Chapter 1 : The beginning

Date : Thursday 22, 2020 (12:11)

Author : Paranoid Dreaming

warning : Dark!harry, slash!, Tomarry, You have been warning.

DO NOT COPY-PASTE HALF OR ALL, A LOT OF STORY PLOT CHANGE.

DISCLAIMER : JK. ROWLING

Shall we?


"HARRISON!"

Teriakan Vernon bukan hal menarik didengar pagi ini. Harry menyampingkan selimut yang ia pakai, kernyitan di dahinya menandakan Tidurnya yang tak lelap.

"HARRISON!"

Harry memutar lehernya, ia bergegas meraih sweater pudar miliknya dan memutar kenopi kamarnya dengan cepat, ia tak ingin Vernon kembali memanggil dia dengan nama itu.

diruang tengah sekarang, Dudley tampak memakan biskuit dengan kotor sambil terus melototi televisi kotak di sudut ruangan. Vernon tepat disampingnya membaca koran sambil bergumam tak jelas, terlihat saliva yang keluar dari setiap decakan kecil dari bibirnya. Harry mengernyit.

"Apa yang kau lakukan disitu? Bibimu di taman belakang, tak ada makanan untukmu boy"

Harry memutarkan matanya,

memang pernah sekalipun makanan disediakan untuk-nya?

Harry menuju taman belakang melewati dua Dursley, Harry dapat mencium aroma parfum bibi-nya seketika ia melewati pintu belakang.

terlihat bibi-nya disana, berpakaian aneh tidak selayaknya ingin berkebun. ada apa dengan seluruh korset ketat yang ia paksa melekat di pinggulnya itu?

Petunia memalingkan wajahnya, ekspresi yang selalu Harry dapatkan dan tak asing. tentu Harry tak memikirkan itu terlalu lama.

"Harrison! kau tahu seberapa lama kau berada dikamar?"

Harry tidak menjawab, ia diam melihat mata bibi-nya secara langsung.

mata Petunia masih melotot kearahnya

ia bergegas memberi Harry tugas, ia tak ingin menyisakan sedikitpun waktu untuk Harry.

Petunia memandangnya sebentar lalu pergi melewati pintu belakang. Harry mulai menggulung lengan bajunya dan mulai menarik rumput hama disekitaran tanaman kesayangan bibinya itu.

matahari tak terlalu terik hari ini, terkesan mendung. Harry menatap kedua tangannya yang sudah berlumuran tanah dan getah tumbuhan hijau, akan lebih mudah jika dia memakai sarung tangan atau pelindung tangan lainnya, namun ia lebih memilih tidak.

Harry kemudian menajamkan pendengarannya--mencabuti rumput membuatnya bosan--dari sisi kiri Harry dapat mendengar senandung anak perempuan dan bisikan seorang pria.

sisi kanan ia dapat mendengar Vernon membicarakan sesuatu mengenai politik dan petunia yang berkicau aneh dengan detingan perhiasan di telinganya.

Harry menaikkan satu alisnya, percakapan mereka berdua terdengar tidak tersambung satu sama lain, seakan-akan mereka berbicara dengan diri sendiri?

Harry menepiskan sisa tanah pada jemarinya, ia telah selesai menarik rumput hama seperti kata petunia.

Harry menunduk, memasuki salah satu semak, berbaring. ia tak ingin mendapatkan tugas aneh yang akan diberikan petunia nantinya.

Harry menarik nafas, aroma tanah terekam jelas di penciumannya. ia tak menghitung sudah berapa kali ia bersembunyi di balik semak - semak itu, sesekali dia akan mengintip dari sela-sela dedaunan sekedar melihat kearah pintu belakang untuk mengawasi pergerakan dursley's yang sewaktu-waktu dapat mengarah kepadanya.

lipatan kedua tangan pada dadanya mengerat, Harry berada diposisi tidak nyaman sekarang. ia mungkin akan bertahan untuk beberapa menit kedepan paling tidak dapat mengistirahatkan matanya sejenak.

tak tahu kapan ini berakhir.


"Bukankah itu hal bagus? mengirim anak itu jauh, aku tak tahan melihatnya terus menerus berkeliaran di rumah ini"

Vernon melipat perkamen lusuh dan meletakkannya diatas perapian, sesekali ia menghisap cerutu berbentuk bulat miliknya. Petunia disana terlihat sibuk mengalihkan perhatian Dudley seakan tak ingin anak kesayangannya itu mendengar pembicaraan mereka.

