In the Classroom, We Speak

Ia selalu memimpikan hal yang sama.

Hari-hari tanpa matahari,

Dengan kegelapan menyelimuti,

Sekali lagi…

Di atas dunia ini—


Chapter 2 of 2: P3 Side


"—Minato?"

Minato membuka matanya dan melihat ada Junpei yang tengah mengguncangkan tubuhnya. Ia dapat melihat kekhawatiran di wajahnya.

"Ah, maaf… Ada apa?" tanya Minato, berusaha untuk tidak menunjukkan tanda-tanda yang membuat temannya itu semakin khawatir.

"Dari tadi kau terus menatap jendela dan tidak menghiraukan panggilanku," jawab Junpei, "aku mulai berpikir kau tidak baik-baik saja… Apakah kau masih belum pulih dari pertarungan sebelumnya?"

Minato pun tersadar bahwa dirinya sedang berada di dalam ruang kelas tempat ia biasa berkunjung untuk mengumpulkan pikirannya. Namun, kali ini ia sendirian bersama Junpei.

Tidak ada tanda-tanda dari Yu.

"Hei, kau serius tidak apa-apa?" tanya Junpei. "Aku bisa bilang pada Ketua kalau kau—"

"Tidak," jawab Minato dengan cepat. Ia tidak ingin membuat orang yang mengkhawatirkannya bertambah satu lagi. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit mengantuk…"

"...Apa kau yakin?"

Minato beranjak berdiri dari kursinya, "Ya, aku yakin. Jadi ada apa mencariku?"

Ekspresi Junpei yang sebelumnya penuh kekhawatiran pun segera tergantikan dengan wajah yang cerah. Setidaknya ia tidak perlu khawatir lagi. Junpei pun menjawab, "Sebenarnya saat ini kita akan memasuki labirin berikutnya, tetapi karena Fuuka-chan berkata ia tidak memperoleh responmu ketika dipanggil, aku pun diminta oleh Ketua untuk mencarimu."

"...Yu memintamu?"

"Ya, dia ingin aku memastikan kau baik-baik saja, sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan ekspedisi."

Minato menundukkan kepalanya. Yu meminta Junpei mencari dirinya, kenapa tidak dia saja yang mendatanginya secara langsung?

… Apa karena kejadian saat itu?

Karena Minato sadar bahwa Yu tidak lagi menampakkan batang hidungnya.

"Emm… Minato?"

Minato mendecak kesal tetapi bukan terhadap Junpei. Ia menghela napas panjang lalu menepuk pundak temannya itu sambil berjalan ke arah pintu.

"Bukan apa-apa. Ayo, sekarang kita ke sana."

Minato tidak perlu lagi menoleh ketika ia mendengarkan langkah kaki Junpei yang mulai mengikutinya di belakang, karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada pemuda yang adalah pimpinan grup mereka.

Narukami Yu.

Ia ingat setelah pemuda itu (yang seharusnya dua tahun lebih muda darinya), mengutarakan perasaannya pada Minato dengan mudah.

Bagaimana Minato menanggapinya?

Ia justru merasa kebingungan.

Seorang pria menyukainya, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Dan kalau ditanya apakah ia merasakan hal yang sama… ia tahu bahwa dirinya tidak dapat berbohong begitu saja.

Apalagi mereka berdua adalah sesama pengguna Wild Card; satu-satunya koneksi yang menghubungkan mereka berdua.

Minato menghentikan langkahnya. Apakah Yu menyukainya karena alasan itu? Karena kalau iya, Minato tidak habis pikir…

Menyukainya hanya satu alasan itu… Minato merasa sedikit kecewa.

"...Minato?" suara Junpei menyadarkannya dari lamunannya. "Kau tahu, kalau memang sedang sehat, aku bisa katakan pada—"

"Tidak perlu," jawab Minato dengan ketus. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan juga padanya."

Ya, dia akan membuat Yu mengutarakan semuanya.

.

.

.

.

Labirin yang mereka datangi saat itu memiliki ruang yang menyerupai sebuah rumah sakit. Dengan berbagai macam bercak darah di sekitarnya membuat ruang itu menjadi terlihat menyeramkan, persis seperti rumah sakit yang ada di film horor. Namun, satupun tidak ada yang dapat membuat Minato merasa takut, terutama ketika ia melihat bagaimana Yu menenangkan teman-temannya yang ketakutan—berusaha melindungi mereka.

Ketakutannya datang setelah itu.

