A Recantation

Naruto by Masashi Kishimoto

*

Chapter 12

Malam

"Banyak hal hebat tercipta di malam hari tetapi tidak sedikit hal menyakitkan hadir terlintas di malam hari. "

.

.

.

Langit mendung Konoha akan menjadi hal yang lumrah untuk beberapa pekan ke depan. Menjadi satu penanda musim dingin akan segera datang membawa butiran salju yang akan menutupi setiap sudut desa tersembunyi tersebut. Beberapa pabrik dan toko mulai mengatur ulang jam kerjanya se-efisien mungkin, mengantisipasi datangnya musim dingin yang sedikit lebih awal sejak beberapa tahun terakhir. Menimbulkan keramaian di jalanan desa dengan tingginya intensitas orang yang berlalu lalang, entah pulang dari kerja atau menghabiskan waktu di kedai, mengingat musim dingin yang akan datang— mereka memanfaatkan waktu di luar ruangan sebaik mungkin.

Dari balik jendela yang menghadap langsung pada jalan utama Konoha, Shikamaru mengintip sekilas keramaian yang tidak jauh dari gedung hokage tersebut. Dia menyeruput kopinya, menikmati tegukan terakhir kopi hitam yang mulai tidak hangat lagi. Penasihat hokage tersebut berencana menghabiskan waktunya lebih lama di kantor hokage.

Setelah menghabiskan kopinya, Shikamaru beralih mengambil beberapa berkas yang baru saja ia periksa dan akan diantarkan ke ruang hokage. Hanya beberapa berkas mengenai perbaikan fasilitas umum untuk menunjang musim dingin nanti, ia yakin Naruto tidak akan memakan waktu lama untuk menyelesaikannya.

Shikamaru menutup kembali tirai jendela ruangannya dan bergegas ke ruangan hokage dengan berkas di tangan. Terletak tidak jauh dari ruangannya, Shikamaru sudah berdiri di depan pintu ruang hokage. Dia mengetuk pelan sebelum akhirnya membuka pintu.

Ruangan tersebut terlihat redup tanpa pencahayaan kecuali sinar senja dari jendela besar tepat di belakang meja kerja hokage. Tepat dihadapannya Shikamaru dapat melihat pemimpin Konoha sekaligus sahabatnya, Naruto, yang sedang fokus berkutat pada beberapa lembar kertas di tangannya. Tubuhnya yang membelakangi cahaya menciptakan bias yang selalu membuat Shikamaru terpana.

Bahkan setelah bertahun-tahun, Naruto masih berdiri seperti matahari baginya.

"Satu berkas lagi maka kau bisa pulang lebih awal," ujar Shikamaru sambil berjalan mendekati meja kerja Naruto. Dia menaruh berkasnya di samping berkas lain yang sedang diperiksa oleh Naruto.

Mata kelelahan Naruto menatapnya bingung, tanpa perkataan Shikamaru sudah menangkap arti tatapannya itu.

"Besok ulang tahunmu, tidak ada gunanya kau mengambil cuti jika malam ini harus lembur. Setidaknya simpan energimu untuk esok," jelas Shikamaru.

"Tapi bagaimana dengan laporan dari dewan desa dan daimyou, lalu pemeriksaan laporan Sasuke dan tim Anbu. Semua itu harus selesai pekan ini," racau Naruto.

Shikamaru tahu semua yang dikatakan Naruto adalah laporan penting yang harus diselesaikan dengan cepat. Tetapi ia juga menyadari sikap aneh sahabatnya itu dalam beberapa hari belakangan. Menenggelamkan dirinya pada tugas desa adalah satu dari sedikit cara Naruto untuk menutupi atau bahkan menghindari masalah pribadinya. Dan Shikamaru tidak akan membiarkan hal itu.

"Aku sudah memeriksa semuanya, dan meminta beberapa tim yang terlibat untuk mengatasi sisanya." Meski tidak sepenuhnya benar, Shikamaru tetap mengatakan bahwa semuanya telah aman. Lagipula, dia memang bertujuan untuk lembur dan menyelesaikan itu semua malam ini dan besok.

Shikamaru tidak menunggu jawaban apapun dari Naruto. Dia tidak butuh perkataan merepotkan penuh semangat atau alasan dari mulut besar sahabatnya itu.

"Oi oi, Shika..."

Menghiraukan ocehan Naruto, Shikamaru berjalan menuju saklar lampu ruangan dan menyalahkannya. Dia juga berjalan ke balik meja Naruto untuk menutup jendela ruangan yang sedikit terbuka, angin malam tidak akan baik untuk temannya yang keras kepala itu.

Shikamaru kembali berdiri di hadapan Naruto saat ia telah menghentikan ocehannya. "Kau mengabaikanku, dattebayou!" Gerutu Naruto.

