Yooo, aku sudah kembali lagi di dunia fanfiction ini dan setelah 3 bulan gak ada kabar sama sekali yah, sorry to sorry ajah dan kali ini sesuai janji aku akan publish dua fic baru dan ini adalah fic yang aku maksud tadi dari judul anime yang berbeda tentu saja yah, setelah BNHA kini aku buat fic dari anime SnS (Shokugeki no Souma) dan kebetulan juga di otakku ada ide untuk membuat fic dari anime ini yah, memang seperti biasa aku buat fic dari fandom yang masih sedikit apalagi jika di fic indo yah masih bisa kehitung daripada fandom Naruto apalagi sku orangnya suka buat cerita yang belum ada yang bikin atau masih sedikit yah, di fandom SnS indo ini masih sangat sedikit meski bakal menghasilkan review yang sedikit pula tapi, author ini sudah kebal dan terbiasa niatnya buat Inggris tapi grammar dsb, ahh sudahlah gak ada niatan aku buat.
P.s : ohhh dan satu hal lagi alasan kenapa aku buat pair harem karena gak indonesia atau english aku cukup jenuh dan bosan dengan pair Sorina dan gak ada yang coba lebih manistream lagi kayak SoumaxRindou lol :v, SoumaxAlice, SoumaxHojo dan sebagainya yah yang belum ada tapi itu hak mereka untuk buat cerita seperti apa dan saya hanya mengutarakan pendapat terserah mau di dengar atau enggak lel :v
Disclaimer : Shokugeki No Souma adalah milik Shun Saeki... dan saya cuman izin comot sebentar untuk kepentingan fic saya ini dan bakal dibalikin lagi karena sangat jengkel jika dicopy tanpa izin nanti disebut plagiator (moba kok plagiat :v awas jangan baper yak)
Pairing : Souma x Harem (bodo amat nyari yang anti manistream ajah -_-)
Rate : M ( dan segala banyak jenis rate di dalamnya)
Warning : banyak kejanggalan di tulisan ini yang pasti membingungkan para pembaca dan sifat character yang berbeda sekali dan agak aneh namun, saya akan tetap berusaha untuk lebih bagus lagi.
- dadah deh/ 'dadah deh' = Flashback\ Speaking dalam hati\
.
...
.
SON OF DEVIL ASURA'S
® Shun Saeki
© Shokugeki No Souma
- Kedai Yukihira
"Hghhhh! rasanya menyedihkan sekali"
terlihat seorang anak muda berambut merah cerah agak berantak, dengan mata berwarna kuning, dan sebuah luka gores di alis kanan, dia mengenakan baju hitam lengan panjang di belakang punggunggnya terdapst tulisan Yukihira, sebuah tali putih mengikat di lengan kirinya, celana panjang hitam, lalu sebuah celemek putih selutut yang terikat yah, sebut saja Yukihira Souma yang tinggal di sebuah kedai makanan kecil bernama Yukihira juga dan dia tinggal disini bersama ayahnya saja.
Dia tampak mengigil bukan karena kedinginan tapi terlihat dia sedang makan sesuatu yang sedang dimasak olehnya sendiri walaupun dilihat masakannya bukan disebut sebagai sebuah makanan karena muncul asap hitam yah, cuman satu hal yang terjadi masakan itu sudah pasti tak enak untuk disantap.
"Hahahahah, Cumi panggang selai madu memang paduan yang bagus tapi, rasanya hambar" Souma tertawa sendiri setelah mencoba masakannya sendiri meski begitu dia tak kapok untuk membuat sesuatu yang baru karena dia tipe yang suka menciptakan masakan yang beda daripada harus mengikuti yang lain karena itu adalah jalan menjadi seorang Chef handal.
"Oii, Souma masih sibuk dengan masakanmu yang tak enak itu? cepatlah kemari dan bantu ayah karena ada banyak pelanggan yang berkunjung"
"Tunggu sebentar, aku akan kesana" Souma membalas ajakan ayahnya dan sambil membereskan tungku bakar miliknya yang tadi digunakan masak.
Setelah Souma membereskan peralatannya dia segera masuk ke dalam dan melihat banyak pelanggan yang datang berkunjung ke sini yah, itu bisa dimaklumi karena sekarang sudah sore dan banyak para pekerja dan anak sekolah yang pulang dan sudah pasti perut mereka kosong karena habis banyak aktifitas jadi banyak beberapa orang yang sering mampir hanya untuk mengganjal perut sambil menceritakan masalah kehidupan mereka masing-masing dengan canda tawa.
disana ada seorang pria paruh baya, dengan rambut merah maron panjang yang diikat hingga pendek, mengenakan pakaian yang tak jauh berbeda dengan Souma karena mereka keluarga dan tengah memasak dengan tangannya yang terampil itu membuat jenis makanan yang sudah pasti sangat enak dan dia bernama Yukihira Jouichirou ayahnya Souma.
Dia dan ayahnya hanya tinggal berdua saja di kedai sederhana ini, ibunya sendiri dia tak tau berada dimana sekarang wanita itu karena setelah lulus SD ibunya pergi begitu saja tanpa pamit atau bicara sepatah kata mungkin suatu hari jika bertemu lagi dia akan menanyai alasan sesungguhnya tindakan seperti itu.
Souma mengambil tali yang ada di lengannya lalu dijadikan ikat kepala jika, seperti ini berarti dia akan memasak "baiklah, apa-apa yang harus aku perbuat sekarang?" dia melihat beberapa masakan yang belum selesai atau masih dalam proses yah, wajar saja ini cukup banyak dan tangan ayahnya cuman dua jadi pasti kerepotan.
"Hmmm, perlukah aku jawab itu? sebagai seorang Koki kau harus memikirkan sendiri masalah yang terjadi dengan masakanmu itu" jawab Jouichirou dengan grin seolah menantang anaknya agar tidak manja untuk terus disuapi.
