Disclaimer :

Yahari Ore no Seishun Love Come wa Machigatteru Wataru Watari

Pair : Yukino X Hachiman X Yui

A/N : Fanfic ini hanya berupa pemikiran asal dari author dan terdapat unsur Sex dan pelecehan, jika tidak suka dengan cerita ini. mohon tekan BACK kembali.

Summary :

Semuanya terjadi dengan tiba-tiba dan memalukan, melakukan hubungan intim dari seorang klien yang memiliki permintaan tak biasa dan secara tidak langsung tumbuh gejolak perasaan aneh yang disebut ketagihan, bagaimana rasanya dilecehkan, itulah yang dirasakan oleh Yukinoshita Yukino dan Yuigahama Yui dalam festival kinbaku

Chapter 1 : Festival

Ingatan wanita surai hitam panjang terurai bebas itu mulai membuka kedua tirai netra yang sebelumnya menutup akibat tak sadarkan diri. Matanya mengerjap melihat ruangan yang tak asing, bangunan yang terkunci dan tertutup rapat, hanya dengan ventilasi kecil dan satu pintu utama yang ada. Pikiran gadis muda itu terus berkecamuk saat ini, perasaan khawatir dengan apa yang akan terjadi pada dirinya

MMMPHH!

Tubuhnya tak bisa bergerak bebas. Kaget menyadari bahwa beberapa untaian tali merah melilit tubuhnya. kedua lengannya yang menyilang terikat dibelakang punggung keatas dibawah tengkuk lehernya, wanita itu terus memberontak dengan hebat, namun tak menghasilkan apapun, hanya rasa nyeri sakit dan kelelahan yang didapatnya, menerawang dan melihat sekitarnya yang terlihat redup dan remang-remang, karena kurangnya pencahayaan diruangan itu, membuatnya sedikit kesulitan menyesuaikan penglihatan.

Yukinoshita Yukino tak percaya melihat seseorang yang ia kenal, Yuigahama Yui, teman satu anggota klubnya. Yui masih pingsan dalam keadaan terikat tengkurap dilantai.

"Hmmph-… Yummmphgh…"panggilnya dari balik benda aneh yang menyumpal mulut Yukino, benda berwarna merah muda seperti bola kecil yang menahan suaranya, sehingga terdengar tidak jelas, Yukino terus mendekati Yuigahama yang masih tak sadarkan diri dengan mengerahkan kekuatannya meskipun dalam keadaan terseok-seok dilantai.

"Mpmfnfn! Nrngn Yugmmhamngn rnrrnmph!" Yukinoshita Yukino mengerang dan menggerutu, mencoba menyadarkan Yuigahama dengan mengoyah-goyahkan tubuhnya, berharap temannya segera sadar, namun inderanya terhenti mendapati sebuah pintu terbuka lebar. Betapa Yukino terkejut dengan pria yang dilihatnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak seakan tak memiliki kekuatan untuk berkata maupun bergerak.

.

.

Sebelum kejadian.

Waktu kegiatan sesudah pulang sekolah, beberapa siswa dan siswi masih ada beberapa yang melakukan kegiatan ekstrakulikuler, ada juga yang sekedar nongkrong. Namun tidak dengan anggota klub relawan diruangan ini. mereka bertiga sedang mendiskusikan permintaan seseorang yang menurut mereka cukup berat, pikiran canggung dan merona malu memahami brosur yang diberikan Hiratsuka-sensei sebagai permohonan dari seorang agensi kepada mereka berempat.

Mengalami keluhan kepribadian akan masalah yang dihadapi klien yang meminta saran kepada anggota club relawan memang sudah tugas utama untuk membantu, namun kali ini yang menjadi masalah permasalahan yang harus dihadapi anggota klub relawan adalah harus menghadapi masalah berbau konten dewasa dan cukup senonoh. Lebih tepatnya Festival KINBAKU.