Lantai tempat Yu, Zen, dan Rei berdiri, retak dan roboh; membuat ketiganya jatuh entah ke lantai berapa— entah ke mana. Melihat sosok ketiganya tak terlihat lagi ditelan kegelapan,

Minato pun langsung mengambil alih.

"Kita harus segera menemukan tangga yang mengarah ke sana," ujarnya, sambil berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak dapat panik, karena hal itu justru akan membuat timnya panik. Walaupun ada Mitsuru di sana, tetapi ia tidak ingin membuat dirinya menjadi seseorang yang tidak dapat diandalkan.

"Narukami!" teriak teman-temannya sambil menatap lubang besar tersebut.

"Senpai!" suara gadis yang dikenalnya sebagai Kujikawa Rise juga ikut berteriak dari tempatnya.

"Arisato-kun, apa yang harus kita lakukan?" tanya Fuuka.

Minato mengambil napas perlahan, lalu mengeluarkannya. Ia harus tetap tenang.

"Yamagishi-san, Kujikawa-san, apakah kalian telah menemukan tangga yang mungkin akan mengarahkan kita ke sana?" tanya Minato pada kedua informan yang telah siap siaga.

"Aku menemukan dua tangga ke sana," ujar Rise dengan khawatir.

"Aku membantu Rise-chan menemukan arahnya. Kami sudah bertukar informasi untuk mengarahkan," timpal Fuuka.

"Kalau begitu kita akan bagi dua kelompok," kata Minato kemudian. Kemungkinan keputusannya ini adalah keputusan yang tepat, mengingat mereka harus segera sampai ke tempat ketiga temannya yang terjatuh itu berada. Terutama karena mereka tidak tahu bahaya apa yang akan datang pada mereka di bawah sana...

"Kelompokku dan kelompok Yu," jelas Minato. "Yamagishi-san dan Kujikawa-san akan memimpin arah masing-masing kelompok berdasarkan data yang ditemukan. Apabila salah satu dari kita berhasil menemukan mereka, wajib melaporkan satu sama lain. Kabari apabila musuh itu sangat sulit untuk dikalahkan agar bisa segera bergerak ke tempat yang dituju. Kalau semua baik-baik saja, kita bisa kembali ke Velvet Room sebagai titik temu. Begini jelas?"

Melihat Minato yang mengambil alih, diam-diam Mitsuru, Akihiko, dan Junpei tersenyum. Bersama dengan Yukari dan yang lainnya, mereka pun mengangguk. Sedangkan kelompok Yu masih diam menatap Minato yang tiba-tiba bertindak berbeda dari sebelumnya.

Minato dan timnya pun beranjak untuk ke arah yang berbeda, sesuai arahan Fuuka. Kemudian ia menoleh dan menatap Yosuke, "Anu, Hanamura-san?"

"Y-ya?"

"Aku membutuhkanmu untuk memimpin kawanan kalian bersama Kujikawa-san. Kabari kami kalau ada yang bisa kami bantu."

Yosuke menganggukkan kepalanya, "Baik! Dan emm.. Anu…"

Minato menoleh lagi, "Ya?"

Yosuke hanya menatap Minato. Namun, melihat Minato yang terlihat seperti ingin segera berangkat, Yosuke menghela napas lalu tersenyum.

"Panggil aku Yosuke."

Minato pun tersenyum. "Baik, Yosuke… Aku mengandalkanmu."

Keduanya pun berpisah.

Minato tidak dapat melepas kekhawatirannya.

Dan ia belum pernah merasakan kekhawatiran yang amat sangat seperti itu sebelumnya.

.

.


.

.

Kembalinya ke Velvet Room, Minato berusaha untuk menahan diri ketika melihat bahwa Yu baik-baik saja; mungkin hanya ada beberapa luka dan lecet di sekujur tubuhnya atau wajahnya. Mungkin ia bisa meminta Rei untuk menggunakan kekuatan penyembuhnya, tetapi mengenal Yu sepertinya ia tidak ingin melakukan hal itu.

Ketika yang lain memberi selamat pada Yu dan teman-temannya, Minato hanya tersenyum sambil berkata, "Aku sudah dengar. Kalian telah mengalahkan bos labirin itu ya."

Yu menganggukkan kepalanya. "Ya, maaf aku langsung meminta kalian kembali ke Velvet Room. Menurutku situasi tadi masih dapat kita tangani dan aku khawatir memanggil kalian justru akan melelahkan kalian…"

Minato menepuk pundaknya ringan. Sepertinya tenaganya terkuras habis karena khawatir sehingga pukulannya itu mendarat dengan sangat lemas di pundak Yu.

