Harry Potter © J. K. Rowling

Time Pause
© MsLoonyanna

.

Warning!

Oneshot, Tahun ke-5

•••

[First published on Facebook,
21 June 2020]

[Then on Wattpad, 23 July 2020
Happy 31st birthday, Daniel Radcliffe!]

Then today here, right on Harry Potter's 40th birthday!

Happy birthday, Harry!

•••

• Fluffy Romance - Comedy •

.

Sorry for the typos and all mistakes (if I did). Happy Reading!

.

.

"Percayalah, ini barang bagus yang baru saja kami uji coba!"

"Ya, benar! Kami jamin kalian tak akan menyesal! Jika tak berhasil, 100% uang kembali!"

Langkah Draco mendadak terhenti tepat sebelum ia berbelok di pengujung koridor. Keningnya mengerut dalam seiring kesadaran yang perlahan memasuki kepala pirangnya.

"Hanya 5 Galleon dan kalian sudah bisa memiliki produk terbaru kami yang sangat keren ini! Iya, kan, Fred?"

"Tentu saja, George!"

Semakin lama didengar, percakapan itu rupanya menjadi semakin menarik untuk disimak. Menaikkan sebelah alis, Draco segera menjulurkan leher dan mulai mengintip dengan serius dari balik dinding dingin kastel. Mata abunya terfokus pada sepasang pemuda kembar berambut merah yang tampak sedang meyakinkan beberapa anak untuk membeli produk prank terbaru mereka.

Oh, begitu rupanya ... Hah! Pasti akan sangat menarik jika kulaporkan pada Profesor Umbridge! Bayangkan detensi yang mereka dapatkan nanti? Draco membatin girang, berbagai rencana licik tiba-tiba tersusun secara apik dalam benaknya.

Ia baru saja akan memutar tumit agar dapat melapor secepatnya kepada si Wanita Merah Muda menyebalkan di saat sesuatu yang teramat menarik lagi-lagi menyita atensinya. Alih-alih teguh pada pendirian awal, hal pertama yang Draco lakukan justru kembali menajamkan telinga, mencuri dengar lebih banyak.

"Jadi, maksudmu, dengan alat ini aku benar-benar bisa menghentikan waktu selama beberapa saat?" Salah satu anak bertubuh tinggi semampai bertanya antusias. Diliat dari jubahnya, ia jelas berasal dari asrama Ravenclaw. Kemungkinan anak tahun ketiga atau empat, Draco menebak.

"Tentu saja!" Fred mengedip kilat, mengiakan.

Merlin's beard! Ja-jadi?! Itu adalah alat untuk menghentikan waktu? Draco membulatkan mata dan seketika keinginan untuk mengadu pada Profesor Umbridge sirna begitu saja, tergantikan dengan animo untuk memiliki barang keren itu untuk dirinya sendiri. Namun, bagaimana caranya, ia masih belum tahu. Tentu akan sangat memalukan jika harus menemui si Kembar Weasley secara langsung dan mengatakan bahwa ia tertarik pada produk mereka, bukan?

Ugh, hell no!

Akan tetapi ...

"Yep! Kau punya tiga kali kesempatan. Lima menit untuk dua percobaan awal dan ..."

Produk Weasley itu sungguh menggoda minta ampun! Bahkan karena terlampau dilema, Draco Malfoy tak lagi fokus mendengarkan penjelasan si Duo Perusuh. Untuk saat ini, masing-masing dari bagian otaknya seperti punya keinginan sendiri dan Draco benci itu! Tak ingin menanggung stres berkelanjutan, maka ia memutuskan meninggalkan tempat tersebut. Menjauhi "racun" yang kemungkinan besar hanya akan menghancurkan harga dirinya sebagai Malfoy.

Hah! Seorang Malfoy mana mungkin, kan, membeli produk rendahan milik Weasley? Ya, tidak akan!

•••

"Hah? 20 Galleon?"