"Bagaimana? bisakah kalian menanganiya?!" tanya wanita paruh bayah itu dengan nada ingin tahu jawaban mereka bertiga. Hikigaya hendak pergi "Aku tidak bisa melakukan ini! kuserahkan saja pada kalian-… Eh?!" Ucap pria hendak berdiri dan akan pulang namun terhenti mendapati suara lentikkan jari yang berbunyi keras, seakan siap mematahkan seluruh tulang pria itu, Hikigaya menyadari bahwa jika salah bertindak maka ajalnya akan berakhir ketika sampai ambang pintu keluar. Ancaman deathglare iris sang guru yang datar membuat Hikigaya bergedik ketakutan.

"B-Baiklah aku akan ikut membantu, t-tapi jangan menghajarku Hiratsuka-sensei!" mohonnya meminta ampun sambil duduk kembali kebangkunya. Senyum kemenangan menandakan dirinya kembali senang. Sedangkan kedua temannya hanya sweatdrop. Pria itu hanya menghela pasrah.

"Lalu bagaimana dengan kalian berdua, Yukinoshita? Yuigahama?" tanya sang guru. Mereka berdua hanya merona malu menunduk sambil menutup buku yang berisi konten-konten dewasa yang diberikan oleh sang guru dari buku dan brosur yang ada dimeja.

"K-Kurasa aku tidak bisa menerima permintaan ini Sensei, ini tidaklah cukup pantas bagi kami yang berumur masih anak SMA!" ujarnya dengan nada ragu.

"Uhm… Lalu bagaimana denganmu Yuigahama?" tanyanya kembali.

"A-Aku juga setuju, ini sangatlah m-memalukan. Apalagi ditempat u-umum. Aku tidak bisa dan tidak mau!" sahutnya mengeluh menyetujui Yukino.

"Kurasa aku harus membatalkan permintaan ini. bagaimana denganmu Hikigaya-… Hikigaya" tanyanya kembali. "Ada apa. Hikki?" Yui bingung melihat temannya membaca dengan seksama isi dalam buku dari permintaan klien tentang persyaratan dan pernjanjian yang dibuat dari pihak agensi penyelenggara. Sebuah senyum angkuh tersirat dari wajahnya

"Aku baru membacanya, sepertinya ini akan menarik!" jawabnya dengan santai.

EH!

"Kenapa dengan kalian?" tanyanya bingung melihat ketiganya.

"K-Kau yakin Hikki?!" tanya Yui gelagapan, memastikan ucapan Hikigaya.

"Kau benar-benar menjijikan Hikigaya-kun!" ejek Yukino memandang rendah bagaikan sebuah sampah, mendengarkan ucapan Hachiman yang terlihat antusias.

"Diam! Setidaknya aku bukan orang yang suka mengeluh sepertimu" ujarnya tidak terima perkataan Yukino.

"Kau serius Hikigaya?!" kata Hiratsuka tak percaya bahwa pria itu mulai tertarik.

"Aku baru membacanya setengah, jadi mana kutahu bahwa akan ada hadiah menarik disana! lagipula identitas kita dirahasiakan bukan?!" ujarnya sambil menunjukan catatan persyaratan dibawah form brosur tersebut.

"Masa, aku tidak tahu?!" sahut Yui dan Hiratsuka baru tahu, memeriksa brosur tersebut. membenarkan perkataan pria yang memiliki mata seorang pemalas yang tidak memiliki semangat hidup.

"Makanya baca hingga selesai baru berkomentar! Jadi bagaimana?!" sahut Hachiman kesal dan memastikan.

"Sepertinya akan menarik, bagaimana jawaban kalian berdua?" Hiratsuka mulai tertarik.

"Kalau H-Hikki ikut a-aku akan ikut juga! lalu bagaimana denganmu Yukinon?" tanya balik Yui gugup dan menanyakan Yukino.

"A-Aku tak tahu, aku merasa ragu saja, jika diminta menjadi bagian model dari acara agenda festival kinbaku ini, bagaimana?" ragunya merasa tidak nyaman sambil mendekap dadanya dengan kedua tangan yang terkepal takut.

