Title : Second Chance, Second Mistake.

Author : Jeruk Mandarin

Rating : Mature, NC

Genre : Alternative Universe; Romance

Cast : Ereri (Eren x Levi)

CHAPTER 9

.

.

.

Chapter ini gaya habasanya sangat cepat. Warning sangat cepat. Mohon dmaklumi karena author sibuk dengan dunia nyata. Akhir-akhir ini ada waktu senggang jadi aku berniat buat nerusin FF terbengkalai ini. Makasi buat yang udah nungguin. Hiks… Terharu sekali aku…


"Eren bangun!"

Eren membuka pelan kelopak matanya yang masih terasa amat berat. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan kekasihnya yang sedang kesal.

Huh?

Kenapa dia kesal? Eren penasaran tapi rasa kantuknya membuatnya tidak ingin ambil pusing. Dia hanya menggeliat sedikit kemudian kembali memejamkan matanya berniat kembali menyelam ke alam mimpi. Tapi sebuah pukulan cukup keras mendarat dibahunya yang tak berdaya membuatnya refleks berjengit dari tempat tidur karena kaget.

"Sir Levi!" Eren memanggil dengan nada marah.

Tapi pria yang lebih tua tampak tidak peduli. Dia malah melayangkan pandangan tajam dan menantangnya sambil melipat tangan didepan dada. Posenya yang garang itu membuat Eren menciut seolah tubuhnya menjadi sekecil semut dan Levi sebesar Titan. Eren terduduk ditempat tidur dengan cengiran lebarnya yang kekanakan sambil menggosok tengkuknya dengan gerakan kikuk.

"Sir Levi Ohayou.." Sapa Eren dengan suaranya yang dibuat manis.

"Hemmm..." Sahut Levi.

"Kenapa sir Levi membangunkanku?" Tanya Eren berkedip-kedip polos.

"Apa kau lupa ucapanku semalam?"

Eren menatap pria itu dengan ekspresi bingung. Jelas dia telah mengalami semacam serangan hilang ingatan setelah tidur.

Melihat reaksi lemot Eren. Levi memutar bola matanya jengah.

"Ayo pergi hari ini."

Eren tentu tidak bisa menahan rasa senangnya mendengar itu. Wow! Bukankah ajakan itu terdengar seperti ajakan kencan?! Eren langsung melompat dari tempat tidurnya dan dengan gembira mendekati Levi.

"Kemana kita akan pergi?" Tanya Eren bersemangat.

"Mandi dulu nanti kau akan tahu." Jawab Levi membuat Eren semakin bersemangat. Diapun segera meluncur kekamar mandinya dengan setengah berlari. Rasa kantuknya mendadak menguap dan tubuhnya dipenuhi energi.

Levi menatap pemuda itu sambil geleng-geleng kepala apalagi melihat tempat tidur yang berantakan. Levipun merapikan tempat tidur sambil menunggu Eren selesai mandi.


Selesai mandi Eren keluar dari kamar. Dia tercengang melihat ada banyak makanan di meja dalam kotak bekal. Apa ini? Apakah mereka akan pergi piknik atau semacamnya?

"Apakah kita akan pergi piknik?" Tanya Eren penasaran. Dia duduk dikursi dan memperhatikan Levi yang sibuk menyusun makanan kedalam kotak.

"Ini akan berguna saat bekendara ketempat yang jauh." Jawab Levi singkat.

Eren tidak berkata apa-apa lagi dan memilih mengecek ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Armin yang menanyakan kegiatanya hari ini. Eren membalasnya singkat tentang rencanaya pergi dengan sir Levi ke suatu tempat. Armin hanya membalas singkat bahwa dia berharap Eren menikmati waktunya. Eren tidak membalas lagi dan hanya memperhatikan Levi menyiapkan makanan kedalam kotak bekal.

Setelah semuanya selesai Eren membantu Levi membawa kotak makanan yang cukup berat itu kedalam mobil. Dia kelelahan dan agak lapar. Tapi kekasihnya seolah tidak peka dengan kondisinya. Sepagi ini pergi dengan mobil dengan perut kosong. Seharusnya mereka makan beberapa bekal tadi bukan begitu? Tapi naasnya Levi malah sibuk memeriksa semua barang-barang yang dibawanya.

"Sepertinya sudah semua. Ayo pergi." Kata Levi menutup bagasi belakang mobil Eren.

Eren menghela napas panjang dan berjalan ke kursi kemudi dengan lunglai. Levi duduk disebelahnya dan mobilpun mulai melaju.

"Berhenti didepan cafe itu." Kata Levi menunjuk sebuah bangunan café si sisi kiri jalan..

Eren menepikan mobilnya diparkiran sesuai instruksi Levi.

"Kenapa kita berhenti disini?" Tanya Eren tidak mengerti.

"Sarapan." jawab Levi singkat seraya keluar dari mobil.

Eren berucap terima kasih dalam hati dan mengikuti pria itu keluar dari mobil. Mereka berjalan memasuki cafe. Bunyi lonceng kecil bergerincing ketika Levi mendorong pintu.

"Selamat datang!" Sambut hangat sebuah suara seorang pria.

Eren mengikuti Levi berjalan masuk sambil memperhatikan sekeliling cafe yang tampak hangat dan nyaman itu. Wow! Tempat yg bagus dan jaraknya juga cukup dekat dari apartemen! Kenapa Eren baru tahu ada tempat seperti ini disekitar wilayah tempat tinggalnya?

"Oh!" Seru seorang pria dari balik pantry café..

Eren refleks menoleh pada pria itu dan memperhatikanya dengan seksama. Pria didepan belakang pantry itu ternyata tampan. Tapi yaaa tentu saja lebih tampan Eren sih.

"Levi? Lama tidak melihatmu." Kata Pria itu dengan senyuman hangat ketika melihat pengunjung cafenya adalah Levi.

"Hm." Jawab Levi pendek dan berhenti didepan pria itu.

Eren yang berdiri disamping Levi semakin meneliti pria dibalik pantry café dengan pandangan seksama tetapi tajam dan aura permusuhan.

"Apa kau sedang kehabisan ide seperti biasanya?"

"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku mampir karena aku lapar."

Mendengar itu pria dibelakang pantry terkekeh dengan menawanya. Oh My God! Apa dia sengaja menunjukkan pesonanya itu pada Levi atau Apa sih? Eren menggerutu dalam hati.

"Baik-baik silakan pesan apapun yang kau suka. Aku beri diskon!"

Eren mengernyitkan keningnya tidak suka. Apa-apaan itu? Apa dia beksud menggoda Levi dengan cara murahan seperti itu? Cih! Diskon? Sungguh kuno!