Souma tau bahwa ayahnya ini sedang mengetesnya juga apalagi memasak adalah hal yang biasa sering dilakukan olehnya waktu kecil dan itu sudah seperti Hobi apalagi impiannya adalah mengalahkan ayahnya dalam memasak dan dia tak keberatan dengan itu lalu mulai melakukan tugasnya.
lelaki berambut merah itu mulai menggerakan tangannya dan mulai menambahkan bumbu yang kurang seperti garam, paprika, cabai, dan lain sebagainya maka dari itu sebelum memasak dia mencicipi dulu masakan itu, dan ada juga yang memiliki rasa tak enak dan dia harus menambahkan banyak hal agar terasa enak apalagi ada beberapa masakan yang dipadukan malah memiliki rasa sangat buruk makanya dia menggunakan tambahan bahan lain agar rasa menyedihkan itu menghilang dan berubah jadi enak.
Jouichirou cukup terkejut melihat ini, dia memang tau anaknya sudah bisa dalam memasak meski ada kekurangan tapi kecepatan tangannya sangat terampil sekali bahkan sangat cepat hingga dia tak bisa melihat itu dengan mata telanjang yah, tapi dia bangga karena ada banyak beberapa perkembangan di Souma itu juga menjadi modal untuk ke depan nanti.
*Tingg!
"Yoshh, ini bukan seberapa!" ucap Souma menghela nafas setelah menyelesaikan masakan yang masih gantung itu sambil melihat ke arah seorang gadis bertubuh kecil berambut coklat pendek "hei, Kurase bisa kau bawa makanan ini ke meja yang ada disana?" dia meminta kepada teman yang selalu satu sekolah dengannya hingga sekarang
"Iya, aku segera datang" balas gadis itu segera dengan wajah yang panikan dan mengambil makanan itu lalu memberikan kepada meja yang sudah disiapkan.
Yah, Souma cukup senang karena ada banyak yang membantu apalagi teman-teman sekelasnya sering kesini untuk sekedar membantu atau hanya sekedar ingin menikmati makanan gratis yang sering dia lombakan dengan ayahnya meski kenyataannya dia sendiri tak pernah sekalipun menang dengan ayahnya jika adu lomba masakan siapa yang terbaik dan enak.
"Nah, gimana mau masih mencoba tarung lagi? ayahmu masih banyak waktu, ini sudah 500 kali aku selalu menang" ucap Jouichirou memasang wajah mengejek rendah ke anaknya "nah, mungkin sebaiknya kita coba sesuatu yang anti mainstream seperti sarden kering selai strawberry bukankah itu sangat tak enak?"
"Hahaha, Cumi panggang selai madu lebih jauh menjijikan dan hambar" balas Souma tak mau kalah soal masakan yang menjijikan "heleh, ayah sendiri baru menang 489 kali jadi, bermimpi saja untuk sampai lima ratus"
"Yeah, tapi itu takkan lama lagi karena kau belum mengalahkanku sekalipun" ucap Jouichirou dengan grin yang sangat menyebalkan sekali menurut Souma "iyah, meski kau terus kalah tapi, kau memiliki semangat untuk terus tak menyerah dan teruskah juga evaluasi kesalahanmu karena itu salah satu jalan untuk jadi seorang Koki sejati"
"Ayah dan anak sama saja" teman-teman Souma hanya sweatdrop saja melihat keakraban keluarga itu.
Souma hanya mendengar saja penjelesan ayahnya yang bisa dibilang sebagai pembelajaran juga, ngomong-ngomong dia sekarang sudah kelas 3 Smp dan sudah lulus sekarang lalu tinggal melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, ayahnya bilang dia sudah jadi koki hebat namun, dia merasa belum cukup dan masih banyak kekurangan lagi dalam memasak makanya dia akan meningkatkan lagi memasak dan tujuannya adalah mengalahkan ayahnya dan mengambil alih toko ini.
dan sekarang hari sudah larut malam setelah banyak pelanggan yang datang kini kedai makanan ini sepi lagi dan akan segera tutup walau begitu setidaknya sang pemilik menunggu hingga tengah malam yah, siapa tau ada yang masih orang kesini untuk sekedar makan ahh! memang seperti inilah kehidupan di kedai ini bila malam.
"Souma, segera bereskan meja dan rapihkan peralatan dapur" ucap Jouichirou memerintah karena dia merasa sudah tak ada lagi pelanggan yang datang.
"Oui!"
Terdengar suara pintu terbuka dan bisa dipastikan ada pelanggan lalu Souma menyapa ramah dengan senyuman "selamat malam tuan, apakah anda ingin memesan sesuatu seka-" dan senyumannya berubah jadi wajah masam karena sudah tau siapa yang mengunjungi kedai ini dan itu cukup menyebalkan.
seorang wanita cantik berambut ungu pendek, dengan memiliki bentuk lekuk tubuh yang bagus, mengenakan seragam kantoran, kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian atas, dibalut jas Hitam panjang tertutup, Rok mini hitam ketat, dan mengenakan Higheels dan dia bersama tiga orang bodyguard yang mengenakan pakaian yang sama pula.
"Maaf, menganggu waktu anda sebentar" ucap wanita itu dengan senyum dan dia melangkahkan kakinya dengan sengaja sambil menggoyangka pinggul meski tak ada reaksi apapun dari Souma "mungkin, kita sudah bertemu sebelum tapi izinkan saya perkenalkan diri namaku Nigesawa Saki"
"Ohh, ada yang bisa saya bantu hari ini?" tanya Souma dengan wajah anehnya lagi karena kedatangan wanita ini sudah ketiga kalinya dan waktu itu tak ada ayahnya tapi sekarang hari ini ada ayahnya dan itu cukup menyebalkan sekali.
"Ohh, mungkin ijinkan juga saya menjelaskan lagi bahwa kita akan mengadakan sebuah proyek untuk membangun apartement bertema tempat terbuka" jawab Saki dengan senyuman riang yang memiliki maksud lain "dan yang kutau kalian satu-satunya pemilik tanah ini yang tak mau menjual tanah ini huh?"
Souma menghela nafas kesal dan sudah tau wanita ini tak pernah menyerah untuk terus memaksanya pindah "dan sudah aku bilang padamu kita takkan pernah menjual ini meski kau membayar sebanyak apapun itu" dia sama sekali takkan menghancurkan kedai makanan ini yang sudah dibangun bersama ibunya apalagi ini adalah tujuannya.