"Vernon, kau ingin memupuk keanehan dalam diri anak itu semakin besar?"

"bukan, maksudku--"

"Apa fungsi sekolah, Vernon?"

Vernon menghembuskan cerutunya kembali, kakinya menyilang diatas telapak kaki. ia kembali meraih perkamen lusuh diatas perapian itu.

Vernon mengayunkan tangannya, menunjukkan perkamen itu dihadapan Petunia.

"Dengar, ini hal bagus. aku tak ingin anak aneh itu terus menginjakkan kaki dirumah ini, kau tak ingat bagaimana malu-nya diriku didepan para tamu 5 tahun lalu?"

Petunia terdiam, tentu ia ingat jelas. saat tamu-nya mengejek Harry dengan sebutan kasar, anak itu melempar nampan berisi krim roti tepat mengenai wajah mereka semua.

ia tak menyentuh nampan itu sama sekali.

"Aku jujur padamu Petunia--

Vernon melihat Dudley sekali dan berbisik pada Petunia

--orang-orang juga mulai membicarakan kita"

Petunia mulai telihat cemas, ia tak ingin keluarganya menjadi bahan pembicaraan orang-orang, itu tak bagus untuk Dudley. ia bisa-bisa tak akan mempunyai teman dan mendapat banyak penindasan.

Petunia tak mau hal itu terjadi.

"baiklah, kau menandatangani itu vernon. bukan aku"

Vernon memangut, dan meraih pena dari dalam sakunya.

tanpa mereka ketahui Harry sedari tadi berdiri disana, membelakangi pintu mendengar seluruh pembicaraan mereka.

tanpa suara ia menaiki tangga, memutar kenopi pintu dan menutupnya dengan sangat perlahan.

gelap sepenuhnya, Harry duduk diatas ranjang. lampu kendaraan melewati jendelanya yang telah lama Vernon beri jeruji, ia tak tahu pasti jelas mengapa, tapi baginya itu bukanlah sebuah perlindungan untuk menjaga keamanannya.

kini Harry berbaring mengamati langit-langit kamarnya, bau kayu lapuk tercium jelas. Kamar yang ia tempati jelas-jelas tak layak huni dan lembab, namun mereka menuntut Harry untuk mensyukuri hal itu. Harry tak melakukannya.

--mengirim anak itu jauh"

Harry tak memiliki keraguan, yang mereka bicarakan adalah dirinya.

Dudley sangatlah tak mungkin, tak ada anak lain dirumah ini.

'Panti asuhan?'

tempat paling masuk akal dimana mereka akan meninggalkannya. kemudian ia ingat bahwa sangat kecil kemungkinan panti asuhan akan menerima remaja berumur 16 tahun, mempekerjakan dia dipanti asuhan lebih masuk akal dari pada mengurus dia di usianya sekarang.

Harry berdecak, jika kau tanya dia tak merasakan kesedihan sedikit-pun, ia tahu saat ini akan tiba. dimana Dursley's akan mengeluarkan-nya dari rumah ini lebih tepatnya membuangnya tanpa tujuan.

Namun mendengar Vernon mengatakan seolah-olah ia akan dimasukkan ke suatu tempat, ia tak mungkin dibuang.

"Apa fungsi sekolah, Vernon?"

Harry bangkit, terduduk.

Benar, ia melewatkan perkataan Petunia tadi.

sekolah? sekolah macam apa? st.brutus?mereka ingin melihat Harry memiliki banyak bekas sabitan tongkat, tak diragukan.

"Mengeluarkan uang untuk melihat-ku penuh luka, tak terdengar buruk"

Harry berdiri, ia menuju lemari tua di dekat pintu. ia menarik keluar satu-satunya buku yang ia miliki, penjaga perpustakaan kota yang memberinya.

Ia telah berulang kali membaca buku itu, sampulnya terlihat kusam oleh jemari Harry. ia menyentuh sampul buku itu--

"Page 84 "

lembaran buku itu bergerak cepat, menghembuskan angin yang meniup wajah Harry. ia tak menyentuhnya sama sekali.