Yu menatapnya, "...Minato?"

Namun Minato tetap tersenyum. Hanya saja, Yu tidak mampu melihat tatapan pemuda itu. Dan ia dapat merasakan tangan Minato yang masih gemetar dan tampak lemas.

Khawatir dengan keadaannya, Yu menggenggam tangan Minato lalu mendekatkan wajahnya, "Minato, kau tidak apa-ap—"

"Minato-san, saya merasakan detak jantung yang semakin lemah dari Anda," Aigis tiba-tiba muncul di antara keduanya, membuat Yu dan Minato terkejut, melepaskan genggamannya.

"A-Aigis?"

"Dan dalam hitungan menit ada kemungkinan Anda tidak dapat berdiri karena lemas atau pingsan. Anda harus segera ke ruang UKS untuk istirahat sejenak. Saya akan mengantarkan Anda."

Sebelum Aigis hendak mengangkat Minato, ia menghentikannya, "Ti-tidak perlu, Aigis. Aku bisa ke sana sendirian. Kau perlu di sini menjaga yang lain selagi aku beristirahat kalau begitu."

"Tidak bisa," tolak Aigis dengan tegas. "Anda bisa pingsan. Kalau sendirian—"

"Ah, bagaimana kalau aku yang mengantarkannya?" tanya Yu dengan tenang.

Aigis menatap Yu, membuatnya cukup panik. Terkadang tatapan datarnya membuat Yu cukup canggung menghadapi robot itu. Kemudian ia melihat Minato.

Minato mengalihkan tatapannya dari Yu dan Aigis. Aigis kembali menatap Yu.

"Eror, perintah tidak diterima."

"Eh?"

"Aku mendeteksi detak jantung pada Minato-san meningkat ketika bersama Narukami-san. Kondisinya saat ini juga kemungkinan disebabkan oleh Anda. Kalau terjadi sesuatu yang lebih parah ketika ia bersama Anda, itu akan membuatnya menjadi—"

"Kumohon, Aigis, jangan dilanjutkan lagi aku mengerti," kata Minato dengan cepat, tidak ingin Yu mendengarkan sisanya. Sekarang mau bagaimana pun juga ia berusaha untuk menyembunyikannya, Aigis sudah (secara tidak sengaja) membocorkannya di depan Yu.

Ia dapat merasakan pipinya merona. Namun ia tidak dapat menyembunyikannya lagi.

"Aigis, terima kasih," kata Minato kemudian. "Tetapi aku akan meminta Yu untuk menemaniku ke sana."

Mendengar itu Yu ikut merona. Mungkin ia tidak menyangka, terutama setelah tawarannya ditolak oleh Aigis sebelumnya.

Aigis memiringkan kepalanya, "Anda yakin?"

"Ya, aku yakin," Minato menoleh ke arah Yu. "Lagipula, ada yang ingin kubicarakan padanya."

"Mengenai strategi ke labirin selanjutnya?"

Minato dan Yu menelan ludah. "Seperti itulah," balas Minato. "Ah, bisakah kau meminta Yamagishi-san dan Kujikawa-san untuk tidak mencari kami dulu? Kami butuh privasi untuk membicarakan hal ini. Setelah urusan selesai kami yang akan menghampiri kalian."

Aigis menganggukkan kepalanya, "Objektif diterima."

"Terima kasih, Aigis," kata Minato tersenyum sambil menghela napas. "Bersenang-senanglah bersama yang lain selagi istirahat."

Selagi Aigis melangkahkan kakinya ke arah kedua tim tersebut untuk menyampaikan pesan, Minato menarik lengan seragam Yu.

Melihat Yu yang menatapnya kebingungan, Minato hanya berkata, "Kenapa kau menatapku seperti itu? Arahkan aku ke UKS."

"Ah, iya, baiklah."

Untuk sesaat Yu melupakan bahwa sekolah yang mereka tempati saat itu adalah sekolahnya, SMA Yasogami. Tentu saja seorang siswa seperti Minato yang bersekolah di SMA Gekkoukan itu belum begitu kenal dengan area-areanya.

Sambil berjalan, Minato bergumam, "...Kenapa kau tidak mengunjungi ruang kelas itu lagi bersamaku…?"

Yu yang tidak menangkap dengan jelas perkataan Minato, bertanya, "A-apa? Maaf bisa ulangi lagi? Tadi kurang jelas."

Minato menelan ludahnya. Ia memberanikan dirinya untuk bertanya sekali lagi, "Kenapa kau tidak mengunjungi ruang kelas itu lagi?"