Saki mengangkat sebelah alisnya dan berjalan mendekati Souma sambil jarinya mengelus tubuh bocah itu "ohh, benarkah yang kudengar kedai kecil ini cukup sulit terutama di bagian stock makanan dan bahan tapi, bagaimana kau yakin kedai ini akan bertahan apabila tak mampu menyediakan apa yang diinginkan pelanggan" dia sengaja mendekapkan dadanya ke bocah itu meski tak ada reaksi apapun dari Souma.
Souma tau hal seperti ini takkan berefek padanya bukan berarti dia tak tau seperti ini dan itu terasa enak tapi, dia mendengar beberapa orang pelanggan bicara bahwa jika seorang wanita melakukan seperti itu pasti ada maunya makanya, Souma bisa refleks biasa saja ketika ada sedikit pelecehan.
Souma mendorong wanita itu agar menjauhinya "jika, memang hal seperti itu terjadi maka kita akan menutup kedai ini atau pergi untuk bisnis lain" dia memainkan pisaunya dan bermaksud menantang.
Saki terlihat menyerah dan akhirnya memilih mengalah sebentar "baiklah jika itu yang kau bilang, aku harap sebagai seorang laki-laki kau tak mengingkari ucapanmu ok?" dia akhirnya pergi bersama anak buahnya.
"Siapa dia Souma?" tanya Jouichirou bingung dengan apa yang terjadi tadi.
"Percayalah ayah tak usah mengetahuinya" balas Souma memasang wajah jengkel atas tadi.
.
.
.
.
.
- Keesokan Harinya
Souma seperti biasa langsung pulang ke rumah setelah sekolah tinggal beberapa hari lagi dan dia belum menentukan rencana daftar ke sekolah lain setelah ini atau mungkin sedang bingung juga. niatnya sekarang setelah sekolah ini dia kembali ke kedai untuk latihan memasak lagi dengan ayahnya namun dia dapat kabar bahwa ayahnya ini sedang menutup kedai sementara karena urusan suatu hal baginya itu cukup aneh tapi yah dia harus belajar sendiri lagi.
"Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi disini?"
Souma terkejut ketika pulang ke rumah melihat kondisi bagian kedainya sangat berantakan sekali seperti ada yang merusak tempat itu dan jelas iji bukan pelaku seorang maling meski jendela terbuka, terutama dibagian penyimpanan stok makanan dan bahan semuanya sangat berantakan dan dihancurkan itu sudah sangat jelas sekali tak bisa dipakai memasak lagi dan ketika dia berjalan ke depan kedai hal serupa terjadi karena bagian depan dicoret dan dicat dengan hal aneh oleh seseorang yang iseng.
"Wah! Wah! pemandangan tempat ini lebih menarik daripada sebelumnya"
Souma melirik ke belakang dan melihat wanita itu lagi dengan senandung ria memutar kacamatanya yang memasang wajah mengejek, dan sudah sangat jelas sekali tanpa dituduh pun Souma sudah tau siapa penyebab kerusakan kedai ini dan itu cukup menjengkelkan sekali bagi Souma jika berhadapan dengan orang yang keras kepala padahal dia sendiri juga sama-sama keras kepala.
"Hey, bocah buatkan aku daging isi telur" ucap Saki langsung duduk dengan wajah merasa tak bersalah "bukankah kau bilang bahwa apabila tak bisa memuaskan para pelanggan maka kau akan tutup kedai ini bukan?"
Souma tersenyum dengan grin dia merasa tertantang dengan ini "ohhh, benarkah? jika itu yang kau inginkan maka akan aku buatkan untukmu segera" dia melepas ikat tali itu dan mengikatnya di kepala dan akhirnya dia langsung mulai memasak.
Saki terkejut mendengar pernyataan bocah ini dia fikir bocah ini akan menyerah setelah makanannya dirusak "apa? Bagaimana mungkin kau bisa memasak tanpa bahan bumbu dan daging yang kuminta?"
Souma mengabaikan itu dan mulai menggerakan tangannya dengan cepat, dia mulai memotong bumbu bawang putih, bawang merah ,kemiri, dan seledri, lalu dia mengambil kentang yang sudah direbus, lalu memasukan beberapa butir telur dan mengocoknya lalu tambahkan paprika, dan setelahnya dia memasukan semua bahan itu ke dalam wajan dan mulai memasaknya dengan minyak zaitun. (A/N : Sorry jika penjelasan saya agak kurang bagus karena saya sendiri tak ahli sama sekali dalam ini namun diusahakan sebisa mungkin)
Dan setelah beberapa menit Souma langsung menyajikan masakannya ke dalam piring "sudah, selesai ini adalah daging kentang dibalut telur ala Yukihira dan sesuai yang kau inginkan" dia menatap wanita itu dengan tatapan merendah.
Saki menatap Souma dengan sinis "hah apa ini kentang? kan sudah kubilang isinya daging bukan kentang apa kau lupa?" dia menggebrak meja dengan nada sangat jengkel sekali "dengarkan aku yah, yang kau buat ini adalah sebuah kegagalan dan segera kau pergi lalu kosongkan tempat ini segera"
Souma malah menyeringai melihat reaksi ini "hoh? kau bisa bilang begitu setidaknya jika kau mencicipi masakan yang penuh kegagalan ini apabila gagal maka sesuai janji kita tutup toko ini" dia mendekatkan masakan buatannya ke wanita itu "dan juga kau boleh berkomentar buruk atau bagus setelah mencicipinya"
Saki akhirnya mau mencoba masakfn itu bukan karena terpaksa atau ingin membuktikan kepada bocah itu bahwa masakannya tak enak tapi, aroma dari masakan itu masuk ke dalam hidungnya dan mengajaknya untuk memakan ini hingga habis lalu langsung memasukannya ke dalam mulu.
"Hngh!"
Souma menyeringai ketika melihat reaksi wanita itu dengan blush kecil di pipi dan sudah dipastikan ini adalah kemenangannya, Saki merasa sesuatu yang sangat lembut dan nikmat sekali di dalam mulutnya dan sangat meleleh ketika sudah dikunyah.