"Jadi seorang Yukinoshita yang angkuh dan tenang bisa ragu dan takut dengan hal seperti ini!" ejek pria itu merasa menang dengan nada sarkasme mengintimidasi, melihat Yukino yang ragu dari irisnya. Yukinoshita yang mendengar ucapan Hikigaya mulai kesal. "Apa kau bilang! Aku tak mau disebut lemah oleh orang yang memiliki mata sebusuk ikan mati sepertimu Hikigaya-kun!" elaknya tak terima diremehkan.

"Kalian berdua tenanglah!" lerai Yui menengahi kedua temannya yang selalu berkelahi.

"Kalian berdua ini, jadi bagaimana keputusannya? mau terima atau tidak?!" ujar wanita paruh bayah memastikan jawaban ketiga muridnya.

"Baiklah, aku ikut!" jawab Hikigaya santai.

"Aku juga!" Jawab Yui dengan semangat.

"Lalu bagaimana denganmu Yukinoshita?" tanyanya kembali.

"Baiklah" helanya pasrah."Baiklah, kalau begitu aku akan mengkonfirmasi pada pihak dari klien sekarang, besok kita bertemu disekolah jam 10 pagi" ujar sang guru.

OK!

.

.

Keesokan harinya.

Mereka semua sudah berkumpul ditempat yang sudah dijanjikan, sebuah mini bus datang menjemput mereka. membawa semua anggota klub relawan menuju tempat Festival Kinbaku yang berada di Kyoto. Perjalanan terasa menyegarkan dan nyaman, karena dalam perjalanan sesekali mereka bercanda menghilangkan kebosanan. Terlalu asik mengobrol tanpa sadar mereka telah tiba ditempat tujuan dan turun dari mobil, mengenakan topeng pesta yang diminta oleh sang supir dan memasang id card tamu pengunjung khusus pada dada mereka sebagai identitas diri. mulai masuk kedalam bangunan gedung ditempat festival, menemui resepsionis untuk menemui manager penyelenggara acara festival yang sedang berlangsung ini.

"Selamat datang, namaku adalah Hanashima kouji aku sangat senang kalian menerima penawaran bantuan untuk berpartisipasi dalam festival ini. aku akan mengajak kalian berkeliling dan membahas kontrak kesepakatannya. Silahkan ikuti aku" ajak pria paruh bayah itu sepantaran Hiratsuka mungkin.

Tanpa menunggu mereka melihat sekeliling kanan, kiri, terlihat para model cantik yang sedang tampil, diikat oleh para pria yang mengenakan topeng, walaupun baru berupa latihan dasar untuk acara 2 hari kedepan yang akan diselenggarkan besok lusa, namun bagi mereka yang baru pertama kali melihat secara langsung festival ini tentu akan canggung apalagi jika erangan erotis para slave yang begitu terdengar menggoda. Yukino dan Yui yang melihat itu menjadi gugup dan malu sendiri menyaksikan kejadian yang belum pernah dilihat sama sekali. berjalan-jalan hingga sampailah diruangan kantor dan menyuruh mereka semua duduk.

"Silahkan duduk" kata pria itu dengan santai, mereka semua duduk disana.

"Aku sudah membahas ini dengan Hiratsuka-san, jika kalian menyetujui kontrak yang berada didalam kertas ini. aku ingin meminta tolong kerja-samanya, kalian pun bisa ikut berpartisipasi" ujarnya mulai menyerahkan lembar kontrak itu kepada semuanya. Hiratsuka dan Hikigaya langsung mengisinya dan memberikan kembali kepada sang manager, sedangkan Yui dan Yukino, mereka berdua terlihat diam dan ragu untuk memberikan keputusan..

"Ada apa? Yukinoshita-san, Yuigahama-san?" tanya sang manager.

"Boleh aku bertanya Hanashima-san?" tanya Yukino.

"Tentu"

"Kau tidak akan mempublikasikan, hasil foto model kami dimedia umumkan?" tanyannya ingin meminta kepastian.

