Kakashi sudah suka pada pandangan pertama ketika pertama kali melihat Sakura.

Sebenarnya ia hanya menuruti permintaan Anko, sepupunya, untuk menemaninya pemotretan karena ia memang sedang tidak ada pekerjaan pada saat itu, karenanya Kakashi setuju dan bersedia duduk berjam-jam di set pemotretan, memandangi orang-orang tinggi berganti baju puluhan kali dan berpose di depan kamera.

Karenanya, saat mendapati Sakura berdiri di depan pintu apartmentnya, Kakashi terkejut bukan main.

"Ehm… Anko bilang, kau menyewakan kamar?"

Kakashi menelan ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba saja ia teringat celana dalam kotor di dekat pintu kamar mandi.

"Lima menit."

Sakura mengangguk dengan ragu dan berdiri di depan pintu tersebut selama lima belas menit lamanya. Ketika ia memutuskan untuk berlalu dan menuju apartment lainnya, Kakashi muncul dengan terengah-engah dengan pintu terbuka lebar.

"Tidakkah Anko bilang padamu kalau penyewa yang kucari haruslah… laki-laki?"

"Mmm, ya, tapi kurasa dengan harga seperti itu, aku berhak mencoba peruntunganku juga." Ujar Sakura sambil tersenyum sekilas. "Jadi, dimana kamarnya?"

Kakashi menggaruk tengkuknya dengan canggung. Ia mengangkat tangan, menunjuk sebuah ruangan semi terbuka. Ruangan semi terbuka tadi sebenanya adalah sebuah kasur tebal yang ditempatkan di bay window apartment. Hanya ada sebuah tirai rapuh yang bisa ditarik-tarik untuk menutupi area tersebut.

"Ugh. Dasar mesum."

"Aku sudah bilang aku mencari teman sekamar laki-laki! Mana kutahu kau akan datang."

"Tetap saja… apa yang akan kau lakukan? Melihatnya sepanjang hari?"

"Aku tidak mengerti apa yang dilakukan perempuan terhadap teman sekamarnya, tapi tidak. Tidak."

Sakura mengangkat bahu, masih tetap tidak percaya. Pada akhirnya ia meraih tas besarnya tadi dan melangkah ke ambang pintu apartment.

"Baiklah. Mungkin salahku karena tidak bertanya lebih lanjut sebelumnya." Ujar Sakura sambil tersenyum masam, senyum yang biasanya selalu ia berikan kepada orang di sekitarnya. "Tapi aku sangat menghargai waktumu… dan ternyata kau orang mesum."

"Hei, aku bisa mendengarnya!" ujar Kakashi tidak terima.

Sakura melengos dan mengangkat satu tangannya. "Terserah. Sampai jumpa."

.

.

Setelah Kakashi menerima uluran buah potong dari rekannya, pria itu kembali terfokus pada angka-angka yang berada di layar komputer. Matanya sebenarnya sudah lelah dan pria itu terus-terusan memijat batang hidungnya, tapi pekerjaannya belum juga selesai sampai sekarang.

"Kau akan bermalam disini?"

Kakashi mengangkat kepala dan terkekeh. "Sepertinya."

"Baiklah, selimut kuletakkan di loker biasa."

Kakashi mengangguk-angguk. Kalau ia ingin mendapatkan liburan akhir tahunnya secara penuh, seluruh pembukuan juga harus diselesaikannya sebelum tanggal dua puluh. Ia terus-terusan menyemangati dirinya sendiri sampai-sampai dirinya bosan mendengarkan suara sendiri.

Ponsel Kakashi bergetar beberapa menit kemudian. Ia mengerutkan kening ketika nomor tidak dikenal masuk ke dalam ponselnya.

"Ya?"

"Kau belum pulang juga?"

Kerutan keningnya makin dalam. "…ibu?"

"Ibu? Cih, yang benar saja. Berapa pin apartment-mu?"

Kasar sekali, pikir Kakashi dalam hati.

"Setidaknya beri tahu aku dulu siapa kau—" Kakashi tertegun sebentar, lalu ia menghela napas lelah. "…Sakura?"

"Ya, ya, ya. Cepat… aku kehujanan dan sekarang kakiku membeku."

"Kau pikir aku akan memberikan pinku pada orang lain?" Tanya Kakashi kesal sambil mematikan komputer di depannya. "Tunggu sebentar. Aku akan segera sampai."

Kakashi membereskan barang-barangnya dan berlalu dari lantai kosong tersebut dengan cepat. Ia benar-benar tidak habis pikir. Setelah menuduhnya sebagai orang mesum beberapa minggu lalu, sekarang perempuan itu datang lagi dan memaksa masuk ke apartment-nya?

"Dasar orang aneh." Cibir Kakashi sambil menyalakan mesin mobil.

Beberapa saat kemudian, ia sampai dan segera saja masuk ke dalam lift gedung. Keningnya berkerut saat mendapati Sakura tengah tertidur di depan pintu dengan basah kuyub.

"Ya, ya, ya. Cepat… aku kehujanan dan sekarang kakiku membeku."

