A Recantation
Naruto by Masashi Kishimoto
*
Chapter 11
Lemah
"Menjadi lemah adalah hal yang mudah, menjadi kuat juga demikian. Adalah tentang kemampuan dan keberanian mengakui keadaan kitalah yang sulit."
.
.
.
Shikadai terbangun dengan mimpi yang sama. Dengan nafas yang memburu dan keringat dingin membasahi keningnya. Matanya menatap tak fokus ke segala arah.
Menyedihkan.
Seakan memorinya memaksa lupa akan apa yang terjadi dan enggan membagi ruang dengan yang lain.
Shikadai mengerti. Ini sebuah trauma yang akan membekas. Bukan dia tidak bisa bangkit dan melupakan, semua ini adalah masalah waktu dan pengertian.
Shikadai tidak akan menceritakan lebih lanjut tentang deritanya. Tidak untuk berulang kali. Biarkan setiap yang bertanya menafsirkan sendiri apa yang telah ia alami. Ini tidak seperti semua orang akan salah paham padanya. Shikadai hanya ingin setiap orang melihatnya dengan apa yang orang-orang harapkan terlihat padanya. Seorang anak yang tangguh. Dia pemimpin dalam kelompoknya, kelemahan yang berlarut tidak akan membantu anggota timnya yang masih bertahan. Meskipun besar kemungkinan dirinya tidak akan lagi menjadi pemimpin kelompok yang sama.
Selain itu, selama ini ayah dan ibunya tidak menuntut untuknya tetap tegar. Shikadai sadar itu. Tetapi ia juga menyadari tatapan pilu ibunya yang selalu berada di sampingnya saat ia terbangun. Berlarut dalam traumanya tak akan membantu membuat ibunya merasa tenang.
Anggap ini sebagai rasa terima kasih, walau tidak akan pernah cukup. Mengingat ibunya yang selalu ada disisinya saat mimpi-mimpi itu menggerayangi. Yang selalu memberikan senyum sedihnya dan mengusap lembut keningnya ketika ia terbangun dari mimpi buruk. Ibunya akan menciumnya lalu berbisik lembut, "Semua telah baik-baik saja."
Bagai mantra, Shikadai tak mempertanyakan apapun tindakan ibunya tersebut. Ia hanya mengangguk dan kembali tertidur untuk beberapa saat, atau terkadang ia akan mengikuti ibunya dan menunggu sarapan paginya disiapkan.
Karena nyatanya, tidak ada yang perlu ditanyakan dari masa lalu yang kelam. Semua berakhir di hari yang sama kejadian itu berakhir. Tak bisa diubah atau memaksa mengubahnya.
Atau mungkin saja,
bisa.
Dengan cara yang sederhana yang tidak pernah ia duga. Nyatanya masa lalu adalah sesuatu yang secara harfiah bisa diubah.
Pagi-pagi sekali ia dibangunkan untuk bersiap menemani ayahnya pergi ke tengah hutan Klan Nara. Musim dingin segera tiba. Rusa-rusa tua membutuhkan lebih dari sekedar kehangatan kelompoknya, maka dari itu ayahnya akan memberikan vitamin tambahan pada sumber air minum para rusa tersebut.
Telah menjadi tradisi bagi ketua klan untuk menaruh satu bak kayu besar berisi penuh air yang telah ditambahkan dengan vitamin. Ketika anggota klan yang bertugas menjaga hutan melihatnya, maka itu tanda bagi keluarga yang lainnya untuk bergantian melakukan hal serupa.
Saat ini, ayahnya yang tidak lain adalah ketua Klan Nara melakukan tugasnya, lebih awal, sebelum ayahnya kembali menjalankan tugas utamanya sebagai penasihat Hokage. Shikadai diajak seperti biasa agar ia membiasakan diri dengan tradisi sederhana ini. Shikadai tidak keberatan. Ini adalah tugas yang cukup menyenangkan. Setidaknya ia bisa beristirahat sejenak dari pemikiran-pemikiran merepotkan yang menghantuinya.