"Tentu saja" sahutnya.

"Dan kau tidak akan melakukan hubungan intim kepada kami kan, seandainya kami berpartisipasi?" tanyanya kembali.

"Tentu saja tidak, aku mengerti kalian waspada dan baru pertama kali menerima job ini, namun kami tidak akan melakukan apapun pada kalian, jadi tidak perlu cemas" katanya menyakinkan kedua wanita itu yang terlihat ragu.

Keduanya melihat Hiratsuka dan Hikigaya, memberikan anggukan kecil, tanda semuanya akan baik-baik saja. Mereka pun akhirnya mengerti dan mulai mengisi form, menandatangi kontrak yang dibuat. Gerakan tangan dalam genggaman bolpoint itu berhasil terlihat jelas dalam kertas yang tertulis sesuai perjanjian. Mengambil sebuah barang dari lokernya.

"Kalian bisa langsung menuju ruangan lantai 3" para pelayan menghampiri mereka dan menyuruhnya mengikutinya. Hikigaya memisahkan diri dari mereka bertiga karena sudah dapat mulai bekerja bersama para pegawai lainnya sebagai fotografer. Momen menarik dan angle yang pas saat slave sedang erotis memang menyenangkan dan harus masuk dalam pemotretannya. Itulah tugasnya saat ini.

Sedangkan Hiratsuka, Yukinoshita dan Yuigahama sedang berada diruangan kantor rapat untuk membahas tema apa yang akan digunakan untuk perayaan festival Kinbaku 2 hari yang akan datang, beberapa saran ide dan kritik para peserta mulai memberikan masukan, lalu konsep model apa yang ingin digunakan. tentu ini akan menjadi hari yang cukup panjang, karena acara event ini yang cukup besar dan terkenal.

.

.

Waktu sudah menunjukkan sudah senja sore. Berakhirnya persiapan acara telah terlaksana, tinggal membahas konsep tema yang akan digunakan. beberapa orang dikeramaian ruangan itu yang menikmati santapan dari pihak penyelenggara. Makanan dan minuman yang sudah disajikan dikantin sana. Hachiman masih makan dengan santai menikmati hidangan yang ada sambil memeriksa hasil foto kerjanya, mengecek apakah ada kesalahan dan angle yang kurang bagus. Para wanita datang menghampiri kursi dimana pria itu duduk, Hikigaya yang melihat para wanita terlihat lesuh dan malas hanya sweatdrop melihat kelakuan mereka bertiga, seperti orang enggan hidup. "Ada apa dengan kalian?" tanyanya.

"Aku ingin menyerah saja!" keluh Hiratsuka.

"Memangnya ada apa dengan anda, Hiratsuka-sensei?" tanyanya tak mengerti gurunya menggerutu.

Dirinya mengelengkan kepalanya pelan. "Semua saran kita ditolak, karena temanya terlalu biasa, kata para agensi, mereka mengatakan bahwa tema yang diusulkan sudah pernah dilakukan" sahut Yui malas.

"Aku benar-benar tidak memiliki ide"

"Oh,… kalau begitu tema ini, bagaimana?" usul Hikigaya memberikan sebuah kertas yang dicoret-coret itu kepada mereka berempat.

"Biarawati?" gumam Yukino. Keduanya mencoba melihat dan memahami konsep yang dibuat pria itu.

"Memang masih mentahan, namun pak manager memintaku juga mengusulkan ide yang kupunya, jika kalian mau pakai saja ide ini" saran Hikigaya.

"Kurasa kita bisa menggunakan ini, kerja bagus. Hikigaya" puji Hiratsuka mengerti dan meminta salinnya.

"Kau benar-benar mengerti akan hal ini, Hikki?" kata Yui tak percaya.

"Tentu saja, sebagai seorang introvert, kemampuan ku untuk mengembangkan potensi sangatlah lebih baik dibandingkan kalian semua!" ujarnya merasa angkuh.

"Dasar sombong" ejek Yukino tersenyum menemukan titik terang masalah ini.