Yu menatap Minato dengan heran, "Kau berkata bahwa kau sendiri butuh waktu untuk memikirkannya—"

"Kau terlalu baik kalau berpikir begitu," kata Minato dengan pelan. "Tetapi kalau kau terus-terusan seperti itu, aku akan berpikir bahwa kau membenciku."

"..."

Keduanya kini menghentikan langkahnya di depan UKS. Yu membuka pintunya, membiarkan Minato masuk duluan. Saat Yu menutup pintu di belakangnya, Minato tiba-tiba bertanya, "Apakah sekarang kau membenciku?"

"Tidak!" jawab Yu dengan cepat. "Tidak, aku masih menyukaimu. Sangat menyukaimu. Hanya saja…"

Minato memiringkan kepalanya, "Hanya saja?"

Yu menghela napas panjang. Kini wajahnya merona, merah seperti tomat. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

"...Sejak aku menyadari bahwa aku menyukaimu seperti itu, aku tidak yakin mampu menahan diriku…"

Minato terdiam seribu bahasa. Menahan apanya dirimu?, batinnya dengan wajah yang ikut merona. Namun, ia kembali bertanya pada Yu yang masih menutupi wajahnya.

"Kau… benar-benar menyukaiku?"

Yu bergumam di balik tangannya, "Kan sudah aku bilang berkali-kali… Jangan ledek ak—"

"Apa yang membuatmu menyukaiku, Yu?"

Pertanyaan Minato membuat Yu sadar dan mengangkat wajahnya dari telapak tangannya. Dilihatnya wajah Minato yang sebelumnya terlihat tenang dan datar— kini tampak seperti seseorang yang…

"Apakah karena aku pengguna Wild Card sepertimu? Kau tertarik karena itu?"

"...Itu salah satunya," jawab Yu dengan tegas, mulai tidak menyukai kemana pembicaraan itu terarah. "Tetapi kau melebihi apapun, Minato. Apakah aku butuh alasan untuk menyukaimu?"

"Kalau tidak, lalu apalagi?" balas Minato dengan nada yang sedikit naik dari yang biasa ia gunakan. "Kalau tidak… bagaimana kau bisa menyukaiku? Aku tidak mengerti itu—"

Tanpa sadar, tubuh Minato yang lemas pun mulai terjatuh. Dengan cepat, Yu segera menangkapnya sebelum pemuda berambut biru itu menyentuh lantai.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Yu dengan khawatir. Namun, ia hanya memperoleh anggukan dari Minato. Tanpa berpikir lagi, ia mengangkatnya lalu membawanya ke salah satu kasur di sana.

Minato hanya duduk di sana sambil menundukkan kepalanya, dan Yu berinisiatif duduk di sampingnya.

"Hei, kau bisa katakan apapun padaku, kau tahu kan?" ujar Yu dengan lembut. Minato yakin ia belum pernah mendengar suara selembut itu keluar dari ketuanya itu.

Suara lembut yang siap memanjakan seseorang.

Melihat itu, Minato pun menerima. Ia pun memutuskan untuk manja sedikit pada pemimpinnya itu.

Ia menaruh kepalanya ke pundak Yu, menyembunyikan wajahnya di sana, lalu bergumam di balik seragamnya.

"...Aku takut."

"Takut?"

"Kenyataan bahwa kau menyukaiku karena aku adalah pengguna Wild Card sepertimu," Minato kemudian memejamkan matanya. "Di saat aku berharap lebih dari itu…"

Mendengar itu, Yu hanya terdiam. Kini ia mengerti apa yang menjadi sumber kekhawatiran pemuda di sampingnya itu.

Ia pun tertawa pelan, "Aku tidak menyangka kau bisa memikirkan itu, Minato. Kukira kau tidak akan peduli."

"..."

Yah sepertinya ketika orang seperti Minato pun bisa merasakan demikian. Yu menghela napas.

"Kenyataan bahwa aku tertarik padamu sebagai pengguna Wild Card memang tidak berubah," kata Yu sambil tersenyum, mengelus pundak Minato untuk memberinya ketenangan, "Tetapi yang membuatku jatuh cinta padamu adalah hal lain…"

Minato mengangkat kepalanya untuk menatap kedua mata Yu, "...Apa itu?"

Yu semakin tersenyum melihat Minato yang menunjukkan antusiasme, menantikan jawaban darinya. Ia tidak yakin apakah ia harus memberitahunya, tetapi melihatnya penasaran, ia tidak dapat berkata tidak.