Levi mengangguk dan tampak sibuk membolak-balik buku menu. Sementara itu tanpa Levi ketahui, Eren dan Pria dibelakang pantry itu saling tatap menatap. Eren dengan pandangan tajamnya dan pria dibelakang pantry dengan pandangan kebingunganya. Ditatap dengan tajam seperti itu lama-lama membuat pria dibelakang pantry itu menjadi tidak nyaman.

"Oh ya.. . Apa pemuda ini temanmu?" Tunjuk Pria dibelakang pantry itu pada Eren.

Levi mengalihkan fokusnya dari menu kepada Eren.

"Bukan." Jawab Levi singkat.

"Oh..."

"Dia pacarku." Jawab Levi santai.

Pemuda dibelakang pantry membuka lebar mulutnya karena shock. Sementara Eren juga tak kalah shocknya mendengar jawaban yang sangat frontal itu. Dia tidak salah dengar kan? Levi secara terbuka mengakui hubungan mereka? Sulit dipercaya. Eren ingin rasanya menangis terharu mendengar ucapan pria itu.

Eren sangat senang sekali Levi memperkenalkanya sebagai pacar! Kepalanya terasa sangat besar sekarang.

"B-benarkah?" Pria dibelakang pantry tercekat.

"Ya benar."

Eren memasang senyum kemenanganya.

"Oh selamat akhirnya kau punya kekasih. Siapa namamu?"

"Eren " jawab Eren singkat.

"Hmm... Nama yang tidak asing. Baiklah Eren namaku farlan. Aku pemilik cafe ini. Salam kenal!"

Farlan mengulurkan tanganya dengan senyuman ramahnya yang menawan. Eren menjabatnya singkat sebagai wujud sopan santun.

"Eren silakan pesan apapun yang kau mau. Semua menu disini aku jamin enak."

Eren hanya membalasnya dengan membuang muka. Sikap tidak bersahabatnya itu membuat Farlan sweatdrop dan memilih mengalihkan perhatianya lagi pada Levi.

"Levi apa kau sudah menemukan menu yang kau mau?" Tanya Farlan ramah.

"Aku ingin kopi dan pancake saus kacang."

"Baik menu favmu aku tau. Bagaimana denganmu Eren?"

"Sama." Jawab Eren sekenanya.

"Baik. totalnya XXX."

Levi mengeluarkan kartu kreditnya dan membayar.

"Silakan pilih meja kalian aku akan mengatarkan makananya kesana."

"Hm." Levi berjalan meninggalkan pantry diikuti Eren dibelakangnya.

Café itu tampaknya baru buka jadi hanya ada mereka sebagai pengunjung pertama. Keduanya sepakat untuk duduk didekat jendela, sambil menunggu makanan datang Eren tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menatap pada kekasihnya yang tampan itu dengan wajah berseri-seri sambil sesekali tersenyum-senyum sendirian.

"Apa? Kenapa kau senyum-senyum seperti orang bodoh?" Tanya Levi merinding melihat kelakuan kekasihnya yang terkadang absurd.

Eren menggeleng, dia meraih tangan Levi yang ganggur membuat pria yang lebih tua memberinya kernyitan didahi dan ekspresi waspada.

"Aku hanya senang sekali karena sir Levi memperkenalkanku sebagai pacar!"

"Jika aku tidak melakukanya kau pasti akan membuat drama panjang hari ini. Jadi aku mengalah." Kata Levi memutar bola matanya jengah. Dia menarik tanganya dari meja menjauhkanya dari Eren.

Eren mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan kejam kekasihnya itu.

Tak berapa lama makanan yang mereka pesan datang dan keduanya makan dengan tenang.

"Apa sir Levi sering kemari?" Tanya Eren penasaran sambil makan pancakenya yang ternyata lezat.

"Hm.. Kadang-kadang."

"Tempatnya bagus."

"Hemmm..."

"Pancakenya enak juga."

"Hemmm..."

"Sir Levi punya selera bagus." Puji Eren seraya memberi 2 jempol sebagai apresiasi

Levi menatap pemuda itu dengan pandangan datar.

Setelah makan keduanya langsung keluar dan kembali ke mobil.

Eren melajukan kembali mobilnya.

"Sebenarnya kemana kita akan pergi?" Tanya Eren sambil menyetir.

"Distrik Maria."

"Eh? Buka kah itu cukup jauh? Apa tidak apa-apa pergi kesana?" Tanya Eren ragu.

"Kau tidak mau?"

Eren menggeleng cepat, "Bukan begitu hanya saja aku tidak begitu hafal jalanya."

"Aku tau jadi teruslah menyetir."

"Baiklah."


Distrik Maria merupakan distrik terluar. Itu sangat jauh dari pusat kota. Butuh waktu sekitar 4-5 jam dengan mobil melewati jalanan yang tidak mulus, berkelok dan berbatu. Eren bahkan sampai lelah menyetir karena medan yang begitu beratnya. Untung saja mereka membawa bekal cukup banyak jadi Eren tidak begitu merasa merana sebagai seorang supir hari itu.

Setelah 5 jam perjalanan akhirnya mereka sampai disebuah desa kecil yang indah. Rumah-rumah masih bergaya eropa tradisional dengan pekarangan luas dan bunga-bunga warna-wani menghiasi dipagar dan pekarangan rumah. Warga-warga masih banyak yang bersepeda dan berjalan kaki santai. Walaupun jalan menuju kemari hancur seperti medan perang tetapi anehnya jalan di desa ini sangat mulus. Dibuat dari batu yang tata sedemikian rupa sangat rapi sehingga mobil Eren bisa melaju mulus tanpa hambatan berarti. Eren cukup takjub dengan pemandangan seperti itu. Rasanya seperti sebuah desa dalam dongeng. Eren jadi ingat bahwa dia pernah mendengar Jean berbicara tentang sebuah desa di distrik maria yang sangat indah dan seperti negeri dalam buku cerita klasik. Tadinya Eren kira pemuda itu hanya membual tapi ternyata memang ada.

Levi memberi instruksi jalan dan mereka berhenti didepan sebuah rumah besar dengan gaya khas eropa yang tampak seperti sebuah penginapan?

Levi melepas sabuk pangamanya dan Erenpun melakukan hal yang sama. Mereka keluar dari mobil dan menghampiri pintu.

Levi membuka pintu penginapan tanpa ragu seolah-olah itu adalah rumahnya.

"Selamat datang." Sambut sebuah suara dengan nada cuek dan tidak peduli.