"Diam! Tapi,… aku disuruh mengujinya terlebih dahulu" kata Hikigaya kembali.

"Apa maksudmu?" tanya Hiratsuka.

"Begini, Pak manager sudah melihat konsep yang kubuat, saat dia memintaku memberikan ide usulan beliau setuju, namun yang menjadi masalah adalah aku perlu model sketsa dari orang yang mengenakan kostum dari tema ini untuk memeriksa apakah sesuai atau tidak. itulah masalahnya" ujarnya kembali.

"Begitu ya" Yui mengerti maksud perkataan Hikigaya.

"Mencari model wanita yang ingin ikut berperan dalam proyek ini sangatlah sulit. Apalagi jika mereka meminta tarif yang mahal, Apa aku harus meminta Iroha atau Komachi saja ya" gumamnya sendiri, Yui yang mendengar itu segera menyela.

"A-Aku akan jadi modelmu. Hikki!" ucap Yui dengan keras hingga membuat semua orang melirik kearah mereka. Hiratsuka yang dilihat semuanya meminta maaf kepada para staff pegawai tugas disana.

"Tenanglah, Yuigahama tidak usah berteriak seperti itu" sahutnya tidak suka nada bicara temannya yang kelewatan semangat.

"Ah,… maaf, aku akan jadi modelnya. B-Bisakan. Hikki?" tanyanya ragu dengan nada gugup.

Pria itu tersenyum melihat Yuigahama yang selalu bisa diandalkan, disaat seperti ini.

"Tentu saja" sahutnya.

"Ok, jadi bisakah kita mulai setelah makan" katanya kembali.

"Iya-iya, tidak usah bersemangat seperti itu juga!" pinta Hikigaya tenang. Yuigahama hanya tertawa kecil, karena terlalu bersemangat.

"Baiklah, kalau kalian sudah memutuskan kurasa aku akan berjalan-jalan sebentar. Sisanya kuserahkan kepada kalian semua"

"Iya" sahut mereka berdua. melihat keakraban Hikigaya dan Yuigahama yang sedang membicarakan rancangan desain konsep untuk festival membuat perasaaan gejolak aneh meresap pada hati Yukino yang tidak suka. Perasaan tidak masuk akal yang tidak bisa dijelaskan. Wanita itu hanya diam dan mengeratkan kedua tangannya yang mengepal pada roknya, melihat kedekatan kedua orang itu membuat Yukinoshita merasa sakit hati.

"Oi… kenapa kau diam saja?" panggil Hikki.

"Ah… tidak, aku mau pergi membeli jus!" sahutnya tersadar dari lamunannya, berlalu meninggalkan keduanya.

"Ada apa dengan dia, aneh sekali!" gumamnya kembali, sedangkan Yuigahama yang melihat gerak geriknya akhirnya sadar, mengapa Yukino terlihat kesal.

"Hikki, tunggulah disini. aku ingin ketoilet sebentar" ucapnya berlalu meninggalkan pria itu yang terlihat kebingungan.

.

.

Wanita surai hitam itu terdiam didekat taman. Wajahnya tertunduk memikirkan hal yang menurutnya sangat menyebalkan dan menyakitkan. Dirinya terlihat tidak suka dan marah, seseorang menghampirinya.

"Yukinon…kau ada disini" katanya duduk disamping Yukino.

"Mengapa kau ada disini, bukannya kau harusnya membantu. Hikigaya-…"

"Aku ingin bicara denganmu…. A-Apa kau membenciku?" Kata Yui memotong perkataan temannya.

"Kenapa aku harus membencimu. Yuigahama-san. aku baik-baik saja-…" Yukino tampak diam sejenak dan menghela untuk menjawab pertanyaan Yui.

"Bohong!" selanya.

Yukino yang mendengar pernyataan Yui terkejut. "Aku tahu kau membenciku! Aku tak ingin hubungan kita berakhir bermusuhan, aku ingin kita bertiga selalu bersama sampai kapan pun!"