"Yep!" Fred dan George menjawab bersamaan. Keduanya menyunggingkan senyuman super lebar yang tampak begitu identik, sementara Draco Malfoy berdiri dengan wajah melongo di hadapan mereka.

"Yang benar saja? Kalian bahkan hanya menjualnya seharga 5 Galleon pada anak-anak yang lain!"

"Well, kau, kan, bukan anak-anak yang lain, Malfoooy." George terkikik, sengaja memanjang-manjangkan huruf 'O' hanya untuk membuat pemuda pucat bersurai platina itu semakin kesal—dan menakjubkannya, tampaknya berhasil.

"20 Galleon atau tidak sama sekali," Fred menimpali.

"Ugh! I fucking hate you!"

"We love you too, Blondie!" Fred dan George menjawab berseri-seri, sementara Draco terus saja mendumel bahkan hingga kepingan Galleon ke-20-nya berpindah tangan pada si Kembar.

"Listen, this is a top secret. Don't you fucking dare tell anyone or—"

"Your father will hear about this?" Kini giliran Fred yang tergelak. "Kalau begitu, kami butuh biaya jasa tambahan tutup mulut dan kami anggap bahwa tak pernah ada transaksi apa pun di antara kita."

Mendengar itu, Draco semakin menekuk muka, berpikir bahwa ia akan lekas menua jika setiap hari harus selalu berurusan dengan si Kembar Weasley. Pemuda Slytherin tersebut nyaris saja tertawa ketika bayangan Ron Weasley yang keriput parah di usia 30-an melintas begitu saja di benaknya.

"5 Galleon cukup, 'kan? Jadi, totalnya 25 Galleon. Lagi pula, ini namanya pemerasan! Sama saja aku membeli LIMA produk kalian, padahal aku hanya dapat satu. SATU!" Draco menjerit dramatis.

"Tak perlu terlalu senang begitu, Malfoy. Kau memang pelanggan spesial kami, kok!" Fred dan George kompak merangkul Draco. "Jadi, mari kuberitahu, produk ini bisa menghentikan waktu selama lima menit dan hanya berlak—"

"Stop. Aku sudah tahu!" Draco mengibas-ngibaskan tangannya dan segera meninggalkan koridor sepi itu sebelum Fred bahkan sempat menyelesaikan penjelasannya.

"Apa kau pikir si Ferret itu akan baik-baik saja?" Kening George berkerut, memandangi punggung lebar Draco yang semakin menjauh.

"Siapa peduli?" Fred menyahut, menyengir. Ekspresinya tanpa dosa.

•••

Hermione Granger bertanya-tanya mengapa Ruang Rekreasi terdengar hening. Biasanya, begitu lubang lukisan terbuka, maka telinganya akan segera disambut berbagai riuh rendah celoteh penghuninya. Namun, kali ini tidak sama sekali.

Ah, apa mereka sedang sibuk belajar? Tetapi itu terdengar mustahil, mengingat ia merupakan satu-satunya makhluk Gryffindor tahun kelima yang selalu semangat untuk mengasah pikiran jauh-jauh hari sebelum ujian. Teman-temannya termasuk tipe yang suka menerapkan prinsip 'kebut semalam'—ugh, apalagi Harry dan Ron. Tak usah ditanya. Tanpa sadar, Hermione mendengkus.

Rasa penasaran gadis berambut cokelat megar itu terjawab ketika ia menyadari bahwa teman-teman seasramanya nyaris memenuhi ruangan, tetapi tak ada satu pun di antara mereka yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan, seolah waktu terhenti begitu saja dan hanya berlaku pada mereka yang berada dalam ruangan tersebut.

Di sofa, ada Ron Weasley yang sedang mengupil hingga setengah jari telunjuknya tampak tenggelam di dalam gua penuh harta karun miliknya. Lalu di bawah kakinya, persis di depan perapian, ada Harry Potter yang menampilkan ekspresi begitu tersiksa karena tengah dalam proses bersin. Di sebelahnya, Ginny sedang menutup mata sembari tertawa dengan posisi tangan kanan menggaruk ketiak dan ... oh! Masih banyak pose aneh lainnya dari penghuni asrama!