Matanya membulat. Ia segera menekan kombinasi pin apartment—namun gerakannya yang terlalu tiba-tiba membuat Sakura terjengkang ke belakang. Gadis itu membuka mata dan cepat-cepat berdiri.

"Aduh… haaah…"

Sakura memegangi kepalanya yang terasa sakit karena tiba-tiba berdiri.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Uangku tidak cukup kalau harus membayar sewa apartment lain di Tokyo. Kuharap kau masih belum memiliki teman sekamar." Ujarnya sambil melengos masuk dengan dua tas besar di tangan. "Oh, belum. Baguslah."

"Hei—hei, berhenti bersikap seolah-olah ini apartment-mu!"

Sakura tidak menanggapi dan memberikan ponselnya ke arah Kakashi. Di layar tersebut, terlihat sejumlah uang telah ditransfer oleh Sakura ke rekening Kakashi. Wajah gadis itu seakan mengatakan, ini memang apartment-ku.

"Darimana kau tahu nomor—Anko…" ujar Kakashi sendiri pada dirinya dengan geram.

"Besok aku akan yoga pukul enam tepat, lalu mandi pukul tujuh. Tolong jangan menggangguku pada waktu-waktu krusial itu… roomie."

.

.

Kakashi tidak bisa tidur. Matanya beberapa kali melirik ke arah tirai putih tipis yang menutupi daerah kamar Sakura. Karena apartment-nya sendiri adalah studio, tentu saja tidak ada dinding yang memisahkan satu ruangan dengan ruangan lainnya.

Karena itu, pukul enam kurang lima, Kakashi memejamkan matanya dan pura-pura tertidur. Gadis itu benar saja bangun pukul enam pagi, melakukan yoga sambil mengucapkan beberapa kata-kata yang tidak Kakashi mengerti, dan kadang bernapas seperti bison. Barulah ketika Sakura masuk ke kamar mandi pada pukul tujuh, Kakashi bisa terlelap selama beberapa saat.

Tidurnya terusik saat aroma omelet memasuki hidungnya. Kakashi hampir saja menjerit saat melihat Sakura duduk di tempat tidur, memberikan sebuah piring dengan omelet dan beberapa kentang rebus di atasnya.

"Selamat pagi."

Kepala Kakashi berdenyut. Ia baru saja tidur setengah jam, kurang lebih.

"Sarapan."

Kakashi menerima uluran piring tersebut, namun hampir saja menumpahkan makanannya kalau Sakura tidak menahannya.

"Piringnya panas—"

"Jangan bersikap seperti bayi." Ujar Sakura ketus, memegang piring tadi tanpa kelihatan kepanasan sama sekali. "Apa kau mau disuapi juga?"

Wajah Kakashi memerah. "Tidak."

"Oh, kau benar-benar manis."

Oh, aku benar-benar akan hancur.

.

.

"Kenapa kau membosankan sekali, Kakashi? Bahkan suara ketikan laptop-mu saja membosankan."

Kakashi melepaskan kacamatanya sekilas dan memijit batang hidungnya. Ini adalah keluhan ketiga yang dilontarkan Sakura dalam satu jam terakhir. Karena hujan lebat yang mengguyur beberapa hari ini, ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dulu dan bekerja dari rumah. Siapa sangka ternyata sangat sulit baginya untuk berkonsentrasi.

"Baiklah, Sakura, kau adalah orang yang paling tidak membosankan di seluruh dunia."

"Memang."

Kakashi memutar matanya dan lanjut bekerja.

"Tidak bisakah kau berhenti mengetik? Sedari tadi cat kukuku berantakan karena suara ketikanmu menganggu konsentrasiku." Protes Sakura kesal, berjalan cepat-cepat ke arah tempat tidur Kakashi. "Hei, kau tidak bisa mendengarku ya? Kau—hei!"

Sakura tersentak ketika Kakashi melemparkan headset ke arahnya.

"Kau mengenai cat kuku kakiku yang belum mengering!"

"Kau sudah melakukannya selama dua puluh menit dan belum kering juga?" Tanya Kakashi. Ternyata dIa hanya cantik saja, tapi kepribadiannya tidak jauh berbeda dengan iblis.

"Aku tidak bisa meniupnya. Kalau kuku ditangan, mudah." Ujar Sakura sambil duduk sesuka hati di atas tempat tidur Kakashi. "Apa kau mau kukumu kucat juga?"

"Jangan berani-berani."

Sakura tersenyum simpul. Ia memperhatikan pria membosankan di depannya itu, lalu kembali merapikan cat kuku tangannya.

"Ugh, Kakashi, bisakah kau berhenti mengetik—"

Perkataannya terhenti ketika Kakashi dengan santai menarik salah satu kakinya yang berada di atas tempat tidur. Tangan hangat pria itu bergerak dari betis—luar biasa lembut—sampai ia menggenggam telapak kaki Sakura dengan erat, dan membawanya hingga setara dengan wajah seriusnya.

Sakura bersumpah seluruh rambut tubuhnya berdiri saat merasakan hembusan angin keluar dari bibir Kakashi.

"Mudah juga membuatmu diam."

Kakashi meletakkan kaki Sakura kembali ke atas tempat tidur dan tersenyum.

"Aku akan mencari makan keluar dulu… sampai nanti, roomie."