Sung Min mengerling malas untuk kesekian kalinya ke arah jam dinding di ruang santai, sesekali ia akan mengalihkan pandangan pada selembar kertas yang tergeletak di atas meja. Tubuhnya berbaring santai di atas sofa dengan tangan terlipat di dada.

"Sebenarnya kapan laki-laki itu akan pulang." Mulut kecilnya terus menggerutu hal yang sama sejak dua jam yang lalu.

Lalu samar-sama ia mendengar pintu apartemennya dibuka. Seperti peluru yang siap meletus, Sung Min secepat kilat beranjak dari tempatnya dan menyambar kertas di atas meja. Manik matanya menangkap sosok laki-laki yang sedang meletakan sepatunya di rak dekat pintu masuk.

Senyum manisnya terkembang—palsu, dengan selembar kertas di tangan yang terulur ke depan. "Selamat datang suamiku, mari bercerai sekarang juga."

Laki-laki itu membenahi posisinya, berdiri tegak di hadapan Sung Min—istri kecilnya, dengan ekspresi jengah setengah mati. Pasalnya ini bukanlah kali pertama istri kecilnya itu menyodorkan formulir perceraian seperti ini. Laki-laki itu menjulurkan tangannya meraih kertas dalam genggaman Sung Min.

"Kau tinggal tanda tangan saja di—" Senyum kemenangan Sung Min perlahan luruh saat suaminya menyobek perlahan kertas formulir perceraian yang ia siapkan. Bola matanya melotot heboh, ia tidak pernah melihat suaminya berekspresi sedingin itu sebelumnya, sekalipun ia menyodorkan formulir perceraian tetapi lelaki itu hanya akan mengabaikannya saja.

"Ingat baik-baik Lee Sung Min, sudah kukatakan sebelumnya kalau kau adalah benda milikku." Ada jeda sepersekian detik, dan saat Sung Min mengedipkan mata wajah suaminya sudah berada di depan wajahnya. "Walau kau menangis atau menjerit-jerit aku tidak akan pernah menceraikanmu."

Dan setelahnya Sung Min menoleh dengan dramatis ke arah lelaki itu pergi, mencerna dengan cepat apa yang baru saja laki-laki itu katakan padanya. "Aku bukan benda, dasar bodoh!"

.

.

.

Forced Wedding

.

©Jejae Present

.

Cho Kyu Hyun

Lee Sung Min

.

Romance / Drama / Mature Content / Chapter

.

Warning!

GS! (Gender Switch), Typo(s), OOC! (Out Of Caracter)

.

Disclaimer: SJ's members are belong to their self, God and family. But the storyline is MINE!

.

Don't Like, Don't Read!

And please Don't be Silent Reader^^

.

.

.

Chapter 1

( Perjodohan )

.

.

.

Hari itu begitu terik, suhu udara sudah melampaui beberapa digit angka dibanding hari-hari sebelumnya, seakan matahari berada tepat di atas kepala. Sung Min menyeka keringatnya yang terus mengalir, baju kerjanya sudah terlihat basah seperti disiram sember air. Dengan langkah tergopoh gadis berusia sembilan belas tahun itu bergegas untuk segera tiba di kantor milik ayahnya.

Sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang jasa pemasangan papan iklan di pinggiran kota dengan hanya beberapa orang karyawan. Satu-satunya tempat yang Sung Min banggakan selama ini, karena dari perusahaan kecil ini lah dirinya juga ayahnya terus bertahan hidup selama ini. Bersama beberapa orang karyawan yang sering berganti-ganti, perusahaan kecil milik ayahnya sudah melewati begitu banyak hal. Dan sekarang—sekali lagi, perusahaan ini harus berjuang untuk bertahan ditengah krisis yang sedang terjadi karena tak mampu bersaing dengan perusahaan lain yang lebih besar.

Perlahan Sung Min membuka pintu kantor, pandangannya menyusuri ruangan yang tidak begitu besar. Hanya beberapa meja dan kursi yang ditata dengan rapih dan tak banyak barang untuk sekedar mempercantik dekorsi. Langkah kakinya ia teruskan menuju ruang ganti, namun belum sempat ia mendekat obsidiannya tertuju pada satu ruangan lain yang lebih kecil, ruang ayahnya.

Dengan hati-hati Sung Min mengetuk pintu. "Ayah?"

"Masuk Sung Min-ah"

Sung Min mendorong tuas pintu begitu seruan ayahnya menyahut. Matanya mengerling heran saat menangkap pergerakan ayahnya yang terlihat buru-buru menutup sebuh buku. "Hari ini begitu panas, kenapa ayah tidak menyalakan pendingin?" Bertanya ringan, Sung Min mengambil duduk di sebuah sofa tua di sudut ruangan.

"Ayah sudah menyalakan kipas angin, untuk apa masih menyalakan pendingin."