Hampir dua menit Hermione berdiri tercengang dengan mulut yang terbuka lebar sebelum pandangannya bergerak melirik jam dinding yang anehnya tampak tiga menit lebih lambat dari waktu di arloji-nya. Gadis itu mengerutkan hidung. Seingatnya, waktu yang ditampilkan jam dinding asrama sama persis dengan waktu di jam tangannya.

Tak sadar pikirannya berenang-renang dalam lautan kebingungan selama beberapa saat, tanpa sengaja kedua mata hazel-nya tiba-tiba jatuh ke sudut ruangan di mana Neville Longbottom berdiri gemetar dengan mata membelalak. Satu tangannya memegang benda yang tampak seperti pena bulu. Hanya saja, Hermione tak berpikir bahwa itu pena bulu sungguhan lantaran warnanya yang begitu mencolok. Merah terang, nyaris serupa rambut para Weasley—oh, percayalah, tak ada pena bulu yang berwarna secerah itu. Lalu, sebuah pemahaman seketika memasuki kepalanya.

Oh, jangan-jangan ...

"Neville!"

Pemuda bertubuh bongsor yang baru saja diteriaki itu terkejut bukan main, terlebih Hermione yang tak menyangka bahwa temannya tersebut adalah dalang di balik permasalahan ini.

"Hermione! Ak-aku bisa jelaskan! Aku sa-sama sekali tak sengaja, sungguh!"

•••

"Jadi, bagaimana tadi?" Draco menatap Time Pause-alat penghenti waktu sementara-di tangannya dengan teliti. Dari apa yang ia curi dengar (karena mendengar langsung penjelasan si Kembar Weasley tentu akan membuat harga dirinya merosot ke tanah), ia cukup mengibaskan benda itu di depan target dan boom! Waktu akan terhenti selama lima menit! Well, bukan waktu secara keseluruhan dari semua orang, tetapi lebih tepatnya adalah waktu "sang target" dan beberapa orang yang berada dalam area jangkauan tertentu di sekitarnya.

"Hm, bagaimana kalau aku coba dulu? Tapi ... pada siapa?" Draco masih sibuk berpikir ketika Blaise Zabini tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Oi, mate! Sedang apa?"

Cepat-cepat Draco menyembunyikan Time Pause itu ke dalam saku jubahnya. Tidak, ia tidak mau jika teman-temannya sampai tahu bahwa ia membeli salah satu produk si Kembar Weasley. Mau dikemanakan harga dirinya yang bahkan lebih tinggi dari langit? Ia pasti akan menjadi bulan-bulanan teman seasrama. Terlebih Blaise dan Theo bisa dibilang Duo Penggosip yang sangat sulit menahan mulut, meskipun itu menyangkut aib sahabatnya sendiri. Hal tersebut menjadi alasan mengapa keduanya sangat sering dihadiahi sentilan pedih di bibir oleh Draco.

Belum sempat menjawab, pintu kamar asrama kembali terbuka dan menampilkan sosok Theodore Nott dengan wajah berseri-serinya. "Halo, para fans-ku!" Draco refleks mendengkus mendengarnya.

"Theo, kemarilah dan gunakan hidungmu dengan benar." Blaise memberi instruksi yang langsung disambut gembira oleh sang pemuda bermanik hijau botol itu. Sebuah siulan menggoda pun seketika keluar dari bibirnya.

"Woah, Drake! Kau mau kencan, ya? Wangi sekali! Siapa targetmu kali ini? Jangan bilang Pansy?" Theo dan Blaise kompak terkikik seperti gadis.