"Ohh, kau terlihat sangat menikmati masakan yang penuh kegagalan itu" ucap Souma dengan grin merendahkan wanita yang terkejut itu karena wajahnya terlalu dekat "aku mencincang jamur dicampur Data dengan telur kocok dengan serat diet agar mudah melenyapkan lemak lalu memasaknya dan setelah merebus kentang aku lilitkan kentang itu dengan irisan telur masak, lalu menggorengnya lagi dengan minyak zaitun agar teksturnya lebih renyah dan kering lalu waktu masuk ke dalam mulut terasa basah"
"Ma-mana mu-mungkin ka-kau menyebut ini sebuah daging" ucap Saki dengan suara terbata dan tubuh gemetar tampak blush di wajahnya makin jelas, meski dia bilang tak enak tapi tubuhnya tak bisa berbohong untuk memakan masakan itu lagi bahkan mulutnya terus meronta untuk makan lagi.
Souma langsung menarik makanannya "eitss! tak bisa semudah itu tante, jika kau ingin lagi maka berjanjilah untuk tak kembali lagi dan mengacaukan toko ini" dia berbalik badan dan berniat untuk pergi "dan terakhir kau harus mengganti rugi semua kerusakan yang kau buat tapi, jika tidak mau yah, sangat disayangkan aku harus membuang makanan ini"
"Tu-tunggu! jangan dibuang!" teriak Saki yang sudah tak tahan ingin memakan itu lagi dan tubuhnya sudah tak bisa berbohong lagi "ba-baiklah aku a-akan kabulkan keinginamu ku-kumohon jangan dibuang ma-makanan itu" dia memasang wajah memohon dengan kedua tangan disatukan, mata ke arah lain, dan blus di wajahnya seperti seorang gadis kecil yang meminta permen dan itu terlihat imut sekali.
Souma tersenyum dengan penuh kemenangan dan memberikan makanan itu kepada mereka yang secara berebutan ingin memakannya dan dia hanya membiarkan itu lalu dia melepas ikat tali kepalanya dan menatap orang-orang yang mengalami Foodgasm
"Ini bukan seberapa"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Beberapa Jam Kemudian
Setelah kejadian itu mereka akhirnya pergi juga dan Souma langsung membereskan kedak yang berantakan tadi dan setelah itu dia membersihkan lemparan cat yang menutup nsma kedai Yukihira dengan air meski agak sulit tapi beruntung saja yang dikenakan bukan cat permanen meski banyak pengganggu tapi dia takkan membiarkan siapapun merusak tempat yang banyak kenangan ini dan juga diq bisa memasak di tempat ini.
"Hmmm, tampaknya telah terjadi sesuatu yang ramai disini?"
Souma melihat ayahnya yang sudah pulang dengan tas "hmm, kau sudah pulang dari urusanmu?" dia kembali membersihkan cat tadi.
"Yah, banyak hal yang terjadi disana dan aku sudah selesai dengan urusanku" jawab Jouichirou langsung masuk ke kedai "ohh, ya ngomong-ngomong Souma aku akan pergi keluar negeri selama tiga tahun dan akan menutup toko selama itu" dia berbicara santai seolah tak terjadi apapun atas ucapannya atau dampak akibatnya alhasil Souma langsung jatuh dari tangga.
*Gubrakkk!
Souma langsung bangkit sambil memegang kepalanya yang agak nyeri "tunggu, apa maksudmu ayah! berhentilah bicara hal absurd seperti itu dan gak lucu sama sekali" dia ingin tau apakah ini bercanda atau serius jika, iya berarti dia ingin tau alasannya.
"Yah, seorang teman lama memintaku untuk kembali bekerja lagi" jawab Souma dengan wajah santai dan biasa saja "dan setelah ini aku akan berkemas untuk berangkat dan kau tak usah khawatir dengan uang saku karena aku akan mengirimmu uang seminggu sekali"
"Tu-tunggu aku masih ingin di toko ini dan masak bersamamu.." ucap Souma tak tau harus berbicara apa untuk menahan ayahnya agar tak pergi namun nampaknya itu adalah hal mustahil 'dan juga aku masih belum bisa mengalahkanmu'
Jouichirou tersenyum dan tinjunya di pundak anaknya "sudah saatnya kau lepaskan sayapmu ke dunia luar dan ukurlah kemampuanmu yang sekarang ini, meski aku sudah banyak hal yang kuajarkan padamu namun teori saja tak cukup apalagi menurutku kemampuanmu ini masih jalan di tempat" dia memasang grin yang berbeda "cobalah untuk masuk ke sekolah memasak dan ayah sudah mendaftarkanmu kesana"
"Sekolah memasak? kenapa aku harus kesana?" ucap Souma bingung apalagi yang ada di khayalannya ada sekolah memasak sesuatu yang biasa saja dan tak ada yang menarik.
Jouichirou menepuk pundaknya "percayalah kau akan tertarik jika sudah mengetahui yang sesungguhnya lagipula ketika disana kau akan terus tertantang dan juga kau akan bersaing dengan anak seumuran dalam hal kehebatan dan di tempat itulah kau bisa menguji dirimu sendiri apakah sudah berkembang atau gitu-gitu ajah?"
Souma sedikit berfikir yah, dia tak melihat wajah ayahnya yang sedang bohong atau ekspresi menjengkelkan seperti biasa dan itu terlihat serius sekali tapi, jika yang diucapkan ayahnya benar maka itu cukup menarik namun dia harus memastikan itu sendiri agar lebih percaya.
"baiklah jika ayah berbicara seperti itu" Souma hanya mengangguk menurut.
"Bagus, kau akan kuberi tau tempatnya" ucap Jouichirou dengan seringai senang.
.
.
.
.
.
- Tootsuki Academy
"Buse! Gede banget!"
Souma berteriak sangat terkejut sekali bisa dibilang adalah kagum dengan kondisi bangunan sekolah memasak yang akan jadi tujuannya nanti yah, sangat besar, luas, dan banyak bangunan yang tak dia ketahui dimana-mana dan nisa dibilang ini baru pertama kalinya dia melihat yang begitu besar sekali bahkan dibandingkan dengan sekolah lain tempat ini sangat luas mungkin melebihi lapangan sepakbola.
"Tunggu! Jangan keluarkan anakku! aku akan membayar berapapun dan kumohon buat anakku masuk kembali!"
"Argghhh! aku benar-benar gagal dalam ujian kenaikan! dan aku tak bisa memasak lagi!"
"Ghahhhh! ini benar-benar berakhir bahkan aku takkan masuk kesini lagi!"
"Ughh, sial aku tak bisa berbuat banyak lagi dan berakhir sudah!"