"Ahh.." Sung Min menyahut seadanya, nada suaranya terselip kesedihan. Ayahnya pasti ingin mengirit pengeluaran lagi. "Oh, aku sudah menghubungin nomor yang ayah berikan."

"Lalu?"

Ada jeda sesaat sebelum gadis bersurai hitam itu menjawab, ia mencoba mengamati ekspresi sang ayah sebelum akhirnya dengan ragu menjawab. "Mereka meminta kita untuk mengajukan proposal pinjaman besok."

"Itu hal yang bagus, berarti kita masih memiliki harapan."

Sung Min tersenyum tipis mendengar kelegaan dari ucapan sang ayah, juga rasa cemas akan hasil yang akan mereka dapatkan besok. Takut-takut akan hasil yang sama saja seperti sebelumnya. Namun ia masih sadar diri untuk tidak menampakan kegelisahannya di depan sang ayah yang tengah menaruh harapan baru.

.

—oOForced WeddingOo—

.

Menengadahkan wajah mentap langit yang mulai gelap, menyisakan semburat jingga tipis di antara awan yang berarak. Riang suara anak-anak yang berlarian menuju rumah membuyarkan lamunan Sung Min dan membuatnya menapaki tanah di bawah kakinya. Decit suara engesel ayunan yang ia duduki dan gemerisik suara dedaunan terdengar berirama di telinganya.

Sung Min menggerkan ayunan perlahan, menikmati suasana sunyi taman yang telah ditinggalkan oleh keramain. Pandangannya menelisik sekitar sebelum menatap jauh entah kemana, melamamun.

Pikirannya penuh, dadanya bergemuruh, segalanya terasa salah dan berat. Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu saat ia menunggu ayahnya menyerahkan proposal peminjaman dan di sebuah kantor perbankan. Hasil yang tak membuatnya kaget namun tetap saja menyedihkan. Sekali lagi sebuah penolakan. Dan karena hal itu, ayahnya terpaksa merumahkan semua karyawan.

Semua masalah yang timbul sudah membuat Sung Min dan ayahnya kewalahan, bersyukur jika mereka masih memiliki kekuatan untuk bertahan dan kembali bangkit. Namun alih-alih sebuah jalan keluar, Sung Min kini dihadapkan dengan sebuah "masalah" yang lain.

Solusi klise yang ia pikir hanya ada dalam cerita drama televisi atau dalam kisah fiktif romantis sebuah novel, perjodohan. Demi Tuhan, itu adalah hal terkonyol dan paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di sembilan belas tahun hidupnya. Perjanjian apa? Pernikahan apa? Orang gila mana yang menjadikan pernikahan sebagai alat transaksi? Sial!

Sore tadi ayahnya memanggilnya, duduk berhadapan di pisahkan meja makan membicarakan sesuatu yang serius. Sung Min pikir mereka hanya akan membicarakan tentang kemungkinan terburuk bahwa perusahan mereka terpaksa harus gulung tikar, ia pikir sekalipun hal itu benar-benar terjadi setidaknya ia akan mencari kerja di tempat lain dan mereka akan melanjutkan hidup. Namun kenyataan yang Sung Min hadapi berbeda 180˚.

Mendengar bagaimana ayahnya dengan hati-hati membicarakan tentang perjodohan dirinya dengan seorang laki-laki yang bahkan ia tidak kenal sama sekali membuatnya naik pitam hingga tak sadar berbicara kasar kepada satu-satunya orangtua yang ia miliki.

"Bagaimana ayah bisa menjualku seperti ini?!" Sung Min berteriak begitu nyaring, berdiri dengan kalap hingga kursi yang ia duduki jatuh begitu saja.

"Sung Min-ah, dengarkan aku sebentar ya? Ayah kenal Keluarga Cho sejak lama, kebetulan hari itu putra keluarga mereka melihat kita. Dia mencari ayah dan menawarkan perjodohan denganmu, sungguh nak ayah tidak pernah sekalipun berpikir sepicik itu. Kau adalah putriku, Sung Min-ah."

Sung Min bisa mendengar nada penuh pengertian dan permohonan yang ayahnya ucapkan, namun sulit untuknya mengatur emosi yang terlanjur meluap.

"Justru karena aku putrimu makanya kau tidak bisa melakukan ini padaku! Bagaimana bisa ayah menukarkan hidupku dengn cara seperti ini?! Bahkan tanpa persetujuanku!" Sung Min tidak sama sekali menurunkan nada bicaranya, namun terselip rasa putus asa dan kesedihan yang tak bisa disembunyikan.

Ayahnya tertunduk sebentar sebelum beranjak perlahan ke arah anak gadisnya. Membenarkan posisi kursi dan menuntun Sung Min untuk duduk kembali. Sebelah tangannya terulur merangkul pundak mungil gadis kesayangannya, mengusapnya perlahan dan membawanya kedalam sebuah pelukan.