"Yang benar saja?" Draco membuat ekspresi jijik, berpura-pura muntah. Kalau boleh jujur, ia sudah kepalang muak dengan gadis berambut hitam pendek itu. Bagaimana tidak? Mereka hanya berpacaran selama kurang lebih tiga bulan di tahun ketiga, tetapi sampai sekarang, sampai di tahun kelima pun Pansy Parkinson masih saja bersikap seolah-olah ada hubungan dengannya. Menyebalkan! Karena hal itu, Draco jadi kesulitan mendekati gadis lain tanpa adanya amukan "kelelawar tua"-julukan khusus Blaise untuk Pansy.

"Kalau begitu, siapa? Ayo cerita! Bukankah kita teman?" Blaise menaik-turunkan alis lebatnya, sementara Draco menyeringai misterius.

"Err, yeah, kita teman. Oleh karena itu ..." Perlahan satu tangannya beralih ke dalam saku jubah dan hanya berselang beberapa detik kemudian, Theo maupun Blaise tiba-tiba berhenti mengoceh-juga berhenti bergerak. Melihat hal tersebut, seringai di wajah Draco kian melebar.

"Woah, ini keren!" Ia mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan kedua sahabat Slytherin-nya, tetapi sama sekali tak ada respons. Seolah-olah waktu mereka benar-benar terhenti detik itu juga. Tak puas sampai di situ, Draco kemudian mengatur pose Theo dan Blaise agar keduanya tampak sedang berpelukan lalu terburu-buru meninggalkan kamar dengan wajah super bahagia.

•••

Sebenarnya, niat awal Draco membeli produk si Kembar Weasley hanya satu, yaitu untuk mendekati Hermione Granger tanpa harus mengorbankan rasa gengsinya. Well, siapa yang menyangka pemuda Malfoy tersebut rupanya diam-diam menyimpan perasaan pada sang Putri Gryffindor? Sayang sekali ia terlalu malu untuk mengaku, terlebih hampir semua orang tahu bahwa ia dan Hermione memiliki sejarah yang cukup buruk di tahun-tahun awal mereka. Bahkan di tahun kegita, gadis itu sampai menonjoknya karena terlampau kesal dengan segala tingkah laku menyebalkannya.

Mungkin ini terdengar aneh, tetapi hari itu adalah hari di mana Draco menjadi sering memikirkan Hermione lebih serius hingga ke tahap di mana ia mulai menaruh atensi abnormal dan memperhatikan gerak-geriknya setiap kali ada kesempatan. Bisa dibilang bahwa tahun keempat adalah puncaknya-ketika si gadis Gryffindor menghadiri Yule Ball sebagai pasangan Viktor-sialan-Krum. Menurutnya, Hermione Granger tampak sangat memesona, tetapi kenyataan bahwa ia berdandan secantik itu bukan untuk dirinya membuatnya meradang setengah mati. Tanpa sadar Draco bahkan menjatuhkan Pansy di lantai dansa sampai gadis tersebut mengeluh kesakitan dan bertingkah kelewat dramatis selama hampir seminggu setelahnya.

Ah, berbicara tentang Pansy, sepertinya ia panjang umur. Draco refleks menarik napas panjang dan membuangnya keras-keras ketika mereka tak sengaja berpapasan di tengah koridor lantai tiga kastel.

"Drakie Poo! Di sini kau rupanya! Lihat, si idiot Goyle sedari tadi membantuku mencarimu, tetapi tak kunjung ketemu." Ia melirik sinis ke arah Goyle yang sibuk memasukkan beberapa kue sekaligus ke dalam mulutnya.

"Err, sorry, Pans, tapi aku buru-buru." Draco mencoba menolak secara halus, tetapi rupanya Pansy tak suka mendengar itu.

Sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, ia bertanya ketus, "Memangnya mau ke mana? Aku sudah di sini, Drakie. Kau juga mencariku, 'kan? Ayo kembali ke asrama! Waktu senggang seperti ini harusnya kita habiskan bersama!"

"Pansy, I have something to do."

"What is it that so important than me, huh? Come on, Drakie Poo!"

Oke, cukup. Draco benar-benar muak sekarang. Pansy tak bisa diatasi dengan cara halus seperti itu. Artinya, ini saatnya Time Pause-nya kembali digunakan.