Souma melihat beberapa orang yang mengenakan pakaian khusus memasak bisa dibilang mereka adalah murid-murid di Academy ini dengan wajah penuh depresi dan putus asa bisa dibilang mereka pasti dikeluarkan dari Academy ini karena sebuah kesalahan meski begitu Souma tak mengira bakal ada yang seperti ini yah, apa yang ayahnya bilang tadi benar bahwa sekolah ini cukup keras bahkan dengan uang saja tak cukup untuk memasukan mereka ke sekolah ini apabila skill memasak nol dan ini cukup membuatnya sangat tertarik.
Yah, dengan pemandangan seperti tadi menjelaskan bahwa sekolah ini bukan sekolah memasak biasa saja dan itu terbukti banyak yang gagal jika, dia menyia-nyiakan kesempatan ini maka impiannya untuk melampaui ayahnya bakal berakhir seperti abu yang ditiup angin.
*kringg! *kringg! *kringg!
tiba-tiba saja ayahnya menelpon dan Souma langsung mengangkatnya "halo ayah disini Souma? aku sudah sampai di Academy yang ayah maksud dan sangat besar dan luas sekali!"
"Sudah kubilang bukan ini adalah sekolah memasak terbaik yang ada di Jepang dan hanya dari kurang 10% murid-murid yang berhasil lulus disini"
"Tunggu, ayah ada dimana sekarang?" tanya Souma mendengar suara berisik dibalik telepon ayahnya.
"Aku sekarang ada di New York ruaang khusus VIP yah lebih tepatnya di Hotel Royal Manhattan dan sekarang aku sedang memasak"
"Ohh, pantas saja" Souma mengangguk mengerti.
"Dengarkan aku Souma jika kau tak bisa bertahan di sekolah itu hingga lulus nanti maka impianmu untuk mengalahkanku hanyalah bualan tak berarti saja"
Souma menyeringai mendengar tantangan ini "hah, yang benar saja mustahil aku hapuskan impian itu"
"Dan satu hal lagi Souma yang perlu kau ingat ini dan sebagai referensi agar menjadi koki hebat adalah bertemu seorang wanita yang ingin selalu kau buat masakan untuknya tanpa mempedulikan apapun itu"
"Ohh, begitu? ya! ya! ya!" ucap Souma hanya asal faham saja meski kenyataannya dia bahkan masih bingung di kata terakhir dan akhirnya telepon ditutup.
*tuttt!
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Ruang Ujian Masuk
Tampak seorang gadis cantik dengan tubuh bagus memiliki rambut jingga terurai panjang dengan dua helai rambut yang melingkar ke pipi, dengan mata warna violet, mengenakan kemeja kancing, dibalut Jas biru, dan rok pendek belang sepaha bisa dibilang itu adalah seragam Academy Tootsuki dengan ekspresi wajah yang seolah merendahkan terhadap orang-orang yang ada di depannya sebut saja Erina Nakiri.
Dan sebagai salah satu seorang murid terbaik di angkatan tahun ini tengah ditugaskan oleh kepala sekolah sekaligus kakeknya untuk menjadi seorang penguji bagi orang-orang yang ingin mendaftar ke dalam Academy ini yah, ini pekerjaan yang cukup melelahkan sekali karena harus menghadapi orang-orang tak berbakat itu tapi meski dibilang begitu dia tetap lakukan karena citranya sebagai salah satu anggota Elite 10 akan turun jika melakukan sesuatu negatif.
sebenarnya Erina sendiri tak suka menghadapi mereka karena kebanyakan yang mendaftar ke Tootsuki ini biasanya orang-orang yang menggunakan uang dan membanggakan restaurant besar yang bukan pasti milik mereka dan jika ditanya soal skill memasak pasti nol dan tak bisa memanjakan lidahnya itu kebanyakan rasanya macam gak karuan dan gak ada yang bisa menyenangkan lidahnya kecuali orang itu.
Erina memiliki julukan 'Lidah Dewa' bahkan orang-orang yang mendengar nama itu pasti gemetar ketakutan dan selalu saja menaruh hormat padanya apalagi jika dia membuat sebuah keputusan 'menjijikan' atau 'tak enak' pada sebuah restaurant maka reputasi restaurant itu bakal anjlok besar apalagi dia adalah cucu dari kepala sekolah Tootsuki ini jadi, kredibilitas dan elektualitasnya sudah terbukti.
"Hah, Hisako berapa banyak orang-orang yang mendaftar?" tanya Erina menghela nafas kepada Asisten pribadinya, dia ingin segera cepat akhiri ini dengan cepat dan membaca manga Soujo yang sudah ditunggu.
seorang gadis berambut pendek pink agak gelap menjawab "uhmm, sebenarnya yang mendaftar ada 100 orang Erina-sama dan itu juga tergantung anda menilai mereka dan agar bisa masuk kesini" dia melihat catatan beberapa lembar bisa dibilang jadwal gadis pirang ini.
Sementara itu sang character utama kita Yukihira Souma sudah sampai di tempat ini juga, dia melihat sekeliling sangat ranai juga orang yang mendaftar untuk masuk ke dalam Academy dan bisa dibilang mereka juga ingin jadi koki hebat sama seperti dirinya tapi, sebelum itu dia harus melewati ujian awal ini untuk langkah selanjutnya.
Souma melihat Erina yang memakai Academy tengah berbicara dengan seorang gadis juga mungkin temannya dan dia juga memperkenalkan diri sebagai seorang penguji ah, mungkin dia orangnya dan ditambah Souma merasa atmosfir di sekitar sini cukup tegang ,dan banyak ketakutan meski dia sendiri biasa saja yah, dia cukup mengikuti aturan yang diperintahkan lalu bisa diterima disini.
"Baiklah, kita akan mulai disini dan bahan utama adalah telur dan kalian yang membuat makanan enak bakal diterima di Tootsuki" ucap Erina menunjuka bahannya dan dia memberi tatapan kejam yang membuat lainnya ketakutan meski ada satu orang yang biasa saja "dan kalian kuberi waktu selama satu menit jika tak sanggup maka tolong angkat kaki dari Academy ini"
'Telur huh?..' Souma menyeringai mendengar bahan yang akan dibuat dan dia punya beberapa makanan yang terbuat dari telur dan ini cukup mudah tapi, ada reaksi mengejutkan dari yang lainnya yah, karena diberi waktu jadi dia bikin yang baru saja
*Brakkk!