Eren melihat seorang pria tua sedang duduk santai dibelakang meja kasir menyambut kedatangan mereka ke rumah itu.

"Oh Levi. Lama tidak melihatmu." Kata Pria itu tampak tidak ingin beranjak dari posisi nyamanya.

"Aku datang karena ingin mengecek apakah kau sudah mati atau belum." Jawab Levi datar.

Eren begidik mendengar ucapan tidak sopan itu. Dia berdoa dalam hati semoga mereka tidak diusir detik itu juga atas uapan tidak sopan Levi.

Tapi anehnya pria tua itu malah tertawa terbahak-bahak, "Ahahaha... Lucu sekali. Aku tidak akan semudah itu mati. Bahkan jika kau tidak pernah kembalipun tidak masalah."

Melihat pria itu tiba-tiba tertawa. Eren menatapnya dengan pandangan aneh.

"Eren ini Kenny dia pemilik tempat ini." Jelas Levi pada Eren yang sejak tadi mematung dibelakangnya.

"Selamat siang Sir. Nama saya Eren Yaeger. Senang bertemu dengan anda." Kata Eren seraya membungkuk sopan.

Melihat Eren mata Kenny berkilat seolah tertarik. Dia beranjak dari posisinya dan mencondongkan tubuhnya untuk memperhatikan Eren dengan seksama.

"Anak baik seperti ini. Dimana kau menemukanya?" Kata Kenny mengamati Eren dengan takjub.

"Jangan ganggu dia." Kata Levi menarik Eren menjauh selangkah dari Kenny.

Melihat itu Kenny kemudian mundur. Pria itu diam sejenak tampak berpikir.

"Apa kalian lapar? Ayo makan dulu." Ajak Kenny tiba-tiba—kemudian pergi begitu saja.

Levi mengikuti pria itu jadi mau tak mau Eren mengikutinya juga.

Mereka sampai disebuah ruangan makan mewah. Ada seorang maid berjalan menghampiri mereka ketika melihat Kenny masuk keruangan itu.

"Bawakan makanan terbaik kita kepada tamu istimewa kita hari ini." Kenny memerintah.

Maid itu membungkuk hormat tanda mengerti dan pergi.

Eren duduk disamping Levi dengan canggung. Sendangkan Kenny duduk di kursi utama kepala keluarga.

"Bagaimana bisnis bukumu itu? Apakah lancar?" Tanya Kenny pada Levi.

"Aku tidak berbisnis buku. Aku membuat buku." Jelas Levi dengan nada dingin.

"Ya ya ya... Terserah bagiku sama saja." Balas Kenny mengibaskan lenganya tidak peduli.

"Semuanya baik-baik saja."

Kenny mengangguk puas.

"Awalnya aku pikir kau akan kembali dalam 1 bulan setelah kau pergi dari rumah ini. Tidak aku sangka kau tidak kembali selama 14 tahun. Waktu yang sangat panjang."

"Aku tidak selemah itu." Levi berkata singkat.

Kenny tertawa. "Ahahaha... Benar-benar. Aku mendidikmu sangat keras dulu sehingga kau tidak akan jadi manusia cengeng yang kembali kerumah ini dan mengadu kepadaku bahwa kau butuh uang untuk hidup disana."

"Kau patut membanggakanya sekarang." Timpal Levi terdengar sinis.

"Tentu saja! Jika aku tidak memungutmu dari jalan kau pikir akan jadi apa kau sekarang huh? Kau mungkin hanya akan jadi gembel dijalan dan makan sampah. Berterima kasihlah padaku. Kau berhutang budi pada pria tua ini." Kenny berkata dengan bangga.

Levi hanya membuang muka tampak tidak peduli. Sedangkan Eren hanya bisa sweatdrop memperhatikan perbincangan dua manusia disekitarnya. Suasana aneh diantara 2 manusia dingin membuat bulu kuduk Eren berdiri. Eren membatin heran Kenny memiliki posisi seperti ayah bagi Levi tapi kenapa sikap mereka malah sebaliknya sih?

Kemudian datang para maid yang membawa banyak makanan. Ada berbagai menu di meja dan semuanya tampak enak dan lezat. Ada ayam, seafood, sayur-sayuran dan buah-buahan lengkap. Semuanya berbau sangat harum membuat perut Eren meronta-ronta ingin mencicipinya.

"Kalian berdua makanlah." Kata Kenny mempersilakan.

Kemudian ketiganya makan dengan tenang tanpa ada yang bicara sedikitpun. Setelah menyantap banyak makanan Eren merasa perutnya seperti akan meledak dia duduk bersandar pada kursi dengan wajah tampak puas dan wajah agak mengantuk.

"Eren." Panggil Kenny tiba-tiba membuat pemuda itu refleks berjengit dari posisinya..

"Ya?" Jawab Eren berkedip polos.

"Mau balapan kuda?" Tanya Kenny dengan seringai.

Eren merasa perutnya tiba-tiba melilit. Apakah ini semacam ujian bagi calon menantu ketika bertemu mertua?

"He?" Eren melongo seperti orang idiot.

Kenny menatap pemuda itu dengan pandangan meremehkan.

"Kau tidak bisa?" Tanya Kenny terdengar kecewa.

Eren menelan ludahnya susah payah.

"Ayo lakukan." Kata Eren tiba-tiba menjadi bersemangat. Dia merasa tidak boleh mengecewakan Kenny. Eren harus bisa buktikan bahwa dia bisa menjadi orang yang pantas untuk Levi.

Sementara itu Levi menatap Eren dengan pandangan protesnya.

"Apa yang kau lakukan?" Desis Levi tidak setuju.

Tapi Eren hanya memberinya cengiran kekanakan.

"Sir Levi tenang saja. Aku bisa melakukanya. Berkuda itu mudah." Eren berkata dengan yakin.


"Sepertinya pertandingan ini tidak akan seru jika tidak ada taruhanya." Kenny berkata pada Eren yang sedang mengelus-ngelus kudanya memastikan kuda putihnya itu bisa diajak bekerjasama.

"Apa taruhanya?" Tanya Eren balik.

Dia diam-diam melirik pada Levi yang duduk dari bangku penonton. Pria itu tampak tengah menatap Eren juga. Eren memberinya lambaian tangan singkat. Melihat itu Levi malah membuang muka membuat Eren cemberut.

"Bagaimana jika yang menang bisa minta apapun pada yang kalah?" Tanya Kenny dengan seringainya.

"Bukankah resikonya terlalu besar?" Tanya Eren balik merasa ragu

Kenny terkekeh. "Tapi hadiahnya juga besar."

"Baiklah aku setuju. Aku pasti akan menang." Kata Eren yakin.