"Sorry, Pans. Sudah berapa kali kubilang jangan mengganggu. Aku ada urusan." Draco berdecak, meninggalkan Pansy dan Goyle yang terdiam bak patung di tengah-tengah koridor.

Sama seperti Blaise dan Theo, pemuda Malfoy itu juga mengubah posisi mereka sebelum benar-benar beranjak. Di kepalanya sudah terbayang bagaimana reaksi Pansy nanti ketika membuka mata lalu mendapati dirinya tengah menciumi pipi gajih Gregory Goyle. Mungkin seantero Hogwarts akan sakit telinga karena jeritannya yang semengerikan Banshee. Oh, tetapi untuk saat ini, ia tak perlu mengkhawatirkan itu. Masih ada hal penting lain yang perlu ia bereskan, yaitu ...

Perasaannya terhadap Hermione Granger.

•••

Draco menyipitkan mata, memutar kepala ke sepenjuru perpustakan yang dapat ia jangkau, mencari-cari sejumput rambut semak di balik rak milik Hermione Granger-target utama yang juga menjadi alasan ia rela membuang harga diri membeli produk keluaran terbaru si Kembar Weasley.

Seingatnya (dari hasil observasi diam-diamnya selama ini), gadis bermarga Granger itu punya spot favorit di pojok sepi perpustakaan di bagian timur, di mana tak begitu banyak anak yang akan memilih untuk menenggelamkan kepala dalam lautan buku di sana. Anehnya, lokasinya yang jarang dijangkau itulah alasan Hermione menyukainya. Asal tahu saja, ia sangat tak suka jika waktu belajarnya terganggu. Pun tak banyak orang yang menyadarinya, tetapi Draco Malfoy menjadi salah satu dari kategori "tak banyak" tersebut.

Menarik napas panjang, Draco berdeham keras setelah menemukan target utamanya. "Ekhm!"

Oops, terlampau keras rupanya hingga Hermione langsung menurunkan buku dari wajahnya dengan satu alis terangkat. Melihat sang "pengunjung" yang rupanya adalah Draco-ferret-Malfoy, ia sedikit terkesima. Oke, sangat terkesima sebenarnya.

"Malfoy?"

"Oh, yes, it's me. Draco Malfoy, si tampan Hogwarts." Pemuda pirang tersebut menyeringai menyebalkan seperti biasa, meskipun dadanya berdebar keras bukan main. Bagaimanapun, ia begitu lihai menutupi hal-hal semacam itu. Ugh, sudah sangat terlatih! Ah, ingat, ia seorang Malfoy.

Hermione mendengkus sebelum memutar bola mata. "Okay, so, what do you want, Malfoy?"

"Well, ini perpustakaan, Granger. Tentu saja aku ke sini karena ingin membaca, duh!" Bohong. "Kukira kau pintar, eh? Sepertinya aku terlalu berekspektasi tinggi."

"Oh, diamlah, Musang sialan! Kalau kau ke sini hanya untuk membuatku naik darah, maka sebaikanya pergi saja sana! Hush, hush!"

Oh, yang benar saja aku sempat berpikir menyukai pemuda songong ini? Tidak bisa dipercaya! Hermione mendecap sebal.

"Tsk, tsk. Loosen up, Granger. Sekali-kali jadilah seperti kucing imut. Jika setiap hari kau segarang singa kelaparan, siapa yang akan menyukaimu?"

Oh, tentu saja aku, batinnya bersorak seenaknya.

"Aku juga tak berharap disukai siapa pun." Bohong. "Jadi, tak masalah." Hermione mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menunjukkan sikap bossy-nya yang telah mendarah daging bahkan sejak tahun pertama. Salah satu hal yang diam-diam dikagumi Draco darinya tanpa sepengetahuannya.

Beberapa menit berlalu dan Draco tak membalas perkataan sebelumnya, juga tak beranjak sama sekali. Hal tersebut lantas membuat Hermione menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.

