Bagai seorang yang tengah berusaha membuang bebannya, dia menarik-hela napasnya begitu berat—entah sudah yang keberapa kalinya. Dia tak habis pikir akan dampak dari bunga tidur yang dia dapatkan hari ini. Sebuah mimpi buruk. Ya, hanya mimpi buruk biasa. Mimpi di mana dia bertemu dengan seorang hantu, bukanlah kali pertama ia mendapati bunga tidur yang amat mengerikan begitu. Biasanya ia mampu 'tuk menganggapnya bak angin lalu, namun entah mengapa untuk mimpi yang dia dapatkan semalam tak mampu ia abaikan.

Mungkin karena mimpi itu telah membawa sosok dari 'seseorang'? Atau karena mimpi semalam telah mengingatkan dirinya akan sebuah dosa di masa lampau?

Lagi-lagi, napas berhembus dengan begitu berat dari belah bibirnya. Begitu berat hingga menimbulkan suara pula mengundang tanya dari si penjaga UKS.

"Ada apa? Tak biasanya saya melihat anda segundah ini, Kurapika-sensei?"

Kurapika yang merasa ditegur oleh sebuah lontaran pertanyaan langsung mengalihkan kedua maniknya dari langit-langit UKS kepada sosok yang tengah duduk di sana. Tidak terlalu jauh, jarak mereka hanya dibatasi oleh satu buah tempat tidur. Jadi kiranya ia tak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk melontarkan kalimat jawab.

"Ah, ternyata memang kelihatan, ya?"

"Siapapun bisa melihatnya dengan jelas." Satu-satunya kalimat yang tak mampu ia elak sebab benar adanya. Dia pun sadar bahwa kegundahan yang tengah singgah dihati kini memang mengundang beberapa aksi aneh dari dirinya. Dimulai dari ia yang menabrak gerbang sekolah, salah masuk kelas, kerap melamun, dan lain sebagainya. Dan sebab aksinya pagi ini, ia harus berakhir dengan kondisi terkini—terbaring di UKS kerana praduga para rekan kerja yang menganggapnya tengah demam—meski sebenarnya ia sangat sehat wal'afiat.

Sejenak dia membenarkan posisi kompresan yang miring, "Saya pun tidak mengerti...Mungkin sebab mimpi semalam?"

Terendus topik pembicaraan akan menjadi sangat menarik, tentulah berhasil memikat rasa tertarik dari rekan sejawat di sana, "Mimpi?" Namun baru Kurapika menarik napas untuk menjelaskan lebih lanjut, kehadiran seorang murid perempuan menginterupsi.

"Sensei, ini tugas dari kelas kami. Sudah kami kerjakan semua sesuai dengan perintah anda. Di mana saya harus menaruhnya?"

Kurapika langsung menyipitkan mata kala melihat murid tersebut. Tidak, bukan kerana pengelihatannya buruk. Namun agaknya...sosok murid itu sangat familiar?

"Ah, sila taruh di meja ini." Jawab si guru tersebut yang juga merupakan penjaga dari UKS sambil mengetuk-ngetuk bagian dari mejanya yang masih kosong. Murid perempuan yang berdiri di ambang pintu sana langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruangan UKS. Dan entah mengapa seketika suasana berubah begitu dramatis—bagi Kurapika.

Surai biru sepinggang, netra kebiruan, juga suaranya...

Ia mengenalinya, Ia amat mengenalinya!

"N—Neon Nostrade?"

Suara yang terkumandang secara tak sengaja oleh Kurapika itu berhasil menarik atensi mereka—Si guru beserta murid perempuan. Masing-masing sorot mata menyiratkan makna yang berbeda. Sorot mata rekan sejawatnya terkesan menyiratkan perasaan bingung. Sementara si murid?

Sorot matanya penuh kerinduan. Dan sorot mata si murid itu sempat Kurapika dapati sebelum murid tersebut mulai membungkuk dan pergi meninggalkan ruang UKS. Kurapika langsung bangkit disaat itu juga untuk mengejar sosok tersebut.

"Tunggu sebentar, Kurapika-sensei! Anda masih belum sehat!" Namun amat disayangkan, seruan dari rekan sejawat Kurapika itu malah tak dihiraukan. Ia malah lebih fokus kepada murid yang baru saja singgah di UKS tadi.

"Tunggu, kau!" Panggil Kurapika, berusaha untuk menghentikan langkah kaki murid puan yang bersurai biru itu. Namun karena seruannya tadi tak digubris, akhirnya Kurapika menyerukan sebuah nama.

"Neon Nostrade!"