Yu memutuskan untuk mengatakannya.

"Bahwa aku ingin membuatmu bahagia seorang."

"..."

Mendengar itu, Minato tidak mampu berkata apa-apa.

"Kau tahu," Yu melanjutkan, "ketika aku pertama kali melihatmu, aku hanya penasaran dengan kemampuanmu yang sama denganku. Tetapi aku mulai menyadari kebiasaanmu, sifatmu, sikapmu… bahkan bagaimana setiap saat—setiap kali aku menatapmu…"

Yu teringat sosok Minato yang beristirahat, memakai headphone, menatap ke luar jendela.

"Kau terlihat kesepian…"

Minato terkejut mendengarnya. Seperti itukah dirinya dilihat oleh orang lain?

"Sangat kesepian sampai aku merasa bahwa mungkin aku harus menemanimu terus… tetapi kemudian perasaan itu bertumbuh dan aku terus berpikir, 'bagaimana caranya aku membuatmu tidak merasa kesepian lagi?', 'apakah aku bisa menolongnya?'"

Yu mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Minato yang masih tertegun mendengar itu semua, "'Apakah aku bisa membahagiakannya?', mulai terlintas di pikiranku. Dan tanpa kusadari, aku mulai menyukaimu… seperti itu."

Yu menggenggam kedua tangan Minato lalu berkata, "Semua bebanmu, semua masalahmu, dan semua keraguanmu… kalau kau tidak sanggup menanggungnya sendirian, aku selalu berada di sisimu untuk menerima sebagiannya. Kau tidak harus melakukannya sendirian, Minato. Kau bisa membagikannya bersamaku."

Ia menyibakkan rambut Minato yang menutupi wajahnya, "Dengan begitu, bisa bernapas lebih lega, kan?"

Mendengar itu semua, perlahan-lahan Minato tersenyum. Kemudian ia tertawa. Entah kenapa, ia merasa sebagian beban di hatinya terangkat begitu saja. Ia kembali menaruh kepalanya di atas bahu Yu, masih sambil tertawa.

"Minato?"

Minato kembali tersenyum. Senyuman yang belum pernah Yu lihat sebelumnya.

Minato merasa bahagia. Dan ia senang dapat merasakannya.

"Minato?" Yu memanggilnya lagi.

Minato senang mendengar namanya dipanggil seperti itu.

"Mina—"

"Ya… Aku juga, Yu."

Yu memiringkan kepalanya, "Juga apa?"

"Aku juga menyukaimu," jawab Minato sambil tersenyum. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap Yu. "Aku menyukaimu."

Wajah Yu pun memerah, "Wa—?!"

"Terutama karena kau membuatku bahagia saat ini," balas Minato. "Kalau aku tidak menyusahkan… Aku akan menantikan masa-masa bahagia yang akan kau berikan padaku, Yu."

"Ah apakah itu artinya—?"

"Ya berarti ya."

Yu merasakan wajahnya mulai memanas mendengar jawaban dari Minato, dan senyumannya itu tidak membantu jantungnya yang mulai berdegup kencang.

Yu menutup wajahnya lagi dengan telapak tangannya, tidak kuat menghadapi momen yang baru saja ia saksikan sebelumnya. Terutama, ekspresi Minato yang menurutnya sangat manis itu sangat tidak membantu. Namun, semua itu tergantikan ketika ia menyadari bahwa Minato kemudian menarik lengan seragamnya.

"Minato..?"

"... Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk," gumam Minato.

Sadar bahwa Minato hendak menceritakan sesuatu yang selama ini mengusiknya, Yu pun mendengarkan dengan seksama.

"Mimpi?"

Minato mengangguk.

"...Apa kau mau menceritakannya?" tanya Yu, "mengenai mimpi itu…"

Minato membuka mulutnya, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Suaranya seakan-akan tertahan di tenggorokannya, dan ia sesaat merasa tak mampu berkata apa-apa.

Apakah menceritakannya pada Yu adalah keputusan yang tepat?

Perasaan buruk yang selama ini ia dapatkan—

Tidak. Dia tidak perlu membuat Yu semakin khawatir. Saat ini yang dibutuhkannya dari Yu adalah…

"Hei, Yu?" kata Minato sambil tersenyum.

"Ya?"

"Kau sangat menyukaiku kan?"

Wajah Yu kembali memerah, "Tentu saja, kenapa kau—"

"Kalau begitu cium aku."