"Baiklah, kau boleh di sini. Aku akan melanjutkan kegiatanku dan kau silakan lanjutkan kegiatanmu. Aku tak peduli." Dengan itu, sang gadis Granger kembali ke aktivitas awalnya, mecoba mengabaikan Draco Malfoy yang sebenarnya sangat haus akan perhatian darinya. Ugh, memalukan! Kenapa, sih, ia harus menyukai Granger yang super-duper tidak peka itu?! Tanpa sadar ia menjambak rambut platinanya sendiri.

Grangeeeeer, perhatikanlah akuuu! Draco membatin merana, lalu ...

Oke, mungkin ini saatnya.

"Granger."

"Hm."

"Grangeeer."

"Hm."

"Kau cantik."

"What?"

Tepat ketika gadis Gryffindor itu mendongak, Draco cepat-cepat mengibaskan Time Pause seiring dengan jantungnya yang berdetak keras. Iramanya begitu cepat, seolah akan menembus keluar dadanya. Mungkin karena ini merupakan kesempatan terakhir miliknya dan ia harus menggunakannya sebaik mungkin.

Hermione yang sempat menyadari hal tersebut refleks membulatkan mata dan ... mematung. Ia terlambat untuk menghindar. Ah, bodoh sekali! Padahal, Neville sudah menjelaskan perihal alat menyebalkan itu padanya!

Her-Hermione, i-ini tak seperti yang kau pikirkan! A-aku hanya penasaran dengan alat ini karena Fred dan George memaksaku membelinya. T-tak perlu khawatir, efeknya hanya akan bertahan selama lima menit pada dua percobaan awal dan tiga menit di percobaan akhir.

Begitulah kira-kira penjelasan Neville kala itu dan Draco memang tahu tentang durasi efek pada dua pemakaian pertama, tetapi ... tidak dengan pemakaian terakhir. Oleh karena itu, ketika dua menit awalnya habis hanya untuk memandangi wajah cantik Hermione dan mengaguminya setengah mati, ia masih belum sadar bahwa efeknya hanya akan bertahan semenit lagi. Lalu ketika efeknya benar-benar telah habis, yaitu tepat ketika Hermione hendak meledak memaki Draco, sesuatu yang diucapkan pemuda tersebut justru menghentikannya hingga ia harus berpura-pura masih dalam pengaruh efek Time Pause.

"Granger, apa kau tahu bahwa kau ini sangat cantik?"

Deg!

"Aku ... aku ... argh! Mengapa sulit sekali? Padahal, kau bahkan tak mendengar apa-apa, juga tak melihatku secara langsung saat ini, bahkan tak akan mengingat pengakuanku ini nantinya, tetapi ... mengapa rasanya sama saja? Aku tetap malu. Sangat malu. Kau benar-benar membuatku gugup. Kau membuatku gila, Granger. Mengapa kau lakukan itu?" Jalaran rona merah perlahan muncul di pipi pucat Draco.

"Mungkin kau mengira aku membenci rambut keritingmu yang awut-awutan itu, tetapi sebenarnya aku suka. Sangat suka. Bahkan sering kali aku berkhayal tanganku akan tersangkut di sana agar aku punya alasan untuk berada di dekatmu dan ... ugh! Aku juga suka tatapan tajammu. Tatapan mengintimidasi yang seolah mampu membunuhku pelan-pelan secara bahagia, tatapan yang seakan menembus ulu hatiku. Tatapan yang tak masalah kuterima selamanya asal kau hanya menatapku seorang seumur hidupmu." Tak puas hanya berhadapan, Draco akhirnya berdiri lalu menjatuhkan bokong tepat di samping Hermione sebelum melanjutkan ungkapan hatinya.

"Aku tahu ini tindakan pengecut, tetapi aku tak punya pilihan. Harga diriku tak membiarkannya. Lagi pula, kemungkinan kau akan melemparkan kutukan atau menonjokku lagi sebelum aku bahkan dapat mengosongkan dadaku dengan berbagai tumpahan perasaan ini." Pemuda itu tertawa kecil. Sebuah tawa miris. Ia lantas menghela napas lalu ...

