WOEBEGONE
Pairing : Oh Sehun x Luhan (GS)
CHAPTER I
Penuh kehati-hatian, ia menyusuri lorong sepi. Kedua iris matanya menatap lurus marmer-marmer yang tertata rapi melapisi jalannya. Jam di dinding menunjukan waktu pukul lima tepat. Lampu-lampu penerangan meredup, geraknya ia hentikan sejenak –jantungnya sedikit bergejolak. Jejeran loker berwarna abu-abu bertemu pandangannya. Ia mantapkan kakinya menuju sebuah loker yang selalu menjadi langganannya tiap hari. Tangannya memutar kode kunci lokernya, sesekali kepalanya menoleh ke kiri dan kanan.
Lokernya terbuka, segera ia memilah buku-bukunya dan memasukan beberapa buah ke tas ransel biru usangnya. Derap langkah kaki terdengar mendekatinya. Oleh tangan itu ditutuplah loker biru itu. Ia benarkan letak ransel di punggungnya, ia tarik napasnya lalu mengembuskannya cepat, hampir ia berhasil pergi seandainya sebuah tangan tidak mendorong punggungnya ke loker besi.
"A-Ahh..." Ia meringis pelan, punggung penuh luka yang ada di balik seragamnya terpukul keras ke loker itu, belum lagi kedua tangannya dicengkeram erat di atas kepalanya.
"Se-Sehun..." Satu buah nama terlontar dari bibir mungilnya, tanpa memandang wajahnya pun ia tahu siapa sosok di hadapannya. Sebuah jari telunjuk menyentuh dagunya, mendongakkan wajahnya, membuat kedua pasang mata milik insan berlawan jenis itu bersitatap.
"Luhan, jadi belakangan ini kau datang sepagi ini?" Suara pria itu mengalun lembut namun terdengar mengerikan di setiap sisi liang telinganya.
Gadis yang kini diketahui bernama Luhan itu kembali mengalihkan pandangannya, baginya menatap permukaan lantai lebih baik dibanding melihat wajah pria ini. "Kau mencoba tidak mengacuhkanku, ya?" tanya Sehun pelan, sangat berbeda dengan perlakuan ibu jari dan telunjuknya pada pipi Luhan. Sepasang jari itu mencengkeram erat pipi Luhan, memaksa kepala itu mendongak sampai Luhan merasakan sakit teramat sangat pada tengkorak kepalanya.
"Kau tidak berminat mengeluarkan sepatah kata?" Sehun kembali bertanya bersamaan dengan cengkeraman kedua jarinya yang semakin kencang.
"Kau sudah menghindariku selama satu hari penuh kemarin!" Sehun mendesis, iris mata kelamnya memandang Luhan, menusuk wajah perempuan itu.
"Ma-Maaf..." ucap Luhan, setitik air mata sudah hadir di pelupuk matanya.
Sebuah seringai terbit dari bibir pemuda berumur delapan belas itu. Ia mengendurkan sepasang jarinya sebelum berucap, "ulangi sekali lagi yang benar."
"Maafkan aku, Sehun..." Luhan mengeluarkan suara lirih, tetapi Sehun tersenyum dan melepas cengkeramannya. "Kau kumaafkan," laki-laki itu berujar.
Jari-jari panjang berwarna putih bagai tertumpah susu itu kini membelai penuh kasih menciptakan sensasi menggelitik pada pipi Luhan. Tangan kanannya ia gunakan untuk merapikan rambut cokelat terang perempuan itu, juga mengusap-usap pucuk kepalanya.
Mereka terdiam dan terpaku pada pandangan masing-masing, tanpa sadar Luhan menggigit bibir bawahnya. "Kau menggigit bibirmu." Sehun terdengar menggeram, kening mereka saling bertemu, hidung mereka hampir berhimpitan, memunculkan vibrasi aneh dalam diri Luhan ketika deru napas mereka bersatu padu.