"Aku tahu bahwa kau menyukai Hikki juga kan. Yukinon?!"

"Itu…" jawabnya mengantung ragu.

"Aku selalu ingin bersama Yukinon dan Hikki, jadi kumohon… tetaplah bersamaku" mohonnya, Yukino yang melihat Yui sudah berlinang air mata, liquid bening jernih dari kedua netra kelopak matanya siap menangis.

Yukino yang mendengar pernyataan itu hanya menunduk. "Ini benar-benar tidak adil! Yuigahama benar-benar naïf yah! Mana mungkin aku bisa bersama dengan teman yang sudah jatuh cinta dengan pria yang aku suka juga. Aku tidak bisa menerimanya!" ujar Yukino menumpahkan emosinya kepada Yui yang ikut menangis.

Yui yang mendengar itu mengeratkan jaket hijau yang dikenakannya, memeluk Yukino yang begitu rapuh bagaikan ranting kayu tipis.

"Maaf…."

"Maafkan aku,… aku ini begitu egois, hingga tak sadar bahwa Yukinon begitu menderita!" sesal yui baru sadar.

"Aku hanya ingin pertemanan kita selalu seperti ini. Aku tak ingin kehilangan siapapun, jadi kumohon tetaplah disini bersamaku. Yukinon" ujarnya dengan tanda mata berkaca-kaca tak bisa membendung kesedihannya. Wanita itu yang melihat keseriusan dan kejujuran Yui hanya menghela dan menghapus air matanya seolah tak ingin kesedihannya dilihat oleh temannya.

"Aku mengerti. Jadi aku akan ikut dan membantumu Yuigahama-san" Yui yang mendengar itu dari mulut temannya langsung bermuka senang dan mengangguk.

"Hn, Terimakasih Yukinon!" angguknya senang.

Diruangan kamar 205 Hachiman dan Yuigahama sudah dengan kostum yang disetujui untuk sampel pemotretan, namun ada satu hal yang membuatnya tidak nyaman.

"Jadi, kenapa kau ada disini juga Yukinoshita, kau kan bukan model disini?"

Yukinon hanya diam dengan muka semu memerah, sedangkan Yuigahama hanya tertawa canggung.

"M-Memang aku bukan model, tapi aku harus menemani Yuigahama agar Hikigaya-kun tidak macam-macam kepada Yuigahama-san" ujarnya mencari alasan rasional yang mudah diterima olehnya. Mengapa dirinya ada didalam kamar juga.

"Terserah kau sajalah, tapi jangan ganggu kerjaku" sahut Hikigaya mengingatkan. Mengambil tas putih dan mengeluarkan isinya yang berisi banyak tali. Baik Yui dan Yukino yang melihat banyaknya tali yang dikeluarkan oleh Hachiman membuat keduanya tampak khawatir dan sedikit risih, beberapa untaian tali dibuka oleh pria itu untuk melihat panjangnya tali.

"Talinya banyak sekali" sahut Yuigahama agak pelan, Yukinon yang mendengarnya hanya tertawa canggung dan percaya bahwa Hikigaya tidak akan melakukan apapun yang aneh-aneh.

"Kau takut?"

"Tentu saja tidak!" elaknya bersemangat

"Baiklah, Yuigahama kesini" wanita itu hanya menurut mengikuti perintah Hachiman.

"Berbaliklah, letakkan tanganmu dibelakang" perintahnya. Yuigahama hanya menurut beberapa untaian tali mulai mengikat dan membuat simpul untuk menahan gerak bebas tangan wanita itu. tali itu berada diantara bawah dan diatas dadanya yang mencuat karena tertarik akibat tali yang mengikat tubuhnya.

NGGGH!

Hachiman yang mendengar desahan Yuigahama hanya tersenyum tanpa arti, melirik Yukinoshita yang terlihat memerah, karena temannya sedang dijadikan objek model pemotretan, melihat aktivitas yang pria itu lakukan kepada temannya. Beberapa kali dan dengan cepatnya tangan, lengan, dada, kaki sudah terikat dengan kuat dan pastinya sulit untuk bergerak bagi wanita itu yang sedikit meronta-ronta mengeliat dikasur saat ini.