"Intinya, aku menyukaimu, Hermione Granger. Sangat menyukaimu." Draco menatap dalam-dalam bola mata cokelat milik Hermione yang anehnya tampak berkaca-kaca. Namun, ia tak ingin ambil pusing. Ia berpikir waktunya tak banyak dan ia harus segera pergi dari sana sebelum gadis itu benar-benar sadar.

"Tonjok lagi saja nanti, aku tak peduli," Draco bergumam sebelum mendekatkan wajahnya dan memangkas jarak di antara mereka. Rasanya seperti mencium seorang patung, tetapi tak menga-tunggu! Apa ia bermimpi? Bagaimana mungkin ciuman itu tiba-tiba ... terbalas?

"Granger?" Draco kaget setengah mati. Wajahnya yang memang lesi bahkan semakin memucat bukan main. Ia baru saja akan kabur dari sana karena berpikir bahwa Hermione akan mengamuk, akan tetapi yang justru terjadi adalah ...

"Don't ... don't go." Hermione berkedip sekali dan setetes air mata haru jatuh membasahi pipinya. "Aku tak berpura-pura selama itu hanya untuk kau tinggalkan."

"Ap-apa maksudmu?" Draco mencoba tertawa, meskipun peluh yang mengaliri dahinya seolah berkata lain.

"Aku mendengarnya. Semuanya."

"Wh-what?!"

"Kau tak tahu? Efek pada pemakaian ketiga hanya bertahan selama tiga menit, dan kutebak, kau menghabiskan tiga menit berhargamu tanpa benar-benar melakukan apa-apa." Hermione menyeka matanya lalu tergelak kecil.

"Granger ..." Sulit dipercaya, tetapi wajah Draco begitu merah sekarang, persis seperti bunga geranium yang sedang mekar-mekarnya. Bukankah itu hal langka?

"It's Hermione, Draco. Call me Hermione. And you know what? I think, I like you too. So, now, kiss me again, you fool."

Draco tersenyum lebar, diam-diam berterima kasih banyak pada si Kembar Weasley dan produk ajaib mereka. Saking senangnya, ia bahkan berpikir untuk memberi hadiah 100 Galleon pada keduanya.

"Okay ... Hermione." Pemuda Malfoy itu baru saja akan mematuhi permintaan Hermione ketika beberapa langkah kaki yang terdengar begitu tergesa menghampiri tempat mereka.

"DRACO MALFOY!"

"DRAKIE POO!"

"Shit!" Draco mengumpat sebelum dengan cepat menggamit lengan Hermione yang jelas terlihat kebingungan, membawa gadis itu meninggalkan perpustakaan bersamanya.

"Draco! Kenapa lari?! Ada apa?!"

"Nanti kujelaskan!" Draco berbalik, seketika bergidik ngeri tatkala mendapati Theo, Blaise, dan Pansy-yang kini tampak seperti punya taring dadakan-berlari persis di belakang mereka. Bagaimanapun, Goyle terlihat senang dan sepertinya ia tahu penyebabnya.

"Jangan tertawa!" Meskipun dilarang, Hermione tetap saja tertawa.

"Err, Draco ... sepertinya, hari ini kita akan banyak berlari."

"Huh?"

Hermione tak menjawab, tetapi ketika Draco mengikuti arah pandangan sang gadis, mau tak mau ia kembali mengumpat.

"Oh, double shit! Weasley and Potter, of course."

Sementara Fred dan George yang menyaksikan drama gratis itu dari balik dinding kastel kompak menyeringai lebar lalu ber-high five ria.

"Mischief managed." (*)

- The End -

•••

Holaaaaa! Did you like this chapter? Or the ending at least? Hope you guys did! Thank you so much for reading! And if you wanna read more of my stories (bc I don't upload everything here anymore), you guys can follow me on Wattpad = msloonyanna.

See ya!

.

.

Much love,

MsLoonyanna