"Ya ya, maaf. Tapi mendengar racauanmu adalah hal paling merepotkan bagiku."

Melihat wajah memberengut Naruto membuat Shikamaru tidak bisa menahan tawanya, "Berhentilah bersikap seperti anak kecil, kau itu ayah dari dua anak."

Benar, Naruto adalah seorang ayah. Waktu berlalu begitu cepat sampai Shikamaru terkadang lupa bahwa semua temannya telah bertumbuh semakin dewasa. Mencoba melepaskan diri dari imaji impian kanak-kanak dan berdiri sendiri tanpa topangan orang dewasa.

Naruto yang kini duduk dihadapannya juga telah berubah, dari seorang anak yang bertindak berdasarkan naluri menjadi seorang pemimpin yang penuh pertimbangan. Meskipun ada saat dimana Shikamaru berharap Naruto bersikap serampangan seperti dahulu, bertindak tanpa peduli apa yang menantinya di depan.

"Aku sedikit merindukan dirimu yang dulu," gumam Shikamaru. Matanya menatap pada frame foto tim 7 di atas meja kerja.

Tidak butuh waktu lama untuk Naruto menangkap maksud perkataannya, Naruto memang telah menjadi dewasa. "Begitu juga diriku," sahut Naruto.

Tentu saja itu hanya obrolan singkat yang mengalir begitu saja, sebuah nostalgia yang manis. Shikamaru menyadari bahwa seberapapun dia ataupun Naruto berusaha menjadi diri mereka di masa muda dulu, hal tersebut adalah mustahil jika menimbang apa saja yang telah mereka lewati hingga saat ini. Pada dasarnya, mereka dulu adalah para pemuda yang mencoba meyakinkan orang dewasa dari pemikiran tentang dunia yang kolot. Lalu saat ini, mereka mungkin adalah bagian dari orang dewasa yang mencoba menjajaki pemikiran yang akan kembali ketinggalan jaman. Yang mereka yakinkan adalah dua generasi atau bahkan tiga, lalu tujuan mereka semakin lama semakin terlihat sempit.

Kembali ke sifat dan pemikiran masa muda kini hanyalah bagian nostalgia belaka.

Ya, nostalgia. Seperti saat dia memandang langit dan berharap dirinya menjadi awan. Sungguh, betapa suram pemikiran masa mudanya itu. Sesuram langit Konoha malam ini.

Gelapnya langit malam di Konoha menyelimuti sunyi jalan di depan gedung hokage. Dari balik jendela ruangan hokage, Shikamaru menatap dalam punggung Naruto yang berjalan lesu keluar dari gedung menuju jalan di depannya. Beberapa waktu lalu Naruto telah menyelesaikan tugasnya dan sesuai rencana, ia berhasil membuat sahabatnya itu pulang lebih cepat.

Manik coklatnya beralih pada tumpukan berkas yang telah rapih tersusun di atas meja. Sangat rapih, membuat Shikamaru yakin bahwa Naruto berusaha sangat keras hanya untuk berada di kantor lebih lama.

"Dia baru saja pulang," kata Shikamaru pada seseorang yang baru saja memasuki ruangan.

Uchiha Sasuke dengan pakaian serba hitamnya memasuki ruangan tanpa menimbulkan suara apapun. Jika saja Shikamaru tidak terbiasa dengan cara kemunculan Sasuke, pastinya ia sudah mengaktifkan jutsunya dan menganggap Sasuke sebagai musuh. Setelah bertahun-tahun, Sasuke tidak pernah kehilangan aura penuh misteri yang menyelimuti setiap langkahnya.

"Aku tahu," kata Sasuke dengan suaranya yang begitu dalam.

Shikamaru mengangguk, dia berjalan menjauhi jendela dan berdiri di depan Sasuke. Dengan kedua tangan di saku, Shikamaru menanyakan maksud kedatangan Sasuke. Seingatnya, Sasuke akan menghabiskan akhir pekan di Konoha dan ia telah memberikan semua informasi investigasinya. Jadi satu-satunya alasan Sasuke berada disini malam ini pastinya khusus untuk menemuinya.

"Aku tidak yakin memiliki apapun untuk kau tanyakan padaku, Sasuke."

"Putramu."

Menaikkan sebelah alisnya, Shikamaru bertanya, "Shikadai? Kenapa dengannya?"

"Aku yang meyakinkanmu dan Naruto dalam pemilihan chuunin."

Ekspresi datar Sasuke yang dulu sulit untuk diterka kini terlihat semakin samar, wajah yang selalu tegas itu kini juga telah berubah. Dan ironinya, Shikamaru selalu sadar akan perubahan setiap teman masa kecilnya itu. Sekalipun itu adalah Uchiha Sasuke.