Sehun melokasikan kedua tangannya tepat melingkar di pinggang dan leher milik perempuannya, semakin merapatkan tubuh mereka. Mata Luhan terpejam kala ia merasakan sebuah benda lembut tengah menyesap bibir bawahnya. Benda itu adalah bibir milik Sehun, dan kini pria itu tengah meminta Luhan untuk membukakan pintu masuk baginya –bagi lidahnya yang merindu akan kehangatan lubang hangat Luhan. Luhan membuka mulutnya, menahannya pun percuma, hanya menghasilkan pergulatan lidah dan bibir mereka berakhir dengan campuran darah juga saliva.
Benda lentur tak bertulang itu benar-benar menginvansi seisi mulut Luhan. Menyesap lidahnya keras-keras, mengabsen satu persatu giginya mulai dari sudut satu ke sudut lainnya, dan merayap ke kedua bagian dalam pipinya dan langit-langit mulutnya. Sehun semakin menekan Luhan, mendekatkan gadis itu padanya. Bibirnya tidak berhenti berpindah menghisap bibir atas dan bawah Luhan.
Bosan dengan benda merah merekah itu, Sehun telah memindahkan wajahnya ke leher Luhan. Menjilat dan menghisap setiap inci leher putih mulus nan jenjang itu –tanpa menyisakan bercak kemerahan tentunya. Deru napas mereka sama-sama memburu seakan berlari jarak satu kilo meter.
Luhan tidak dapat menyangkal kenikmatan duniawi yang diberikan Sehun padanya, manakala jemari milik pria itu dengan tergesa menyingkap rok sekolahnya dan mengusap sekujur pahanya perlahan –menyulut percikan keerotisan. Tak kuasa ia menelan bulat-bulat desau suaranya kembali ke tenggorakan, ketika saraf perasa yang terpoles di sekujur tubuhnya mendapat rangsangan dari tiga jemari laki-laki itu di kewanitaannya.
"Kau sudah sangat basah di sini, sayang." Sehun berkomentar, mulut pintarnya itu berada di dekat telinganya kemudian menjilat sisi belakang indera pendengar itu, berhasil membuat tubuh Luhan mengerang.
Betapa piawainya Sehun mengoyak kewanitaan gadis itu begitu cepat, kasar, dan nikmat. Luhan bergidik jijik mendengar suara-suara yang terlahir dari mulutnya sendiri. Sehun menangkup bibirnya kembali, meredam desahan itu, juga mengajak lidah mereka menarikan sebuah dansa penuh decakan bersama.
Ekor mata Sehun melirik jam Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya, "kita harus menyelesaikan ini dengan cepat, sayang."
Bersamaan dengan berhentinya kalimat itu, tangan Sehun berpindah ke bagian selatan tubuhnya. Suara gesekan risleting menandakan Sehun telah membuka celana seragamnya, tergesa ia membuka kain-kain lain demi membebaskan sesuatu. Sesuatu yang menegang sedari tadi, membutuhkan pelampiasan berupa kehangatan dari lubang yang dua tahun ini selalu menjadi favoritnya, satu-satunya lubang yang pernah ia singgahi dan masih menjadi rumah induknya sampai detik ini.
Sesuatu itu adalah kejantanan milik pria bernama Oh Sehun, dan dilihat dari kegiatannya sekarang yang tengah menempelkan pucuk keperkasaannya pada kewanitaan Luhan, mudah ditebak apa yang menjadi induk kejantanan miliknya itu.
"Ahhh..." Mata Luhan terpejam menikmati cita rasa yang timbul dari keberadaan Sehun dalam dirinya.
Kelamin laki-laki itu mulai bergerak, menghentak maju mundur dengan ketukan-ketukan pasti. Inilah alasan mengapa Luhan selalu terbuai, serta terhipnotis tiap persetubuhannya dengan pria ini. Sehun orang yang kasar namun pengecualian selalu ada untuk saat-saat penyatuan tubuh mereka. Ia selalu memikirkan kepuasaan batin Luhan di setiap mereka bercinta, dan itu selalu membuat Luhan dimabuk kepayang.