"Wahhh! dia benar-benar iblis dan tak kemanusiaan!"
"Dia kejam sekali satu menit? mana mungkin bisa dilakukan"
"Ahhh, aku tau ini benar-benar mustahil!"
"Impianku berakhir sudah!"
"Huh?..." Souma melongo melihat reaksi yang lainnya ketakutan dan memilih kabur padahal ini kesempatan bagus namun mereka sia-siakan saja dan dia memegang salah satu orang dan bertanya "hei, tunggu kenapa kalian semua pada pergi? bisa jelaskan semuanya kepadaku?"
"Tunggu kau tidak kenal? dia salah satu lulusan terbaik di Smp ini dan juga dia merupakan generasi termuda dan terbaik yang bisa masuk Elite 10 dan dia memiliki cita rasa terbaik dan dijuluki 'Lidah Dewa' " jawab Orang itu gemetar ketakutan setengah mati "dan dia adalah seorang juri industri terkenal jika dia bilang masakanmu tak enak maka karirmu sebagai koki akan hancur berantakan"
"Oh!" Souma hanya mengangguk saja dan melepaskan orang itu meski dia kurang faham dengan ucapan yang agak berbelit seperti kabel.
Erina menghela nafas bosan melihat orang-orang ketakutan padahal dicoba saja belum "hah, sudah kuduga mereka ingin masuk sini cuman modal uang dan membanggakan restaurant besar keluarga mereka dan skill mereka tak ada hufft sungguh tak berguna sekali dan menghabiskan waktuku saja" dia berbalik badan "Hisako jadwalku setelah hari ini apa? jika tak ada maka aku akan memasak lagi"
"Uhmmm, tinggal ada dua jadwal lagi yang harus diselesaikan" jawab gadis yang bernama Hisako ini.
Souma melihat gadis itu ingin pergi dan memanggilnya "Oii! kau gadis yang disana, aku masih disini dan ujiannya belum berakhir" dan membuat gadis itu berhenti dan menoleh "kau bilang aku boleh buat apapun? asalkan bahannya telur dan kurang dari satu menit?"
Erina menatap Souma dengan wajah ragu sambil merendahkan "ohhh, kau yakin dengan itu? apabila kau tak kuat maka aku akan memberikanmu keringanan dan segera pergi dari sini yah, jika kau bersikeras maka biarlah"
Souma tersenyum dengan menampilkan gigi seolah tertarik "Ohh apakah wajahku ini terlihat sedang bercanda?" dia langsung meja dapur yang sudah disiapkan.
Souma bisa melihat peralatan masak dapur yang sangat bagus dan berkualitas sekali bahkan bahkan bumbu tambahan dari terbesar hingga terkecil sangat komplit sekali tanpa ada kekurangan sedikit pun itu wajar saja karena ini adalah sekolah memasak terbesar dan terhebat di Jepang ini jika seperti ini tak ada maka sangat memalukan sekali.
"Baiklah, jika kau memaksa maka aku akan mencicipi masakanmu" ucap Erina tersenyum sinis ke arah Souma ketika dia sudah tau latar belakang keluarga Souma yang tak lebih hanya koki rendahan kelas dua yang tak tau apapun tentang seni memasak dan sudah bakal menduga masakannya akan absurd seperti daging mentah bahkan mungkin saja Souma memasak seadanya saja.
Souma sedikit melirik ke gadis itu dia sudah menduga tatapannya yang seperti itu mengejek dan merendahkan kualitas memasaknya dan itu cukup mengesalkan sekali tapi, Souma sudah terbiasa karena sering melihat ini yang perlu dia lakukan sekarang adalah bukti nyata untuk membungkam mulutnya yang agak kasar itu dengan masakannya agar tau cara bilang enak.
"Baiklah, akan aku buatkan ini sesuai yang kau minta" ucap Souma mulai memasak.
Hisako melihat ke arah Souma yang sedang memasak dengan wajah aneh dan bingung terhadap lelaki ini yang biasa saja terhadap Erina-sama padahal siapapun yang mendengar namanya bakal ketakutan bahkan langsung menyerah begitu saja tapi, laki-laki ini agak lain bahkan seolah dia tak peduli dengan emblem itu tapi, dia berharap saja ada sedikit perubahan dari laki-laki ini yang memiliki wajah lucu menurutnya secara pribadi.
Erina cukup memantau apa yang laki-laki ini buat dan terlihat sudah hampir selesai yah, karena waktu yang dia berikan cuman satu menit dan dari yang dia lihat orang bernama Yukihira ini sedang membuat Furrikakke Gohan dan yang dia tau ini sangat berbeda dari jenis yang dia makan dari berbagai tempat dengan sebuah kemawahan namun, orang ini menghancurkan semuanya tapi dia memilih untuk berbicara nanti saja.
*Tinggg!
"Baiklah aku sudah selesai.." ucap Souma dengan grin senang setelah selesai dan dia membawa masakan telur itu dan semangkuk Nasi "dan ini untuk sentuhan terakhirnya" dia mencampurkan telur itu ke dalam Nasi.
Erina sangat terkejut ketika melihat tampilan makanan itu ketika digabungkan bahkan membuatnya ingin mencicipi itu karena penasaran sekali dengan tampilan menarik itu, jika dilihat lagi telurnya langsung meleleh bersama panas nasi dan melumuri nasi itu , ditambah aroma rebusan ayam yang sangat kuat sekali hingga membuatnya sedikit terangsang hingga blush kecil di wajahnya yah, intinya makanan ini mengajaknya untuk memakannya.
Souma menyeringai penuh kemenangan ketika melihat reaksi Erina yang agak lembut dan berbeda ini sudah jelas bahwa dia masuk ke dalam perangkapnya terlebih dia jadi ingat ucapan ayahnya yang selalu teringiang dan diingat di otaknya yah, dan saran itu akhirnya memang berguna dan bisa dipraktekkan disini tapi, itu masih belum cukup.
"Dengarkan aku Souma, syarat sebuah makanan yang sangat enak itu ada dua hal yaitu tampilan makanan dan yang kedua adalah aroma ketika kau tak memenuhi dua syarat itu sudah jelas masakanmu menjijikan"
"Jika kau sudah selesai, cepatlah kemari" teriak Erina tapi rona merah di pipinya masih belum hilang.