Harry menyadari keanehan itu saat ia tak dapat membuka buku itu sekuat apapun ia membuka lembarannya, sebelum Dudley tiba-tiba berteriak angka cetakan gol dari TV dengan keras, buku itu bergerak cepat menuju halaman dengan angka yang disebutkan.

kau dapat membayangkan betapa kebingungannya Harry dengan hal itu.

"Page 84, Sekolah bagi para witcher dan wizards"

Para penyihir muda sangat membutuhkan pedidikan, perlu diketahui setiap sisi memiliki gelap dan terang masing-masing, mereka yang memiliki jalan terarah dan rapi akan terus berjalan menuju cahaya, bagi mereka yang berjalan tanpa nama, tanpa petunjuk dan arahan mereka akan tersesat dengan kegelapan

--Harry mengernyit, terdengar seperti kebanyakan orangtua yang mencekcoki anaknya dengan sekolah dan buku begitu tebal.

"sekolah sihir, terdengar agak aneh"

Apa yang mereka lakukan?

Belajar menaiki sapu terbang?

Harry terkekeh, ia tak menyangkal hal itu. memang terdengar seperti lelucon namun dengan apa yang ia lakukan selama ini, sepertinya tidak se-jenakah itu.

Harry menutup buku itu kembali dan meletakkannya didasar lemari. ia tak ingin Dursley's menemukannya, ia tahu apa yang akan mereka lakukan jika itu terjadi.

Ia kembali berbaring di ranjangnya yang sudah rapuh, kembali memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Harry menarik kopornya kuat kuat, dia berada tepat didepan sebuah toko buku. ia sekali lagi membaca surat dengan petunjuknya.

"The leaky cauldron?"

Harry melihat kearah kanan, hanya ada toko buku dan musik disitu keduanya terlihat sedang tutup.

Harry meletakkan kopor miliknya, ia duduk diatas sembari mengingat kembali apa yang baru saja terjadi tadi pagi di rumah keluarga Dursley's.


Vernon seperti biasa berteriak memanggil namanya 'Harrison'--ya dia benci nama itu, nama yang diberi keluarga Dursley padanya saat membuat kembali sertifikat kelahiran dirinya--

Vernon menyerahkan sepucuk surat pada Harry lalu mengusirnya untuk kembali ke kamar. Harry membuka perekat dan membuka kertas yang telah di-lipat secara asal dari bentuknya, Harry membaca setiap baris kalimat.

"Hogwarts?"

Vernon dan Petunia memang akan mengirimnya ke sekolah. tapi, Hogwarts?

Harry berusaha mengingat dimana ia pernah mendengar nama itu, ia kembali menarik buku kemarin dari dalam lemarinya.

"Page 87 "

Buku itu kemudian terbuka dengan cepat menampilkan kalimat kapital dicetak besar.

"Hogwarst, school of witchcraft and wizardry"

--Hogwarts didirikan oleh empat penyihir hebat bernamaGodric Gryffindor, Salazar Slytherin,Rowena Ravenclaw danHelga Hufflepuff pada sekitar tahun1000 M Nama-nama mereka dijadikan sebagai nama asrama murid-murid Hogwarts yang memiliki kepribadian yang sesuai dengan keempat pendiri tersebut. Hogwarts memiliki semboyan "draco dormiens nunquam titillandus"--

Harry membaca seluruh isi mengenai Hogwarts sampai halaman akhir.

dia dimakan oleh lelucon-nya sendiri, ia benar benar akan bersekolah di sekolah penyihir.


"Tak keberatan jika aku meminta jalan?"

Harry mengadahkan dagunya, dihadapannya telihat seorang perempuan seumuran dirinya, dia tersenyum pada Harry, kulitnya pucat sekali sampai terlihat seperti kanvas.

"Tentu"

Harry bergerak dari duduknya dan menarik kopor besar miliknya hingga kebawah trotoar jalan.

perempuan itu masih berdiri disana, ia membawa kopor yang terlihat lebih besar dari milik Harry.

"Kau ingin ke Leaky Cauldron?"

Harry memangut, sekarang ia tahu gadis dihadapnnya itu juga seorang penyihir.

Gadis itu menaiki trotoar jalan, tak beberapa lama toko musik dan toko buku yang Harry lihat tadi bergeser berlawanan, ia dapat melihat sebuah bangunan baru yang entah dari mana muncul.