Kenny menyeringai dengan kekehan menyeramkan.

Keduanya kemudian naik ke kuda masing-masing dan pertandingan siang itu di cuaca terikpun dimulai. Kuda Eren melaju cepat tapi kuda Kenny jauh melesat didepan. Astaga... Kemampuan pria itu tidak bisa dipercaya. Eren tidak begitu menekuni olahraga ini karena dia dulu hanya belajar naik kuda untuk syuting. Dia tidak begitu pandai balapan seperti ini. Menyesal rasanya dia menerima tantangan ini.

Dan tentu saja pertandingan itu dimenangkan dengan mudah oleh Kenny. Pria tua itu turun dari kudanya dengan wajah cerah dan tawa lebarnya yang gembira. Berbanding terbalik dengan Eren turun dari kudanya dengan wajah suram dan depresi.

"Eren kau kalah." Kata Kenny puas.

Levi mendekati Eren yang tampak pucat dan akan pingsan saat itu juga

"Kau baik-baik saja?" Tanya Levi terlihat khawatir.

Eren menggangguk dengan lemas.

Kenny berdecak melihat kondisi pemuda itu dan menepuk bahunya pelan.

"Hey. Jangan lemah begitu. Teknikmu cukup bagus kau hanya kurang berlatih saja." Hibur Kenny pada Eren.

Eren hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

"Istirahat sana dan makan kue aku ada jadwal melatih berkuda setelah ini. Aku akan kembali 1 jam lagi." Kata Kenny kemudian pergi.

Eren menghela napas panjang setelah pria itu pergi. Wajah tengangnya pelahan memudar.

"Jangan terlalu dipikirkan. Kau tidak akan menang melawanya. Kenny itu juara nasional balapan kuda pada masanya. Kau bukan tandinganya." Kata Levi menjelaskan.

Eren tampak seperti akan menangis saat itu juga. Kenapa sir Levi tidak memberi tahunya? Jika saja dia tahu lebih awal dia tidak akan mau taruhan. Lagi pula apa kiranya yang akan diminta pak tua itu dari Eren?

Hmmm... Eren jadi takut jangan-jangan pria itu akan minta uang sangat banyak padanya. Hiiiiiii...

"Ada apa? Kenapa wajahmu semakin pucat? Apa kau akan pingsan?" Tanya Levi ngeri.

Dia kemudian menarik Eren menuju bangku penonton yang teduh dan memberinya air. Pelayanan Kenny telah menyiapkan sepiring kue brownies yang berbau harum disana dengan air mineral dan juga jus dingin.

Sambil nyemil santai. Keduanya diam dan sibuk memperhatikan pemandangan kuda ditanah lapang yang hijau sedang memakan rumput. Tak ada orang lain selain mereka dilahan luas itu. Sungguh tenang dan nyaman. Angin sepoi-sepoi sejuk bertiup lembut. Langit berwarna biru cerah dengan awan putih menambah lengkapnya hari itu.

"Pemandangan yang damai." Gumam Eren menikmati suasana.

"Hm..." Gumam Levi sebagai balasan.

Pluk!

Pria yang lebih tua menoleh ketika bahunya terasa berat karena Eren menyandarkan kepalanya dibahu Levi.

Eren kira dia akan dipukul tapi ternyata Levi hanya diam saja. Itu membuatnya semakin ingin lebih.

"Sir Levi..." Panggil Eren.

Namanya dipanggil Levi refleks menoleh pada Eren dan...

Cup.

Sebuah kecupan manis mendarat dibibirnya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Levi dengan aura hitamnya.

Eren hanya nyengir dan menyembunyikan wajahnya dibahu Levi.

"Hehe... Itu sebagai ucapan terima kasih karena sir Levi mengajakku pergi ketempat yang bagus seperti ini." Kata Eren beralasan.

Levi memilih menyimpan kemarahnya dan kembali diam. Eren meraih tangan pria itu dan menggenggamnya.

"Sir Levi ceritakan padaku tentang sir Levi."

"Cerita apa?"

"Tentang masa lalu sir Levi aku ingin tau."

"Apa itu penting?"

"Tentu saja penting. Bagaimana mungkin tidak penting? Tau banyak tentang orang yang kita sukai adalah sebuah keharusan."

"Hemmm..."

"Ceritakan!"

"Bagaimana kalau kau cerita dulu?"

"Ahhh... Ceritaku tidak menarik." Eren berkata sambil setengah menggerutu.

"Karena masa lalumu hanya kau isi dengan bermain wanita?" Tuduh Levi frontal membuat Eren tersedak ludahnya sendiri.

"Ahahaha... Tentu saja tidak. Mana mungkin aku begitu."

Levi memberinya tatapan sanksi membuat Eren menarik kembali kepalanya dari bahu levi dan memutar kepalanya kearah samping agar tidak bertemu pandang.

"Baiklah." Kata Levi menghela napas panjang

Eren refleks menatap pria itu dengan binar mata gembira

"Kita suit siapa yang menang dia yang akan bercerita."

"Oke."

Atas kesepakatan itu keduanya mulai dengan game kecil itu.

Round pertama Levi kalah.

"Baik. Tanyakan sesuatu."

"Kenapa Sir Levi pergi dari rumah ini?" Tanya Eren penasaran.

"Karena aku merasa terlalu hebat untuk kota kecil seperti ini?" Tanya Levi balik.

Eren mencebik kecil. Tampak tidak puas. Dia tau Levi hanya sedang bergurau bermaksud membodohinya. Dia pikir Eren anak kecil apa mudah dibohongi?

Melihat reaksi Eren dan usahanya untuk membodohi gagal—Levi menghela napas panjang, "Aku pergi karena aku ingin mencari orang tuaku. Rumor bilang bahwa orang tuaku tinggal di pusat kota. Jadi aku mencarinya walaupun saat itu aku masih terlalu muda untuk bertahan sendirian dikota sebesar itu."

"Apa Kenny tidak melarangmu pergi?" Tanya Eren ingin tahu.

"Tidak. Dia membiarkanku pergi begitu saja. Lagipula kami tidak terikat darah. Kami sebenarnya hanya orang asing. Dia tidak mengatakan apa-apa waktu aku berpamitan."

"Apa sir Levi menemukan orang tua sir Levi?"

"Tentu saja tidak. Kau pikir mudah mencari orang hilang? Tentu saja bahkan setelah belasan tahun aku tidak tau dimana mereka. Mereka mungkin sengaja menghilang karena tidak menginginkanku sehingga mereka meninggalkanku pada situa Kenny." Levi berkata dengan nada ringan seolah-olah itu bukan hal yang sulit untuk dikatakan.