Kini di depannya, Sasuke menyiratkan ekspresi ketidaknyamanan. Seolah ia tidak bermaksud menanyakan hal tersebut pada awalnya.

"Berapa usia mereka saat ini, Shikadai dan Sarada. Tiga belas? Tidak, itu tidak penting," Shikamaru menarik nafas dalam. Dia tidak terlalu pandai jika membicarakan tentang anak-anak, itu adalah tugas Shino.

"Kita hanya membuka jalan untuk mereka, tapi jalan mana yang mereka pilih dan apa yang akan terjadi dalam perjalanan mereka bukan lagi tugas kita sepenuhnya."

Ini bukan tugasnya, Shikamaru tahu itu. Dia melangkah mendekati dinding yang dipenuhi oleh foto para hokage pendahulu. Dia menatap sendu satu per satu pada gambar wajah yang terpajang dalam bingkai tersebut.

"Tapi Sasuke, kita bisa menuntun mereka secara perlahan. Entah dengan terus berada di dekat mereka atau..."

Shikamaru berbalik dan menatap satu mata obsidian yang sejak tadi mengawasinya tersebut. "Dengan berbagi pengalaman kita di masa lalu," Shikamaru mengatakannya. Pada akhirnya, dia hanyalah seorang penasihat.

"Terlepas dari apapun, keputusan akhirnya adalah pada diri mereka sendiri. Bukankah kita dulu seperti itu juga?" tanya Shikamaru.

Sasuke yang dulu pernah mengatakannya, meyakinkan Naruto bahwa Boruto sangatlah mirip dengannya. Dan kini Shikamaru dapat melihatnya, melihat apa yang membuat ketua klan Uchiha itu memiliki ekspresi yang terlihat kacau.

Karena rasa takutnya, ya, seorang Uchiha Sasuke merasa ketakutan. Takut jika ia menyadari bahwa Sarada sama dengannya. Sama dengan dirinya di masa lalu.

"Percayalah, anak-anak itu lebih kuat dari kita."

Itu adalah perkataan Sasuke, Shikamaru hanya meminjamnya. Apakah perkataan itu sampai pada Sasuke, ia tidak tahu. Sekali lagi, ini bukan tugasnya.

"Merepotkan," gumamnya pelan.


Malam itu, angin berembus kencang di Konoha. Dingin yang menusuk menembus tulang rusuk membawa sayup-sayup desiran angin mengisi sunyi jalan besar Konoha. Ini bukan cuaca yang baik bagi pendatang yang awam pada cuaca di desa tersembunyi negeri api tersebut.

Tetapi malam di Suna, pada musim apapun, selalu menghadirkan sensasi dingin yang serupa. Malam dingin di Suna seakan beradu ketangkasan pada panasnya siang hari. Cuaca malam ini rasanya tidak bisa di bandingkan oleh kerasnya malam di gurun pasir, walaupun akan beda ceritanya jika Konoha memasuki musim dingin.

Kankuro dan Gaara datang terlalu larut dari rencana awal mereka, waktu yang mereka habiskan untuk kepergian memakan waktu lebih lama. Pasalnya, mereka harus memastikan lebih dulu kegiatan administrasi desa tetap berjalan saat mereka mengambil cuti.

"Gaara," Kankuro memanggil adiknya lebih dari dua kali sejak mereka berjalan keluar stasiun. Namun sama seperti sebelum keberangkatan, adiknya itu terus mengabaikannya. Mata besarnya terus memandang fokus pada satu hal yang entah apa itu.

Kankuro sejujurnya tidak yakin dengan usulannya sendiri untuk mengajak Gaara ke Konoha, menemui keponakan mereka. Ketidakstabilan mental yang ditunjukkan Gaara dari malam sebelumnya dirasa terlalu riskan bagi Kankuro. Lebih dari apapun, Gaara butuh hiburan bukan tekanan lainnya.

Tetapi, Kankuro sendiri akan merasa tidak tenang jika ia tidak menemui keponakannya. Sehingga, entah resiko atau hal apa yang menanti di depan mereka, Kankuro pun ingin merasakannya sendiri. Jadi, ia dapat sedikit mengerti apa yang mungkin Gaara rasakan.

"Gaara—."

"Kankuro, Gaara." Suara familier dari belakang mereka membuat Kankuro dan Gaara berhenti dan berbalik.. Berada beberapa langkah di belakang mereka, Shikamaru berjalan santai menghampiri.

Berapa lama mereka tidak bertemu, sebulan dua bulan? Ketua klan Nara sekaligus saudara ipar mereka itu terlihat begitu kelelahan, terlebih lagi di jam yang cukup larut membuat Kankuro tahu kalau Shikamaru baru saja pulang dari lemburnya.