Hachiman telah selesai mengikat temannya, wanita itu masih sibuk mencoba melepaskan diri, namun tak berarti. "Ini terlalu kencang, H-Hikki" kata Yuigahama gugup diperhatikan oleh kedua temannya.

"Kau terlihat sangat cantik, Yuigahama?" puji Hikigaya katanya sedikit merona membuang muka kesamping untuk menyembunyikan rasa malunya, wanita itu tampak tersenyum malu.

"T-Terima kasih. Hikki"

Pria itu pun kemudian membantu Yui dalam posisi duduk dengan membelai wajahnya.

Temannya yang tampak bersemu malu dengan mata tertutup "A-Ano… Hikki" ucapnya malu sambil melirik kebelakang.

"Oh,… Maaf" kata Hikigaya baru sadar kalau dibelakangnya ada Yukinon.

"Kita baru saja mulai, bertahanlah dulu" kata Hachiman memasukan sebuah benda berwarna merah seperti bola masuk kedalam mulutnya dan menyumpal. Yui hanya menurut, pria itu mulai memasangkan benda tersebut. Yuigahama terdengar seperti ingin bicara namun tidak jelas sekarang. Hikigaya hanya tersenyum memukul pelan bola yang berada dalam mulut temannya.

HMMKIIPH! HMGHMPH!

"Maaf…Hehehe…"

Hikagaya tertawa kecil melihat gadis itu mengerang dalam sumpalan mulutnya, Yukinoshita secara diam-diam melirik dan dalam hatinya berdebar kencang ingin ikut bermain dengan sahabatnya. Pria itu melirik sejenak Yukinoshita dan kembali melihat Yui "Nah sekarang, cobalah untuk melepaskan diri dan nikmati momen menyenangkan ini. Yuigahama" ujar Hikigaya memasang penutup mata dan headset Handphone dalam telinganya.

Yui hanya menurut mengikuti permintaan temannya, tubuh gadis itu kembali dibaringkan dikasur dalam posisi tidur meronta mencoba membebaskan diri. Selagi Yui mengeliat disana mencoba melepaskan diri, Hikigaya kini melihat kearah Yukinoshita dan mengambil beberapa tali dalam tasnya "Mau ikut bermain?" tawar Hikigaya menunjukkan beberapa untaian tali sambil tersenyum kepadanya.

Yukinoshita yang mendengarnya antara ragu dan takut. Dirinya sesaat ingin menyentuh tali yang dipegang Hikigaya namun dirinya terhenti dan membuang muka kesamping. "D-Dasar mesum!" ujarnya kesal sambil berlari kepintu, membuka dan menutupnya dengan kasar. Pria itu yang mendapatkan jawaban tersebut hanya menghela.

"Sudah kuduga dia tidak akan menyukai ini" gumamnya memahami dan melirik Yuigahama yang masih meronta dikasur, bentuk lekuk tubuhnya yang berisi, terlihat begitu menggoda, Hikigaya yang sudah tidak tahan mulai mendekatinya.

KREIIIT….

Suara pintu dibuka kembali dan terlihat Yukinoshita yang masuk kedalam dengan muka tertunduk, Hikigaya yang melihat itu tidak mengerti dengan sikap temannya. "A-Aku mau melakukan itu, t-tapi jangan lakukan yang aneh-aneh. H-Hikigaya-kun" ucapnya, sambil membalikkan badan dengan tangan kearah punggung dengan muka memerah malu-malu tapi mau.

Hikigaya yang mendengar jawaban itu hanya tersenyum tipis. "Kau yakin?!" Yukinoshita hanya mengangguk menyetujui.

"Baiklah, ayo kita mulai" kata Hikigaya mengambil talinya dan mulai melangkahkan kakinya kearah Yukinoshita.

TO BE CONTINUE…