Erina mencipipi itu dengan sekali suap dan merasakan sesuatu yang kenyal di dalam mulutnya dan dia bisa mengasumsikan bahan apa yang dibuat dari telur ini, kaldu daging ayam yang terasa asin, ditambah rasa telur yang lembut dan memanjakan mulut di setiap gigitannya, dan kaldu daging yang mencair waktu ketika masuk ke dalam mulut sangat berbeda bahkan ini baru pertama kalinya dia merasakan rasa yang enak dan berbeda.
"Jika, kau bilang ini rendahan tapi jika dikelola oleh orang yang ahli maka masakan ini akan jadi berkelas" ucap Souma dia melihat Erina yang terus melahap masakannya tanpa henti bahkan hingga pipinya memerah.
Erina cukup diam dengan ucapan tadi dan memilih kembali memakan masakan ini yang terus memaksanya, meski dia tak ingin mengakui ini tapi mulutnya tak berhenti untuk terus makan yang serasa dikelilingi oleh malaikat bersayap walaupun begitu dia sebenarnya ingin bilang tak enak atau menjijikan tapi anggota tubuhnya terus memaksanya berkata jujur dan kenyataannya bahwa ini sangat enak sekali.
Dan akhirnya Erina terjatuh merasakan Foodgasm yang sudah cukup lama tak dirasakan yah, daripada berdebat pada tubuhnya dan memaksakan diri lebih baik dia menyerah saja untuk bersikap keras kepala dan mulai membiasakan diri untuk terus terang.
"Erina-Sama?" Hisako agak khawatir dengan teman masa kecilnya yang bertingkah berbeda dan tak biasanya yah, jika dilihat lagi ada sedikit perubahan.
Souma mendekati gadis itu dan sedikit menarik bajunya membuat Erina sangat shock "yah, dengarkan aku seorang koki hebat itu tak peduli darimana kau berasal mau itu restaurant rendahan ataupun mewah selama kau memiliki niat dan kesukaan terhadap memasak maka kehebatan itu bakal muncul sendiri asalkan berusaha dan tak ingin menyerah" dia agak mundur sedikit "dan juga bagaimana dengan masakanku? enak bukan?"
Erina tau ini tak bisa dibohongi lagi dan akhirnya menjawab "ma-maafkan a-aku ma-ma-masakan ka-ksu e-enak" dia berbicara dengan nada terbata-bata dan suara pelan tubuhnya bergetar dan menatap ke bawah "ka-kau lu-lulus dan berhasil... melewati ini dan kau juga diterima disini"
Hisako terkejut mendengar pernyataan Erina-sama yang belum pernah terdengar bahkan itu cukup lama sekali ketika Erina-sama bilang enak ke suatu makanan buatan orang lain yah, itu karena ketutupi sikap sombong dan keras kepalanya juga yang membuatnya seperti ini tapi, kedatangan lelaki ini mengubah segalanya yang ada di diri Erina-sama dan kembali seperti semula.
'Yah, aku harap dia orang yang bisa mengubahnya' batin Hisako tersenyum penuh harap ke arah Souma.
Souma mengambil Formulir itu dengan wajah kesenangan "yosh, akhirnya berhasil juga" dia mengepalkan tangannya lalu pergi tapi dia balik lagi karena bingung harus kemana "ngomong-ngomong setelah ini aku harus kemana?"
"Hmmm, kau harus ke Kantor yang ada di atas dan memberikan kertas itu" jawab Hisako agak canggung.
"Baiklah, dan bilang padanya aku minta maaf" balas Souma lalu pergi lagi.
Erina masih terdiam dalam Foodgasm yang cukup lama sekali dengan nafas tersenggal dan wajah memerah berat.
'kenapa aku jadi teringat dia lagi ketika mencicipi masakan ini?'
.
.
.
.
.
- Upacara Pembukaan
Semenjak sebulan setelah kejadian itu Souma sekarang sudah kembali ke Academy Tootsuki ini dan setelah dia melewati ujian awal masuk dari Erina dan berhasil lulus meski ada kejadian yang cukup lucu juga waktu itu tapi, yah hal yang seperti itu sudah sering terjadi dan anak dari Jouichirou ini hanya biasa saja menanggapi itu.
Sekarang semua orang murid-murid Tootsuki dari kelas tiga hingga satu dikumpulkan semua di lapangan besar untuk menghadiri acara pembukaan dan sambutan untuk menerima murid-murid baru dari sekolah lain tapi, kebanyakan disini hanya kelas satu dan dua sementara kelas tiga hanya ada beberapa saja.
Tampak berdiri dengan tegap dan gagah seorang kakek tua yang sudah kelewat umur di panggung dengan tangan melipat dengan rambut putih panjang disisir ke belakang, dengan tatapan mata yang tegas dan penuh intimidasi bagi siapapun yang berhadapan dengannya ditambah lagi bekas luka sayatan di mata kanan yang menambah kesan yang menakutkan, mengenakan kimono hijau tua dibalut mantel hitam.
Sebut saja kakek tua ini bernama Senzaemon Nakiri, Direktur sekaligus kepala sekolah Academy Tootsuki dan juga kakeknya Erina meski umurnya sudah kelewat uzur tapi semangatnya seperti anak muda ini tetap bergelora untuk membangkitkan hasrat anak-anak baru ini dalam memasak yang akan jadi sebuah permata indah.
"Para hadirin selamat atas kalian ysng berhasil masuk ke sekolah ini dan dalam tiga tahun terakhir ini kalian sudah mengerti dasar memasak dan pengetahuan, tapi..." ucap Senzaemon menunjuk ke depan "95% dari kalian pasti akan kebanyakan gagal dan 5% persen sisanya akan berhasil dan dipoeles seperti batu permata yang berharga"
"Tahun lalu ada 800 orang yang berhasil mendaftar ke sekolah ini dan yang berhasil naik ke kelas dua hanya ada 100 orang dan kami disini juga akan menggagalkan orang yang tak kompenten dan menjadi salah satu koki handal jadi, aku harap kalian curahkan diri untuk memasak" dan akhirnya dia berjalan turun dari panggung.
"Horahhjh!"