Eren menggeleng. Menarik bahu pria itu mendekat dan memeluknya.

"Itu tidak benar. Sir Levi terlalu sempurna untuk diabaikan. Mereka hanya tidak tau sir Levi bagaimana sehingga tega melakukan hal itu."

"Kau menghiburku?"

"Aku mengatakan fakta. Sir Levi terlalu sempurna dan menawan untuk beruntung memiliki Sir Levi dalam hidupku."

Levi memutar bola matanya jengah.

"Apa sir Levi terkesan dengan ucapanku? Jika ya beri aku satu ciuman."

Plak Sebuah pukulan mendarat dibahu Eren membuat pemuda itu nyengir.

Round 2 dimenangkan Eren lagi.

"Sejak kapan sir Levi menyukaiku?"

"Apa? Kapan aku bilang aku menyukaimu?"

"Sudahlah. Sir Levi pernah mengatakanya dan itu tampak jelas kok. Sir Levi bucin kepadaku."

"Apa itu bucin?"

Eren terkikik.

"Sudah jawab saja atau jika tidak jawab aku akan menciummu.

"Baik-baik aku jawab."

"Sejak pertama bertemu?"

Eren menganga shock.

"B-benarkah?" Eren menutup mulutnya dengan pandangan mata takjub.

"Kenapa?"

"Karena itu sudah lama sekali."

Levi menatap Eren kesal.

"Jadi apa yang sir Levi suka dariku?" Tanya Eren narsis.

"Aku pikir sepertinya kesempatan bertanyamu sudah kau gunakan."

"Oke jadi aku harus menang lagi."

Round 3 Levi menang

"Eren berapa banyak gadis yang sudah kau kencani sampai saat ini?" Tanya Levi penasaran.

Pertanyaan itu membuat Eren mati kutu.

"A-apa? Apa tidak ada pertanyaan lain?"

"Tidak. Aku sudah sejak lama ingin tau."

"Sir Levi tidak perlu tau. Karena masa lalu hanya masa lalu dan cintaku yang sekarang hanya milik sir Levi seorang." Eren berkata dengan yakin.

"Sudahlah jangan banyak omong jawab saja."

Eren mengerucutkan bibirnya karena tidak berhasil meyakinkan kekasihnya.

Dia diam sejenak sambil mencoba mengingat ingat nama gadis yang pernah dia kencani sebelum levi.

"Mungkin 10?" Jawab Eren tidak yakin.

"Apa kau menghitung dengan benar?" Tanya Levi tidak percaya.

"Aku tidak ingat semuanya tapi yang aku ingat namanya hanya 10. Hehe..." Eren nyengir.

Levi menghela napas panjang dengan ekspresi kesal.

"Lagi pula mereka hanya punya hubungan singkat denganku jadi aku tidak terlalu ingat."

"Berapa lama?"

" 1 Bulan?"

"Oh..."

"Dulu aku hanya berpikir aku terlalu sempurna untuk menjalin hubungan serius dengan siapapun." Eren berkata dengan narsis.

Levi menatapnya dengan jijik sedangkan Eren nyengir lebar.

Round 4 Levi menang lagi

"Eren menurutmu diantara Annie Leonheart dan Crista mana yang paling cantik?"

Eren merasa ingin menjedotkan kepalanya ketembok saat itu juga. Kenapa Levi harus menanyakan pertanyaan seperti itu sih? Itu jelas-jelas jebakan betemen! Jawaban apapun pasti akan membuatnya terbunuh ditempat.

"Aku pikir itu bukan pertanyaan yang bagus. Aku tidak akan jawab." Eren menolak.

"Jawab atau nanti malam tidur diluar." Ancam Levi ganas membuat Eren seketika berubah pikiran.

"Oke! Menurutku Crista lebih cantik." Jawab Eren jujur.

Hening. Eren mengamati Levi tetapi pria itu tidak bereaksi apa-apa. Sepertinya dia memberi jawaban yang tepat? Eren diam-diam menghela napas lega.

"Hey Eren! levi! Kemari!" Panggil Kenny dari arah pintu penginapan.

Kedua pemuda yang asyik bersantai itu kemudian berjalan menghampiri Kenny.

"Apa kalian akan menginap?" Tanya Kenny memastikan.

"Tidak kami akan pulang." Jawab Levi.

Tapi entah kenapa setelah jawabanya itu langit yang tadi cerah mendadak mendung gelap dan hujan petir turun dengan lebatnya membuat Ketiganya hening seketika.

"Ayo aku tunjukkan kamar kalian." Kata Kenny.

Tapi Levi tidak bergeming dari tempatnya dia malah menatap Eren dengan pandangan ragu. Seolah tahu apa yang dimaksud Eren ijin pamit menjauh dan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Armin memastikan jadwalnya terlebih dulu. Levi menunggu sedangkan Kenny juga tidak ada pilihan lain selain melakukan hal yang sama. Beberapa menit kemudian Eren kembali dan menemukan 2 pria itu sedang berdiri ditempat semula dengan ekspresi bosan.

"Armin bilang besok jadwalku siang. Jadi tidak apa-apa untuk menginap."

Levi mengangguk membuat Kenny berjalan memimpin langkah keduanya. Mereka berjalan kelantai 2 dan berhenti didepan sebuah pintu kayu. Kenny mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka pintu.

Pria tua itu masuk lebih dulu dan menatap sekitar dengan puas. Sementara Levi membeku didepan pintu tak berkedip.

"Kenapa?" Tanya Kenny terkekeh melihat reaksi Levi.

"Kau kecewa aku tidak memberi kalian kamar yg lain. Well yah maaf saja tapi kamar yg lain sudah dipesan."

Levi tebatuk sekali dan masuk mengamati kesekitar yang sangat rapi dan bersih.

"Yah maaf tempat tidurnya single. Kau tau kau tidak punya tempat tidur besar sejak dulu." Kenny berkata seraya mengedikkan baru.

Levi menggeleng.

"Aku kira kau sudah menghancurkan kamarku. Tidak disangka kau masih menjaganya. Tempat ini bahkan lebih bersih dari yang kukira." Levi memuji.

Kennya hanya tertawa.

Dia kemudian beralih pada Eren.

"Eren kamar ini kecil. Mari aku antar ke kamar lain."

"Eh? Tapi... Tapi..." Belum sempat protes Eren sudah diseret pergi. Eren hanya bisa pasrah mengikuti Kenny dengan langkah gontai. Dia tidak ingin berpisah kamar dengan Levi. Hiks... Kenapa pak tua ini harus memisahkan mereka sih? Eren menangis dalam hati.

