Seumur hidupnya, hanya ada satu aturan yang turun temurun diberikan oleh keluarganya pada Sakura Haruno—

—jangan biarkan orang lain tahu.

"Mau bagaimana lagi… aku dilahirkan dalam garis keturunan pengecut."

Sakura menyandarkan tubuhnya pada dinding apartment dan bergumam pelan. Tangannya sibuk memainkan sebuah ranting pentuh dengan Bunga Sakura agar tidak diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Beberapa saat setelahnya, seekor kucing hitam berjalan ke arahnya, dan memutuskan untuk duduk di dekat gadis itu tanpa suara.

"Kau sudah makan?"

Sudah.

"Bagus."

Kucing tadi mengusapkan kepalanya ke kaki Sakura dan menutup mata beberapa saat kemudian. Sakura meraih gelas besar di sebelahnya. Berada di lantai dua puluh lima ternyata tidak setenang yang dibayangkannya karena ia masih bisa mendengar bunyi riuh rendah kota Tokyo dari tempatnya sekarang.

Sakura lalu memicingkan matanya.

"Oh, tidak…"

Seorang pria tampak sedang terhuyung di salah satu balkoni apartment seberang. Kedua matanya yang memicing cepat-cepat melebar ketika sadar bahwa pria itu mungkin saja akan melakukan percobaan bunuh diri.

Sakura meraih sapu yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk dan melesat kesana. Sialnya, pria tadi sudah keburu jatuh—dan membuat Sakura harus pintar-pintar mengatur strategi agar ia tetap bisa menyelamatkan nyawa orang tadi.

"Akh!"

Suara pria itu terdengar begitu keras di depan Sakura. Sakura sendiri menahan tawanya, berusaha untuk tidak membayangkan seberapa besar rasa sakit yang dirasakannya ketika dengan cepat jatuh terduduk di atas sapu.

Tangannya menahan pria itu yang terhuyung. Baiklah, dia mabuk, bodoh, dan mungkin saja… akan sedikit susah memiliki keturunan.

Dengan susah payah, sapu tadi kembali naik lantai demi lantai dengan beban yang sudah menjadi dua kali lipat. Tangan Sakura kuat-kuat mencengkram kemeja pria itu di punggung—akan sangat tidak lucu kalau ia sudah menyelamatkannya dari jatuh dan malah menjatuhkannya.

Mereka sampai di unit apartment pria itu dan Sakura dengan sangat hati-hati membaringkannya di atas kasur. Apartment itu terlalu bagus untuk seseorang yang mengalami depresi, pikirnya selama beberapa saat. Setelahnya, Sakura menarik selimut sampai ke bawah dagu itu dan memperhatikannya sebentar.

Saat itu juga, seluruh tubuhnya mengeluarkan sinar samar berwarna hijau. Ketika membuka mata beberapa saat kemudianpun, sinar hijau memancar dari wajahnya, bisa saja membutakan siapapun yang melihatnya secara langsung.

Kedua tangannya ia letakan di pipi pria itu. Sakura berkonsentrasi penuh, berusaha untuk memberikan beberapa mantra kecil agar kebahagiaan kembali hadir dalam kehidupan orang di hadapannya dan bisa menahan keinginannya untuk mengakhiri hidup.

Setelah selesai, Sakura membalikkan tubuh dan tersentak kaget. Di atas meja di sudut ruangan, beberapa batang kayu tajam dan satu botol kecil garam terletak disana.

"Pemburu penyihir…"

Ia bisa merasakan orang tadi sudah meninggalkan tempatnya berbaring dan berdiri di belakangnya. Ia juga tahu bahwa ada ujung kayu tajam menempel tepat di punggungnya. Sakura menghela napas, tentu saja merasa menyesal karena harus susah-susah melompat dan menyelamatkan hidupnya.

Tubuhnya dibalik dengan paksa. Sakura tercekat ketika mata mereka bertemu—beberapa perasaan familiar dan tidak asing tiba-tiba saja muncul saat ia serasa tenggelam dalam sepasang mata gelap di depannya.

Pria tersebut sepertinya juga merasakan hal yang sama karena cengkramannya mengendur. Batang kayu yang dipegangnyapun jatuh ke lantai beberapa saat setelahnya. Pada saat yang bersamaan, Sakura memanfaatkan kesempatan ini untuk berlari ke arah sapunya dan melesat pergi, menghilang di gelapnya malam dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi.

