan wanita lain," ucapan Sakura membuat Gaara menatapnya lurus.
"Aku tidak berselingkuh,"
"Kau membawa Matsuri disaat aku tidak bisa menemanimu. Apa Matsuri adalah selir sekarang?" tanya Sakura, ia mencekram semprei. "Kau bilang bahwa aku istrimu tetapi kau memperlakukan aku seperti tidak penting untukmu," ucap Sakura.
"Kau penting untukku Sakura," ucap Gaara, matanya kembali menuju berkas-berkas yang ia keluarkan.
Sakura mengigit bibirnya, ia bangkit dari ranjangnya, mendekati pria itu, "Kau berbohong," ucap Sakura, kemudian ia diam. Menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, bertanya kepada dirinya mengapa ia marah? Mengapa ia berperan seperti istri yang mendapati suaminya selingkuh?
Pada dasarnya mereka tidak benar-benar menikah, bukankah ini hanya sebuah kepalsuan.
Ia benar-benar terjebak akan pemikirannya sendiri.
Atau karena ia terlalu menikmati perasaan ini, sadarlah Sakura, karena Gaara menikmati perannya mengucapkan seolah mereka benar-benar menikah.
Sakura berbalik, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau, sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Ia dapat merasakan deru nafas hangat Gaara di tengkuk lehernya, "Aku membawa Matsuri, karena ayahnya adalah salah satu orang yang bersekongkol untuk mengambil uangku Sakura," ucapnya dengan nada berat. "Kejadian itu tidaklah mudah untukku Sakura. Ayah Matsuri sudah kuanggap seperti ayahku sendiri, ia memperlakukan aku lebih baik daripada ayahku sendiri. Tetapi ia berkomplot untuk mengambil uangku," ucap Gaara deru nafasnya tidak beraturan, seperti ia berusaha menahan semua emosi.
"Aku benci pengkhianatan dan pria itu berkhianat," ucapnya lagi, pelukan pada tubuh Sakura semakin erat, "Disatu sisi aku menghormatinya dan kecewa kepadanya, karena itu aku membawa Matsuri, dia harus berada disana untuk tahu bahwa ayahnya bertingkah laku seperti itu,"
"Aku mencoba untuk tidak percaya, tetapi faktanya mengarah kesana, kepolisian sedang mengurusi kasusnya," ucap Gaara kemudian terdiam, "Aku lelah Sakura, aku tidak bisa tidur, pemikiranku kacau dan semua terasa tidak nyata dalam pikiranku,"
Sakura mengerakkan tubuhnya, berbalik ke arah Gaara, mata mereka saling memandang, kemudian Sakura memeluknya dengan erat. Ia tidak mengatakan apapun hanya mengusap punggung Gaara, pria itu memeluknya lagi, mereka dalam posisi seperti itu cukup lama.
"Maaf," ucap Sakura, "Aku tidak mengerti," ucapnya. Ia menarik nafas, "Walau kita tidak benar-benar menikah karena cinta, setidaknya kau tidak sendirian Gaara. Kau bisa bercerita kepadaku, jika kau ingin," ucap Sakura lembut, ia mengusap rambut Gaara.
Sebuah perasaan hangat menjalar kedalam hati Gaara, ia memeluk Sakura dengan erat, "Terimakasih Sakura," ucapnya.
Ponsel Gaara berbunyi, tangan kanan Gaara tidak melepaskan pelukannya dari Sakura, ia tidak ingin melepaskan wanita itu, sementara tangan yang lain mengambil ponselnya, Sakura dapat mendengar suara dalam bahasa asing, kemudian Gaara melepaskan pelukannya berdiri tegak. Mengerang kesal, berbicara dengan keras dalam bahasa asing, mematikan ponselnya, mengusap wajahnya kelelahan.
"Ada apa Gaara?"
"Ayah Matsuri mencoba bunuh diri Sakura," ucap Gaara, "mereka memintaku untuk ke Jepang, kasus di tunda sementara,"
"Hey tenanglah," ucap Sakura, berdiri di depan Gaara, mengusap kepalanya dengan lembut. "Semua akan baik-baik saja," tambahnya.
Apakah perpisahan membuat hubungan mereka semakin akrab?
Sakura mencoba untuk menempatkan dirinya dalam posisi Gaara, ia mencoba untuk mengerti bagaimana perasaannya, jika salah mengambil keputusan akan berbahaya. Gaara lebih tenang sekarang, memperhatikan Sakura, "Apakah kau bisa ikut denganku ke Jepang Sakura?" tanya Gaara.
Sakura berpikir ia tidak bisa pergi begitu saja, tapi dengan cepat ia menganguk, "Tapi tidak bisa lama, aku akan mengambil jadwal cutiku," ucap Sakura.