Yu tersedak oleh ludahnya sendiri. Batuknya sempat tak henti-henti karenanya dan pikirannya masih belum bisa menerima apa yang disampaikan Minato padanya.

"Kenapa tiba-tiba…"

"Bukankah memang seperti itu?" tanya Minato kebingungan. Tidak memberi waktu Yu untuk menjawab, ia meraih kerahnya lalu berbisik tepat di depan bibirnya, "Setelah itu… sentuh aku, Yu."

Menghela napas perlahan, Yu meletakkan tangannya di pinggang Minato, memeluk pemuda yang lebih kecil darinya itu. Ia menaruh jari telunjuk dari salah satu tangannya ke atas bibir Minato.

"Kita tidak perlu terburu-buru," kata Yu. "Aku tahu kau pasti memerlukan waktu untuk terbiasa terlebih dahulu."

"Aku tidak buru-buru," balas Minato. Ia menundukkan kepalanya, menaruhnya di atas dada Yu. "Hanya saja…"

Melihat Yu yang masih diam, Minato meraih tangannya, lalu membawanya ke balik seragamnya; membiarkan tangan Yu merasakan kulit miliknya. Minato pun dapat merasakan wajahnya yang mulai memanas. Dengan segenap keberaniannya, ia pun berbisik.

"...Apa belum pernah terpikirkan olehmu, untuk melakukan itu denganku?"

Mendengar itu Yu mematung. Minato dapat merasakan tangan Yu yang mulai kaku di bawah seragamnya. Membuat Minato menggigit bibirnya.

Minato meremas seragam Yu dengan putus asa. Ia tidak dapat bilang bahwa ia sebenarnya takut..

Takut tidak dapat mendapatkan kesempatan ini lagi.

Dicintai seseorang, maupun mencintai seseorang.

Berada di pelukannya, merasakan kecupannya…

Merasa bahagia…

"Minato?"

Minato menghela napas, "Aku membutuhkanmu, Yu." Minato semakin meremas seragam Yu yang masih terus digenggamnya. "Aku benar-benar membutuhkanmu…"

Napas Yu pun tercekat. Mendengar suara Minato yang mengecil dan gemetaran pun ia luluh hatinya. Dirinya kini mengerti…

Tanpa sadar dirinya mulai memeluk Minato dengan erat, membuat pemuda berambut biru itu ikut balas memeluknya dengan erat. Yu memang tidak mengerti masalah yang dimiliki pemuda itu… tetapi ia mengerti bahwa Minato memiliki rasa takut.

Dan Yu ingin meredakan rasa takut itu. Ia ingin menenangkan hatinya.

Ia ingin Minato merasa aman di pelukannya.

"Tenang, Minato," kata Yu dengan lembut. "Aku ada di sini bersamamu."

Minato pun mengangguk. "Aku tahu… Terima kasih, sungguh…"

Kemudian, perlahan-lahan Minato melepas pelukannya, kembali menarik kerah Yu;membawa wajahnya dekat dengannya.

"...Cium aku, Yu."

Yu pun menurut.

"...Lagi…"

Dikecupnya kembali sepasang bibir itu. Kali ini, tangan Yu mulai melepas kancing seragam Minato satu per satu, begitu pula sebaliknya.

Ketika mereka hendak mengambil napas, Minato mengecup rahang Yu lalu berbisik, "...Sentuh aku, Yu."

Yu mendorong pelan tubuh Minato ke atas kasur. Bibirnya pun menelusuri mulai dari bibir Minato, rahang, kemudian lehernya.

"...Kau yakin? Mungkin saja aku tidak dapat menahan diriku."

Minato tertawa pelan. Kemudian, ia tersenyum.

"Sentuh aku sesuka hatimu."

Dan sekali lagi, keduanya pun saling berciuman; membiarkan hasrat mereka yang membara melahap keduanya perlahan-lahan.

.

.


.

.

Minato tengah mengancingkan seragamnya kembali, sambil mencari jasnya yang melayang entah kemana. Ia juga harus mencari earphone dan MP3 Player miliknya. Namun kegiatannya dihentikan oleh Yu yang memeluknya dari belakang.

"Kita harus segera kembali," bisik Minato. "Atau kita bisa kena masalah."

"Tidak bisakah sebentar lagi?" Yu balas berbisik. "Aku masih ingin bersamamu."

Minato menghela napas dan Yu mengecup lehernya. "Lagipula aku kan ketuanya. Aku bisa saja mengatakan bahwa diskusi ini berjalan lebih lama dari yang biasanya."