"mereka tak dapat melihat ini?"

gadis itu menoleh pada Harry, senyumannya masih terlihat.

"muggle? tentu tidak"

Mereka berdua lalu memasuki pintu bagunan itu, didalam Harry memperhatikan setiap 'orang' atau apapun itu yang tidak telihat manusia.

Beberapa mata melihat mereka yang masuk, namun tampak tak terlalu teganggu dengan keberadaan mereka disana. Harry memutuskan mengikuti perempuan tadi, ia yakin mereka memiliki tujuan yang sama.

"Hogwarts?"

"ya"

Perempuan itu masih tersenyum, ia menjabat tangan Harry. kali ini terlihat lebih jelas, kedua mata gadis itu berwarna merah gelap-nyaris hitam jika tak dilihat dengan seksama.

"Lidya Hermans"

"Harrison evans"

ia lalu melepas jabatannya, Harry menarik kopornya kembali saat Lidya kembali berjalan lebih dalam. Harry memperhatikan poster-poster yang direkatkan di dinding batu, sangat menarik melihat mereka bergerak-gerak selayaknya rekaman film.

"Evans, kau tahun keberapa sekarang?"

Harry menarik pandangannya pada rambut belakang Lidya, mereka terlihat bergelombang dan pendek, hanya mencapai garis akhir telinga.

"Aku baru mendapat surat, aku tak yakin mengerti dengan apa yang kau katakan"

Lidya melirik Harry sebelum ia berhenti didepan sebuah dinding batu, Harry ikut menghentikan langkahnya.

"Well, tampaknya kau akan melangkahi kelas, aku dengar akan ada ujian cukup sulit untuk siswa sepertimu"

Lidya mengusap dinding itu dengan telapak tangannya. batu-batu itu bergerak memisahkan diri satu sama lain, meninggalkan sebuah jalan yang dapat dimasuki.

"Selamat datang di Diagon Alley, Evans"

Orang-orang terlihat berpindah dari satu toko, bercampur dengan makhluk-makhluk kerdil dan berbentuk tak manusia lainnya.

Harry menyeret kopornya, mengikuti Lidya sesekali ia melihat-lihat sekitar dan memperhatikan sosok-sosok yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

"Kau mendapatkan apa saja yang kau butuhkan nanti?"

"Tidak, tapi disini tertulis barang-barang yang perlu bagiku, daftarnya masuk bersamaan saat aku menerima kopor ini"

Lidya mengangguk, ia meraih perkamen di tangan Harry. membacanya lalu menyerahkannya kepada Harry kembali, kemudian Lidya kembali melangkah ke-arah salah satu toko berbentuk aneh disana.

Flourish and Blotts

"pertama-tama mari kita mencari buku dahulu, aku tak ingin mendapatkan buku usang"

Lidya melangkah masuk kedalam toko itu, terlihat buku di setiap sudut ruangan, bergaya tak rapi. apa semua penyihir mempunyai hobby membentuk buku seakan-akan jatuh?

"hey evans.."

Harry menoleh.

"kemarikan kopor-mu akan susah berjalan dengan kopor sebesar itu"

Harry mengangguk, ia menaikkan kopor miliknya dari tangga kecil, Lidya membantunya. kemudian Lidya tampak mengayunkan sebuah kayu kecil kearah kopor mereka.

"Reduio"

Kopor itu mengecil hingga seukuran kantung saku. Lidya memungut Kopor yang sudah mengecil itu dan menyerahkannya kepada Harry, Harry kemudian memasukkannya kedalam saku jacket miliknya.

"Kau memiliki galeon kan?"

Harry mengangguk, dari kantung lain ia menarik sebuah kantung berwarna coklat dan mengayunkannya, suara gemericik koin terdengar dari sana.

"ok, itu lebih dari cukup"

Lidya memasuki Toko lebih dalam dan menyapa seseorang seperti penjaga. Harry memasukkan kembali kantung uangnya itu--kantung itu datang bersamaan dengan kopor miliknya yang dilempar Vernon padanya tadi pagi--Harry menaiki tangga menuju lantai dua. lebih banyak buku bertebaran disana, Harry memungut satu buku bersampul hijau sebelum suara Lidya memanggilnya kembali.