Seperti hari-hari kemarin, Sehun begitu mencintai rumah induknya itu. Sesuatu yang dimiliki Luhan yang sempit selalu berkedut manja, memijat setiap sisi kebanggaan miliknya. Kelebihan itu selalu menjadi candu dan mempengaruhi birahinya agar selalu pulang ke rumah hangat itu. Sehun semakin mempercepat gerakannya, seiring dengan kecepatan kedut dinding-dinding lembut itu.
"Se-hun, lebih cepat.." Luhan mendongakan kepalanya, matanya masih setia terpejam tak menyadari Sehun yang setia menatapnya tanpa berpaling. Pemandangan Luhan terangsang dan di ambang orgasme adalah karya seni milik Tuhan yang menjadi favorit Sehun.
"Di situ lagi, Sehun..."
"Feels good, huh?" Sehun bergerak semakin menghentak, mempertemukan berkali-kali miliknya dengan titik kenikmatan milik Luhan.
Luhan mengangguk lemah, peluh di sekujur wajahnya. Sehun mengukir senyuman di wajahnya. Rasa bangga mengisi relung-relung di hatinya karena hanya dia yang dapat memberikan kenikmatan seperti ini pada Luhan.
"AAAAHHHH..."
Luhan telah meraih orgasmenya. Sehun dapat merasakan cairan itu membanjiri kejantanannya, memperlicin pergerakannya. Sehun menggertakan gigi-giginya, peluh di pelipis tak dihiraunya, menambah kecepatan ritme pergerakannya sampai ia turut membagikan jutaan sel sperma pada rahim Luhan.
"Luhan, kau yang terbaik." Puji Sehun setelah itu mereka kembali menyatukan bibir mereka sebentar.
Dikeluarkan sapu tangan putih itu dari saku celananya untuk mengusap kucuran keringat yang menempel pada wajah perempuannya. Sehun tak pernah bosan memperhatikan lamat-lamat wajah manis Luhan, terlebih seusai hubungan percintaan mereka di mana Luhan masih mengembalikan detak jantung dan napasnya kembali ke volume asal.
Mereka kembali bersitatap sejenak. Sehun mendaratkan kecupan ringan pada kening Luhan, sebelum pria itu meninggalkan Luhan dalam kesendirian di lorong yang gelap. Luhan tidak berminat menatap punggung kokoh milik pria itu, ia hanya memperhatikan dengan baik suara paduan sepatu dengan lantai sekolah yang perlahan-lahan menghilang di telan angin. Butiran bening itu terjatuh menubruk marmer tanpa Luhan sadari.
Lagi-lagi seperti ini, tidak berbeda dengan hari-hari yang lalu. Sehabis merasakan nikmatnya bercinta, Luhan lah sosok yang ditinggal. Luhan yang selalu terisak di dalam kesendiriannya. Akan tetapi, anak baru remaja itu tidak menyesali ulahnya. Luhan sudah tenggelam dalam lautan hitam, lautan darah, lautan dosa. Biarkan dia menghayati sekaligus menikmati fase-fase tenggelamnya sampai kedua telapak kakinya bersentuhan dengan lembutnya pasir laut ataupun kasarnya batu-batu karang.
Sehun tak ubahnya secercah cahaya dari sorot lampu mercusuar, yang bergerak menyoroti lautan dari satu sisi ke sisi lain. Cahayanya memang selalu hadir, tetapi tidak setiap saat. Lampu mercusuar itu menggilir cahayanya, baginya setiap sisi laut itu hanya persinggahan rutinnya. Sehun selalu datang pada Luhan, tidak lebih dari sekedar persinggahannya saja. Persinggahan untuk melampiaskan hasrat seksualnya.
Luhan tersenyum miris, mentertawakan dirinya sendiri. Sehun tidak menganggap perempuan seperti dirinya lebih dari pasangan seksualnya. Luhan pun tak berharap, sadar betul harga dirinya hanya ada di tempat sampah.