"…Kau ini, beraninya menyalahgunakan posisimu sebagai ketua."

"Hmm," Yu melepaskan pelukannya perlahan-lahan. "Kalau begitu, apa kau mau kembali sekarang?"

Minato terdiam. Ia menoleh ke arah Yu, memperoleh senyuman darinya. Merasa sedikit kesal, ia meraih kerah baju Yu kembali dan membawa wajahnya dekat sebelum mencium bibirnya.

"Jadi?" tanya Yu menggoda.

Minato memeluknya. "Sebentar lagi…"

.

.

.

.

"Dunia ini tidak ada di dalam alur waktu yang sebenarnya," ujar Margaret. "Sama seperti dunia ini yang sebentar lagi akan hilang dari eksistensinya… begitu pula dengan memori kalian di sini."

Minato dapat mendengar berbagai keluh kesah dari beberapa temannya; baik dari sisinya maupun Yu. Ia mengerti kekecewaan dan kesedihan yang mereka rasakan.

Memori ini akan hilang bersama dunianya.

Artinya…

"Itu artinya, ada kemungkinan kita akan bertemu lagi kan?"

Suara Yu menyadarkan Minato. Melihatnya tersenyum, Minato pun ikut tersenyum.

"Ya… tidak ada yang dapat mengubah pengalaman apa yang kita semua rasakan di sini; karena perubahan itu yang kemudian membentuk kita."

Kemudian Minato menatap teman-temannya, "Dengan ingatan dan tanpa ingatan, aku yakin hati kita akan selalu mengingat kalian, begitu juga sebaliknya. Jadi, tidak perlu khawatir…"

Mitsuru menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Kau benar, bahkan apabila kita tidak mengingat satu sama lain…"

"Tapi hati kita tidak akan melupakan kalian," lanjut Akihiko.

"Ini bukan akhir dari segalanya," kata Aigis. "Sebaliknya, mungkin ini bisa menjadi awal dari segala pertemuan kita."

"Benar," Fuuka yang sebelumnya memeluk Rise pun melepaskannya sambil menggenggam tangannya, "Kami yakin kalian juga tidak akan melupakan kami, bukan?"

"Tentu saja!" seru Chie, diikuti dengan Rise yang masih mengeluarkan air mata; menganggukkan kepalanya.

"Semoga kita bisa bertemu suatu hari nanti," kata Yukiko, "di dunia yang sama."

"Kita bisa menonton film bersama!"

"Atau jalan-jalan ke pemandian air panas! Di Inaba, keluarga Yukiko memiliki penginapan—"

Sambil mendengarkan keramaian teman-temannya yang sebelumnya diselimuti kesedihan, Minato dan Yu pun tersenyum. Setidaknya, mereka semua kini bisa berpamitan tanpa perlu merasa sedih lagi.

"...Kau akan baik-baik saja?"

Minato menoleh, melihat Yu yang kini fokus memandangnya. Minato mengerti, Yu pasti cukup khawatir… terutama karena sejak Minato menyebutkan bahwa ia terus mendapat mimpi buruk ketika berada di dunia ini, tetapi ia tidak menceritakan sama sekali mimpi mengenai apa.

Minato meyakinkannya dengan senyuman, "Tentu saja. Aku yakin kau juga."

"...Apakah kau akan merindukanku?"

Minato menatap Yu kembali. Lalu ia tertawa lemah, "Tentu saja. Aku bisa disebut pembohong kalau berkata sebaliknya."

"Aku akan merindukanmu."

"..."

Setelah melihat teman-temannya keluar melalui dua pintu di depan mereka, Minato dan Yu sama-sama berjalan sampai tepat di depan pintu. Mereka terdiam cukup lama, sampai membuat Margaret berdeham.

"Dunia ini akan segera hilang," katanya. "Kalian harus pergi."

"Ah, i-iya—"

"Yu."

Panggilan Minato membuat Yu menoleh untuk menatapnya. Ekspresinya tidak dapat terbaca dengan jelas oleh Yu, karena Minato yang masih menundukkan kepalanya. Tak lama, Minato mengangkat kepalanya, menatap Yu dengan seksama.

Ia tersenyum.

"Setelah melewati pintu ini, kita akan kembali menghadapi rintangan di dunia kita masing-masing."

"…Ya."

"…," Minato mengangkat tangannya, "Jaga dirimu, Yu."

Yu menatap tangan Minato cukup lama, sebelum akhirnya ia menggenggamnya, lalu mengangguk.

"Kau juga, Minato."