.

.

Hidup berpindah-indah sudah menjadi sesuatu yang biasa baginya. Sakura memakai kaca mata hitamnya untuk berusaha menghindari tatapan penasaran orang-orang yang melihat matanya. Malam ini bulan akan penuh, dan seluruh auranya sedang bergejolak seperti lidah api sekarang.

Sakura kira ia akan mati paling lambat dua malam setelah dirinya sebagai penyihir diketauhi oleh seorang pemburu. Anehnya, bertahun-tahun sejak kejadian malam itu, ia masih memiliki hidup yang aman-aman saja sampai sekarang.

"Itu semua karena aku begitu pintarnya bersembunyi." Puji Sakura pada dirinya sendiri.

Matanya memandangi Gunung Fuji dengan tatapan tidak bersemangat. Tiba-tiba saja, jantungnya kembali berdetak tidak karuan.

Ia mengenal perasaan ini.

Tidak mungkin… Aku selalu mengira aku akan mati di Tokyo.

Sakura berbalik dan mendapati pria yang bertahun-tahun lalu ia selamatkan berdiri tidak jauh dari hadapannya. Keduanya tampak sama-sama terkejut. Refleks Sakura membuatnya cepat-cepat mundur ke belakang saat orang di depannya melangkah maju—membuat pria tadi terlihat kebingungan.

Tubuh Sakura mulai bersinar kehijauan. Tidak mungkin ia mati tanpa perlawanan… gengsinya terlalu tinggi untuk itu.

Orang di depannya tampak tidak takut—tidak terlalu peduli, malah. Ketenangannya dan langkahnya yang melangkah pelan namun pasti justru yang membuat Sakura merasa sedikit terintimidasi.

Punggungnya mengantuk pohon dan Sakura sadar ia tidak bisa pergi kemana-mana.

"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan…" geram Sakura kesal.

Pria tadi terdiam selama beberapa saat. Tangannya terulur masuk ke dalam kantong, terlihat mencoba meraih sesuatu dari dalam sana.

Sakura melengos. Ugh, tertusuk kayu sepertinya tidak akan terlalu menyenangkan.

"Berhenti mencarimu."

Gadis itu tertegun ketika pria tersebut mengeluarkan sebuah ranting rapuh dengan beberapa bunga yang sudah sepenuhnya layu dari dalam sana.

Saat itu juga ia ingat bahwa ia menyelipkan ranting Bunga Sakura yang dimainkannya, beberapa saat sebelum menyelamatkan orang tadi, di ikat rambutnya.

Sakura menerima uluran bunga tersebut dan menutupnya dengan kedua tangan. Beberapa saat setelahnya ia membiarkan ranting tersebut jatuh ke tanah dan berubah menjadi sebuah pohon kecil.

"Baiklah…" ujar Sakura canggung. "Kau sudah menemukanku, lalu apa yang kau lakukan sekarang?"

Pria itu juga tampak tidak terlalu yakin. Meski demikian, ia tetap berdeham dan berusaha menjawab pertanyaan Sakura.

"Aku ingin mengembalikan kebahagiaan yang kau berikan beberapa tahun lalu."

Sakura sedikit cemberut mendengarnya.

"Itu hadiah."

"Ya, tapi—"

"Ya sudah, ya sudah!" ujarnya sambil mengulurkan kedua tangan. "Tutup matamu. Kapanpun kau siap."

Sakura menunggu selama beberapa saat sebelum pada akhirnya kedua tangannya digenggam oleh pria di depannya. Diluar dugannya, tubuhnya kemudian ditarik kedalam sebuah pelukan yang teramat hangat.

"Kau hanya bisa mengembalikan mantra lewat genggaman tangan…" protes Sakura tanpa berniat untuk melepaskan pelukan mereka.

"Aku akan mengembalikannya dengan caraku."

Pada saat itulah, entah kenapa Sakura merasa jantungnya berdebar dan perutnya terasa sedikit mulas. Ia tidak merasa ada energi positif yang diterimanya lewat mantra yang dikembalikan, tapi entah kenapa… ia merasa bahagia.