Mereka berdua berjalan menyusuri hutan lewat jalan setapak yang umum digunakan di hutan. Hutan klan Nara di pagi hari selalu menyajikan misteri tersendiri bagi Shikadai, meskipun ia cukup sering berkunjung kesana. Setiap langkahnya seolah tak lepas dari pandangan para rusa yang mereka temui. Ibunya selalu mengatakan bahwa ia butuh bertahun-tahun membiasakan diri dengan tatapan para rusa yang seakan mengintimidasi para pendatang seperti dirinya.
"Shikadai," suara ayahnya menginterupsi langkahnya. Dia berbalik dan melihat ayahnya berada beberapa langkah di belakang. Entah berapa lama ia terbawa dalam lamunannya dan tidak menyadari ayahnya yang telah berhenti.
"Kau lihat jalan disana," ayahnya menunjuk pada jalur yang dipenuhi semak belukar dan pepohonan rindang yang begitu padat. Menunjuk pada satu-satunya jalur yang dijaga rapat oleh para rusa jantan pemimpin kelompoknya. Menunjuk pada satu-satunya jalur yang hanya ayahnya yang bisa melewati jalan itu, bahkan anggota klan yang lain lebih memilih memutar jalan dibandingkan berhadapan langsung pada agresifnya para rusa yang menjaga jalur tersebut. Seakan menjadi hal yang eksklusif bagi ayahnya semata.
Shikadai mengangguk, matanya masih tak lepas dari gelapnya hutan itu.
Shikadai selalu ingin tahu apa yang tersembunyi di ujung jalur tersebut. Begitu gelap dan mencekam, sesuatu yang bahkan ibu dan neneknya tak pernah berani bicarakan. Tetapi kini, tiba-tiba saja ayahnya membuka pembicaraan tentang jalur itu.
"Jika kau berjalan lurus ke tempat dimana para rusa tak melepaskan pandangannya padamu, tidak akan ada hal indah yang menyambutmu. Kau hanya akan melihat tanah yang sedikit terbuka dari rimbunnya pepohonan. Disana terdapat gundukan tanah yang dikelilingi tali ritual persembahan, tidak ada yang istimewa."
Mengalihkan pandangan pada ayahnya, Shikadai dapat melihat raut pilu pada mata lelah ayahnya. Jarang baginya melihat ekspresi ayahnya yang selalu terlihat tegar.
Ketika ayahnya kembali melanjutkan perjalanan, Shikadai mengekor di belakang. Dia tidak mengerti apapun yang dimaksudkan ayahnya. Tidak mengerti alasan ayahnya membuka pembicaraan tentang jalur tersebut. Tidak mengerti kenapa ayahnya menunjukkan ekspresi aneh saat membicarakan tempat itu.
Ekspresi aneh yang terkadang ia lihat dari cerminan dirinya beberapa hari belakangan ini. Sedih, amarah dan kebencian.
Berbeda dengan yang lain, ayahnya, Nara Shikamaru bukan pria dengan sedikit kata seperti ayah Sarada. Bukan pria yang banyak bicara seperti ayah Boruto, terlebih lagi ayahnya juga bukan seorang yang melankolis seperti guru akademinya.
Sehingga ketika ayahnya tiba-tiba mengatakan hal yang terdengar misterius, Shikadai merasa tidak tenang. Seakan ia melakukan kesalahan, melakukan sesuatu yang membuat ayahnya kecewa. Meskipun ia tahu, ayahnya bukanlah sosok yang akan menyakiti perasaannya dengan perasaan kecewa.
"Apa aku melakukan kesalahan, Ayah?" Pertanyaan itu terucap begitu saja, keluar dari mulutnya tak terhenti.
"Aku telah berusaha bertanggungjawab, seperti yang selalu kau ajarkan. Aku mencoba menghalangi para shinobi itu menyakiti teman-temanku. Aku telah meminta mereka pergi, tetapi tidak ada yang mendengarkan perintahku."