"Eren." Panggil Kenny yang berjalan didepan tiba-tiba.

"Ya?"

"Kau masih ingat perjanjian kita tadi?" Tanya Kenny memastikan.

"I-ingat." Jawab Eren berjengit waspada.

"Kau ingat janjimu?"

"Hemmm..."

"Aku akan mengatakan permintaanku sekarang."

Eren merasakan jantungnya berdebar kencang dan keringat dingin meluncur dari pelipisnya. Apa yang akan pak tua ini minta darinya? Uang? Atau bahkan nyawa Eren? Eren begidik membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi.

"Berjanjilah kau akan membawa Levi berkunjung kesini lagi."

"Eh?"

Kenny tiba-tiba berhenti berjalan dan berbalik. Ekspresinya gugup dan canggung. Pria itu bukan seperti pria dingin dan cuek yang dia temui tadi tapi hanya pria tua biasa yang lemah dan kesepian.

"Sebenarnya aku sering menghawatirkanya. Aku tidak dapat mengatakan apapun untuk mencegahnya pergi dari sini sejak dulu. Aku bukan orang yang tepat untuk mengatakan padanya agar tetap tinggal disini. Tentu saja dia tidak akan mau hidup disini terus. Dia punya kemampuan untuk berkembang ditempat asing. Disini bukan tempatnya. Tetapi sebagai seorang yang pernah merawatnya tentu saja aku tetap berharap bahwa dia setidaknya akan kemari mengunjungiku agar pria tua sepertiku tidak kesepian. Aku tidak berharap banyak hanya aku ingin agar dia tidak menghilang seperti dulu dan kembali setelah 14 tahun pergi seperti hari ini."

Eren termagu mendengar ucapan Kenny. Pria dingin dan keras itu ternyata peduli pada Levi.

"Anda tidak ingin mengatakanya langsung?" Tanya Eren memastikan. Hal rumit seperti itu akan lebih baik jika Kenny mengatakanya langsung pada Levi agar pria itu tau perasaaanya,

Kenny menggeleng.

"Tentu saja tidak! Itu akan menghancurkan citra tegas dan kerasku. Aku tidak ingin tampak lemah didepanya."

Eren mengangguk mengerti,

"Aku berjanji akan membawanya sering-sering berkunjung kemari."

Kenny tampak puas mendengar ucapan itu. Dia menepuk bahu Eren pelan.

"Terima kasih."


Eren memiliki kamar sendiri dilantai bawah. Entah kenapa sial sekali rasanya karena kamarnya jauh dari Levi. Walaupun kamarnya besar dan nyaman tapi malam itu dia tidak bisa tidur. Dia terus saja kepikiran Levi dilantai atas. Dia merindukan pria itu. Dia ingin memeluknya ketika tidur.

Eren melirik jam diponselnya dan menghela napas panjang. Dia tidak ngantuk sama sekali, matanya bahkan tidak bisa terpenam barang semenit saja. Dia gelisah dia ingin bertemu Levi. Mengabaikan udara dingin disekitarnya. Eren menyibak selimutnya dan memakai sendalnya. Mengendap-endap dia berjalan pelan kelantai atas. Dia mengetuk pintu kamar Levi pelan. Tak menunggu waktu lama pria yang dicintainya muncul membuat Eren langsung memeluknya dan mendorongnya masuk.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Levi heran.

"Aku tidak bisa tidur tanpa sir Levi." Eren bergumam dengan ekspresi merana..

Pria itu melepaskan pelukan Eren.

"Kau bilang Crista cantik. Kenapa kau tidak memintanya tidur denganmu?" Sindir Levi pedas.

Eren menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Levi berjalan ketempat tidurnya dan berbaring santai. Eren mengejarnya dan juga masuk kedalam selimut.

"Aku minta maaf seharusnya aku mengatakan aku lebih memilih sir Levi dari pada salah satu dari mereka berdua."

"Tidakkah kau merasa gerah?" Guman Levi tidak menanggapi ucapan Eren.

Eren menggeleng malah semakin merapatkan tubuhnya menempel pada Levi.

"Bukankah ini hangat?" Tanya Eren balik dengan nada polos.

"Terserah." Gumam Levi.

Eren memasang senyum kemenanganya dan memberi Levi ciuman dikening. Pria yang lebih tua menatapnya dengan protes

"Apa? Apakah itu kurang?" Tanya Eren membuatnya mendapat jitakan kecil dari Levi. Pria itu merubah posisi membelakangi Eren karena kesal.

"Aish... Sir Levi pelit sekali" Eren terkekeh senang. Dia memeluk pinggang Levi dari belakang dan menggeliat nyaman diposisi itu.

"Sir..."

"Hm?"

"Tempat ini bagus."

"Hm."

"Aku belum lihat semua sudut kota ini."

"Hm."

"Bagaimana jika kita kemari lagi suatu hari nanti?"

"Ok."

Eren tersenyum mendengar jawaban itu.

"Sir Levi?"

"Hem.."

"Diantara Aku dan Farlan siapa yang paling tampan?" Tanya Eren iseng. Ucapanya itu langsung mendapat tendangan maut dari Levi hingga Eren terjatuh dari tempat tidur dengan bunyi gedubrak yg nyaring. Tetapi bukanya marah Eren malah tertawa melihat kekasihnya yang kesal.

"Tutup mulutmu dan segera tidur!" Perintah Levi mutlak. Kesabaranya sudah diubun-ubun. Eren cepat-cepat naik ketempat tidur lagi dan memeluk Levi erat.

"Baik. Aku anak baik. Aku segera tidur." Katanya kemudian menutup matanya.

Eren hanya tidur sebentar. Dia merasa tiba-tiba haus jadi dia menyibak selimutnya dan bangun dari tempat tidur. Dia menatap Levi sejenak. Bingung apakah harus minta ditemani atau tidak. Tapi setelah berpikir sebentar bahwa Levi mungkin lelah setelah perjalanan panjang hari ini Eren memutuskan pergi sendiri kedapur dilantai bawah. Dia membuka pintu kamar dan begidik ngeri melihat lorong yang gelap dan sepi. Hanya ada cahaya dari bulan yang menembus melalui jendela.

Glup.

Eren menelan ludah susah payah. Walaupun takut tetapi dia tidak berniat membatalkan niatnya karena jika dipaksakan tidurpun dia tetap tidak bisa tidur karena tenggorokanya kering seperti tercekik.