"Pesawatku akan tiba satu jam lagi," tambahnya. Kemudian ia berbalik matanya masih menuju berkas-berkasnya, "Aku sudah mentranfer uangnya Sakura," ucap Gaara.
"Eh? Terimakasih," ucap Sakura. "Aku belum mempersiapkan kebutuhanku Gaara," ucap Sakura.
"Kau bisa membelinya disana, mungkin tidak lama hanya tiga hari Sakura," ucapnya.
-sour-
Gaara kebanyakan diam tengelam dalam pemikirannya sendiri, ketika mereka sampai ke Jepang, seorang supir menjemput mereka, tidak ada percakapan hanya diam, Sakura mengenakan kemeja putih panjang atas paha celana jeans mini berwarna biru dan sepatu boot hitam seatas lutut, Gaara mengenakan setelan suit warna biru gelap.
Mereka tidak berbicara apapun.
Gaara melangkah ke depan, mendahuluinya ketika mereka sampai di rumah sakit, tidak ada ekspresi. Sakura berjalan mengikutinya, Kankuro menyambut mereka, ia menatap Gaara dengan raut kelelahan.
"Aku tidak menyangka dia mencoba bunuh diri," ucap Kankuro, Gaara berjalan mendahuluinya, "Pastikan kejadian ini tidak terjadi lagi," ucap Gaara, Kankuro hanya mengangguk. "Ada kabar terbaru tentang kasusnya," tertapi Kankuro berhenti berbicara ketika ia melihat Sakura berjalan mendekat.
"Kau membawanya rupanya," ucap Kankuro menyeringai, "Apa aku akan melihat drama menyenangkan kali ini?"
Gaara tidak membalas, ia tetap berjalan membuka pintu ruangan kamar dimana ayah Matsuri di rawat, Matsuri wanita itu berada disana, ia segera memeluk Gaara ketika melihatnya, Gaara memeluknya, mengulus rambutnya berusaha menenangkan.
Sakura melihat mereka dari kaca pintu, "Apa kau tidak masuk?" tanya Kankuro di sebelahnya.
"Kurasa aku akan menunggu disini," ucap Sakura, duduk di salah satu kursi yang berada di luar. "Matsuri membutuhkannya,"
Kankuro mengikutinya duduk di sebelahnya, "Dan Gaara membutuhkanmu," ucap Kankuro.
Sakura sedikit tertawa, "Tidak Gaara tidak membutuhkanku," ucap Sakura.
Gaara di sisi ruangan, duduk diam sebelahnya Matsuri, wanita itu sudah menenangkan dirinya, Gaara tidak melakukan apapun hanya duduk disebelahnya, "Maaf Gaara," ucapnya. "Kau selalu memberikan yang terbaik tapi ayahku, maafkan aku,"
Gaara menarik nafas, alasan dia pulang untuk beristirahat sejenak dari kasus ini dan kini ia berada di kasus ini lagi, menghembuskan nafas dengan berat. "Kau tidak salah Matsuri," ucapnya.
"Mungkin aku yang terlalu percaya," ucap Gaara, matanya memperhatikan kaca ruangan, menampilkan Sakura berada disana sedang berbicara dengan Kankuro, suasanya sangat berbeda antara disana dan di dalam ruangan.
"Kau membawanya?" tanya Matsuri.
"Aku membutuhkannya, aku tidak bisa tidur nyenyak tanpanya," ucap Gaara.
"Aku tahu, kita sudah mencoba tetapi tidak berhasil. Apakah karena ia memberikan obat-obat khusus tanpa kau sadari Gaara?" tanya Matsuri, matanya kini menatap ke arah Sakura.
"Aku tidak tahu," jawab Gaara. "Tapi aku bisa tidur tanpanya," tambahnya.
"Apa kau mencintainya?" tanya Matsuri.
Gaara masih diam, matanya kini menatap dinding kosong di depannya, "Aku tidak tahu,"
"Kau adalah orang yang bertanggung jawab Gaara," ucap Matsuri. "Karena itu terlepas permasalahan ini, aku masih mencintaimu,"
"Kau sudah pernah menghadapiku Matsuri, dan aku tahu kau menangis berkali-kali denganku," ucap Gaara, "Apa kau ingin hal itu lagi," jawabnya.
"Apa kau pikir Sakura bisa menghadapimu Gaara?" tanya Matsuri mengigit bibirnya.
"Aku tidak tahu," ucap Gaara. "Karena aku tidak bisa benar-benar mencintai seseorang Matsuri," tambah Gaara, ia bangkit dari kursinya, "Aku akan pergi," ucapnya berjalan pergi.