Shikadai tidak tahu ketika ia merasa begitu panik dan mengatakan hal-hal tersebut. Ini tidak pernah terjadi padanya, tidak sekalipun. Tetapi suatu perasaan mendesak untuk memberitahunya ayahnya muncul begitu saja. Perasaan mengganjal lainnya yang ia tidak sadari ternyata hadir dalam hatinya.
"Mereka yang datang Ayah, mereka yang memulai. Mereka mengatakan hal yang jahat tentang paman dan ibu. Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu kenapa mereka sangat ingin membunuhku, ketika mereka terus memuntahkan kata-kata jahat yang aku tidak tahu kebenarannya. Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku, bagaimana aku tahu Ayah?"
'Grep!'
Kedua tangan ayahnya tiba-tiba saja memegang bahunya, memegangnya dengan kuat. Mata kecokelatan yang selalu terlihat malas itu menatapnya dengan penuh keseriusan. Membuat Shikadai menyadari kebodohan yang ia lakukan saat ini.
Dirinya gemetar. Tubuhnya gemetar dan akan terjatuh jika saja ayahnya tidak menahannya.
"Kuatlah!"
Shikadai mengangguk. Lalu tangan ayahnya kembali melepaskan bahunya. Mereka kini berdiri berhadapan. Shikadai yang awalnya ragu untuk membalas tatapan itu mau tidak mau harus membalasnya. Meyakinkan ayahnya bahwa ia kuat, seperti yang diminta olehnya.
"Tidak, kau belum menjadi kuat Shikadai."
"Ayah, aku..."
Desahan ayahnya membuat Shikadai bergidik, dia tidak ingin membuat keluarganya terus menerus kecewa padanya. Dia mencoba kembali menyusun kata, tetapi itu bukan keahliannya. Alhasil ia hanya mampu tertunduk dalam.
"... Maaf aku terus menjadi orang yang lemah." Ucap Shikadai menyesal.
"Ada seorang pecundang yang menangisi lawannya, bersimpati pada musuhnya, lalu apa kau akan menyebut orang itu lemah? Aku mendengar kisah pemuda yang menyakiti orang yang dicintainya untuk kebaikan lebih banyak orang yang ia cintai, tanpa peduli dirinya menjadi korban dalam kesendiriannya, mungkinkah dia orang yang lemah? Seseorang lainnya menyerah pada takdirnya sebagai pelindung lalu bangkit dan berjuang hanya untuk kembali mati demi melindungi yang lain, apakah itu terdengar seperti orang lemah bagimu? Masih ada cerita yang lainnya, Shikadai."
Ayahnya berhenti sejenak dan melihat ke jalur gelap yang mereka lewati, "Masih ada cerita yang belum kau dengar. Cerita yang jika kau hanya mendengarnya dan menilainya dengan standar kuatmu yang sekarang, maka cerita itu hanya menjadi contoh kelemahan bagimu."
"Ayah."
"Apa kau tahu apa isi dari gundukan tanah dengan tali persembahan di ujung sana?"
Shikadai menggeleng.
"Disana tempat aku mengubur sumber kebencian dan amarahku, menguburnya dalam hingga tak terdengar suara jeritan atau gema sedikitpun. Kau tidak akan tahu kapan benci, marah, dan sedihmu memakanmu, Shikadai."
Sebuah tepukan lembut di kepala diberikan ayahnya kepadanya.
"Aku tahu ini merepotkan, sangat merepotkan. Tapi Shikadai, aku tidak memintamu menjadi kuat dengan apa yang orang harapkan ada padamu. Kau tidak perlu menangisi lawanmu, berkorban, atau berjuang sampai akhir."
"Aku hanya ingin kau menjadi dirimu. Apa yang akan kau lakukan jika mendapatkan perasaan yang mengganggu dan mengganjal dari hatimu? Ayah yakin kau akan menemukan caramu sendiri untuk menjadi kuat," jelas ayahnya.