Eren menarik napas panjang sejenak dan menutup pintu kamar dengan pelan. Dia berjalan dilorong yang gelap dengan mengendap-endap dan menatap sekitarnya dengan waspada. Dilantai 2 sepi sekali, terasa seperti kuburan. Eren jadi berpikir yang aneh-aneh. Inilah saatnya hantu biasanya muncul untuk menakut-nakuti manusia.

Eren berjalan sambil celingukan tanpa melihat kedepan dengan benar. Bahkan dia tidak menyadari kehadiran sosok tubuh jangkung berdiri mematung ditengah jalan dan...

Bug.

Eren menabrak punggung orang itu dan karena kaget dia berteriak.

"Ahhh!" Eren menjerit seperti gadis. Jantungnya terasa seperti akan melompat dari tempatnya. Terlalu takut, Eren bahkan memejamkan mata dan merapalkan doa yang dia bisa.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kenny heran melihat reaksi eren yang berlebihan.

Eren membuka kelopak matanya sedikit dan menghembuskan napas lega melihat samar-samar wajah Kenny berdiri didepanya.

"Aku hanya ingin kedapur." Jawab Eren beralasan.

"Kau tau jalanya?" Tanya Kenny memastikan

Eren menggeleng polos.

"Ayo aku tunjukkan jalanya."

Eren mengangguk. Mereka kemudian berjalan kedapur yang berada dilantai bawah dengan hening. Hanya suara sandal yang bergesekan dengan lantai yang mengiringi langkah keduanya.

"Omong-omong kenapa kau tidur dikamar Levi?"

"E-eh?" Eren mengerjap.

"Bukanya kamarmu dilantai bawah?" Kenny bertanya dengan wajah penasaran.

"O-oh... Tadi aku main ke kamar Levi dan mengobrol dan ketiduran disana."

Kenny mengangguk-angguk.

"Kalian pasti sangat dekat." Kenny bergumam membuat Eren hanya bisa memasang senyuman anehnya. Well dia tidak yakin akan memberi tahu Kenny tentang hubunganya dengan Levi. Bagaimana jika pria tua ini tiba-tiba terkena serangan jantung setelah mengetahui anaknya menjadi seorang penyuka sesama jenis? Tentu saja Eren akan merasa bersalah jika itu terjadi.

"Darimana kau mengenal Levi?" Tanya Kenny ingin tahu.

"Oh... Itu karena apartemen kami bersebelahan." Jawab Eren seadanya

"Benarkah? Apa Levi sekarang berubah sedrastis itu? Dia waktu anak-anak tidak suka berteman dengan siapapun. Dia bahkan tidak punya teman. Dia pendiam dan suram. Aku pikir dia tidak akan punya teman dalam hidupnya. Aku takjub dia membawa teman kesini." Kenny berkata sambil terdengar heran.

Eren hanya bisa memasang senyuman canggungnya.

Mereka akhirnya sampai di dapur dan Eren minum segelas air sementara Kenny duduk dikursi didekat pantry mengamati Eren yang minum beberapa tegukan saja.

"Sudah selesai?" Tanya Kenny dengan wajah bosan.

Eren mwngangguk. Dia ingin segera kembali ke kamar tapi bingung apakah harus pergi sekarang atau membiarkan Kenny mengusirnya pergi. Eren bingung sehingga dia tidak bergeming ditempatnya.

"Hey Eren apa kau suka minum anggur?" Tanya Kenny tiba-tiba.

Eren menangguk mengiyakan. Melihat itu Kenny menjadi bersemangat. Dia beranjak membuka rak dapur dan meneliti koleksi anggurnya dengan seksama.

"Ahahaha Ini akan seru!" Kata Kenny tertawa dengan semangat.

Sembari menunggu Kenny memilih anggur. Eren mengamati sekitar dapur dan matanya berhenti pada koleksi bingkai-bingkai foto yang menempel didinding salah satu sisi dapur. Tempatnya tidak begitu menonjol tapi tanpa sadar Eren berjalan mendekati dan mengamatinya. Ada beberapa foto disana kebanyakan adalah foto masa muda Kenny saat meenangkan kejuaraan berkuda tapi ada juga foto Kenny bersama seorang anak kecil berwajah suram dan berambut gimbal berantakan.

Eren menbulatkan matanya tercengang.

"Apakah ini sir Levi?" Eren menunjuk sebuah foto membuat Kenny cepat-cepat menghampirinya dengan bersemangat.

"Mana? Mana?" Kenny ikut melihat foto yang Eren maksud.

"Ya benar ini Levi. Hahaha..." Kenny tertawa melihat foto itu.

"Bukankah dia terlihat seperti bocah aneh?" Kenny tertawa lagi.

Eren tidak bisa menahan diri untukt tidak menahan tawa mendengarnya. Well yah... Ucapan pak tua itu tidak salah. Levi semasa kecil tampak seperti bocah aneh yang suram.

"Kau mau lihat yang lain lagi?" Tawar Kenny gembira.

Eren mengangguk dengan semangat membuat Kenny cepat-cepat pergi dari dapur dan kembali dengan tumpukan album foto.

Eren tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan itu untuk melihat semua foto didalamnya yang ternyata ada banyak foto Levi semasa kecil didalamnya.

Keduanya duduk mengamati lembar-demi lembar foto sambil sesekali menyesap anggur digelas.

"Ini foto saat Levi berusia 2 tahun." Kata Kenny menunjuk foto yang sedang Eren lihat.

Dalam foto itu ada seorang anak balita sedang duduk dilantai dan menoleh dengan ekspresi polos.

"Bukankah dia lucu?" Tanya Kenny.

Eren mengangguk dengan senyuman kecil.

"Sulit dipercaya dia tumbuh menjadi pria membosankan seperti itu." Kata Kenny dengan nada kecewa.

Eren hanya menatapnya kemudian kembali membalik-balik lembaran album.

"Ini foto saat Levi pertama kali masuk sekolah. Penampilanya seperti bocah aneh. Itulah kenapa dia tidak mendapatkan teman disekolah."

"Dia tidak punya teman?" Eren bertanya seolah tak percaya.

Kenny mengangguk. "Tidak. Sikapnya buruk pada siapapun. Dia irit bicara sekali bicara ucapanya pedas. Dia jadi dibully bahkan sering berkelahi untuk membela diri. Sungguh aku sampai pusing karena sering sekali panggil kepala sekolah."

Eren terkekeh mendengarnya. Dia bisa membayangkan bagaimana mengerikanya Levi sewaktu kecil.

"Ini foto saat dia menerima penghargaan olimpiade tingkat sekolah dasar."