Minato menganggukkan kepalanya. Namun, sebelum ia hendak pergi, Yu yang masih belum melepaskan tangannya kembali memanggilnya.

"Minato!"

Minato menoleh dan dapat merasakan genggaman erat di tangannya. Ia dapat melihat tatapan determinasi dari Yu di depannya.

"Kita akan bertemu lagi."

Genggamannya semakin erat.

"…Aku berjanji."

Minato membulatkan matanya. Saat itu juga, tergeraklah hatinya. Minato bukanlah orang yang mudah mengatakan janjinya, karena ia sendiri tidak yakin apakah ia dapat menepatinya.

Namun apabila orang itu adalah Yu…

Sekali lagi Minato tersenyum—ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya…

Mungkin itu adalah senyuman paling tulus yang pernah ia berikan kepada Yu…

Sebelum mereka berpisah.

.

.


.

.

If I'm going to get hurt otherwise, I'd rather stay as I am

But because I met you I found myself

I thought I was stuck in a dead end

Trapped, unable to go anywhere

But you told me the path was always open

.

.


.

.

"Sepertinya kau sudah mendapatkan jawabannya."

Minato menatap pemandangan di depannya yang kabur karena kecepatan kereta yang dinaikinya. Satu tangan menggenggam pegangan, dan satunya lagi pada MP3 player-nya.

Setelah berbicara pada Elizabeth, ia sudah memantapkan pikirannya.

Demi dunia…

Dan demi teman-temannya…

Namun, walaupun ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan, Minato selalu merasa gelisah.

Selain teman-temannya, Minato merasa ada satu orang yang perlu ditemuinya.

Tetapi ia tidak ingat siapa.

Berhari-hari ia sempat memikirkannya. Tetap saja, tak kunjung ia temukan identitas orang yang ingin ditemuinya itu.

Siapa?

Ia hanya pernah melihat sosoknya di mimpinya, seperti sebuah cermin yang pecah berkeping-keping. Namun, berapa kalipun ia berlari ke arahnya, memanggil nama yang bahkan tidak ia ingat—sosok yang menoleh itu pun tak sempat ia lihat.

"…Tidak bisakah aku bertemu denganmu untuk terakhir kalinya?" gumam Minato sambil menatap langit-langit kamarnya. "Sosok yang tidak kuketahui tetapi ingin kutemui."

"…Aku berjanji."

Minato selalu mendengar itu di mimpinya. "…Apa yang sebenarnya kau janjikan kepadaku?"

Namun, sekali lagi ia tak berhasil menggapainya.

.

.


.

.

Malam itu…

Malam terakhirnya ia berhadapan dengan Nyx…

Ingatan mulai mengalir dalam dirinya, menemukan satu per satu yang hilang; dan kini ia melihatnya.

Sosok yang sama dengan di mimpinya berdiri tepat di depannya, masih tertutup bayangan. Mengira sosok itu bagian dari Nyx, berusaha untuk menghancurkannya, Minato pun bersiap siaga. Namun, ingatan yang mengalir itu membuka matanya.

Dan ia melihatnya.

Sosok pemuda berambut putih keabuan, berdiri tepat di depannya.

"Kita akan bertemu lagi."

"…Aku berjanji."

"Haha…"

Minato tertawa hambar. Tubuhnya yang terasa sakit karena pertarungan, dan energi yang rasanya terkuras dari tubuhnya, menjadi terlupakan.

Kini perasaan rindu bercampur rasa bersalah.

Apabila ada saat di mana mereka dapat bertemu—

"...Maafkan aku, Yu," Minato menggigit bibirnya, entah berusaha untuk menahan rasa sakit, darah yang nyaris keluar dari mulutnya atau menahan dirinya yang ingin menangis. "Maafkan aku karena sempat melupakanmu. Sepertinya…"

—atau tidak lagi.

"...Aku tidak bisa lagi bertemu denganmu."

Minato mengangkat tangannya.

Semua telah berakhir.

.

.


.

.

Though there were lonely nights when I cried

I know that, in the ongoing future, there is someone waiting for me

The fact that we met

And this world with you

thank you

Changing Me

.

.


A/N: aku mmg menghilang, tapi kembali untuk mengakhiri ini. 4 tahun lamanya untuk fanfic ini…

Ada rencana aku bawa ini di platform lain (ceritanya mau nerusin tpi nggak tau), jadi kalau menemukan ini, berarti dialah aku haha

Terima kasih yang sempat membaca, aku jatuh cinta lagi sama ship ini

(Lagu penutup Changing Me, ending Persona Q)