Banyak pasang mata menatap tajam gadis bertubuh sedang yang sedang menyusuri lorong ramai itu, tak luput pula bibir-bibir jahil mengomentarinya pedas sambil menguraikan tawa. Hal ini sudah biasa, Luhan telah bertebal muka untuk menghadapi ini semua. Luhan hanya ingin ke kantin membeli sebuah roti sandwich demi mengisi perut keroncongnya, dan ia tak dapat menolak tangkapan-tangkapan dari indera pendengarannya yang berupa hinaan. Luhan bukan seorang artis ataupun idola bahkan seorang jenius sekalipun. Dia adalah pelacur, penggoda ulung, begitulah pemikiran teman satu sekolahnya. Semua karena Oh Sehun si pangeran es sekolah.
Semua bermula dari kejadian dua tahun lalu. Sehun menyatakan perasaannya pada Luhan, dan pria itu tidak mendapatkan jawaban selain tidak. Sadar betul Luhan kalau pria pewaris tunggal Oh Group itu hanya bermain dengan pernyataannya. Sehun dan rekan-rekannya menjalani suatu taruhan, dan menjadikan Luhan sebagai kekasih Sehun adalah isinya.
Sebagai laki-laki yang tersemat julukan pangeran es juga fakta soal tiap perempuan rela membuka paha mereka untuk dirinya, tentu saja Sehun tidak semudah itu menerima penolakan. Menurutnya gadis Tiongkok itu telah mencoreng harga dirinya, mempermalukannya.
Sehun mendekati Luhan baik-baik, mengajaknya minum segelas kopi di Starbucks. Luhan dengan rendah hati menerima permintaan maaf Sehun, ia pun meminum kopi hangat di depannya. Sehun tersenyum mengingat bahwa kopi tersebut sudah bercampur dengan cairan afrodisiak. Ketika minuman mengandung afrodisiak itu tertenggak oleh tenggorokannya, tak hanya membutakan matanya namun juga jiwa dan daya pikirnya. Dia tak sanggup lagi memperhatikan siapa sosok di depannya, ia hanya butuh sentuhan-sentuhan lembut itu untuk menuntaskan nafsunya. Sehun menyadari geliat-geliat Luhan dan bergegas membawa gadis itu masuk ke mobilnya sebelum ia melaju cepat ke sebuah apartemen mewah miliknya.
Paginya Luhan terbangun di atas kasur dan ruangan yang tidak dikenalinya. Detak jantungnya membuncah tatkala menyadari bahwa dirinya tak berbusana apapun kecuali selimut tipis berwarna putih ini. Bercak berwarna kemerahan menghiasi tiap jengkal kulit putih sempurnanya, bau cairan ejakulasi pun tak luput dari indera penciumannya. Dia telah kehilangan mahkota berharganya, kesuciannya sebagai seorang gadis. Luhan ingin berteriak dan menangis, entah kenapa sesuatu sesederhana itu tak mampu ia lakukan. Ia hanya diam termangu di atas kasur, jantungnya kini berdenyut-denyut membuatnya merasa linu. Ia bangkit berdiri hendak menuju kamar mandi, secarik kertas putih memancing rasa penasarannya.
Kau liar sekali semalam.
Terima kasih x
OSH
Dua kalimat dan satu inisial itu sanggup membuat Luhan menjerit histeris disertai raungan menyedihkan.
Oh Sehun tidak berencana menyelesaikan penderitaan Luhan sampai di situ. Omongan-omongan tidak sedap didengar kini menghampirinya, foto-foto tak pantasnya beredar luas. Tak hanya itu, perempuan-perempuan penggemar lelaki itu pun menyakitinya tanpa segan. Sehun sukses menciptakan api dendam orang-orang di sekolah padanya, dan tak berniat memadamkannya sampai detik ini.
Luhan sudah didepak dari golongan sabar, kuat, tegar, atau apapun itu. Luhan tak lagi bisa membedakan rasa bahagia ataupun sedih dan sakit hati. Sedih dan sakit hati bukan alasannya untuk menangis, rasa takut itu yang mengikatnya. Takut dengan nasib masa depannya yang membuatnya limbung. Namun hanya satu yang Luhan miliki. Tuhan. Ya, sosok tak kasat mata itu selalu memberinya kekuatan.