"Tentu kau bisa menolaknya Sung Min-ah, ayah tak ingin serta merta memaksamu begitu saja. Hanya saja—" Tangan pria yng kini berusia lebih dri lima puluh tahun itu melepas rengkuhannya dan menatap wajah putri sematawayangnya. "Ayah ingin hidupmu baik-baik saja di masa depan, hal yang tak bisa ayah berikan padamu selama ini, ayah ingin kau memilikinya di masa depan. Betapa bersalahnya ayah selama ini karena tak bisa memberikanmu hal yang pantas kau terima seperti teman-temanmu yang lain. Ini adalah keinginan seorang ayah untuk putri satu-satunya."

Sung Min menatap nanar pria yang membesarkannya selama ini, bagaimana bisa ayahnya selama ini berpikir seperti itu di saat dirinya sendiri selalu berusaha merasa cukup dan bersyukur atas apa yang ia miliki.

"Aku tidak membutuhkannya yah, yang aku inginkan bisa hidup dengan tenang bersama ayah. Aku tidak peduli apa yang tidak kumiliki, karena itu memang bukan milikku. Yang aku inginkan sekarang adalah membatalkan perjodohan ini dan kembali pada kehidupanku yang damai." Lalu setelahnya Sung Min beranjak pergi begitu saja. Melangkahkan kakinya sembarangan hingga terdampar di sebuah taman yang tak begitu jauh dari area tempat tinggalnya.

Sekali lagi, wajah cantiknya ia tengadahkan menghadap langit, membiarkan semilir angin menyapu wajahnya perlahan. Dadanya masih bergemuruh meningglkan perasaan tak tenang, kacau. Dalam diamnya Sung Min membiarkan tetes demi tetes air matanya mengalir, menumpahkan semua rasa sesak yang muncul mendadak tanpa permisi, mungkin dengan begitu semua kekhawatirannya akan lenyap, mungkin dengan begitu kesedihnnya akan berkurang. Maka ia membiarkan dirinya sendiri untuk sekali ini kembali menjadi anak kecil yang menangis tersedu-sedu, hanya sekali ini.

.

—oOForced WeddingOo—

.

Untuk kesekian kalinya Sung Min mencuri pandang pada pria di sampingnya. Diam-diam ia mengagumi rupa pria itu, bagaimana selera berbusananya, wajahnya bahkan wangi parfum yang pria itu gunakan. Mengesampingkan fakta bahwa pria ini lah yang akan menjadi suaminya juga menjadi alasan keputusasaannya beberapa hari lalu, semua yang ada padanya adalah sebuah kesempurnaan.

Sung Min mengiat kembali beberapa usahanya untuk membujuk sang ayah untuk membatalkan perjodohanya. Dan sebanyak Sung Min berusaha, sebanyak itu pula ayahnya memohon untuk mempertimbangkan. Hari berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah seminggu sejak pemberitahuan perjodohan itu dan hari ini, Sung Min dan calon suaminya mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi di mata hukum.

Sebenarnya Sung Min tak begitu memperhatikan ucapan petugas di hadapan mereka, ia hanya duduk diam dengan pikiran kosong. Bahkan ia tidak akan berada di sana kalau saja ayahnya tidak membangunkannya dan menyeretnya secara paksa untuk ikut dengan calon suminya untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Gadis bersurai hitam itu masih setia dengan ketidak peduliannya, menundukan wajah dan menggoyangakan kakinya acak. Persis seperti bocah taman kanak-kanak.

"Lee Sung Min."

Sung Min segera mengangkat wajahnya saat namanya dipanggil, menoleh pada pria di sampingnya, lalu ia mengalihkan pandangannya pada dokumen dihadapannya.

"Silahkan nona cek kembali datanya sebelum ditandatangani." Sahut petugas di hadapannya, seperti mengerti tatapan bingung yang Sung Min perlihatkan.

"Baik," Dengan hati-hati Sung Min memeriksa dokumen di tangannya, meringis samar bahkan saat ia baru membaca tulisan mencolok pada dokumen tersebut.

Pendaftaran Pernikahan

Tercatat namanya juga nama pria yang menjadi calon suaminya, Cho Kyu Hyun. Menarik napas dan menghembuskannya perlahan, Sung Min langsung memberikan tanda tangannya begitu saja tanpa benar-benar memeriksa lebih lanjut baris berikutnya. Biarlah, bagaimanapun aku juga akan tetap menikah dengannya.

Sung Min menyodorkan dokumen yang telah ia tandatangani, dan hal itu membuatnya resmi menjadi seorang istri dari seorang Cho Kyu Hyun.

To be continiue...

.

.

.

.

.

Halo.. lama tak bersua

Ini cerita pertama saya—sekali lagi, setelah bertahun-tahun vakum (o)

Masih dengan pairing andalan, mungkin ada yang belum tau dengan couple ini?

Dan ya, semoga kalian semua suka dengan ceritanya^^

Jangan lupa tinggalkan jejak, thanKYU~

Februari 2020