"Yeahhh!"
"Aku akan lulus!"
"Dan kita akan mengucapkan salah satu Siswa yang lulus masuk SMA" ucap sang pembawa acara.
Souma merasa namanya terpanggil karena cuman dia yang satu-satunya yang lulus waktu ujian masuk sedangkan lainnya langsung kabur begitu saja, dan dia naik ke panggung lalu melihat banyak sekali orang itu wajar saja karena ini sekolah besar dan ditambah banyak bisik-bisik diantara murid lain.
Yah, Souma sudah mendengar bisik-bisik itu ditunjukan jelas kepadanya dan juga kagum bagaimana dia bisa melewati ujian yang dilakukan oleh Erina padahal itu cukup mudah menurutnya tapi, mungkin saja gadis itu adalah orang besar yang terhormat makanya banyak yang takut ketika memintanya untuk mencicipi makanan dan ditambah dia cuman satu-satunya orang yang lulus jadi itu sudah pasti jadi perbincangan banyak orang.
Souma sudah berdiri di podium lalu berdehem sedikit "hmm, baiklah mungkin hanya ada beberapa kata saja yang ingin aku sampaikan disini karena aku agak canggung dengan hal seperti ini" dia menggaruk kepalanya yang tak gatal "namaku Yukihira Souma mungkin secara mengejutkan aku bisa lulus dan masuk ke sekolah ini tapi, satu hal yang pasti aku akan menjadi orang nomor satu di Tootsuki dan menjadi Koki yang sangat hebat jadi, sekian terima kasih banyak"
Setelah membungkukkan bandannya Souma meninggalkan podium dab mendapat reaksi tepuk tangan dan sebuah ucapan selamat datang yang kebanyakan dari kaum hawa yang terlihat mendukungnya namun, ada positif tapi dia juga dapat respon negatif dari kaum adam yang kesal, benci, emosi, dan ingin berteriak kasar ke arah anak Jouichirou ini.
"Wow, dia benar-benar menarik ketika berbicara serius seperti itu"
"Hmm, jadi dia akan satu kelas bersama kita huh? memang itu yang diharapkan dari orang yang sudah lulus dari ujian nona Erina"
"Dia agak lucu waktu canggung seperti itu"
"Nomor satu heh? aku harap sebagai laki-laki dia buktikan ucapan itu namun aku takkan kalah juga"
"Brengsek kau! dasar tukang pamer!"
"Kau ini cuman beruntung! paling juga nanti dikeluarkan"
"Dasar anak baru sok jagoan!"
"Kesini kau! Akan kutunjukan padamu cara memasak"
"Ahhh, benar-benar sambutan yang hangat sekali" komentar Souma sweatdrop melihat kericuhan yang dibuat olehnya dan tak lwma dia melihat wajah familiar lagi di depannya gadis dengan rambut jingga "yo, Ojou-sama kau ada disini juga rupanya? dan bagaimana kabarmu?" dia menyapa dengan ekspresi meledek.
Erina langsung blushing dan bertingkah kacau "a-apa-apaan ta-tadi ma-maksudmu?! Uhghhg... lupakan saja lagipula kenapa kau ada disini?" entah kenapa wajahnya jadi panas oleh sebutan tadi.
Souma memasang wajah konyolnya "hehhhhh? Aku ini kan murid baru yang diterima masuk ke Academy Tootsuki ini setelah lulus melewati ujian yang kau waktu itu? jadi sudah sewajarnya aku kesini dong?"
Erina berbalik badan dengan sikapnya kembali normal "dengar yah Yukihira-kun meski kau mendapatkan pengakuan dariku tapi modal seperti itu saja takkan cukup untuk membawamu menjadi seorang koki nomor satu" dia memasang sikap seorang Ojou-samanya lagi "dan di sekolah ini banyak sekali koki hebat dan berbakat yang melebihimu dan kau akan jatuh jika bersikap meremehkan seperti tadi"
Souma menyeringai penuh tantangan "hm? terima kasih sudah memberi saran kepadaku meski aku sudah tau bakal banyak orang yang menyusahkan disini untuk menghalangi impianku tapi, itu bukan berarti aku datang dan daftar kesini bukan tanpa persiapan juga" dia menunjuk ke arah Erina ",dan aku bisa buktikan bahwa aku layak jadi nomor satu dan koki yang hebat"
Erina memalingkan muka ke arah lain "hmmpp! Aku ragu kau bisa menepati ucapanmu itu"
Sementara itu agak jauh dari mereka Senzaemon memperhatikan keakraban cucunya dengan salah satu anak yang memiliki julukan Iblis Asura dan ada sedikit bumbu persaingan juga mungkin tahun ini bakal menjadi sesuatu yang menarik lagi.
'Hmmmm! Anak Malaikat berhati Iblis bertemu denga Anak titisan Iblis Asura huh? Jouichirou idemu lumayan cukup menarik sekali'
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
Seorang gadis yang berdiri dibalik pohon dengan senyuman dan nads bersenandung ria ketika dia melihat sesuatu yang menarik sekali waktu upacara pembukaan tadi dan yah, dia tertuju pada salah satu seorang murid baru yang mendeklarasikan diri akan jadi koki nomor satu sambil mengibarkan bendera perang kepada murid-murid lain dan satu hal yang membuatnya tertarik adalah bisa membuat sekeras kepala Erina Nakiri akhirnya menyerah.
Mungkin jika, dia tak mengecek sendiri maka sulit mempercayai itu tapi ketika melihat ekspresi wajah Erina yang memerah malu dengan nafas tersenggal dan wajah itu menunjukan suatu kekalahan yah, hal seperti itu saja sudah menarik karena gadis itu tak pernah menunjukan ekspresi selain angkuh dan merendahkan orang lain.
"Ohhh, Yukihira Souma huh? cukup menarik" gadis itu menunjukan grin yang tak biasa "yah, aku akan melihat itu sendiri dan memeriksanya"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Dan cuttt! Akhirnya selesai juga dan maafkan aku jika tulisan dan kata yang agak janggal dan aneh untuk dibaca tapi aku sebisa mungkin untuk tetap yang terbaik dari biasanya ahhh, dan ini aku nyatakan hidup lagi, dan aku lebih suka nulis Souma daripada Soma.
Pm
RnR
,