"Evans? Aku menemukan buku yang kita cari, ada sesuatu menarik diatas sana?"

"Tidak"

Harry menaruh buku itu diatas rak, kembali menuruni tangga dengan cepat kakinya sudah terlatih untuk menuruni tangga rumah Dursley's.

"Aku baru sadar, kita berada ditahun yang sama. tepatnya tahun ke 4"

"ke-4?"

Lidya memandangi wajah Harry cukup lama, sebelum membuka kembali mulutnya.

"aku tak menyalahkanmu jika kau menganggap aku lebih tua, Aku agak terlambat"

Harry mengangguk, ia meraih buku yang diberikan Lidya padanya, cukup banyak dari pada yang ia kira.

Harry mengeluarkan beberapan koin dan membayarnya pada penjaga toko.

"kau perlu jubah hitam dan seragam--"

Lidya sekali lagi memandang Harry dengan penuh penilaian, Harry menaikkan satu alisnya.

--tentu saja sebuah tongkat penyihir"

mereka kembali berjalan menuju setiap toko kebutuhan, Harry mendapatkan sebuah jubah hitam polos dan seragam lengkap dengan sepatu hitam yang ia perlukan nantinya.

"Hermans"

Lidya menoleh pada Harry, tangannya masih asik menata barang pada kopor yang telah kembali ke ukuran semula, Harry melihat seragam dengan dasi kuning bercorak garis hitam disana. dan kaleng kaca dengan mahluk bergerak didalamnya.

"ya Evans?"

Harry menggeleng, pertanyaanya telah terjawab tanpa perlu menanyakannya lebih lanjut.

"Hufflepuff, benar?"

kali ini Lidya terlihat tersenyum lebar, ia menutup kopornya dan kembali berdiri disamping Harry--Harry lebih tinggi beberapa inchi darinya.

"Kau ingin kujelaskan mengenai asrama Hogwarts?"

Harry berjalan kembali mengikuti Lidya.

"Kurasa tidak, aku membaca semua mengenai hogwarst semalaman jika yang ingin kau katakan adalah hal-hal mendasar"

Lidya mengangguk-angguk, sesekali gerakan kakinya seperti anak kecil. menendang-nendang batuan kecil hingga mengenai salah satu mahluk kerdil, sayangnya Mahluk itu hanya menoleh kebingungan karena gerakan Lidya semakin cepat menjauh.

"Ah! Benar, Triwizard! kau tahu itu?"

Harry menggeleng, namun ia yakin melihat sekilas kata itu didalam buku kemarin. namun ia tak terlalu tertarik membaca lebih lanjut.

"akan di-adakan tournamen The Triwizard tahun ini, Hogwarts menjadi tuan rumahnya"

Lidya menatap kearah langit, tak ada cahaya matahari disana. Harry ikut mengadah ke langit.

"Soal itu, Piala dunia Quidditch juga diadakan. kudengar tempatnya hancur oleh death eater"

Harry menatap ke-dua mata Lidya, sepasang rubby itu menarik sekali untuk dilihat.

"Death Eaters?"

Lidya memangut, kemudian memiringkan kepalanya sembari terus menatap harry sesekali berkedip.

"Kau tak tahu?"

"Tidak?"

Lidya menarik tangan Harry lebih dekat dan membisikkan sesuatu pada telinganya.

"para pengikut Voldemort, pangeran kegelapan, you-know-who"

Harry memilih tidak bertanya lebih lanjut, ia segera bergegas menarik koper miliknya bersamaan dengan Lidya.

'Voldemort? Pangeran kegelapan?'

Harry menyangkah bahwa buku itu telah berbohong padanya, ia ingat betul bagaimana buku itu mengatakan sesuatu tentang pangeran kegelapan dan sosok itu telah dikalahkan bertahun-tahun lalu lamanya.

Grindelwald, nama itu selalu muncul setiap ia membaca sejarah kelam dunia sihir, Grinderwald mempunyai orang-orang yang setia padanya dan percaya penyihir pureblood berada diatas dunia sihir, mereka membenci munggelborn tepatnya.

Jika Buku itu benar, seseorang telah muncul kembali dengan nama pangeran kegelapan.

"Evans"

Mereka berada di toko dengan jendela yang cukup aneh, Terdapat Kata Ollivanders dicetak besar diatasnya setiap kaca berbentuk aneh itu.