Ketika ia sampai ke depan pintu ruangan, Sakura menatapnya, Gaara membalasnya, kemudian matanya beralih kepada Kankuro, "Aku sudah selesai, pastikan hal ini tidak terjadi lagi Kankuro," ucap Gaara, "Ayo Sakura," ucapnya berjalan mendahuluinya.
Kankuro mengangguk, Sakura berjalan mengikutinya, Sakura dapat merasakan ekspresi amarah Gaara yang halus, rahangnya mengeras, ia mengengam tangannya dengan keras.
Sepertinya ada permasalahan.
Gaara menekan tombol lift, Sakura berdiri di sebelahnya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak," jawab Gaara pelan. Ponsel Gaara berbunyi, pertama yang keluar adalah tarikan nafas berat dari Gaara, ia menjelaskan dengan bahasa Jepang, memasukan ponselnya.
"Aku akan ke kantor, ada sedikit masalah, kau pulanglah duluan," ucap Gaara.
Wajahnya tampak murung, ia benar-benar kelelahan. "Aku berharap aku bisa istirahat," gumannya pelan.
Sakura menyeringai, "Kau bisa mendapatkannya Gaara," ucap Sakura, ia mengulung lengan bajunya, membuka kancing bagian atas, "Kau bisa," ucapnya mendekati Gaara, pria itu masih diam, Sakura menyelipkan tangannya pada kantong celana Gaara, mengambil ponselnya.
"Apakah kau tidak keberatan jika ponsel ini mati seharian?" tanya Sakura, Gaara yang masih terkejut dengan tingkah laku Sakura, tampak keberatan menimbang-nimbang. "Aku tidak bisa,"
"Baguslah, dapatkan kalau kau mau," ucap Sakura memasukan ponsel itu ke dalam celana jeansnya. Pintu lift terbuka Sakura berjalan dengan cepat, Gaara mengikutinya dari belakang, sebenarnya ia bisa mengambil ponselnya dari Sakura, hanya saja kali ini ia membiarkannya.
-sour-
Mata Kakashi menatap para kerumunan yang sedang menari, di tangannya terdapat segelas minuman akohol, ia sudah meminumnya separuh, ia menatap jam tangannya pukul sebelas malam. Apa yang di lakukan Kakashi pria itu di sebuah klub malam sendirian menikmati kesendiriannya.
Matanya masih fokus, ia miminum lagi minumannya, menarik nafas, tidak seharusnya disini, karena seharusnya ia pulang bersama Shizune, hanya saja ia tidak ingin.
Kakashi menikah dengan Shizune, mereka berpacaran tapi tidak benar-benar pacaran. Sakura menjodohkan dia dengan Shizune, ia tidak bisa menolak permintaan Sakura, disatu sisi Kakashi yang tidak tertarik berhubungan menjalani hubungannya setengah tidak tertarik, kehilangan minat, orang tua Shizune meminta mereka untuk segera menikah, Kakashi yang sedari awal tidak tertarik terpaksa melamarnya, atas saran Sakura juga. Mereka sudah menikah, tetapi fakta yang menyenangkan adalah Kakashi belum menyentuhnya, mereka tidur di kamar terpisah, bisa di bilang hubungannya dengan istrinya lebih buruk daripada hubungan Sakura dan Gaara. Mereka tidur di ranjang yang sama, berpelukan setiap malam dan...
Kakashi tidak ingin melanjutkannya, Shizune mencintainya dan Kakashi tidak. Dia adalah wanita yang manis, keibuan dan dewasa, bahkan ia masih memilih untuk bekerja setelah mereka menikah.
Wanita itu tahu, sampai kapanpun Kakashi menyukai orang lain, Shizune tidak keberatan, wanita aneh.
Kakashi meneguk minumannya lagi, apakah ia harus menyuruh seseorang untuk mengodanya sehingga wanita itu bercerai dengannya? Satu bulan dan rasanya memuakkan.
"Apa yang dilakukan pria beristri di sebuah klub malam?"
Pria yang tidak diinginkan Kakashi berada disini, Sasuke Uchiha, dari sekian banyak orang mengapa harus Uchiha?
"Bukan urusanmu."
"Oh, biar kutebak, kau kesepian karena tuanmu pergi dengan suaminya?" tanya Sasuke memesan minuman, Bloody Marry, wajah yang ingin Kakashi hajar.
"Dan kau, biar kutebak, mantan kekasih yang menginginkan mantannya yang sudah menikah?" ucap Kakashi ringan.
Wajah Sasuke berkerut, kemudian dengan cepat ia merubahnya, "Aku tahu Sakura masih memiliki perasaan kepadaku," ucapnya, mengambil minumannya.
Kakashi salut dengan kepercayaan seorang Uchiha.