"Aku akan mengantar kalian ke tempat ibuku," kata Shikamaru mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya.

Jika diingat lagi, Shikamaru mungkin telah dikabari oleh Temari tentang kedatangan mereka. Mengingat kedatangan kali ini di luar dari pekerjaan, mereka belum memikirkan tempat menginap selama mereka di Konoha.

"Tidak," mendengar suara Gaara untuk pertama kalinya hari ini membuat Kankuro sedikit kaget. Dia menoleh pada adiknya yang masih menatap ke jalan arah rumah Shikamaru.

"Aku tidak yakin Temari ingin kalian tinggal di rumah malam ini, jadi aku telah meminta ibuku menyiapkan kamar."

Kankuro mengangguk, "Shikamaru benar, lagipula kau pasti lelah Gaara."

Tidak ada respon apapun dari Gaara. Adiknya sudah sangat jelas menolak penawaran Shikamaru dan kembali melanjutkan perjalanan. Kankuro yang tidak bisa melakukan apapun hanya bisa mendesah dan mengikuti Gaara, jika adiknya telah bertekad maka tidak banyak orang yang mampu menolaknya.

"Sejak hari itu," Shikamaru berseru pelan. Sepinya jalan di malam hari membuat suaranya tetap dapat terdengar.

"Temari bilang, sejak hari itu, pagi ini pertama kalinya Shikadai menangis lagi. Menangis terisak di pelukannya. Lama, sangat lama sampai Temari bahkan tidak tahu dirinya harus berbuat apa. Bisakah kalian membayangkannya, wanita seperti Temari tidak tahu apa yang harus ia lakukan."

'Kenapa? Kenapa mengatakan hal seperti itu saat ini?' Kankuro sungguh ingin mengutuk Shikamaru. Tidak sadarkah dia kalau perkataannya itu hanya menjadi garam bagi perasaan bersalah dirinya dan Gaara.

"Kalian juga tahu seberapa keras kepalanya Shikadai," lanjut Shikamaru seraya berjalan berjajar dengan dirinya dan Gaara.

"Anak itu selalu ingin menjadi yang terbaik seperti apa yang setiap orang harapkan ada padanya."

Kankuro tahu hal itu, ia tahu betapa keponakannya itu begitu mirip dengan ibunya. Bagaimana keponakannya itu selalu berusaha menjadi seorang yang dewasa seperti ayahnya. Menempatkan kepentingan orang lain lebih dari dirinya. Sifat yang menurut orang adalah kualitas terbaik tetapi bagi Kankuro adalah kutukan seorang jenius. Karena baginya, masa muda yang sebentar itu harusnya ia habiskan sesuai usianya. Bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

"Jika kau datang dan menemuinya saat ini, apa menurutmu itu bisa membantu kondisinya sekarang? Apa menurutmu Temari akan dapat mencoba mengerti perasaan kalian?"

Ini menyebalkan, hal yang paling menyebalkan bagi Kankuro. Mempertanyakan perasaan sebuah keluarga di saat seperti ini sangatlah menyiksanya.

"Besok," suara Gaara terdengar parau. Seolah ia sedang menahan sesuatu, tapi Kankuro enggan mencaritahunya. Dia menolak melihat ekspresi adiknya, menolak untuk mencoba mengerti apa yang adiknya rasakan. Dia sendiri sudah cukup kesulitan menjaga emosinya, untuk kali ini ia memilih untuk acuh.

"Jika besok, apakah ada yang akan berubah?"

Kankuro menatap Shikamaru, ia ingin tahu apa yang akan dikatakan orang yang telah mengatakan hal memilukan itu pada Gaara.

"Tidak, tidak ada."

'Dasar bodoh! Tentu saja tidak, perasaan seseorang tidak mudah berganti dalam semalam.'

"Kalau begitu, aku akan menemui mereka besok."

Kankuro kembali menghela nafas panjang kala mendengar respon adiknya. Angin kencang kembali berhembus, memaksa Kankuro memeluk erat tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya bagi Kankuro, ia akan mengakui. Malam di Konoha ternyata sangatlah dingin.


Notes!

Semoga masih ada yang menanti cerita ini. Ini beberapa bulan yang berat bagi saya, sebuah review dan apresiasi kecil dari kalian pada cerita ini sangat berarti.

Selain itu saya memutuskan membuat Ig beberapa minggu lalu tetapi masih kosong sama sekali dan tidak tahu untuk apa. Akan sangat menyenangkan jika kita bisa berbagi cerita dan pertanyaan tentang ff saya disana. Jika berkenan follow ya di @chippaw33 (jangan terkejut jika melihat angka 0 pada bagian foll wkwk) Mari berbagi pendapat tentang karya lewat dm!

Terima kasih!