Lidya memasuki toko itu dahulu, terdengar suara lonceng berbunyi.

"selamat datang"

suara pria tua menyapa telinga Harry, Terlihat wajah pria dengan pakaian yang telah larut dalam jaman, matanya besar memandang Harry dengan senyuman.

"Hi, Mr. Ollivander"

pria itu tersenyum pada Lidya, ia mengangguk dan berlari kedalam toko, gesture-nya terlihat seperti character Cartoon yang sampai sekarang masih dilihat oleh Dudley di ruang tengah.

"here, Ash with unicorn hair"

Ollivander meletakkan kotak itu, dan membuka penutup hitam dari-nya.

tongkat kayu berwarna coklat gelap terlihat disana, Harry menatap Lidya.

"Take it"

Harry mengulurkan tangannya, ia menggengam tongkat, mencoba mengayunkannya dan seketika sebagian lemari terbuka mengeluarkan puluhan perkamen. Harry segera meletakkan kayu itu kembali didalam kotaknya.

"nope"

Ollivander kembali menaiki tangga, sementara Lidya mengayunkan tongkat sihirnya dan memperbaiki kerusuhan yang dilakukan oleh Harry.

"Ah! Here we go"

Ollivander kembali membuka kotak lain dan mengayunkannya pada Harry, ia menangkapnya. tak berapa lama Harry melempar tongkat itu dengan cepat, ia merasakan kesakitan luar biasa di daerah telapak tangannya.

"Evans? oh tidak, tongkat itu membakar tangannya"

Lidya menarik telapak kanan Harry, memeriksa setiap inchi tanda kemerahan akibat panas yang ditimbulkan oleh tongkat itu.

"Sorry Mr. Ollivander"

"No, no. It's all good my boy, setiap tongkat memiliki perasaan, dia agak pemarah"

Ollivander kembali memasukkan tongkat itu kembali ke kotaknya dan berjalan memasuki rak berantakan dengan kotak kotak hitam. Lidya mengayunkan tongkatnya pada telapak tangan Harry dan samar-samar luka ditangannya menghilang.

"Apa itu?"

Lidya melirik Harry, ia tersenyum.

"Hanya mantra penyembuhan biasa, syukurlah kau hanya luka terbakar kecil. bukan kehilangan daging"

Harry kembali menatap pada Ollivander, mendapatinya juga menatap pada Harry. ia menaikkan satu alis-nya. Ollivander medekati mereka kembali dengan kotak lain, meletakkannya dan membuka penutup.

ia mengangkat tongkat kayu berwarna coklat itu dan memberikannya kepada Harry dengan sangat hati-hati. Lidya menatap tongkat itu tertarik.

"holly with phonex feather?"

Ollivander mengedipkan matanya, ia tersenyum pada Lidya.

"yes Ms.Hermans, Anda tepat sekali"

Harry meraih tongkat itu dari tangan Ollivander, ia mersakan aliran aneh pada setiap inchi lengannya, seperti sinar yang hangat dan dapat membuat dia terlelap.

"Merlin! Benar saja"

Ollivander melebarkan matanya menatap Harry yang tak tahu apa-apa tentang tongkat yang sedang ia genggam.

"ini terbuat dari kayu holly dengan inti bulu burung phonex, my boy, kau tak tahu betapa langkahnya ini"

Harry menatap Ollivander seperti seorang jehovah witness yang setiap bulan mengetuk pintu rumah Dursley's dulu, ia ingat Vernon kewalahan menghadapi mereka.

"Hanya ada dua tongkat seperti ini di sejagat dunia sihir raya, seseorang yang memilikinya selain dirimu adalah orang yang tak boleh namanya disebut"

"Voldemort?"

Ollivander segera menutup mulut Harry, tercium aroma buku tua dari tangannya.

"we don't call his name here"

Ollivander kembali ke meja kasir, menatap Harry dengan tatapan penuh tanya.

"who are you my boy? what is your name?"

"Harrison evans"

Ollivander menaikkan alisnya, ia kemudian menatap pada Lidya. Lidya mengangkat bahunya tak tahu menahu mengenai Harry.

"well, kau mendapatkan hal menarik hari ini Mr. Evans"


End- continue in chapter 2