Kakashi hanya tertawa meremehkan, "Kau tau dari mana?"
"Karena aku mengenal Sakura," ucap Sasuke enteng.
"Mungkin benar Sakura masih memiliki perasaan denganmu, tapi apa kau yakin kini posisimu tidak berubah dengan Gaara," ucap Kakashi, alis Sasuke menekuk, seolah bertanya.
"Mereka tidur bersama setiap malam, Gaara akan memeluknya bahkan Sakura bisa tau jika Gaara memeluknya dari belakang, pernikahan mereka sudah enam bulan, di kamar tidur kau tahu bukan mereka bisa berkata apapun," ucap Kakashi, "Terlepas hubunganmu dengan Sakura, kurasa Gaara metreat Sakura lebih baik daripadamu,"
"Cih, bagaimana kau tahu,"
"Dia selalu ada karena dia membutuhkannya, mungkin kau memperlakukan Sakura seperti seorang putri tetapi Gaara memperlakukan Sakura seperti ratunya. Itu adalah hal yang berbeda Sasuke,"
"Jadi sekarang kau mendukungnya?" tanya Sasuke meminumnya dengan santai.
"Tidak, aku tidak mendukungnya,"
"Kita tahu bahwa Gaara pria itu memiliki cacat yang cukup parah, dia tidak mencintai dan dicintai. Ia tidak bisa tidur dengan wanita, kurasa walaupun tidur di ranjang yang sama ia tidak akan bisa tidur dengannya,"
"Seberapa banyak kau bisa bertaruh? Jika akohol bersama mereka dan iblis di tengah-tengah mereka, kita tahu apa yang terjadi selanjutnya," ucap Kakashi tegas.
"Aku menginginkan Sakura,"
Kakashi mengerut, apakah ia seorang jin sehingga Sasuke mengucapkan permintaannya.
Sasuke menyeringai, "Aku menginginkan Sakura dan seorang Uchiha pasti akan mendapatkan yang ia mau," jawabnya lagi, meminum minumannya sampai habis.
"Kau bisa melihatnya Kakashi, aku akan menunjukkannya kepadamu bahwa Sakura dan aku adalah pasangan sejati! Gaara tidak ada apa-apanya dibandingkan aku," ucap Sasuke bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Kakashi.
Kakashi menarik nafas, matanya melirik jam tangannya, rasanya ini waktunya untuk pulang. Shizune akan tidur saat ini, ia tidak ingin bertemu dengan istrinya, ia memangil supir penganti untuk mengendarai mobilnya, pemikirannya masih kosong, matanya menatap jalanan sampai tidak menyadari bahwa rumahnya sudah dekat.
Namun matanya menatap sesuatu yang aneh, ia melihat Shizune berdiri di depan pintu dengan seorang pria, ia berbicara tampak akrab, pria itu pamit dan Shizune hanya melambai kepadanya. Kakashi tahu bahwa saat seperti ini akan segera tiba.
Istrinya berselingkuh.
-Sour-
Author note : akhirnya selesai, setelah bertapa sekian lama hehe, sebenarnya aku sudah menulis chapter selanjutnya dan aku harus mengantinya karena tidak cocok, akhirnya drama menulis chapter selanjutnya.
Karena tidak pas dan aku ingin memberikan yang terbaik untuk pembaca yang membaca dan mereview, akhirnya berkali-kali ganti. Maaf atas keterlambatannya, sebenarnya aku ingin menulis blueberry dulu tapi malah yang itu idenya tidak keluar hahaha...
Oh ya mungkin aku akan lebih banyak mengilustrasi kejadian dific ini, karena itu kalian bisa mampir di iGku atau twitter, baru buat semua follower masih mini hehe #aduh jadi malu... cari aja Mangoissour, follow kalau tidak keberatan :D beberapa ada yang udah follow, thank you, just dm me nanti aku follback. Aku ingin dekat juga dengan pembaca... aku juga bakal kasih tau kalau cerita ini update di sana, stay tune ^^
Jangan diteror, lol
Aku menampilkan Kakashi karena menurutku background Kakashi cukup menarik untuk di ulas, apakah kalian tertarik jika aku juga membahas Kakashi disini?
Sekali lagi thank you 100 review uHH aku bergembira, karena review kalianlah yang membuatku semangat, memeras otak untuk melanjutkan cerita ini.
Oh ya aku juga ingin kasih tahu aku kepikiran banget soalnya, kelihatannya aku bakal ganti ending dari whats wrong with sakura haruno deh, itu endingnya kurang bagus menurutku jadi kalau ada pembaca yang membaca juga nantikan bakal di ganti endingnya, jadi aku rubah ceritanya belum complete.
Jadi please jangan jadi silent reader okay!