Eren menatap Foto yang Kenny maksud dan tidak bisa menahan tawanya meledak melihat ekspresi datar dan bosan Levi memegang piala besar. Dua anak disampingnya tersenyum cerah ke kamera. Hanya Levi yang memasang ekspresi datar dan bosanya seolah dia tidak ingin berada disana.

"Wajahnya sangat datar. Apa dia tidak merasa senang menang olimpiade?" Eren bertanya dengan nada heran.

"Bocah itu ikut olimpiade karena aku yang memaksanya. Aku mendaftarkanya kesetiap perlombaaan dikota yang ada."

Eren mengangguk-angguk mengerti.

"Anda melakukan hal yang benar." Eren tersenyum..

Kenny terkekeh.

"Dia bukan anakkku. Tapi aku hanya tidak ingin dia sepertiku. Hanya bisa mengurus kuda dan hidup ditempat terpencil seperti ini. Aku ingin dia bisa menemukan tempat lain yang lebih baik. Dunia ini tidak selalu adil jadi dia harus punya kemampuan untuk bisa bertahan ditengah kerasnya hidup." Kenny berkata sambil menghela napaa dan pandangan menerawang jauh.

Eren menatap pria tua itu dan mengangguk seolah mengerti dan menyetujui.

Eren meminum anggurnya sedikit begitupun Kenny. Mereka tidak minum banyak hanya habis 1 botol itu cukup untuk membuat Eren menguap dan mengantuk.

"Sudahlah. Kau tidur dulu sana." Kata Kenny mengusir.

"Bagaimana dengan sir Kenny?" Eren bertanya dengan ragu

"Aku ingin minum sebentar disini." Kata Kenny seraya membuka botol keduanya.

Eren hanya mengangguk singkat dan berpamitan sebelum pergi. Dia naik ke lantai atas dan kembali ke kamar Levi.

Disana dia melihat Levi masih tertidur lelap dengan napas naik turun teratur.

Eren tersenyum kecil melihatnya. Dia naik ketempat tidur dan menarik selimut tinggi sampai dagu.

Eren menghela napas panjang.

"Apa anggurnya enak?" Tanya Levi tiba-tiba bergumam.

Eren berjengit mendengar ucapan Levi. Ternyata pria itu tidak tidur!

"Anda tidak tidur?" Eren bertanya dengan suara gugup.

Levi membuka matanya menatap Eren.

"Kau pikir aku bisa tidur ketika tempat tidur disebelahku dingin?" Levi bertanya balik.

Erenpun terkekeh dan memeluknya erat.

"Ehehe... Maaf."

Levi hanya berdengung lirih dan kembali memejamkan mata. Erenpun karena sudah mengantuk akhirnya memutuskan untuk segera tidur.


Keesokan paginya pukul 7 Eren dan Levi sudah siap didepan mobil Eren untuk bersiap pulang. Pelayan Kenny memberi mereka makanan sebagai bekal. Kenny juga menghadiahkan beberapa botol anggur kesayanganya sebagai hadiah. Eren tentu menerimanya dengan senang hati karena dia menyukai anggur yang dia minum semalam. Levi hanya menatap keduanya dengan pandangan datar ketika dua orang berbeda usia itu sibuk menata hadiah dan bekal makanan di bagasi belakang.

"Yosh! Semuanya siap." Eren berkata dengan gembira. Dia bejalan menghampiri Levi yang berdiri didepan mobil dengan ekspresi bosan.

"Kita siap berangkat."

"Hm." Levi hanya berdengung singkat.

Eren menatap kekasihnya dengan gugup. Dia berharap Levi mengatakan sesuatu seperti salam perpisahan yang manis kepada Kenny? Mereka telah sepakat untuk datang lagi tapi tentu saja tidak dalam waktu dekat. Itu mungkin dimasa depan dan Eren sendiri tidak menjamin karena jadwalnya yang sibuk dan Levi? Setelah tidak kembali selama 14 tahun dan tiba-tiba muncul dirumah seperti itu bukankah dia seharusnya mengucapkan sesuatu? Ya setidaknya agar Kenny bisa merasa sedikit tenang dan dihargai.

Eren menatap Levi dengan pandangan memelas dan memohon tapi Levi hanya memberinya pandangan dingin. Pria itu kemudian beralih pada Kenny yang juga berdiri dengan ekspresi gugup disamping Eren.

Dua pria itu diam dan menatapnya dengan pandangan memohon yang mengganggu jadi Levi merasa harus mengatakan sesuatu.

"Terima kasih telah menerimaku dengan baik disini Kenny." Levi berkata dengan datar.

Itu hanya ucapan bernada biasa saja sebagai wujud sopan santun. Tapi Kenny terlihat luar biasa gembira dan berseri-seri.

"Ahahaha.. aku memberimu penginapan gratis tapi lain kali kau harus bayar! Ini hanya bagian dari caraku promosi. Hey kau harus membuat artikel yang menarik tentang penginapanku agar orang-orang datang menginap."

Levi merogoh tasnya dan mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkanya pada Kenny. Pria tua itu menatap Levi dengan kernyitan didahi tanda bingung.

"Apa ini?"

"Ini adalah nomor ponsel dan alamat tempat tinggalku. Jika kau kesepian ditempat ini berkunjunglah. Aku akan mengajakmu melihat kehidupan kota besar."

Kenny menerima secarik kertas itu dan menyimpanya.

"Oke." Balasnya.

"Telepon aku jika sesuatu yg buruk terjadi."

"Ha?"

"Kau sendirian disini. Bagaimana jika kau mati tanpa ada yang menguburmu?"

Kenny tertawa tapi tidak mengelak. "Ya... Ya... Akan aku lakukan."

Eren tersenyum melihat interaksi keduanya. Ya walaupun keduanya tidak mengatakan kepedulian secara langsung Eren bisa merasakan bahwa Levi sekarang sedang menunjukkan kepedulianya dengan caranya sendiri.

"Eren sering-seringlah mampir kesini. Aku akan mengajarimu teknik berkuda yang benar." Kata Kenny menepuk bahu Eren.

Eren hanya nyengir lebar. Setelahnya Eren dan Levi naik ke mobil dan Kenny hanya bisa menatap keduanya yang pergi menjauh dengan mobil. Levi memperhatikan sampai sosok Kenny menghilang dari kaca spion karena jarak yang semakin jauh.

"Apa sir Levi merasa sedih harus kembali ke kota?" Tanya Eren.

Levi menatap pemuda itu dengan pandangan datar.

"Apa katamu? Sedih? Tentu saja aku senang karena aku akan segera tiba dirumahku."

Eren hanya memasang senyuman kecilnya.

"Ya ya. Aku tau."

TBC