Shikadai hanya mendengarkan dan merenungi semua perkataan ayahnya. Sepanjang perjalanan sampai mereka kembali ke rumah. Shikadai tidak mampu menempatkan pikirannya. Ayahnya sendiri hanya membiarkan diamnya. Tidak mengatakan apapun sampai ia pergi ke kantor Hokage.
Lalu seperti biasa, ibunya hanya menyiapkan sepiring sarapan untuknya dan tidak menanyakan apapun padanya. Sesekali ia dapat melihat lirikan khawatir dari manik hijau ibunya.
Merasa sedikit terganggu, Shikadai memberanikan diri untuk bertanya mengenai kekhawatiran ibunya tersebut. "Apa ada yang ingin Ibu katakan?" tanyanya.
"Pamanmu akan datang."
Shikadai menghentikan sarapannya dan menatap ibunya, "Paman Gaara dan Paman Kankurou?"
Ibunya mengangguk, "Kalau kau tidak nyaman, Ibu akan meminta mereka membatalkan kedatangannya."
"Ehm.. Itu..."
"Bagaimana monster itu bisa hidup bahagia?!
Kenapa orang-orang jahat seperti mereka harus bahagia?!!
Aku tidak percaya ibumu bisa baik-baik saja saat ia pernah menghancurkan Konoha—."
'Trang!'
Dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Tangannya terasa kaku saat ingatan tentang hari itu terulang begitu saja. Hingga tanpa sadar ia menjatuhkan sendok dari tangannya, mengotori lantai dan membuat ibunya menatap cemas dirinya.
Ia menarik nafas sejenak, mencoba menenangkan diri.
"Maaf, Ibu. Aku akan membersihkannya," jelas Shikadai tertunduk tanpa berani melihat ibunya.
"Biarkan saja, kau pasti lelah setelah menemani ayahmu."
Tidak.
Dia tidak lelah.
Ibunya tahu itu.
Tetapi Shikadai memilih untuk tidak membantah ibunya. Ia pun berdiri dari meja makannya, "Aku akan ke kamar."
"Ya, istirahatlah."
Apakah Shikadai memang butuh istirahat? Dia merasa dirinya memang banyak melakukan kesalahan pagi ini, tapi apakah yang ia butuhkan adalah beristirahat?
"Ini memang bukan salahmu, tapi kau akan cukup untuk membalas dosa monster itu pada kami.
Salahkan mereka atas kemalanganmu!
Monster itu, akan lebih baik jika ia terus-menerus dalam deritanya."
Kenapa?
Seharusnya ingatan itu tidak muncul disadarnya. Seharusnya ingatan itu hanya datang di mimpinya. Tapi kenapa harus sekarang?
Shikadai merasa dia akan mencapai batasnya. Ini cukup. Dia menjatuhkan dirinya, duduk bersimpuh dengan air mata yang perlahan membasahi wajah pucatnya.
"Shikadai!"
Kembali suara panggilan ibunya yang menyambut kelemahannya. Sama seperti hari kepulangannya. Hari itu juga ibunya yang berlari memeluknya saat ia menangis mengeluarkan isi hatinya.
Kini tidak jauh berbeda, ibunya kembali memeluknya. Erat. Menjadikan dekapannya sebagai sangtuari yang selalu hadir bagi lemahnya.
"Bagaimana ini, Ibu?"
Shikadai membalas pelukan itu. Hangat. Di antara tangisnya, ia bertanya-tanya.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caranya?"
Ibunya semakin mengeratkan pelukannya.
"Ibu, tolong aku!"
.
.
.
*End of Chapter 11*
Note!Awalnya saya sudah membuat flashback tentang apa yang terjadi pada Shikadai. Tetapi filenya terhapus. Saya tipe yang tidak bisa membuat dua kali hal yang sama jadi saya mengubahnya menjadi lebih sederhana. Semoga kalian tetap puas. Tentang apa yang terjadi, silahkan kalian menafsirkannya sendiri dan anggap cerita ini adalah bagian dari kalian. Terima kasih.
